ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. M DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN DI RSJD AMINO
GONDOHUTOMO
Karya Tulis Ilmiah
Diajukan sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan
Disusun Oleh:
Mutiara Dewi NIM. 40902000063
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2023
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. M DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN DI RSJD AMINO
GONDOHUTOMO
Karya Tulis Ilmiah
Disusun Oleh : Mutiara Dewi NIM. 40902000063
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2023
ii
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Saya yang bertanda tangan di bawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa karya tulis ilmiah ini saya susun tanpa tindakan plagiarism sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Jika kemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarisme, saya bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Universitas Islam Sultan Agung Semarang.
Semarang, 12 April 2023
Mutiara Dewi 40902000063
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
Karya Tulis Ilmiah Berjudul :
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA TN. M DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN DI RSJD AMINO
GONDOHUTOMO
Dipersiapkan dan disusun oleh : Nama : Mutiara Dewi
NIM : 40902000063
Telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Unissula Semarang pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 24 Mei 2023
Pembimbing
Wahyu Endang Setyowati, SKM,M.Kep NIDN : 06-1207-7404
iv
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah ini telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan FIK Unissula Semarang pada hari Rabu tanggal 24 Mei 2023 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji.
Semarang, 29 Mei 2023
Penguji I
Ns. Betie Febriana, M.Kep ………..
NIDN. 06-2302-8802
Penguji II
Ns. Wigyo Susanto, M.Kep ………...
NIDN. 06-2907-8303
Penguji III
Wahyu Endang Setyo Wati, SKM, M.Kep ………
NIDN. 06-1207-7404
Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Iwan Ardian, SKM., M.Kep.
NIDN. 0622087403
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Alhamdulillah dan terimakasih Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Mu sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik
Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini saya persembahkan kepada :
1. Kedua orang tua saya, untuk bapak Wuryo Maskuri dan ibu Komini yang selalu memberikan dukungan dan tidak lupa selalu mendoakan yang terbaik kepada putrinya.
2. Kakak saya Reni Kusumawati dan adik saya Krisna Tri Wahyudi yang sudah memberikan semangat yang tidak pernah ada hentinya, semoga kita selalu menjadi anak yang membanggakan kepada kedua orang tua.
3. Ibu Wahyu Endang Setyowati, SKM, M.Kep terimakasih atas waktu, ilmu dan kesabaran dalam membimbing hingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Semua dosen FIK Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang telah memberikan ilmu kepada saya.
5. Seluruh teman-teman semua terimakasih atas semua dukungan, pertemanan, motivasi, dan terimaksih atas semua doanya dan semoga doa terbaik kembali ke dirinya masing-masing.
vi
MOTTO
Kesedihan akan berlalu, saat menyadari bahwa masa depan kita ada di tangan Allah SWT. Kesulitan dalam hidup kita adalah ujian untuk seberapa kuat hubungan kita dengan Allah SWT. Semakin dekat kita dengan Allah SWT,
semakin dekat pula kita dengan kebahagiaan.
Jadilah baik dan memiliki keberanian, semua masa sulit akan berlalu. Jadi, singkirkan semua kekhawatiranmu taklukan kekuatanmu.
vii
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadiran Allah SWT, karena atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa pada Tn. M Dengan Risiko Perilaku Kekerasan Di Ruang Kresno RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang”.
Sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan kita nabi besar nabi agung Muhammad SAW, yang telah menghantarkan kita semua dari jalan yang gelap gulita menuju kejalan yang terang seperti saat ini.
Karya Tulis Ilmiah ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya Keperawatan pada Program Studi Diploma III Jurusan Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Karya tulis ilmiah ini terwujud atas bimbingan dan pengarahan dari Bunda Wahyu Endang Setyowati, SKM, M. Kep selaku pembimbing serta bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada:
1. Prof DR.H. Gunarto.SH.,M.Hum. selaku Rektor Universitas Islam Sultan Agung Semarang
2. Iwan Ardian, SKM, M.KEP sebagai dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang
3. Ns. Muh. Abdurrouf, M.Kep selaku Kaprodi D-III Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang
4. Para Dosen dan Staff Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang
5. Hj.Wahyu Endang Setyowati, SKM, M.Kep selaku pembimbing karya tulis ilmiah saya yang begitu sangat sabar dalam membimbingnya dan selalu meluangkan waktu serta tenaganya dalam memberikan bimbingan dan memberikan ilmu serta nasehat yang bermanfaat dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini.
viii
6. Ns. Betie Febriana,M.kep selaku penguji pertama dalam karya Tulis Ilmiah 7. Ns. Wigyo Susanto, M.Kep selaku penguji kedua dalam Karya Tulis Ilmiah 8. Untuk seluruh keluarga saya, khususnya kedua orang tua saya, kakak saya dan
adik saya yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan saya.
9. Kepada sahabatku tersayang Nada Darmawan yang selalu menghibur dan memberi semangat untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat untuk di masa yang akan dating.
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
MOTTO ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang ... 1
B. Tujuan penulis ... 4
1. Tujuan umum ... 4
2. Tujuan khusus ... 4
C. Manfaat penulis ... 4
1. Institusi pendidikan ... 4
2. Profesi keperawatan... 5
3. Bagi lahan praktik ... 5
4. Bagi masyarakat ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Konsep Dasar Risiko Perilaku Kekerasan ... 6
1. Pengertian ... 6
2. Rentang Respon Marah ... 6
3. Etiologi ... 7
x
4. Proses terjadinya masalah ... 8
5. Manifestasi klinis ... 9
6. Penatalaksanaan medis ... 9
B. Konsep Dasar Keperawatan Risiko Perilaku kekerasan ... 10
1. Pengkajian ... 10
2. Pohon masalah ... 11
3. Diagnosa Keperawatan ... 11
4. Rencana Tindakan Keperawatan ... 11
5. Strategi Pelaksanaan ... 13
BAB III RESUME KASUS ... 16
A. Pengkajian Keperawatan Jiwa ... 16
B. Analisa Data ... 21
C. Daftar Masalah Keperawatan ... 22
D. Pohon Masalah ... 22
E. Diagnosa ... 22
F. Rencana Tindakan Keperawatan ... 22
G. Implementasi Keperawatan ... 23
H. Evaluasi ... 24
BAB IV PEMBAHASAN ... 25
A. Pengkajian Keperawatan ... 25
B. Diagnosa Keperawatan ... 27
C. Intervensi Keperawatan ... 28
D. Implementasi Keperawatan ... 29
E. Evaluasi Keperawatan ... 31
BAB V PENUTUP ... 33
A. Kesimpulan ... 33
B. Saran ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Rentang Respon Masalah ... 6 Gambar 2.2 Pohon Masalah ... 11 Gambar 2.3 Pohon Masalah ... 22
xii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Peningkatan gangguan jiwa di era Globalisasi saat ini semakin meningkat karena riwayat kehidupan yang penuh dengan tekanan seperti sulitnya mencari lapangan pekerjaan, ketidakharmonisan dalam keluarga, ekonomi yang lemah, ditinggalkan orang terdekat dan masalah sosial masyarakat. Sampai saat ini gangguan jiwa masih mengalami peningkatan yang serius bahkan memasuki salah satu dari empat problem kesehatan di dunia termasuk di Indonesia (Dan et al., 2020)
Gangguan jiwa memiliki suatu perubahan kesehatan yang ditandai oleh berbagai faktor seperti suasana hati, perilaku, pemikiran dan kognisi.
Suatu sindrom yang terjadi pada seseorang melalui pola perilaku seseorang yang memiliki ciri-ciri berkaitan dengan suatu gejala penderita (distress) atau dengan gangguan (impairement) dan gangguan pola koping yang ada pada satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia seperti fungsi psikologi, perilaku biologi. Gangguan jiwa tersebut tidak hanya pada hubungan antara orang satu tetapi juga dengan masyarakat yang lainnya sehingga bisa mengakibatkan perubahan yang terjadi pada jiwa seseorang yang dapat menyebabkan ingin melakukan kekerasan pada seseorang saat berinteraksi (palupi, 2019).
