Al-Muhkamat wa al-Mutasyabihat serta Fawatih al-Suwar
Nur Fajriyatush Shobahah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
[email protected] 087710790295
Choirina Khilmy Maulidia UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
[email protected] 0895612451401
Abstract: Allah has revealed the Qur'an as an extraordinary miracle to his servants through the intermediary of the angel Gabriel which was given to the Prophet Muhammad SAW, as a signal to carry out worship on earth. The Al-Qur'an is also a source of inspiration for every human being, because the contents of the Al-Qur'an contain concrete instructions and guidelines if there are verses that are muhkamat and mutashabihat. The Qur'an also acts as a miracle for those who believe in it because it contains verses whose meanings are zhanni or implied which have not been widely studied. Therefore, the purpose of this article was written to find out (1) the meaning of the mutasyabihat and muhkamat verses (2) the meaning of fawatih suwar (3) the attitude of the ulama regarding the mutasyabihat verse (4) the wisdom of the existence of the mutasyabihat verse. By using qualitative research methods as supporting material in writing this article.
Keywords: muhkamat, mutasyabihat, fawatih suwar
Abstrak: Allah telah menurunkan al-Qur’an sebagai mukjizat yang sangat luar biasa kepada hamba-hambanya melalui perantara malaikat Jibril yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW., sebagai sinyal untuk melaksanakan ibadah di muka bumi. Al- Qur’an juga merupakan sumber inspirasi bagi setiap insan, karena isi didalam al-Qur’an telah memuat petunjuk dan pedoman yang konkrit apabila terdapat ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Al-Qur’an juga berperan sebagai mukjizat bagi mereka yang mengimaninya karena didalamnya terdapat ayat-ayat yang maknanya zhanni atau tersirat yang belum banyak diteliti. Oleh karena itu, tujuan artikel ini ditulis untuk mengetahui (1) pengertian dari ayat mutasyabihat dan muhkamat (2) pengertian fawatih suwar (3) sikap para ulama tentang ayat mutasyabihat (4) hikmah adanya ayat mutasyabihat. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif sebagai bahan bantu dalam menulis artikel ini.
Kata kunci: muhkamat, mutasyabihat, fawatih suwar
PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan firman Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW., melalui perantara malaikat Jibril dengan tujuan untuk menyempurnakan agama yang rahmatan lil ‘alamin. Dengan adanya al-Qur’an tersebut maka kita harus meyakini bahwa al-Qur’an akan membawa keberkahan dan kebaikan dalam kehidupan, baik itu dalam hal dunia maupun akhirat. Isi dari al-Qur’an juga memuat tentang petunjuk, kebahagiaan bagi seseorang yang melakukan kebaikan serta mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan demikian, membaca al-Qur’an pun di nilai ibadah dan melaksanakan isi al-Qur’an merupakan kewajiban bagi kita.
Berbicara tentang al-Qur’an maka hal yang perlu ditelaah ialah tentang muhkamat dan mutasyabihat serta fawatih suwar. Dimana topik tersebut menimbulkan perbedaan pendapat baik itu dari kalangan ulama serta menjadi hal yang kontroversial untuk dibahas dalam memaknai ayat al-Qur’an. Hal inilah yang menjadi titik implikasi dari adanya muhkamat, mutasyabihat, serta fawatih suwar. Ayat-ayat muhkamat biasa dimaknai dengan qath’i dalalah. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat biasa dimaknai dengan zhanni dalalah. Dengan adanya dua ayat tersebut sebagai dasar ajaran agama Islam maka telah menjadikan perspektif kaum muslimin berbeda pendapat.
