• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab 1-5 kkm-M.DIYAH

N/A
N/A
Muhammad Radhi Al Wafi

Academic year: 2025

Membagikan "bab 1-5 kkm-M.DIYAH"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dan waktu tertentu yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan, terutama pada telinga manusia sebagai alat pendengaran. Terkadang kebisingan di sekitar kita dianggap gangguan yang biasa, akan tetapi kebisingan yang keras dan berlangsung secara terus menerus dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Berdasarkan peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER 13/MEN/X/2011 tahun 2011 pasal 1, kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat–alat yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Nilai Ambang batas kebisingan adalah 85 dB untuk waktu 8 jam perhari. Namun dalam beberapa jenis industri, mengeluarkan suara atau kebisingan diatas NAB yang ditentukan (Fikri, 2018)

National Institute on Deafness and other Communication Disorders atau NIDCD tahun 2010 menyatakan bahwa kejadian gangguan akibat pendengaran akibat bising merupakan akibat dari paparan suara dengan intensitas tinggi yaitu 85dB dalam jangka waktu yang lama. Sekitar 16% dari gangguan pendengaran yang ada di seluruh dunia merupakan gangguan pendengaran akibat bising pekerjaan, bervariasi antara 7-21% di setiap sub wilayah. Efek paparan bising lebih tinggi pada negara berkembang. Estimasi NIDCD sekitar 15% atau 26 juta warga negara Amerika berusia 20-69 tahun mengalami gangguan pendengaran frekuensi tinggi karena paparan suara yang keras atau bising di tempat kerja dan hiburan (Fikri, 2018).

1.2 Tujuan

1. Mengukur tingkat kebisingan dari suatu lokasi;

2. mengukur kondisi meteorologi terkait dengan penentuan tingkat kebisingan;

3. mengetahui cara mengoperasikan Sound Level Meter (SLM);

4. mengetahui korelasi kondisi metereologi dengan kebisingan.

(2)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM AIR

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 1.3 Manfaat Praktikum

Manfaat utama dari praktikum kebisingan dan kondisi meteorology adalah sebagai berikut:

1. Mahasiswa dapat mengukur tingkat kebisingan dari suatu lokasi;

2. mahasiswa dapat mengoperasikan environment meter;

3. mahasiswa dapat mengoperasikan Sound Level Meter (SLM);

4. mahasiswa dapat mengetahui hubungan antara kondisi meteorologi dengan kebisingan

1.4 Metode Pecobaan

Metode yang digunakan pada pengukuran kebisingan dan kondisi meteorologi ini adalah metode sederhana. Metode sederhana ini adalah metode pengukuran kebisingan dengan menggunakan Sound Level Meter (SLM) dengan mengecek selama 10 (sepuluh) menit untuk tiap pengukuran yang pembacaannya dilakukan setiap 5 (lima) detik.

1.5 Prinsip Pengukuran

Kondisi meteorologi diukur dengan menggunakan anemometer, GPS, kompas dan Environment Meter. Angin akan menggerakkan balingbaling yang ada pada perangkat anemometer, rotasi yang ditimbulkan akan dicatat oleh rangkaian elektronik pada alat ini. Environment Meter akan mencatat tekanan udara, kelembaban, suhu dan laju aliran udara. Sedangkan pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan alat Sound Level Meter (SLM). Sound Level Meter berfungsi apabila benda bergetar atau masuk ke dalam alat, maka akan menyebabkan perubahan udara yang ditangkap alat ini dan akan menggerakkan meter petunjuk.

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kondisi Eksisting Wilayah Sampling

Pengambilan sampel praktikum dilakukan di parkiran Koridor TI-TL, Universitas Andalas pada hari Sabtu, 12 April 2025. Koordinat geografis lokasi pengambilan sampel memiliki 0°54'47'' LS dan 100°27'49'' BT dengan elevasi 288 mdpl. Cuaca pada saat pengambilan sampling adalah cerah berawan dengan suhu 27°C, tekanan udara sebesar 758,31 mmHg serta kelembaban udara sebesar 77%. Berdasarkan analisis terhadap kondisi eksisting, sumber pencemar dari lokasi tersebut yaitu polusi yang disebabkan oleh kendaraan yang lewat di sekitar parkiran departemen TI-TL.

2.2 Umum

Pendengaran adalah salah satu sistem indera manusia, dan ketika Anda mengalami gangguan pendengaran, proses komunikasi menjadi sulit. Berinteraksi dengan orang yang mengalami gangguan pendengaran menyebabkan frustrasi, ketidaksabaran, kemarahan atau simpati terhadap orang tersebut. Berdasarkan data WHO, diketahui bahwa gangguan pendengaran akibat kebisingan merupakan kecelakaan kerja terbanyak kedua dalam hidup. Gangguan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan dapat terjadi tiba-tiba dalam hitungan detik atau perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan terkadang tidak diketahui (Dewanty, 2015).

Ada berbagai sumber kebisingan di sekitar kita, seperti kebisingan industri (pabrik), bandara, jalan raya, dan tempat hiburan. Pekerjaan yang selalu menimbulkan kebisingan adalah pekerjaan pertambangan, pembuatan terowongan, pertambangan (peledakan, pengeboran), pekerjaan mesin berat (percetakan, proses, penempaan besi, mesin tekstil, mesin kertas), mesin pembakaran tinggi (truk, kendaraan konstruksi) dan pekerjaan mesin jet. Sumber kebisingan berasal dari aktivitas manusia dan hal lainnya (Dewanty, 2015).

(4)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

Kebisingan merupakan bahaya fisik yang umum terjadi di lingkungan kerja.

Kebisingan tidak lepas dari perkembangan industrialisasi, karena hampir semua proses produksi di industri menimbulkan kebisingan. Kebisingan merupakan faktor lingkungan fisik yang mempengaruhi kesehatan di tempat kerja dan merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan stres tambahan bagi tenaga kerja (Fithri, 2015).

