• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aspek Hukum Perseroan Terbatas

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Aspek Hukum Perseroan Terbatas"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Aspek Hukum

Perseroan Terbatas

(3)

UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 4

Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.

Pembatasan Pelindungan Pasal 26

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:

i. penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;

ii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;

iii. penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan fonogram yang telah dilakukan pengumuman sebagai bahan ajar; dan

iv. penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

1. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2. Setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(4)

Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Dr. Sandra Dewi, S.H., M.H.

(5)

Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Isi diluar tanggung jawab penerbit dan percetakan Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau

memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Anggota IKAPI: 020/SBA/02 PENERBIT INSAN CENDEKIA MANDIRI (Grup Penerbitan CV INSAN CENDEKIA MANDIRI) Perumahan Gardena Maisa 2, Blok F03, Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung,

Kabupaten Solok, Provinsi Sumatra Barat – Indonesia 27361 HP/WA: 0813-7272-5118

Website: www.insancendekiamandiri.co.id www.insancendekiamandiri.com E-mail: [email protected] Dr. Sandra Dewi, S.H., M.H.

Editor:

Dr. (Cand) Andrew Shandy Utama, S.H., M.H.

Desainer:

Mifta Ardila Sumber:

www.insancendekiamandiri.co.id Penata Letak:

Reski Aminah Proofreader:

Tim ICM Ukuran:

viii, 114 hlm., 15.5 x 23 cm ISBN:

978-623-348-295-0 Cetakan Pertama:

September 2021

Hak Cipta 2021, pada Dr. Sandra Dewi, S.H., M.H.

(6)

v

Daftar Isi

Prakata ____________________________________________ vii BAB I

Definisi Perseroan Terbatas ____________________________ 1 BAB II

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 __________________ 5 BAB III

Perkembangan Perseroan Terbatas di Indonesia ____________ 13 BAB IV

Pendirian Perseroan Terbatas ___________________________ 17 BAB V

Perseroan Terbatas sebagai Badan Hukum _________________ 25 BAB VI

Organ Perseroan Terbatas _____________________________ 33 BAB VII

Karakteristik Perseroan Terbatas sebagai Badan Hukum ______ 47 BAB VIII

Pemisahan Kekayaan Perseroan Terbatas dari Kekayaan Pemegang Saham, Dewan Komisaris, dan Direksi ____________________ 65 BAB IX

Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan Terbatas _____________________________ 79 Daftar Pustaka ______________________________________ 107 Tentang Penulis _____________________________________ 111 Tentang Editor ______________________________________ 113

(7)
(8)

vii

Prakata

Segenap rasa syukur yang tak pernah henti penulis persembahkan kepada Tuhan atas segala kemudahan dan petunjuk dari-Nya yang tak henti-hentinya penulis terima, hingga saat ini penulis telah menyelesaikan sebuah buku yang dengan judul “Aspek Hukum Perseroan Terbatas”.

Penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberi dukungan dalam proses penyelesaian buku ini. Kepada keluarga, rekan sejawat dan seluruh tim Insan Cendekia Mandiri yang telah melakukan proses penerbitan, penulis ucapkan terima kasih.

Penulis menanti saran konstruktif untuk perbaikan dan peningkatan pada masa mendatang. Semoga buku ini dapat memberikan kontribusi. Sebagaimana peribahasa tak ada gading nan tak retak, mohon dimaafkan segala kekeliruan yang ada pada terbitan ini. Segala kritik dan saran, tentu akan diterima dengan tangan terbuka.

Penulis

(9)
(10)

1

BAB I

DEFINISI PERSEROAN TERBATAS

Prinsip tanggung jawab terbatas dan kemudahan dalam melakukan pengalihan kepemilikan perusahaan adalah beberapa faktor yang menyebabkan Perseroan Terbatas menjadi bentuk badan usaha yang paling digemari oleh pelaku bisnis di Indonesia. Bentuk badan usaha ini juga hadir di negara-negara lain. Malaysia menyebut Perseroan Terbatas dengan Sendirian Berhad (SDN BHD). Singapura menyebutnya dengan Proprietary Limited (Pty Ltd). Di Jepang Perseroan Terbatas disebut dengan Kabushiki Kaisha.

Inggris menyebut Perseroan Terbatas dengan Registered Companies. Belanda menyebutnya dengan Naamloze Vennootschap. Di Perancis Perseroan Terbatas disebut dengan Societe a Responsabilite Lind-tee (SARL).

Bila diuraikan secara gramatikal, istilah Perseroan Terbatas terdiri dari dua kata, yaitu kata Perseroan yang mengacu pada modal yang berbentuk saham dan kata Terbatas yang mengacu pada sistem pertanggungjawaban yang digunakan oleh badan usaha tersebut. Apabila menggabungkan arti dari kedua kata tersebut, Perseroan Terbatas dapat diartikan sebagai sebuah badan usaha yang modalnya (equity) terdiri dari saham-saham yang menggunakan prinsip tanggung jawab terbatas bagi para

(11)

pemegang saham. Akan tetapi, definisi Perseroan Terbatas yang sebenarnya tidaklah sesederhana itu. Hal ini tercermin dari banyaknya definisi yang diberikan oleh para ahli.

Definisi Perseroan Terbatas adalah suatu manusia semu (artificial person) atau badan hukum (legal entity) yang diciptakan oleh hukum yang dapat saja, sesuai hukum setempat, bisa hanya terdiri dari satu orang anggota beserta para ahli warisnya. Akan tetapi, Perseroan Terbatas lebih lazim terdiri dari sekelompok individu sebagai anggota, yang oleh hukum, badan hukum tersebut dipandang terpisah dari para anggotanya. Keberadaan Perseroan Terbatas tetap eksis terlepas dari pergantian anggota-anggotanya. Perseroan Terbatas dapat berdiri untuk jangka waktu tertentu maupun untuk waktu yang tidak terbatas, dapat melakukan kegiatan sendiri untuk kepentingan bersama dari anggota, serta kegiatan yang berada dalam ruang lingkup sebagaimana ditentukan oleh hukum yang berlaku.

Perseroan Terbatas juga didefinisikan sebagai suatu manusia semu yang diciptakan oleh hukum yang terdiri dari, baik satu anggota, bila hukum setempat mengizinkan, yang disebut sebagai perusahaan satu orang (corporation sole) maupun yang terdiri dari beberapa orang anggota, yang disebut dengan perusahaan banyak orang (corporation aggregate).

(12)

BAB I Definisi Perseroan Terbatas 3

Selain itu, definisi Perseroan Terbatas adalah suatu badan intelektual yang diciptakan oleh hukum, yang terdiri dari beberapa orang individu yang bernaung di bawah satu nama bersama di mana perusahaan tersebut sebagai badan intelektual tetap sama dan eksis meskipun anggotanya dapat berubah-ubah.

Steven H. Giffis memberikan definisi bahwa Perseroan Terbatas adalah sebuah asosiasi pemegang saham atau bahkan satu pemegang saham yang diciptakan oleh hukum dan diperlakukan sebagai manusia semu oleh pengadilan, merupakan badan hukum dan oleh karenanya sama sekali terpisah dari orang-orang yang mendirikannya, memiliki kapasitas untuk bereksistensi terus-menerus, serta sebagai badan hukum berhak untuk menerima, memegang, dan mengalihkan harta kekayaannya, menggugat atau digugat, serta dapat melaksanakan kewenangan-kewenangan lainnya sebagaimana diperkenankan oleh hukum yang berlaku.

