• Tidak ada hasil yang ditemukan

374029b5f4b4788e4e673e0e5565e65d

N/A
N/A
Anindaandirana

Academic year: 2025

Membagikan "374029b5f4b4788e4e673e0e5565e65d"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S1) Pada Program Sarjana

Fakultas Ekonomi Universitas Tidar

Dissa Bramantia 1910101028

ANALISIS PENGARUH TINGKAT HUNIAN HOTEL, JUMLAH WISATAWAN, DAN JUMLAH OBYEK WISATA

TERHADAP PENDAPATAN SEKTOR PARIWISATA DI KABUPATEN MAGELANG

SKRIPSI

PROGRAM STUDI S1 EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS TIDAR 2023

(2)
(3)
(4)
(5)

The best way to get started is to quit talking and begin doing.”

(Walt Disney)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

Orangtua yang mendedikasikan hidupnya untuk saya.

Yang selalu mengasihi, menyayangi, dan yang selalu memanjatkan doa kebaikan pada Tuhan untuk saya. Serta yang senantiasa memberikan dukungan sepenuh

hati untuk kelancaran anak perempuannya mendapatkan gelar sarjana.

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(Q.S Al-Baqarah: 286)

(6)

Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini izinkan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si. selaku Rektor Universitas Tidar yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Fakultas Ekonomi Universitas Tidar.

2. Prof. Dr. Hadi Sasana, S.E., M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Tidar yang telah memberikan izin penulisan kepada penulis.

3. Jalu Aji Prakoso, S.E., M.Ec.Dev. selaku ketua jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Tidar yang telah memberikan izin dan dukungannya hingga penulis lancar dalam menyusun skripsi ini.

4. Drs. Lorentino Togar Laut, M.Si. selaku dosen pembimbing I dan Dinar Melani Hutajulu, S.Pd., M.Si. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan arahan, saran, dan dukungannya yang membangun sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

5. Fitrah Sari Islami, S.E., M.Si. selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan arahan dari awal hingga akhir studi.

6. Para dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tidar yang telah memberikan bekal ilmu dan pengetahuan sehingga dapat digunakan dalam penyusunan skripsi serta

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Pengaruh Tingkat Hunian Hotel, Jumlah Wisatawan, dan Jumlah Obyek Wisata Terhadap Pendapatan Sektor Pariwisata di Kabupaten Magelang”

sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan di Universitas Tidar.

untuk bekal hidup di kehidupan mendatang.

7. Orangtua Bapak Andreas Wahyu Adi Saputra, Ibu Any Puspita beserta keluarga terdekat yang selalu mendoakan dan memberikan bantuan serta dukungan baik

(7)

Dissa Bramantia Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan karena adanya keterbatasan. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan wawasan kepada para pembaca.

Magelang, 10 Desember 2023

(8)

ABSTRAK

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan dibidang ekonomi yang mendapat prioritas utama dalam rangka memperbaiki struktur ekonomi daerah serta dapat meningkatkan kemandirian daya saing. Selain sebagai potensi nasional, sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Dalam usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fakor-faktor yang mempengaruhi pendapatan sektor pariwisata. Adapun faktor-faktor yang dipilih sebagai variabel antara lain: tingkat hunian hotel, jumlah wisatawan, dan jumlah obyek wisata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian data sekunder yaitu dengan data (time series) selama 10 tahun, dengan metode penelitian yang digunakan adalah regresi linear berganda. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa, tingkat hunian hotel, jumlah wisatawan, dan jumlah obyek wisata secara bersama-sama mempengaruhi pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang. Namun temuan dalam analisis regresi secara parsial untuk variabel tingkat hunian hotel dan jumlah wisatawan memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang, serta untuk variabel jumlah obyek wisata tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang.

Kata kunci: Jumlah Wisata, Pendapatan Pariwisata, Hunian Hotel, Obyek Wisata

(9)

ABSTRACT

The tourism sector is one of the development sectors in the economic sector that receives top priority in order to improve regional economic structure and increase competitive independence. Apart from being a national potential, the tourism sector is a sector that has the potential to be developed as a source of regional income. In an effort to increase local original income, the program for developing and utilizing regional tourism resources and potential is expected to contribute to economic development and growth. This research aims to determine the factors that influence tourism sector income. The factors chosen as variables include: hotel occupancy rate, number of tourists, and number of tourist attractions. This research uses secondary data research methods, namely with data (time series) for 10 years, with the research method used is multiple linear regression. The research results show that the hotel occupancy rate, number of tourists and number of tourist attractions together influence the income of the tourism sector in Magelang Regency. However, the findings in the partial regression analysis for the variable hotel occupancy rate and number of tourists have a significant influence on tourism sector income in Magelang Regency, and for the variable number of tourist attractions it does not have a significant influence on tourism sector income in Magelang Regency.

Keywords: Number of Attractions, Tourism Revenue, Hotel Occupancy, Attractions

(10)

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ...vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ...xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 11

1.3 Rumusan Masalah ... 12

1.4 Tujuan Penelitian ... 13

1.5 Manfaat Penelitian ... 13

BAB II LANDASAN TEORI ... 16

2.1 Tinjauan Teoritis ... 16

2.1.1 Teori Pendapatan ... 16

2.1.2 Pariwisata ... 18

2.1.3 Tingkat Hunian Hotel ... 27

2.1.4 Wisatawan ... 29

2.1.5 Obyek Wisata ... 33

DAFTAR ISI HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ...i

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI ... ii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ...iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

2.2 Penelitian Terdahulu ... 35

2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis ... 46

(11)

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 50

3.3 Variabel Penelitian ... 51

3.4 Definisi Operasional Variabel... 52

3.5 Teknik Pengumpulan ... 53

3.6 Teknik Analisis Data ... 54

3.6.1 Regresi Linier Berganda ... 54

3.6.2 Uji Asumsi Klasik ... 55

3.6.3 Uji Statistik ... 57

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 61

4.1 Gambaran Umum ... 61

4.1.1 Letak Geografis Kabupaten Magelang... 61

4.2 Gambaran Khusus ... 63

4.2.1 Pariwisata Kabupaten Magelang ... 63

4.2.2 Pendapatan Sektor Pariwisata Kabupaten Magelang ... 63

4.2.3 Tingkat Hunian Hotel Kabupaten Magelang ... 64

4.2.4 Jumlah Wisatawan Kabupaten Magelang ... 65

4.2.5 Jumlah Obyek Wisata Kabupaten Magelang ... 66

4.3 Hasil Penelitian ... 68

4.3.1 Analisis Regresi Linear berganda ... 68

4.3.2 Uji Asumsi Klasik ... 70

4.3.3 Uji Statistik ... 72

4.4 Pembahasan ... 78

4.4.1 Pengaruh Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan Sektor Pariwisata Di Kabupaten Magealang ... 78

4.4.2 Pengaruh Jumlah Wisatawan Terhadap Pendapatan Sektor Pariwisata Di Kabupaten Magealang ... 80

4.4.3 Pengaruh Jumlah Obyek Wisata Terhadap Pendapatan Pelaku Usaha Sektor Pariwisata Di Kabupaten Magelang ... 82

4.4.4 Pengaruh Tingkat Hunian Hotel, Jumlah Wisatawan, Dan Jumlah Obyek Wisata Terhadap Pendapatan Pelaku Usaha Sektor Pariwisata Di Kabupaten Magelang ... 84

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

5.1 Kesimpulan ... 85

(12)

5.2 Saran ... 85 DAFTAR PUSTAKA ... 88 LAMPIRAN ... 96

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu 34

Tabel 4.1 Hasil Uji Linear Berganda 69

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

Gambar 1.1 Pendapatan Sektor Pariwisata di Kabupaten Magelang 6 Gambar 1.2 Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan

Lokal

9

Gambar 1.3 Jumlah Obyek Wisata Kabupaten Magelang 10

Gambar 2.1 Kerangka Teoritis 46

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Penelitian 47

Gambar 3.1 Kurva Uji t 57

Gambar 3.4 Kurva Uji F 58

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Magelang 61

Gambar 4.2 Jumlah Wisatawan yang Berkunjung ke Kabupaten Magelang 2013- 2022

64

Gambar 4.3 Jumlah Obyek Wisata Kabupaten Magelang 2013- 2022

66

Gambar 4.7 Hasil Uji Parsial X1 terhadap Y 74

Gambar 4.8 Hasil Uji Parsial X2 terhadap Y 75

Gambar 4.9 Hasil Uji Parsial X3 terhadap Y 76

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman

Lampiran 1 Tabulasi Data 97

Lampiran 2 Uji Analisis Linear Berganda 98

Lampiran 3 Uji Normalitas 99

Lampiran 4 Uji Multikolinearitas 99

Lampiran 5 Uji Autokorelasi 100

(16)

ekonomi yang mendapat prioritas utama dalam rangka memperbaiki struktur ekonomi daerah serta dapat meningkatkan kemandirian daya saing. Dengan berkembangnya pariwisata disuatu daerah, maka akan mendatangkan banyak manfaat bagi masyarkat yakni secara ekonomi, sosial, dan budaya (Pertiwi, 2020). Pendapatan sektor pariwisata merupakan pendapatan yang diperoleh daerah melalui pemungutan pajak atau retribusi dari suatu kegiatan pariwisata.