Kebisingan dapat mengganggu percakapan hingga mencegah komunikasi yang berkelanjutan, dan juga dapat menyebabkan gangguan mental seperti lekas marah, cemas, dan takut. Gangguan jiwa akibat kebisingan tergantung pada intensitas, frekuensi, periode, waktu dan durasi kejadian, kompleksitas spektrum atau kebisingan, dan ketidakteraturan kebisingan. Kebisingan dapat mengganggu pekerjaan seseorang melalui gangguan dan gangguan jiwa, sehingga menurunkan produktivitas kerja. Kebisingan biasanya suara terdiri dari beberapa frekuensi pada tingkat suara yang berbeda dalam desibel (dBA) (Fithri, 2015).

2.3 Sumber Kebisingan

Bunyi penghasil derau disebabkan oleh sumber bunyi yang bergetar. Getaran sumber bunyi mengganggu keseimbangan molekul udara di sekitarnya sehingga molekul udara di sekitarnya juga ikut bergetar. Getaran sumber ini menyebabkan gelombang perambatan energi mekanik di media udara menurut pola perambatan longitudinal. Perambatan gelombang ini di udara disebut suara atau suara (Chimayati, 2017).

Menurut Dirjen PPM dan PL, DEPKES dan KESSOS RI, 2000 sumber kebisingan dibedakan menjadi tiga yaitu (Chimayati, 2017):

1. Bising Industri

Industri besar termasuk di dalamnya pabrik, bengkel dan sejenisnya. Bising industri dapat dirasakan oleh karyawan maupun masyarakat di sekitar industri dan juga setiap orang yang secara tidak sengaja berada di sekitar industri tersebut. Sumber kebisingan bising industri dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu:

a. Mesin, kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin;

(5)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

b. Vibrasi, kebisingan yang ditimbulkan oleh akibat getaran yang ditimbulkan akibat gesekan, benturan atau ketidak seimbangan gerakan bagian mesin.

Terjadi pada roda gigi, roda gila, batang torsi, piston, fan, dan lain-lain;

c. Pergerakan udara, gas dan cairan, kebisingan ini ditimbulkan akibat pergerakan udara, gas, dan cairan dalam kegiatan proses kerja industri misalnya pada pipa penyalur cairan gas, outlet pipa, gas buang, dan lain- lain.

2. Bising Rumah Tangga

Bising disebabkan oleh rumah tangga dan tidak terlalu tinggi tingkat kebisingannya, misalnya pada saat proses masak di dapur.

3. Bising Spesifik

Bising yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan khusus, misalnya pemasangan tiang pancang tol atau bangunan.

2.4 Jenis Kebisingan

Berdasarkan sifat-sifatnya, kebisingan dapat dikelompokan menjadi beberapa jenis, yaitu (Chimayati, 2017):

1. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state,wide band noise), misalnya kebisingan yang berasal dari mesin mesin, kipas angin, dan lain-lain;

2. Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit (steady state, narrow band noise), misalnya kebisingan yang berasal dari gergaji sirkuler, katup kipas, dan lain-lain;

3. Kebisingan terputus-putus (Intermittent), misalnya kebisingan yang berasal dari lalu lintas, suara pesawat terbang, dan lain-lain;

4. Kebisingan impulsive (impact or impulsive noise), misalnya kebisingan yang berasal dari pukulan palu, tembakan pistol, ledakan meriam, dan lain-lain;

5. Kebisingan impulsive berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan.

Klasifikasi kebisingan di tempat kerja dibagi dalam dua jenis golongan besar, yaitu (Chimayati, 2017):

1. Kebisingan tetap (steady noise), yang terbagi menjadi dua yaitu :

(6)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

a. Kebisingan dengan frekuensi terputus (discrete frequency noise);

b. broad band noise, kebisingan yang terjadi pada frekuensi terputus yang lebih bervariasi.

2. Kebisingan tidak tetap (unsteady noise), yang terbagi menjadi tiga yaitu;

a. Kebisingan fluktuatif (fluctuating noise), kebisingan yang selalu berubah- ubah selama rentang waktu tertentu.

b. Intermittent noise, kebisingan yang terputus-putus dan besarnya dapat berubah-ubah, contoh kebisingan lalu lintas.

c. Impulsive noise, dihasilkan oleh suara-suara berintensitas tinggi (memekakkan telinga) dalam waktu relatif singkat, misalnya suara ledakan senjata api.

Kebisingan dapat berasal dari berbagai sumber yang ada. Salah satunya sumber kebisingan dapat dibedakan berdasarkan bentuknya, yaitu (Listyaningrum, 2016):

1. Sumber titik (berasal dari sumber diam) yang penyebaran kebisingannya dalam bentuk bola-bola konsentris dengan sumber kebisingan sebagai pusatnya dan menyebar di udara dengan kecepatan sekitar 360 m/detik;

2. Sumber garis berasal dari sumber bergerak dan penyebaran kebisingannya dalam bentuk silinder-silinder konsentris dengan sumber kebisingan sebagai sumbunya dan menyebar di udara dengan kecepatan sekitar 360 m/detik, sumber kebisingan ini umumnya berasal dari kegiatan transportasi

Sumber bising utama dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu (Putra, 2018):

1. Bising dalam, yaitu sumber bising yang berasal dari manusia, bengkel mesin, dan alat-alat rumah tangga.

2. Bising luar, yaitu sumber bising yang berasal dari lalu lintas, industri, tempat pembangunan gedung, dan lain sebagainya. Sumber bising dapat dibagi dua kategori yaitu sumber bergerak seperti kendaraan bermotor yang sedang bergerak, kereta api yang sedang melaju, pesawat terbang jenis jet maupun jenis baling-baling. Sumber bising yang tidak bergerak adalah perkantoran, diskotik, pabrik tenun, pabrik gula, pembangkit listrik tenaga diesel, dan

(7)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 perusahaan kayu.

2.5 Dampak KebisinganTerhadap Kesehatan

Dampak kebisingan pada indera pendengaran adalah trauma akustik atau tuli konduksi yang disebabkan oleh pemaparan tunggal sehingga dapat merusak membran timpani. Sedangkan untuk Temporary Threshold Shift (TTS) yaitu ketulian yang bersifat sementara dan akan pulih dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari yang tergantung faktor besarnya frekuensi kebisingan, temporal pattern, pemaparan, kerentanan individu serta waktu pemeriksaan pendengaran (Dewanty, 2015).

