• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL PKL II bintang

N/A
N/A
Riska Juniarty

Academic year: 2025

Membagikan "ARTIKEL PKL II bintang"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA KASUS COLITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR.SOEDIRMAN KEBUMEN

ARTIKEL ILMIAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliaah Praktekklinik 2

BINTANG DJANARKO 2201020

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK RONTGEN FAKULTAS KESEHATAN DAN KETEKNISIAN MEDIK UNIVERSITAS WIDYA HUSADA

SEMARANG 2024

(2)

TEKNIK PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA KASUS COLITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR.SOEDIRMAN KEBUMEN”

Disusun oleh : BINTANG DJANARKO

2201020

Kebumen, 20 Januari 2024

Telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing Pembimbing lapangan (CI)

Aryadiva Nugrahaning P, S.Tr.Rad Titien Sumarul, S.ST

TEKNIK PEMERIKSAAN COLON IN LOOP PADA KASUS COLITIS DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD DR.SOEDIRMAN KOTA KEBUMEN

(3)

Bintang Djanarko1), Titien Sumarul, S.ST,2) Nanik Suraingsih S.ST M.Kes3)

1) Mahasiswa Prodi DIII Teknik Rontgen Universutas Widya Husada Semarang

2) Pembimbing lapangan di RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen

3) Dosen pembimbing Prodi DIII Teknik Rontgen

ABSTRAK

Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada tanggal 10 Januari 2024 di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen pada kasus colitis digunakan pemeriksaan Colon In Loop proyeksi Anteroposterior (AP) Polos, Anteroposterior (AP) Post Kontras, Right Posterior Oblique (RPO) Post Kontras dan Anteroposterior (AP) Post Evakuasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Teknik Pemeriksaan Colon In Loop pada kasus colitis dan alasan dilakukannya Teknik Pemeriksaan Colon In Loop pada kasus colitis di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen.

Jenis penelitian ini adalah Kualitatif Deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Waktu pengambilan data bulan Januari 2024. Subyek dari penelitian ini adalah satu Dokter pengirim, satu Dokter Spesialis Radiologi, Dua Radiografer, satu mahasiswa PKL Radiologi dan satu pasien. Objek dari penelitian ini adalah teknik radiograf Colon In Loop pada kasus colitis Metode pengumpuan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah semua dokumen terkumpul kemudian penulis mengkaji dengan literature yang ada.

Hasil penelitian menunjukan bahwa teknik pemeriksaan radiografi Colon

(4)

In Loop pada kasus colitis Di Instalasi RSUD Dr. Soedirman Kota Kebumen , menggunakan proyeksi AP Polos, AP Post kontras (Full Filling), RPO Post Kontras dan AP Post Evakuasi. Proyeksi AP polos bertujuan untuk melihat ketepatan posisi pasien dan ketepatan faktor eksposi. Proyeksi AP post kontras (Full Filling) untuk melihat seluruh Colon. Proyeksi RPO bertujuan untuk memperlihatkan bagian dari Colon Descenden. Proyeksi AP Post Evakuasi untuk melihat apakah masih terdapat sisa media kontras.

KATA KUNCI: Colon In Loop ,Colitis, RSUD DR. SOEDIRMAN KOTA KEBUMEN

PENDAHULUAN

(5)

A. Latar Belakang

Perkembangan ilmu di bidang kesehatan pada masa sekarang ini semakin meningkat. Pada cabang ilmu kedokteran mengalami kemajuan yang sangat pesat diantaranya adalah dibidang radiodiagnostik yang perkembangannya diawali dengan ditemukannya sinar-X oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman yang bernama Prof. Dr. Wilhelm Conrad Rontgen pada tanggal 8 November 1895.

Dengan berjalannya waktu, pemeriksaan radiologi colon juga mengalami perkembangan yang pesat. Pemeriksaan dengan menggunakan media kontras ganda, sebagaimana halnya pada saluran pencernaan khususnya pada colon, ternyata mampu menampilkan mukosa colon secara rinci. Salah satu pemeriksaan radiodiagnostik yang sering dilakukan untuk mendiagnosa adanya kelainan atau penyakit pada penderita yang mengalami gangguan pencernaan pada usus besar (colon) dikenal dengan pemeriksaan Colon In Loop.