Dari beragam definisi mengenai Perseroan Terbatas yang telah dipaparkan di atas, hampir seluruhnya memiliki beberapa karakteristik yang sama. Pertama, Perseroan Terbatas merupakan suatu badan hukum. Sebuah Perseroan Terbatas secara hukum adalah suatu badan hukum atau manusia semu yang sebagai konsekuensi yuridis berhak untuk memiliki harta kekayaan sendiri, melakukan tindakan hukum, dan bertanggung jawab atas tindakannya tersebut.

(13)

Kedua, Perseroan Terbatas didirikan berdasarkan perjanjian. Perjanjian dalam konteks ini adalah perjanjian antara para pendirinya. Dengan demikian, Perseroan Terbatas harus terdiri dari minimal dua orang pemegang saham. Namun, tidak semua sistem hukum di dunia menganut teori perjanjian ini. Ada juga negara-negara yang hukumnya memperkenankan berdirinya Perseroan Terbatas dengan pemegang saham tunggal.

Ketiga, Perseroan Terbatas menjalankan suatu usaha tertentu. Suatu Perseroan Terbatas didirikan dengan maksud dan tujuan tertentu seperti yang tercantum dalam Anggaran Dasar pendiriannya. Pada prinsipnya, suatu Perseroan Terbatas didirikan untuk melaksanakan satu atau beberapa bidang bisnis. Dengan demikian, jelaslah bahwa tujuan dan maksud didirikannya Perseroan Terbatas adalah untuk berbisnis di bidang-bidang tertentu.

Keempat, Perseroan Terbatas memiliki modal yang terbagi dalam saham-saham. Modal Perseroan Terbatas yang disetor oleh para pendiri atau pemegang sahamnya disimpan dalam bentuk saham. Pendirian Perseroan Terbatas harus memenuhi persyaratan undang-undang. Perseroan Terbatas hanya dapat dianggap sebagai badan hukum yang melakukan tindakan hukum yang sah, apabila pendirian serta segala tindakan hukum yang dilakukan oleh perusahaan tersebut sesuai dengan undang-undang dan peraturan pelaksananya.

(14)

5

BAB II

UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas lahir dilatarbelakangi bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi eko- nomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional perlu didukung oleh kelembagaan pere- konomian yang kokoh dalam rangka mewujudkan kese- jahteraan masyarakat.

Selain itu, dalam rangka lebih meningkatkan pem- bangunan perekonomian nasional dan sekaligus mem- berikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha dalam meng- hadapi perkembangan perekonomian dunia dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi pada masa mendatang, perlu didukung oleh suatu undang-undang yang mengatur tentang Perseroan Terbatas yang dapat menjamin terselenggaranya iklim dunia usaha yang kondusif.

Perseroan Terbatas sebagai salah satu pilar pembangunan perekonomian nasional perlu diberikan landasan hukum untuk lebih memacu pembangunan nasional

(15)

yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat, sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru.

Oleh karena itu, pada tanggal 16 Agustus 2007 disahkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Pembangunan perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi yang berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan pembangunan perekonomian nasional perlu didukung oleh suatu undang-undang yang mengatur tentang Perseroan Terbatas yang dapat menjamin iklim dunia usaha yang kondusif. Selama ini Perseroan Terbatas telah diatur dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang menggantikan peraturan perundang-undangan yang berasal dari zaman penjajahan Belanda. Namun, dalam perkembangannya ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dipandang tidak lagi memenuhi perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat karena

(16)

BAB III Perkembangan Perseroan Terbatas di Indonesia 7

keadaan ekonomi serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi sudah berkembang begitu pesat, khususnya pada era globalisasi. Di samping itu, mening- katnya tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat, kepastian hukum, serta tuntutan akan pengembangan dunia usaha yang sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate governance) menuntut penyem- purnaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas telah diakomodasi berbagai ketentuan mengenai Perseroan Terbatas, baik berupa penambahan ketentuan baru, perbaikan penyempurnaan, maupun mem- pertahankan ketentuan lama yang dinilai masih relevan.

Untuk lebih memperjelas hakikat Perseroan Terbatas, di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ditegaskan bahwa Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang- undang serta peraturan pelaksanaannya.

Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan yang cepat, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur tata cara:

(17)

1. Pengajuan permohonan dan pemberian pengesahan status badan hukum Perseroan Terbatas.

2. Pengajuan permohonan dan pemberian persetujuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas.

3. Penyampaian pemberitahuan dan penerimaan pembe- ritahuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas dan/atau pemberitahuan dan penerimaan pemberitahuan perubahan data lainnya, yang dilakukan melalui jasa teknologi informasi sistem administrasi badan hukum secara elektronik, di samping tetap dimungkinkan menggunakan sistem manual dalam keadaan tertentu.

Berkenaan dengan permohonan pengesahan badan hukum Perseroan Terbatas, ditegaskan bahwa permohonan tersebut merupakan wewenang pendiri bersama-sama yang dapat dilaksanakan sendiri atau dikuasakan kepada notaris.

Akta pendirian Perseroan Terbatas yang telah disahkan dan akta perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas yang telah disetujui dan/atau diberitahukan kepada menteri hukum dan hak asasi manusia dicatat dalam daftar Perseroan Terbatas dan diumumkan dalam tambahan berita Negara Republik Indonesia dilakukan oleh menteri hukum dan hak asasi manusia.

Dalam hal pemberian status badan hukum, persetujuan dan/atau penerimaan pemberitahuan perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas, dan perubahan data lainnya,

(18)

BAB III Perkembangan Perseroan Terbatas di Indonesia 9

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak dikaitkan dengan Undang-Undang tentang Wajib Daftar Perusahaan.

Untuk lebih memperjelas dan mempertegas ketentuan yang menyangkut organ Perseroan Terbatas, dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dilakukan perubahan atas ketentuan yang menyangkut penyelenggaraan rapat umum pemegang saham dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Dengan demikian, penyelenggaraan rapat umum pemegang saham dapat dilakukan melalui media elektronik seperti telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas juga memperjelas dan mempertegas tugas dan tanggung jawab Direksi dan Dewan Komisaris.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengatur mengenai Komisaris Independen dan Komisaris Utusan.

Sesuai dengan berkembangnya kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mewajibkan Perseroan Terbatas yang menjalankan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah selain mempunyai Dewan Komisaris, juga mempunyai Dewan Pengawas Syariah. Tugas Dewan Pengawas Syariah adalah memberikan nasihat dan

(19)

saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan Perseroan Terbatas agar sesuai dengan prinsip syariah.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ketentuan mengenai struktur modal Perseroan Terbatas tetap sama, yaitu terdiri atas modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor. Namun, modal dasar Perseroan Terbatas diubah menjadi paling sedikit Rp50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), sedangkan kewajiban penyetoran atas modal yang ditempatkan harus penuh. Mengenai pembelian kembali saham yang telah dike- luarkan oleh Perseroan Terbatas pada prinsipnya tetap dapat dilakukan dengan syarat batas waktu Perseroan Terbatas menguasai saham yang telah dibeli kembali paling lama 3 (tiga) tahun. Khusus tentang penggunaan laba, Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menegaskan bahwa Perseroan Terbatas dapat membagi laba dan menyisihkan cadangan wajib apabila Perseroan Terbatas mempunyai saldo laba positif.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diatur mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan yang bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehi- dupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi Perseroan Terbatas itu sendiri, komunitas setempat, dan masyarakat pada umumnya. Ketentuan ini dimaksudkan untuk men-