Pravelensi gangguan jiwa menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, terdapat 264 juta orang mengalami depresi, 45 juta orang menderita gangguan bipolar, 50 juta orang mengalami demensia, dan 20 juta orang mengalami skizofrenia. Skizofrenia merupakan salah satu dari 15 penyebab besar kecacatan seluruh dunia, orang dengan skizofrenia memiliki kecenderungan lebih besar peningkatan risiko bunuh diri (Anisa, D. L., Budi, A. S., & Suyanta, 2021). Berdasarkan catatan kemenkes RI
2
pada tahun 2019, pada penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa sebanyak 65% dari 30 provinsi yaitu DKI Jakarta, Sulawesi Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah dan Jawa Tengah. Pravelensi semakin meningkat dengan seiring peningkatan usia, gangguan jiwa terendah di Indonesia masuk pada usia 25-34 tahun sebesar 5,4% dan yang tertinggi pada usia kurang lebih 75 tahun sebesar 8.9%. penderita gangguan jiwa mencapai 7%
per 1000 rumah tangga, pravelensi Anggota Rumah Tangga (ART) yang mengalami gangguan jiwa lebih banyak ada di pedesaan mencapai 7,0%
dibanding di perkotaan sebanyak 6,4% (Kemenkes RI, 2022).
Menurut dari hasil pencatatan jumlah pnderita yang mengalami gangguan jiwa di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang menunjukkan bahwa diagnosa keperawatan risiko perilaku kekerasan menjadi diagnosa keperawatan tertinggi di ruang perawatan jiwa stabil pada tahun 2021, yaitu sebesar 54% (Nomor, 2022).
Risiko perilaku kekerasan ialah salah satu respon marah di ekspresikan dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang lain serta bisa merusak lingkungan sekitar. Tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan bisa terjadi perubahan pada fungsi kognitif, afektif, fisiologis, sikap dan sosial. Pada aspek fisik tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan meningkat, mudah tersinggung, marah, mengamuk serta dapat mencederai diri sendiri maupun orang lain (Keliat, dan Muhith, 2016). (Pardede, 2019)
Dampak dari risiko perilaku kekerasan dapat merugikan dirinya sendiri, merugikan lingkungan sekitar seperti menyerang orang lain, memecahkan perabotan rumah, melempar serta membakar rumah. Semua itu terjadi karena dia tidak mampu menahan emosinya dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya. Situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang dianggap penting maka akan menyebakan perasaan yang sedih atau biasa dikenal sebagai faktor resiko sikap kekerasan(Liviana & Suem, 2019)
3
Peran perawat terhadap resiko perilaku kekerasan sangat diharapkan dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien perawat harus melakukan aktivitas secara langsung pada pemberi asuhan maupun pada keluarga, komunikasi secara langsung dengan pasien, serta melakukan pengelolaan atau penatalaksanaan manajemen keperawatan secara keseluruhan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi keperawatan dan meningkatkan kesehatan mental dengan cara mempraktikan latihan mengendalikan resiko perilaku kekerasan. (Madhani & Kartina, 2020)
Berdasarkan latar belakang diatas, seseorang yang mempunyai gangguan jiwa dapat melakukan risiko perilaku kekerasan yang disebabkan karena adanya kehidupan yang penuh tekanan, distress atau merenung, harus diberikan asuhan keperawatan dengan baik maka dari itu penulis tertarik untuk menulis karya tulis ilmiah ini dengan judul Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Tn. M dengan Gangguan Resiko Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
4 2. Tujuan Penulisan
2.1.Tujuan Umum
Tujuan dari karya ilmiah ini ialah penulis mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan jiwa secara luas, menyeluruh dan teliti sehingga penulis mampu untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan asuhan keperawatan dan memberikan gambaran tentang asuhan keperawatan resiko perilaku kekerasan.
2.2.Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien Risiko Perilaku Kekerasan dengan benar di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
b. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Risiko Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
c. Mahasiswa mampu menyususn rencana tindakan keperawatannn dengan pasien Risiko Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
d. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan dengan pasien Risiko Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
e. Mahasiswa mampu mengevaluasi tindakan keperawatan dengan pasien Risiko Perilaku Kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo.
3. Manfaat Penulisan 3.1 Institusi pendidikan
Sebagai bahan acuan untuk bahan kegiatan belajar mengajar untuk mahasiswa tentang asuhan keperawatan jiwa yang foKus pada Risiko Perilaku Kekerasan.
5 3.2 Profesi keperawatan
Sebagai bahan acuan untuk meningkatkan peran perawat untuk pemberian asuhan keperawatan yang baik dan optimal.
3.3 Lahan praktik
Sebagai bahan acuan untuk meningkatkan peran mahasiswa praktik untuk memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien yang optimal.
3.4 Masyrakat
Memberikan wawasan dan meningkatkan pengetahuan masyrakat mengenai Asuhan Keperawatan pada pasien gangguan jiwa dengan Risiko Perilaku Kekerasan.
6
Respon Maladaptif
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Risiko Perilaku Kekerasan 1. Pengertian
Risiko perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri, orang lain maupun keluarganya sendiri. Semua itu bisa terjadi akibat tidak bisa menahan emosi dan amarahnya, mungkin juga karena factor kejiwaan (jiwa yang temperamental) bisa juga karena pengaruh dari pergaulannya, tekanan batin, kurang pengawasan dari orang tua dan factor ekonomi yang kurang mencukupi.
Jika kejadian seperti itu diabiarkan berlarut-larut tanpa adanya penanganan itu bisa mengakibatkan kekerasan, bukan hanya kekerasan melainkan bisa membunuhnya. Untuk mencegah atau mengatasi kejadian seperti itu bisa datang ke dokter untuk konsultasi mengenai apa masalahnya. (Siauta et al., 2020)
2. Rentang Respon Marah
Respon
adaptif
Gambar 2.1 Rentang Respon Marah Sumber: (Sutejo, 2019)
keterangan :
a. Asertif adalah mengungkapkan rasa marah yang tidak menyakiti hati orang lain
b. Frustasi adalah kegagalan pada saat meraih impian
Asertif Frustasi Pasif Agresif Amuk
7
c. Pasif yaitu tidak dapat mengungkapkan perasaan yang sedang dialami saat ini.
d. Agresif yaitu perilaku yang tidak bisa terkontrol amarahnya dan perilaku tampak berupa bicara kotor, muka yang memerah, mata melotot.
e. Amuk adalah rasa gaduh gelisah disertai hilangnya kontrol pada diri.
(Sutejo, 2019)
3. Etiologi
Beberapa faktor yang menyebabkan risiko perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
a. Faktor predisposisi meliputi:
1) Faktor biologis
Menyatakan risiko perilaku kekerasan oleh dorongan prinsip dasar yang kuat. Teori psikomotor pengalaman marah dapat mengakibatkan oleh respon psikologi terhadap stimulus eksternal maupun internal sehingga system limbic memiliki peran sebagai pusat rasa marah.
2) Faktor psikologi
Ungkapan rasa marah yang tidak melukai orang lain akan menimbulkan hambatan dalam proses pikirn sehingga menyebabkan tujuan tidak dapat tercapai.
b. Faktor presipitasi
Risiko perilaku kekerasan bersifat unik dapat disebabkan dari luar maupun (kematian, kehilangan, serangan fisik). Selain itu lingkungan yang menekan seseorang dapat menimbulkan risiko perilaku kekerasan (Widodo, D., Juairiah, Sumantrie, P., Nursy, S, S., Pragholapati, A. et al., 2022).
8 4. Proses Terjadinya Masalah
a. Factor predisposisi
Factor yang memungkinkan terjadi pada perilaku kekerasan sebagai berikut:
1) Factor genetic tidak terlalu mempengaruhi klien yang mengalami perilaku kekerasan (RPK).
2) Factor psikologis yang mempengaruhi perilaku kekerasan antara lain:
a) Kepribadian yaitu bahwa seseorang yang memiliki kepribadian yang tertutup menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa dikarenakan klien tidak pernah mengungkapan permasalahanya membuat klien menyimpan beban-beban di jiwanya.
b) Kehilangan merupakan penyebab dari seseorang yang mengalami gangguan jiwa karena merasa berduka/kesepian.
c) Aniaya seksual merupakan penyebab paling sering pada era sekarang yang menyebabkan klien mengalami resiko perilaku kekerasan atau bahkan resiko bunuh diri.
d) Kekerasan dalam keluarga merupakan penyebab trauma pada klien yang membuat ingatan pada system sensorik.
