i
’ AYAT 23
KONPARATIF TAFSIR AL-MISHBAH DAN TAFSIR AL-MARAGHI)
Oleh Sahibi
NIM. 150.216.1896
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2019
ii
KONPARATIF TAFSIR AL-MISHBAH DAN TAFSIR AL-MARAGHI)
Skripsi
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Agama (S.Ag.)
Oleh Sahibi
NIM. 150.216.1896
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN STUDI AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2019
iii
Skripsi oleh : Sahibi, NIM : 15.0.21.61.896 dengan judul : KONSEP BIRRUL WALIDAIN DALAM QS. AL-ISRA‟ AYAT 23-24 (STUDI KONPARATIF TAFSIR
AL-MISHBAH DAN TAFSIR AL-MARAGHI) telah dipertahankan di depan penguji Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi
Agama UIN Mataram.
Disetujui pada tanggal :10 Juli 2019
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. H. Moh. Tamimi, M. Ag Abdul Karim, SS., M. Hum NIP. 196702271994031003 NIP. 198206152015031003
iv Hal : Ujian Skripsi
Yang Terhormat
DEKAN FUSA UIN Mataram di Mataram
Assalaamu‟alaikum, Wr. Wb.
Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi maka kami berpendapat bahwa skripsi saudara :
Nama Mahasiswa : Sahibi
NIM : 150.216.189
Program Studi : Ilmu al-Qur‟an dan Tafsir
Judul :Konsep Birrul Walidain dalam QS. Al-Isra‟ ayat 23-24 (Studi Konparatif Tafsir Al-Mishbah dan Tafsir Al- Maraghi)
Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera dimunaqasyahkan.
Wassalaamu‟alaikum, Wr. Wb.
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. H. Moh. Tamimi, M. Ag Abdul Karim. SS., M. Hum NIP. 196702271994031003 NIP. 198206152015031003
vi
Skripsi oleh : Sahibi, NIM : 15.0.21.61.896 dengan judul : KONSEP BIRRUL WALIDAIN DALAM QS. AL-ISRA‟ AYAT 23-24 (STUDI KONPARATIF TAFSIR AL-MISHBAH DAN TAFSIR AL-MARAGHI), telah dipertahankan di depan penguji Jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Mataram pada tanggal :
________________________
Dewan Penguji Drs. H. Moh. Tamimi. M. Ag
(Ketua Sidang/Pemb. I)
Abdul Karim, SS., M. Hum (Sekertaris Sidang/Pemb.II)
Dr. H. Zainal Arifin, M. Ag.
(Penguji I)
Syamsudin, M. Pd (Penguji II)
Mengetahui,
Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama
Dr. H. M. Zaki, S. Ag. M. Pd.
NIP. 197112311997031005
vii
ِ ي َ ِل ا َولا ى َ ضِر يف ه ى َ ضِر
“ Ridha Allah dapat ditemukan pada ridha orangtua”. (H.R Ahmad)
viii
“Kupersembahkan skripsi ini untuk
Almamaterku, guruku, dosenku, Ibuku aminah, dan almarhum Bapakku Musrim, Sebagai tanda sykur dan bakti ananda karena kebaikan yang telah dicurahkan sejak ananda dalam kandungan sampai dewasa dan semua keluarga dan saudara-saudaraku tercinta.”
ix
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT., yang selalu melimpahkan karunianya terhadap peneliti, berupa kesehatan, kelapangan waktu dan kesempatan dalam melaksanakan penelitian ini. Sehingga skripsi ini dapat terselesekan dengan baik. skripsi yang berjudul “Konsep Birrul Walidain dalam QS. Al-Isra‟ ayat 23-24 (Studi Konparatif Tafsir Al- Mishbah dan Tafsir Al-Maraghi)”. Sholawat serta salam tercurahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW. yang telah memperjuangkan dari jalan yang gelap gulita menjadi terang benerang. Dan peneliti menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak- pihak yang telah membantu, yaitu mereka antara lain :
1. Dr. H. Muh. Tamimi M. Ag., selaku pembimbing I, dan Abdul Karim. SS., M.Hum., selaku pembimbing II, yang telah memberikan keluangan waktunya untuk memberikan saran, bimbingan, dan arahan selama penyusunan skripsi ini hingga bisa terselesaikan dengan baik.
2. Dr. H. Zainal Arifin, M. Ag., selaku penguji I, dan Syamsudin, M.Pd., selaku penguji II, yang telah memberikan saran konstruktif bagi penyusunan skripsi ini untuk bisa dilanjutkan ke skripsi.
3. H. Zulyadain, MA., selaku ketua program studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir
x Agama UIN Mataram
5. Prof. Dr. H.Mutawali, M. Ag., selaku Rektor UIN Mataram
6. Pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Dengan segalan jasa dan budi baik dari pihak-pihak yang tersebut diatas peneliti mengucapkan terimakasih. Semoga segala bimbingan dan kontribusi yang diberikan menjadi amal baik dan mendapatkan balasan dari Allah. Dan peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang baik untuk dunia pendidikan dan dapat berguna dan bermanfaat untuk semua pihak. Amin.
Mataram, Peneliti,
sahibi
15.0.21.61.896
xi
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL...xii
PEDOMAN TRANLITERASI ... ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Rumusan Masalah ... 7
B. Tujuan dan Manfaat ... 8
xii
D. Kerangka Teori ... 11
E. Metode Penelitian... 13
F. Sistematika Pembahasan ... 17
BAB II BIOGRAFI MUFASSIR DAN TAFSIRNYA ... 19
A. M. Quraish Shihab dan Tafsir al-Mishbah ... 19
1. Biografi M. Quraish Shihab ... 19
2. Perjalanan Karir ... 20
3. Karya-Karya M. Quraish Shihab ... 22
4. Tafsir Al-Mishbah ... 25
a. Latar belakang penulisan ... 25
b. Sistematika penulisan ... 26
c. Metode dan corak penafsiran ... 29
d. Sumber penafsiran ... 30
B. Ahmad Mustofa Al-Maraghi dan Tafsir Al-Maraghi ... 31
1. Biografi Ahmad Mustofa Al-Maraghi ... 31
2. Perjalanan Karir ... 34
3. Karya-karya Ahmad Mustofa Al-Maraghi ... 39
4. Tafsir Al-Maraghi ... 39
a. Latar belakang penulisan ... 39
b. Metode Penafsiran Ahmad Mustofa Al-Maraghi ... 43
c. Corak Penafsiran Ahmad Mustofa Al-Maraghi ... 44
xiii
e. Jumlah Juz Tafsir Al-Maraghi ... 46
C. Penafsiran M. Quraish Shihab dan Ahmad Mustofa Al-Maraghi Terhadap Konsep Birrul Walidain QS. Al-Isro‟ [17]: ayat 23- 24...46
1. Penafsiran M. Quraish Shihab...46
2. Penafsiran Ahmad Mustofa Al-Maraghi...52
BAB III ANALISIS TERHADAP PENAFSIRAN M. QURAISH SHIHAB DAN AHMAD MUSTOFA AL-MARAGHI TERHADAP KONSEP BIRRUL WALIDAIN QS. AL-ISRO’ AYAT 23-24 ... 61
A. Bentuk-Bentuk Perbuatan Birrul Walidain Dalam QS. Al-Isro‟ ayat 23-24 Dalam Tafsir Al-Mishbah Dan Al-Maraghi...61
B. Analisis Terhadap Bentuk Penggunakan Kata Birr Dalam Al- Qur‟an Arti Lafadz yang Semakna... 64
C. Analisa Terhadap Penggunaan Dua Lafadz yang Tidak Semakna Tetapi Mengandung Arti yang Sama ... 67
BAB IV PENUTUP ... 73
A. Kesimpulan ... 74
B. Saran...74
DAFTAR PUSTAKA... 76 LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1.2. Daftar nama-nama surah pada masing-masing volume dan jumlah halamannya dalam Tafsir al-Misbah, 27.
xv
ARAB LATIN ARAB LATIN ARAB LATIN ARAB LATIN
أ
a/‟د
dض
dhك
kب
b dzط
th lت
tر
rظ
zhم
mث
ts zع
„ nج
jس
sغ
ghو
wح
hش
syف
f hخ
khص
shق
qي
yā (a panjang) contoh :
َ ِلا َ مْا
: al-Mālikī (i panjang) contoh :
َ مي ِحّ لا
: al-Rahim ū (u panjang) contoh :َ ر موفَغ لا م
: al-Ghafūrxvi
ISRO’ AYAT 23
KONPARATIF TAFSIR AL-MISBAH DAN TAFSIR AL-MARAGHI
Oleh : Sahibi
NIM. 150.216.1896 ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian peneliti yang tertarik dengan kajian “konsep birrul walidain dalam qs. Al-isra‟ ayat 23-24 studi konparatif tafsir al-mishbah dan tafsir al-maraghi”.birrul walidain bermakna berbakti kepada kedua orangtua (Ayah dan Ibu) berbakti dan berbuat baik kepada kedua orangtua mengandung makna mengasihi, menyayangi, mendoakan, taat dan patuh terhadap apa yang diperintahkan. Melakukan hal-hal yang mereka sukai dan meninggalkan hal-hal yang tidak mereka sukai. Dan berbakti kepada kedua orangtua adalah membahagiakannya dengan cara melakukan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan sehari-hari secara konsisten dan dengan ketulusan hati.
penelitian ini menggunakan jenis penelitian library research atau penelitian pustaka. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metodemuqorin.