(20)

BAB III Perkembangan Perseroan Terbatas di Indonesia 11

dukung terjalinnya hubungan Perseroan Terbatas yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat, maka ditentukan bahwa Perseroan Terbatas yang kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Untuk melaksanakan kewajiban Perseroan Terbatas tersebut, kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan harus dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang dilaksanakan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Kegiatan tersebut dimuat dalam laporan tahunan Perseroan Terbatas. Dalam hal Perseroan Terbatas tidak melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, maka Perseroan Terbatas yang bersangkutan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mempertegas ketentuan mengenai pembubaran, likuidasi, dan berakhirnya status badan hukum Perseroan Terbatas dengan memperhatikan ketentuan dalam Undang-Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Dalam rangka pelaksanaan dan perkembangan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dibentuk tim ahli pemantauan hukum Perseroan Terbatas, yang tugasnya memberikan masukan kepada

(21)

menteri hukum dan hak asasi manusia berkenaan dengan Perseroan Terbatas. Untuk menjamin kredibilitas tim ahli, keanggotaan tim ahli tersebut terdiri atas berbagai unsur, baik dari pemerintah, pakar/akademisi, profesi, dan dunia usaha. Dengan pengaturan yang komprehensif yang meling- kupi berbagai aspek Perseroan Terbatas, maka Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diharapkan memenuhi kebutuhan hukum masyarakat serta lebih memberikan kepastian hukum, khususnya kepada dunia usaha.

(22)

13

BAB III

PERKEMBANGAN PERSEROAN TERBATAS DI INDONESIA

H.M.N. Purwosujipto mengemukakan bahwa sebagian besar dari bentuk-bentuk badan usaha yang ada di Indonesia merupakan bentuk badan usaha peninggalan Belanda.

Beberapa di antaranya memang sudah ada yang diganti namanya ke dalam bahasa Indonesia. Namun, masih ada juga yang tetap menggunakan nama aslinya dalam bahasa Belanda, seperti Maatschap, Firma yang disingkat Fa, dan Commanditaire Vennootschap yang disingkat CV.

Menurut Rudhy Prasetya, salah satu bentuk badan usaha yang namanya telah diganti ke dalam bahasa Indonesia adalah Perseroan Terbatas yang berasal dari badan usaha Naamloze Vennootschap atau NV dari bahasa Belanda.

Orang-orang Belanda mengatakan bahwa orang Indonesia tidak akan mengenal Perseroan Terbatas apabila tidak mengenal Commanditaire Vennootschap. Namun, yang sebe- narnya terjadi adalah orang Indonesia mengenal Perseroan Terbatas karena adanya Naamloze Vennootschap yang lahir dari Verenigging Oost Indische Compagnie atau VOC.

Adanya perubahan nama Naamloze Vennootschap menjadi Perseroan Terbatas menurut Rachmadi Usman

(23)

dikarenakan istilah Naamloze Vennootschap dianggap kurang mencerminkan sifat dari Perseroan Terbatas secara tepat. Bila diartikan, maka Naamloze Vennootschap berarti persekutuan tanpa nama dan tidak mempergunakan nama orang sebagai nama persekutuan seperti Firma, melainkan mempergunakan nama usaha yang menjadi tujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan, Perseroan Terbatas adalah persekutuan yang modalnya terdiri dari saham-saham dan tanggung jawab pemilik saham terbatas pada nilai saham yang dimilikinya. Dengan demikian, istilah Perseroan Terbatas dianggap lebih akurat daripada istilah Naamloze Vennootschap.

Pengaturan mengenai Perseroan Terbatas pertama kali dijumpai dalam Wetboek van Koophandel atau Kitab Undang-undang Hukum Dagang. Dalam Kitab Undang- Undang Hukum Dagang, tidak disebutkan secara eksplisit bahwa Perseroan Terbatas adalah sebuah badan hukum.

Dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang, Pasal-pasal yang menyiratkan bahwa Perseroan Terbatas adalah suatu badan hukum yaitu Pasal 40 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Dagang yang berbunyi bahwa para pemegang saham tidak bertanggung jawab untuk lebih dari jumlah penuh saham-saham itu. Lalu, pada Pasal 45 ayat (1) Kitab Undang- undang Hukum Dagang berbunyi bahwa tanggung jawab para pengurus adalah tidak lebih daripada untuk

(24)

BAB III Perkembangan Perseroan Terbatas di Indonesia 15

menunaikan tugas yang diberikan kepada mereka dengan sebaik-baiknya, dan mereka pun karena segala perikatan dari perseroan, dengan diri sendiri tidak terikat kepada pihak ketiga.

Seiring dengan berkembangnya dunia usaha dan kebutuhan masyarakat akan pengaturan hukum yang lebih jelas mengenai Perseroan Terbatas, akhirnya lahir Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Berbeda dengan pengaturan sebelumnya dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyebutkan dengan jelas mengenai status Perseroan Terbatas sebagai badan hukum, seperti yang terdapat pada Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang berbunyi bahwa Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang serta peraturan pelaksanaannya.

Dengan adanya pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tersebut, maka sistem hukum di Indonesia dengan tegas telah

(25)

menetapkan Perseroan Terbatas sebagai badan hukum (legal entity) dan karenanya dapat dianggap sebagai “Manusia”, sehingga Perseroan Terbatas merupakan suatu subjek hukum yang mandiri. Arti mandiri dari Perseroan Terbatas adalah bahwa Perseroan Terbatas dapat melakukan per- buatan hukum sendiri. Dengan demikian, bila ada tindakan- tindakan yang mengikat pihak ketiga, maka perbuatan tersebut dianggap sebagai perbuatan pihak ketiga dengan Perseroan Terbatas yang wujudnya khas rechtspersoon.

Artinya, Perseroan Terbatas dianggap sebagai manusia walaupun tidak memiliki tangan dan kaki.

(26)

17

BAB IV

PENDIRIAN PERSEROAN TERBATAS

Sebagai konsekuensi dari paham yang dianut dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang menyatakan bahwa Perseroan Terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, maka Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mensyaratkan bahwa Perseroan Terbatas harus didirikan oleh dua orang atau lebih. Istilah orang di sini bermakna orang perorangan (natural person) dan/atau badan hukum (legal entity). Dengan demikian, pemegang saham Perseroan Terbatas dapat berupa orang perorangan maupun badan hukum.

Syarat sahnya pendirian Perseroan Terbatas, jika dilihat pada ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi supaya pendirian Perseroan Terbatas sah sebagai badan hukum, yang terdiri atas:

1. Perseroan Terbatas harus didirikan oleh dua orang atau lebih.

2. Akta pendirian Perseroan Terbatas berbentuk akta Notaris.

(27)

3. Akta pendirian Perseroan Terbatas dibuat dalam bahasa Indonesia.

4. Setiap pendiri Perseroan Terbatas wajib mengambil bagian saham.

5. Pendirian Perseroan Terbatas mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Demikianlah persyaratan yang mesti dipenuhi supaya pendirian Perseroan Terbatas dapat memperoleh penge- sahan dan legalitas sebagai badan hukum (rechtspersoon, legal entity). Syarat tersebut bersifat kumulatif, bukan bersifat fakultatif. Satu saja dari syarat itu cacat (defect) atau tidak terpenuhi, mengakibatkan pendirian Perseroan Terbatas tidak sah sebagai badan hukum.