3) Sosial budaya: adanya penolakan dari lingkungan dapat mengakibatkan seseorang menjadi terasingkan.
b. Faktor Presipitasi
Adapun faktor presipitasi dari resiko perilaku kekerasan sebagai berikut:
1) Klien: adanya keputusasaan, ketidakberdayaan, karakteristik lemah.
2) Interaksi: kehilangan orang yang berarti, mengancam baik faktor lingkungan eksternal maupun internal.
9
3) Lingkungan: lingkungan yang keras, panas dan bising mengakibatkan pasien merasa terganggu dan timbul marah (Suhantara, 2020)
5. Manifestasi klinis
Menurut Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI, 2016) menyebutkan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan sebagai berikut:
Mayor:
a. Subjektif: mengancam, mengumpat dengan kata-kata kasar, suara tinggi, bicara ketus.
b. Objektif: menyerang orang lain, melukai diri sendiri atau orang lain, merusak lingkungan, perilaku agresif atau amuk.
Minor:
a. Subjektif: tidak tersedia.
b. Objektif: mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup, wajah memerah, postur tubuh kaku (tim Pokja SDKI PPNI, 2016).
6. Penatalaksanaan Medis a. Penatalaksanaan medis
1) Busporine yang berfungsi untuk mengandalikan depresi dan kecemasan yang dialami klien.
2) Antipsychotic biasanya berfungsi untuk perawatan perilaku yang agresif
3) Antidepressans untuk mengontrol marah yang sangat merugikan lingkungan sekitar dikarenakan perubahan dalam suasana perasaan.
4) Antianxienty dan sedativehipnotic berfungsi untuk mengendalikan perilaku marah yang sangat agresif.
10
b. Penatalaksanaan keperawatan yang dapat digunakan pada resiko perilaku kekerasan yang menggunakan strategi pelaksanaan diantaranya sebagai berikut:
1) Membicarakan tentang kejadian yang menyebabkan resiko perilaku kekerasan, dan penyebab perubahan perasaan/ perilaku marah dalam resiko kekerasan
2) Berlatih untuk mengendalikan amarah, sehingga dapat meringankan beban dalam perasaan.
3) Cara mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara relaksasi Tarik nafas dalam dan memukul bantal, anjurkan pasien memtahui jadwal untuk meminum obat, ajarkan klien untuk melatih secara verbal dan ajarkan untuk meningkatkan spiritual (Aanggraini, 2021).
B. Konsep Dasar Keperawatan Risiko Perilaku Kekerasan 1. Pengkajian
a. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang muncul yaitu: Risiko perilaku kekerasan.
b. Data yang perlu dikaji
Data yang perlu dikaji pada klien resiko perilaku kekerasan yaitu:
1) Data subjektif.
a) Marah-marah
b) Tanda dan gejala saat marah diawali dengan hati berdebar- debar
c) Mengancam d) Mata melotot
e) Saat marah membanting barang f) Intonasi suara keras
2) Data objektif a) Malu
b) Mondar-mandir (Tim Pokja SDKI, 2016)
11 2. Pohon Masalah
Risiko Tinggi Mencederai Diri, orang lain, dan lingkungan Effect
Core problem
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah, Isolasi Sosial causa Gambar 2.2 Pohon Masalah
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul yaitu Risiko Perilaku Kekerasan (Tim Pokja SDKI, 2016).
4. Rencana Tindakan Keperawatan
Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mengontrolkan emosi dengan menerapkan strategi pelaksanaan 1-4:(TIM FIK UNISSULA, 2021).
a. Tujuan perawatan untuk pasien risiko perilaku kekerasan adalah pasien mampu mengendalikan emosinya dengan tarik nafas dalam dan memukul bantal.
1) SP I Pasien
Identifikasi penyebab terjadinya PK, kenalkan tanda dan gejala PK, identifikasi jenis PK, diskusikan akibat ketika melakukan PK, ajarkan mengontrol PK dengan cara fisik yang pertama yaitu tarik nafas dalam, menyusun jadwal kegiatan harian.
2) SP II Pasien
Evaluasi kemampuan pasien melakukan latihan Tarik nafas dalam untuk mengontrol marah, latih cara mengontrol marah dengan cara fisik yang kedua yaitu dengan pukul bantal atau kasur, membuat jadwal harian.
3) SP III Pasien
RISIKO PERILAKU KEKERASAN
12
Mengevaluasi kemampuan pasien mengontrol marah dengan cara Tarik nafas dalam dan memukul bantal atau kasur, latih cara mengontrol marah dengan cara verbal yaitu menyampaikan atau mengungkapkan marah dengan baik, menulis jadwal kegiatan harian.
4) SP IV Pasien
Evaluasi kemampuan pasien mengontrol marah dengan cara Tarik nafas dalam, memukul bantal, dan dengan cara verbal, latih pasien cara mengontrol marah dengan spiritual seperti mengajari wudhu, shalat, ngaji, melafalkan doa.
5) SP V Pasien
Mengevaluasi kemampuan pasien mengontrol marah dengan cara Tarik nafas dalam, memukul bantal atau kasur, cara verbal, dan dengan cara spiritual, anjurkan pasien patuhi cara minum obat, tulis pengobatan pada jadwal pasien
b. Tujuan perawatan untuk keluarga pasien dengan risiko perilaku kekerasan yaitu mampu memberikan perawatan kepada pasien di rumah, memberikan support adekuat.
1) SP I Keluarga
Mengidentifikasi permaslahan yang dialami keluarga saat merawat, jelaskan hal terkait pk (definisi, sebab, tanda gejala, dan akibat yang ditimbulkan), jelaskan bagaimana merawat PK 2) SP II Keluarga
Latih keluarga dalam mempraktikan merawat pasien PK 3) SP III Keluarga
Latih secara langsung keluarga mempraktekan cara merawat pasien
4) SP IV keluarga
Fasilitasi keluarga menyusun jadwal kegiatan dirumah untuk pasien dan obat , jelaskan tindak lanjut setelah pasien pulang
13 5. Strategi Pelaksanaan
a. Strategi Pelaksanaan Pasien.
1) SP I Pasien
Pasien mampu mengontrol amarahnya Tindakan:
a) Menjelaskan sebab terjadinya risiko perilaku kekerasan b) Kenalkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan c) Mengenalkan jenis risiko perilaku kekerasan
d) Mendiskusikan akibat ketika muncul risiko perilaku kekerasan
e) Ajarkan latih cara mengontrol risiko perilaku kekerasan dengan tarik nafas dalam dan pukul bantal
f) Menganjurkan pasien memasukan dalam jadwal kegiatan harian
2) SP II Pasien
Pasien mampu mendemonstrasikan cara marah yang sehat dengan cara fisik dua.
Tindakan:
a) Validasi perilaku marah yang dilakukan
b) Validasi latihan mengungkapakan marah yang sehat dengan fisik satu
c) Ajarkan cara mengungkapkan marah yang sehat dengan pukul bantal
d) Buatkan jadwal latihan mengungkapkan marah yang sehta dengan pukul bantal
3) SP III Pasien
Agar pasien mengendalikan marah dengan verbal Tindakan:
a) Mengevaluasi kemampuan pasien
b) Bantu pasien untuk melatih mengontrol emosi dengan cara verbal yaitu dengan cara berbincang- bincang
14
c) Tulis kedalam jadwal kegiatan harian 4) SP IV Pasien
Bantu klien latih emosinya dengan spiritual Tindakan:
a) Mengevaluasi kemampuan klien
b) Bantu klien dengan cara mengendalikan emosinya dengan cara spiritual
c) Tulis kedalam jadwal kegiatan harian 5) SP V Pasien
Pasien mampu mengungkapkan cara marah yang sehat dengan cara minum obat
Tindakan:
a) Validasi perilaku marah yang dilakukan
b) Validasi latihan mengungkapkan marah yang sehat dengan cara fisik satu, dua, sosial dan spiritual
c) Ajarkan cara mengungkapkan marah yang sehat dengan cara minum obat
d) Buatkan jadwal latihan mengungkapkan marah yang sehat dengan minum obat.
b. Strategi Pelaksaan Keluarga.