Kebisingan dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, komunikasi, dan gangguan pendengaran/ketulian atau ada yang menggolongkan gangguannya berupa gangguan auditori, misalnya gangguan terhadap pendengaran dan gangguan non auditori seperti komunikasi terganggu, ancaman bahaya keselamatan, menurunnya performance kerja, kelelahan, dan stress. Lebih rinci lagi dampak kebisingan terhadap kesehatan tenaga kerja adalah sebagai berikut (Chimayati, 2017):

a. Gangguan Fisiologis

Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, basal metabolisme, retriksi pembuluh darah kecil terutama pada bagian kaki, dapat menyebabkan pucat, dan gangguan sensoris.

b. Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, emosi, dan lain-lain. Pemaparan dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan penyakit psikosomatik antara lain; gastristik, penyakit jantung koroner, dan lain-lain.

c. Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, bahkan mungkin terjadi kesalahan, terutama bagi pekerja baru yang belum berpengalaman. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung akan mengakibatkan bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan tenaga kerja

(8)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

karena tidak mendengarkan teriakan atau isyarat tanda bahaya yang tentunya akan dapat menurunkan mutu pekerjaan dan produktivitas kerja.

d. Gangguan Keseimbangan

Gangguan keseimbangan ini mengakibatkan gangguan fisiologis seperti kepala pusing, mual, dan lain-lain.

e. Gangguan Terhadap Pendengaran (Ketulian)

Diantara sekian banyak gangguan yang ditimbulkan oleh bising, gangguan terhadap pendengaran adalah gangguan yang paling serius karena dapat menyebabkan hilangnya pendengaran atau ketulian.Kerusakan pendengaran karena kebisingan sebenarnya adalah kerusakan pada indera pendengaran dengan risiko penurunan daya dengar yang akhirnya dapat menjadi tuli menetap yang tidak dapat disembuhkan. Oleh karena itu, menghindari kebisingan yang berlebihan adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mencegah kerusakan pendengaran. Namun dalam suatu proses produksi hal ini tidak dapat dilaksanakan (Chimayati, 2017).

Ketulian akibat bising pabrik atau yang lazim disebut trauma bising atau Noise Induced Hearing Loss (NILH), terjadi secara perlahan-lahan dan tidak dirasakan oleh tenaga kerja. Ketika pekerja mengalami gangguan pendengaran, mereka biasanya berada dalam kondisi permanen yang lebih tidak dapat diubah. Pada saat yang sama, efek lain dapat menyebabkan seseorang kehilangan pendengaran (perubahan sementara dalam kebisingan dan perubahan ambang kebisingan), konsekuensi fisiologis (peningkatan ketidaknyamanan dan stres, peningkatan tekanan darah, sakit kepala dan kelelahan), gangguan emosional (mudah tersinggung), gangguan gaya hidup (gangguan tidur atau istirahat dan penurunan konsentrasi kerja) dan gangguan pendengaran (penurunan kemampuan untuk mendengarkan televisi, radio, komunikasi, telepon), yang semuanya mempengaruhi produktivitas kerja. Insiden trauma kebisingan dapat dipantau melalui wawancara dan studi audiometri (Saefudin, 2021).

Secara konseptual teknik pengendalian kebisingan yang sesuai dengan hirarki pengendalian risiko adalah (Putra, 2018):

(9)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 1. Subtitusi

Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahan-bahan dan peralatan yang berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang berbahaya atau yang lebih aman, sehingga pemaparannya selalu dalam batas yang masih bisa ditoleransi atau dapat diterima;

2. Engenering control

Pengendalian dan rekayasa tehnik termasuk merubah struktur objek kerja untuk mencegah seseorang terpapar kepada potensi bahaya, seperti pemberian pengaman pada mesin;

3. Pengendalian administratif

Pengendalian administratif dilakukan dengan menyediakan suatu sistem kerja yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya.

Metode pengendalian ini sangat tergantung dari perilaku pekerja dan memerlukan pengawasan yang teratur untuk dipatuhinya pengendalian secara administratif ini. Metode ini meliputi pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, rotasi kerja untuk mengurangi kelelahan dan kejenuhan.

2.6 Pengukuran Volume Lalu Lintas

Volume lalu lintas adalah banyaknya kendaraan yang melewati suatu titik atau garis tertentu pada suatu penampang melintang jalan. Data pencacahan volume lalu lintas adalah informasi yang diperlukan untuk fase perencanaan, desain, manajemen sampai pengoprasian jalan. Data jumlah kendaraan kemudian dihitung dalam kendaraan/jam untuk setiap kendaraan, dengan faktor koreksi masing-masing kendaraan yaitu (Renyaan, 2016):

LV=1,0;

HV=1,2;

MC=0,25 :

Penggolongan tipe kendaraan untuk jalan perkotaan berdasarkan MKJI 1997 adalah sebagai berikut:

(10)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

1. Kendaraan ringan (LV) yaitu kendaraan bermotor ber as dua dengan 4 roda dan dengan jarak as 2,0-3,0 m ( meliputi : mobil penumpang, mini bus, pick-up, oplet dan truk kecil);

2. kendaraan berat (HV) yaitu kendaraan bermotor dengan biasanya lebih dari 4 roda dengan jarak as lebih dari 3,5 m, (meliputi : bus,truk , truk );

3. sepeda Motor (MC) yaitu kendaraan bermotor dengan 2 atau 3 roda (meliputi : sepeda motor dan kendaraan roda 3);

4. kendaraan tak bermotor (UM) dimasukkan sebagai kejadian terpisah dalam faktor penyesuaian hambatan samping. Kendaraan beroda yang menggunakan tenaga manusia atau hewan (termasuk sepeda, becak, gerobak).

Pengukuran Volume lalu lintas dapat dihitung dengan rumus:

SMP/Jam = ( Kendaraan/ Jam x Faktor EMP)

Keterangan : Fsmp = Faktor satuan mobil penumpang.

Qsmp = Volume kendaraan bermotor (smp/jam).

Qkend = Volume kendaraan bermotor (kend/jam) 2.7 Faktor Meteorologi

Meteorologi atau ilmu cuaca adalah cabang dari ilmu atmosfer yang mencakup kimia atmosfer dan fisika atmosfer, dengan fokus utama pada ilmu prakiraan cuaca.