Perseroan Terbatas harus didirikan oleh dua orang atau lebih. Syarat pendiri Perseroan Terbatas harus dua orang atau lebih diatur dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Syarat ini sama dengan syarat yang diatur pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Perseroan Terbatas tahun 1995. Pengertian pendiri menurut hukum adalah orang yang mengambil bagian dengan sengaja (intention) untuk mendirikan Perseroan Terbatas. Selanjutnya, orang-orang itu dalam rangka pendirian, mengambil langkah-langkah yang penting untuk mewujudkan pendirian tersebut, sesuai dengan syarat yang ditentukan peraturan perundang-undangan. Jadi, syarat

(28)

BAB IV Pendirian Perseroan Terbatas 19

pertama pendiri Perseroan Terbatas paling sedikit dua orang.

Jika kurang dari itu, maka Perseroan Terbatas tidak memenuhi syarat sehingga tidak mungkin diberikan penge- sahan sebagai badan hukum oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Cara mendirikan Perseroan Terbatas oleh para pendiri dilakukan berdasarkan perjanjian. Hal ini ditegaskan pada Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang mengatakan bahwa Perseroan Terbatas sebagai badan hukum yang merupakan persekutuan modal didirikan oleh para pendiri berdasarkan perjanjian. Artinya, Perseroan Terbatas dilakukan secara konsensual dan kontraktual berdasarkan Pasal 1313 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Pendirian Perseroan Terbatas dilakukan para pendiri atas persetujuan, di mana para pendiri antara yang satu dengan yang lain saling mengikatkan dirinya untuk mendirikan Perseroan Terbatas. Dengan demikian, pendirian Perseroan Terbatas tunduk kepada hukum perikatan atau hukum perjanjian yang diatur dalam Buku III Kitab Undang- undang Hukum Perdata yang terdiri atas Bagian Kedua tentang Ketentuan Umum (Pasal 1313-1318) dan Bagian Kedua tentang Syarat untuk Sahnya Persetujuan (Pasal 1320- 1337) serta Bagian Ketiga tentang Akibat Persetujuan (Pasal 1338-1341). Pendirian Perseroan Terbatas berdasarkan

(29)

perjanjian merupakan penegasan prinsip yang berlaku bagi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pada dasarnya, Perseroan Terbatas sebagai badan hukum didirikan berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu, Perseroan Terbatas mempunyai lebih dari satu orang pemegang saham.

Akta pendirian Perseroan Terbatas berbentuk akta Notaris. Syarat kedua yang diatur pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah syarat mendirikan perseroan harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta, yaitu berbentuk akta Notaris (Notariele akte, Notarial deed), tidak boleh berbentuk akta di bawah tangan (onderhandse akte, private instrument).

Keharusan akta pendirian Perseroan Terbatas mesti berbentuk akta Notaris tidak hanya berfungsi sebagai probationis causa. Maksudnya, akta notaris tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat bukti atas perjanjian pendirian Perseroan Terbatas, tetapi akta Notaris itu berdasarkan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sekaligus bersifat dan berfungsi sebagai solemnitatis causa, yaitu apabila tidak dibuat dalam akta Notaris, maka akta pendirian Perseroan Terbatas tersebut tidak memenuhi syarat sehingga terhadapnya tidak dapat diberikan pengesahan oleh pemerintah, dalam hal ini menteri hukum dan hak asasi manusia.

(30)

BAB IV Pendirian Perseroan Terbatas 21

Akta pendirian Perseroan Terbatas dibuat dalam bahasa Indonesia. Hal lain yang mesti dipenuhi dalam pembuatan akta pendirian Perseroan Terbatas yang diatur pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah syarat material yang mengharuskan akta pendirian Perseroan Terbatas dibuat dalam bahasa Indonesia. Semua hal yang melekat pada akta pendirian Perseroan Terbatas, termasuk Anggaran Dasar dan keterangan lainnya, harus dibuat dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian, Anggaran Dasar Perseroan Terbatas yang dibuat dalam bahasa asing tidak sah karena tidak memenuhi syarat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Ketentuan ini bersifat memaksa (dwingendrecht, mandatory law). Oleh karena itu, akta pendirian Perseroan Terbatas yang wajib dibuat dalam bahasa Indonesia tidak dapat dikesampingkan oleh para pendiri maupun menteri hukum dan hak asasi manusia.

Setiap pendiri Perseroan Terbatas wajib mengambil bagian saham. Syarat formal dalam mendirikan Perseroan Terbatas diatur pada Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yaitu setiap pendiri Perseroan Terbatas wajib mengambil bagian saham dan pengambilan atas bagian saham itu wajib dilaksanakan setiap pendiri pada saat Perseroan Terbatas didirikan.

Artinya, pada saat para pendiri menghadap Notaris untuk

(31)

membuat akta pendirian Perseroan Terbatas, masing-masing pendiri sudah mengambil bagian saham Perseroan Terbatas tersebut.

Kemudian, ketentuan Pasal 8 ayat (2) huruf c Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengharuskan dimuat dalam akta pendirian Perseroan Terbatas mengenai nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian jumlah saham, serta nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor. Agar syarat ini sah menurut hukum, maka pengambilan bagian saham harus sudah dilakukan setiap pendiri Perseroan Terbatas pada saat pendirian berlangsung. Tidak sah apabila dilakukan sesudah Perseroan Terbatas didirikan.

Pendirian Perseroan Terbatas mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Syarat sahnya pendirian Perseroan Terbatas selanjutnya menurut Pasal 7 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas adalah Perseroan Terbatas harus memperoleh status badan hukum. Ketentuan tersebut berbunyi bahwa Perseroan Terbatas memperoleh status badan hukum pada tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengenai penge- sahan badan hukum Perseroan Terbatas tersebut. Bertitik tolak dari ketentuan ini, agar suatu Perseroan Terbatas sah berdiri sebagai badan hukum (rechtspersoon, legal entity or

(32)

BAB IV Pendirian Perseroan Terbatas 23

legal person), maka harus mendapat pengesahan dari menteri hukum dan hak asasi manusia. Pengesahan tersebut diterbitkan dalam bentuk keputusan menteri hukum dan hak asasi manusia yang disebut sebagai Keputusan Pengesahan Badan Hukum Perseroan Terbatas.

(33)

BAB IX

FIDUCIARY DUTY DAN BUSINESS JUDGMENT RULE DEWAN KOMISARIS DAN DIREKSI

PERSEROAN TERBATAS

A. FIDUCIARY DUTY

Fidusia (fiduciary) dalam bahasa Latin dikenal sebagai fiduciaries, bermakna kepercayaan. Secara teknis, istilah fiduciary dimaknai sebagai memegang sesuatu dalam keper- cayaan atau seseorang yang memegang sesuatu dalam kepercayaan untuk kepentingan orang. Seseorang memiliki tugas fiduciary (fiduciary duty) manakala orang tersebut memiliki kapasitas fiduciary (fiduciary capacity). Seseorang memiliki kapasitas fiduciary jika bisnis yang ditran- saksikannya atau harta benda dan kekayaan yang dikuasainya bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi untuk kepentingan orang lain. Orang yang memberikan kewenangan tersebut, memiliki kepercayaan yang besar kepadanya. Pemegang amanah pun wajib memiliki itikad baik dalam menjalankan tugasnya.

Menurut I.G. Rai Widjaya, yang dimaksud dengan Fiduciary Duty adalah tugas yang dijalankan oleh direktur dengan penuh tanggung jawab untuk kepentingan (benefit) orang atau pihak lain (Perseroan Terbatas).

