• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

Selama penyusunan monografi ini, peneliti cukup banyak menemui kendala, namun peneliti menyadari bahwa kelancaran penyusunan monografi ini tidak lepas dari bantuan, dorongan dari keluarga dan rekan-rekan. Barangkali masih banyak kekurangan dalam penyusunan proposal penelitian ini, baik dari segi penulisan, isi dan lain-lain, sehingga peneliti sangat mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan penulisan Monograf berikutnya. Dimana variabel budaya keselamatan terbukti mampu meningkatkan kinerja pegawai dengan cara memantau keselamatan pekerja, menyediakan peralatan keselamatan yang terstandar, memberikan sanksi atas pelanggaran prosedur keselamatan kerja, komunikasi yang baik dengan pekerja, memberikan keterampilan keselamatan kerja, dan menciptakan lingkungan kerja yang aman.

Latar Belakang Masalah

Meskipun beberapa perusahaan telah menerapkan sistem keselamatan kerja bagi karyawannya, namun sebagian besar masih belum memenuhi standar keselamatan kerja. Dalam dunia keselamatan kerja saat ini, iklim keselamatan kerja yang baik sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, karena 88%. Namun pengukuran Iklim Keselamatan Kerja sangat sulit dilakukan karena penelitian mengenai hal tersebut masih minim.

Rumusan Masalah

Iklim keselamatan kerja merupakan persepsi bersama dalam suatu kelompok kerja mengenai keselamatan kerja kelompok pekerja tersebut, kebijakan keselamatan kerja, prosedur dan praktik di lapangan.

Tujuan Penelitian

Kerangka Konseptual Penelitian

Hipotesis Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Perilaku K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan faktor yang sangat penting dalam bekerja, karena tanpa K3 atau kesehatan dan keselamatan kerja niscaya akan banyak terjadi kecelakaan baik pada pekerjaan ringan hingga berat. Pengetahuan keselamatan kerja dipengaruhi oleh pengetahuan tentang prosedur kesehatan dan keselamatan kerja yang dijalankan atau dijalankan oleh para karyawan di perusahaan. Jadi perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja yang berhubungan langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan individu, sangat erat kaitannya dengan iklim keselamatan dan pengetahuan keselamatan, karena keadaan iklim keselamatan di perusahaan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan.

Budaya Keselamatan (K3)

Model budaya keselamatan yang berbeda umumnya berkembang dari lingkup ilmu-ilmu perilaku (behavioral sciences: antropologi, sosiologi dan psikologi). Budaya keselamatan merupakan suatu konsep yang berkaitan dengan aspek kemanusiaan (Humanbeing), yang mempunyai aspek internal yang tidak terlihat (Mind) dan aspek eksternal yang terlihat (Behavior), yang secara alamiah ada dalam konteks sosial (Komunitas atau Organisasi). Budaya kesehatan dan keselamatan kerja saat ini menjadi pilar dalam kerangka peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja (The Pillars of the Global Strategy for Occupational Safety and Health).

Gambar 2.1 Model Safety Culture
Gambar 2.1 Model Safety Culture

Iklim keselamatan

Organisasi dengan iklim keselamatan yang kuat tidak hanya mempunyai tempat kerja yang terbangun dengan baik dan program keselamatan di tempat kerja yang baik, namun juga karena program yang ada telah memberikan semacam “arahan” kepada para karyawan tentang komitmen manajemen terhadap keselamatan di tempat kerja. Iklim Keselamatan Pengaruh adaptasi perilaku keselamatan Peningkatan persepsi lingkungan yang aman Pengaruh perilaku karyawan Pengaruh lingkungan kerja yang aman. Iklim keselamatan kerja merupakan indikator sadar atau tidaknya manajemen terhadap keselamatan kerja dan mempengaruhi perilaku karyawan.