Pemeriksaan Colon In Loop adalah pemeriksaan secara radiologis sistim pencernaan dengan memasukkan bahan kontras kedalam usus besar (Colon), Media kontras yang biasa digunakan adalah larutan barium dengan konsentrasi untuk metode kontras ganda lebih tinggi dibandingkan dengan metode kontras tunggal, untuk metode kontras tunggal menggunakan barium sulfat dengan konsentrasi 12-25%

Weigh/Volume, sedangkan metode kontras ganda dengan konsentrasi 75-95% Weigh/Volume. Proyeksi yang biasa digunakan dalam pemeriksaan colon in loop adalah proyeksi Foto Polos AP, AP Post Kontras, Right Posterior Obliq (RPO), Right Anterior Obliq (RAO), Left Anterior Obliq (LAO), Left Posterior Obliq (LPO), Lateral, Right Lateral Decubitus (RLD), Left Lateral Decubitus (LLD) dan PA Axial.

Colon atau usus besar merupakan salah satu organ penting yang terdapat dalam rongga abdomen yang berfungsi menyerap air dari

(6)

makanan, tempat tinggal bakteri koli dan tempat feses. Usus besar juga terdiri dari beberapa bagian yaitu caccum, colon asenden, appendiks (usus buntu), colon transversum, colon descendens, colon sigmoid, rectum dan anus.

kelainan-kelainan yang biasa terjadi pada colon ini adalah carsinoma (keganasan), divertikel, megacolon, obstruksi atau illeus, stenosis, volvulus, atresia dan colitis yang diangkat penulis dalam penulisan laporan kasus ini.

colitis merupakan penyakit yang etiologinya belum diketahui, ditandai oleh peradangan dan ulcerasi colon. Penyakit ini selalu melibatkan rectum, bila lebih luas ia meluas secara kontinu mengelilingi colon, kadang-kadang mengenai seluruh colon. Maka untuk mengetahui lebih jelas kelainan ini diadakan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan radiologi standar atas usus besar dengan menggunakan larutan barium yang dialirkan ke colon melalui kanula yang dipasang ke dalam rectum sehingga dapat memperlihatkan susunan anatomi dan fisiologi serta kelainan pada organ tersebut.

Prosedur pemeriksaan Radiologi Colon In Loop pada kasus Colitis dimulai dengan persiapan pasien terlebih dahulu. Proyeksi pemeriksaan yang digunakan meliputi proyeksi Foto Polos AP, AP Post Kontras, Right Posterior Obliq (RPO), Right Anterior Obliq (RAO), Left Anterior Obliq (LAO), Left Posterior Obliq (LPO), Lateral, Right Lateral Decubitus (RLD), Left Lateral Decubitus (LLD) dan PA Axial. Dari masing - masing proyeksi tersebut mempunyai tujuan yang berbeda- beda. (Bontrager,2010)

Selama penulis mengikuti PKL II di Unit RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen, penulis menjumpai pemeriksaan Colon In Loop pada kasus colitis, dengan keluhan pasien buang air besar berdarah.

Persiapan pasien yang dilakukan adalah pasien makan - makanan rendah serat 1 hari sebelum pemeriksaan, makan malam terakhir jam 22:00 dilanjut dengan minum dulkolax 2 tablet, kemudian pasien puasa

(7)

makan sampai pemeriksaan selesai. Teknik pemeriksaan yang menggunakan yaitu dengan proyeksi AP Plain, AP post kontras dan Right Posterior Oblique (RPO).

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalahnya yaitu ‘’Bagaimana Prosedur Pemeriksaan Colon In Loop dengan klinis Tumor Colon Descenden di Unit RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen”

Manfaat dari penulisan artikel ini adalah sebagai bahan acuan dasar dan menambah pengetahuan dan wawasan bagi penulis pada pemeriksaan Colon In Loop

Tujuan dari penulisan artikel ilmiah ini adalah untuk mengetahui prosedur pemeriksaan Colon In Loop dengan klinis Tumor Colon Descenden di Unit RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen.

B. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penyusunan artikel ilmiah ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus.

Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah semua dokumen terkumpul kemudia membuat transkrip selanjutnya penulis meruduksi data kemudia dibuat koding terbuka setelah itu melakukan penyajian data berupa kuotasi dan pendapat informan kemudian penulis mengkaji dengan literature yang ada sehingga penulis menarik kesimpulan.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Tn. A pada tanggal 3 januari 2024 datang ke Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soedirman Kota Kebumen dengan membawa surat

(8)

pengantar Radiologi untuk melakukan pemeriksaan Colon In Loop, pasien mengeluh susah buang air besar selama 3 bulan terakhir. Pasien dijadwalkan untuk pemeriksaan Colon In Loop pada tanggal 4 Januari 2024, pasien diinstruksikan untuk makan-makanan rendah serat pada tanggal 3 Januari, dan malam hari pukul 22:00 pasien minum dulcolax 2 tablet, kemudian pasien puasa makan sampai pemeriksaan selesai.

