• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 1"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tahun 2019 dimana pertama kali munculnya wabah varian baru yaitu Corona Virus (SARS-CoV-2) di Wuhan, Cina dan penyakitnya disebut

dengan corona virus disease 2019 (Covid-19). Hingga pada waktu itu, wabah Covid-19 semakin menyebar dan berkembang di setiap seluruh penjuru dunia salah satunya termasuk negara Indonesia. Data korban Covid-19 ini dinamis dan terus bertambah. Pandemi ini menyebar ke hampir seluruh negara di dunia membuat negara-negara terdampak menyiapkan kebijakan perlindungan sosial kepada warganya. Di Indonesia sendiri kasus virus Covid-19 untuk pertama kalinya terjadi pada awal bulan Maret 2020 dan penyebarannya terus meluas sampai sekarang. Penyebaran kasus wabah Covid-19 memberikan dampak efek domino untuk seluruh bidang. yang bermula dari permasalahan kesehatan ke permasalahan sosial, ekonomi, serta politik (Susantyo, 2020:1).

Wabah adalah penyebaran penyakit di masyarakat, di maan jumlah orang terjangkit lebih banyak daripada biasanya pada komunitas atau musim tertentu. Wabah dapat terjadi secara terus-menerus, mulai hitungan hari hingga tahun. Wabah tidak hanya terjadi pada suatu wilayah, tetapi bisa menyebar ke wilayah lain, bahkan negara lain. Anggapan masyarakat yang sering kali kita dengar adalah: setiap kali terjadi persebaran penyakit menular, masyarakat cepat-cepat menyebutnya sebagai wabah (Winarno, 2020:2).

(2)

Secara sederhana, memang pandemi ini mulai menjadi perhatian dunia dan sampai saat ini masih terus diupayakan untuk menemukan cara untuk mencegahnya. Banyak yang memperkirakan proses yang diperlukan hingga kembali kehidupan berjalan normal seperti sebelumnya bisa terjadi hingga satu sampai dua tahun ke depan, dimana hal ini berarti masa pandemi akan berlangsung lama jika memperhatikan waktunya yang ber tahun (Abdinagoro, 2020:3).

Dapat kita lihat fakta di lapangan yang menunjukkan cepatnya penyebaran virus tersebut, pemerintah melakukan berbagai cara untuk menahan lajunya angka pasien positif Covid-19, seperti membentuk tim satuan tugas penanggulangan Covid-19 yang dipimpin langsung oleh Presiden, meminta pemerintah daerah untuk membuat kebijakan yaitu belajar di tumah untuk pelajar dan mahasiswa (Nasrah, 2020:120)

Tidak bisa dihindari bahwa kasus wabah ini juga menyebabkan dampak yang sangat begitu besar untuk setiap masing-masing negara. Salah satunya yang terjadi adalah menurunnya perekonomian suatu negara. Pandemi Covid- 19 ini mengharuskan masyarakat untuk melakukan aktivitas di rumah, menjaga jarak dengan yang lainnya, menggunakan masker disaat berpergian, dan bahkan juga dapat mengakibatkan masyarakat kehilangan pekerjaan serta mengalami penurunan penghasilan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan yang disebabkan oleh dampak dari Covid-19 yaitu per maret 2020 mengalami kenaikan hingga 26,42 juta orang. Presentase penduduk miskin per maret 2020 mengalami

(3)

kenaikan hingga 9,78 persen. Jika dibandingkan antara maret 2019 ke maret 2020 mengalami kenaikan hingga 1,28 juta orang dari sebelumnya hingga 25,14 juta orang. Yang mana presentase penduduk miskin juga naik hingga 0,37 persen poin dari maret 2019 yang hanya 9,41 persen. Akibat dari pandemi Covid-19 ini sendiri sangat memberi pengaruh terhadap keadaan sosial serta ekonomi masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah Indonesia berusaha menemukan solusi dengan melakukan penyaluran berbagai macam bantuan untuk masyarakat yang terdampak Covid-19 (BPS, 2020).