Hasil dari penelitian ini adalah penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah dan penafsiran Ahmad Mustofa Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi mengenai surah al-Isra‟ ayat 23-24, dapat disimpulkan bahwa dari segi penafsiran ayat 23-24 menujukkan orang tua mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, terhormat dan agung disisi Allah. Dan bagaimana berkhidemat pada orangtua dengan berlaku ihsan, mengucapkan qaulan karima dan memelihara orangtua di usia lanjut, dalam menafsirkan tentang ayat ini kedua mufasir sepakat bahwa dilarang keras seorang anak melukai hati orangtuanya walau dengan ucapat yang paling ringan seperti “ah”, sebagai ekspresi dari tidak hormatan anak kepada orangtuanya. Seorang anak harus merawat orangtuanya dengan sabar dan ikhlas dan hendaknya ia selalu mengatakan perkataan yang halus, santun, dan mulia karena perkataan buruk dan kasar dapat membuat orang tua merasa sedih dan tertekan juga tidak bahagia berada dalam pemeliharaan anaknya.dari segi konsep makna birr dijelaskandalam bentuk yang semakna dalam al-qur‟an, antara lain diantaranya adalah bermakna kebaikan. Selain itu, dijelaskan juga dalam bentuk yang tidak semakna dalam al-qur‟an yang ditinjau dari QS. Al-Isra‟ ayat 23- 24,bahwasanya M, Quraish Shihab dan Ahmad Mustofa Al-Maraghi sepakat bahwa konsep birrul walidain yang ditemukan adalah ihsan (berbuat
xvii
berkata ya ng mulia (karima), janah,(menjaganya jika sudah mencapai usia lanjut) dan mendoakanya. Dan dari segi bentuk M, Quraish Shihab dan Ahmad Mustofa Al-Maraghi sepakat bahwa bentuk birrul walidai yang ditemukan dalam al-qur‟an surah al-Isro‟ ayat 23-24 adalah berbakti kepada keduanya, memelihara keduanya, memuliakanya, serta mendoakanya.
Kata Kunci : M. Quraish Shihab, Ahmad Mustofa AL-Maraghi, konsep Birrul Walidain dan bentuk birrul walidain.
BAB I PENDAHULUAN
AL-Qu‟ran merupakan wahyu verbal (kalam) Allah yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk (hudan tentang jalan yang harus ditempuh manusia agar meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat). Ia merupakan kitab yang mampu memberikan pengaruh yang begitu luas dan mendalam terhadap jiwa dan tindakan manusia terutama kaum muslimin. Pengaruhnya telah merepleksikan situasi religius, ekonomi, dan politis masyarakat dunia, khususnya masarakat muslim (jam‟iyyah Islamiyyah; Islamic sĀciety) dari zaman ke zaman.1
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, dengan sempurna dan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain, diantara kelebihan tersebut manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk paling sempurna, dianugerahi akal, nafsu, dan hati nurani (qolbu) yang berfungsi penengah antara akal dan nafsu, serta diberi kebebasan oleh Allah SWT untuk menentukan pilihan hal apapun, kecuali takdir Allah SWT.2
Dalam Al-Qur‟an Allah telah memerintahkan seorang anak untuk selalu berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Allah berfirman :
ا َم ه َح َ أ َرَب ِ م
لا َك َ م ِع ّ َغ لمبَي اّمِ ا ا َ محِ ِ ميَ ِلاَوملاِبَو هاّيِ اِ او بمعَ ا َ
أ َ ّبَر ى َ ض َ َو
ََم هم َهمنَ اَو ف أ ا َم ه َ
ل مل َ ا َف ا َم ها ِ مو َ ام ِ َ اموَ اَم هَل مل َو ا أ
( ثج ) ا َم ه َ
ل مض ِف مخاَو
اريِغ َص يِاَيّبَر ا َم َ اَم هممَحمرا ِبَر مل َو ِ َممحّ لا َ ِم ِ ّ لا َحاَ َج (
ثح )
1Dadan Rusman, Tafsir Ayat-Ayat Sosial Budaya, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2014), hlm. 11.
2Sohlikin, Hubungan Perhatian Orang Tua Dan Perilaku Birrul Walidain Dengan Peserta Pendidikan Agama Islam Siswa SMAN 1 Dempet Demak, (Skripsi, Tarbiyah , IAIN Walisongo Semarang, Semarang, 2009), hlm. 2.
1
(23). Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
(24). Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24.3
Berbicara tentang orangtua pesan yang selalu tersurat dan tersirat dalam Al-Qur‟an adalah anjuran dan perintah untuk selalu memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya. Tetapi pendekatan Al- Qur‟an adalah unik. Ketika Allah SWT mengingatkan manusia untuk mematuhinya dan memujinya, Dan tidak melupakan hak-hak Allah sebagai kewajiban. serta hak-hak manusia juga harus diperhatikan.
Akan Tetapi bagi seorang anak hak-hak kedua orangtua adalah yang terpenting.4
Tugas terbesar dan terpenting yang menjadi tanggung jawab seorang anak berbakti kepada kedua orangtua. kewajiban berbuat baik dan ihsan serta menjauhi perbuatan buruk dalam menunaikan hak Ayah dan Ibu serta bersikap lembut.5 kedua orangtua adalah nikmat terbesar dalam kehidupan anak-anak keduanya memiliki kedudukan yang istimewa dalam agama Islam, kedudukan ini karena di sebabkan
3 Kementerian Agama, RI, Al-Qur’an dan Terjemah, (Bandung: Syaaml Qur’an, 2052), hlm. 284.
4Imtiaz Ahmad, Peringatan Bagi Orang yang Mengerti,(Surabaya: Arkola, 2004), hlm.
56.
5Ilyas Abu Haidir, Dari Kesalehan Individual Menuju Kesalehan Sosial,(Jakarta: Al- Huda, 2003),hlm.27-35.
pengorbanan-pengorbanan yang tanpa henti diberikan kedua orangtua dan penuh cinta dan selalu menginginkan kita berhasil.6
Melihat keadaan zaman sekarang ini, banyak kasus yang terjadi yang dinamakan tidak bakti seorang anak terhadap kedua orangtua.
karena semakin banyak perubahan terhadap pola kehidupan yang semakin berkembang dan maju, termasuk di dalamnya perhatian anak terhadap kedua orangtua yang tanpaknya cendrung menjadi tidak patuh lagi, lalai terhadap kewajibannya dan lebih sibuk dengan hal-hal yang bersifat kesenangan duniawi semata. tanpa memerhatikan kewajiban mutlak mereka. Dan banyak diantara kita yang sudah keluar dari batas perintah dengan kata lain membangkang.
Studi pendahuluan yang terjadi di daerah Lingkok Lima, Desa Stiling Kec. Batu Keliang Utara Kab. Lombok Tengah. Seorang Ibu menuturkan bahwa dia sangat merindukan anaknya, namun anak tersebut tidak pernah memikirkan keadaan dan kondisi Ibunya, lebih- lebih ibunya sudah tua. Sedangkan rumah dia dengan rumah anaknya tersebut tidak lumayan jauh. Terlebih pada hari lebaran, sang anak tidak pernah mengunjunginya.
Sebaliknya, ketika Ibu ini mendapatkan hasil dari kebun dengan kata lain mendapatkan rezeki lebih, Ibu ini ingin sekali mengunjungi anaknya, namun dia sudah tidak mampu dan tidak sanggup berpergian jauh lagi.7
6Butsainah AS-Sayyid Al-Iraki, Air Mata Orang TuaKarena Kedurhakan Anaknya, (Solo: Paris desain, 2014),hlm. 121.
7Data Wawancara,DenganSarmah, Warga Lingkok Lime, 28 Oktober 2018.
