• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel

N/A
N/A
Lidia Arlini

Academic year: 2025

Membagikan "Artikel"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

http://ejournal.unp.ac.id/index.php/sendratasik/

user

Diterima XX XX, 20xx; Revisi XX XX, 20xx; Terbit Online XX XX, 20xx

Meningkatkan Apresiasi Musik Siswa melalui Strategi Mendengarkan Kritis dan Diskusi Terbimbing di Kelas X SMA N 10 Padang

Enhancing Students’ Music Appreciation through Critical Listening and Guided Discussion Strategies in Grade X of SMA N 10 Padang

Lidia Arlini

Prodi Pendidikan Sendratasik, Universitas Negeri Padang, Indonesia.

(e-mail) [email protected]

Abstrak

Pembelajaran apresiasi musik sering dianggap sebagai kegiatan pasif dan kurang menarik, yang berdampak pada rendahnya partisipasi serta kemampuan siswa dalam memberikan tanggapan kritis terhadap karya musik. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi musik siswa kelas X di SMA N 10 Padang melalui penerapan strategi mendengarkan kritis dan diskusi terbimbing. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan siswa untuk mengamati, menilai, dan menginterpretasikan karya musik secara kritis dan reflektif. Strategi ini juga berdampak positif terhadap keterlibatan aktif siswa dalam diskusi, serta memperkuat kepekaan estetika dan pemahaman nilai-nilai artistik dalam musik. Dengan demikian, pendekatan ini dapat menjadi alternatif efektif dalam pembelajaran apresiasi musik di sekolah menengah.

Kata kunci: Apresiasi Musik, Mendengarkan Kritis, Diskusi Terbimbing, Pembelajaran Musik, Penelitian Tindakan Kelas

Abstract

Music appreciation learning is often perceived as a passive and less engaging activity, which affects students' participation and their ability to provide critical responses to musical works. This classroom action research aims to enhance music appreciation among tenth-grade students at SMA N 10 Padang through the implementation of critical listening and guided discussion strategies. The study was conducted over two cycles, each consisting of the stages of planning, action implementation, observation, and reflection.

The results showed a significant improvement in students’ ability to observe, evaluate,

(2)

Meningkatkan Apresiasi Musik – Lidia Arlini

and interpret musical works critically and reflectively. This strategy also had a positive impact on students’ active participation in discussions, as well as strengthening their aesthetic sensitivity and understanding of artistic values in music. Therefore, this approach can serve as an effective alternative for music appreciation learning in secondary schools.

Keywords: Music Appreciation, Critical Listening, Guided Discussion, Music Education, Classroom Action Research.

Pendahuluan

Pembelajaran seni budaya, khususnya musik, memiliki kontribusi penting dalam membentuk karakter, kepekaan estetika, dan kecerdasan emosional peserta didik (Setiawan, 2020). Di tingkat SMA kelas X, kompetensi dasar dalam apresiasi musik menekankan pada kemampuan siswa dalam mengamati, memahami, menilai, serta menghargai karya musik dari berbagai genre, latar budaya, dan zaman (Kemendikbud, 2017). Namun, dalam praktiknya, pembelajaran apresiasi musik masih dipandang sebagai aktivitas pasif yang minim tantangan dan kurang menarik perhatian siswa (Putri & Ardi, 2022). Berbagai studi menunjukkan bahwa siswa lebih antusias terhadap aktivitas musikal praktis dibandingkan kegiatan mendengarkan dan menganalisis musik (Siregar, 2019). Salah satu penyebabnya adalah pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya melibatkan siswa secara aktif dan reflektif dalam proses pemaknaan karya musik. Hal ini berdampak pada rendahnya minat serta kemampuan berpikir kritis siswa terhadap materi apresiasi musik.

Observasi awal yang dilakukan di kelas X SMA N 10 Padang memperkuat temuan ini.