Studi di bidang ini telah dilakukan selama ribuan tahun, meski kemajuan yang signifikan baru terjadi pada abad ke-18. Pada abad ke-19, sebuah gebrakan besar terjadi setelah pengamatan terkoordinasi yang dilakukan lintas negara. Setelah pengembangan komputer di pertengahan abad ke-20, peramalan cuaca dapat dilakukan. Fenomena meteorologi adalah aktivitas cuaca yang dapat diamati dan dijelaskan dengan ilmu meteorologi. Aktivitas tersebut terikat dengan variabel yang ada di atmosfer bumi, seperti temperatur, tekanan udara, uap air, dan gradien interaksi setiap variabel serta bagaimana mereka berubah seiring dengan waktu.

Perbedaan spasial dipelajari untuk menentukan bagaimana sistem cuaca terbentuk secara lokal, regional, dan global serta dampaknya. Meteorologi, klimatologi, fisika atmosfer, dan kimia atmosfer adalah subdisiplin sains atmosfer. Meteorologi dan hidrologi membentuk bidang interdisipliner hidrometeorologi. Meteorologi

(11)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

memiliki banyak aplikasi di berbagai bidang, seperti militer, produksi energi, transportasi, pertanian, dan konstruksi (Hartanto, 2022)

Parameter meteorologi atau disebut juga parameter cuaca adalah parameter parameter yang memiliki pengaruh terhadap perubahan cuaca. Parameter meteorologi antara lain; suhu, tekanan udara, kelembapan udara, angin, curah hujan, penyinaran matahari, visibility, dan awan. Guna mendukung akurasi penyediaan data. Dari ketiga jenis operasi diatas, terdapat irisan data atmosfer yang dibutuhkan yakni cuaca. Cuaca adalah keadaan udara pada suatu waktu yang relatif singkat dan tempat yang relatif. Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu lokasi di bumi. Iklim di suatu tempat di bumi dipengaruhi oleh letak geografis dan topografi tempat tersebut. Parameter cuaca atau disebut juga parameter meteorologi antara lain; suhu, tekanan udara, kelembapan udara, angin, curah hujan, penyinaran matahari, visibility, dan awan.

Data turunan hasil pengukuran angin, kita dapat menghitung gelombang laut di suatu perairan (Azhari, 2020).

2.8 Metode Analisis

2.8.1 Metode Analisis Pengukuran

Metode yang digunakan untuk menganalisis kebisingan adalah Sound Level Meter, sound level digunakan sebagai alat pengukur tingkat suara dimana dapat mengukur tingkat kebisingan antara 40 dan 130 dB (A) pada frekuensi antara 20 dan 20.000 Hz. Sebelum melakukan pengukuran, terlebih dahulu harus melakukan contour map lokasi sumber bunyi dan sekitarnya. Selain itu, pada saat pengukuran posisi atau tinggi dari sound level meter di posisikan dengan ketinggi

± 140-150 meter atau setinggi telinga (Chimayati, 2017).

Gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh pekerjaan (professional hearing loss), misalnya kebisingan, trauma akustik, juga dapat disebabkan oleh non- pekerjaan (informal hearing loss). Frekuensi pendengaran seseorang yang intensitasnya telah dilemahkan oleh kebisingan di tempat kerja adalah 3000-6000 Hz. Sound Level Meter (SLM) digunakan untuk menentukan dan mengukur intensitas kebisingan yang dihasilkan di lingkungan kerja. Cara kerja SLM adalah

(12)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

ketika benda bergetar menyebabkan perubahan tekanan udara yang ditangkap ketika benda bergetar menyebabkan perubahan tekanan udara yang ditangkap oleh alat, yang kemudian menggerakkan penunjuk pada meteran. (Saefudin, 2021).

2.8.2 Analisis Regresi Linear

Regresi merupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengukur ada tidaknya korelasi antar variabel. Metode regresi linier sendiri terdiri dari dua jenis yaitu metode regresi linier sederhana dan metode regresi linier berganda. Analisis regresi lebih akurat dalam melakukan analisis korelasi, peramalan, atau perkiraan nilai variabel terikat pada nilai variabel bebas. Hal ini disebabkan karena pada analisis ini tingkat perubahan suatu variabel terhadap variabel lain dapat ditentukan.

Analisis regresi diartikan sebagai suatu analisis tentang ketergantungan suatu variabel kepada variabel lain, yaitu variabel bebas, dalam rangka membuat estimasi atau prediksi dari nilai rata-rata variabel tergantung dengan diketahuinya nilai variabel bebas. Untuk membuat analisis pengaruh berbagai macam faktor independen terhadap variabel dependen bisa menggunakan analisis regresi berganda (Alwy, 2024).

Analisis regresi linear adalah teknik statistika untuk membuat model dan menyelidiki pengaruh antara satu atau beberapa variabel bebas terhadap satu variabel respon. Analisis regresi terbagi menjadi regresi linear dan nonlinear.

Regresi linear dibagi menjadi dua bagian, yaitu regresi linear sederhana dan regresi linear berganda. Analisis regresi adalah salah satu analisis yang paling populer dan luas pemakaiannya. Hampir semua bidang ilmu yang memerlukan analisis sebab- akibat mengenal analisis ini (Alwy, 2024).

2.8.3 Analisis Korelasi

Korelasi adalah cara yang digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antara dua atau lebih variabel berbeda yang digambarkan dengan ukuran koefisien korelasi. Koefisien korelasi merupakan koefisien yang menggambarkan kedekatan hubungan antara dua atau lebih variabel. Besar kecilnya koefisien korelasi tidak menggambarkan hubungan sebab akibat antara dua variabel atau lebih, namun

(13)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

hanya menggambarkan hubungan linier antar variabelnya. Selain itu, koefisien korelasi juga menunjukkan hubungan timbal balik sehingga tidak akan menjadi masalah apabila dalam menentukan variabel bebas maupun terikat dalam sebuah penelitian. Korelasi juga berguna dalam mengukur tingkat kekuatan hubungan antara dua atau lebih variabel dalam rentang tertentu. Tingkat keeratan hubungan pada korelasi ini terletak antara rentang -1 hingga 1 (Wibowo & Kurniawan, 2020).

