• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Gangguan Persepsi Sensor di Desa Muneng

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Asuhan Keperawatan Pada Tn. S Dengan Gangguan Persepsi Sensor di Desa Muneng"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Salah satu masalah yang paling banyak terjadi di dunia adalah gangguan pendengaran (presbikusis), sekitar 466 juta (6,1%) penduduk dunia menderita masalah ini. Hampir 40% penderita berusia 65 tahun ke atas mengalami gangguan pendengaran sehingga menimbulkan masalah sosial seperti frustasi, depresi, kecemasan, paranoia, perasaan terisolasi dan peningkatan angka kecelakaan (Petra, 2018).

Rumusan Masalah

Selain itu, alat bantu dengar juga mampu mengeluarkan suara lebih keras dan jernih. Mereka semua mengatakan bahwa sampai saat ini pengobatan yang dilakukan para lansia untuk mengurangi gangguan pendengarannya adalah dengan mengkonsumsi rebusan daun jahe dan membaca bibir lawan bicara agar lebih mudah memahaminya.

Tujuan Penelitian

Melalui metode ini, terapis akan mengajari pasien cara membaca bibir dan gerakan tubuh lawan bicara.

Manfaat Penelitian

Metode Penulisan

  • Metode
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Sumber Data
  • Studi Kepustakaan

Data diambil melalui pengamatan langsung terhadap keadaan, reaksi, sikap dan perilaku klien yang dapat diamati. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari keluarga/orang terdekat klien, rekam medis, perawat, hasil pemeriksaan dan tim kesehatan lainnya.

Sistematika Penulisan

Prevalensi gangguan pendengaran dilaporkan lebih tinggi pada kelompok dengan pendidikan rendah. Hal ini terjadi akibat degenerasi organ Corti yang menyebabkan gangguan pendengaran pada frekuensi tinggi. Jenis keparahan ini mengakibatkan gangguan diskriminasi kata, yang secara klinis berhubungan dengan presbikusis saraf dan mungkin sudah ada sebelum gangguan pendengaran terjadi.

Faktor lingkungan seperti ini dapat menyebabkan trauma oksidatif dan memperburuk gangguan pendengaran seiring bertambahnya usia. Gangguan pendengaran terkait gender terjadi lebih awal pada pria dibandingkan pada wanita. Namun diabetes melitus tipe 2 lebih sering menyebabkan gangguan pendengaran pada orang berusia ≥60 tahun.

Keluhan terpenting dalam 1 tahun terakhir: Tn. S tampak bingung saat diajak bicara, selalu meminta orang lain mengulangi ucapannya, dan tidak ada tanggapan dari pak. S ketika dia diajak bicara. Tn. S cenderung menghindari percakapan dengan orang lain, tidak mampu mendengar suara rendah dan tidak memiliki keseimbangan antara kedua telinganya. cocok, suka menyendiri dan melamun. Anjurkan pasien untuk menggunakan alat bantu dengar 1 dan pada pukul 17.30 S : Tn. S bilang itu lebih baik. didengar dan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 25 Februari 2021, klien bernama Tn S, 61 tahun, laki-laki, menderita presbikusis. Sedangkan pada pemeriksaan kasus didapatkan 2 diagnosa keperawatan pada Tn S, karena pada saat dilakukan pengkajian Tn S tidak menunjukkan diagnosa gangguan komunikasi verbal dan kecemasan.

Gambar 2.1 klasifikasi pathway gangguan sensori pada presbikusi  Sumber : Dewi, Sofia Rosma.2015
Gambar 2.1 klasifikasi pathway gangguan sensori pada presbikusi Sumber : Dewi, Sofia Rosma.2015

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Penyakit

  • Definisi Prebikusis
  • Tanda dan gejala
  • Epidemiologi
  • Klasifikasi presbikusis
  • Manifestasi klinis
  • Faktor resiko presbikusis
  • Patofisiologi presbikusis
  • Pathway
  • Penatalaksanaan
  • Pencegahan
  • Kompilkasi
  • Gangguan pendengaran pada usia lanjut

Konsep Lansia

  • Definisi lansia
  • Batasan lansia
  • Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan
  • Ciri-ciri lansia
  • Karakteristik lansia
  • Perubahan-perubahan yang terjadi pada lansia
  • Perkembangan lansia