Hal serupa juga terjadi pada seorang Ibu dan seorang bapak yang menceritakan dirinya sangat sedih melihat dirinya yang gagal dalam mendidik anaknya. Ketika anaknya sudah menikah, anak tersebut sudah mulai lupa terhadap Ayah dan Ibunya, karena lebih mementingkan kasih sayangnya kepada istrinya dibanding kepada orang tuanya. Dengan kata lain dia lebih mementingkan istrinya saja tanpa memikirkan juga kedua orangtuanya.
Dapat dilihat dari sikap anak tersebut yang sudah tidak memikirkan keadaan orangtua yang sudah tua renta. Namun anak tersebut tidak pernah memikirkan keadaan orangtuanya yang seperti itu. Jelasnya kedua orangtua ini hanya bisa berharap suatu saat nanti anaknya akan berubah.8
Menurut M. Quraish Shihab ayat tersebut (Q.S. Al-Isra‟ [17]: 23- 24) mengandung penafsiran bagaimana cara seorang anak untuk berbakti kepada orangtua Pertama, Jangan mengucapkan ah/cis kepadanya. Kedua, Mengucapkan kata-kata mulia. Ketiga, Berperilaku yang menggambarkan kasih sayang sekaligus kerendahan diri di hadapan mereka. Keempat, mendo‟akan orangtua, sembari mengingat jasa-jasa mereka. Dan kalaupun orangtua sudah mencapai usia lanjut dan sudah tidak berdaya lagi, maka sebagai seorang anak janganlah membuat mereka memarahi dan mengucapkan kalimat yang mengandung pelecehan dan kejemuan kepadanya, melainkan sebagai seorang anak dalam bertutur kata menggunakan kalimat-kalimat yang mulia (lemah lembut). Karena jasa-jasa kedua orangtua tidak akan
8Data Wawancara, Dengan Salim, Warga Lingkok Lime, 9 Januari 2019.
pernah mampu dibalas dan diganti walaupun dibandingkan dengan kekayaan apapun yang diberikan oleh seorang anak, melainkan hanya dengan kebaktian yang sempurna.9
Sedangkan dijelaskan oleh Ahmad Mustofa Al-Maraghi menjelaskan makna Q.S. Al-Isra‟ [17]: 23-24 dalam tafsirnya tafsir Al- Maraghi, menjelaskan faktor-faktor yang tidak membolehkan seorang anak tidak boleh durhaka pada orangtua. Yakni karena tiga faktor, pertama: orangtua yang selalu memberikan kebaikan kepada anaknya, kedua orangtua merupakan belahan jiwa bagi anaknya, dan ketiga orangtua yang selalu memberikan kenikmatan kepada anaknya ketika anak tersebut dalam keadaan lemah dan tidak berdaya sedikitpun.10
Pesan ayat di atas berarti juga kewajiban memelihara nama baik orangtua dengan tidak melakukan satu aktivitas apa pun yang dapat mencemarkan nama mereka karena mencemarkan nama mereka adalah salah satu kedurhakaan.
Birrul walidain hanya dipahami sebagai sesuatu yang dituntut dalam masyarakat bukan kewajiban yang diperintahkan Allah kepada setiap manusia. Orangtua yang telah berusia lanjut akan kembali seperti anak kecil, memerlukan perhatian dan kasih sayang yang lebih terutama dari anak-anaknya. Namun realitanya sering dijumpai pada saat demikian seorang anak akan merasa terbebani karena orangtuanya, padahal ketika masih kecil ia juga bersikap hal yang sama bahkan mungkin lebih banyak menuntut orangtua untuk memenuhi
9M. Quraish, Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an.
(jakarta: Lentera Hati, 2002),hlm. 108.
10 Ahmad Mustafa Al-Maragi, “Terjemah Tafsir Al-Maraghi Juz 15”, ( Semarang:
PT.Karya Toha Putra, 1974), hlm. 42-50.
keinginannya, namun mereka tetap menyayangi anaknya dengan sepenuh hati.
Dari itu konsep birr yangdiajarkan dalam surah Al-Isro‟ ayat 23- 24: mengandung makna berbakti tanpa terputus. Birrul berasal dari kata
رَب - رِبَی - رِب ,
dalam lisan al-„Arabi di artikan Birrul dengan al-Shiddiqu(kebenaran) dan tha‟ah (ketaatan).11
Sedangkan dalam kamusal-Munawwir kata al-Birr bermakna ketaatan, keshalehan, kebaikan, belas kasih, kebenaran,banyak berbuat kebajikan, kedermawanan dan syurga.12
Dijelaskan juga dalam hadis: “jika mati anak adam maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sadokah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak soleh yang mendoakanya”.13
Gambaran makna kata birr dilihat dari ranah kehidupan masarakat muslim, dilihat pada makna kata mabrur pada kalimat “haji yang mabrur”. Asal kata mabrur adalah barra-yabirru. Implementasi makna tersebut bermakna perilaku yang baik dan terus-menerus bagi orang yeng sudah melaksanakan haji, artinya perilakunya menjadi lebih baik setelah melaksanakan ibadah haji dari pada perilakunya sebelumnya.
Tafsir Al-Misbah merupakan karya tafsir sesuai dengan sosio historis ke-Indonesiaan dan zaman sekarang (tafsir kontemporer).
11 Irfan Rafiq Bin Shaari, “Konsep Pembinaan Birrul Walidain Dalam Al-Qur’an (Kajian Analisis Deskriptif Tafsir Maudhu’i)” (Skripsi FDK UIN Ar- Raniry Darussalam Banda Aceh, Banda Aceh, 2017), hlm. 9.
12 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab Indonesia, (Surabaya:
Pustaka Progressif, 1997), Cet. Ke-14. hlm.73.
13 H.R. Muslim, No. 1631.
Sedangkan Tafsir Al-Maraghi merupakan tafsir generasi modern yang lahir sesuai dengan sosio historis ke-Mesiran. Sehingga mampu di analisis oleh banyak orang bagaimana seharusnya berbakti kepada kedua orangtua dalam QS. Al-Isra‟ [17] : 23-24.
Dengan persoalan beberapa pendapat tersebut, peneliti akan memfokuskan konsep birrul waalidain pada tafsir QS. Al-Isra‟ [17] : 23- 24. Dalam tafsir M. Quraish Shihab dan Ahmad Mustafa Al-Maraghi.
peneliti merasa perlu akan melakukan pengkajian lebih lanjut tentang : konsep Birrul walidain dalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 studi komparatif Tafsir Al-Maraghi Dan Tafsir Al-Misbah.
A. Rumusan Dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah
a. Bagaimana bentuk-bentuk perbuatan Birrul walidain dalam QS.
Isra‟ [17] Ayat: 23-24 dalam tafsir Al-Mishbah dan Al-Maraghi?
b. Bagaimana konsep Birrul walidain di dalam QS. Isra‟ [17] Ayat:
23-24 Menurut Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Al-Maraghi?
2. Batasan masalah
Jika merujuk pada ayat-ayat Al-Qur‟an yang membahas tentang berbakti kepada orang tua terdapat 20 ayat, yaitu surat: Al-Isra‟ Ayat:
23-24, Lukman: 14-15, Al-Mumtahanah: 4 dan 8, Al-Baqarah: 83 Al- An‟am:151, Ibrohim: 41, Maryam: 14 dan 32,47, Al-Taubah: 114, Nuh:
28, Al-Saffat: 101-109, Al-Baqarah: 215-280, Al-Ahqaf: 15,17,18, Al- Ankabut: 8, Al-Naml: 10, Al-Nisa‟: 7,36.14 Maka dalam penelitian ini,
14 Khalil M.S., Kunci Untuk Mencari Ayat AL-Qur’an, (Surabaya, PT Bina Ilmu, 1983), hlm. 35.
penulis membatasi fokus kajian pada surah Al-Isra‟ Ayat: 23-24, dengan menggunakan perbandingan tafsir Al-Mishbah dan Al- Maraghi.
B. Tujuan Dan Manfaat 1. Tujuan
a. Untuk Mengetahui konsep Birrul walidain didalam QS. Isra‟ [17]
Ayat: 23-24 Menurut Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Al-Maraghi.
b. Untuk Mengetahui bentuk-bentuk perbuatan Birrul walidain dalam QS. Isra‟ [17] Ayat: 23-24.Dalam tafsir Al-Mishbah dan Al- Maraghi.
2. Manfaat
a. Manfaat Teoritis
1) Secara teoritis penelitian ini diharapkan mampu untuk memberikan wawasan dan pengetahuan metodologi penafsiran Q.S. Al-Isra‟ : 23-24 tentang setudi perbandingan Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Al-Maraghi terhadap ayat-ayat berbakti kepada kedua orangtua.