Sebagian besar siswa tidak mampu memberikan tanggapan kritis terhadap karya musik yang mereka dengarkan. Tanggapan yang diberikan cenderung normatif, minim argumentasi, dan tidak menunjukkan pemahaman terhadap unsur-unsur musik seperti struktur, harmoni, maupun pesan yang ingin disampaikan pencipta lagu. Oleh karena itu, peneliti merasa perlu menerapkan strategi yang mampu meningkatkan keterlibatan dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran apresiasi musik. Salah satu strategi yang relevan adalah mendengarkan kritis yang dikombinasikan dengan diskusi terbimbing. Strategi ini tidak hanya mengajarkan siswa untuk mendengar secara mendalam, tetapi juga untuk memahami struktur dan konteks musik secara reflektif dan dialogis (Barrett, 2007).

Selain itu, rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran apresiasi musik juga disebabkan oleh kurangnya variasi dalam metode pengajaran dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru. Umumnya, kegiatan apresiasi musik hanya dilakukan dengan mendengarkan rekaman lagu atau menonton video tanpa disertai arahan yang jelas mengenai aspek apa yang perlu diperhatikan dan dianalisis. Hal ini menyebabkan siswa tidak memiliki kerangka berpikir yang sistematis dalam memahami dan menilai karya musik yang mereka dengarkan. Padahal, media pembelajaran yang terstruktur dan interaktif, seperti lembar kerja analisis musik, peta konsep, atau presentasi multimedia, dapat membantu siswa mengasah daya analisis serta memperkaya pengalaman mendengarkan mereka secara kritis dan kontekstual (Pranowo, 2016).

Dalam konteks pendidikan seni, kegiatan mendengarkan musik secara kritis tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis musikal, melainkan juga membuka ruang untuk

(3)

tersebut. Proses ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman lintas budaya serta sikap menghargai perbedaan dalam ekspresi artistik. Strategi diskusi terbimbing berperan penting dalam hal ini karena mendorong siswa untuk mengemukakan pandangan secara terbuka, menyusun argumen berdasarkan pengamatan musikal, serta belajar dari perspektif teman-teman mereka. Lingkungan belajar yang demikian tidak hanya meningkatkan daya apresiasi siswa, tetapi juga menumbuhkan sikap demokratis dan kolaboratif dalam pembelajaran seni (Brookfield & Preskill, 2005).

Lebih jauh, mengintegrasikan strategi mendengarkan kritis dan diskusi terbimbing dalam pembelajaran apresiasi musik sejalan dengan prinsip-prinsip Merdeka Belajar, di mana siswa didorong untuk menjadi subjek aktif dalam proses belajar. Dengan pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir siswa secara reflektif, bukan sekadar penyampai informasi. Kegiatan mendengarkan menjadi lebih bermakna karena siswa tidak hanya menikmati musik secara emosional, tetapi juga mengembangkan sensitivitas artistik serta kemampuan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, strategi ini diyakini dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan rendahnya apresiasi musik di kalangan siswa SMA serta menjadikan pembelajaran seni budaya lebih hidup, kontekstual, dan transformatif.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model spiral dari Kemmis dan McTaggart (1988), yang terdiri dari empat tahapan utama:

perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Model ini dipilih karena sesuai untuk mengatasi permasalahan pembelajaran secara kontekstual dan berkelanjutan dalam praktik kelas nyata. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus di kelas X-2 SMA Negeri 10 Padang selama semester genap tahun ajaran 2024/2025. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas X di sekolah tersebut yang berjumlah 108 siswa. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, dengan memilih kelas X-2 berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan tingkat kemampuan apresiasi musik yang rendah serta partisipasi yang minim dalam kegiatan pembelajaran seni budaya (Sugiyono, 2019).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi aktivitas siswa, lembar penilaian hasil apresiasi musik, panduan wawancara, dan catatan lapangan.