1) SP I Keluarga. Beritahu kepada keluarga klien dan beri apa saja tindakan yang akan di berikan kepada klien
Tindakan:
a) Identifikasi permasalahan pada keluarga saat melakukan perawatan pada pasien.
b) Jelaskan definisi, sebab, tanda dan gejala dan akibat yang menimbulkan risiko perilaku kekerasan
c) Jelaskan bagiamana cara merawat klien resiko perilaku kekerasan
2) SP II Keluarga
Beritahu cara mengontrol risiko perilaku kekerasan
15 Tindakan:
a) Latih keluarga praktik merawat klien 3) SP III Keluarga
Agar pasien mampu megontrol risiko perilaku kekerasannya Tindakan:
a) Latih secara langsung keluarga mempraktikkan cara merawat pasien
4) SP IV Keluarga
Beritahu keluarga cara mengontrol resiko perilaku kekerasan agar keluarga dapat memberikan perawatan kepada pasien dirumah
Tindakan:
a) Fasilitasi keluarga menyusun jadwal kegiatan dirumah untuk pasien dan obat
b) Jelaskan tindak lanjut setelah pasien pulang
16
BAB III RESUME KASUS
A. Pengkajian keperawatan jiwa 1. Pengkajian
Data yang di dapat dari pengkajian pada tanggal 06 Januari 2023 di RSJD Amino Gondohutomo yaitu pasien bernama Tn. M jenis kelamin laki-laki beragama Islam, pasien berumur 24 tahun alamat Barukan Tengaran Kab. Semarang. Pasien berperan sebagai anak, belum menikah dan belum bisa bekerja.
2. Alasan masuk
Pasien dibawa ke RSJ di bawa ibu dan tetangganya karena dirumah tiba-tiba marah, menendang pintu, membanting gelas dan mengancam ibunya menggunakan pisau, lalu ibunya meminta tolong ke anaknya yang nomer 1 atau kakak dari pasien untuk dibawa ke RSJD Amino Gondohutomo agar mendapatkan perawatan yang intensif.
3. Faktor predisposisi dan presipitasi
Pasien pernah menderita gangguan jiwa di masa lalu, pasien pernah dirawat ke RSJ 5x . Sebelum dirawat di RSJD Amino Gondohutomo pasien sempat dirawat di RST Dr. Asmir Salatiga dan sekarang kembali lagi dirawat di RSJD Amino Gondohutomo.
Pasien sebelumnya dianggap pasien kurang berhasil karena ibu pasien mengatakan setelah di rawat di RSJ sebelumnya pasien masih belum bisa untuk mengontrol atau mengendalikan emosinya dan kadang merasakan tegang di saraf punggung. Saat pasien pulang dari RSJ pasien kambuh lagi dirumah karena tidak teratur dalam minum obat sehingga pasien diantarkan ibu dan kakaknya ke RSJD Dr Amino Gondohutomo.
Pasien juga dianggap meresahkan tetangganya karena waktu pasien yang tiba-tiba marah, menendang pintu, membanting gelas dan mengancam ibunya menggunakan pisau ada beberapa tetangga yang mendengar suara ketus dari ucapan pasien. Sebelumnya pasien pernah
17
menjadi korban bullying dan korban aniaya fisik seperti dipukul dan dikeroyok oleh teman-teman waktu SMK nya. Pasien tidak mempunyai riwayat melakukan atau sebagai korban dari tindakan kriminal, aniaya seksual, dan keluarga pasien tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit serius dan penyakit spikis seperti dirinya.
4. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan pasien dilakukan pengecekan tanda-tanda vital (TTV) meliputi:
Tekanan Darah: 132/97 mmHg Nadi: 65 x/menit
Suhu: 36,4° C Respirasi: 22x/menit Tinggi Badan 160 cm Berat Badan: 58kg
Pasien mengatakan tidak mengalami keluhan fisik.
5. Genogram
Pasien berusia 24 tahun mengatakan kakek dan nenek dari ayah ibunya sudah meninggal sejak pasien berusia 14 tahun sedangkan ibunya masih hidup, pasien mengatakan dirinya merupakan anak kedua dari dua bersaudara, anak pertama laki-laki sudah menikah, anak ke dua yaitu pasien sendiri, pasien mengatakan belum menikah.
6. Konsep diri
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 24 tahun belum menikah, pasien mengatakan malu dan kurang percaya diri karena dirinya belum bisa bekerja dan masih bersama dengan ibu saja karena bapaknya sudah meninggal sejak pasien umur 14 tahun. Gambaran diri pasien positif, pasien dapat menerima kondisi tubuhnya dengan baik, pasien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya, tidak ada bagian tubuh yang tidak disukai. Pasien mengatakan bangga mempunyai tato karena memang itu keinginannya. Pasien merasa malu karena diantar ke RSJD Amino Gondohutomo sebab sebelumnya pasien meminta pulang
18
dirumah, pasien merasa apakah dia tidak dianggap sebagai anak dirumah, karena waktu itu pasien diajak pergi ibu dan kakaknya katanya untuk liburan tetapi malah diantar ke RSJD Amino Gondohutomo.
7. Hubungan sosial
Pasien mengatakan orang yang paling berarti dalam hidup pasien adalah ibu dan kakaknya. Pasien mengatakan jarang berhubungan dengan orang lain. Pasien malas berbicara dengan banyak orang karena tidak ada yang ingin dibicarakan.
8. Spiritual
Pasien mengatakan beragama islam dan menyakini adanya Allah SWT
9. Status mental
Penampilan pasien berpakaian dengan rapi, kamar pasien tertata dengan rapi, penampilan pasien terlihat begitu rapi. Pasien memakai pakaian sesuai antara atas dan bawah. Pasien mandi sehari dua kali di pagi hari dan sore hari. Pasien mandi dengan memakai sabun dan menggosok gigi. Pasien selalu menjemur handuknya dengan baik setelah mandi.
Pembicaraan saat pasien diajak bicara pasien menjawab dengan nada agak tinggi tetapi bisa dimengerti. Pertama di RSJD Amino Gondohutomo pasien juga bicara dengan nada tinggi dan juga marah- marah.
Aktivitas motorik dalam pasien sebelum dilakukannya pengkajian pasien sudah terlihat pandangannya tajam dan postur tubuh kaku, saat pertama kali pasien diwawancarai pasien agak terlihat bingung, gelisah dan terlihat pandangannya tajam.
Alam perasaan pasien saat ini khawatir jika tidak bisa mengendalikan diri saat emosi, pasien takut melukai perasaan maupun fisik ibunya. Pasien terkadang juga masih merasa jengkel akan tetapi pasien juga khawatir karena tidak segera dijemput ibu dan kakaknya.
19
Afek pasien emosi labil, pasien tampak mudah berubah ekspresinya, sesuai dengan perasaannya.
Interaksi selama wawancara pasien sangat kooperatif dan selalu kontak mata karena pasien di RSJD Amino Gondohutomo Semarang diajarkan bagaimana cara bicara verbal dengan kontak mata dan pasien sampai saat ini kalau berbicara dengan orang lain sopan yaitu dengan kontak mata, akan tetapi pandangan pasien tajam
Persepsi halusinasi pasien mengatakan tidak ada masalah dan tidak mengalami halusinasi
Proses pikir pasien ketika diajak berbicara pasien bicarannya berbelit-belit akan tetapi sampai tujuan
Isi pikiran pasien mengatakan memiliki rasa khawatir yang berlebihan karena ada trauma bullying dan dikeroyok oleh temannya.
Pasien mempunyai dendam yang berlebihan sehingga dendam tersebut dipelampiaskan oleh ibunya dengan cara mengamuk dan mengancam ibunya dengan menggunakan pisau. Pasien mengatakan tidak bisa mengendalikan emosinya sehingga pasien secara tiba-tiba mengamuk dengan kemarahannya.
10. Kebutuhan persiapan pulang
Pasien dapat makan dengan mandiri tanpa bantuan sehari tiga kali (pagi, siang, malam), pasien dapat BAB/BAK secara mandiri, pasien dapat mandi secara mandiri sehari dua kali (pagi dan sore) dan pasien dapat melakukan kebersihan diri secara mandiri tanpa bantuan. Pasien tidur siang pukul 13.30 sampai pukul 15.30, namun terkadang pasien tidak tidur siang hanya berjalan mondar-mandir dari kamarnya. Dalam penggunaan obat, pasien dapat meminum obatnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain/perawat, dan selalu rutin meminum obat setelah makan.