2) Dapat memberikan masukan kepada peminat studi tafsir tentang studi perbandingan kajian Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Al-Maraghi terhadap ayat-ayat berbakti kepada kedua orangtua.
b. Manfaat Praktis
1) Secara praktis pengambilan dua tokoh yang berbeda dalam tulisan ini, agar dapat memperkaya khazanah penelitian tentang tema-tema ayat Al-Qur‟an yang berkaitan tentang
konsep Birrul walidain dalam kajian Tafsir Al-Mishbah Dan Tafsir Al-Maraghi.
2) Dapat menambah referensi serta wawasan bagi para pembaca dan diharapkan adanya penelitian lanjutan mengenai terma- terma dalam Al-Qur‟an.
C. Tinjauan pustaka
Pada dasarnya penelitian tentang berbakti pada kedua orangtua pernah diteliti oleh beberapa orang. Dan untuk menghindari terjadinya pengulangan hasil temuan, Maka peneliti akan memaparkan beberapa karya ilmiah yang menjelaskan tentang berbakti kepada kedua orangtua Antara lain:
1. Skripsi yang ditulis oleh Maulida Adawiyah Mahasiswa Fakultas Usuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2017. Dengan judul Berbakti Kepada Orangtua Dalam Ungkapan Al-Qur‟an (Pendekatan teori anti sinonimitas), Skripsi ini menjelaskan teori anti sinonimitas dan menggali secara mendalam ketiga kosa kata dan mempokuskan pada tiga kosa kata yang memiliki arti berbakti atau berbuat baik kepada kedua orangtua dalam ungkapan Al-Qur‟an yaitu kata: birr, ihsan dan ma‟ruf.
Sedangkan skripsi ini lebih terfokus pada makna birr, kemudian membandingkanya dengan kedua kitab tafsir, yakni tafsir AL- Misbah karya M. Quraish Shihab dan tafsir Al-Maraghi karya
Mustafa Al-Maraghi terhadap penafsiran QS. Al-Isra‟ ayat: 23-24.
Tentang Birrulwalidain.15
2. Selanjutnya skripsi yang ditulis oleh Irfan Rafiq Bin Shaari Mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh 2017. Dengan judul skripsi Konsep Pembinaan Birrulwalidain dalam Al-Qur‟an (Kajian Analisis Deskriptif Tafsir Maudhu‟i) skripsi tersebut menjelaskan kajian Analisis Deskriptif Tafsir Maudhu‟i dan menggali secara mendalam, Dalam membahas skripsi tersebut penulis menggunakan metode content analysis atau analisis isi.
Sedangkan penelitian ini menggunakan metode muqorin dengan jenis penelitian library research (penelitian pustaka).16
3. Skripsi yang ditulis oleh Cahyaningrum Wulan Suci Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dengan judul skripsi: Implementasi Kandungan Al-Qur‟an Surat Isra‟ Ayat 23-24 Pada Pendidikan Anak Dalam Keluarga Muslim (Studi Kasus 5 Keluarga Muslim di Dusun Bunder Banara Galur Kulon Progo). Skripsi tersebut, metode pengumpulan datanya menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pendidikan keluarga dalam Kandungan Al-Qur‟an Surat Isra‟ Ayat 23-24, dan implementasinya terhadap Pendidikan Anak Dalam Keluarga Muslim Studi Kasus 5 Keluarga Muslim Di Dusun Bunder Banara Galur Kulon Progo Yogyakarta. Sedangkan, skripsi ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
15 Adawiyah, Berbakti Kepada Orangtua Dalam Ungkapan Al-Qur’an (Pendekatan teori anti sinonimitas), (Skripsi Fakultas Usuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2017).hlm. 7-80.
16Irfan Rafiq Bin Shaari, “Konsep..., hlm. 17-18.
dokumentasi pada konsep Birrul walidain dalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 studi komparatif Tafsir Al-Maraghi Dan Tafsir Al-Mishbah..17
Dengan demikian kajian ini bukan pengulangan dari penulisan sebelumya. Melainkan ingin melihat bagaimana penafsiran Al-Qur‟an terhadap konsep Birrul Walidaindalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 dalam tafsir AL-Mishbah karya M. Quraish Shihab dan tafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah penelitian terdahulu.
D. Kerangka Teori
1. Tinjauan tentang Birrul walidain a. Pengertian Birrul walidain
Al-Birr yaitu kebaikan, berdasarkan sabda Rasulullah SAW, (Artinya) : Al-Birr adalah baiknya akhlak. (Diriwayatkan oleh Muslim dalam sahihhnya Nomor 1794.18
Al-Birr merupakan hak kedua orangtua dan kerabat dekat, lawan dari Al-Uquuq yaitu kejelekan dan menyia-nyiakan haq. Al-Birr adalah mentaati kedua orangtua didalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al- „Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya. (Disebutkan dalam kitab Ad Durul Mantsur 5/259).19
17Cahyaningrum Wulan Suci, : Implementasi Kandungan Al-Qur’an Surat Isro’ Ayat 23-24 Pada Pendidikan Anak Dalam Keluarga Muslim (Studi Kasus 5 Keluarga Muslim di Dusun
18 H.R. Muslim, Nomor. 1794.
19Abdul Aziz Bin Fathi as-Sayyid Nada, Birrul Walidain, Terj. Abu Hamzah Yusuf Al- Atsari, (Islamhouse. Com, 2009), hlm.3.
Birrul walidain bermakna berbuat baik atau berbakti kepada orangtua (Ayah dan Ibu). Berbakti dan berbuat baik kepada orangtua mengandung makna mengasihi, menyayangi, mendo‟akan, taat dan patuh terhadap apa yang mereka perintahkan. melakukan hal-hal yang mereka sukai dan meninggalkan hal-hal yang tidak mereka sukai yang semuanya itu disebut “birrul walidain”.20
Pengertian orangtua menurut W.J.S. Perwadarminta yaitu: orang yang sudah tua Ibu dan Bapak. Sedangkan pengertian orangtua menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah : Ayah Ibu kandung, orang yang dianggap tua (cerdik pandai, ahli dan sebagainya), orang-orang yang dihormati (disegani).21
Seorang ahli psikologi, Ny. Singgih D Gunarsa dalam bukunya Psikologi Untuk Keluarga mengatakan, “Orang tua adalah dua individu yang berbeda memasuki hidup bersama dengan membawa pandangan pendapat dan kebiasaan- kebiasaan sehari-hari. Sedangkan Menurut Miami M. Ed, yang dikutip oleh Kartini Kartono : “Orangtua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab
20Irfan Rafiq Bin Shaari, Konsep,..hlm. 76-77.
21Nupus Hayati, “Kedudukan orang tua Persfektif Al-Qur’an surah Al-Isra’ Dan Surah Lukman Studi Komparatif Antara Tafsir Al-Azhar Dan Tafsir Al-Misbah, (Tesis, Program Pascasarjana IAIN Surakarta, 2016), hlm. 38-39.
sebagai Bapak dan Ibu dari anak-anak yang dilahirkannya.22AL- Walidain artinya ayah dan ibu untuk kedua orang tua biologis.23 b. Konsep Birrul walidain
Menurut Imam Hasan Al-Bashri ra. yang dikutip oleh Majdi Fathi Sayyid berkata: Berbakti kepada orangtua yaitu engkau mentaati segala apa yang mereka perintahkan kepadamu selama perintah itu bukan maksiat kepada Allah.24
Menurut Gumilar Somantri, Akademisi Rektor Universitas Indonesia dalam bukunya Arya Sandhiyuda dengan judul Birrul walidain. Berbakti kepada kedua orangtua adalah membahagiakan dengan cara melakukan tindakan-tindakan kecil yang dilakukan sehari-hari secara konsisten dan dengan ketulusan hati.25
E. Metode Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian Kepustakaan (library research). Dengan menggunakan pendekatan Tafsir Muqaran. Penelitian pustaka (library research) adalah penelitian yang dilakukan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan. Menurut Iqbal penelitian kepustakaan disebut juga library research, yaitu penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan
22Ibid, hlm.40.
23Muhammad Syakir, Nasehat Ayah Kepada Anaknya Agar Menjadi Manusia Berakhlak Mulia, (Surabaya: Al-Hidayah, T.tt), hal.28
24Ibid, hlm.18.