Persiapan pasien menurut Lampignano dan Kendrick (2018) yaitu pasien makan - makanan rendah serat 1 hari sebelum pemeriksaan, makan malam terakhir Jam 22:00, dilanjutkan dengan minum dulcolax 2 tablet, kemudian pasien puasa makan sampai pemeriksaan selesai.

Persiapan pasien di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen sudah sesuai dengan teori yaitu bertujuan untuk membersihkan colon dari feses sehingga dapat menghasilkan hasil citra radiografi yang lebih maksimal dan diharapkan tidak.

Menurut Lampignano dan kendrick, (2018) Persiapan alat dan bahan dalam pemeriksaan Colon In Loop yaitu Fluoroscopi, Kaset dan Film 35 x 45 cm, Klem, Irrigator Set, Spuit 50 cc, Bengkok, Wadah, Pengaduk, Jelly, Media kontras (Barium Sulfat), Handscoon, Kapas Alkohol dan Underped. Sementara itu, Persiapan alat dan bahan yang disiapakan di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen yaitu Pesawat Sinar-X, media kontras (Barium Sulfat) 100 gram, Air hangat 800 ml, Kaset 43 x 35 cm, klem, kateter No.18, spuit 50 cc, Irigator set, Bengkok, Pengaduk, Jelly, Handscoon, Kapas Alkohol dan Underped.

Hal ini sedikit berbeda dengan teori karena modalalitas yang dipakai hanya pesawat konvensional.

Persiapan bahan yaitu menggunakan media kontras berupa barium sulfat sebanyak 100 gram dan air hangat sebanyak 800 ml yang berfungsi sebagai pelarut. banyaknya media kontras yang digunakan disesuaikan dengan kondisi pasien dan instruksi dari dokter radiologi.

(9)

Dari hasil observasi, sebelum dilakukan pemeriksaan Colon In Loop, pasien atau keluarga pasien diberi penjelasan mengenai proses pemeriksaan yang akan dijalani dan setelah itu diminta untuk menandatangani Inform Consent atau surat persetujuan yang sudah dipersiapkan.

Sebelum pemeriksaan berlangsung, pasien dipersilahkan untuk mengganti pakaiannya dengan baju pasien yang telah disiapkan.

selanjutnya pasien dipersilahkan untuk tiduran diatas meja pemeriksaan untuk dilakukan foto polos Abdomen.

Foto Polos Abdomen bertujuan untuk melihat persiapan pasien, posisi pasien dan faktor eksposinya (Bontrager, 2010). Foto Polos Abdomen (Plain) dilakukan dengan Proyeksi AP, pasien diposisikan terlentang (supine) diatas meja pemeriksaan, kedua tangan berada disamping tubuh dan pastikan tidak ada benda logam dibagian yang akan diperiksa. Atur MSP bagian abdomen berada pada pertengahan meja pemeriksaan, pastikan tidak ada pergerakan dari pasien. Central Ray yang digunakan Vertikal tegak lurus terhadap meja pemeriksaan, untuk Central Point ada pada Mid Sagital Plane setinggi Crista Iliaca.

Focus Film Distance (FFD) 100 cm.

Gambar 1. Hasil Radiograf Foto Polos Abdomen

(10)

(AP Plain Foto)

Pemasukan media kontras positif, pasien tidur diatas meja pemeriksaan (supine), diposisi miring ke kanan sekitar 35°- 40°.

kemudian masukan kateter no.18 yang sudah dilumasi dengan jelly kedalam anus, spuit 50 ml yang sudah diisi dengan media kontras dihubungkan dengan ujung kateter. tahap peratama, pemasukan media kontras 300 ml kemudian kateter diklem, selanjutnya pasien diposisikan tidur terlentang (supine) untuk dilakukan foto AP post kontras. media kontras dimasukkan lagi sebanyak 200 ml untuk menampakkan seluruh bagian colon (full filling).