Gambar 2.3: Skema Pengaruh dari Iklim Keselamatan Kerja  Sumber: Gershon et al. (2000)
Gambar 2.3: Skema Pengaruh dari Iklim Keselamatan Kerja Sumber: Gershon et al. (2000)

Kinerja Karyawan

Kinerja adalah keseluruhan keberhasilan seseorang selama periode/waktu tertentu dalam melaksanakan tugas, dibandingkan dengan berbagai kemampuan seperti standar hasil kerja, tujuan atau sasaran serta kriteria yang telah ditentukan dan disepakati bersama. Dari masukan tersebut dapat diartikan bahwa kinerja adalah melaksanakan suatu kegiatan dan menyempurnakan pekerjaan sesuai dengan tanggung jawabnya sehingga dapat dicapai hasil sesuai dengan yang diharapkan. Menurut Hasibuan, kinerja adalah hasil kerja yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan keterampilan, usaha, dan kesempatan.

Berdasarkan penjelasan di atas, kinerja adalah suatu hasil yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas berdasarkan keterampilan, pengalaman dan keseriusan serta waktu menurut standar dan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk mencapai suatu organisasi dapat berfungsi secara efektif dan sesuai dengan tujuan organisasi, maka organisasi tersebut harus mempunyai kinerja pegawai yang baik, yaitu dengan menjalankan tugasnya secara dapat diandalkan. Mangkunegara menyatakan pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah kualitas dan kuantitas hasil kerja yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Sebagaimana dikemukakan Mangkunegara (2007), istilah kinerja dari kata prestasi kerja atau kinerja sebenarnya (prestasi kerja atau kinerja aktual yang dicapai seseorang) adalah hasil kerja dari segi kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan yang diharapkan. dengan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Kinerja adalah hasil pelaksanaan pekerjaan, baik yang bersifat fisik/materi maupun non fisik/non materi. Foster dan Seeker (2001) menyatakan bahwa “Kinerja adalah hasil yang dicapai oleh seorang individu menurut standar yang berlaku pada pekerjaan yang bersangkutan.”

Dari berbagai definisi kinerja menurut para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja pegawai adalah hasil kerja yang dilakukan seseorang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan organisasi dan meminimalkan kerugian.

METODE PENELITIAN

  • Populasi Penelitian
  • Sampel Penelitian
  • Definisi Operasional Variabel Penelitian
  • Instrumen Penelitian
  • Desain Kuesioner Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Pengolahan dan Analisis Data

Brahmasari, Ida Ayu, Suprayetno Agus, Pengaruh motivasi kerja, kepemimpinan dan budaya organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan (Studi kasus pada PT. Pei Hai International Wiratama Indonesia), Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol. Margaretha Marmis dan Amsal, 2012, Pengaruh komitmen organisasi, motivasi dan kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada PT BFI Finance Indonesia TBK Pekanbaru, Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap kinerja dengan kepuasan kerja sebagai variabel intervening (Studi pada karyawan bagian produksi di PT. Mahakarya Rotanindo, Gresik) American Journal of Economics Juni 2012,.

HASIL PENELITIAN

Analisis Deskriptif Karakteristik Responden

Analisis data usia responden sebaiknya dilakukan karena usia berkaitan dengan kinerja pegawai ditinjau dari kuantitas, kualitas, keandalan, kehadiran, dan kemampuan berpartisipasi dalam pekerjaan. Dari profil responden ditinjau dari usia dapat disimpulkan bahwa frekuensi tertinggi adalah pada usia dibawah 30 tahun yaitu sebesar 28%. Analisis pendidikan penting untuk dilakukan karena setiap jenis pekerjaan mempunyai tuntutan yang berbeda-beda pada seseorang dan setiap orang harus mempunyai keterampilan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan tersebut.

Berdasarkan profil responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat disimpulkan bahwa frekuensi terbesar terdapat pada tingkat pendidikan SMA/SMK yaitu sebesar 46%. Artinya mayoritas responden masih berpendidikan SMA/SMK, hal ini diyakini berkaitan dengan jenis pekerjaan pada bagian operasional lapangan. Pendidikan erat kaitannya dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki responden sebagai prasyarat untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.