25Arya Sandhiyudha, Birrulwalidain Berbaktilah Karena Setiap Manusia Adalah Anak Dari Ibu-Bapaknya, (Jakarta: Pustaka Ikadi, 2010), hlm. iv.
literatur (kepustakaan) baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari peneliti terdahulu.26
Pendekatan tafsir muqaran merupakan pendekatan penafsiran yang bersipat perbandingan dengan menggunakan membandingkan ayat-ayat Al-Qur‟an yang berbicara tentang tema tertentu atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan hadis- hadis Nabi, termasuk hadis-hadis yang makna tekstualnya tanpa kontradiktif dengan Al-Qur‟an atau membandingkan Al-Qur‟an dengan kajian-kajian lainya. Jadi dengan metode ini penulis dapat membandingkan pendapat M. Quraish Shihab dengan Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam menafsirkan surah al- Isra‟ ayat 23-24 yang sepesifikasinya berkaitan dengan Birrul Walidain.
2. Sumber Data
a. Sumber data primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek penelitian yang dilakukan.27 Terkait dengan sumber data sebagai bahan dasar dalam penelitian ini, studi pustaka dilakukan dengan cara merujuk kepada Al-Qur‟an karena penulis menggunakan satu surah yang ada dalam Al-Qur‟an yakni surah Al-Isro‟. selain itu juga penulis menggunakan Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab danTafsir Al-Maraghi karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi.
27Syofian Siregar, Metode Penelitian Kuantitatif: Dilengkapi Dengan Perbandingan Perhitungan Manual Dan SPSS, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm.16.
b. Sumber data sekunder
Data sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahanya.28 Sumber atau data sekunder yang dijadikan sebagai literatur oleh penulis yaitu dari buku-buku yaitu birrul walidain wawasan al- qur‟an tentang berbakti kepada ibu bapak, karya Quraish shihab, nasehat ayah kepada anaknya agar menjadi manusia berakhlak mulia karya Mumamad Syakir, air mata orangtua karena kedurhakaan anaknya karya Butsainah As-Ssayid Al- Iraki, Birrul Walidain ( berbaktilah karena setiap manusia adalah anak-anak dari ibu bapak) karya Arya Shandiyudha. Selian itu, penulis juga menggunakan jurnal, maupun artikel dan lain sebagaiannya yang masih berkaitan dengan tema yang akan diteliti.
3. Teknik Pengumpulan Data
Nasir mengatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan alat-alat ukuran yang diperlukan dalam melaksanakan suatu penelitian.29 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Dokumentasi. dalam pengumpulan data penelitian ini dimaksudkan sebagai cara mengumpulkan data dengan mempelajari dan mencatat bagian-bagian yang dianggap penting dari berbagai risalah resmi Dokumentasi ditunjukan untuk memperoleh data langsung dari instasi atau lembaga meliputi buku-buku, laporan kegiatannya diinstasi atau lembaga yang relevan dengan fokus
28Ibid., hlm.16.
29Riduan, Metode dan Teknik Menyusun Proposal Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2015), hlm.72.
penelitian.30 Dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data atau dokumen yang terkait dengan konsepBirrul walidain dalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 studi komparatif Tafsir Al- Maragi dan Tafsir Al-Mishbah.
Jadi, penulis berupaya melakukan penelitian dengan mengumpulkan buku-buku, jurnal, skripsi, tesis, dan sumber- sumber lain yang mempunyai pembahasan tentang Birrul Walidain.
Penulis juga mengumpulkan karya-karya dengan medokumentasikan atau memfoto jurnal, buku-buku yang terdapat di perpustakaan sebagai tambahan refrensi.
4. Teknik Analisis Data
Analisis Data adalah proses pencarian dan pengaturan secara sistematik. Analisis data kualitatif adalah pengujian sistematik dari sesuatu untuk menetapkan bagian-bagianya, hubungan antar kajian, dan hubunganya terhadap keseluruhanya.31 Setelah data-data penelitian terkumpulkan dari sumber-sumber yang dijadikan sebagai objek penelitian, selanjutnya penulis menentukan metode yang digunakan untuk melakukan analisis terhadap data-data yang ditemukan. Maka metode yang sesuai dengan jenis penelitian penulis adalah metode content analisis (analisis isi). content analisis (analisis isi) merupakan metode penelitian yang secara sistematis bekerja
30Ibid., hlm.72.
31Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan praktik, (Jakarta : Bumi Aksara, 2017), hlm.210.
melalui transkrip yang untuk mensepesifikkan karakteristik dalam teks.32
Jadi, pneliti berupaya untuk membandingkan tafsir Al-Misbah dan tafsir Al-Maraghi dalam memahami konsep Birrul Walidain dalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 dalam Tafsir al-Mishbah dan tafsir al- Maraghi tersebut, dan menjelaskan konsep dan bentuk-bentuk birrul waalidain yang diajarkan oleh ayat tersebut.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk mendapatkan pembahasan yang sistematis dalam penelitian ini, maka perlu mempunyai gambaran secara singkat mengenai bagaimana sistematika pembahasan dalam penelitian ini.
Adapun sistematika pembahasan yang akan dipaparkan dalam penelitian ini adalah :
Bab I Berisi tentang pendahuluan, yang mana terdiri dari latar belakang masalah, rumusan, tujuan dan manfaat penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II Membahas tentang biografi tokoh, terdiri dari riwayat hidup M. Quraish Shihab dan Ahmad Mustafa Al-Maraghi, riwayat pendidikan, karya-karya, dan latar belakang penamaan Tafsir al- Mishbah Karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Mishbah karya Ahmad Mustafa Al-Maraghi.
Bab III Berisi tentang pembahasan mengenai Birrul walidain.
Pada bab ini akan diulas berkaitan dengan pengertian Birrul walidain,
32Catherine Dawson, Pratical Research Methods: Metode Penelitian Praktis, terj. M.
Widiono, Saifuddin Zuhuri Qudsy, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 145.
prinsip, urgensi, dan bentuk-bentuk Birrul walidain bagi kehidupan kaum muslim.
Bab IV memfokuskan penafsiran M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, dan Ahmad Mustafa Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi dalam mengkaji QS. al-Isra‟ ayat 23-24 dengan metode muqaran dalam memahami konsep Birrulwalidain dalam Q.S Al-Isra‟ [17] : 23-24 studi komparatif Tafsir Al-Maraghi dan Tafsir Al-Mishbah. Kemudian menganalisis perbandingan kedua penafsir tersebut dengan metode content analysis (analisis isi).
Bab V merupakan bab terakhir yakni penutup. Pada bab ini akan diulas kesimpulan dari hasil penelitian dan saran.
BAB II
BIOGRAFI M. QURAISH SHIHAB DAN AHMAD MUSTOFA AL- MARAGHI DAN PENAFSIRNYA TERHADAP QS. AL-ISRA’ [17] AYAT
23-24.
A. Biografi M. Quraish Shihab
M. Quraish Shihab lahir di Rappang Sulawisi Selatan pada tanggal 16 Februari tahun 1944. Ia berasal dari keturunan Arab terpelajar.Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab (1905-1986), meskipun seorang ulama tafsir dan guru besar dalam bidang tersebut.
di IAIN Alaudin Ujung Pandang. disamping sebagai wiraswastawan, Abdurrahman Shihab sudah aktif mengajar dan berdakwah sejak masih muda. Namun ditengah kesibukanya itu, Ia masih selalu menyempatkan diri dan meluangkan waktu pagi dan petang untuk membaca Al-Qur‟an dan kitab-kitab tafsir.33
Sejak masa kanak-kanak M. Quraish Shihab dan saudara- saudarnya dikumpulkan oleh Ayahnya untuk diberi nasehat dan petuah-petuah keagamaan. Belakang M. Quraish Shihab mengetahui bahwa petuah-petuah keagamaan dari orangtuanya itu ternyata merupakan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dan hadis Nabi Muhammad SAW. sedemikian berkesannya nasihat dan petuah orang tuanya itu dihati M. Quraish Shihab sampai Ia dewasa. M. Quraish
33Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Misbah M. Quraish Shihab Kajian Atas Amtsal Al- Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. 1, 2012), hlm. 9.
19
Shihab mengaku bahwa hingga detik ini petuah-petuah itu masih terngiang-ngiang ditelinganya.34
Pada saat-saat berkumpul dengan keluarga semacamnya, Ayahnya juga menjelaskan tentang kisah- kisah dalam Al-Qur‟an.