Korelasi memiliki kemungkinan pengujian secara dua arah. Apabila koefisien korelasi bernilai positif, dikatakan korelasi searah, dan sebaliknya jika koefisien korelasi bernilai negatif maka dikatakan korelasi tidak searah. Nilai koefisien korelasi terletak antara -1 hingga 1, di mana -1 berarti terdapat hubungan negatif sempurna (terbalik), 0 berarti tidak memiliki hubungan sama sekali, dan 1 berarti memiliki hubungan positif sempurna. Pada statistik, koefisien korelasi sangat berkaitan dengan persamaan regresi karena persamaan regresi sendiri mewakili persamaan hubungan antara dua atau lebih variable (Wibowo & Kurniawan, 2020).

2,9 Alat Sampling Pencemar Kebisingan

Sound Level Meter (SLM) adalah alat untuk mengukur tingkat kebisingan dengan rentang 30–130 dB dan frekuensi 20–20.000 Hz. Alat ini terdiri dari mikrofon, amplifier, weighting network, dan layar penampil dalam satuan desibel (dB). Level kebisingan biasanya disimbolkan dengan huruf L dan subskrip yang menunjukkan jenis level tersebut. Pembobotan pada SLM berfungsi menyesuaikan sensitivitas alat terhadap frekuensi suara sesuai dengan karakteristik pendengaran manusia, yang terdiri dari empat jenis yaitu A, B, C, dan D. Pembobotan A digunakan untuk tingkat kebisingan rendah, B untuk kebisingan sedang, C untuk kebisingan tinggi, dan D untuk suara dari pesawat terbang. Namun, pembobotan B dan C dinilai kurang akurat dalam menggambarkan kondisi kebisingan nyata, karena hanya fokus pada satu jenis tekanan suara. Pembobotan A lebih banyak digunakan karena hasilnya dianggap paling sesuai dengan persepsi manusia. Sejak diberlakukannya standar IEC 61672 pada tahun 2003, pembobotan B dan D sudah jarang digunakan.

SLM juga dibedakan menjadi dua tipe, yaitu Tipe 1 untuk pengukuran presisi di laboratorium dan Tipe 2 untuk survei kebisingan lingkungan atau industri. Tipe 1

(14)

MUHAMMAD DIYAH ALQALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

mendukung pembobotan A, C, dan Linier (Z), sementara Tipe 2 hanya mendukung pembobotan A dan C (Meikaharto, 2021).

2.10 Teknik Pengambilan Sampel

Metode pengambilan data sampling tingkat kebisingan menggunakan SNI 7231- 2009 tentang Metoda Pengukuran Intensitas Kebisingan di tempat kerja yang diambil sesaat selama 1 jam dengan interval 5 menit. Alat pengukuran tingkat kebisingan yang digunakan adalah Sound Level Meter (SLM) tipe SL-4011.

Metode analisis data tingkat kebisingan dari hasil pengukuran yang didapat lalu dibandingkan dengan standar baku mutu tingkat kebisingan. Baku mutu mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Kerja (Nurhasana, 2021).

2.11Teknologi Pengurangan Pencemaran Kebisingan

Penelitian berjudul "Application of Acoustic Metasurface for Cavity Noise Reduction of a Tire" yang diterbitkan di jurnal Materials (MDPI, 2021) mengkaji pendekatan inovatif dalam mengurangi kebisingan yang dihasilkan dari rongga dalam ban. Biasanya, rongga udara di dalam ban bertindak seperti ruang resonansi, yang memperkuat suara tertentu saat kendaraan melaju, terutama pada frekuensi sekitar 200–250 Hz. Kebisingan ini, yang dikenal sebagai cavity noise, menjadi tantangan serius terutama pada kendaraan listrik yang lebih senyap.Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti mengembangkan Acoustic Metasurface (AMS), sebuah struktur mikro berbentuk sarang lebah yang dipasang di dinding bagian dalam pelek roda. Struktur ini berfungsi sebagai alat peredam gelombang suara, dengan prinsip kerja serupa resonator Helmholtz, namun lebih ringan dan fleksibel. Dalam pengujian laboratorium dan lapangan, AMS mampu mereduksi kebisingan resonansi ban sebesar 2 hingga 3 dB dibandingkan metode konvensional seperti penggunaan foam akustik (Heo, 2021).

(15)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 2.12 Baku Mutu Kebisingan

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 48 tahun 1996 tentang baku mutu tingkat kebisingan adalah:

Tabel 2.1 Baku Tingkat Kebisingan Lingkungan

Peruntukan Kawasan/

Lingkungan Kegiatan

Tingkat Kebisingan dB(A) 1. Peruntukan kawasan

a. Perumahan, pemukiman, dan kawasan/ lingkungan

pendidikan

b. Perdagangan dan Jasa c. Perkantoran dan Perdagangan d. Ruang Terbuka Hijau e. Industri

f. Pemerintahan dan Fasilitas Umum g. Rekreasi

h. Khusus:

- Bandar udara - Stasiun Kereta Api - Pelabuhan Laut - Cagar Budaya 2. Lingkungan Kegiatan

a. Rumah Sakit atau sejenisnya b. Sekolah atau sejenisnya

c. Tempat Ibadah atau sejenisnya

55

70 65 50 70 60 70

60 70

55 55 55 Sumber: KEPMENLH No 48 tahun 1996

(16)

BAB III

PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum kebisingan dan meteorologi ini adalah:

1. Sound Level Meter (SLM), digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan;

2. Kompas, digunakan untuk menentukan arah angin;

3. Anemometer, digunakan untuk mengukur kecepatan angin;

4. Environment meter, digunakan untuk mengukur suhu, kelembaban, dan tekanan udara;

5. Global Positioning System (GPS), digunaZkan untuk menentukan koordinat titik sampling;

6. Stopwatch, digunakan untuk menghitung waktu;

7. Tripod, digunakan untuk tempat kedudukan Sound Level Meter (SLM);

8. Traffic counter untuk menghitung jumlah kendaraan yang lewat saat praktikum 3.2 Bahan

Bahan yang digunakan pada percobaan kebisingan dan kondisi meteorologi adalah:

1. Sampel kebisingan, berfungsi untuk bahan yang akan di uji saat praktikum 3.3 Cara Kerja

3.3.1 Pengukuran Meteorologi

Adapun langkah kerja yang dilakukan pada pengukuran meteorolgi kali ini adalah sebagai berikut:

1. Kecepatan angin diukur dengan Anemometer setiap 10 menit;

2. Suhu, kelembaban udara, tekanan udara diukur dengan Environment Meter setiap 10 menit;

3. Arah angin diukur dengan Kompas;

4. Setelah sampling berakhir, kecepatan udara dicatat

(17)

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 3.3.2 Pembuatan Windrose

1. Catat data tahun, bulan, tanggal, jam/menit, kecepatan angin dan arah angin di dalam excel;

2. buka software Wrplot;

3. pilih menu tools dan tekan import from excel;

4. tekan menu specify file dan pilih excel yang berisikan data;

5. atur excel coulum name dengan berurutan;

6. klik station information, isi data ID(1), city (Padang), state (ID), titik koordinat sampling, time zone (Bangkok, utc +7) dan klik import;

7. save as data kedalam file explore dan klik exit dari menu import excel;

8. klik menu add file dan masukkan data yang telah di simpan sebelumnya;

9. klik menu windros dan atur wind classesnya sesuai kebutuhan;

10. terakhir klik print, atur layout menjadi landscape dan pilih menu save pdf.

3.3.3 Pengukuran Kebisingan

1. Tripod dipasang setinggi ± 150 cm sebagai tempat untuk meletakkan SLM;

2. SLM dihidupkan pada tripod, arahkan pada kebisingan dan hitung setiap 5 detik dalam 10 menit untuk masing-masing waktu pengukuran.

Berikut contoh waktu pengukuran yang bisa dilakukan

• L1 diambil pada jam 08.30 mewakli jam 08.00 - 09.00

• L2 diambil pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 - 11.00

• L3 diambil pada jam 12.00 mewakili jam 11.00 - 13.00

• L4 diambil pada jam 14.00 mewakili jam 13.00.- 15.00

• L5 diambil pada jam 16.00 mewakili jam 15.00 - 17.00 3.3.4 Perhitungan Volume Lalu Lintas

1. Jumlah kendaraan dicatat dengan menggunakan traffic counter, dimana kendaraan tersebut telah dikategorikan untuk sepeda motor, bus, dan mobil pribadi;

2. konversi jumlah kendaraan menjadi volume lalu lintas (SMP/Jam) dengan rumus Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia 2023.

SMP/Jam = (Kendaraan/ Jam x Faktor EMP)

(18)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM AIR

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163 3.4 Rumus

Rumus yang digunakan pada percobaan kebisingan dan kondisi meteorologi adalah:

Cara 1 Ln = 10 log 1

T×(T1×100,1 D1+ ... +Tn×100,1 D120) dBA Keterangan:

T : lama waktu pengukuran = 10 menit = 600 detik T1 : lama waktu pengukuran ke-1 = 5 detik

Tn : lama waktu pengukuran ke-n = 5 detik D1 : data pengukuran kebisingan ke-1 D120 : data pengukuran kebisingan ke-120 Cara 2

Pengukuran tingkat kebisingan ekuivalen selama waktu pengukuran siang hari:

Ls = 10 log 1

Ts×(T1×100,1 L1+ ... +Tn×100,1 Ln) dBA Keterangan:

Ls : nilai kebisingan ekuivalen pada siang hari Ts : lama total waktu pengukuran

T1 : waktu pengukuran ke-1 Tn : waktu pengukuran ke-n L1 : Leq ke-1

LSn : Leq ke-n

(19)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data

4.1.1 Data Kondisi Meteorologi

Tabel 4.1 Kondisi Meteorologi

No Waktu (WIB) Suhu Kelembapan Tekanan Kecepatan Angin

Arah Angin

1 14.40 26,0 84,0 759,1 0,6 18-

2 14.50 26,0 85,0 759,1 0,6 180

3 15.00 26,0 86,0 759,1 0,9 270

4 15.10 26,0 86,0 759,1 0,6 0

5 15.20 25,0 86,0 759,1 0,5 270

6 15.30 25,0 86,0 759,1 0,6 315

7 15.40 26,0 84,0 759,1 0,6 180

8 15.50 26,0 85,0 759,1 0,6 180

9 16.00 26,0 86,0 759,1 0,9 270

10 16.10 26,0 86,0 759,1 0,6 0

11 16.20 25,0 86,0 759,1 0,5 270

12 16.30 25,0 86,0 759,1 0,6 315

Juml

ah 308,00 1026,00 9108,72 7,60 2268

Rata-

Rata 25,67 85,50 759,06 0,63 189

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

4.1.2 Windrose

Gambar 4.1 Windrose

(20)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

4.2 Perhitungan

4.2.1 Tingkat Kebisingan

Tabel 4.2 Taraf Intensitas Kebisingan Ke-1 (shift 4 awal)

No Tingkat Kebisingan (dBA)

1 56,1

2 58

3 58,4

4 57

5 56,3

6 56,1

7 57

8 58,3

9 57,2

10 60,7

11 58,4

12 57,8

13 57

14 57

15 57,6

16 57,6

17 57,8

18 57,6

19 57,1

20 59,5

21 52,4

22 57,6

23 56,9

24 57,9

25 57,6

26 59

27 58

28 61

29 60

30 59,4

31 60,1

32 62

33 61,2

34 61,1

(21)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

35 60,4

36 58,2

37 61,2

38 59,7

39 57,9

40 56,4

41 58

42 54,2

43 55,9

44 57,1

45 57,8

46 58,1

47 57,6

48 59,2

49 59,4

50 58,9

51 60,5

52 60,8

53 61,7

54 60,6

55 61,6

56 61,4

57 61,4

58 61,8

59 61,2

60 60,4

61 60,1

62 57,2

63 56,5

64 56,6

65 55,5

66 55,7

67 58,4

68 57

69 58

70 55,3

71 55,3

72 56,6

73 54

74 54,3

75 55,2

76 54,8

(22)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

77 59,6

78 57

79 55,2

80 56,3

81 57,8

82 57

83 56,9

84 58,2

85 58,7

86 59,3

87 61,9

88 60,2

89 61

90 60,5

91 59,8

92 60,3

93 59,1

94 58

95 53,9

96 57,1

97 56,6

98 54,7

99 53,5

100 55,4

101 56,5

102 54,6

103 53,9

104 55,5

105 55,5

106 54,8

107 54,6

108 55,2

109 58,8

110 55,9

111 54

112 55,3

113 55,7

114 58,1

115 54,7

116 55,1

117 54,6

118 56,1

(23)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

119 55,6

120 56,1

Rata-rata 57,88

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Tabel 4.3 Taraf Intensitas Kebisingan Ke-2 (shift 4 akhir)