(34)

80 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa hubungan fiduciary timbul ketika salah satu pihak berbuat sesuatu bagi kepentingan pihak lain dengan mengesampingkan kepen- tingan pribadinya sendiri. Fiduciary Duty akan tercipta jika ada fiduciary relationship. Fiduciary relationship telah menjadi bagian dalam yurisprudensi hukum Anglo-American selama hampir 250 tahun. Setelah melalui perdebatan yang panjang, para ahli hukum dan praktisi hukum menyepakati satu konsep awal fiduciary relationship. Konsep ini menya- takan bahwa fiduciary relationship terjadi ketika terdapat dua pihak di mana salah satu pihak (beneficiary) mempunyai kewajiban untuk bertindak atau memberikan nasihat demi dan untuk kepentingan pihak kedua (fiduciary) mengenai persoalan-persoalan tertentu yang ada di dalam ruang lingkup hubungan tersebut.

Bentuk fiduciary relationship yang paling umum antara lain trustee beneficiary, agent-principal, corporate director atau officer-corporation, dan partnership. Walaupun demikian, pengadilan menegaskan bahwa bentuk fiduciary relationship tidak hanya semata-mata itu saja. Kepengurusan perseroan terbatas sehari-hari dilakukan oleh Direksi.

Keberadaan Direksi dalam suatu organ Perseroan Terbatas merupakan suatu keharusan, dengan kata lain, Perseroan Terbatas wajib memiliki Direksi. Hal ini dikarenakan Perseroan Terbatas sebagai artificial person, di mana

(35)

Perseroan Terbatas tidak dapat berbuat apa-apa tanpa adanya bantuan Direksi sebagai natural person. Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan Terbatas.

Artinya, secara fiduciary harus melaksanakan standard of care.

Standard of care merupakan suatu standar yang mewajibkan seseorang dalam bertindak untuk tetap memperhatikan segala risiko, bahaya, dan perangkap yang ada dan berupaya untuk meminimalisasi munculnya risiko- risiko tersebut. Dalam bertindak, seorang Direksi harus menerapkan prinsip kehati-hatian dan ketelitian supaya dapat menghindari segala kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan.

Bagi Perseroan Terbatas, Direksi adalah trustee sekaligus agent. Dikatakan sebagai trustee karena Direksi melakukan pengurusan terhadap harta kekayaan Perseroan Terbatas. Lalu dikatakan sebagai agent karena Direksi bertindak keluar untuk dan atas nama Perseroan Terbatas, selaku pemegang kuasa Perseroan Terbatas yang mengikat Perseroan Terbatas dengan pihak ketiga. Hal ini berarti ada hubungan kepercayaan yang melahirkan kewajiban kepercayaan (fiduciary duty) antara Direksi dan Perseroan Terbatas.

Fiduciary Duty Direksi akan memberikan perlindungan yang berarti bagi pemegang saham dan perusahaan. Hal ini

(36)

82 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

dikarenakan pemegang saham dan perusahaan tidak dapat sepenuhnya melindungi dirinya sendiri dari tindakan Direksi yang merugikan di mana Direksi bertindak atas nama perusahaan dan pemegang saham. Untuk menghindari adanya penyalahgunaan aset-aset perusahaan dan wewenang oleh Direksi, maka Direksi dibebankan dengan adanya Fiduciary Duty. Biasanya Fiduciary Duty Direksi dibagi menjadi dua komponen utama, yaitu duty of care dan duty of loyalty.

Duty of care pada dasarnya merupakan kewajiban Direksi untuk tidak bertindak lalai, menerapkan ketelitian tingkat tinggi dalam mengumpulkan informasi yang digunakan untuk membuat keputusan bisnis, dan menja- lankan manajemen bisnisnya dengan kepedulian dan kehati- hatian yang masuk akal. Duty of loyalty mencakup kewajiban Direksi untuk tidak menempatkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan perusahaan dalam melakukan transaksi di mana transaksi tersebut dapat menguntungkan Direksi dengan menggunakan biaya-biaya yang ditanggung oleh perusahaan atau corporate opportunity.

Menurut Munir Fuady, dalam menjalankan tugas Fiduciary Duty, seorang Direksi harus melakukan tugasnya sebagai berikut:

1. Dilakukan dengan itikad baik.

2. Dilakukan dengan proper purposes.

(37)

3. Dilakukan dengan kebebasan yang tidak bertanggung jawab (unfettered discretion).

4. Tidak memiliki benturan kepentingan (conflict of duty and interest).

Direksi juga harus mampu mengartikan dan melaksanakan kebijakan Perseroan Terbatas secara baik demi kepentingan Perseroan Terbatas, memajukan Perseroan Terbatas, meningkatkan nilai saham Perseroan Terbatas, serta menghasilkan keuntungan pada Perseroan Terbatas, shareaholders dan stakeholders. Berdasarkan kewenangan yang ada pada Direksi tersebut (proper purposes), Direksi harus mampu mengekspresikan dan menjalankan tugasnya dengan baik agar permasalahan selalu berjalan di jalur yang benar atau layak. Dengan demikian, Direksi harus mampu menghindarkan perusahaan dari tindakan-tindakan yang illegal, bertentangan dengan pera- turan dan kepentingan umum, serta bertentangan dengan kesepakatan yang dibuat dengan organ perseroan lain, shareholders dan stakeholders.

Oleh karena itu, apabila terjadi conflict of duty dan benturan kepentingan pada saat menjalankan Perseroan Terbatas, Direksi harus mampu mengelola secara bijak berbagai kepentingan para pemegang saham. Namun, dalam pelaksanaannya pengelolaan perbedaan kepentingan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya membuat

(38)

84 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

perjanjian yang menguntungkan Perseroan Terbatas, tidak menyembunyikan suatu informasi untuk kepentingan pribadi, tidak menyalahgunakan kepercayaan, dan tidak melakukan kompetisi yang tidak sehat.

B. BUSINESS JUDGMENT RULE

Pertanggungjawaban Direksi secara pribadi atas keputusan bisnis yang merugikan perusahaan telah menjadi perdebatan sejak lama. Sejak ratusan tahun yang lalu, hakim-hakim di negara dengan sistem hukum Anglo-Saxon mengembangkan standar yang dikenal dengan istilah Business Judgment Rule.

Pada kasus Joy vs North, Hakim Ralph Winter menegaskan bahwa pengadilan bukanlah tempat yang ideal untuk mengevaluasi keputusan bisnis karena tidak mudah untuk merekonstruksi di pengadilan beberapa tahun kemudian.

Dunia bisnis membutuhkan keputusan yang sangat cepat.

Bahkan, seringkali keputusan dilakukan atas dasar informasi yang tidak sempurna. Ralph Winter menambahkan bahwa fungsi dari entrepreneur adalah berhadapan dengan risiko dan ketidakpastian. Ketika dibuat, suatu keputusan terlihat masuk akal. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, dengan latar belakang pengetahuan yang cukup, keputusan itu mungkin terlihat sebagai spekulasi belaka. Atas pertim- bangan itu, pengadilan di Amerika Serikat mengembangkan konsep Business Judgement Rule.

(39)

Konsep Business Judgment Rule yang berasal dari Amerika Serikat ini mencegah pengadilan-pengadilan di Amerika Serikat untuk mempertanyakan pengambilan keputusan usaha (bisnis) oleh Direksi yang diambil dengan itikad baik, tanpa kepentingan pribadi, dan keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa para anggota Direksi telah mengambil keputusan yang menguntungkan Perseroan Terbatas.