Misalnya lansia yang memiliki motivasi rendah dalam melakukan aktivitas akan mempercepat proses penurunan fisik, namun ada juga lansia yang mempunyai motivasi tinggi maka penurunan fisik pada lansia memerlukan waktu yang lebih lama untuk dicegah. Perubahan peran lansia hendaknya dilakukan berdasarkan keinginan sendiri, bukan berdasarkan tekanan dari lingkungan. Perubahan sistem kardiovaskular pada lansia adalah massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertrofi sehingga peregangan jantung berkurang, kondisi ini terjadi karena adanya perubahan jaringan ikat.

Perubahan ini disebabkan oleh akumulasi lipofuscin, klasifikasi nodus SA dan perubahan jaringan tali pusat menjadi jaringan ikat. e) Sistem pernapasan. Perubahan yang terjadi pada sistem pencernaan, seperti penurunan produksi seperti penurunan fungsi yang nyata akibat kehilangan gigi, penurunan indera perasa, penurunan rasa lapar (menurunnya sensitivitas rasa lapar), hati menjadi mengecil dan tempat penyimpanannya berkurang, dan penurunan aliran darah. g) Sistem saluran kemih. Kematian pasangan, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan dapat meruntuhkan pertahanan mental yang sudah rapuh pada lansia.

Biasanya terjadi pada orang lanjut usia yang terisolasi atau menarik diri dari aktivitas sosial. f) Sindrom Diogenes.

Konsep Asuhan Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Pada Presbikusis 29

  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi
  • Implementasi
  • Evaluasi

Pasien presbikusis mengalami penurunan kemampuan dalam menerima rangsangan suara dan pasien kurang mampu mendengar perkataan seseorang. e) Pola persepsi dan konsep diri. Pasien mengalami perasaan tidak berdaya, putus asa dan rendah diri. f) Pola peran dan hubungan dengan orang lain. Gangguan persepsi sensorik : pendengaran berhubungan dengan perubahan penerimaan sensorik, ditandai dengan kesan bingung saat diajak bicara.

Intervensi terhadap masalah keperawatan gangguan persepsi sensorik di keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu dengar dan terapi membaca bibir. Penggunaan alat bantu dengar dapat memperlancar komunikasi, mengurangi perasaan kesepian dan isolasi sosial, serta mengembalikan rasa kontrol pada klien. Alat bantu dengar adalah perangkat bertenaga baterai yang terdiri dari amplifier, mikrofon, dan penerima.

Alat bantu dengar dapat digolongkan berdasarkan ukuran, lokasi penggunaan dan bentuk alat bantu dengar ketika dikenakan oleh tubuh.

Kerangka Masalah

Gejala yang dirasakan : Klien mengatakan pendengarannya menurun saat berbicara dan sulit mendengar suara. Riwayat penggunaan obat: Klien menyatakan diberi amlodipine 5 mg dan meminumnya saat merasa pusing dan tekanan darahnya meningkat. Klien mengatakan bahwa anak dan cucunya tidak mempunyai riwayat penyakit hipertensi, presbikusis, dan tidak ada riwayat penyakit menular.

Peran pribadi: Klien mengatakan bahwa ia berperan sebagai ayah bagi anaknya dan kakek bagi cucunya. Diri ideal : Klien menyatakan yakin bahwa sejak kecil hingga kini ia dapat menunaikan kewajibannya sebagai seorang ayah dan sebagai seorang kakek untuk mengasuh anak dan cucunya. Harga diri: Klien mengatakan akan senang jika suatu saat ketika klien pergi, ia khawatir hubungan anak dengan saudaranya yang lain akan renggang karena terjadi konflik di pekarangan.

Sesuatu yang bernilai dalam hidupnya: Klien mengatakan bahawa sesuatu yang bernilai dalam hidupnya ialah kebahagiaan anak dan cucunya.

TINJAUAN KASUS

Pengkajian

Pola tidur/istirahat : menurut keluarga pola tidur klien 1. Keluhan berhubungan tidur : Tidak ada keluhan b. Leher : Normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid d) Integumen : Keriput, turgor kulit baik, warna kulit sawo matang e) Dada dan dada.