Menurut Qadarrochman (2015) mendefinisikan pariwisata sebagai salah satu jenis industri baru yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam penyediaan lapangan kerja, standar hidup serta menstimulasi sektor-sektor produktivitas lainnya. Sebagai sektor yang kompleks, ia juga meliputi industri-industri klasik yang sebenarnya seperti industri kerajinan tangan dan cinderamata. penginapan dan transportasi secara ekonomis juga dipandang sebagai industry (Gromang, 2017). Aspek ekonomi pariwisata tidak hanya berhubungan dengan kegiatan ekonomi yang langsung

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan dibidang

berkaitan dengan kegiatan pariwisata, seperti usaha perhotelan, restoran, dan penyelanggaraan paket wisata. Banyak kegiatan ekonomi lainnya yang

(17)

Pariwisata di Indonesia telah memperlihatkan peranannya secara nyata dalam memberikan kontribusinya terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Hal ini dapat dilihat bahwa sektor pariwisata membuat gebrakan dengan menduduki posisi ke dua dalam daftar penyumbang devisa Negara Indonesia. Kontribusi PDB Pariwisata diperkirakan meningkat 37,4 persen dari

pengembangan dan pendayagunaan sumber daya dan potensi pariwisata daerah diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah berupaya untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memaksimalkan potensi daerah yang tersedia.

persentase pada 2020 hingga mencapai angka 4.2 persen pada 2021. Nilai ekspor produk ekraf diperkirakan meningkat hingga mencapai USD20,58 miliar dan nilai tambah ekraf pada tahun 2021 juga mengalami peningkatan hingga Rp1.273 triliun (Sutrisno, 2022). Menghadapi kenyataan berkurangnya wisatawan asing, maka wisatawan nusantara menjadi harapan sekaligus roda penggerak pariwisata Indonesia di masa pandemi. Sandiaga Salahudinuno menyampakan pergerakan wisatawan nusantara ini akan menjadi andalan dalam pemulihan sektor pariwisata nasional pada 2022 dengan target 260 juta–

280 juta pergerakan. Diperkirakan, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB Nasional 2022 akan mencapai 4,3 persen. Sedikit lebih tinggi dari perkiraan capaian 2021, yaitu sebesar 4,2 persen (Sutrisno, 2022)

Selain sebagai potensi nasional, sektor pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Dalam usaha memperbesar pendapatan asli daerah, maka program

(18)

Daerah harus siap untuk mengatur pengelolaan dan sumber daya yang tersedia dengan seefisien dan seefektif mungkin (Lucia et al., 2017). Pembangunan sektor pariwisata menyangkut aspek sosial budaya, ekonomi dan politik. Hal tersebut sejalan dengan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menyatakan bahwa Penyelenggaraan

Pada tahun 2019, Pemerintah Kabupaten Magelang menargetkan pendapatan sektor pariwisata sebesar Rp185 miliar, berdasarkan Rencana Kepariwisataan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, memperluas dan memeratakan kesempatan berusaha dan lapangan kerja, mendorong pembangunan daerah, memperkenalkan dan mendayagunakan objek dan daya tarik wisata di Indonesia serta memupuk rasa cinta tanah air dan mempererat persahabatan antar bangsa

Pada tahun 2004 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 14 Tahun 2004 Tentang Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dimana dalam perda tersebut salah satunya menjadikan Kabupaten Magelang termasuk ke dalam kawasan pengembangan. Sebagaimana dimaksud dalam peraturan daerah tersebut, Kawasan Pengembangan adalah kawasan wisata yang diproyeksikan akan menjadi alternatif daya tarik yang kuat dimasa mendatang dan sudah mempunyai pasar potensial.

(19)

96,8 persen dari target, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magelang. Pencapaian target yang mendekati 100 persen ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata Magelang pada 2019 masih berjalan cukup baik. Pada 2020, target pendapatan pariwisata Magelang dinaikkan menjadi Rp200 miliar berdasarkan RKPD 2020. Namun realisasi pendapatan pariwisata hanya

persen (realisasi sama dengan target), tahun 2021 dengan target 4,5 persen dan terealisasi 4,3 persen, tahun 2022 dengan target 5 persen dan terealisasi 4,7 persen. Secara keseluruhan, capaian target pendapatan dan kontribusi sektor mencapai Rp170 miliar atau 85 persen dari target. Tidak tercapainya target disebabkan terjadinya pandemi Covid-19 yang membatasi perjalanan wisata.

Kemudian pada 2021, target kembali dinaikkan menjadi Rp250 miliar sesuai RKPD 2021. Realisasi pendapatan pariwisata mencapai Rp230 miliar atau 92 persen dari target (BPS, 2022). Walaupun belum mencapai target 100 persen capaian ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya di tengah situasi pandemi yang masih berlangsung. Terakhir, target pendapatan pariwisata 2022 ditetapkan sebesar Rp300 miliar berdasarkan RKPD 2022. Hingga akhir tahun, realisasi pendapatan pariwisata mencapai Rp278 miliar atau 92,7 persen dari target. Peningkatan realisasi ini menunjukkan pemulihan sektor pariwisata Magelang pascapandemi Covid-19 (BPS, 2021).

Adapun, kontribusi atau sumbangan sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Magelang dari tahun 2019 sebesar 4,12 persen (realisasi sama dengan target), tahun 2020 sebesar 3,72

(20)

pariwisata Magelang cukup baik, meskipun tidak selalu terealisasi 100% sesuai target (BPS, 2022).

Sebagai salah satu daerah yang dianggap mempunyai potensi kepariwisataan, Kabupaten Magelang membutuhkan pengelolaan yang terencana baik dari segi sarana dan prasarana agar memperoleh hasil yang

tahun 2013-2022 menunjukan bahwa sektor pariwisata Kabupten Magelang mengalami peningkatan (BPS, 2022).

optimal bagi daerah dan layak menjadi potensi yang dibanggakan (Maysyaroh

& Maria, 2022). Sarana dan prasarana berupa hotel tidak hanya berfungsi sebagai tempat menginap untuk tujuan wisata namun juga sebagai sarana dalam menjalankan kegiatan bisnis, mengadakan seminar dan mencari ketenangan (Wowor et al., 2019). Hotel termasuk sarana pokok kepariwisataan, ini berarti hidup dan kehidupannya tergantung Pada banya atau sedikitnya wisatawan yang datang. Menurut Rabbi (2017), kualitas pelayanan wisatawan, maka perlu adanya tempat penginapan bagi wisatawan agar mereka nyaman.

Sehingga tingkat hunian hotel sangat berperan dalam peningkatan pendapatan di sektor pariwisata. Selain sebagai ajang bisnis, hotel dapat menarik wisatawan luar untuk berkunjung sehingga semakin banyak wisatawan berkunjung maka semakin banyak pula pendapatan pariwisata yang diperoleh.

Selain itu, Kabupaten Magelang selalu mengembangkan pembangunan daerah terutama sektor pariwisatanya dilihat dari data BPS Kabupten Magelang dari

(21)

dapat meningkatkan kemandirian dan daya saing (Handayani, 2017). Potensi pendapatan Kabupaten Magelang dalam sektor pariwisata dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jumlah kunjungan wisata, jumlah obyek wisata, serta tingkat hunian hotel. Ketiga faktor tersebut memberikan kontribusi pendapatan yang cukup besar terhadap pembangunan daerah utamanya dari

Dalam data sepuluh tahun dimana pendapatan pariwisata Kabupaten Magelang mengalami fluktuasi pada tiap tahunnya. Pada tahun 2013-2019 mengalami stagnansi dimana pendapatan sektor pariwisata sebesar 117 juta pertahunnya. Terlihat pada tabel bahwa pendapatan terendah terjadi pada tahun sektor pariwisata (Udayantini et al., 2015). Setiap pendapatan pariwisata di Kabupaten Magelang meningkat dari tahun ke tahun karena adanya perkembangan dari sektor pariwisata yang ada (BPS Kabupaten Magelang, 2022).