No Tingkat Kebisingan (dBA)

1 57,2

2 55,1

3 55,4

4 56,1

5 52,9

6 50,2

7 53,4

8 61,6

9 63,9

10 59,6

11 53,1

12 56,7

13 63,4

14 59,6

15 56,8

16 56,5

17 55,1

18 59,6

19 51

20 57,6

21 55,2

22 53,2

23 60,8

24 56,5

25 58

26 57,2

27 59,5

28 56,5

29 56,7

30 54,3

31 58,7

32 56,7

33 63,4

34 58,3

35 59,7

(24)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

36 53,7

37 61,6

38 55,4

39 55,5

40 57,7

41 56,3

42 55,7

43 56,2

44 66

45 48,9

46 55

47 52,4

48 52,3

49 49,2

50 48,4

51 50,1

52 50,9

53 55,4

54 48,6

55 54,5

56 52,2

57 53,8

58 53,2

59 51,5

60 49,5

61 52,2

62 54,1

63 54,3

64 56,8

65 54,4

66 51,6

67 52,7

68 57

69 50,4

70 55,1

71 57

72 52,8

73 52

74 50,8

75 72,1

76 55,9

77 62,8

(25)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

78 63,9

79 57

80 57

81 56,8

82 55,3

83 51,4

84 48,7

85 52,4

86 51,4

87 56,9

88 50

89 50,1

90 55,5

91 55,6

92 57

93 51

94 53,6

95 56,7

96 56,2

97 49,1

98 53,2

99 49,8

100 55,6

101 52,2

102 48,4

103 53,2

104 53,4

105 57,8

106 62,4

107 48,1

108 52,2

109 56,3

110 50,5

111 47,7

112 46,1

113 48,5

114 46,6

115 55,4

116 52,4

117 55,9

118 52,1

119 60,6

(26)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

120 51,9

Rata-rata 55,13

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Tabel 4.4 Taraf Intensitas Kebisingan Ke-3 (shift 3 awal)

No Tingkat Kebisingan (dBA)

1 53,6

2 53,8

3 54,5

4 54,7

5 54,3

6 55,7

7 54,2

8 54,2

9 53,6

10 54,4

11 56,2

12 56,3

13 55,6

14 54,9

15 55,3

16 53,7

17 54,3

18 52,96

19 54,4

20 53,1

21 53,5

22 55

23 53,9

24 54,8

25 55,1

26 53,5

27 54,8

28 55,1

29 54,3

30 53,8

31 55

32 54,1

33 54,7

34 53,5

35 54,2

36 54,1

(27)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

37 54

38 53

39 54,1

40 55

41 53,32

42 55,1

43 55,5

44 54,2

45 56,2

46 55,9

47 55,1

48 52,5

49 53,2

50 54,4

51 55,5

52 55,3

53 56,5

54 56

55 55,3

56 55,7

57 54,3

58 56,4

59 54,6

60 56,6

61 56,4

62 56,1

63 55,9

64 55,7

65 55

66 55,9

67 54,9

68 55

69 55,5

70 55,3

71 56,2

72 54,9

73 55,5

74 55,7

75 55,4

76 55,2

77 56,6

78 54,2

(28)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

79 55,7

80 55,7

81 55,6

82 56,2

83 55,5

84 55,4

85 55,2

86 55

87 55,8

88 55,9

89 56,1

90 56,2

91 56,1

92 55,8

93 55,1

94 55

95 54,8

96 53,8

97 54,9

98 54,2

99 54,6

100 53,1

101 54,1

102 53,9

103 53

104 55

105 55,1

106 54,6

107 54,9

108 55,7

109 55,5

110 56,4

111 55

112 56,7

113 56,2

114 55,5

115 55,6

116 55,5

117 56,4

118 55,6

119 55,3

120 55,2

(29)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

Rata-rata 54,97

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Tabel 4.5 Taraf Intensitas Kebisingan Ke-4 (shift 3 akhir)

No Tingkat Kebisingan (dBA)

1 66,8

2 65,7

3 65,3

4 65,6

5 66

6 66,1

7 65

8 66,1

9 66,6

10 63,7

11 64,7

12 65,6

13 64,2

14 65,1

15 66,2

16 70,2

17 66,9

18 66,6

19 66,5

20 56,5

21 57,8

22 65,9

23 64,4

24 65,5

25 65,3

26 64,8

27 66,7

28 65,7

29 57,9

30 64,7

31 63,8

32 64,2

33 65,4

34 64,7

(30)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

35 65

36 66,2

37 53

38 64

39 64,8

40 65,6

41 65,4

42 63,9

43 63,2

44 64,7

45 62,8

46 63

47 66,3

48 64,3

49 62,9

50 57,6

51 63,1

52 64,9

53 72,9

54 66,7

55 65,1

56 65,5

57 62,2

58 65,7

59 65,5

60 63,7

61 64,8

62 64,4

63 63,8

64 62,9

65 62,6

66 63,9

67 68,9

68 60,7

69 64

70 64,4

71 66,6

72 65,6

73 66,6

74 63,7

75 63,6

76 63,7

(31)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

77 62,6

78 61,7

79 66,1

80 61,8

81 61,9

82 66,6

83 64,1

84 64,1

85 68,8

86 67,8

87 65,7

88 63,1

89 63,7

90 62,9

91 62,5

92 60,9

93 59,8

94 61,3

95 59,7

96 60,9

97 59,6

98 66,7

99 61,1

100 61,1

101 64,8

102 65,7

103 64,1

104 62,5

105 63,8

106 66,7

107 62,8

108 63

109 66,7

110 60,5

111 59,8

112 59,5

113 60,4

114 60,2

115 60,9

116 61,8

117 59,1

118 61,8

(32)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

No Tingkat Kebisingan (dBA)

119 55,9

120 59,8

Rata-rata 63,82

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Pengukuran tingkat kebisingan Ke-1 (Shift 4 awal) Ln = 10 log1