Lembar observasi digunakan untuk merekam keterlibatan siswa dalam pembelajaran, khususnya dalam kegiatan mendengarkan dan berdiskusi secara kritis. Lembar penilaian apresiasi musik dirancang untuk menilai kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur- unsur musik, menganalisis struktur musikal, serta menginterpretasi makna yang terkandung dalam karya musik yang didengarkan. Semua instrumen disusun berdasarkan indikator kompetensi dasar Kurikulum 2013 (Kemendikbud, 2017) dan telah divalidasi oleh dua dosen ahli bidang pendidikan seni untuk menjamin kesahihan isi (content validity).

Prosedur penelitian mencakup dua siklus, masing-masing terdiri dari empat kali pertemuan dengan durasi 90 menit setiap sesi. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), memilih materi musik dari berbagai genre dan latar budaya, serta menyiapkan lembar kerja dan panduan diskusi siswa. Tahap pelaksanaan

(4)

Meningkatkan Apresiasi Musik – Lidia Arlini

dilakukan oleh guru dengan mengintegrasikan strategi mendengarkan kritis yang diarahkan melalui pertanyaan terbuka, serta diskusi terbimbing dalam kelompok kecil. Observasi dilakukan secara partisipatif oleh peneliti untuk mencatat dinamika kelas. Di akhir setiap siklus, dilakukan refleksi bersama guru mata pelajaran guna mengevaluasi efektivitas tindakan dan menyempurnakan strategi pembelajaran pada siklus selanjutnya (Arikunto, 2012).

Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian apresiasi musik dianalisis menggunakan teknik statistik sederhana, yakni perhitungan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sementara itu, data kualitatif dari catatan lapangan, hasil observasi, dan wawancara dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman, 1994). Analisis ini bertujuan untuk mengamati perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kepekaan estetika siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

Untuk menjaga validitas dan reliabilitas data, peneliti menerapkan teknik triangulasi data dan metode, yakni dengan membandingkan hasil dari observasi, penilaian, serta tanggapan lisan siswa dan guru. Selain itu, keterlibatan guru sebagai kolaborator dalam proses refleksi juga memperkuat validitas internal melalui pengecekan antar-subjek (peer debriefing) dan member checking (Creswell, 2014). Asumsi dasar dalam penelitian ini adalah bahwa siswa memiliki literasi musik dasar yang cukup untuk mengikuti pembelajaran berbasis mendengarkan kritis dan diskusi. Penelitian ini tidak menggunakan analisis statistik inferensial lanjutan, karena tujuannya adalah untuk menggambarkan perubahan perilaku dan keterlibatan siswa dalam konteks kelas secara nyata, bukan untuk generalisasi populasi besar.

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada peningkatan kemampuan apresiasi musik dalam konteks pembelajaran seni budaya siswa kelas X di satu sekolah. Penelitian ini tidak menilai keterampilan musikal praktis seperti bermain alat musik atau bernyanyi. Oleh karena itu, keterbatasan penelitian ini terletak pada konteksnya yang sempit (kelas dan sekolah tertentu), waktu yang terbatas, serta fokus yang hanya pada aspek kognitif dan afektif apresiasi musik. Namun demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan awal dalam merancang strategi pembelajaran apresiatif yang lebih efektif dan relevan untuk diterapkan secara luas di sekolah menengah.

ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model spiral Kemmis dan McTaggart yang terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus di kelas X SMA N 10 Padang pada semester genap tahun ajaran 2024/2025. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas X di sekolah tersebut yang berjumlah 108 siswa. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, dengan memilih kelas X-2 sebagai subjek penelitian berdasarkan hasil observasi awal yang menunjukkan bahwa siswa di kelas tersebut memiliki kemampuan apresiasi musik yang relatif rendah serta partisipasi pasif dalam kegiatan pembelajaran seni budaya.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi aktivitas siswa, lembar penilaian hasil apresiasi musik, panduan wawancara, dan catatan lapangan.

Lembar observasi digunakan untuk merekam keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, khususnya saat mendengarkan dan berdiskusi. Sementara itu, lembar penilaian apresiasi

(5)

musik, menganalisis struktur musik, dan menginterpretasikan makna karya. Instrumen disusun berdasarkan indikator kompetensi dasar Kurikulum 2013 dan telah melalui proses validasi ahli sebelum digunakan di lapangan.