Sumber : BPS Kabupaten Magelang, BKKAD Kabupaten Magelang Gambar 1.1 Pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang

Pendapatan Sektor Pariwisata Kabupaten Magelang (juta)

1,4E+11 1,2E+11 1E+11 8E+10 6E+10 4E+10 2E+10 0

2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

(22)

jumlah wisatawan dan obyek wisatanya akan berdampak pula pada kenaikan tingkat hunian hotel yang berada disekitar obyek wisata yang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Dari tingkat hunian hotel yang selalu mengalami kenaikan maka akan menambah pendapatan daerah di Kabupaten Magelang.

Banyak wisatawan yang berwisata dengan keluarga dan ingin menikmati suasana obyek wisata lebih lama maka menyewa hotel yang ada disekitar obyek wisata tersebut.

Menurut BPS Kabupaten Magelang (2022) jumlah tingkat hunian hotel pada tahun 2013-2022 terjadi fluktuasi yang cukup stabil, dimana hal ini dapat terjadi karena Kabupaten Magelang memiliki jumlah hotel yang cukup banyak baik hotel berbintang ataupun non-bintang. Selain itu rata-rata dalam tingkat hunian hotel kabupaten dari tahun 2013-2022 mencapai 33,16 persen, dengan tertinggi terjadi pada tahun 2022.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah dan 2020 dimana pada tahun tersebut terjadi Covid-19, yang mengakibakan pendapatan sektor pariwisata mengalmi penurunan yang cukup drastis. Setelah melewati masa pandemi pada tahun 2021 dan seterusnya pendapatan sektor pariwisata mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Sektor pariwisata di Kabupaten Magelang yang semakin meningkat karena

Daerah Istimewa Yogyakarta, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang di Kabupaten Magelang rata-rata mencapai 40,5 persen pada tahun 2020 . (BPS

(23)

faktor yang mempengaruhi perbedaan TPK kedua daerah tersebut adalah Kabupaten Magelang memiliki daya tarik wisata yang lebih popular dibanding Kulon Progo, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut dan lainnya. Hal ini menjadikan Kabupaten Magelang lebih ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara (BPS Jateng, 2020). Kulon Progo sebagian besar

dilatar belakangi oleh tersedianya sarana dan prasarana yang mereka butuhkan serta sajian obyek wisata yang menyenangkan. Menurut Suwantoro (2017) semakin lama wisatawan tingal di suatu daerah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di daerah tujuan wisata tersebut, paling merupakan daerah pedesaan dengan fasilitas wisata yang masih dalam tahap pengembangan. Wisata andalan Kulon Progo baru dikenal luas belakangan ini seperti Pantai Glagah dan spot foto Tebing Breksi (BPS DIY, 2020).

Ketersediaan akomodasi hotel bintang di Magelang jauh lebih banyak dibandingkan Kulon Progo. Tercatat Magelang memiliki 17 hotel berbintang sedangkan Kulon Progo hanya memiliki 5 hotel berbintang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat kunjungan wisata yang lebih tinggi di Kabupaten Magelang turut mendorong tingkat penghunian kamar hotel yang lebih tinggi dibanding Kabupaten Kulon Progo. Meskipun demikian, potensi pariwisata Kulon Progo diperkirakan akan terus berkembang di masa mendatang (Kemenparekraf, 2023).

Jumlah kunjungan wisatawan di Kabupaten Magelang dalam sektor pariwisata dari tahun 2013-2022 mengalami peningkatan yang di dominasi oleh wisatawan lokal dan mancanegara. Kunjungan wisatawan yang meningkat

(24)

Sumber : BPS Kabupaten Magelang

Gambar 1.3 Jumlah wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal

Dari gambar diatas terlihat bahwasannya pada tahun 2020-2021 jumlah wisatawan sangatlah menurun drastis hal ini dikarekan terjadinya covid-19 yang mengakibatkan sektor pariwisata juga berdampak sangat serius dengan hilangnya wisatawan. Tetapi pada tahun 2022 Kabupaten Magelang jumlah wisatawan baik itu mancanegara dan domestik sudah mencapai 3,993,715 wisatawan.

Menurut Mursid (2006), obyek wisata merupakan potensi yang menjadi

Jumlah Wisatawan

6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000

0

2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 sedikit untuk keperluan makan, minum dan penginapan selama tinggal di daerah tersebut.

pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Dengan meningkatnya jumlah obyek pariwisata maka akan berdampak pada jumlah

(25)

pemandangan alam, perkebunan, dan bangunan bersejarah (Septiani, 2022).

Obyek wisata seperti itulah yang diminati oleh banyak wisatawan sehingga mempengaruhi jumlah wisatawan serta tingkat hunian hotel semakin tinggi.

Jumlah Obyek Wisata

200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0

2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022

Sumber : BPS Kabupaten Magelang

Gambar 1.4 Jumlah obyek wisata Kabupaten Magelang

Jumlah obyek wisata Kabupaten Magelang dari tahun 2013-2022 mengalami pertumbuhana yang cukup signifikan, hal ini didorong dengan adanya Peraturan daerah Tahun 2004 yang mengatakan Kabupaten Magelang termasuk kedalam Kawasan pengembangan. Jumlah obyek wisata tahun 2022 mencapai 187 obyek wisata yang tersebar di Kabupaten Magelang.

Dengan adanya peningkatan pendapatan sektor pariwisata maka akan bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan dan pengembangan dari sektor pariwisata, penambahan dan pemeliharaan sarana dan prasarana yang mendukung pariwisata, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar obyek wisata yang ada di

(26)

Kabupaten Magelang. Peningkatan pendapatan sektor pariwisata juga bermanfaat untuk pengembangan kreativitas dan inovasi industri pariwisata di dalam masyarakat guna menambah lapangan pekerjaan.

Dalam mengembangkan industri pariwisata di Kabupaten Magelang tidak hanya dalam bidang konstruksi bangunan dan jalan, akan tetapi bidang

sebagai berikut:

kepariwisataannya yang meliputi obyek wisata serta sarana dan prasarana di sekitar obyek pariwisata. Bidang kepariwisataan yang semakin baik dalam hal pengembangan sarana dan prasarana, adanya ciri khas obyek wisata serta pelayanannya dapat meningkatkan pendapatan dari industry pariwisata khususnya di Kabupaten Magelang. Tingkat pendapatan dari industri pariwisata di Kabupaten Magelang yang semakin tinggi dengan melihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung, jumlah obyek wisata, dan tingkat hunian hotel di sekitar Kabupaten Magelang.

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang ini maka judul dalam penelitian ini adalah “Analisis Pengaruh Tingkat Hunian Hotel, Jumlah Wisatawan, dan Jumlah Obyek Wisata Terhadap Pendapatan Sektor Pariwisata di Kabupaten Magelang”

1.2 Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah diatas dapat diidentifikasikan permasalahan

(27)

2013 117 juta sedangkan pendapatan paling rendah terjadi pada tahun 2020 sebesar 77 juta.

2. Pada kurun waktu 2013-2022 pertumbuhan tingkat hunian hotel di Kabupaten Magelang masih mengalami fluktuasi. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2022 sebesar 62,6 persen sedangkan pada tahun 2021 menjadi nilai

pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

2. Bagaimana pengaruh jumlah wisatawan terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

terendah sebesar 24,5 persen.

3. Perkembangan objek wisata di Kabupaten Magelang banyak diminati oleh wisatawan sehingga jumlah pengunjung objek wisata meningkat. Namun jumlah kunjungan wisatawan masih didominasi oleh wisatawan domestik, sementara jumlah wisatawan mancanegara belum optimal. Jumlah wisatawan tertinggi terjadi pada tahun 2019 sebesar 5,063,027 ribu orang sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2020 sebesar 114,725 ribu orang.