Kemiskinan menggambarkan kondisi ketiadaan kepemilikan dan rendahnya pendapatan, atau secara lebih rinci menggambarkan suatu kondisi tidak dapat terpenuhinya kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, dan papan. Beberapa definisi menggambarkam kondisi tersebut. Salah satunya adalah definisi kemiskinan yang digunakan BPS, yang menjelaskan kemiskinan sebagai ketidakmampuan individu dalam memnuhi kebutuhan dasar minimal untuk hidup layak (Bhinadi, 2017:9).

Dengan hilangnya mata pencaharian membuat banyak masyarakat yang mengalami penurunan bahkan kehilangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika kita lihat dari UU No. 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, disebutkan bahwa “Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya material, spiritual dan sosial warga Negara agar dapat hidup dengan layak dan mampu mengembangkan diri sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya.” Dalam pasal tersebut, aspek material menjadi syarat utama seseorang dapat disebut dengan sejahtera, dengan tercukupinya aspek material

(4)

atau ekonomi yang baik, dengan begitu aspek kehidupan lainnya pun dapat berjalan dengan baik pula.

Pemerintah Indonesia melakukan berbagai cara untuk menghadapi pandemi. Bermacam kebijakan disusun untuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap wabah pandemi Covid-19. Sebagai contoh pemerintah Indonesia menerbitkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 perihal Penetapan Peraturan Pemerintah Penganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang kebijakan keuangan negara dan kestabilan sistem keuangan dalam menanggulangi wabah pandemi Covid-19 ataupun dalam skema menghadapi ancaman yang dapat mempengaruhi perekonomian nasional hingga kestabilan sistem keuangan sebagai Undang-Undang.

Pemerintah telah mengambil langkah untuk menerapkan Sosial Distancing untuk menyelesaikan kasus bencana nonalam ini. program ini dimaksudkan untuk mengurangi dan bahkan memutuskan penyebaran Covid-19. Seseorang harus menjaga jarak aman, tidak melakukan kontak langsung dengan orang lain dan meghindari pertemuan masal (Sabarisman, 2020:4).

Kebijakan publik adalah serangkaian tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah yang berorientasi pada tujuan tertentu guna memecahkan masalah-masalah publik atau demi kepentiingan publik.

Kebijakan untuk melakukan sesuatu biasanya tertuang dalam ketentuan- ketentuan atau peraturan-peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh pemerintah sehingga memiliki sifat yang mengikat atau bahkan memaksa.

Untuk memahami kedudukan dan peran yang strategis dari pemerintah sebagai

(5)

public actor, terkait dengan kebijakan publik diperlukan pemahaman bahwa

untuk mengaktualisasikannya diperlukan suatu kebijakan yang berorientasi kepada kepentingan rakyat (Sore & Sobirin, 2017:2).

Pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai macam program bantuan di masa pandemi Covid-19 yang mana memiliki target yang ingin dicapai.

Dengan begitu untuk melihat indikator tercapainya tujuan dari program bantuan sosial tersebut untuk membantu masyarakat rentan yang terdampak pandemi Covid-19 dapat ditinjau melalui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya penyaluran pelaksanaam program bantuan sosial tersebut khususnya di Kota Batam. Pengukuran dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara rancangan yang telah ditetapkan dengan hasil nyata yang telah diimplementasikan. Tindakan yang dilakukan harus efektif dan efisien dikarenakan tujuan tidak akan bisa tercapai atau dengan kata lain bantuan tidak dapat dikatakan efektif jika tindakan tersebut tidak tepat dan sesuai.