Prosedur penelitian dilaksanakan dalam dua siklus dengan durasi masing-masing siklus selama dua minggu, yang mencakup empat kali pertemuan. Setiap pertemuan berdurasi 90 menit dan difokuskan pada kegiatan mendengarkan musik secara kritis dan diskusi terbimbing. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), instrumen observasi, dan materi pembelajaran berupa rekaman musik dari berbagai genre dan budaya. Pada tahap pelaksanaan, guru menerapkan strategi mendengarkan kritis yang dipandu dengan lembar kerja siswa, lalu dilanjutkan dengan diskusi terbimbing dalam kelompok kecil. Observasi dilakukan secara partisipatif selama proses berlangsung, dan data dianalisis di akhir setiap siklus untuk menentukan efektivitas tindakan dan rencana siklus berikutnya.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa nilai apresiasi musik dianalisis untuk melihat peningkatan capaian siswa dibandingkan dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), sementara data kualitatif dari observasi, wawancara, dan catatan lapangan dianalisis untuk mengidentifikasi perubahan perilaku, keterlibatan, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Analisis dilakukan dengan membandingkan hasil antar-siklus, serta mengamati pola perkembangan dan hambatan yang muncul selama proses pembelajaran.

Untuk menjamin validitas dan reliabilitas data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yaitu membandingkan data dari observasi, hasil penilaian, dan wawancara siswa maupun guru. Selain itu, refleksi dilakukan pada akhir setiap siklus dengan melibatkan guru mata pelajaran sebagai mitra kolaboratif, guna mengevaluasi efektivitas tindakan dan menyempurnakan perencanaan di siklus berikutnya. Asumsi dalam penelitian ini adalah bahwa siswa memiliki tingkat literasi musik dasar yang cukup sebagai prasyarat untuk melakukan aktivitas mendengarkan dan berdiskusi. Penelitian ini menggunakan teknik statistik sederhana berupa perhitungan rata-rata nilai dan persentase ketercapaian KKM, tanpa menggunakan analisis statistik inferensial lanjutan karena fokus penelitian lebih menekankan pada perubahan perilaku dalam konteks kelas.

Adapun ruang lingkup penelitian ini terbatas pada peningkatan kemampuan apresiasi musik siswa dalam konteks pembelajaran seni budaya di kelas X SMA. Penelitian ini tidak mengukur kemampuan musikal praktis (seperti bermain alat musik), dan hasilnya tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh sekolah karena keterbatasan konteks kelas dan jumlah subjek. Namun demikian, temuan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan strategi pedagogis yang relevan dalam pembelajaran apresiasi musik di sekolah menengah.

Hasil dan Pembahasan

Hasil utama dari penelitian tindakan kelas ini menunjukkan bahwa penerapan strategi mendengarkan kritis dan diskusi terbimbing secara signifikan meningkatkan kemampuan apresiasi musik siswa kelas X SMA N 10 Padang. Pada siklus I, hanya 52% siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dalam aspek apresiasi musik. Setelah dilakukan refleksi

(6)

Meningkatkan Apresiasi Musik – Lidia Arlini

dan perbaikan strategi pembelajaran pada siklus II, tingkat ketercapaian KKM meningkat menjadi 84%. Peningkatan ini tidak hanya tercermin dalam aspek kognitif berupa nilai akhir, tetapi juga dalam dimensi afektif dan partisipatif, seperti peningkatan minat siswa terhadap musik, kemampuan menyampaikan pendapat, serta keaktifan dalam diskusi kelompok.

Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa apresiasi musik yang selama ini dianggap sebagai aktivitas pasif dapat dikembangkan menjadi proses pembelajaran yang aktif dan bermakna. Dengan strategi mendengarkan kritis, siswa tidak hanya menikmati musik, tetapi juga mengidentifikasi unsur-unsur seperti melodi, harmoni, ritme, dan dinamika. Ketika dikombinasikan dengan diskusi terbimbing, proses ini mendorong siswa untuk menghubungkan elemen musikal tersebut dengan pesan, konteks budaya, dan ekspresi emosional yang terkandung dalam karya musik. Hal ini mendukung pendapat Barrett (2007) yang menyatakan bahwa kegiatan apresiasi yang melibatkan refleksi dan diskusi mampu mengintegrasikan pemahaman musikal dan nilai-nilai sosial budaya dalam diri siswa.

Dukungan terhadap hasil tersebut juga terlihat dari data observasi dan wawancara.

Selama siklus II, guru mencatat bahwa siswa menjadi lebih responsif dan reflektif dalam menyampaikan tanggapan terhadap karya musik. Misalnya, saat mendengarkan lagu daerah Minangkabau, siswa mampu mengaitkan struktur pentatonik dengan konteks budaya asalnya. Ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya meningkatkan pemahaman teknis, tetapi juga membentuk kesadaran kultural. Temuan ini konsisten dengan teori estetika edukatif yang dikemukakan oleh Pranowo (2016), di mana pemahaman mendalam terhadap karya seni diperoleh melalui dialog antara pengalaman pribadi, unsur estetika, dan konteks sosial budaya.

Penelitian ini juga menguatkan hasil studi Putri dan Ardi (2022) yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran seni agar tercipta pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Hasil ini juga konsisten dengan temuan Siregar (2019) yang menunjukkan bahwa siswa cenderung menunjukkan antusiasme lebih tinggi terhadap pendekatan pembelajaran yang mendorong partisipasi dan eksplorasi.

Strategi kombinatif yang digunakan dalam penelitian ini memperlihatkan efektivitas yang lebih tinggi karena memberi ruang bagi keterlibatan emosional dan intelektual siswa secara bersamaan, sesuatu yang tidak banyak dijumpai dalam pendekatan konvensional.

Dalam konteks pendidikan nasional, temuan ini relevan dengan visi Kurikulum Merdeka yang menekankan pentingnya pembelajaran yang bermakna, berbasis budaya, dan berpusat pada peserta didik (Kemendikbud, 2017). Strategi ini memungkinkan siswa untuk mengembangkan potensi diri melalui pemahaman terhadap keberagaman seni dan budaya bangsa. Selain itu, pendekatan ini turut mendukung pengembangan profil pelajar Pancasila, terutama dalam dimensi bernalar kritis, bergotong-royong, dan berkepribadian global. Oleh karena itu, strategi ini memiliki kontribusi potensial terhadap pembentukan karakter dan kecerdasan emosional siswa secara menyeluruh.

Meskipun hasilnya menunjukkan peningkatan yang positif, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian ini hanya dilakukan di satu kelas dan satu sekolah, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas. Kedua, jenis musik yang digunakan dalam proses pembelajaran masih terbatas pada genre tradisional dan populer, sehingga belum sepenuhnya mewakili keberagaman musik dunia. Ketiga, pendekatan penilaian dalam penelitian ini masih bersifat kualitatif deskriptif dan kuantitatif sederhana,

(7)

teknologi.

Berdasarkan temuan dan keterbatasan tersebut, disarankan agar penelitian selanjutnya memperluas konteks subjek dan menggunakan genre musik yang lebih variatif, termasuk musik klasik, kontemporer, dan musik dunia. Selain itu, integrasi teknologi seperti penggunaan aplikasi digital untuk mendengarkan dan berdiskusi dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkaya pengalaman apresiasi. Penelitian lanjutan juga dapat mengeksplorasi pengaruh strategi ini terhadap aspek lain seperti empati budaya, literasi seni lintas disiplin, serta pengembangan keterampilan abad ke-21 dalam pembelajaran seni budaya.