Gambar  2.4 kerangka masalah pada presbikusis  Sumber : Istiqomah, Sarah Nabila. 2019
Gambar 2.4 kerangka masalah pada presbikusis Sumber : Istiqomah, Sarah Nabila. 2019

Analisa Data

Diagnosa Keperawatan

Memberikan edukasi kepada pasien tentang metode penatalaksanaan alternatif gangguan pendengaran, pemeliharaan alat bantu dengar. Pada pembahasan kali ini penulis akan menguraikan kesenjangan antara gambaran teori dan tinjauan kasus dalam asuhan keperawatan pada Tn. Terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori, dalam tinjauan teori terdapat 4 diagnosa yang muncul.

Penulis tidak mempunyai kendala dalam memberikan asuhan keperawatan, karena pihak keluarga dan pihak bangsal cukup kooperatif dan menerima kehadiran penulis. Dengan adanya gangguan persepsi sensorik pada diagnosa medis presbikusis di Desa Muneng Kabupaten Probolinggo, penulis memberikan kesimpulan dan saran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan. Semoga hasil keperawatan ini dapat menjadi bahan rujukan dalam pengajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan topik keperawatan keluarga pada klien presbikusis bagi dosen dan mahasiswa Politeknik Kesehatan Kerta Cendikia Sidoarjo.

Disarankan bagi penulis selanjutnya untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya dalam memberikan asuhan keperawatan yang optimal dan komprehensif serta bertanggung jawab kepada klien dan keluarga.

Intervensi

Implementasi

Evaluasi

Terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan teori, yaitu tinjauan teori menyatakan bahwa presbikusis dialami sekitar 30-35% pada penduduk berusia 65-75 tahun dan 40-50% pada penduduk di atas 75 tahun. . Tidak ada kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan teori karena tanda-tanda gejala yang dialami klien sesuai dengan uraian dalam tinjauan teori. Terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dengan tinjauan teori, yaitu tinjauan teori menyatakan bahwa pencegahan presbikusis adalah menghindari paparan kebisingan berlebihan, membersihkan telinga secara teratur, belajar dengan olah raga dan makan makanan bergizi.

Berdasarkan pengkajian keperawatan yang telah dilakukan, terdapat 2 diagnosa yang muncul pada klien yaitu Gangguan Sensori Persepsi berhubungan dengan perubahan penerimaan sensorik, dan Resiko cedera berhubungan dengan disfungsi sensorik. Pada intervensi terdapat kesenjangan antara tinjauan kasus dan tinjauan teoritis tanpa diagnosis gangguan komunikasi verbal dan kecemasan. Implementasinya terkait dengan diagnosis gangguan persepsi sensorik terkait perubahan penerimaan sensorik dan risiko cedera terkait disfungsi sensorik.

Penerapan diagnosis 2 meliputi anjuran klien menggunakan alat bantu dengar bila diperlukan dan observasi tanda vital yaitu tekanan darah : 130/90 mmHg, denyut jantung 84 x/menit, pernapasan 22 x/menit, suhu 36 oC.

PEMBAHASAN

Pengkajian

Selama pengkajian, klien tampak bingung saat diajak bicara, selalu meminta orang lain mengulangi perkataannya, dan tidak ada feedback. Tanda dan gejala presbikusis adalah hilangnya pendengaran secara bertahap dan progresif, suara terdengar seperti murmur, sehingga sulit memahami pembicaraan, kesulitan mendengar percakapan di sekitar. Saat dilakukan pengkajian, Bapak S mengatakan bahwa beliau kesulitan mendengar suara-suara yang seringkali berisik pada saat beliau biasa bekerja di pabrik, beliau sering mengalami sakit kepala dan telinga berdenging.

Pencegahan presbikusis antara lain menghindari paparan kebisingan berlebihan, rutin membersihkan telinga, berolahraga, dan mengonsumsi makanan bergizi.

Diagnosa Keperawatan

Intervensi

Implementasi

Melakukan diagnosis 2 meliputi mengajarkan klien berkomunikasi efektif menggunakan postur tubuh, bahasa isyarat, mengenali gerak bibir lawan bicara, dan memantau tanda vital yaitu tekanan darah : 140/100 mmHg, denyut nadi 88 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 36,5oC. 26/2/2021 Diagnosis 1 meliputi edukasi dan penjelasan yang jelas dan ringkas kepada klien tentang pengobatan, prosedur, dll, pentingnya perawatan telinga dan pembersihan telinga, serta paparan kebisingan yang berlebihan.