Sebagaimana yang menjadi objek dari pembahasan muhkam dan mutasyabihat ialah berdasarkan surah Ali-Imran ayat 7 yang berbunyi :
َوُه ىِذَّلٱ َكْيَلَع َل َزنَأ َبََٰتِكْلٱ
ُّمُأ َّنُه ٌت ََٰمَكْحُّم ٌتََٰياَء ُهْنِم ِبََٰتِكْلٱ
اَّمَأَف ۖ ٌت ََٰهِبََٰشَتُم ُرَخُأ َو ٱ
َنيِذَّل ٌغْي َز ْمِهِبوُلُق ىِف
ُهْن ِم َهَب ََٰشَت اَم َنوُعِبَّتَيَف َء اَغِتْبٱ
ِةَنْتِفْل ٱ َوٱ َء اَغِتْب ِهِليِوْأَت ۦ ُهَليِوْأَت ُمَلْعَي اَم َو ۗ َّلَِّإ ۥ
َُّللّٱ َو ۗ َنوُخِس ََّٰرلٱ ىِف
ِمْلِعْلٱ ِهِب اَّنَماَء َنوُلوُقَي ۦ
ٌّلُك
۟اوُل ۟وُأ َّلَِّإ ُرَّكَّذَي اَم َو ۗ اَنِ ب َر ِدنِع ْنِ م ِبََٰبْلَ ْلْٱ
“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami".
Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
Berdasarkan ayat diatas membahas adanya muhkam dan mutasyabihat yang menjadi perdebatan ialah tentang adanya takwil pada ayat al-Qur’an. Berdasarkan takwil yang ada pada ayat mutasyabihat para ulama ada yang melakukan proses takwil atau pun tanpa melakukan takwil.
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif berdasarkan studi kepustakaan. Adanya penelitian ini memiliki tujuan tentang bagaimana relevansi antara muhkamat dan mutasyabihat yang ada dalam al-Qur’an sebagai kontribusi dalam menentukan corak agama Islam. Dengan menggunakan penelitian inilah penulis berharap dapat menyingkap (1) pengertian dari ayat mutasyabihat dan muhkamat (2) pengertian fawatih suwar (3) sikap para ulama tentang ayat mutasyabihat (4) hikmah adanya ayat mutasyabihat.
PEMBAHASAN
1. Pengertian al-Muhkamat wa al Mutasyabihat
Kata muhkam diambil dari kata مكحم – مكحي- مكحأ yang merupakan isim maf’ul yang maknanya yaitu menahan dari goncangan. Sedangkan pendapat lain menyebutkan, secara bahasa muhkam berarti suatu ungkapan, yang makna lahirnya tidak dapat diganti atau diubah.1 Sedangkan secara istilah muhkam adalah ayat yang maknanya dapat diketahui dengan jelas, baik secara takwil atau tidak. Dalam makna lain muhkam berarti sesuatu yang dikokohkan. Ihkam al-qur’an yaitu mengkokohkan perkataan dengan memisahkan berita yang benar dari yang salah dan urusan yang lurus dari yang sesat.
Jadi, kalam muhkam adalah perkataan yang seperti itu sifatnya. Dengan definisi lain inilah Allah mensifati al quran bahwa semuanya ialah muhkam. Sebagaimana dalam firman Allah surah Hud ayat 1 :
ۚ ر لا ُهُتََٰياَء ْتَمِكْحُأ ٌبََٰتِك ٍريِبَخ ٍميِكَح ْنُدَّل نِم ْتَل ِ صُف َّمُثۥ
1 Al Jurjani, at-Ta’rifat, Ath-Tha’ah wa An-Nasyr wa at-Tauzi. (Jeddah). 200
“Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.”
Lalu dalam al-qur’an surah Yunus ayat 1 pun juga ditegaskan bahwa :
ُتََٰياَء َكْلِت ۚ ر لا ِبََٰتِكْلٱ
ِميِكَحْل ٱ
“Alif laam raa. Inilah ayat-ayat Al Quran yang mengandung hikmah.”
Begitu pula para ulama memberikan definisi tentang muhkam diantaranya :
a) Ibnu Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib dari Ibn
‘Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefardhuan, serta yang harus diimani dan diamalkan.
b) ‘Abdullah bin Hamid mengeluarkan riwayat dari Adh-Dhahak bin Al-Muzahim (w. 105 H) yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak di hapus.
c) Ibn Hatim mengatakan bahwa Ikrimah (w.105 H.), Qatadah bin Di’amah (w.