Implementasi kebijakan merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses kebijakan. Artinya implementasi kebijakan menentukan keberhasilan suatu proses kebijakan dimana tujuan serta dampak kebijakan dapat dihasilkan. Maka dari itu, pengukuran implementasi kebijakan perlu dilakukan karena suatu saat akan terlihat sejauh mana efektif bantuan sosial tersebut dalam memberikan bantuan terhadap kehidupan masyarakat Kota Batam selama wabah pandemi Covid-19 ini masih berlanjut. Suatu kegiatan dapat dikatakan efektif apabila kegiatan yang dilakukan dengan benar dan dapat

(6)

memberikan hasil yang bermanfaat, sedangkan efisien dapat dikatakan apabila dikerjakan dengan benar dan sesuai dengan prosedur yang ada.

Di masa wabah pandemi sekarang ini ada beberapa jenis program misalnya dapat berupa bantuan sosial sembako, kartu prakerja, program keluarga harapan, bantuan sosial tunai serta subsidi listrik merupakan salah satu wujud campur tangan pemerintah dalam usaha untuk menanggulangi pengaruh pandemic Covid-19 kepada masyarakat yang mempunyai potensi terkena imbas sosial dan ekonomi. Teja (2020) juga mengemukakan ketidaktepatan sesuatu yang menjadi tujuan penerima bantuan sosial dapat menjadi persoalan yang selalu sering timbul saat bantuan sosial didistribusikan oleh pemerintah. Tidak hanya itu, ditemukan juga tumpang tindih dari program bantuan sosial Covid-19 tersebut yang diterbitkan pemerintah sehingga dapat mengakibatkan ketidak teraturan dalam pelaksanaan program bantuan social tersebut. Proses penyaluran bantuan sosial pun masih dapat dirasakan belum optimal sampai ke tangan masyakarat, dikarenakan metode pendukung ketetapan yang masih samar dan juga ketidaksiapan dari pihak pemerintah. Permasalahan tersebut yang menyebabkan penyaluran bantuan sosial menjadi kurang efektif bahkan tidak efektif sampai ke tangan masyarakat.

Bersasarkan hasil rilis di situs resmi BPK RI Badan Pemantau Keuangan Repiblik Indonesia Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau, Menerangkan bahwa pemerintah Provinsi Kepri telah menganggarkan 20 Milyar untuk Bantuan Sosial PPKM Covid-19. Pada bulan Juni-Desember Pemerintah Provinsi

(7)

(Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri), melalui Dinas Sosial (Dinsos), meluncurkan bantuan untuk masyarakat yang terdampak Covid-19. Ada dua macam bantuan sosial (Bansos) untuk keluarga terkonfirmasi positif Covid-19 yang terdapat dalam program Dinas Sosial Pemerintah provinsi Kepulauan Riau tersebut yang mana diatur dalam Keputusan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 923 Tahun 2021 tentang besaran bantuan social bagi keluarga terkonfirmasi Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau. Pertama, yaitu bantuan bagi keluarga yang meninggal akibat positif Covid-19 akan mendapatkan santunan Rp 3 juta rupiah. Kedua, untuk keluarga yang terkonfirmasi Covid- 19 dan melakukan isolasi/karantina akan diberikan santunan sebesar Rp 1 juta.

Dengan jumlah penerima untuk yang positif sebanyak 2.536 Penerima, sedangkan untuk Penerima yang meninggal dunia sebanyak 740 penerima.

Penyebaran Covid-19 sangat cepat di Indonesia, dan angkanya terus mengalami peningkatan. Beberapa kebijakan perberlakuan pembatasan kegiatan masyarakatpun dikeluarkan oleh pemerintah salah satunya di Provinsi Kepulauan Riau. Pembatasan tersebut meliputi peliburan sekolah, tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan social budaya, dan penggunaan moda transportasi untuk pergerakan orang dan barang (Lahaling, 2021:2688).