Evaluasi

Untuk melaksanakan Diagnosis 2 meliputi mengajarkan klien berkomunikasi secara efektif menggunakan postur dan bahasa isyarat, mengidentifikasi gerakan bibir lawan bicara dan memantau tanda-tanda vital yaitu tekanan darah: 140/100 mmHg, denyut jantung 88 x/menit, pernapasan 24 x/menit, suhu 36,5oC. Per tanggal 26 Februari 2021, Diagnosis 1 meliputi pemberian edukasi dan penjelasan pengobatan, prosedur, dan lain-lain secara jelas dan ringkas kepada klien, pentingnya merawat dan membersihkan telinga, serta tidak terlalu sering terpapar kebisingan. Selama melaksanakan asuhan keperawatan penulis tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan asuhan keperawatan karena pihak keluarga dan klien sangat kooperatif dan menerima kehadiran penulis.. feedback dari klien ketika diajak bicara. Tanda vital tekanan darah 140/100 mmHg, denyut jantung 88 x/menit, pernafasan 24 x/menit, suhu 36,5 ◦C. Berdasarkan data yang diperoleh, penulis melakukan analisis terhadap permasalahan yang belum terselesaikan dan melanjutkan intervensi.

Tanda vital TD 130/90 mmHg, nadi 84 x/menit, pernapasan 22 x/menit, suhu 36 ◦C. Dari data yang diperoleh, penulis membuat analisis terhadap masalah yang terselesaikan sebagian dan melanjutkan intervensi. Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis dapat memberikan saran sebagai berikut: 1) Bagi penderita presbikusis dan keluarganya. Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan selama 1 x 30 menit, diharapkan pasien dan keluarga dapat memahami presbikusis.

Selain itu, alat bantu pendengaran juga mampu menjadikan bunyi yang ditangkap telinga lebih jelas.

PENUTUP

Simpulan

Saran

Dapat menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang cara mengatasi masalah presbiopia dengan tindakan yang tepat sehingga masalah presbiopia teratasi. Rantung, S Petra 2018. Deskripsi Audiometri pada Lansia di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Tertinggal Senja Cerah Manado. Kholifah, Kota. 2016. Modul Materi Cetak Keperawatan Gerontologi. Jakarta: Pusdik Suranto. 2012. http://eprints.ums.ac.id/21899/13/File_2_Naskah_Publikasi_Ilmiah_.

Presbikusis merupakan gangguan pendengaran sensorineural pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ pendengaran yang berlangsung bertahap dan simetris. Operasi telinga: Prosedur pembedahan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan pendengaran akibat kerusakan pada telinga, infeksi berulang, atau kelainan pada tulang telinga.

Gambar

Gambar 2.1 klasifikasi pathway gangguan sensori pada presbikusi  Sumber : Dewi, Sofia Rosma.2015
Gambar  2.4 kerangka masalah pada presbikusis  Sumber : Istiqomah, Sarah Nabila. 2019

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan : Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien perilaku kekerasan meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi keperawatan dengan

Kesimpulan : Dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistempencernaan: gastroenteritis dimulai dari tahap pengkajian, menentukan diagnosa dan

Tujuan : Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan pencernaan : typoid meliputi pengkajian, intervensi, implementasi dan evaluasi

Tujuan : Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sitem pernafasan tuberkulosis paru yang meliputi pengkajian, intervensi, implementasi

Setelah dilakukan proses keperawatan pada Tn. R yang dimulai dari pengkajian, diagnosa, perencanaan , implementasi dan evaluasi disimpulkan diagnosa yang diperoleh dari

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk: 1) Melakukan pengkajian pada keluarga Tn. S dengan Tuberculosis paru, 2) Merumuskan dan menegakkan diagnosa

Hasil : Dari pengkajian keperawatan didapatkan analisa data yang merujuk pada lima diagnosa masing-masing dua diagnosa pre operasi yakni kurang pengetahuan,

Sedangkan pada tinjauan pustaka di Intervensi Keperawatan dengan diagnosa Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Inflamasi pada persendian dibuktikan dengan kaki yang sulit