117 H.), dan lainnya mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus diimani, tetapi tidak harus diamalkan.2
Oleh karena itu, dari berbagai penjelasan tersebut maka secara umum muhkam ialah al-qur’an yang kata-katanya kokoh, fasih (indah dan jelas) yaitu tidak samar lagi, dapat membedakan antar yang haq dan yang batil serta maksud tersebut memang untuk makna yang ia sebutkan dan dzahir (makna lahir).3
Mutasyabihat secara bahasa berasal dari kata ه بش yang berarti apabila ada salah satu dari dua hal yang sama dengan yang lain. Pendapat lain juga mendefinisikan bahwa mutasyabihat secara bahasa ialah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar. Secara istilah ialah ayat yang maknanya hanya diketahui oleh Allah saja. Seperti diketahuinya hari kiamat, keluarnya dajjal, serta huruf-huruf muqatha’ah. Sebagaimana al-qur’an telah menyebutkan dalm al-qur’an surah az-zumar ayat 23 :
َُّللّٱ َنَسْحَأ َل َّزَن ِثيِدَحْل ٱ
ُدوُلُج ُهْنِم ُّرِعَشْقَت َىِناَثَّم اًهِبََٰشَتُّم اًبََٰتِك ٱ
َنيِذَّل َٰىَلِإ ْمُهُبوُلُق َو ْمُهُدوُلُج ُنيِلَت َّمُث ْمُهَّب َر َن ْوَشْخَي
ِرْكِذ َِّللّٱ ىَدُه َكِلََٰذ ۚ َِّللّٱ
ِهِب ىِدْهَي ِلِلْضُي نَم َو ۚ ُء اَشَي نَمۦ َُّللّ ٱ
ُهَل اَمَف ٍداَه ْن ِمۥ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.”
Dalam hal ini dapat kita maknai mutasyabihat yaitu suatu ayat yang butuh takwil atau penjelas yang mana mutasyabihat ini tidak bisa dimaknai secara logika.
Faktor adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an disebabkan oleh tiga hal diantaranya:4
a) Kesamaran pada lafadz b) Kesamaran pada makna ayat
c) Kesamaran pada lafadz dan maknanya.
2. Fawatih al-Suwar
Istilah fawatih as-suwar terdiri dari 2 kata, yaitu fawatih dan as-suwar. Fawatih merupakan bentuk jama’ taksir dari al-fatihah yang berarti pembuka. Sedangkan as-
2 Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2007). 121-122.
3 Sauqiyah Musyafaah, Amir Maliki, Zuhdi, Abid Rohman. Studi al-Quran. Surabaya: UIN Sunan Ampel Press. 2011). 238.
4 Abdul Djalal, Ulumul Qur’an, ed. Ridlwan Nasir dan M. Muzakki, (Surabaya: Dunia Ilmu, 2000), 243-253.
suwar bermakna surah-surah. Jadi, istilah fawatih as-suwar secara harfiah berarti
“pembuka surah-surah”. Dari makna tersebut, secara terminologi, fawatih as-suwar berarti suatu ilmu yang mempelajari mengenai bentuk-bentuk huruf, kata, atau kalimat yang menjadi permulaan surat-surat pada Al-Qur’an.5
Fawatih al-Suwar merupakan bagian dari ayat Mutasyabihat. Karena memiliki sifat mujmal, mu’awwal, dan musykil. Di dalam Al-Qur’an terdapat variasi dalam penggunaan huruf-huruf awalan dalam pembukaan surah. Hal ini menunjukkan salah satu ciri kebesaran Allah serta kebijaksanaannya-Nya. Dengan demikian, hal tersebut dapat mendorong kita untuk mengkaji lebih dalam ayat-ayat tersebut. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa semakin dikaji ayat Al-Qur’an tersebut, maka semakin luas pula pengetahuan yang kita miliki. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya perkembangan ilmu tafsir yang kita lihat hingga saat ini.6