Untuk persiapan pasien pulang diharapkan keluarga selalu memantau mengawasi, dan memastikan pasien meminum obat secara teratur dirumah. Dalam pemeliharaan kesehatan, pasien memerlukan perawatan lanjutan dan system pendukung untuk mempercepat
20
kesembuhan pasien. Pasien harus melakukan perawatan lanjutan atau kiontrol setelah pulang dari RSJ agar membantu penyembuhan pasien serta mengurangi kekambuhan pasien. Pasien juga membutuhkan system pendukung seperti tetangganya yang dapat mendukung pasien sehingga pasienn semangat untuk sembuh.
11. Mekanisme koping
Pasien terkadang mampu mengendalikan emosinya dengan istighfar dan Tarik nafas dalam serta pukul bantal tetapi jika suasana hati kacau pasien sering marah tanpa sebab, membanting barang dengan meletakkan gelas setelah minum, meletakkan piring setelah makan dengan keras dan hampir melukai dirinya sendiri.
12. Masalah psikososial dan lingkungan
Dari segi masalah lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, pelayanan kesehatan pasien jarang melakukan hubungan dengan kelompok, pasien jarang berhubungan dengan masyarakat atau lingkungan sekitar, sering menyendiri dan diam, pasien tidak memiliki masalah dengan pendidikan, pasien belum bekerja, pasien jarang berinteraksi dengan masyarakat disekitar perumahan karena pasien tidak suka berbaur dengan orang lain, pasien mengalami kesulitan keuangan karena pasien belum bekerja, pasen tidak memiliki masalah pelayanan kesehatan. Sedangkan untuk masalah lainnya pasien memiliki masalah tetapi pasien tidak bisa mengungkapkannya dan akhirnya ibunya dibuat pelampiasan sehingga ibunya dimarahin dan membanting gelas.
13. Sumber daya
Pasien selalu ingin marah-marah secara tiba-tiba yang terkadang bisa baik, lemah lembut dan terkadang bisa menyakiti diri sendiri dan orang lain. Pasien tidak bisa menahan amarahnya sehingga ada barang yang ia lihat akan langsung dirusak contohnya melihat gelas dan gelas itu dibanting.
14. Aspek medic
21
Dengan diagnosa medik Skizofrenia undifferentiated dan diberikan olanzaprin 10 mg , loranzepam 2mg
B. Analisa Data
Dari hasil yang dilakukan penulis melakukan analisa data di dapat masalah yaitu:
1. Risiko perilaku sosial
Analisa Data Subjek: ibu pasien mengatakan pasien marah secara tiba-tiba, menendang pintu, membanting gelas, dan mengancam ibunya menggunakan pisau, pasien mengatakan marah-marah menolak untuk dimasukan ke RSJD Amino Gondohutomo.
Data objektif: pasien saat diajak bicara menjawab, akan tetapi dengan nada yang tinggi, emosi pasien labil atau berubah-ubah, pandangan tajam sehingga menimbulkan masalah Resiko Perilaku Kekerasan.
2. Isolasi sosial
Analisa Data Subjektif: pasien mengatakan malas berbicara dengan banyak orang karena tidak ada yang ingin dibicarakan, pasien mengatakan lebih enak diam daripada berbicara.
Data Objektif: pasien tampak lebih suka menyendiri daripada bergabung dengan teman-teman yang lain, pasien tampak menghindar ketika banyak mahasiswa praktik yang mendekat.
3. Harga diri rendah
Analisa Data Subjektif : pasien mengatakan apakah dirinya tidak dianggap sebagai anak dikeluarganya
Data Objektif : pasien tampak sedih, karena pendapat yang disampaikan tidak pernah didengar. Masalah keperawatan yang muncul yaitu Harga diri rendah
22 C. Daftar Masalah Keperawata
1. Risiko perilaku kekerasan 2. Isolasi sosial
3. Harga diri rendah D. Pohon Masalah
Risiko Tinggi Mencederai Diri, orang lain, dan lingkungan Effect
Core problem
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah, Isolasi Sosial causa Gambar 2.3 Pohon Masalah
E. Diagnosa
Diagnosa keperawatan Risiko Perilaku Kekerasan F. Rencana Tindakan Keperawatan
Masalah yang muncul yaitu Risiko perilaku kekerasan, selanjutnya penulis melakukan rencana tindakan dengan tujuan pasien dapat mengontrol perilaku kekerasa dengan kriteria hasil yang diharapkan yaitu setelah melakukan 3x interaksi diharapkan pasien tidak marah-marah lagi dan kontrol diri meningkat. Intervensi yang diberikan kepada pasien antara lain: pasien dapat menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat, jelaskan penyebab terjadinya risiko perilaku kekerasan,jelaskan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan, mengidentifikasi jenis risiko perilaku kekerasan, diskusikan akibat risiko perilaku kekerasan, ajarkan cara mengontrol risiko perilaku kekerasan, latih cara mengontrol risiko perilaku kekerasan dengan tarik nafas, pukul bantal atau kasur, dan cara mengungkapkan marah dengan verbal, latih dengan cara spiritual dan penuhi jadwal minum obat
RISIKO PERILAKU KEKERASAN
23 G. Implementasi keperawatan
Implementasi hari pertama pada hari Jum’at, 06 Januari 2023 pukul 09.00 WIB dengan Data Subjektif : ibu pasien mengatakan marah secara tiba-tiba, menendang pintu, membanting gelas, dan mengancam ibunya menggunakan pisau. Data Objektif : Pasien tampak pandangan tajam dan menyimpan dendam, pasien juga tampak gelisah. Untuk diagnosa keperawatan yang ditegakkan adalah Risiko perilaku kekerasan. Tindakan keperawatan yang diberikan SP 1 Risiko perilaku kekerasan yaitu menjelaskan sebab terjadi risiko perilaku kekerasan, menjelaskan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan, mengajarkan cara mengontrol risiko perilaku kekerasan, melatih pasien dengan mengontrol risiko perilaku kekerasan cara fisik 1 yaitu Tarik nafas dalam, menyusun jadwal harian.
Rencana tindak lanjut perawat akan melakukan SP 2 yaitu latihan fisik mengontrol marah dengan pukul bantal atau kasur.
Implementasi hari ke dua pada hari Sabtu, 07 Januari 2023, pukul 08.45 WIB dengan Data Subjektif : pasien mengatakan tidak bisa mengendalikan emosinya. Data Objektif : Pasien masih tampak pandangan tajam, menyimpan dendam dan nada bicara masih tinggi. Selanjutnya dilakukan tindakan keperawatan SP 2 Risiko perilaku kekerasan yang pertama evaluasi dahulu hasil dari SP 1 selanjutnya ajari pasien cara mengungkapkan marah dengan latih cara fisik dua yaitu pukul bantal atau kasur. Rencana tindak lanjut yang diberikan SP 3 risiko perilaku kekerasan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara menyampaikan marah dengan baik.
Implementasi hari ke tiga pada hari Senin, 09 Januari 2023, pukul 08.10 WIB dengan Data Subjektif : pasien mengatakan masih marah-marah.
Data Objektif : Pasien tampak masih berbicara dengan nada yang tinggi, pasien tampak tatapan mata tajam. Dengan diagnosa Resiko perilaku kekerasan dilanjutkan evaluasi sp1 sampai dengan Sp2 dan dilanjutkan tindakan keperawatan SP 3 yaitu menyampaikan marah dengan baik.
24
Rencana tindak lanjut perawat akan melakukan SP 4 yaitu melatih cara spiritual seperti mengajari wudhu, shalat, ngaji dan melafalkan doa.
H. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali kunjungan di dapatkan hasil evaluasi pasien mampu melakukan strategi-strategi yang sudah di ajarkan selama 3 kali pertemuan. Kemudian penulis mengevaluasi pada Jum’at, 06 Januari 2023 di dapatkan hasil Data Subjektif: pasien mengatakan masih merasa emosi saat mengingat kejadian di masalalu. Data Objektif: pasien masih tampak pandangannya tajam, postur tubuh kaku, A:
Risiko perilaku kekerasan (+), P: Lanjutkan intervensi risiko perilaku kekerasan SP 2 dan mengevaluasi SP 1, tidak lupa untuk memberikan jadwal rutin untuk mengendalikan emosi menggunakan SP yang diajarkan.