Gambar 2. Hasil radiograf AP Post Kontras (Full Filling)

Pasien diposisikan miring ke kanan 35°- 40°, dan dilakukan foto Right Posterior Oblique (RPO) dengan tujuan untuk melihat colon Descenden, Flexura Lienalis, Colon Sigmoid dan Caecum. Pastikan tidak ada pergerakan dari pasien. Atur Central Ray vertikal tegak lurus terhadap meja pemeriksaan dan Central Point ada pada 1 Inchi ke kanan dari Mid Sagital Plane tubuh setinggi crita iliaca, Focus Film Distance 100 cm.

(11)

Gambar 3. Hasil radiograf proyeksi Right Posterior Oblique (RPO)

Setelah dilakukan Foto AP Post Kontras dan Right Posterior Oblique (RPO) Post Kontras, selanjutnya dilakukan foto Post Evakuasi, kateter dilepas dan pasien diminta ke kamar mandi untuk Buang Air Besar. Proyeksi AP Post Evakuasi dilakukan dengan posisi pasien terlentang diatas meja pemeriksaan (supine) dengan kedua tangan diletakkan disamping tubuh, Atur MSP bagian abdomen berada dipertengahan meja pemeriksaan, pastikan tidak ada pergerakan dari pasien, Atur Central Ray vertikal tegak lurus terhadap meja pemeriksaan dan Central Point ada pada Mid Sagital Plane setinggi Crita Iliaca, Focus Film Distance 100 cm. Tujuan Foto AP Post Evakuasi yaitu untuk melihat apakah masih ada sisa media kontras didalam colon.

(12)

Gambar 4. Hasil radiograf proyeksi AP Post Evakuasi (PE)

Di RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen, metode pemasukan media kontras yang digunakan adalah metode single kontras. Single kontras hanya menggunakan media kontras positif berupa barium sulfat dengan perbandingan 1:4 dengan air. Pemasukan media kontras dipantau dengan pesawat konvensional. Menurut (Bontrager, 2010) pemasukan media kontras dipantau dengan flouroscopi. Menurut Lampignano dan Kendrick (2018), Jenis media kontras yang digunakan yaitu Single kontras dan Double Kontras. Single kontras yaitu media kontras yang digunakan hanya media kontras Positif berupa Barium Sulfat (BaSO4). Double kontras yaitu media kontras Positif berupa Barium Sulfat dan media kontras Negatif berupa Udara. Pada double kontras metode pemasukan media kontras dibagi menjadi double kontras satu tingkat dan double kontras dua tingkat. Metode satu tingkat yaitu pemasukan media kontras Positif (Barium Sulfat), setelah itu dilanjutkan dengan pemasukan media kontras Negatif (Udara) sehingga akan mendorong media kontras mengisi seluruh Colon. Metode dua tingkat yaitu pemasukan media kontras positif (Barium Sulfat) setelah itu pasien disuruh Buang Air Besar dan dilanjutkan dengan pemasukan media kontras Negatif (Udara). Pada kasus ini, hanya menggunakan

(13)

single kontras yaitu Barium Sulfat dan air dengan perbandingan 1:4 setelah itu langsung dilakukan foto Post Evakuasi.

Menurut (Bontrager, 2010), proyeksi yang digunakan pada teknik pemeriksaan Colon In Loop meliputi proyeksi AP Plain, AP Post kontras (Full filling) Supine dengan kontras, Right Posterior Obliq (RPO), Right Anterior Obliq (RAO), Left Anterior Obliq (LAO), Left Posterior Obliq (LPO), Lateral, PA Axial, Right Lateral Decubitus (RLD), Left dan Lateral Decubitus (LLD). Masing-masing proyeksi mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Proyeksi AP Polos digunakan untuk melihat persiapan pasien, posisi pasien dan faktor eksposi, AP Post kontras bertujuan untuk melihat anatomi Colon. Right Posterior Obliq (RPO) bertujuan untuk melihat Colon Descenden, Lienalis Fleksura, dan Sigmoid. Right Anterior Obliq (RAO) bertujuan untuk melihat Colon Ascenden, Hepatika Fleksura, dan Sekum. Left Anterior Obliq (LAO) bertujuan untuk melihat Fleksura Lienalis, Colon Sigmoid dan sekum.

Left Posterior Obliq (LPO) bertujuan untuk Colon Ascenden, Colon Sigmoid dan Sekum. PA Axial bertujuan untuk melihat bagian dari Retrosigmoid. Lateral untuk melihat Rektum biasanya pada kasus tumor. Right Lateral Decubitus (RLD) bertujuan untuk melihat bagian atas sisi medial Colon Ascenden dari sisi lateral Colon Descenden saat terisi udara. Lelf Lateral Decubitus (LLD) bertujuan untuk melihat bagian -bagian atas sisi medial Colon Descenden dan sisi Lateral Colon Ascenden saat terisi udara.