Tampaknya suasana keluarga yang serba bernuansa qur‟ani itulah yang telah memotivasi dan menumbuhkan minat M. Quraish Shihab untuk mendalami Al-Qur‟an. Sampai-sampai ketika masuk belajar di Universitas Al-Azhar Mesir M. Quraish Shihab rela mengulang setahun agar dapat melanjutkan studi di jurusan tafsir, padahal jurusan-jurusan yang lain telah membuka pintu lebar untuk dirinya.35
1. Perjalanan Karir
M. Quraish Shihab menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang. Kemudian melanjutkan pendidikan menengahnya di Malang. sambil “nyantri” di pondok pesantren Darul-Hadits Al- Faqihiyyah. Pada tahun 1958.M. Quraish Shihab berangkat ke kairo Mesir dan diterima di kelas II Tsanawiyyah Al-Azhar. Pada tahun 1967. M. Quraish Shihab meraih gelar Lc (S-1) pada Fakultas Ushuluddin pada Jurusan Tafsir dan Hadis Universitas Al-Azhar.
kemudian M. Quraish Shihab melanjutkan pendidikanya di Fakultas yang sama dan pada tahun 1969. Dan meraih gelar MA untuk
34Ibid., hlm.10.
35Ibid., hlm. 11
sepesialisasi bidang Tafsir Al-Qur‟an dengan tesis berjudul AL-I‟jaz Al- Tasyri‟iy li Al-Qur‟an Al-Karim.36
Sekembalinya ke ujung pandang, M. Quraish Shihab dipercayakan menjabat Wakil Rektor Bidang Akademisi dan Kemahasiswaan pada IAIN Alaluddin Ujung Pandang. Kecuali itu M.
Quraish Shihab juga diserahi jabatan-jabatan lain baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Di dalam kampus M. Quraish Shihab diserahi jabatan sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur. Maupun di luar Kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang Pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang M. Quraish Shihab juga sempat melakukan berbagai penelitian antara laian penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur”.37
Pada tahun 1980. M. Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikanya di Almamaternya yang lama, Universitas Al-Azhar. Pada tahun 1982. Dengan disertasi berjudul Nazham Al- Durar li Al-Biqa‟iy, Tahqiq wa Dirasah, M. Quraish Shihab meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur‟an (dengan yudisium summa cum laude disertai penghargaan tingkat pertama).38
36M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Pungsi dan peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 2007), Cet, XXXI, hlm. 3.
37Ibid., hlm.4.
38M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an (Tafsir Maudu’i atas Pelbagi Persoalan Umat), (Bandung: Mizan, Cet. 3, 1996), hlm. 5.
Sekembalinya ke Indonesia sejak tahun 1934. M. Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu juga di luar kampus, M. Quraish Shihab juga dipercayakan menduduki berbagai jabatan, antara lain Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashih Al-Qur‟an Departmen Agama (sejak 1989), anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989). Anggota Lajnah Pentasihah Al-Qur‟an Departemen Agama sejak tahun 11989. Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional tahun 1939. Dan ketua lembaga Pengembangan.39
M. Quraish Shihab, juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain pengurus Perhimpunana Ilmu-ilmu Syari‟ah, pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Departmen Pendidikan, dan Kebudayaan, serta Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Disela-sela berbagai kesibukannya itu, M. Quraish Shihab juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan imiah di dalam maupun di luar negeri.40
Tidak kalah pentingnya juga M. Quraish Shihab sangat aktif dalam kegiatan tulis-menulis. Ia menulis di harian pelita, dalam rubrik “Pelita Hati”, penulis tetap rubrik “ Tafsir Al-Amanah” dalam majalah Ulumul Qur‟an dan Mimbar Ulama, dan lain-lain. Selain menulis di media, ia juga aktif menulis buku. Tidak kurang 28 judul
39 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Pungsi..., hlm. 3.
40Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Misba..., hlm. 12
buku telah ia tulis dan terbitkan yang sekarang beredar di tengah- tengah masyarakat.41
3. Karya – Karya M. Quraish Shihab
M. Quraish Shihab adalah ulama dan intelektual yang fasih dalam berbicara dan lancar dalam menulis. Ia sangat produktif menghasilkan karya-karya tulis ilmiah, disamping memberikan ceramah dan persentasi dalam berbagai forum ilmiah. Kemampuan demikian, fasih bebicara dan lancar menulis, tidak banyak ilmuan yang memilikinya. Karya-karya M. Quraish Shihab yang telah dipublikasikan ialah:
a. Tafsir al-Manar; Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang, IAIN Alauddin, 1984)
b. Filsafat Hukum Islam (Jakarta; Depaag 1987)
c. Mahkota Tuntunan Ilahi; Tafsir Surat al-Fatihah (Jakarta; Untagma tahun 1988)
d. Membumikan al-Qur‟an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung; Mizan, 1992)
e. Studi Keritik Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994) f. Lentera Hat: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Bandung: Mizan,
1994)
g. Untaian Permata Buat Anakku: Pesan al-Qur‟an untuk Memāelai (Jakarta; al-Bayan, 1995)
41Ibid., hlm. 13
h. Wawasan al-Qur‟an; Tafsir Maudhu‟I atas Pelbagai PersĀalan Umat (Bandung; Mizan, 1996)
i. Hidangan Ilahi; Tafsir Ayat-Ayat Tahlil (Jakarta; Lentera Hati,1997)
j. Tafsir al-Qur‟an al-Karim: Tafsir Surah-surah Pendek Berdasar Urutan Turunya Wahyu (Bandung; Pustaka Hidayah, 1997).
k. Mukjizat al-Qur‟an Ditinjau dari Asāek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah, dan Pemberitauan Gaib (Bandung: Mizan, 1997).
l. Sahur Bersama Quraish Shihab di RCTI (Bandung; Mizan, 1999) m. Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul al-Husna dalam Persepektif al-
Qur‟an (Jakarta;Lentera Hati, 1998)
n. Haji Bersama Quraish Shihab: Panduan Praktis untuk Menuju Haji Mabrur (Bandung; Mizan, 1999)
o. Fatwa-Fatwa Seputar Ibadah Mahdhah (Bandung; Mizan, 1999) p. Yang Tersembunyi; Jin, Setan, dan Malaikat dalam al-Qur‟an dan
as-Sunnah sarta Wacana Pemikiran Ulama Masa Lalu dan Masa Kini (Jakarta;Lentera Hati, 1999)
q. Fatwa-fatw: Seputar al-Qur‟an dan Hadis (Bandung: Mizan, 1999) r. Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab (Jakarta; Republika,
2000)
s. Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul al-Husna dalam Persepektif al- Qur‟an (Jakarta;Lentera Hati, 2000)
t. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an (Jakarta: Lentera Hati, 2000)
u. Perjalanan Menuju Keabadian, Kematian, Surga, dan Ayat-ayat Tahlil (Jakarta: Lentera Hati, 2001)
v. Panduan Sholat Bersama Quraish Shihab (Jakarta; Republika, 2003)
w. Kumpulan Tanya Jawab Bersama Quraish Shihab: Mistik, Seks, dan Ibadah (Jakarta: Republika, 2004)
x. Logika Agama: Kedudukan Wahyu dan Batas-batas Akal dalam Islam (Jakarta: Lentera Hati, 2005)
y. Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendikiawan Kontenporer, Jilbab Pakian Wanita Muslimah (Jakarta: Lentera Hati, 2006) z. Dia di Mana-mana; Tangan Tuhan Di balik Setiap Fenomena
(Jakarta: Lentera Hati, 2006)
1) Peremāuan: dari Cinta samāai Seks, dari Nikah Mut‟ah samāai Nikah Summah, dari Bias Lama Smpai Bias Baru (Jakarta:
Lentera Hati, 2006)
2) Menjemput Maut: Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. (Jakarta:
Lentera Hati, 2006).42 4. Tafsir Al Misbah
a. Latar Belakang Penulisan
M. Quraish Shihab melihat bahwa masyarakat muslim Indonesia sangat mencintai dan menganggumi Al-Qur‟an. Hanya saja sebagian dari mereka itu hanya kagum pada bacaan dan lantunan dengan menggunakan suara merdu.43
42Ibid., hlm. 13-15.
43Atik Wartini, “Corak Penafsiran M. Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Misbahi”, Hunafa : Jurnal Studia Islamika, Vol. 11, Nomor 1, Juni 2014, hlm. 112.
Beberapa tujuan M. Quraish shihab menulis Tafsir Al-Misbah adalah: Pertama, memberikan langkah yang mudah bagi umat Islam dalam memahami isi dan kandungan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan jalan menjelaskan secara rinci tentang pesan-pesan yang dibawa oleh Al-Qur‟an, serta menjelaskan tema-tema yang berkaitan dengan perkembangan kehidupan manusia. Karena menurut M. Quraish Shihab walaupun banyak orang berminat memahami pesan-pesan yang terdapat dalm Al-Qur‟an, namun ada kendala baik dari segi keterbatasan waktu, keilmuan, dan kelangkaan reprensi sebagai bahan acuan.