Black’s Law Dictionary mendefinisikan Business Judgment Rule; “The rule shields directors and officers from liability for unprofitable or harmful corporate transactions if the transactions were made in good faith, with due care, and within the directors’ or officers’ authority.” Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa Business Judgment Rule merupakan aturan yang memberikan kekebalan atau perlindungan bagi manajemen Perseroan Terbatas (directors dan officers) dari setiap tanggung jawab yang lahir sebagai akibat dari transaksi atau kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan batas-batas kewenangan dan kekuasaan yang diberikan kepadanya, dengan pertimbangan bahwa kegiatan tersebut telah dilakukan dengan memperhatikan standar kehati-hatian dan itikad baik.

Di dalam hukum perusahaan, dikenal doktrin yang mengajarkan bahwa Direksi Perseroan Terbatas tidak bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari suatu

(40)

86 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

tindakan pengambilan keputusan apabila tindakan tersebut didasarkan pada itikad baik dan hati-hati. Direksi mendapatkan perlindungan hukum tanpa perlu memperoleh pembenaran dari pemegang saham atau pengadilan atas keputusan yang diambilnya dalam konteks pengelolaan perusahaan.

Aturan Business Judgment Rule didasarkan pada konsep bahwa Direksi lebih tahu dari siapa pun juga mengenai keadaan perusahaannya dan karenanya landasan dari setiap keputusan yang diambil. Untuk itu, Direksi selama dan sepanjang dalam mengambil keputusannya, tidak diper- bolehkan untuk melakukan tindakan yang memberikan manfaat pribadi (self-dealing) atau tidak mempunyai kepentingan pribadi (personal interest) dan telah melaksanakan prinsip-prinsip kehati-hatian. Business judgment yang diambil direksi tidak dapat ditentang atau dipertanyakan, kecuali keputusan tersebut telah diambil secara ceroboh (in negligent manner), dilakukan dengan cara curang (tainted by fraud), adanya benturan kepentingan (conflict of interest), atau didasarkan pada suatu perbuatan melawan hukum (illegality).

Business Judgment Rule mendorong Direksi untuk lebih berani mengambil risiko daripada terlalu berhati-hati, sehingga Perseroan Terbatas berjalan lambat atau bahkan tidak jalan. Prinsip ini mencerminkan bahwa pengadilan

(41)

tidak membuat keputusan yang lebih baik di bidang bisnis daripada Direksi. Para hakim umumnya tidak memiliki keterampilan bisnis dan mulai mempelajari permasalahan setelah adanya fakta-fakta. Apabila tindakan Direksi yang menimbulkan kerugian tidak dilandasi dengan itikad baik, maka dapat dikategorikan sebagai pelanggaran Fiduciary Duty yang melahirkan tanggung jawab pribadi.

C. FIDUCIARY DUTY DAN BUSINESS JUDGMENT RULE DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007

Dengan memperhatikan bahwa pada negara dengan sistem pengurusan dan pengawasan di bawah satu dewan, Direksi melaksanakan tidak hanya tugas untuk mengelola Perseroan Terbatas, melainkan juga melakukan pengawasan dan monitoring dari kegiatan Perseroan Terbatas yang diseleng- garakan oleh para officers perusahaan. Pada negara (seperti Indonesia) dengan sistem pengurusan dan pengawasan yang terpisah, penyelenggaraan pengurusan Perseroan Terbatas dilaksanakan oleh Direksi, sementara pelaksanaan tugas pengawasan dilaksanakan oleh Dewan Komisaris. Dengan demikian, berarti Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule yang berlaku bagi Direksi pada sistem satu dewan berlaku juga bagi Direksi dan Dewan Komisaris dengan sistem dua dewan. Jadi, siapa pun yang memiliki hak untuk menuntut Direksi yang telah merugikan Perseroan Terbatas, juga demi hukum memiliki hak yang sama pada Dewan Komisaris.

(42)

88 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Pengurusan Perseroan Terbatas sebenarnya hanya dapat dilakukan oleh Direksi, kecuali dalam hal direktur tidak ada, maka undang-undang memberi wewenang kepada Komisaris untuk melakukan pengurusan Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 118 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas disebutkan bahwa berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas atau keputusan Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris dapat melakukan tindakan pengurusan Perseroan Terbatas dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu.

Dalam penjelasan Pasal 118 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menye- butkan bahwa yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu antara lain keadaan dalam hal seluruh anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan dengan Perseroan Terbatas serta dalam hal seluruh anggota Direksi berha- langan atau diberhentikan untuk sementara. Jadi, terdapat confidential relations antara Perseroan Terbatas sebagai badan hukum dengan pengurus sebagai natural person, yang dibebankan tugas dan kewajiban berdasarkan fiduciary yang dilaksanakan untuk kepentingan dan tujuan Perseroan Terbatas. Dengan demikian, pada prinsipnya bahwa ketentuan Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule yang disyaratkan kepada Direksi Perseroan Terbatas secara

‘mutatis mutandis’ berlaku juga kepada Dewan Komisaris.

(43)

Gunawan Widjaja memberikan uraian dan penjelasan eksistensi Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule bagi Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan Terbatas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Untuk mengetahui Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule bagi Direksi, maka harus diperhatikan ketentuan mendasar yang mengatur mengenai tugas pengurusan, kewajiban, dan khususnya tanggung jawab Direksi Perseroan Terbatas dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Terkait dengan kegiatan melakukan kepengurusan Perseroan Terbatas yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dengan Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule, dapat dikatakan bahwa ketentuan mendasar yang mengatur mengenai Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dapat ditemukan ketentuan umumnya dalam Pasal 97 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Ketentuan umum tersebut selanjutnya menyebar dalam berbagai pasal lainnya dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Ketentuan Pasal 97 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diawali dengan rumusan

(44)

90 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

ayat (1) yang menyatakan bahwa Direksi bertanggung jawab atas pengurusan Perseroan Terbatas. Jika diperhatikan, ketentuan ini adalah penegasan dari aturan yang ditetapkan dalam Pasal 92 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa Direksi dalam menjalankan tugas kepengurusannya harus memperhatikan kepentingan Perseroan Terbatas sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan Terbatas (intra vires act) serta memperhatikan ketentuan mengenai larangan dan batasan yang diberikan dalam undang-undang (khususnya Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas) dan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas.

Dari ketentuan ini diketahui bahwa tindakan Direksi adalah tindakan yang memiliki tanggung jawab keperdataan.

Sebagai pengurus Perseroan Terbatas, Direksi adalah agen dari Perseroan Terbatas dan oleh karenanya tidak dapat bertindak sesuka hatinya. Perbuatan yang dilakukan oleh Direksi yang berada di luar batasan kewenangan yang diberikan kepadanya harus dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini ada tiga jenis pertanggungjawaban yang harus dipikul oleh Direksi, yaitu pertanggungjawaban Direksi terhadap Perseroan Terbatas, pemegang saham, dan kreditor. Bentuk pertanggungjawaban Direksi terhadap Perseroan Terbatas, pemegang saham, dan kreditor ini

(45)

selanjutnya tercermin dalam pasal-pasal dalam Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 37 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas kerugian yang diderita pemegang saham yang beritikad baik, yang timbul akibat pembelian kembali yang batal karena hukum. Batal karena hukum yang dimaksud adalah pembelian kembali saham, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pembelian kembali saham yang bertentangan yaitu

1. Pembelian kembali saham tersebut tidak menyebabkan kekayaan bersih Perseroan Terbatas menjadi lebih kecil dari jumlah modal yang ditempatkan ditambah cadangan wajib yang telah disisihkan.