Pemerintah sudah resmi mengambil keputusan perberlakuan PPKM atau PPKM darurat sejak 3 Juli sampai 20 Juli 2021. PPKM adalah singkatan dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. PPKM diberlakukan untuk menghambat laju kenaikan angka positif virus corona atau Covid-19 yang mana awal mulanya PPKM hanya ditetapkan di wilayah Jawa dan Bali.

(8)

Kemudian PPKM tersebut diperluas ke 15 daerah di luar Jawa dan Bali, seperti beberapa Kabupaten Kota yang ada di sejumlah Provinsi. Yang mana terdiri dari Kota Tanjungpinang dan Batam (Kepulauan Riau), Kota Medan (Sumatera Utara), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Kota Padang (Sumatera Barat), Kabupaten berau (Kalimantan Timur), Balikpapan, Kota Bontang, Kota Bandar Lampung (Lampung), Kota Manokwari dan Sorong (Papua Barat), Kota Singkawang dan Pontianak ( Kalimantan Barat), dan Kota Pdang Panjang dan Bukittinggi ( Sumatera Barat). (Idris, 2021)

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat di Provinsi Kepri khususnya di Kota Batam telah dimulai dari PPKM level 4 yang mana pada waktu itu Covid-19 masih meningkat di setiap daerah yang ada di Kota Batam. Dengan diberlakukannya PPKM level 4 tersebut Covid-19 sudah mulai menurun dan berlakulah PPKM level 3, tidak hanya sampai disitu PPKM sekarang telah sampai di level 1 yang mana angka Covid-19 sudah tidak tinggi dan kegiatan masyarakat pun sudah diberlakukan pada semestinya.

Pemerintah selain melakukan kebijakan untuk penanganan medis juga membuat program kebijakan yang dapat membantu masyarakat dalam berbagai jenis bantuan seperti uang tunai, sembako, atau pemotongan tariff pajak listrik, dan sebagainya yang saat-saat seperti ini pasti diperlukan oleh masyarakat yang terkena dampak pandemic Covid-19 dan disampaikan dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari (Makmur dkk, 2021:2).

(9)

Pada saat masa PPKM ini semua kegiatan masyarakat tentunya di berhentikan ataupun diberikan pembatasan, dengan begitu banyak ekonomi masyarakat yang menurun ditambah lagi dengan masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 di masa PPKM tersebut. Oleh karena itu, Gubernur Provinsi Kepulauan Riau memutuskan untuk memberikan bantuan sosial di masa PPKM agar perekonomian masyarakat dapat juga terbantu walaupun tidak sepenuhnya.

Pemerintah melakukan berbagai upaya dalam membantu masyarakat pada masa pandemic Covid-19, salah satunya yaitu diberikannya bnatuan social yang diharapkan program tersebut bisa berjalan dengann efektif, dan mengurangi risiko social yang timbul dari kondisi tertentu. Dengan kata lain bantuan social merupakan suatu penyaluran dana yang dimiliki pemerintah yang diberikan kepada masyarakat dengan beberapa syarat yang telah ditetapkan (Febriyanti, 2021:277).

Penyaluran bantuan sosial yang disalurkan pemerintah bagi masyarakat Provinsi Kepulauan Riau khususnya Kota Batam bukanlah suatu perkara yang baru. Bermacam jenis bantuan sosial dan tunjangan telah diberikan pemerintah untuk memenuhi hak utama, membantu meringankan beban yang menjadi tanggung jawab, dan menjadikan lebih baik tingkat kehidupan masyarakat yang kurang bercukupan. Apalagi di masa pandemi dimana pemerintah menetapkan yang namanya masa PPKM sehingga membuat masyarakat lebih sulit untuk memnuhi kebutuhan ekonominya. Maka dari itu Provinsi Kepri mengeluarkan program bantuan social PPKM yang mana program ini nantinya

(10)

dapat membantu perekonomian masyarakat Kota Batam yang terdampak Covid-19.