Evaluasi 07 Januari 2023, Data Subjektif : pasien mengatakan sudah bisa melakukan SP 1 dan ingin melakukan SP 2, Data Objektif: pasien tampak dapat memahami serta mempraktikan dengan baik cara mengontrol marah dengan cara pukul bantal, akan tetapi pandangan pasien masih terlihat tajam dan nada tinggi, A: Risiko perilaku kekerasan (+), P: lanjutkan intervensi risiko perilaku kekerasan SP 3, dan mengevaluasi SP 1dan SP 2.
Latih melakukan kemampuan positif seperti mengembalikan handuk setelah mandi.
Evaluasi 09 Januari 2023, Data Subjektif: Pasien mengatakan sudah bisa menahan cara mengontrol emosi dan mengendalikan diri. Data Objektif : Pasien tampak sudah bisa mengontrol emosi akan tetapi pandangan pasien masih terlihat tajam, A: Risiko perilaku kekerasan (+), P: lanjutkan intervensi, evaluasi control marah SP 1 sampai SP 3.
25
BAB IV PEMBAHASAN
Dari hasil data yang didapatkan oleh penulis karya tulis ilmiah yang telah dilakukan selama 3 hari mengelola asuhan keperawatan pada pasien Tn. M di RSJD Dr. Amino Gondohutomo mengalami gangguan jiwa yaitu Resiko perilaku kekerasan, dimana penulis juga akan membahas mengenai kesenjangan antara teori dan asuhan keperawatan, penulis memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan prosedur yang ada dari data nyata dari ibu pasien, pasien dan rekam medic yang mencakup semua aspek keperawatan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan bagian dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan pasien. Dalam melakukan pengkajian harus secara lengkap dan sistematis sesuai dengan respon individu (Kartikasari et al., 2020) Dalam pengkajian keperawatan terkait masalah risiko perilaku kekerasan terdapat faktor predisposisi dan faktor presipitasi yang perlu di kaji. Penulis melakukan pengkajian secara langsung terhadap pasien melalui wawancara dan observasi. Saat melakukan kontrak tempat wawancara pasien memilih untuk melakukan wawancara dan observasi di depan bangsal, alasan pasien memilih melakukan wawancara di bangsal karena sejuk dan tenang daripada di ruang makan yang terdapat banyak orang. Hasil dari pengkajian pada tanggal 06 Januari 2023 ditemukan data yaitu pasien dengan nama Tn. M berusia 24 tahun, jenis kelamin laki-laki dan beragama islam. Pasien bertempat tinggal di Barukan Tengaran.
Pengkajian yang dilakukan pada pasien risiko perilaku kekerasan meliputi identitas pasien, alasan masuk rumah sakit, factor predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial, status mental, dan mekanisme koping pasien. Sehingga
26
dalam kasus yang diatas sudah mencakup semua pengkajian dan sesuai dengan teori yang ada.
Faktor predisposisi yang menjadi penyebab terjadinya risiko perilaku kekerasan pada Tn. M adalah berdasarkan teori yang membahas tentang perawatan dalam pemberian obat pada pasien, penulis memperoleh data pengkajian dari riwayat sebelumnya bahwa pengobatan Tn.M sebelumnya kurang berhasil, karena setelah pasien pulang pasien mengalami kekambuhan lagi, kemudian dibawa lagi ke RSJ sampai berkali-kali, karena pasien saat dirumah tidak minum obat secara teratur, pasien marah secara tiba-tiba, membanting barang yang dia lihat dan menendang pintu. Sebelumnya pasien pernah menjadi korban bullying dan korban aniaya fisik seperti dipukul dan di keroyok teman-teman nya waktu SMK. Disini dapat dilihat bahwa antara teori dan pengkajian yang didapatkan oleh penulis mengalami kesamaan.
Faktor presipitasi pada Tn.M yang ditulis dalam asuhan keperawatan penulis sebagai alasan pasien masuk RSJD Dr. Amino Gondohutomo yaitu karena pasien mengamuk secara tiba-tiba, membanting barang yang pasien lihat, menendang pitu, mengancam ibunya menggunakan pisau, dan tiba-tiba marah. Sedangkan faktor presipitasi menurut Suhantara (2020), seorang akan marah jika dirinya terancam baik berupa injuri fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Dari faktor pencetus pasien, antara pengkajian dan teori terdapat persamaan dengan data pasien yang tiba-tiba marah, ini menunjukan kalau ada interaksi antara pasien dengan orang lain.
Tanda dan gejala dapat kita ketahui dari wawancara pasien menurut Puspawati & Sirait (2019) yaitu muka memerah dan tegang, pandangan tajam, mengantupkan rahang, mengepal tangan, bicara kasar, nada tinggi, menjerit atau berteriak, mengancam suara verbal dan tinggi, tidak mempunyai kemampuan mencegah atau mengontrol perilaku kekerasan. Dari data yang diperoleh dari pasien yaitu yang pertama pandangan tajam, suara tinggi dan tangan mengepal karena disebabkan oleh penulis melakukan wawancara mengenai sakit yang diderita, untuk tanda dan gejala yang lain tidak muncul karena pasien sedikit lebih kooperatif.
27
Dari hasil yang diperoleh penulis dari status mental pasien saat beraktifitas, pasien masih terlihat tegang dan agak kaku, pandangan tajam, dan nada suara tinggi, pasien mengenai detail masalahnya yang menyebabkan pasien jengkel, dengan tatapan mata yang tajam, pasien tersinggung dan mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas yang sudah lalu dengan nada tinggi, bila dibandingkan antara teori dan data pengkajian diatas dalam mengambil kasus risiko perilaku kekerasan data yang diperoleh sudah memenuhi kriteria yang tercantum dalam teori yang sudah dijelaskan.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Di dalam menegakkan diagnosa keperawatan penulis tidak menggunakan NANDA NIC NOC tetapi menggunakan standar SDKI. Dalam buku SDKI (PPNI, 2017) diagnosa keperawatan merupakan suatu tahap dalam asuhan keperawatan berupa penilaian klinis mengenai respon klien terhadap problem kesehatan baik aktual maupun potensial. Penilaian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi respon pasien individu maupun keluarga terhadap keadaan yang berhubungan dengan kesehatan.
Berdasarkan hasil yang sudah didapatkan, penulis menegakkan diagnosa keperawatan sesuai dengan standar SDKI. Penulis tidak mencantumkan kode diagnosa utama, seharusnya penulis mencantumkan kode diagnosa D.0146 untuk diagnosa risiko perilaku kekerasan. Risiko perilaku kekerasan merupakan risiko yang dapat membahayakan secara fisik, emosi dan/atau seksual pada diri sendiri atau orang lain. Mengalami kemarahan yang tidak dapat mengontrol atau terkendali emosi pada dirinya, sering mondar-mandir, selalu marah dengan orang lain tanpa sebab dan sering melampiaskan kemarahannya dengan orang lain dan bisa mencederai dirinya sendiri serta membahayakan lingkungan sekitar. Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan dapat dilakukan secara verbal ataupun fisik (suerni, 2019).
Dari hasil pengkajian yang sudah didapatkan penulis menegakkan diagnosa core problem risiko perilaku kekerasan. Adapun data yang mendukung untuk ditegakkannya diagnosa risiko perilaku kekerasan adalah dari data subjektif:
28
ibu pasien mengatakan pasien marah secara tiba-tiba, menendang pintu, membanting gelas dan mengancam ibunya menggunakan pisau dengan nada yang tinggi, pasien mengatakan tidak bisa mengendalikan emosinya.
Sedangkan data objektif pasien tampak pandangan tajam dan nada yang tinggi.
Hasil pengkajian analisa data yang terdapat pada pasien, ini sangat didukung oleh teori dan data penulis.
Dari hasil pengkajian analisa data yang dilakukan penulis dalam mengkaji pasien telah didapatkan dengan data subjektif dan objektif yang dapat mendukung untuk ditegakkannya diagnosa risiko perilaku kekerasan sebagai core problem diagnosa yang utama.