Secara umum, dapat dikatakan bahwa pembukaan-pembukaan surah dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori, yang masing-masing kelompok berkaitan dengan isi atau tema umum surat. Terdapat kelompok surat yang permulaannya berupa kalimat berita, ada yang berupa perintah atau larangan, dan ada pula yang berupa huruf- huruf hijaiyah. Dalam setiap kelompok, terdapat pembagian internal berdasarkan sifat dan jenisnya.7
Terdapat 5 bentuk awalan yang dapat kita lihat dalam Al Qur’an. Hal ini dikaji secara khusus dalam usaha mengetahui hikmahnya. Awalan surat tersebut sebagai berikut :
1) Awalan surat yang terdiri dari satu huruf, terdapat pada tiga tempat, yakni a. Q.S Shad :38 ( ِرْكِ ذلا يِذ ِنآ ْرُقْلا َو ۚ ص)
b. Q.S Qaaf : 50 (ق ۚ ِدي ِجَمْلا ِنآ ْرُقْلا َو)
c. Q.S Al-Qalam : 68 ( َنو ُرُطْسَي اَم َو ِمَلَقْلا َو ) ۚ ن
2) Awalan surat yang terdiri dari dua huruf, terdapat pada sepuluh tempat, yakni
a. Q.S Al-Mukmin : 40 (ۤ م ٰح) b. Q.S Fushilat : 41 (ۤ م ٰح) c. Q.S Asy Syura : 42 (ۤ م ٰح) d. Q.S Az-Zukhruf : 43 (ۤ م ٰح) e. Q.S Ad-Dukhan : 44 (ۤ م ٰح) f. Q.S Al-Jatsiyah : 45 (ۤ م ٰح) g. Q.S Al-Ahqaf : 46 (ۤ م ٰح) h. Q.S Taha : 20 (ٰۤه ٰط) i. Q.S An Naml : 27 (ۤ س ٰط) j. Q.S Yasin : 36 (ۤ سٰي)
3) Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, terdapat pada 13 tempat, yaitu a. 6 Surah diawali Alif Lam Mim (ۤٓمٓلا)
- Q.S Al Baqarah :2 - Q.S Ali Imran :3 - Q.S Al Ankabut :29 - Q.S Ar Rum : 30 - Q.S Al Lukman : 31
5 Kadar M. Yusuf, Studi Al Qur’an, (Jakarta : Amzah, 2009) 55.
6 Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, (Pekanbaru : Amzah, 2002). 89.
7 Abad Badruzaman, Ulumul Qur’an Pendekatan dan Wawasan Baru, (Malang : Madani Media, 2018).
230-231.
- Q.S As Sajdah : 32
b. 5 Surah diawali dengan Alif Lam Ro’ (رلا) - Q.S Yunus : 10
- Q.S Hud : 11 - Q.S Yusuf : 12 - Q.S Ibrahim : 14 - Q.S Al Hijr : 15
c. 2 Surah yang diawali dengan Tha Sin Mim (مسط) - Q.S As Syu’ara : 26
- Q.S Al Qashash : 28
4) Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, terdapat pada dua tempat, yaitu a. Q.S Al- A’raf : 7 (ۤٓصٓمٓلا)
b. Q.S Ar-Ra’du : 13 (ۤ ٰر م لا)
5) Awalan surah yang terdiri dari lima huruf, terdapat pada satu tempat, yaitu pada Q.S Maryam : 19 (ۤ ص عٰي ٰه ك)8
3. Sikap Ulama Terhadap Ayat al-Mutasyabihat
Para ulama memiliki perbedaan sikap dalam menyikapi adanya ayat-ayat mutasyabihat. Apakah ayat-ayat ini hanya dapat diketahui Allah saja atau dapat diketahui oleh manusia pula. Lantas yang menjadi titik pertanyaannya yaitu sebagaimana dalam firman Allah Surah Ali-Imran ayat 7 yang berbunyi :
َوُه ىِذَّلٱ َكْيَلَع َل َزنَأ َبََٰتِكْلٱ
ُّمُأ َّنُه ٌت ََٰمَكْحُّم ٌتََٰياَء ُهْنِم ِبََٰتِكْلٱ
اَّمَأَف ۖ ٌت ََٰهِبََٰشَتُم ُرَخُأ َو ٱ
َنيِذَّل ٌغْي َز ْمِهِبوُلُق ىِف
ُهْن ِم َهَب ََٰشَت اَم َنوُعِبَّتَيَف َء اَغِتْبٱ
ِةَنْتِفْل ٱ َوٱ َء اَغِتْب ِهِليِوْأَت ۦ ُهَليِوْأَت ُمَلْعَي اَم َو ۗ َّلَِّإ ۥ
َُّللّٱ َو ۗ َنوُخِس ََّٰرلٱ ىِف
ِمْلِعْلٱ ِهِب اَّنَماَء َنوُلوُقَي ۦ
ٌّلُك
۟اوُل ۟وُأ َّلَِّإ ُرَّكَّذَي اَم َو ۗ اَنِ ب َر ِدنِع ْنِ م ِبََٰبْلَ ْلْٱ
“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami".
Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.”
Lantas yang menjadi pertanyaannya apakah pada penggalan tersebut kalimat َوٱ
َنوُخِس ََّٰرل ىِف
ِمْلِعْل ٱ di ‘athof-kan pada lafadz Allah, sedangkan lafadz َنوُلوُقَي menjadi hal.
Ini menunjukkan bahwa ayat-ayat mutasyabihat ini hanya diketahui bagi orang-orang yang mendalami ilmunya. Dan apakah kedudukan dari kalimat ini sebagai mubtada’
yang khabarnya ialah lafadz َنوُلوُقَي , dengan wawu dianggap sebagai huruf isti’naf (permulaan) serta waqaf ditempatkan pada kalimat َُّللّٱ َّلَِّإ ُهَليِوْأَت ُمَلْعَي اَم َو ۥ atau sebagai ma’thuf. Sementara lafadz َنوُلوُقَي menjadi hal serta waqaf-nya berada pada lafadz ِمْلِعْل ٱ ىِف َنوُخِس ََّٰرلٱ َو.9
Adapun pendapat para ulama mengenai ayat mutasyabihat ini yaitu dari pendapat pertama oleh Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, beberapa sahabat, tabi’in maupun salafus sholih lainnya mereka menganggap bahwa ketika membaca surat 'Ali 'Imran [3]: 7, Ibn 'Abbas memperlihatkan bahwa huruf wawu pada ungkapan wa ar- rasikhuna berfungsi sebagai isti'naf (tanda kalimat baru). Riwayat ini, walaupun tidak didukung salah satu raqam qira'ah, derajatnya-serendah- rendahnya adalah kabar
8 Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, (Pekanbaru : Amzah, 2002), hlm. 89-91
9 Badr Ad-Din Muhammad bin ‘Abdullah bin Bahadur az-Zarkasyi. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an.
(Barrut: Dar Ihya al-Kutun al-‘Arabiyah.,1957). 72.
dengan sanad sahih yang berasal dari Turjuman Al-Quran (julukan Ibn 'Abbas). Oleh karena itu, pendapatnya harus didahulukan daripada pendapat selainnya. Pendapat ini didukung pula kenyataan bahwa surat 'Ali 'Imran [3] ayat 7 mencela orang-orang yang memanfaatkan ayat-ayat mutasyabih untuk menuruti hawa nafsunya dengan mengatakan "hatinya ada kecenderungan pada kesesatan" dan "menimbulkan fitnah."
Sebagai bandingannya, Allah memuji orang-orang yang menyerahkan sepenuhnya pengetahuan tentang ayat-ayat mutasyabih kepada-Nya sebagaimana Allah pun telah memuji orang-orang yang mengimani kegaiban.
Pendapat kedua dari Mujahid ia berdalih bahwa wawu sebagai huruf ‘athof . mereka memaknai takwil yaitu sebagai tafsir.pendapat ini juga dipilih oleh Imam Nawawi. Sebagimana dalam kitab syarah muslim, ia mengatakan “Pendapat inilah yang paling shohih karena tidak mungkin Allah menyeru kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang tidak dapat diketahui maknanya oleh mereka”.10
4. Hikmah Keberadaan Ayat Mutasyabihat
Di antara hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabih dalam Al Qur’an dan ketidakmampuan akal untuk mengetahuinya adalah sebagai berikut.
1. Menunjukkan kelemahan akal manusia.
Situasi di mana akal manusia diuji untuk mempercayai ayat-ayat mutasyabih seperti yang Allah uji dengan badan untuk melakukan ibadah. Jika akal dianggap sebagai bagian yang paling mulia dari tubuh tidak diuji, kemungkinan individu yang berpengetahuan akan menjadi sombong dengan pengetahuannya dan enggan untuk tunduk pada naluri kemanusiaannya. Dalam hal ini, ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadarannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih.
2. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih Pada penghujung Surah Ali Imran ayat 7, Allah berfirman :
ِباَبْلَ ْلْا وُلوُأ َّلَِّإ ُرَّكَّذَي اَم َو Sebagai cacian kepada orang-orang yang mengotak atik ayat-ayat mutasyabih.