Selain itu, penting bagi penelitian selanjutnya untuk mempertimbangkan keterlibatan siswa dengan latar belakang kemampuan dan minat musik yang beragam, guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai efektivitas strategi ini di berbagai konteks pendidikan. Pendekatan diferensiasi dalam pemilihan materi musik, serta penyusunan aktivitas diskusi yang adaptif terhadap kebutuhan peserta didik, dapat memberikan dampak yang lebih inklusif. Tidak kalah penting, kolaborasi antar guru seni dan pemanfaatan ruang lintas mata pelajaran juga dapat menjadi inovasi dalam mengembangkan apresiasi musik sebagai bagian dari pendidikan karakter dan literasi estetika secara holistik.

(8)

Meningkatkan Apresiasi Musik – Lidia Arlini Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi mendengarkan kritis yang dikombinasikan dengan diskusi terbimbing secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan apresiasi musik siswa kelas X SMA N 10 Padang. Hal ini terlihat dari meningkatnya rata-rata nilai apresiasi musik siswa dari siklus I ke siklus II, serta bertambahnya jumlah siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain peningkatan kuantitatif, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran juga mengalami peningkatan yang ditandai dengan partisipasi aktif dalam diskusi, kemampuan mengemukakan pendapat, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap unsur-unsur dan makna karya musik yang didengarkan. Strategi ini mendorong siswa untuk tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi menjadi penikmat musik yang reflektif, analitis, dan komunikatif. Diskusi terbimbing memungkinkan siswa saling bertukar pandangan, memperkaya interpretasi, serta menumbuhkan sikap saling menghargai dalam mengapresiasi keberagaman ekspresi artistik. Hal ini juga sejalan dengan tujuan pembelajaran seni budaya yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan sosial.

Dengan demikian, strategi mendengarkan kritis dan diskusi terbimbing dapat dijadikan sebagai alternatif pedagogis yang efektif dalam pembelajaran apresiasi musik di tingkat SMA.

Strategi ini relevan untuk diterapkan secara luas guna menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kepekaan estetika, dan sikap apresiatif terhadap karya musik yang beragam dari berbagai budaya. Namun demikian, penerapan strategi ini perlu memperhatikan kesiapan guru, ketersediaan media audio yang berkualitas, serta alokasi waktu yang cukup agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.

Referensi

Arikunto, S. (2012). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Barrett, M. S. (2007). Editorial: Applications of qualitative research in music education.

Research Studies in Music Education, 28(1), 1–3.

Creswell, J. W. (2014). Educational research: Planning, conducting, and evaluating quantitative and qualitative research (4th ed.). Boston: Pearson Education.

Kemendikbud. (2017). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kemmis, S., & McTaggart, R. (1988). The action research planner (3rd ed.). Victoria: Deakin University Press.

Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Putri, D. A., & Ardi, H. (2022). Analisis minat belajar siswa dalam pembelajaran apresiasi musik di SMA. Jurnal Pendidikan Musik Indonesia, 5(1), 25–32.

Setiawan, A. (2020). Pendidikan seni budaya sebagai sarana pembentukan karakter siswa.

(9)

Siregar, R. (2019). Minat siswa terhadap kegiatan praktik dan apresiasi dalam pembelajaran musik di sekolah menengah. Jurnal Seni Musik, 14(1), 47–58.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan pada pembelajaran IPA dalam dua siklus dapat disimpulkan bahwa dengan penerapan model pembelajaran

Menurut Aryono, dkk (2011) berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus memperoleh hasil bahwa penerapan model pembelajaran

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus, maka hipotesis yang berbunyi “Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Bamboo

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan lagu model dalam pembelajaran apresiasi musik nusantara

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama dua siklus dengan hasil yang diperoleh yaitu Penerapan metode pembelajaran penemuan terbimbing dapat meningkatkan

Berdasarkan deskripsi pelaksanaan penelitian Tindakan Kelas (PTK) selama tiga siklus dengan dua kali pertemuan setiap siklusnya, dapat disimpulkan bahwa penerapan

Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan selama dua siklus dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui model pembelajaran Course Review Horay

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus tersebut dengan penerapan metode Guided Discovery Learning dapat