Di Unit Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen, Pemeriksaan Colon In Loop pada kasus Tumor Colon Descenden menggunakan proyeksi AP Polos, AP Post kontras (Full Filling), RPO Post Kontras dan AP Post Evakuasi. Proyeksi AP polos bertujuan untuk melihat ketepatan posisi pasien dan ketepatan faktor eksposi. Proyeksi AP post kontras (Full Filling) untuk melihat seluruh bagian Colon.

Proyeksi RPO bertujuan untuk memperlihatkan bagian dari Colon Descenden. Proyeksi AP Post Evakuasi untuk melihat apakah masih

(14)

terdapat sisa media kontras. Dari pemeriksaan tersebut sudah dapat menegakkan diagnosa Pada kasus Suspek Tumor Colon Descenden pada pasien,

Hasil Ekspertise Dokter Spesialis Radiologi : Plain foto :

Bayangan gas usus meningkat bercampur fecal material prominent Bayangan hepar dan lien tak tampak membesar

Contour ginjal kanan dan kiri dalam batas normal

Tak tampak bayangan radioopaque disepanjang traktus urinarius Psoas shadow kanan kiri simetris

Corpus, pedicle dan spatum invertebralis tak tampak kelainan Tak tampak proses osteolitik/blastik

Kontras study:

Kontras Barium +/- 500 - 600 cc dimasukan melalui kateter ke dalam anus Tampak kontras berjalan dengan lancar mulai dari rektum, sigmoid, Colon descenden, flexura lienalis, colon tranversum, flexura hepatika dan sebagian colon ascenden

Kemudian kontras dievakuasi, tampak kontras masih menetap Tampak keseluruhan colon mengembang dengan baik

Tampak filing defek pada colon desenden berupa apple core apperance Kesimpulan:

1. Mengarah gambaran massa pada colon descenden 2. Meteorismus dengan fecal material prominent

Proteksi radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dosis radiasi yang diterima oleh pasien, masyarakat umum dan petugas

(15)

sekitarnya. Proteksi Radiasi yang diterapakan di RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen bagi pasien yaitu mengatur luas kolimasi seluas objek yang diperiksa, menggunakan faktor eksposi optimal, dan mengatur ketepatan posisi pasien dengan batas atas dan batas bawah yang tepat dengan tujuan agar tidak terjadi pengulangan foto. Selama pemeriksaan, tidak dilakukan pengulangan foto dan proyeksi yang digunakan secukupnya sehingga, pasien tidak menerima dosis radiasi yng lebih besar dan menjaga kenyamanan pasien. Proteksi bagi petugas di Unit Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen yaitu dengan mengatur jumlah paparan radiasi yang optimal, menggunakan apron, jarak dari sumber radiasi sejauh mungkin. Proteksi bagi masyarakat umum yaitu pintu pemeriksaan tertutup rapat, bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

D. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian Di Instalasi Radiologi RSUD Dr.Soedirman Kota Kebumen dapat ditarik kesimpulan bahwa pemeriksaan Colon In Loop dengan klinis Tumor Colon Descenden menggunakan proyeksi Anteroposterior (AP) Polos (Plain), Anteroposterior (AP) Post Kontras dan Right Posterior Oblique (RPO) post kontras, dan Anteroposterior (AP) Post Evakuasi. Media kontras yang digunakan yaitu Barium Sulfat (BaSO4) sebanyak 100 gram dan air sebanyak 800 ml dengan perbandingan 1:4. Penggunaan proyeksi tersebut sudah dapat menampakkan kelainan pasien yaitu terdapat Tumor Colon Descenden.

(16)

E. SARAN

Saran yang dapat penulis sampaikan pada pemeriksaan Colon In Loop pada kasus suspek tumor colon desenden yaitu persiapan alat sebaiknya ditambah dengan menggunakan irrigator set (Colon Set) sehingga dapat mempermudah petugas pada saat memasukkan media kontras.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Bontrager’s , (2010) Textbook of Radiographic Positioning And Related Antatomi. Lampingnano. Jhon P. 2018. Text Book Of Radiographic Positioning And Related

https://perpus.poltekkesjkt2.ac.id/respoy/index.php?

p=show_detail&id=5581&key words= https:// repository. Poltekkes- smg.ac.id/ repository/ BAB%201-P1337430216230

(18)

Referensi

Dokumen terkait