Program bantuan sosial bagi masyarakat terdampak Covid-19 Pemerintah provinsi Kepualauan Riau ini sendiri memiliki beberapa kriteria untuk mendapatkannya. Salah satunya ditujukan untuk masyarakat yang berpenghasilan dibawa rata-rata, masyarakat yang berpendapatan harian, keluarga miskin, kepala keluarga yang terkena PHK, disabilitas, dan lansia.

Program bantuan sosial sendiri murni dialokasikan dari anggaran Pemerintah provinsi Kepulauan Riau, sesuai Peraturan Gubernur Nomor 31 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Bantuan Sosial kepada keluarga terkonfirmasi Covid-19.

Tabel 1.1

Kriteria Bantuan Sosial untuk Keluarga Terdampak Covid-19 No. Jenis Bansos Kriteria Kelengkapan Dokumen 1. Santunan untuk

keluarga yang meninggal positif Covid-19

a. Meninggal akibat positif Covid-19 di tgl. 8 juli 2021 s.d. selama PPKM berlangsung;

b. Identitas masyarakat tersebut terdata di data Satgas Dinkes Kepri (bisa juga di cek di Dinsos Provinsi);

c. Besar santunan Rp. 3 jt per jiwa yg meninggal.

a. Foto KTP yg meninggal b. Foto Kartu Keluarga (KK).

c. Foto Surat

Kematian/Akta Kematian.

d. Foto KTP ahli waris + KK (jika pisah KK).

e. Foto lembar depan buku tabungan yg memuat No.

Rekening.

2. Bantuan sosial untuk keluarga terkonfirmasi positif Covid-19 dirawat/isolasi mandiri.

a. Terkonfirmasi akibat positif Covid-19 di tgl.

26 juni 2021 s.d. selama PPKM berlangsung;

b. Identitas masyarakat tersebut terdata di data satgas Dinkes Kepri (bisa juga di cek di

a. Foto KTP

b. Foto Kartu Keluarga (KK)

c. Foto lembar depan buku tabungan yg memuat No.

Rekening.

(11)

Dinsos Provinsi);

c. Masuk dalam DTKS (Data Terpadu

Kesejahteraan Sosial) Kemensos (bisa di cek di Dinsos Provinsi);

d. Besar bantuan Rp. 1 jt hanya untuk 1 orang per keluarga/tanggungan.

Sumber : Olahan Peneliti, 2022

Melihat Persentasi Keseluruhan dari Kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Provinsi Kepulauan Riau yang berjumlah 53.493 orang dengan jumlah bantuan yang telah disalurkan belum dapat dikatakan sesuai atau tidaknya, dikarenakan hampir seluruh kalangan masyarakat merasakan dampak dari Covid-19 itu sendiri, akan tetapi bantuan sosial yang dikeluarkan hanya terpaku kepada masyarakat yang seperti telah disebutkan pada kriteria DTKS. Data Terpadu Kesekjahteraan Sosial (DTKS) adalah data rujukan awal untuk menentukan penerima bantuan social karena terdampak pandemic Covid-19. (Gugus Tugas Covid-19 Kepri, 2021)

Tabel 1.2

Rekap Keseluruhan Masyarakat yang Terkonfirmasi Positif Tanggal 26 Juni s/d 28 Desember 2021

No Kabupaten/Kota Terkonfirmasi

Tersalurkan Persentase DTKS NONDTKS

1 Kota

Tanjungpinang

487 2.955 628 18,2%

2 Kota Batam 520 11.690 446 3,6%

3 Kabupaten Karimun

169 2.934 293 9,4%

4 Kabupaten Bintan

348 2.334 417 15,5%

5 Kabupaten Lingga

159 1.164 331 25%

(12)

Sumber: Dinas Sosial Provinsi Kepri, 2022

Dari tabel di atas dapat dilihat rekap keseluruhan masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 dan masyarakat yang meninggal akibat Covid-19 yang mana data tersebut didapatkan langsung dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan telah dicantumkan penerima dari setiap Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kepri. Sesuai denga kriteria yang ada bahwasanya jumlah penerima dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yaitu sebanyak 1.885 orang sedangkan Non DTKS sebanyak 22.871 orang.