C. INTERVENSI
Rencana tindakan atau yang dimaksud dengan intervensi adalah tindakan keperawatan yang akan dilakukan perawat dalam mengatasi suatu masalah yang menjadi keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana dilakukan siapa yang melakukan. Dari tindakan keperawatan yang dilakukan perencanaan bertujuan untuk mengidentifikasi factor utama pada individu maupun kelompok, untuk menyediakan pengulangan dan evaluasi keperawatan, dan memberikan rencana tindakan yang spesifik secara langsung bagi individu, keluarga maupun tenaga kesehatan.(Nugraha, 2014)
Intervensi keperawatan yang dilakukan pada pasien risiko perilaku kekerasan dengan menerapkan strategi pelaksanaan pada pasien dan strategi pelaksanaan pada keluarga. Tujuan diterapkan strategi pelaksana pada pasien yaitu pasien mampu mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dialami, pasien mampu melakukan control perilaku kekerasan, pasien mampu mengikuti rencana pengobatan secara maksimal. Tindakan yang diberikan untuk pasien yaitu SP 1 P bantu pasien menjelaskan penyebab terjadi risiko perilaku kekerasan, identifikasi tanda dan gejala PK, identifikasi jenis PK, diskusikan akibat ketika melakukan PK, ajarkan mengontrol PK dengan cara fisik yang pertama yaitu tarik nafas dalam, menyusun jadwal kegiatan harian , SP 2 P latih cara mengontrol marah dengan cara fisik yang kedua yaitu pukul bantal atau
29
kasur, SP 3 P bantu pasien mengendalikan marah dengan cara verbal, SP 4 P bantu pasien latih emosinya dengan cara spiritual, SP 5 P anjurkan pasien patuhi jadwal minum obat.
Adapun strategi pelaksanaan pada keluarga yang harus diterapkan dengan tujuan supaya keluarga mampu merawat pasien dan menjadi pendukung kesembuhan pasien. Tindakan yang perlu diberikan kepada keluarga yaitu SP 1 K identifikasi permasalahan yang dialami keluarga saat merawat, jelaskan hal terkait PK (definisis, sebab, simptoms, dan akibat yang ditimbulkan), jelaskan bagaimana cara merawat PK. SP 2 K latih keluarga praktik merawat pasien. SP 3 K latih secara langsung keluarga mempraktekan cara merawat pasien. SP 4 K fasilitasi keluarga menyusun jadwal kegiatan dirumah untuk pasien dan obat (discharge planning), jelaskan tindak lanjut setelah pasien pulang.
Intervensi keperawatan yang sudah di rencanakan penulis berharap pasien mampu mengontrol perilaku kekerasan dengan kriteria hasil pasien tidak marah-marah lagi. Penulis kurang tepat dalam membuat tujuan yang dicapai setelah dilakukan intervensi keperawatan seharusnya penulis membuat tujuan yaitu pasien mampu mengontrol risiko perilaku kekerasan dan mengontrol kemarahannya dan seharusnya penulis juga mencantumkan rasionalisasi di setiap SP nya yaitu hubungan saling percaya. Intervensi keperawatan yang penulis terapkan yaitu SP 1-5 P (Tim Fik Unissula, 2022).
Penulis tidak merencanakan intervensi SP 1-4 pada keluarga pasien karena adanya kendala keluarga yang berkunjung hanya sebentar saja dan buru-buru ingin segera pulang. Untuk kesembuhan pasien, pasien membutuhkan keluarga karena keluarga adalah pendukung kesembuhan yang terbaik bagi pasien (Suryenti, 2017)
D. IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan selama 3 hari dimulai dari tanggal 06-09 januari 2023. Berikut penulis memaparkan strategi pelaksanaan yang dilakukan.
30
Implementasi hari pertama pada tanggal 06 Januari 2023, diberikan tindakan SP 1 menjelaskan penyebab terjadi risiko perilaku kekerasan, mengidentifikasi tanda dan gejala RPK, mengidentifikasi jenis RPK, mendiskusikan akibat ketika melakukan RPK, mengajarkan mengontrol RPK dengan cara fisik yang pertama yaitu tarik nafas dalam, menyusun jadwal kegiatan harian, selanjutnya menyampaikan rencana tindak lanjut yaitu melakukan SP 1 karena pasien sudah mengetahui isi risiko perilaku kekerasan dan sudah bisa mempraktekkan Tarik nafas dalam secara mandiri, selanjutnya menyampaikan rencana tindak lanjut yaitu melakukan SP 2 pada pertemuan yang akan datang.
Tantangan yang penulis lakukan saat memberikan terapi SP 1 pada pasien yaitu, penulis menanyakan tentang riwayat masalalu pasien tetapi pasien tidak terima sehingga tangan pasien mengepal dan mata melotot. Penulis tetap ajarkan Tarik nafas dalam akan teapi penulis menenangkan pasien terlebih dahulu agar pasien rileks.
Implementasi hari ke dua pada tanggal 07 Januari 2023, implementasi atau tindakan yang diberikan kepada pasien menggunakan SP 2 yaitu melatih cara mengontrol marah dengan cara fisik yaitu pukul bantal atau kasur. Setelah pasien diajari untuk melakukan pukul bantal, pasien sudah bisa melakukannya secara mandiri. Selanjutnya menyampaikan rencana tindak lanjut yaitu melakukan SP 3 pada pertemuan yang akan datang.
Implementasi hari ke tiga pada tanggal 09 Januari 2023, sebelum dilanjutkan implementasi atau tindakan yang diberikan kepada pasien menggunakan SP 3 akan dilakukan evaluasi terlebih dahulu bagaimana hasil terapi hari pertama dan kedua. Setelah dilakukan evaluasi dilanjutkan untuk memberikan tindakan SP 3 yaitu melatih cara mengontrol marah dengan cara verbal atau menyampaikan marah dengan baik, pasien kooperatif saat diajarkan, setelah itu pasien mencoba menyampaikan marah dengan baik dan tepat.
Hambatan penulis saat melakukan strategi pelaksanaan penulis hanya melakukan SP 1-3 P saja saat dilapangan, pada hari pertama pasien bisa melakukannya secara mandiri tanpa adanya latihan terlebih dahulu, selanjutnya
31
untuk hari kedua adanya hambatan pasien kurang paham melakukan pukul bantal secara mandiri akan tetapi setelah pasien diajari pasien dapat melakukannya, hari ketiga pasien kooperatif saat menyampaikan marahnya dengan baik.
Pentingnya dilakukan adanya SP 4 dan SP 5 pada pasien agar proses penyembuhan berjalan dengan maksimal. Jika hal tersebut tidak dilakukan kemungkinan sembuh akan lama dan kemungkinan kemarahan pasien tidak bisa terkontrol. Penulis juga tidak melakukan SP 1-4 terhadap keluarga karena keterbatasan waktu yang tidak memungkinkan. Karena penulis hanya fokus kepada pasien, padahal keluarga sangat penting sebagai sumber pendukung yang jadi kunci dalam kesembuhannya penderita gangguan jiwa. Hal ini sesuai dengan teori (Fery Agusman Motuho Mendrofa, 2022). Bahwa keluarga berperan dalam menentukan metode atau asuhan yang dibutuhkan pasien di rumah. Jika pengobatan perawat belum sembuh akan melakukan pengobatan kembali jadi pentingnya keluarga dalam asuhan keperawatan sejak awal akan meningkat kemampuan keluarga dalam merawat pasien dirumah, sehingga kemungkinan untuk mencegah terjadinya kambuh (Wardana, G. H., Kio, A. L., 2020)
E. EVALUASI
Evaluasi merupakan tahapan untuk mengkaji respon pasien setelah dilakukannya intervensi keperawatan dan mengkaji ulang asuhan keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi yang digunakan penulis yaitu menggunakan SOAP (subjektif, objektif, analisis, dan perencanaan). Dalam melakukan evaluasi penulis sudah sesuai dengan konsep teori yaitu SOAP (Nilam Untari, S., & Kartina, 2020)
Evaluasi yang pertama 06 Januari 2023 diperoleh data subjektif yaitu pasien mengatakan masih merasa emosi saat mengingat kejadian sebelumnya dan akan diajarkan untuk terapi Sp1. Data objektif yaitu pandangan pasien masih tajam saat dilakukan wawancara yang lebih mendalam. Analisa masalah belum teratasi. Planning: berikan Sp2 latih cara mengontrol marah dengan cara fisik
32
yang kedua yaitu pukul bantal atau pukul kasur, memberikan jadwal rutin untuk mengendalikan emosi menggunakan Sp yang diajari.