Selain itu, tingkat pendidikan yang tinggi merupakan indikasi wawasan dan cara pandang yang luas dalam menilai dan memandang suatu permasalahan, sehingga responden dapat mengambil keputusan yang baik dengan tawaran pendidikan yang memadai. Analisis demografi kemudian dilakukan terhadap data senioritas responden, dimana senioritas seseorang pada suatu perusahaan menunjukkan senioritas seorang karyawan. Dari profil responden berdasarkan masa kerja, dapat disimpulkan bahwa frekuensi masa kerja paling besar adalah antara 16 dan 20 tahun.

Hal ini mungkin merupakan indikasi bahwa mayoritas responden di lokasi survei memiliki loyalitas yang tinggi dan turnover yang rendah.

Analisis Hasil Penelitian

Dalam penelitian ini iklim keselamatan mempunyai 4 (empat) indikator yaitu nilai manajemen, komunikasi keselamatan, praktik keselamatan dan peralatan keselamatan. Variabel terikat kinerja pegawai (Y) dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan 5 (lima) indikator yaitu: kuantitas, kualitas, keandalan, kehadiran dan kemampuan bekerja sama, 5 (lima) indikator tersebut dirumuskan menjadi 27 (dua puluh tujuh) poin pernyataan . Provinsi Jawa Timur dinilai masuk dalam kategori sangat tinggi dengan nilai mean sebesar 4,517 dan standar deviasi sebesar 0,6331.

Artinya pegawai mempunyai kinerja sangat tinggi karena dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu dengan skor sebesar 4,628 dengan kategori sangat tinggi. Konstanta yang dihasilkan (a) sebesar 0,456 menunjukkan bahwa nilai kinerja karyawan (Y) sebesar 0,456 ketika budaya keselamatan (X1) dan iklim keselamatan (X2) bernilai konstan. Nilai koefisien budaya keselamatan (X1) sebesar 0,658 yang berarti ketika budaya keselamatan meningkat sebesar 0,658 maka kinerja karyawan akan meningkat sebesar 0,658 dengan asumsi variabel lain tetap.

Koefisien iklim keselamatan (X2) sebesar 0,357 yang berarti ketika iklim keselamatan meningkat sebesar 0,357 maka kinerja karyawan akan meningkat sebesar 0,357 dengan asumsi variabel lain tetap. Untuk menguji hipotesis digunakan uji t yang menunjukkan adanya pengaruh secara parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Uji simultan (Uji F) menunjukkan nilai F hitung dari F tabel sebesar 2,57, sehingga variabel independen Budaya Keselamatan (X1) dan Iklim Keselamatan (X2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan (Y) .

Tabel  5.5  memberikan  informasi  tentang  pelaksanaan  variabel  Iklim  Keselamatan  (Safety  Climate)  PT
Tabel 5.5 memberikan informasi tentang pelaksanaan variabel Iklim Keselamatan (Safety Climate) PT

Pembahasan

Upaya nyata tersebut diwujudkan dengan sikap dan segala tindakan yang berkaitan dengan keselamatan kerja. Hal ini ditunjukkan dengan manajemen perusahaan yang memberikan prioritas utama pada permasalahan keselamatan kerja, upaya peningkatan kinerja keselamatan kerja, pengawasan terhadap pelaksanaan keselamatan kerja, ketersediaan alat pelindung diri dan pelatihan keselamatan kerja. Tujuan ditetapkannya peraturan dan prosedur keselamatan kerja adalah untuk mengendalikan bahaya-bahaya yang ada di tempat kerja, melindungi pekerja dari kemungkinan terjadinya kecelakaan, dan mengatur perilaku pekerja, sehingga akan tercipta budaya keselamatan yang baik.