2. Jumlah nilai nominal seluruh saham yang dibeli kembali oleh Perseroan Terbatas dan gadai saham atau jaminan fidusia atas saham yang dipegang oleh Perseroan Terbatas sendiri dan/atau Perseroan Terbatas lain yang sahamnya secara langsung atau tidak langsung dimiliki oleh Perseroan Terbatas, tidak melebihi 10% (sepuluh persen) dari jumlah modal yang ditempatkan dalam Perseroan Terbatas, kecuali diatur lain dalam peraturan perundang- undangan di bidang pasar modal.

(46)

92 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Berdasarkan Pasal 69 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa dalam hal laporan keuangan yang disediakan ternyata tidak benar dan/atau menyesatkan, anggota Direksi, dan anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng bertang- gung jawab terhadap pihak yang dirugikan.

Berdasarkan Pasal 95 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa dalam hal ternyata pengangkatan anggota Direksi menjadi batal sebagai akibat tidak memenuhi syarat pengangkatannya, maka meskipun perbuatan hukum yang telah dilakukan untuk dan atas nama Perseroan Terbatas oleh anggota Direksi sebelum pengangkatannya batal, tetap mengikat dan menjadi tanggung jawab Perseroan Terbatas.

Namun demikian, anggota Direksi yang bersangkutan tetap bertanggung jawab terhadap kerugian Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 97 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa setiap anggota Direksi wajib bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan Terbatas apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya.

Berdasarkan Pasal 101 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa setiap anggota Direksi yang tidak melaksanakan

(47)

kewajibannya melaporkan kepada Perseroan Terbatas saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam Perseroan Terbatas dan perusahaan lain untuk selanjutnya dicatat dalam daftar khusus dan akibatnya menimbulkan kerugian bagi Perseroan Terbatas, maka bertanggung jawab secara pribadi atas kerugian Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 104 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa dalam hal kepailitan terjadi karena kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban Perseroan Terbatas dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut

Berdasarkan Pasal 97 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa memberikan hak kepada pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham yang dengan hak suara, atas nama Perseroan Terbatas untuk mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan Terbatas.

(48)

94 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Selanjutnya, untuk dapat mengukur seberapa jauh tanggung jawab Direksi dalam melakukan pengurusan dalam mencapai tujuan Perseroan Terbatas yang sudah ditetapkan dalam Anggaran Dasar Perseroan Terbatas, Direksi harus membuat dan melaksanakan rencana kerja tahunan.

Pencapaian dari hasil kerja merupakan bahan evaluasi dalam penilaian kinerja Direksi yang dituangkan dalam laporan tahunan yang diserahkan kepada dan untuk disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham. Kegiatan pengurusan Perseroan Terbatas tidak pernah dapat dipisahkan dari tugas perwakilan Direksi yang diatur dalam Pasal 98 Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Sebagai pengurus Perseroan Terbatas, Direksi akan mewakili Perseroan Terbatas dalam setiap tindakan atau perbuatan hukum Perseroan Terbatas dengan pihak ketiga. Dalam hal ini, jelaslah bahwa Direksi merupakan agen bagi Perseroan Terbatas.

Rumusan selanjutnya dalam Pasal 97 ayat (2) Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa pengurusan Perseroan Terbatas wajib dilaksanakan setiap anggota Direksi dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab. Sejalan dengan sifat pertang- gungjawaban perdata yang melekat pada Direksi dalam melakukan pengurusan terhadap Perseroan Terbatas, Pasal 97 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang

(49)

Perseroan Terbatas menekankan pada arti itikad baik dan sesuai dengan kewenangan yang diberikan atau dibebankan kepadanya serta menurut aturan main yang berlaku. Selama dan sepanjang Direksi melakukan pengurusan dengan itikad baik dan dalam batasan atau koridor serta menurut ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya, maka Direksi senantiasa dilindungi oleh Business Judgment Rule.

Itikad baik merupakan salah satu unsur penting bagi Direksi untuk memperoleh perlindungan Business Judgment Rule, sebagaimana yang dinyatakan oleh Salamon dalam perkara Gries Sports Enterprises Football Co. Inc. 496 NE 2nd 959 (Ohio 1986). Business Judgment Rule melibatkan dua hal, yaitu proses dan substansi. Sebagai proses, Business Judgment Rule melibatkan formalitas pengambilan keputusan dalam Perseroan Terbatas. Sebagai substansi, dalam mengambil suatu keputusan bisnis, Direksi dari suatu perusahaan bertindak atas dasar informasi yang dimilikinya dengan itikad baik dan dengan keyakinan bahwa tindakan yang diambil adalah semata-mata untuk kepentingan perusahaan.

Jadi, jelaslah bahwa dalam Pasal 97 ayat (2) Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, anggota Direksi wajib melaksanakan tugasnya dengan itikad baik (in good faith) dan dengan penuh tanggung jawab (with full sense of responsibility). Apabila Direksi tersebut ternyata

(50)

96 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

terbukti bersalah karena sengaja atau lalai dalam melaksanakan kewajiban Fiduciary Duty tersebut, maka terhadap kerugian yang diderita Perseroan Terbatas, Perseroan Terbatas berhak menuntutnya dari Direksi tersebut.

Ketentuan selanjutnya yang diatur dalam Pasal 97 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa setiap anggota Direksi bertanggung jawab penuh secara pribadi atas kerugian Perseroan Terbatas apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan tugasnya. Pada dasarnya, ketentuan tersebut merupakan kelanjutan dari dua ayat sebelumnya dalam pasal yang sama. Dalam ketentuan Pasal 97 ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang ditekankan adalah akibat dari tindakan atau perbuatan Direksi yang salah karena disengaja ataupun lalai untuk berbuat, bertindak, atau mengambil keputusan secara itikad baik. Dalam hal ini, Direksi bertanggung jawab penuh terhadap kerugian Perseroan Terbatas. Pasal 1131 Kitab Undang-undang Hukum Perdata berlaku bagi harta kekayaan anggota Direksi yang bersangkutan.

Berdasarkan Pasal 97 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa dalam hal Direksi terdiri atas dua anggota Direksi atau

(51)

lebih, tanggung jawab berlaku secara tanggung renteng bagi setiap anggota Direksi. Pasal ini menegaskan mengenai tanggung jawab kolegial dari Direksi sebagai satu dewan, dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 98 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Tanggung jawab secara renteng Direksi sebagai satu kesatuan adalah tanggung jawab bersama secara kolektif yang berlaku bagi seluruh anggota Direksi. Dengan diberikannya tanggung jawab kolegial ini, dimaksudkan agar sesama anggota Direksi:

1. Dilakukan keterbukaan atau transparansi atau disclosure sesama anggota Direksi mengenai setiap tindakan atau perbuatan hukum yang hendak diambil atau telah diambil oleh satu atau lebih masing-masing anggota Direksi atas hal-hal yang berada dalam kewenangannya. Demikian pula kepemilikan saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau keluarganya dalam Perseroan Terbatas dan perusahaan lain.

2. Dilakukan check and balance tentang kegiatan, tindakan, atau keputusan yang menghendaki agar sedapat mungkin diambil berdasarkan pada keputusan rapat Direksi.