Sebaliknya, memberikan pujian kepada mereka yang mendalami ilmunya, yaitu orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat- ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzigh qulubana. Mereka menyadari keterbatasan akal mereka dan mengharapkan ilmu yang diberikan langsung oleh Allah.
3. Memberikan pemahaman yang bersifat abstrak dan ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa mereka alami.
Dalam kasus sifat-sifat Allah, sengaja Allah menyajikan gambaran fisik agar manusia dapat lebih mengenal sifat-sifat-Nya. Namun dalam hal ini, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tidak sama dengan hamba-Nya dalam hal pemikiran anggota badan.11
4. Meyakinkan tentang kemukjizatan Al Qur’an
Segala sesuatu yang di dalamnya terdapat sesuatu kesamaran yang menyampaikan kepada tasyabuh, memiliki nilai sastra yang tinggi yang mengandung kekhususan dan rahasia- rahasia seperti I’jaz , ithnab, musawah, taqdim, ta’khir, kodzaf, haqiqat, majaz, dll.
5. Memudahkan penghafalan Al Qur’an
10 Subhi As-Sholih. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. (Beirut; Dar al-Qalam li al-Malayyin. 1988). 282.
11 Rosihon Anwar, Ulum Al-Quran, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008). 134-135.
Karena semua aspek yang terkandung dan yang serupa itu menunjukkan makna yang banyak sebagai tambahan yang diperoleh dari inti kalimat.
6. Menurut Faham Razi, “Dengan adanya muhkam ada juga mutasyabihat dalam Al Qur’an memaksa pemikir untuk menghasilkan ilmu yang banyak, seperti Bahasa, nahwu, dan ushul fiqh”. Adanya mutasyabihat menjadikan sebab dihasilkannya banyak ilmu.
7. Menurut Fahrur Razi, manakala mutasyabihat itu ada, maka sampai kebenaran itu lebih sukar dan lebih rumit itu menyebabkan bertambahnya pahala. Allah SWT. Berfirman :
َني ِرِباَّصلا َمَلْعَي َو ْمُكْنِم اوُدَهاَج َنيِذَّلا ُ َّاللَّ ِمَلْعَي اَّمَل َو َةَّنَجْلا اوُلُخْدَت ْنَأ ْمُتْبِسَح ْمَأ Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”
8. Faham Rasy mnegatakan : Dengan adanya muhkam dan mutasyabihat memaksa pemikir untuk mempergunakan dalil-dalil aqli, sehingga dapat melepaskan dari gelapnya taklid.12
KESIMPULAN
Muhkam merupakan ayat-ayat yang maknanya sudah jelas tidak perlu pentakwilan lagi. Sedangkan mutasyabihat berarti ayat-ayat yang maknanya belum jelas, sehingga perlu pentakwilan dalam memaknai ayat-ayat mutasyabihat. Begitu pula dengan fawatih as-suwar yang merupakan bagian dari ayat mutasyabihat yang perlu takwil didalamnya. Sehingga dari ayat mutasyabihat memiliki berbagai hikmah yang dapat dipetik darinya karena memiliki maksud yang tersingkap didalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sauqiyah Musyafaah, Amir Maliki, Zuhdi, Abid Rohman. Studi al-Quran. Surabaya:
UIN Sunan Ampel Press, 2011.
Abad Badruzaman. Ulumul Qur’an Pendekatan dan Wawasan Baru. Malang: Madani Media, 2018.
Abu Anwar. Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar. Pekanbaru: Amzah, 2002.
Al Jurjani, at-Ta’rifat. Ath-Tha’ah wa An-Nasyr wa at-Tauzi. Jeddah.
Badr Ad-Din Muhammad bin ‘Abdullah bin Bahadur az-Zarkasyi. al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an. Barrut: Dar Ihya al-Kutun al-‘Arabiyah, 1957.
Kadar M. Yusuf, Studi Al Qur’an, Jakarta: Amzah, 2009.
Rosihon Anwar. Ulumul Qur’an. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2016 Rosihon Anwar. Ulum Al-Quran. Bandung: CV Pustaka Setia, 2008.
St. Amanah, Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Semarang: CV Asy Syifa , 1993.
Subhi As-Sholih. Mabahits fi Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Qalam li al-Malayyin, 1988.
12 St. Amanah, Pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, (Semarang : CV Asy Syifa , 1993). 225-226.