Hal ini dapat diartikan bahwa peraturan dan prosedur yang ada telah disusun dengan jelas, prosedur keselamatan kerja diterapkan secara konsisten, sanksi diterapkan terhadap pelanggaran prosedur, dan peraturan serta prosedur keselamatan diperbaiki secara berkala. Budaya keselamatan akan lebih efektif jika keterlibatan manajemen diterapkan secara nyata dan terdapat keterlibatan karyawan secara langsung dalam keselamatan kerja. Kompetensi pekerja di bidang keselamatan kerja seringkali dinilai berdasarkan pengetahuan, pemahaman dan penerapan peraturan prosedur keselamatan kerja serta penerapan pelatihan keselamatan kerja yang diterima.

Pegawai dengan tingkat kompetensi yang baik diharapkan mampu meminimalisir risiko kecelakaan kerja dan membantu meningkatkan kompetensi pegawai lainnya dalam keselamatan kerja. Faktor lingkungan tersebut mencakup permasalahan yang berkaitan langsung dengan proses kerja, seperti tekanan jadwal kerja yang berlebihan, peralatan keselamatan kerja yang tidak memadai, kurangnya pelatihan dan kurangnya pengawasan. Iklim keselamatan kerja didefinisikan sebagai persepsi kekhawatiran karyawan mengenai praktik, prosedur, dan perilaku serupa yang diberikan, didukung, dan diharapkan dalam lingkungan tertentu.

Dengan diterapkannya keselamatan yang tinggi dalam bekerja maka karyawan akan merasa aman dalam melaksanakan pekerjaannya, karena keselamatan merupakan suatu hal yang penting dalam lingkungan kerja.

PENUTUP

Saran

Amirah, Noor Aina., Asma, Wan Izatul., Muda, Mohd Shaladdin., Amin, Wan Abd Aziz Wan Mohd Safety culture in combating occupational safety and health problems in the Malaysian manufacturing sectors., Journal of Asian Social Science; Full. A multi firm study, Journal of Occupational Psychology Modeling Safety Climate in The Prediction of Levels of Safety Activity. Choo, Stephen., Bowley, Christine, 2007 Using training and development to improve job satisfaction within franchising Vol. 14, Iss 2 Journal of small business and enterprise development, Bradford.

Retrieved from http://www.nytimes.com. 2004), "Exploratory Analysis of The Safety Climate and Safety Behavior Relationship", Journal of Safety Research, Vol. Peiro, Jose Management and employee perceived safety behavior in a nuclear power plant: A structural equation model., Journal of Safety Science; Vol. Behavioral intervention for occupational safety: Critical effect of social comparison feedback. 2000), Hospital Safety Climate and its Relationship With Safe Work Practice and Work Place Exposure Incident, American Journal of Infection Control, Vol 3, No.

Jack Henry Syauta Eka, Faculty of Economics of Cendrawasih University, Jayapura, Papua, Indonesia The influence of organizational culture, organizational commitment on job satisfaction and employee performance (Study at Municipal Waterworks of Jayapura, Papua Indonesia), International Journal of Business and Management Invention, Volume 1, December. Goldenhara, Stacey Kohler Moranb, Michael Colliganc, "Health and safety training in a sample of open shop construction companies Journal of Safety Research. Organizational culture, leadership style influence on organizational commitment and performance of teachers." International Journal of Business and Behavioral Sciences.

Mutmainah, Eka Afnan Troena, Noermijati, Brawijaya Faculty of Economics and Business University Program, East Java, Indonesia, The Impact of Organizational Culture, Leadership Style on Organizational Commitment and Teacher Performance International Journal of Business and Behavioral Sciences Vol.

Gambar

Gambar 2.1 Model Safety Culture
Gambar 2.3: Skema Pengaruh dari Iklim Keselamatan Kerja  Sumber: Gershon et al. (2000)
Tabel  5.5  memberikan  informasi  tentang  pelaksanaan  variabel  Iklim  Keselamatan  (Safety  Climate)  PT
Tabel 5.6 menunjukan hasil analisis diskripsi variabel kinerja karyawan PT.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Department of Higher Education and Training, South Africa Accreditation of Creative Outputs Annual National Scholarly Editors’ Forum NSEF Meeting Hosted by: the Academy of Science of