Masyarakata yang menerima bantuan sosial PPKM tersebut sebanyak 2.536 orang, yang mana tidak sampai setengah dari data keseluruhan masyarakat yang terkonfirmasi dan persentase yang didapatkan hanya sebessar 10,2%.

Dari banyak nya masyarakat yang tidak menerima bisa dilihat dari segi kondisi kehidupan masyarakat itu sendiri yang mana berpenghasilan cukup dan tidak sesuai dengan kriteria yang sudak dijelaskan. Tidak hanya itu masyarakat yang tidak menerima juga disebabkan oleh berkas yang tidak mereka penuhi. Oleh karena itu hanya masyarakat yang datanya terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) saja yang menerima bantuan social tersebut dan mereka yang telah mengurus Surak Keterangan Tidak

6 Kabupaten Natuna

165 1.106 340 26,7%

7 Kabupaten Kepulauan Anambas

37 634 81 12%

JUMLAH 1.885 22.817 2.536 10,2%

(13)

Mampu (SKTM) di Kelurahan setempat untuk masyarakat yang Non Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Dari data di atas juga menjadi salah satu alasan peneliti untuk melakukan penelitian di Kota Batam dikarenakan dapat dilihat dari 7 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kepri, Kota Batam merupakan daerah yang menerima penyaluran banttuan social terkecil dibandingkan Kabupaten/Kota yang lainnya.

Tabel 1.3

Rekap Keseluruhan Masyarakat yang Meninggal Karena Covid Tanggal 08 Juli s/d 28 Desember 2021

No Kabupaten/Kota Meninggal Tersalurkan Persentase

1 Kota Tanjungpinang 271 223 82,2%

2 Kota Batam 666 233 34,9%

3 Kabupaten Karimun 113 69 61%

4 Kabupaten Bintan 123 111 90,2%

5 Kabupaten Lingga 73 61 83,5%

6 Kabupaten Natuna 34 24 70,5%

7 Kabupaten Kepulauan

Anambas 24 19 79,1%

Jumlah 1.304 740 56,7%

Sumber: Dinas Sosial Provinsi Kepri, 2022

Dari data tersebut dapat diketahui total bantuan social yang telah tersalurkan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 di setiap Kabupaten/Kota. Bisa dilihat jumlah masyarakat yang meninggal akibat Covid-19 sebanyak 1.304 penerima bantuan social. Sedanngkan yang menerima bantuan social PPKM hanya 740 orang, yang mana dapat dilihat hampir setengah dari masyarakat yang meninggal akibat Covid-19 menerima bantuan social tersebut. Bagi masyarakat yang tidak menerima berarti mereka

(14)

tidak melengkapi berkas-berkas yang ditentukan oleh pihak Dinas Sosial Provinsi Kepri.

Sedangkan di Kota Batam penyaluran bantuan social tidak mencapai angka persentase sebanyak 50% atau dapat dikatakan bahwasanya penyaluran di Kota Batam sedikit tersalurnya bansos padahal data yang diterima paling banyak dari beberapa Kabupaten/Kota yang lainnya.

Bantuan sosial telah lama lama dinantikan warga Kota Batam yang perekonomiannya lumpuh karena pandemic. Oleh karena itu, pendataan dilakukan secara sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Tidak hanya itu dari segi penyaluran program bantuan social sendiri dapat dilihat apakah di lapangan telah efektif atau belum, serta apakah telah tepat sasaran atau belum dengan penerima seharusnya. Ini semua yang menjadi tanda tanya bagi peneliti dengan begitu terangkat lah permasalahan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya penyaluran bantuan social PPKM oleh Dinas Sosial provinsi Kepulauan Riau.