Dengan pertanggungjawaban secara tanggung renteng ini diharapkan dapat terjadi saling mengawasi di antara sesama anggota Direksi Perseroan Terbatas atas setiap perbuatan, tindakan, atau keputusan Direksi yang

(52)

98 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

dikhawatirkan dapat mengakibatkan terjadinya pelanggaran terhadap Fiduciary Duty, yang menyebabkan tidak berlakunya Business Judgment Rule.

Ketentuan Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menggambarkan dengan jelas makna dari itikad baik (good faith) dan prinsip kehati-hatian (due care) dalam Business Judgment Rule bagi setiap anggota Direksi. Setiap pembuktian yang secara tegas dan jelas menyatakan bahwa Direksi telah melanggar Fiduciary Duty atau telah melakukan kelalaian berat (gross negligence), kecurangan (fraud), hal-hal yang di dalamnya memiliki unsur menerbitkan terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest) atau perbuatan yang melanggar hukum (illegality), maka prinsip Business Judgment Rule tidak lagi melindungi Direksi secara keseluruhan dengan aturan Pasal 97 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, tanggung jawab tersebut menjadi tanggung jawab renteng bagi seluruh anggota Direksi. Jadi, bagi anggota Direksi yang ingin lepas dari tanggung jawab renteng tersebut, maka ia harus dapat membuktikan sebaliknya bahwa:

1. Kerugian tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya.

(53)

2. Telah melakukan pengurusan dengan itikad baik dan kehati-hatian untuk kepentingan serta sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan Terbatas.

3. Tidak mempunyai benturan kepentingan, baik langsung maupun tidak langsung, atas tindakan pengurusan yang mengakibatkan kerugian.

4. Telah mengambil tindakan untuk mencegah timbul atau berlanjutnya kerugian tersebut.

Berhasilnya pembuktian tersebut membawa akibat bahwa seluruh anggota Direksi menjadi tanggung jawab renteng atau seluruh kewajiban sebagai akibat kerugian yang disebabkan oleh keputusan Direksi yang bersangkutan.

Dengan demikian, jelaslah bahwa ketentuan Pasal 97 ayat (5) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas merupakan pasal pamungkas bagi anggota Direksi untuk dibebaskan dari kewajiban tanggung jawab renteng yang dibebankan dalam Pasal 97 ayat (4) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 97 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas diatur mengenai hak gugatan derivatif terhadap Direksi sebagai satu dewan.

Perlu diperhatikan bahwa ketentuan ini tidak dapat dilepaskan dari ketentuan Pasal 114 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengenai hal yang sama, namun berlaku bagi Dewan Komisaris. Jadi,

(54)

100 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

dalam hal ini jelaslah bahwa oleh karena tidak ada yang dapat mewakili Perseroan Terbatas untuk menggugat Direksi dan Dewan Komisaris secara bersama-sama, maka kepada pemegang saham ini haruslah diberikan hak turunan yang dinamakan hak derivatif.

Menurut ketentuan Pasal 114 ayat (6) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pemegang saham yang mewakili paling sedikit 1/10 (satu persepuluh) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hak suara, atas nama Perseroan Terbatas dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri terhadap anggota Direksi yang karena kesalahan atau kelalaiannya menimbulkan kerugian pada Perseroan Terbatas.

Ketentuan Pasal 97 ayat (7) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang menyatakan bahwa ketentuan di atas tidak mengurangi hak anggota Direksi lain dan/atau anggota Dewan Komisaris untuk mengajukan gugatan atas nama Perseroan Terbatas, jelas merupakan refleksi bahwa yang seharusnya mewakili Perseroan Terbatas adalah anggota Direksi yang tidak melakukan pelanggaran terhadap Fiduciary Duty.

Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pengaturan Fiduciary Duty dan Business Judgment Rule bagi Komisaris dapat ditemukan pada Pasal

(55)

114 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Berdasarkan Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang merupakan pengulangan ketentuan Pasal 97 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dijelaskan bahwa tugas Dewan Komisaris adalah melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengu- rusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan Terbatas maupun usaha Perseroan Terbatas, dan memberi nasihat kepada Direksi sebagaimana ditentukan dalam Pasal 108 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Tugas pengawasan inilah yang harus dilaksanakan dengan itikad baik dan penuh kehati-hatian. Inilah yang merupakan Fiduciary Duty Dewan Komisaris terhadap Perseroan Terbatas. Berbeda dengan Direksi yang mewakili Perseroan Terbatas dalam tindakan ke luar, Dewan Komisaris dalam tugas pengawasannya tidak pernah menjadi agen bagi Perseroan Terbatas. Namun demikian, sesuai dengan ketentuan Pasal 117 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, Dewan Komisaris dapat ditugaskan untuk memberikan persetujuan dan bantuan bagi Direksi untuk melaksanakan tugasnya. Kegiatan persetujuan dan bantuan ini tidaklah menjadikan Dewan

(56)

102 Aspek Hukum Perseroan Terbatas

Komisaris sebagai pengurus Perseroan Terbatas dan karenanya dianggap mewakili Perseroan Terbatas. Dewan Komisaris yang melakukan tugas pengurusan dan karenanya mewakili Perseroan Terbatas dengan pihak ketiga menurut ketentuan Pasal 118 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mempunyai hak dan kewajiban sebagai Direksi Perseroan Terbatas, bukan lagi sebagai Dewan Komisaris.

Terkait dengan Fiduciary Duty tersebut, maka Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menekankan pada pertanggungjawaban Dewan Komisaris atas pengawasan yang dilakukan terhadap jalannya pengurusan Perseroan Terbatas. Tanggung jawab Dewan Komisaris tersebut dibebankan kepada setiap anggota Dewan Komisaris. Pengawasan yang dilakukan Dewan Komisaris harus dilakukan untuk kepentingan Perseroan Terbatas serta sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan Terbatas. Sesuai dengan tugas pengurusan Direksi yang pelaksanaan tugas pengurusannya diawasi oleh Dewan Komisaris. Di samping melakukan tugas pengawasan, dalam Pasal 108 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Dewan Komisaris diberikan tugas untuk memberikan nasihat kepada Direksi. Nasihat ini menunjukkan sampai seberapa jauh itikad baik dan kehati-

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana diatur dalam Pasal 117 ayat (1) Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas bahwa di dalam Anggaran Dasar perseroan dapat ditetapkan kewenangan

BAB IV IMPLEMENTASI PASAL 155 UNDANG-UNDANG 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS TERHADAP DIREKSI DALAM PENGURUSAN PERUSAHAAN. Pasal 155 Undang-Undang 40 Tahun

Tampubolon, Veronica., “Pertanggungjawaban Perbuatan Hukum Perseroan yang Dimuat Dalam Akta Notaris (Ditinjau Dari Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan

Kepailitan karena kesalahan atau kelalaian Dewan Komisaris dalam melakukan pengawasan terhadap pengurusan yang dilaksanakan oleh Direksi dan kekayaan Perseroan tidak cukup

Definisi yuridis perseroan terbatas terdapat di dalam Pasal 1 angka 1 Undang - Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU Nomor 40 Tahun 2007) yang menyatakan bahwa

Aspek Hukum Prinsip Good Corporate Governance Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas ………. Penerapan Prinsip Good Corporate Governance dalam Perseroan

Persoalan pokok dari skripsi ini adalah Apakah larangan Pengangkatan Direksi Perseroan Terbatas yang dinyatakan pailit dalam pasal 93 ayat (1) Undang-Undang Nomor

Perseroan terbatas (untuk selanjutnya disebut dengan “PT”) menurut Undang-undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 adalah badan hukum yang merupakan