4. Terjadi pertumbuhan dan perkembangan objek wisata di Kabupaten Magelang.

Namun, masih banyak dijumpai objek wisata yang ilegal dan tidak memiliki izin usaha.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan rumusan yang telah dikemukakan diatas sebelumnya, maka rumusan masalah yang akan diteliti yakni :

1. Bagaimana pengaruh tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor

(28)

3. Bagaimana pengaruh jumlah obyek wisata terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

4. Bagaimana pengaruh tingkat hunian hotel, jumlah wisatawan, jumlah obyek wisata terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013- 2022.

Berdasarkan latar belakang dan tujuan diatsa, maka diharapkan penelitian ini memberikan manfat pihak dan instasnsi terkait diantaranya :

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang ada, maka tujuan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis pengaruh tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

2. Untuk menganalisis pengaruh jumlah wisatawan terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

3. Untuk menganalisis pengaruh jumlah obyek wisata terhadap pendapatan sektor Pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

4. Untuk menganalisis pengaruh tingkat hunian hotel, jumlah wisatawan, jumlah obyek wisata terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Magelang 2013-2022.

1.5 Manfaat Penelitian

(29)

mendukung atau meningkatkan pemahaman tentang pengaruh tingkat hunian hotel, jumlah wisatawan, jumlah obyek wisata terhadap pendapatan sektor pariwisata.

2. Penelitian ini diharapkan mampu menambahkan pengetahuan dan wawasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi total pendapatan sektor pariwisata, serta sebagai sarana pengemanan ilmu pengetahun yang teoritis dipelajari di bangku perkuliahan khususnya ekonomi.

1.5.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat dan menjadi masukan bagi pihak-pihak yang berkepentinan dalam pengembangan usaha pariwisata. Adapun manfaat praktis dari penelitian ini diantaranya:

1. Bagi pemerintah, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kondisi total pendapatan sektor pariwisata sehingga dapat dijadikan 1.5.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis, dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan pengetahuan kajian ilmu ekonomi perencanaan pembangunan. Manfaat teoritis dari penelitian ini antara lain:

1. Temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk

sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan.

2. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat menjadi studi literatur atau referensi bagi yang ingin melakukan penelitian yang berkaitan dengan total pendapatan sektor pariwisata.

(30)

3. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tentang faktor-faktor yang mengakibatkan pendapatan sektor pariwisata sehingga dapat menjadi bahan bacaan yang memberikan kontribusi untuk pengetahuan para pembaca.

(31)

Berdasarkan teori ekonomi pendapatan/penerimaan keuntungan mempunyai arti yang sedikit berbeda dengan pengertian keuntungan dari segi pembukuan, ditinjau dari sudut pandangan perusahaan/pembukuan, keuntungan adalah perbedaan nilai uang dari hasil penjualan yang diperoleh dengan seluruh biaya yang dikeluarkan. Keuntungan menurut pandangan pembukuan, apabila dikurangi lebih lanjut oleh biaya tesembunyi, akan menghasilkan keuntungan ekonomi atau keuntungan murni/pure profit (Sadono, 2015).

Menurut Gonibala (2019) Pendapatan pengusaha merupakan keuntungan, maka keuntungan ditentukan dengan cara mengurangi berbagai biaya yang dikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Istilah pendapatan digunakan apabila berhubungan dengan aliran penghasilan pada suatu periode tertentu yang berasal dari penyediaan faktor-faktor produksi (sumber daya alam, tenaga kerja dan modal) masing-masing dalam bentuk sewa, upah dan bunga secara berurutan.

Menurut Artini, (2019) perubahan tingkat pendapatan akan mempengaruhi BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Teori Pendapatan

banyaknya barang yang dikonsumsi. Secara teoritis, peningkatan pendapatan akan meningkatkan konsumsi. Namun bertambahnya pendapatan suatu usaha sangat mempengaruhi permintaan akan barang.

Menurut ilmu ekonomi, pendapatan merupakan nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan

(32)

yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Definisi pendapatan menurut ilmu ekonomi menutup kemungkinan perubahan lebih dari total harta kekayaan badan usaha pada awal periode dan menekankan pada jumlah nilai statis pada akhir periode. Menurut Christoper et al (2019) pendapatan adalah penerimaan berupa uang maupun barang, baik dari pihak lain maupun pihak sendiri dari pekerjaan atau

penting dalam sebuah usaha perdagangan, karena dalam melakukan suatu usaha tentu ingin mengetahui nilai atau jumlah pendapatan yang diperoleh selam aktivitas yang dilakukan dan dinilai dengan uang atas harga yang berlaku pada saat ini. Pendapatan juga dapat diartikan dengan semua jenis yang didapatkan setelah bekerja, sdangkan pendapatan pribadi diartikan sebagai semua jenis pendapatan termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun, yang diterima oleh penduduk suatu negara tertentu.

Pendapatan memiliki pengertian bermacam-macam tergantung dari sisi mana untuk meninjau pengertian pendapatan tersebut. Pendapatan timbul dari peristiwa ekonomi, yaitu penjualan barang, penjualan jasa, penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan deviden. Pendapatan merupakan suatu hasil yang diterima oleh seseorang atau rumah tangga dari berusaha atau bekerja. Jenis masyarakat memiliki berbagai macam jenis, seperti bertani, nelayan, beternak, buruh, serta berdagang dan juga bekerja pada sektor pemerintah dan swasta (Pertiwi, 2015)

Sukirno (2015) mendefinisikan pendapatan sebagai unsur yang sangat

(33)

yang dimiliki oleh sektor rumah tangga dan sektor perusahaan yang dapat berupa keuntungan atau profit (Hendrik, 2011). Pendapatan merupakan hal yang sangat penting bagi para pengusaha, oleh karena itu tingkat keramaian pasar yang berarti permintaan cukup tinggi akan sangat berpengaruh terhadap pendapatan. Pendapatan yang diterima adalah dalam bentuk uang, dimana uang adalah merupakan alat

lengkap meninggalkan rumah (kampung) berkeliling terus menerus dan tidak bermaksud untuk menetap di tempat yang menjadi tujuan perjalanan (Pendit, 2002). Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 menyebutkan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta pembayaran atau alat pertukaran. Tujuan pokok dijalankannya suatu usaha perdagangan adalah untuk memperoleh pendapatan, dimana pendapatan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kelangsungan hidup usaha perdagangannya. Dengan kata lain pendapatan dapat juga diuraikan sebagai keseluruhan penerimaan yang diterima pekerja, buruh atau rumah tangga, baik berupa fisik maupun non fisik selama ia melakukan pekerjaan pada suatu perusahaan instansi atau pendapatan selama ia bekerja atau berusaha (Hanum, 2017).

2.1.2 Pariwisata

Istilah pariwisata terlahir dari bahasa Sansekerta yang komponenkomponennya terdiri dari: “Pari” yang berarti penuh, lengkap, berkeliling; “Wis(man)” yang berarti rumah, properti, kampung, komunitas; dan

“ata” berarti pergi terus-menerus, mengembara (roaming about) yang bila dirangkai menjadi satu kata melahirkan kata pariwisata, berarti pergi secara

(34)

layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Pariwisata merupakan faktor yang penting dalam pengembangan ekonomi karena mendorong perkembangan sektor ekonomi nasional, diantaranya menggugah industri baru berkaitan dengan jasa wisata misal usaha transportasi,

ekonomi, sosial, kebudayaan, politik, agama, kesehatan maupun kepentingan lain seperti karena sekedar ingin tahu, menambah pengalaman ataupun untuk belajar.

akomodasi (hotel, motel, pondok wisata), memperluas pasar barang-barang lokal pariwisata , memperluas lapangan kerja baru (hotel atau penginapan lainnya, usaha perjalanan, kantor-kantor pemerintah yang mengurus pariwisata dan penerjemah, industri kerajinan tangan dan cinderamata, serta tempat-tempat penjualan ainnya), serta membantu pembangunan daerah-daerah terpencil jika daerah itu memiliki daya tarik pariwisata (Wahab, 2018).

Menurut Soekadijo (2000) pariwisata adalah suatu gejala sosial yang sangat kompleks, yang menyangkut manusia seutuhnya dan memiliki berbagai aspek:

sosiologis, psikologis, ekonomis, ekologis dan sebagainya. Aspek yang mendapat perhatian yang paling besar dan hampir merupakan satu-satunya aspek yang dianggap penting ialah aspek ekonomisnya.