Kedua, ada kekeliruan umat Islam dalam memaknai fungsi Al- Qur‟an. Misalnya, tradisi membaca Q.S. Yasin berkali-kali, tetapi tidak memahami apa yang mereka baca berkali-kali tersebut. Indikasi tersebut juga terlihat dengan banyaknya buku-buku tentang fadilah- fadilah surat-surat Al-Qur‟an. Dari kenyataan tersebut perlu untuk memberikan bacaan baru yang menjelaskan tema-tema atau pesan- pesan Al-Qur‟an pada ayat-ayat yang mereka baca.
Ketiga, kekeliruan itu tidak hanya menambah pada level masyarakat terpelajar yang berkecimpung dalm dunia studi AL- Qur‟an apalagi jika mereka membandingkan dengan karya ilmiyah, banyak diantara mereka mengetahui bahwa sistematika penulisan Al- Qur‟an mempunyai aspek pendidikan yang sangat menyentuh.
Keempat, adanya dorongan dari umat islam Indonesia yang menggugah hati dan membulatkan tekad M. Quraish Shihab dalm menulis Tafsir Al-Mishbah dengan cara menghidangkanya dalam
bentuk tema-tema pokok dalm Al-Qur‟an dan hal itu menunjukkan betapa serasinya ayat-ayat dan setiap surah dengan temanya, tentunya hal ini akan sangat membantu dalam meluruskan pemahaman tentang tema-tema dalam Al-Qur‟an.44
5. Sistematika Penulisan
Tafsir al-Misbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab berjumlah XV volume, mencangkup keseluruhan isi Al-Qur‟an sebanyak 30 Juz. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati, Jakarta, pada 2000. Kemudian dicetak lagi untuk yang kedua kalinya pada 2004. Dari kelima belas volume kitab, masing- masing memiliki ketebalan halaman yang berbeda-beda, dan jumlah surah yang dikandung pun juga berbeda. Agar berikut ditampilkan tabel yang berisi nama-nama surah pada masing-masing volume serta halamanya.
No. volume Isi Jumlah
Halaman 1 I QS. : Al-Fatihah s/d QS. Al-Baqarah 624
2 II QS. Ali-„Imran s/d An-Nisa, 659
3 III QS. Al-Ma‟idah 257
4 IV QS. Ma‟idah 257
5 V QS. Al-A‟raf Al-Anfal s/d At-Taubah 765
6 VI QS. Yunus s/d Ar-Ra‟d, 611
7 VII QS. Ibrahim s/d Al-Isra‟ 585
8 VIII QS. Al-Kahf s/d Al-Anbiya‟ 524
44Ibid, hlm. 113.
9 IX QS. Al-Hajj s/d Al-Furqan, 554 10 X QS. Asy-Syu‟ara s/d Al-„Ankabut 547
11 XI QS. Ar-Rum s/d Yasin, 582
12 XII QS. Ash-Shaffat s/d Az-Zukhruf 601 13 XIII QS. Ad-Dukhan s/d Al-Hasyr 586 14 XIV QS. Al-Mumtaharah s/d Abasa 965
15 XV QS. At-Takwir s/d An-Nas 644
Total 8.600
M. Quraish Shihab dalam menyajikan uraian tafsirnya menggunakan tartib mushaf. Maksudnya, di dalam menafsirkan Al- Qur‟an, M. Quraish Shihab mengikuti urutan-urutan sesuai dengan susunan ayat-ayat dalam mushaf, ayat demi ayat, surah demi surah, yang dimulai dari Surah al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah an- Nas.45
Diawal setiap surah, sebelum menafsirkan ayat-ayatnya, Quraish Shihab terlebih dahulu memberikan penjelasan yang berfungsi sebagai pengantar untuk memasuki surah yang akan ditafsirkan. Cara ini M. Quraish Shihab lakukan ketika hendak mengawali penafsiran pada tiap-tiap surah.
Pengantar tersebut memuat penjelasan-penjelasan antara lain sebagai berikut.
a. Keterangan jumlah ayat pada surah tersebut dan tempat turunya, apakah ia termasuk surah Makiyah atau Madaniyah.
45Ibid., hlm. 20-22.
b. Penjelasan yang berhubungan dengan penamaan surah, nama lain dari srah tersebut jika ada, serta alasan mengapa diberi nama demikian, juga keterangan ayat yang dipakai untuk memberi nama surah itu, jika nama surahnya diambil dari suatu ayat dalam surah itu.
c. Penjelasan tentang tema sentral atau tujuan surah.
d. Keserasian atau munasabah antara surah sebelum dan sesudahnya.
e. Keterangan nomor urut surah berdasarkan urutan mushaf dan turunya, disertai keterangan nama-nama surah yang turun sebelum ataupun sesudahnya serta munasabah antara surah- surah itu.
f. Keterangan tentang asbab an-nuzul surah, jika surah itu memiliki asbab an-nuzul.46
6. Metode dan Corak Penafsiran
Metode penafsiran yang digunakan oleh M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir al-Mishbah, memakai metode tahlili, karena dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an M. Quraish Shihab memberikan perhatian sepenuhnya kepada semua aspek yang terkandung dalam ayat yang ditafsirkannya dengan tujuan menghasilkan makna yang benar dari setiap ayat sesuai urutan bacaan yang terdapat dalam mushaf Al-Qur‟an.
Selanjutnya jika dilihat bentuk tinjuan dan kandungan informasi yang ada di dalamnya maka dapat dikatakan bahwa Qur‟an
46 Mahfudz Masduki, Tafsir Al-Misba..., hlm. 23.
M. Quraish Shihab menggunakan sekaligus dua macam corak penafsiran yaitu: bi al-Ma‟tsur atau bi riwayah dan bi ar-ra‟yi. Sebab disamping Qur‟an M. Quraish Shihab menafsirkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, dan ayat dengan pendapat sahabat dan tabi‟in, juga kelihatan di sana-sini bahwa M. Qur‟an Quraish menggunakan pemikiran akalnya dan ijtihadnya untuk menafsirkan ayat-ayat al- Qur‟an.
Namun demikian, jika yang dipakai sebagai ukuran untuk menentukan corak kitab tafsir adalah ghalib-nya atau keumuman cakupan isi kitab tafsir tersebut, maka tafsir al-Misbah lebih condong untuk disebut sebagai corak kitab tafsir bi al-Ma‟tsur. Dari segi coraknya, tafsir tersebut adabi Ijtimai.47
7. Sumber Penafsiran
Untuk menyusun kitab Tafsir al-Misbah, M. Quraish Shihab mengemukakan sejumlah kitab tafsir yang ia jadikan sebagai rujukan atau sumber pengambilan. Kitab-kitab rujukan itu secara umum telah ia sebutkan dalam ”sekapur sirih” dan “pengantar” kitab tafsirnya yang terdapat pada volume 1, kitab tafsir al-Misbah.
selanjutnyakitab-kitab rujukan itu dapat dijumpai bertebaran di berbagai tempat ketika ia menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an.
Sumber-sumber pengambilan dimaksud di antarnya: Shahih al-Bukhari karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari; Shahih Muslim karya Muslim bin Hajjaj; Nazam al-Durar karya Ibrahim bin Umar al- Biqa‟i; Fi Zhilal al-Qur‟an karya Sayyid Qutub; Tafsir al-Mizan karya
47Ibid., hlm. 36.
Muhammad Husain al-Thaba‟i; Tafsir Asmaul Husna karya al-Zajjaj;
Tafsir al-Qur‟an al-Azhim karya Ibnu Kasir; Tafsir Jalalain karya Jalaludin al-Mahalli dan Jalaludin al-Suyuthi; Tafsir al-Kabir karya Fakhruddin ar-Razi; al-Kasyaf karya az-Zamakhsyari; Nahwu Tafsir al-Maudu‟i karya Muhammad al-Ghazali; al-Dur al-Manshur, karya al- Suyuti; at-Tabrir wa at-Tanwir karya Muhammad Thahir ibnu Asyur;
Ihya‟ Ulumuddin, Jawahir al-Qur‟an karya Abu Hamid al-Ghazali;
Bayan I‟jaz al-Qur‟an karya al-Khaththabi; Mafatih al-Ghaib karya Fakhruddin ar-Razi; al-Burhan karya al-Zarkasyi; Asrar Tartib al- Qur‟an,dan Al-Itqan karya as-Suyuti; al-Naba‟ al-Azhim dan al- Madkhan ilaal-Qur‟an al-Karim karya Abdullah Darraz; al-Manar karya Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Rida; dan lain-lain.48 B. Biografi Ahmad Mustafa Al-Maraghi
Nama lengkap Al-Maraghi adalah Ahmad Musthafa Ibn Musthafa Ibn Muhammad Ibn Abdul Mun‟in al-Qadhȋ al- Maraghi, Ia lahir pada tahun 1300 H/1883 M di kota al-Maraghah, Propinsi Suhaj kira-kira 700 Km arah selatan kota kairo. Menurut Abdul Aziz, Al- Maraghi yang dikutip oleh Abdul Djalal, kota Al-Maraghah adalah Ibukota Kabupaten Al-Maraghah yang terletak ditepi barat sungai Nil, berpenduduk sekitar 10.000 orang, dengan penghasilan utama gandum, kapas dan padi.49
Ahmad MusthafaAl-Maraghi, berasal dari kalangan ulama yang taat dan menguasai berbagai bidang ilmu agama, hal ini dapat
48Ibid., hlm.37-38.