T × T1 × 100,1∙D1 + ….. + Tn × 100,1∙D120 dBA Ln = 10 log 1

600 × 5 × 100,1∙56,1 + ….. + 5 × 100,1.56,1 dBA Ln = 68,98 dBA

Pengukuran tingkat kebisingan Ke-2 (Shift 4 akhir) Ln = 10 log1

T × T1 × 100,1∙D1 + ….. + Tn × 100,1∙D120 dBA Ln = 10 log 1

600 × 5 × 100,1∙57,2 + ….. + 5 × 100,1∙51,9 dBA Ln = 66,53 dBA

Pengukuran tingkat kebisingan Ke-3 (Shift 3 awal) Ln = 10 log1

T × T1 × 100,1∙D1 + ….. + Tn × 100,1∙D120 dBA Ln = 10 log 1

600 × 5 × 100,1∙72,4 + ….. + 5 × 100,1∙74,1 dBA Ln = 59,89 dBA

Pengukuran tingkat kebisingan Ke-4 (Shift 3 akhir) Ln = 10 log1

T × T1 × 100,1∙D1 + ….. + Tn × 100,1∙D120 dBA Ln = 10 log 1

600 × 5 × 100,1∙71,8 + ….. + 5 × 100,1∙73,6 dBA Ln = 64,70 dBA

Nilai Ls:

(33)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

Pengukuran tingkat kebisingan ekuivalen selama waktu pengukuran siang hari:

Ls = 10 log 1

Ts × T1 × 100,1∙Ln1+ … + T2 × 100,1∙Ln4 dBA Ls = 10 log 1

16 × 5 × 100,1∙69,98+ … +5 × 100,1∙64,70 dBA Ls = 67,76 dBA

Nilai Lm:

Pengukuran tingkat kebisingan ekuivalen selama waktu pengukuran malam hari:

Lm = 10 log 1

Ts × T1 × 100,1∙Ln1+ … + T2 × 100,1∙Ln4 dBA Lm = 10 log1

8 × 5 × 100,1∙69,98+ … +5 × 100,1∙64,70 dBA Lm = 66,90 dBA

Nilai Lsm:

Pengukuran tingkat kebisingan ekuivalen selama waktu pengukuran siang-malam hari:

Lsm = 10 log [ 1

24 × T1 × 10 + T2 × 10 ]dBA Lsm = 10 log [ 1

24 × T1 × 10 + T2 × 10 ]dBA Lsm = 79,26 dBA

4.3 Hubungan Tingkat Kebisingan dengan Meteorologi 4.3.1 Suhu

(34)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 KEMENTRIAN PENDIDIKAN TINGGI, SAINS, DAN

TEKNOLOGI

FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS ANDALAS DEPARTEMEN TEKNIK LINGKUNGAN LABORATORIUM KUALITAS UDARA

Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

Gambar 2.2 Hubungan Tingkat Kebisingan dengan Suhu

Tabel 4.6 Hubungan Tingkat Kebisingan dengan Suhu

Data Kebisingan Suhu (°C)

Shift 1 72,8 29,00

Shift 2 73,6 27,50

Shift 3 59,9 26,00

Shift 4 56,505 25,67

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Tabel 4.7 Korelasi Tingkat Kebisingan dengan Suhu

No Suhu/Kebisingan Persamaan Regresi R2 R Koefisien Interpretasi 1 Suhu Y = 5,1598x + 73,834 0,8081 0,898944 Sangat kuat

4.3.2 Tekanan

y = 5,1598x - 73,834 R² = 0,8081

0 10 20 30 40 50 60 70 80

0 5 10 15 20 25 30 35

KEBISINGAN

SUHU

HUBUNGAN TINGKAT KEBISINGAN

DAN SUHU

(35)

MUHAMMAD DIYAH AL’QALABI 2310942018 Kampus Unand Limau Manis, Padang 25163

Gambar 2.3 Hubungan Tingkat Kebisingan dengan Tekanan Tabel 4.7 Hubungan Tingkat Kebisingan dengan Tekanan

Data Kebisingan Tekanan

Shift 1 72,8 758,31

Shift 2 73,6 759,1

Shift 3 59,9 733,48

Shift 4 56,505 759,06

Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

Tabel 4.9 Korelasi Tingkat Kebisingan dengan Tekanan

No Tekanan/Kebisingan Persamaan Regresi R2 R Koefisien Interpretasi 1 Tekanan y = 0,2974x – 158,1 0,1846 0,4296 Cukup Kuat Sumber: Data Praktikum Laboratorium Kualitas Udara, 2025

4.3.3 Kelembapan

y = 0,2974x - 158,1 R² = 0,1846

0 10 20 30 40 50 60 70 80

0 100 200 300 400 500 600 700 800

KEBISINGAN

TEKANAN

HUBUNGAN TINGKAT KEBISINGAN DAN

TEKANAN

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat hubungan gangguan pendengaran dengan perkembangan. bahasa anak dengan sindrom down

Paparan dengan Risiko Terjadinya Gangguan Pendengaran Akibat Bising.. Gamelan Bali pada Mahasiswa Fakultas

Sedikitnya 7 juta orang (35% dari populasi industri di Amerika dan Eropa) terpajan bising 85 dB atau lebih (Soetjipto, 2007). Di indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran

“Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Gangguan Pendengaran Akibat Bising dan Hubungan Intensitas Kebisingan dengan Peningkatan Tekanan Darah pada Karyawan Pabrik Kelapa

Gangguan telinga akibat bising atau Noise Induced Hearing Loss (NIHL) merupakan jenis gangguan pendengaran tipe tuli sensorineural yang disebabkan oleh paparan

Bila pajanan bising berlangsung lama dan atau pada tingkat yang lebih tinggi, maka ambang dengar tidak akan kembali pada nilai normal karena terjadi gangguan pada fungsi

Keluhan pendengaran subyektif merupakan gangguan yang dirasakan oleh seseorang akibat dari keadaan lingkungan kerja yang bising, namun dalam hal ini tidak dilakukan

Selain itu, gangguan pendengaran dapat disebabkan oleh proses degeneratif, mutasi genetik, paparan bising, paparan obat terapeutik, merokok, dan penyakit kronik.19 Penelitian