Pada hakikatnya berpariwisata adalah suatu proses kepergian sementara dari seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya. Dorongan kepentingannya adalah karena berbagai kepentingan, baik karena kepentingan

(35)

tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perjalanan wisata merupakan suatu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu. Dapat juga karena kepentingan yang berhubungan dengan

sarafnya, untuk melihat sesuatu yang baru, untuk menikmati keindahan alam, untuk mengetahui hikayat rakyat setempat, untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian di daerah luar kota, atau bahkan sebaliknya untuk menikmati hiburan di kota-kota besar ataupun ikut serta dalam keramaian pusat-pusat kegiatan olahraga untuk kesehatan, konvensi, keagamaan dan keperluan usaha lainnya (Suwantoro, 2004). Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu (Isdarmanto & Par, 2017).

a. Jenis Pariwisata

Gedeona (2013) mengatakan, walaupun banyak jenis wisata ditentukan menurut motif tujuan perjalanan, dapat pula dibedakan beberapa jenis Pariwisata khusus sebagai berikut:

1. Pariwisata untuk menikmati perjalanan (Pleasure Tourism)

Bentuk pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang meninggalkan tempat tinggalnya untuk berlibur, untuk mencari udara segar yang baru, untuk memenuhi kehendak ingin-tahunya, untuk mengendorkan ketegangan

(36)

wisatawan. Sementara orang mengadakan perjalanan semata-mata untuk menikmati tempat-tempat atau alam lingkungan yang jelas berbeda antara satu dengan lainnya. Yang lain akan bangga jika dapat mengirimkan gambar- gambar untuk menyatakan bahwa telah begitu banyak kota maupun negara yang telah dikunjungi. Jenis pariwisata ini menyangkut begitu banyak unsur

seperti di daerah sumber-sumber air panas dan lain-lain.

3. Pariwisata untuk kebudayaan (Cultural Tourism)

yang sifatnya berbeda-beda, disebabkan pengertian pleasure akan selalu berbeda kadar pemuasnya sesuai dengan karakter, cita rasa, latar belakang kehidupan, serta temperamen masing-masing individu.

2. Pariwisata untuk rekreasi (Recreation Tourism)

Jenis pariwisata ini dilakukan oleh orang-orang yang menghendaki pemanfaatan hari-hari liburnya untuk beristirahat, utuk memulihkan kembali kesegaran jasmani dan rohaninya yang ingin menyegarkan keletihan dan kelelahannya. Biasanya, mereka tinggal selama mungkin di tempat-tempat yang dianggapnya benar-benar menjamin tujuantujuan rekreasi tersebut (misalnya di tepi pantai, di pegunungan, di pusat-pusat peristirahatan atau pusat-pusat kesehatan) dengan tujuan menemukan kenikmatan yang diperlukan. Dengan kata lain mereka lebih menyukai health resort. Termasuk dalam kategori ini ialah mereka yang karena alasan kesehatan dan kesembuhan harus tinggal di tempat-tempat yang khusus untuk memulihkan kesehatannya,

(37)

kelembagaan, dan cara hidup rakyat di negara lain; untuk mengunjungi monumen bersejarah, peninggalan peradaban masa lalu atau sebaliknya penemuan-penemuan besar masa kini, pusat-pusat kesenian, pusat-pusat keagamaan atau juga untuk ikut serta dalam festival-festival seni musik teater, tarian rakyat dan lain-lain.

perjalanan wisata karena unsur voluntary atau sukarela tidak terlibat. Menurut para ahli teori, perjalanan usaha ini adalah bentuk profesional travel atau perjalanan karena ada kaitannya dengan pekerjaan atau jabatan yang tidak memberikan kepada pelakunya baik pilihan daerah tujuan maupun pilihan 4. Pariwisata untuk Olahraga (Sport Tourism)

Jenis ini dapat dibagi dalam dua kategori: a. Big Sports Events, yaitu peristiwa- peristiwa olahraga besar seperti Olimpiade Games, kejuaraan ski dunia, kejuaraan tinju dunia,dan lain-lain yang menarik perhatian tidak hanya pada olah ragawannya sendiri, tetapi juga ribuan penonton atau penggemarnya. b.

Sporting Tourism of the Practitioners, yaitu pariwisata olah ragabagi mereka yang ingin berlatih dan mempraktekkan sendiri, seperti pendakian gunung, olahraga naik kuda, berburu, memancing dan lain-lain. Negara yang memiliki banyak fasilitas atau tempat-tempat olah raga seperti ini tentu dapat menarik sejumlah besarpenggemar jenis olah raga pariwisata ini.

5. Pariwisata untuk usaha dagang (Business Tourism)

Seperti disebutkan di muka, jenis pariwisata ini telah menimbulkan berbagai persoalan. Banyak ahli teori, ahli sosiologi maupun ekonomi beranggapan bahwa perjalanan untuk keperluan usaha tidak dapat dianggap sebagai

(38)

waktu perjalanan. Ide pilihan yang dianggap fundamental dari individual liberty atau kebebasan individu yang merupakan bagian penting dari pariwisata tidak nampak. Dalam istilah business tourism tersirat tidak hanya professional trips yang dilakukan kaum pengusaha atau industrialis, tetapi juga mencakup semua kunjungan ke pameran, kunjungan ke instalasi teknis yang bahkan

dan bahkan ribuan peserta yang biasanya tinggal beberapa hari di kota atau negara penyelenggara. Jika pada taraf-taraf perkembangannya konvensi- menarik orang-orang di luar profesi ini. Juga harus pula diperhatikan bahwa kaum pengusaha tidak hanya bersikap dan berbuat sebagai konsumen,tetapi dalam waktu-waktu bebasnya, sering berbuat sebagai wisatawanbiasa dalam pengertian sosiologis karena mengambil dan memanfaatkan keuntungan dari atraksi yang terdapat di negara lain tersebut.

6. Pariwisata untuk berkonvensi (Convention Tourism)

Peranan jenis pariwisata ini makin lama makin penting. Tanpa menghitung banyaknya konvensi atau konferensi nasional, banyaknya simposium maupun sidang yang diadakan setiap tahun di berbagai negara pada tahun 1969 telah ditaksir sebanyak 3.500 konferensi 17 internasional. Jumlah setiap tahunnya terus meningkat dan diperkirakan mencapai angka 9.500 untuk tahun 1975 dan 19.000 konferensi internasional untuk tahun 1980. Disamping itu, perlu ditambahkan pula adanya berbagai pertemuan dari badan-badan atau organisasi internasional. Konvensi dan pertemuan bentuk ini sering dihadiri oleh ratusan

(39)

banyak yang menawarkan diri untuk dijadikan tempat konferensi. Bahkan untuk tujuan tersebut telah ada beberapa negara seperti Belgia maupun Prancis yang membentuk asosiasi-asosiasi sebagai sarana yang dianggap penting untuk mencapai tingkat pengisian kamar-kamar yang layak pada hotel-hotel mereka, terutama pada musim-musim menurunnya jumlah wisatawan yang masuk ke

keterpaduan, yaitu :

1. Sektor pemasaran (the marketing sector) mencakup semua unit pemasaran dalam industri pariwisata, misalnya kantor biro perjalanan dengan jaringan negara-negara tersebut. Banyak negara yang menyadari besarnya potensi ekonomi dari jenis pariwisata konferensi ini sehingga mereka saling berusaha untuk menyiapkan dan mendirikan bangunanbangunan yang khusus diperlengkapi untuk tujuan ini atau membangun "pusat-pusat konferensi"

lengkap dengan fasilitas mutakhir yang diperlukan untuk menjamin efisiensi operasi konferensi.

b. Peran Pariwisata

Di Indonesia, pariwisata merupakan sektor yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Hal ini didukung oleh adanya letak geografis dan bentang alam yang memiliki keanekaragaman hayati, hewani, maupun budaya, sehingga banyak menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Menurut Octavia & Suryadana (2015) sistem pariwisata terdiri dari tujuh komponen besar, dimana komponen tersebut merupakan sektor utama dalam kepariwisataan yang memerlukan keterkaitan, ketergantungan, dan

(40)

cabangnya, kantor pemasaran maskapai penerbangan (air lines), kantor promosi daerah tujuan wisata tertentu, dan sebagainya.