Berdasarkan hasil wawancara bersama pihak Operator Dinas Sosial Provinsi Kepri bidang Penanganan Fakir Miskin yang menangani langsung mengenai program bantuan social PPKM tersebut, selama ini ada beberapa kendala yang dihadapi seperti kurang nya rasa percaya masyarakat dengan bantuan sosial PPKM tersebut, yang mana permasalahan ini membuat pihak Dinas Sosial Provinsi Kepri harus menanamkan rasa percaya kepada masyarakat dan meyakinkan bahwasanya bantuan sosial PPKM ini ada dan akan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19. Tidak hanya

(15)

itu penyaluran bantuan social terhadap masyarakat yang terdampak Covid-19 bahwasanya pihak Dinas Sosial Provinsi Kepri di dalam penyaluran tidak melibatkan pihak pemerintah Kabupaten/Kota dan Dinas Sosial Provinsi Kepri hanya menerima Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Dinas Kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota.

Permasalahan yang terjadi dari sudut pandang masyarakat yaitu yang mana masyarakat telah terkonfirmasi Covid-19 akan tetapi data mereka tidak ada di Dinas kesehatan Kabupaten/Kota tempat mereka tinggal, dengan begitu mereka harus melaporkan lagi ke pihak Dinas Kesehatan untuk menginput data mereka ke pihak Dinas Sosial Provinsi Kepri. Masyarakat juga beranggapan bahwa pencairan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke tangan penerima bantuan sosial.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka peneliti tertarik untuk meneliti secara lebih dalam tentang “Faktor Apakah yang Mempengaruhi Rendahnya Penyaluran Bansos PPKM kepada Masyarakat yang Terdampak Covid-19”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan peneliti di atas maka peniliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut: “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Penyaluran Bansos PPKM Oleh Dinas Sosial Provinsi Kepri kepada Masyarakat Kota Batam yang Terdampak Covid- 19?”.

(16)

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Penyaluran Bansos PPKM Oleh Dinas Sosial Provinsi Kepri kepada Masyarakat Kota Batam yang Terdampak Covid-19.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat melalui kajian teori dan analisanya untuk keperluan penelitian di masa yang akan datang dan memberikan manfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan saran kepada semua pihak yang berwenang dan bertanggung jawab atas pendistribusian bantuan sosial agar sesuai dengan apa yang ditargetkan dan diharapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Dampak Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah bantuan dari pemerintah kepada masyarakat untuk menjaga daya beli masyarakat miskin di pedesaan yang terdampak situasi

Namun, Industri Fotografi pada masa pandemi COVID-19 ini merupakan sektor yang paling terdampak dikarenakan dibatasinya acara-acara yang mengumpulkan masa yang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana efektivitas pelaksanaan Program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa pada masa pandemi COVID-19 di Desa Teratak Jering Kabupaten

Oikos-Nomos: JURNAL KAJIAN EKONOMI DAN BISNIS E-ISSN: 2747-0059 Eva Auliya Putri, dkk 2021 Evaluasi Pelaksaan Program Bantuan Sosial Bagi Masyarakat Terdampak Di Era Pandemi Covid-19

Pada masa pandemi Covid 19 selain mengandalkan penghasilan yang menurun akibat dampak dari pandemi Covid 19 masyarakat memperoleh bantuan dari pemerintah yakni bantuan langsung tunai

Wabah pandemik Covid-19 menyebabkan banyaknya lapisan masyarakat yang terdampak, sehingga peneliti melaksanakan pengabdian masyarakat dalam bentuk penyerahan bantuan sembako covid untuk

Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam transparansi pendataan dan penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat yang terdampak ekonomi akibat Pandemi Corona Virus Disease COVID-19 di

Anak merupakan usia rentan terhadap penyakit mulut karena masih memerlukan bantuan dari orang tua untuk membimbing dalam menjaga kebersihan gigi dan mulutnya begitu pula anak