49Hasan Zaini, Tafsir Tematik Ayat-ayat Kalam Tafsir Al-Maraghi,(Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), hlm. 15.
dibuktikan, lima dari delapan orang putra laki-laki Syekh Musthafȃ Al-Maraghi ( ayah Ahmad Musthafȃ Al-Maraghi) adalah ulama besar yang cukup terkenal, yaitu:
a. Syekh Muhammad Musthafȃ Al-Maraghi yang pernah menjadi Syekh al-Azhar dua periode; tahun 1928-1930 dan 1935-1945.
b. Syekh Ahmad Musthafȃ Al-Maraghi, pengarang Tafsir Al-Maraghi.
c. Syekh Abdul Aziz Al-Maraghi, dekan Fakultas Ushuluddin Unuversitas Al-Azhar dan Imam Raja Faruq.
d. Syekh Abdullah Mustafa Al-Maraghi, Inspektur Umum pada Universitas Al-Azhar.
e. Syekh Abul Wafa Mustafa Al-Maraghi, sekertaris badan penelitian dan pengembangan Universitas Al-Azhar.50
Disamping itu, ada 4 orang putra Ahmad Musthafȃ Al- Maraghi, menjadi hakim, yaitu:
a. M. Aziz Ahmad Al-Maraghi, hakim di kairo.
b. A. Hamid Al-Maraghi, hakim dan penasehat menteri kehakiman di kairo.
c. Asim Ahmad Al-Maraghi, hakim di kuait dan di pengadilan Tinggi kairo.
d. Ahmad Midhat Al-Maraghi, , hakim di pengadilan Tinggi di kairo dan Wakil menteri pengadilan di kairo.51
50M. Khairul Hadi, “karaktiristik Tafsir Al-Maraghi dan Penafsiran Tentang Akal”, Hunafa, Vol. 11, No. 1. Juni 2014. Hlm. 157.
51http://ilmu-ushuluddin.blogspot.com/2016/12/metodologi-penafsiran-tafsir-al- maraghi.html?m=1, diakses tanggal 04 juli 2019, pukul 09.21.
Selain Ahmad Mustofa Al-Maraghi keturunan ulama yang menjadi ulama, ia juga berhasil mendidik putra-putranya menjadi ulama dan sarjana yang senantiasa mengabdikan dirinya untuk masyarakat, dan bahkan mendapatkan kedudukan penting sebagai hakim pada pemerintahan mesir.Sebutan (nisbah) Al-Maraghi dari Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi dan lain-lainnya bukanlah dikaitkan dengan nama suku atau marga atau keluarga, seperti halnya sebutan Al-Hasyimi yang dikaitkan dengan keturunan hasyim, melainkan dihubungkan dengan nama daerah atau kota, yaitu kota Al-Maraghah tersebut diatas.52
Oleh karena itu yang memakai sebutan Al-Maraghi bukanlah terbatas pada anak cucu Seykh Abdul Mun‟im Al-Maraghi saja. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta yang terdapat dalam kitab Mu‟jam al- Mualifin karangan Seykh Umar Rida Kahhalah yang memuat biografi 13 orang Al-Maraghi di luar keluarga Seykh Abdul Mun‟im Al- Maraghi, yaitu para ulama atau sarjana yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan yang dihubungkan dengan kota asalnya al- Maraghah.53
1. Perjalanan Karir
Setelah Ahmad Mustafa Al-Maraghi menginjak usia sekolah, dia dimasukan oleh orangtuanya ke madrasah di desanya untuk belajar Al-Qur‟an. Ahmad Mustofa Al-Maraghi sangat cerdas sehingga
52Hasan Zaini, Tafsir Tematik ...,hlm. 16.
53Ibid., hlm. 16.
sebelum usia 13 tahun Ahmad Mustafa Al-Maraghi sudah hafal seluruh ayat Al-Qur‟an. Disamping itu Ahmad Mustafa Al-Maraghi juga mempelajari ilmu tajwid dan dasar-dasar ilmu syari‟ah di madrasah sampai Ahmad Mustafa Al-Maraghi menamatkan pendidikan tingkat menengah.Pada tahun 1314 H/ 1897 M oleh kedua orang tuanya Ahmad Mustafa Al-Maraghi disuruh meninggalkan kota Al-Mraghah untuk pergi ke kairo untuk menuntut ilmu pengetahuan di Universitas Al-Azhar. Dis sini Ahmad Mustafa Al- Maraghi mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan agama, seperti bahasa Arab, balaghah, tafsir, ilmu Al-Qur‟an, hadis, ilmu hadis, fikih, usul fikih, akhlak, ilmu falak dan sebagaianya.54
Di samping itu Ahmad Mustafa Al-Maraghi mengikuti kuliah di fakultas Dar al-Ulum Kairo (yang dahulu merupakan perguruan tinggi tersendiri, dan kini menjadi bagian dari Cairo Universiti).
Ahmad Mustafa Al-Maraghi berhasil menyelesaikan setudinya di kedua perguruan tinggi tersebut pada tahun1909. Diantara dosen- dosen yang ikut mengajarnya di Al-Azhar dan Dar al-Ulum adalah Syekh Muhammad Abduh, Seykh Muhammad Hasan al-Adawi, Seykh Muhammad Bahis al-Mut‟i dan Seykh Muhammad Rifa‟i al-Fayumi.
Setelah Syekh Ahmad Mustafa Al-Maraghi menamatkan setudinya di Universitas Al-Azhar dan Dar al-Ulum, Ahmad Mustafa Al-Maraghi memulai karirnya dengan menjadi guru di beberapa sekolah menengah. Kemudian Ahmad Mustafa Al-Maraghi diangkat
54Ibid., hlm.17
menjadi direktur Madrasah Mu‟allimin di fayum, sebuah kota setingkat kabupaten (kotamadya), kira-kira 300 km sebelah barat daya kota Kairo. Pada tahun1916 Ahmad Mustafa Al-Maraghi di angkat menjadi dosen utusan Universitas Al-Azhar untuk mengajar ilmu-ilmu Syari‟ah Islam pada Fakultas Ghirdun di Sundan. selain sibuk mengajar, Al-Maraghi juga giat mengarang buku-buku ilmiah salah satu buku yang selesai dikarangnya di di sana adalah Ulum al- Balaghah.55
Pada tahun 1920 Ahmad Mustafa Al-Maraghi kembali ke kairo dan diangkat menjadi dosen bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari‟ah Islam di Dar al-Ulum sampai tahun 1940. Disamping itu Ahmad Mustafa Al-Maraghi diangkat menjadi dosen ilmu Balaghah dan sejarah kebudayaan Islam di Fakultas Adab Universitas Al-Azhar.
Selama mengajar di Universitas Al-Azhar dan Dar al-Ulum, Ahmad Mustafa Al-Maraghi tinggal di daerah Hilawan, sebuah kota satelit kairo, kira-kira 25 km sebelah selatan kota kairo. Ahmad Mustafa Al- Maraghi menetap disana sampai akhir hayatnya, sehingga di kota itu terdapat suatu jalan yang diberi nama jalan Al-Maraghi.
Dalam pada itu Ahmad Mustafa Al-Maraghi juga mengajar pada perguruan Ma‟had Mu‟alimat beberapa tahun lamanya, sampai Ahmad Mustafa Al-Maraghi mendapat piagam tanda penghargaan diri raja mesir, faruq pada tahun1361 H atas jasa-jasanya itu. Fiagam tersebut tertanggal 11-1-1361 H. Pada tahun 1370 H/ 1951 M, yaitu
55Ibid., hlm.17