2. Sektor perhubungan (the carrier sector) mencakup semua bentuk dan macam transportasi publik, khususnya yang beroperasi sepanjang jalur transit yang menghubungkan tempat asal wisatawan (traveler generating

biasanya akan di kompensasi dengan memaksimalkan daya tarik wisata lain.

region) dengan tempat tujuan wisatawan (tourist destination region).

Misalnya perusahaan penerbangan (air lines), bus (coach line), penyewaan mobil, kereta api, dan sebagainya.

3. Sektor akomodasi (the accommodation sector) sebagai penyedia tempat tinggal sementara (penginapan) dan pelayanan yang berhubungan dengan hal itu, seperti penyedia makanan dan minuman (food and beverage).

Sektor ini umumnya berada di daerah tujuan wisata dan tempat transit.

4. Sektor daya tarik/atraksi wisata (the attraction sector) sektor ini terfokus pada penyediaan daya tarik atau atraksi wisata bagi wisatawan. Lokasi utamanya terutama pada daerah tujuan wisata tetapi dalam beberapa kasus juga terletak pada daerah transit. Misalnya, taman budaya, hiburan, (entertainment), even olahraga dan budaya, tempat dan daya tarik wisata alam, peninggalan budaya, dan sebagainya. Jika suatu daerah tujuan wisata tidak memiliki sumber daya atau daya tarik wisata alam yang menarik,

(41)

mencakup pendukung terselenggaranya kegiatan wisata baik di negara/tempat asal wisatawan, sepanjang transit, maupun di negara/tempat tujuan wisata. Misalnya, toko oleh-oleh (souvenir) atau toko bebas bea (duty free shops), restoran, asuransi perjalanan wisata, travel cek (traveler cheque), bank dengan kartu kredit.

7. Sektor pengkoordinasi/regulator (the coordinating sector) mencakup peran pemerintah selaku regulator dan asosiasi di bidang pariwisata selaku penyelenggara pariwisata, baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. Sektor ini biasanya menangani perencanaan dan fungsi manajerial untuk membuat sistem koordinasi antara seluruh sektor dalam industri pariwisata.

Seperti yang dikatakan Soekadijo (2000) manfaat pariwisata bagi masyarakat lokal antara lain: pariwisata memungkinkan adanya kontak antara orang-orang dari bagian-bagian dunia yang paling jauh, dengan berbagai bahasa, ras, kepercayaan, dan mendesain paket perjalanan dengan memilih dua atau lebih komponen (baik tempat, paket, atraksi wisata) dan memasarkannya sebagai sebuah unit dalam tingkat harga tertentu yang menyembunyikan harga dan biaya masing-masing komponen dalam paketnya.

6. Sektor pendukung atau rupa-rupa (the miscellaneous sector) sektor ini

paham, politik, dan tingkat perekonomian. Pariwisata dapat memberikan tempat bagi pengenalan kebudayaan, menciptakan kesempatan kerja sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran. Sarana-sarana pariwisata seperti hotel dan perusahaan perjalanan merupakan usaha-usaha yang padat karya, yang

(42)

membutuhkan jauh lebih banyak tenaga kerja dibanding dengan usaha lain. Manfaat yang lain adalah pariwisata menyumbang kepada neraca pembayaran, karena wisatawan membelanjakan uang yang diterima di negara yang dikunjunginya.

Maka dengan sendirinya penerimaan dari wisatawan mancanegara ini merupakan faktor yang penting agar neraca pembayaran menguntungkan yaitu pemasukan

yaitu hotel, baik berbintang atau melati akan memperoleh pendapatan pariwisata lebih besar dari pengeluaran.

2.1.3 Tingkat Hunian Hotel

Agin & Christiano (2012) tingkat hunian kamar hotel (okupansi hotel) adalah banyaknya kamar yang dihuni dibagi kamar yang tersedia dikalikan 100 persen.

Tingkat okupansi menjadi salah satu unsur pengitung pendapatan hotel. Tingkat hunian kamar adalah suatu keadaan sampai sejauh mana jumlah kamar-kamar terjual, jika diperbandingkan dengan seluruh jumlah kamar yang mampu untuk dijual. Pengertian rasio occupancy merupakan tolak ukur keberhasilan hotel dalam menjual produk utamanya.

Badrudin (2001) menyatakan bahwa ketika jumlah kamar hotel yang tersedia memadai, maka jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat dan semakin banyak pula permintaan terhadap kamar hotel. Saat hotel tersebut terasa nyaman untuk disinggahi, mereka akan semakin nyaman untuk tinggal lebih lama lagi.Sehingga industri pariwisata dan kegiatan yang berkaitan dengan penginapan

(43)

Banyaknya wisatawan yang diikuti dengan lamanya waktu tinggal di suatu daerah tujuan wisata tertentunya akan membawa dampak positif terhadap tingkat hunian kamar hotel. Semakin meningkatnya kegiatan pariwisata, semakin menuntut keseriusan pengelola hotel dalam memperbaiki layanannya kepada para tamu agar tamu-tamu hotel tersebut merasa betah dan memutuskan lebih lama lagi

kesendirian(privacy).

3. Hotel sebagaimana rumah adalah tempat awal atau basis seseorang dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan kehidupan sehari-hari, seperti bekerja, bersantai, hidup bermasyarakat, berolaraga dan kegiatan lain-lain.

untuk menginap di hotel yang mereka tempati. Semakin banyak kamar hotel yang terjual, maka akan semakin besar pula pendapatan yang akan diterima oleh pengelola hotel tersebut. Sebagian pendapatan tersebut nantinya akan disetorkan kepada DPPKAD setempat untuk dicatat sebagai tanda telah membayar kewajiban mereka atas pajak hotel yang talah dibebankan kepada mereka.

a. Peranan Hotel dalam Industri Pariwisata

Wahab (2003) peran hotel dalam industri pariwisata adalah:

1. Seseorang yang sedang melakukan perjalanan atau sedang berwisata tidak akan lepas dari kebutuhan dalam hidup yang paling pokok, yaitu makan dan tidur.

Hotel menyediakan jasa penginapan, makan, dan minum serta jasa lainnya yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan hidup para wisatawan.

2. Hotel menggantikan fungsi rumah “di luar rumah” (away home from home) bagi para wisatawan attau pelaku perjalanan, dengan usaha memberikan rasa aman (secure), rasa kenyamanan yang menyenangkan (comfort),

(44)

Untuk memenuhi kebutuhan ini hotel menyediakan fasilitas serta sarana yang diperlukan seperti televisi, telepon, lobby, aula, computer, dan lainlain b. Tujuan Penjulan Kamar Hotel

Tujuan dari setiap usaha perhotelan adalah mencari keuntungan dengan menyewakan fasilitas dan menjual pelayanan kepada tamunya. Pleanggra & Yusuf

tertentu dan tidak memperoleh penghasilan tetap di tempat yang dikunjunginya.

(2012) mengkarakteristikan usaha hotel dalam tujuan penjualannya pada umumnya selalu melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. Penyewaan kamar.

2. Penjualan makanan dan minuman.

3. Penyediaan pelayanan-pelayanan penunjang lainnya yang bersifat komersial.

Secara teoritis semakin tinggi tingkat hunian hotel, maka secara langsung akan meningkatkan pendapatan hotel yang pada akhirnya akan menaikan pendapatan daerah sektor pariwisata malaui pajak hotel yang diterima.

2.1.4 Wisatawan

Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata tertentu menjadi salah satu bukti bahwa daerah tersebut mempunyai daya tarik wisata yang besar. Qadarrochman (2010) wisatawan menurut Sammeng yaitu:

Orang yang melakukan perjalanan atau kunjungan sementara secara sukarela ke suatu tempat di luar lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari untuk maksud

(45)

konferensi, musyawarah atau sebagai utusanberbagai badan/organisasi

3. Orang-orang yang sedang mengadakan perjalanandengan maksud bisnis pejabat pemerintahan dan militer beserta keluarganyayang di tempatkan di negara lain tidak termasuk kategori ini, tetapi bila merekamengadakan perjalanan ke negeri lain, maka dapat digolongkan wisatawan.

Tujuan wisata untuk melakukan perjalanan wisata ada beberapa macam, salah satunya untuk bersenang-senang di daerah tujuan wisata tertentu.Berikut ini merupakan jenis-jenis dan karakteristik wisatawan (Pendit, 2002):

1. Wisatawan lokal (local tourist), yaitu wistawan yang melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata yang berasal dari dalam negeri.