Evaluasi kedua pada 07 Januari 2023 diperoleh data subjektif yaitu pasien mengatakan sudah bisa melakukan SP 1 secara mandiri dan berantusias untuk melakukan SP 2 selanjutnya. Data objektif pasien terlihat sudah bisa melakukan Sp 2 yang diajarkan dan bisa melakukannya secara mandiri. Akan tetapi untuk pandangannya masih terlihat tajam. Analisa masalah belum teratasi. Planning:
melanjutkan Sp3 yaitu mengendalikan marah dengan cara verbal.
Evaluasi hari ketiga pada 09 Januari 2023, diperoleh data subjektif: pasien mengatakan mampu menyampaikan marah dengan baik. Data objektif: pasien sudah melakukan Sp1 sampai dengan Sp3 secara mandiri. Pasien tampak kooperatif. Analisa: masalah belum teratasi. Planning: tetap berikan jadwal rutin untuk melakukan Sp1 sampai dengan Sp3 untuk mengurangi emosi.
Kekurangan penulis untuk mengevaluasi yaitu tidak adanya evaluasi SP Keluarga karena adanya kendala keluarga pasien yang hanya datang menjenguk pasien sebentar saja dan setelah itu langsung pulang karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga penulis tidak dapat mengajari keluarga untuk dilakukannya SP keluarga sehingga tidak bisa tau sampai mana keluarga merawat pasien saat dirumah.
33
BAB V PENUTUP
A. Simpulan
Dari hasil data pengkajian yang di dapatkan oleh penulis karya tulis ilmiah yang telah dilakukan selama 3 hari mengelola asuhan keperawatan pada pasien Tn. M dapat ditarik kesimpulan bahwa Risiko Perilaku Kekersan:
1. Pengkajian
Hasil dari data pengkajian pasien mempunyai masalah tidak bisa terkontrol emosinya dan amarahnya yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang berdampak menyebabkan kemarahannya pasien bisa merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
2. Analisa data
Berdasarkan analisa data Risiko Perilaku Kekerasan merupakan diagnosa utama yang harus ditegakkan dengan kode D.0146.
3. Intervensi
Intervensi yang direncanakan untuk asuhan keperawatan jiwa pada Tn.
M dengan risiko perilaku kekerasan di RSJD Dr. Amino Gondohutomo meliputi 5 intervensi yang akan di terapkan pada pasien dan 4 intervensi pada keluarga.
4. Implementasi
Implementasi yang telah dilakukan penulis masih belum sempurna sehingga masih perlu menambahkan implementasi SP 4 dan 5 pada pasien dan SP 1-4 pada keluaraga.
5. Evaluasi
Evaluasi yang didapat penulis yaitu pasien mampu melakukan strategi pelaksanaan yang diajarkan penulis pada implementasi dengan dibuktikan pasien mampu mengontrol marahnya dengan baik.
34 B. Saran
1. Bagi pasien
Pasien seharusnya minum obat dengan teratur agar tidak kambuh lagi, jika pasien ingin marah sebaiknya pasien mampu mengontrol marah seperti yang sudah diajarkan sama perawat.
2. Bagi keluarga
Keluarga sebaiknya selalu perhatian, memberikian motivasi penuh dalam perawatan pasien saat dirumah dan keluarga merupakan pendukung yang efektif untuk kesembuhan pasien.
3. Bagi perawat
Bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan bisa ditingkatkan lagi pada asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
4. Bagi rumah sakit
Penulis dalam membuat karya tulis ilmiah ini bisa berguna dan bermanfaat
5. Bagi institusi
Diharapkan dokumentasi ini dapat dijadikan referensi untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengembangan dalam memperoleh pengalaman khususnya pada pasien dengan masalah risiko perilaku kekerasan.
35
DAFTAR PUSTAKA
Aanggraini, & G. (2021). pengaruh penerapan strategi pelaksanaan 1 pada klien perilaku kekerasan terhadap mengontrol marah. jurnal kesehatan dan pembangunan, 11(22), 53-60. https://do.ig.org?10.52047/jkp.v11i22.113.
Anisa, D. L., Budi, A. S., & Suyanta, S. (2021). Asuhan Keperawatan Jiwa: Pasien Resiko Perilaku Kekerasan. Jendela Nursing Journal, 5(2), 106–110.
https://doi.org/10.31983/jnj.v5i2.7578.
Dan, A. T., Ilmu, G. R. P. K. pada P. S. J., & Keperawatan Jiwa, 3(1), 65.
https://doi.org/10.32584/jikj.v3i1.478. (2020). Malfasari, E., Febtrina, R., Maulinda, D., & Amimi, R.
Fery Agusman Motuho Mendrofa, D. I. I. (2022). Pengaruh Strategi Pelaksanaan Keluarga Terhadap Kekambuhan Pasien Odgj. Journal of Chemical Information and Modeling, 5(9), 1689–1699.
Kartikasari, F., Yani, A., & Azidin, Y. (2020). Pengaruh Pelatihan Pengkajian Komprehensif Terhadap Pengetahuan Dan Keterampilan Perawat Mengkaji Kebutuhan Klien Di Puskesmas. Jurnal Keperawatan Suaka Insan (Jksi), 5(1), 79–89. https://doi.org/10.51143/jksi.v5i1.204
Kemenkes RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia 2021. In Pusdatin.Kemenkes.Go.Id.
Liviana, & Suem, T. (2019). Faktor predisposisi pasien resiko perilaku kekerasaan.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Jiwa, 1(1), 27–38.
Madhani, A., & Kartina, I. (2020). Asuhan Keperawatan Jiwa Pada Pasien Dengan Resiko Perilaku Kekerasan. Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa, 2(3), 149.
Nilam Untari, S., & Kartina, I. (2020). Asuhan keperawatan jiwa pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan.
Nomor, V. (2022). 1811-Article Text-7615-1-10-20230209. 5(November).
Nugraha. (2014). konteks awal strategi.
36
Pardede. (2019). Pengaruh Behavior TherapyTerhadap Risiko Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Prof.Dr. Muhammad Ildrem
Provsu Medan. Jurnal Mutiara Ners, 257–266.
https://journalpress.org/proceeding/ipkji/article/view/51
Puspawati,N.N., &Sirait, A. (2019). PengalamanTraumatikiPenyebabGang guanJiwa ( Skizofrenia) Pasien di RSJ Cimahi .MajalahKedokteran Bandung Volume 41 No.4.
Siauta, M., Tuasikal, H., & Embuai, S. (2020). Upaya Mengontrol Perilaku Agresif pada Perilaku Kekerasan dengan Pemberian Rational Emotive Behavior
Therapy. Jurnal Keperawatan Jiwa, 8(1), 27.
https://doi.org/10.26714/jkj.8.1.2020.27-32
suerni, T., & L. (n.d.). jurnal penelitian perawat perawat profesional. jurnal penelitian perawat profesional, 1(November), 41-46. 2019.
Suhantara, Y. F. (2020). STUDI DOKUMENTASI RISIKO PERILAKU KEKERASAN PADA KLIEN DENGAN SKIZOFRENIA. Akademi Keperawatan YKY Yogyakarta.
Suryenti, V. (2017). Dukungan Dan Beban Keluarga Dengan Kemampuan Kekerasan Di Klinik Jiwa Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jambi Tahun 2017.
Jurnal Psikologi Jambi, 2(2), 39–46.
Sutejo. (2019). keperawatan jiwa.
TIM FIK UNISSULA. (2022). buku panduan praktikum keperawatan jiwa fakultas ilmu keperawatan. Faculty of Nursing, Islamic Sultan Agung University.
tim Pokja SDKI PPNI. (2016). standar diagnosis keperawatan indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, PersatuanPerawat Indonesia.
Wardana, G. H., Kio, A. L. (2020). Hubungan dukungan keluarga terhadap tingkat kekambuhan klien dengan resiko perilaku kekerasan. Jurnal Keperawatan, 9(1), 69–72. https://doi.org/10.29238/caring.v9i1.592.
37
Widodo, D., Juairiah, Sumantrie, P., Nursy, S, S., Pragholapati, A., P., G., Manurung, A., Kadang, N, A, Y., Hardiyati, Hunun, W, T, H, S, S., &, &
Amalya, N, R. (2022). Keperawatan Jiwa. Yayasan Kita Penulis.