2. Wisatawan mancanegara (international tourist), yaitu wisatawan yang mengadakan perjalanan ke daerah tujuan wisata yang bersal dari luar negeri.

3. Holiday tourist adalah wisatawan yang melakukan perjalanan ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk bersenang-senang atau untuk berlibur.

maksimal 3 bulan di dalam suatu negeri yangbukan negeri di mana biasanya ia tinggal, mereka ini meliputi:

1. Orang-orang yang sedang megadakan perjalanan untuk bersenang-senang, untuk keperluanpribadi, untuk keperluan kesehatan

2. Orang-orang yang sedang mengadakanperjalanan untuk pertemuan,

4. Business tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan untuk urusan dagang atau urusan profesi.

(46)

5. Common interest tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata dengan tujuan khusus seperti studi ilmu pengetahuan, mengunjungi sanak keluarga atau untuk berobat dan lain-lain.

6. Individual tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara sendiri-sendiri.

besar kecilnya pengeluaran konsumsi hanya didasarkan atas besar kecilnya tingkat pendapatan masyarakat. Keynes menyatakan bahwa ada pengeluaran konsumsi 31 7. Group tourist adalah wisatawan yang bepergian ke daerah tujuan wisata secara

bersama-sama atau berkelompok.

Ada beberapa manfaat jika banyak wisatawan mengunjungi suatu tujuan wisata tertentu, salah satunya melalui penerimaan berbagai retribusi dan pajak yang disetorkan kepada daerah setempat. Dalam bukunya Nawawi (2001) pengaruh langsung kunjungan wisatawan terhadap pendapatan dan perekonomian daerah, semakin lama wisatawan menginap dalam setiap kunjungan wisata maka secara langsung pengaruh ekonomi dari keberadaan wisatawan tersebut juga semakin meningkat. Salah satu pengaruh ekonomi dalam kegiatan pariwisata di suatu daerah terletak pada purchasing power yang diperoleh masyarakat di daerah penerima wisatawan melalui pengeluaran dari wisatawan yang cenderung membelanjakan lebih banyak uang daripada yang dilakukan wisatawan tersebut di daerah asalnya.

Teori konsumsi yang dikemukakan oleh JM. Keynes mengatakan bahwa

(47)

(Arsyad, 1999). Secara teori apabila terjadi kenaikan pendapatan individu maka akan mendorong kenaikan konsumsi dari individu tersebut.

Menurut Rizal & Priyono (2016) semakin lama wisatawan tinggal di suatu daerah tujuan wisata, maka semakin banyak pula uang yang dibelanjakan di daerah tujuan wisata tersebut, paling sedikit untuk keperluan makan, minum dan

Magelang, maka pendapatan sektor pariwisata seluruh Kabupaten Magelangs juga akan semakin meningkat.

penginapan selama tinggal di daerah tersebut. Berbagai macam kebutuhan wisatawan selama perjalanan wisatanya akan menimbulkan gejala konsumtif untuk produk-produk yang ada di daerah tujuan wisata. Dengan adanya kegiatan konsumtif baik dari wisatawan mancanegara maupun domestik, maka akan memperbesar pendapatan dari sektor pariwisata suatu daerah.

Ardiwidjaja (2008) menyatakan bahwa strategi untuk meningkatkan pendapatan daerah dapat dilakukan melalui peningkatan berbagai jenis pajak dan retribusi dari dunia usaha yang terkait dengan pariwisata. Hal ini sejajar dengan peningkatan yang diharapkan dari jumlah wisatawan yang berkunjung di Indonesia. Hal ini dapat diasumsikan bahwa jika wisatawan banyak berkunjung, semakin besar pula pendapatan dari berbagai retribusi dan pajak pariwisata yang diperoleh. Wisatawan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah wisatawan lokal dan jumlah wisatawan mancanegara yang bekunjung di Kabupaten Magelang. Semakin tingginya arus kunjungan wisatawan keKabupaten

(48)

2.1.5 Obyek Wisata

Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Seorang wisatawan berkunjung ke suatu tempat/daerah/negara karena tertarik oleh sesuatu yang menarik dan menyebabkan wisatawan

4. Obyek wisata alam memiliki daya tarik tinggi karena keindahan alam pegunungan, sungai, pantai, pasir, hutan, dan sebagainya.

berkunjung ke suatu tempat/daerah/negara disebut daya tarik dan atraksi wisata (Sammeng, 2001). Dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1990, obyek dan daya tarik wisata adalah segala yang menjadi sarana perjalanan wisata.

Mursid dalam (Ibrianti, 2016) objek wisata merupakan potensi yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan wisata. Dalam kedudukannya yang sangat menentukan itu maka obyek wisata harus dirancang dan dibangun atau dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Membangun suatu obyek wisata harus dirancang sedemikian rupa berdasarkan kriteria yang cocok dengan daerah wisata tersebut. Obyek wisata umumnya berdasarkan pada :

1. Adanya sumber daya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah, nyaman dan bersih.

2. Adanya aksesbilitas yang tinggi untuk dapat mengunjunginya.

3. Adanya ciri khusus/spesifikasi yang bersifat langka.

(49)

5. Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat, nilai luhur yang terkandung dalam suatu obyek buah karya manusia pada masa lampau.

Menurut Sammeng dalam bukunya mengelompokkan objek wisata ke dalam tiga jenis, yaitu:

maupun Perseorangan dengan melibatkan dan bekerjasama pihak-pihak yang terkait. Menurut UU No. 9 Tahun 1990 disebutkan bahwa objek dan daya tarik wisata terdiri dari:

1. Objek wisata alam, misalnya: laut, pantai, gunung (berapi), danau, sungai, fauna (langka), kawasan lindung, cagar alam, pemandangan alam dan lainlain.

2. Objek wisata budaya, misalnya: upacara kelahiran, tari-tari (tradisional), musik (tradisional), pakaian adat, perkawinan adat, upacara turun ke sawah, upacara panen, cagar budaya, bangunan bersejarah, peninggalan tradisional, festival budaya, kain tenun (tradisional), tekstil lokal, pertunjukan (tradisional), adat istiadat lokal, museum dan lain-lain.

3. Objek wisata buatan, misalnya: sarana dan fasilitas olahraga, permainan (layangan), hiburan (lawak atau akrobatik, sulap), ketangkasan (naik kuda), taman rekreasi, taman nasional, pusat-pusat perbelanjaan dan lain-lain.

Dalam membangun objek wisata tersebut harus memperhatikan keadaan sosial ekonomi masyarakat setempat, sosial budaya daerah setempat, nilai-nilai agama, adat istiadat, lingkungan hidup, dan objek wisataitu sendiri. Pembangunan 20 objek dan daya tarik wisata dapat dilakukan oleh Pemerintah, Badan Usaha

(50)

Berdasarkan hal tersebut diatas, objek wisata dapat diklasifikasikan menjadi dua macam wisata yaitu wisata buatan manusia dan wisata alam.

2.2 Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

1. Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam, serta flora dan fauna.

2. Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, wisata agro, wisata tirta, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan.

No

Peneliti dan Tahun

Judul Tujuan Hasil penelitian

1. Ibrianti (2015) Pengaruh jumlah kunjungan wisata, jumlah obyek wisata, dan tingkat hunian hotel terhadap pendapatan daerah sektor pariwisata di Kabupaten Lingga Periode 2011-2013

Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh

kunjungan

wisatawan, obyek wisata, dan tingkat hunian hotel terhadap

Kunjungan Wisata berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Sektor Wisata. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan yang terjadi pada Kunjungan Wisata akan berpengaruh signifikan terhadap Pendapatan Sektor Wisata. Objek wisata berpengaruh tidak

(51)

Pariwisata

Kabupaten Lingga

hotel tidak mempengaruhi pendapatan sektor pariwisata yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Lingga

2. Betega (2010) Analisis Faktor-

Faktor Yang

Mempengaruhi Pendapatan

Pariwisata Di Kabupaten Klaten

Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh jumlah wisatawan, arus kendaraan, dan tingkat hunian kamar hotel terhadap

Pendapatan Pariwisata di Kabupaten Klaten

Variabel jumlah wisatawan yang berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap Pendapatan Pariwisata, sedangkan variabel arus kendaraan dan tingkat hunian kamar bukan merupakan variabel yang baik untuk menjelaskan Pendapatan Pariwisata.

3. Pleanggra &

Yusuf (2012)

Analisis Pengaruh Jumlah Obyek Wisata, Jumlah Wisatawan Dan Pendapatan Perkapita Terhadap Pendapatan

Untuk (i)

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pendapatan

Hasil penelitian diketahui bahwa variabel jumlah obyek pariwisata, jumlah wisatawan dan pendapatan perkapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan

(52)

Retribusi Obyek Pariwisata 35 Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah

retribusi obyek wisata di 35 kabupaten/kota wilayah Jawa Tengah; (ii) Menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pendapatan

retribusi objek wisata di 35 kabupaten/kota wilayah Jawa Tengah.

retribusi obyek pariwisata di 35 kabupaten/kota Jawa Tengah.

4. Udayantini et al.

(2015)

Pengaruh Jumlah Wisatawan Dan Tingkat Hunian Hotel Terhadap Pendapatan

Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh jumlah

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) ada pengaruh dari jumlah wisatawan, tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor

(53)

Kabupaten Buleleng Periode 2010-2013

hotel terhadap Pendapatan sektor Pariwisata di Kabupaten

Buleleng

terhadap pendapatan sektor pariwisata (3) ada pengaruh positif dari tingkat hunian hotel terhadap pendapatan sektor pariwisata dan, (4) ada pengaruh positif dari jumlah wisatawan terhadap tingkat hunian hotel di Kabupaten Buleleng

5. Handayani (2012)

Analisis Pengaruh Jumlah Obyek Wisata, Jumlah Wisatawan, Tingkat Hunian Hotel Dan Pendapatan Perkapita Terhadap Retribusi Obyek Pariwisata Di Jawa Tengah

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan

retribusi obyek pariwisata di Jawa Tengah.

Diketahui bahwa jumlah obyek wisata, jumlah wisatawan dan pendapatan perkapita berpengaruh positif terhadap retribusi. Sedangkan tingkat hunian hotel 33 tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan retribusi obyek pariwisata di 30 Kabupaten/Kota di Jawa Tengah..

6. Rabbi (2017) Analisis Faktor-

Faktor Yang

Mempengaruhi Pendapatan Sektor

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

Hasil penelitian menunjukkan variabel jumlah kunjungan wisata dan tingkat hunian hotel tidak berpengaruh secara signifikan

(54)

Pariwisata Di Kabupaten Gowa Tahun 2008 – 2015

faktorfaktor yang mempengaruhi pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Gowa.

terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Gowa.

Sedangkan variabel jumlah restoran/rumah makan dan warung makan berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan sektor pariwisata di Kabupaten Gowa.

7. Sabrina &

Mudzhalifah (2018)

Pengaruh Jumlah Objek Wisata, Jumlah Wisatawan, Tingkat Hunian Hotel, dan PDRB Per Kapita Terhadap Penerimaan Sektor Pariwisata Kota Palembang Tahun 2004-2013

Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh jumlah wisata, jumlah wisatawan,

tingkat hunian hotel, dan PDRB perkapita, dan tingkat hunian hotel terhadap penerimaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah objek wisata dan PDRB per kapita secara signifikan mempengaruhi penerimaan daerah sektor pariwisata kota palembang.

Sedangkan jumlah wisatawan dan tingkat hunian hotel tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan daerah sektor pariwisata kota palembang

(55)

pariwisata Kota Palembang

8. Aydin (2016) Tourism Income of Turkey: A Panel Data Approach

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan

pariwisata di Turki, variabel yang dijelaskan yaitu jumlah wisatawan, data yang digunakan tahun 2006-2015

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari jumlah wisatawan terhadap pendapatan pariwisata di Turki.

9. Giap et al. (2016) Drivers of growth in the travel and tourism industry in Malaysia:

A Geweke causality analysis

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

faktor-faktor yang mendorong kedatangan wisatawan

Hasil analisis menunjukkan pemerintah Malaysia melakukan pengeluaran untuk promosi pariwisata serta investasi infrastruktur seperti peningkatan bandara. Fasilitas merupakan faktor penentu yang paling penting dan penentu

(56)

internasional ke malaysia

pertumbuhan dalam industri perjalanan dan pariwisata.

10 Lei & Lam (2015)

Determinants of hotel occupancy rate in a Chinese gaming destinationa

Bertujuan untuk meneliti faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat hunian hotel dari satu satunya tujuan permainan resmi di China e Macau.

Data dari 39 hotel (bintang 3 dan 5) selama periode 2008 sampai 2011 telah digunakan. Tiga kategori determinan yang membentuk sembilan hipotesis diuji dan semuanya didukung kecuali musim. Delapan faktor diidentifikasi melakukan pengaruh signifikan pada tingkat hunian di tempat tujuan. Model regresi dihasilkan untuk memprediksi tingkat hunian hotel di tempat tujuan. Studi ini disimpulkan dengan pengetahuan untuk para pelaku bisnis perhotelan yang tertarik untuk berinvestasi atau beroperasi di tujuan permainan.

(57)

11. Tiku et al. (2022) Tourism’s income distribution in West Papua Province

Bertujuan untuk menguji dampak distribusi yang disebabkan oleh pariwisata pada berbagai

kelompok sosial ekonomi dengan memperkirakan pengganda SAM dan

dekomposisinya serta menguraikan pengaruh

pariwisata.

Analisis jalur struktural.

Pariwisata memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian dengan kontribusi keseluruhan yang paling besar terhadap faktor permodalan dan dalam efek pengganda silang yang terdekomposisi. Meski demikian, dampaknya terhadap rumah tangga semakin berkurang seiring dengan menurunnya tingkat pendapatan rumah tangga.

Pelayanan akomodasi dan makanan memberikan kontribusi terhadap pendapatan dan lapangan kerja pekerja pertanian.

Faktor terakhir ini mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap segmen rumah tangga pedesaan berpendapatan terendah yang ditularkan melalui faktor perikanan, pekerja pertanian, dan permodalan, yang bersifat

(58)

strategis untuk meningkatkan penghidupan dan mengurangi kemiskinan regional.

12. Chen et al.

(2023)

Research on driving

factors and

mechanism of

Minority Village tourism development in Guizhou Province, China

Bertujuan untuk mengeksplorasi

faktor pendorong utama yang dapat meningkatkan kualitas destinasi lokal. Dengan delapan variabel yaitu ditemukan 8 variabel yaitu sumber daya wisata, pariwisata

lokasi, lingkungan pengembangan pariwisata, preferensi wisatawan,

Seluruh faktor mempunyai dampak positif yang signifikan terhadap pengembangan destinasi wisata pedesaan. Faktor pendorong berkembangnya destinasi wisata pedesaan adalah inovasi pariwisata. Sebagian besar faktor saling berinteraksi

untuk mendorong

berkembangnya destinasi wisata minoritas. Terakhir, menurut hasil penelitian yang dipadukan dengan situasi saat ini pengembangan destinasi wisata pedesaan, studi ini mengedepankan saran dan prospek mempromosikan

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan bahwa skripsi ini dengan judul: “ PENGARUH JUMLAH WISATAWAN, TINGKAT HUNIAN HOTEL DAN RATA-RATA LAMA MENGINAP TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH SEKTOR

Dalam penelitian ini akan dicari pengaruh tingkat hunian hotel dan jumlah wisatawan terhadap penerimaan sektor pariwisata di Kabupaten Simalungun, yang jika digambarkan dalam

Hasil regresi menunjukan variabel sektor wisata dan jumlah pengunjung memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan asli daerah, sedangkan jumlah

Qadarrochman,2010, Analisis Penerimaan Daerah dari Sektor Pariwisata dan Faktor- faktor yang Mempengaruhinya X1:objek wisata X2:jumlah wisatawan X3:tingkat hunian hotel

independen yaitu variabel jumlah objek wisata, jumlah wisatawan, tingkat hunian. hotel dan

Ibrianti yang berjudul “Pengaruh jumlah kunjungan wisata, jumlah objek wisata, dan tingkat hunian hotel terhadap pendapatan daerah sektor pariwisata di Kabupaten

1) Variabel wisatawan berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pariwisata di kabupaten Klaten, pengaruh antara variabel independen jumlah wisatawan dengan

Dalam rangka peningkatan penerimaan pajak hotel tersebut dengan mengetahui variabel jumlah wisatawan, pendapatan per kapita, jumlah kamar hotel, dan tingkat hunian hotel pada