1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada prinsipnya sebuah peraturan atau kebijakan publik di buat untuk memberikan batasan-batasan tertentu kepada masyarakat serta juga bertujuan untuk mengendalikan masyarakat baik dari perilaku, sikap, perbuatan dan lain sebagainya yang melekat pada masyarakat itu sendiri. Adanya peraturan agar terpenuhinya hak maupun kewajiban masyarakat, terlindungi dan terlaksana secara terstruktur dan teratur. Hingga masyarakat dalam menjalani hidup dapat lebih terarah dan tertib, jauh dari perilaku yang merugikan diri pribadi maupun orang lain. Membahayakan individu maupun kelompok. Sehingga dapat dipahami bahwa adanya aturan agar masyarakat hidup sejahtera.
Pemerintah berupaya mendorong kehidupan masyarakat melalui dibentuknya peraturan-peraturan tertentu yang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (Pemda).
Sebagaimana yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Batam dalam upaya memberikan keteraturan masyarkat melalui Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak (PPA).
Di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sendiri, setidaknya terdapat 4 (empat) undang-undang yang tentang kekerasan anak yakni Undang- Undang (UU) nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, UU No 23 tahun 2004 Tentang Pengapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),
dan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak serta Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas UU Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Untuk pembentukan UPTD PPA, berlandaskan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 4 Tahun 2018 Tentang Pedoman Pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah PPA.
Di dalam Peraturan Presiden Nomor 25 tahun 2021 tentang Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak, menerangkan bahwa Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Disisi lain penetapan Kabupaten/Kota Layak anak diberikan oleh kementerian mengacu pada pedoman yang ditetapkan oleh kementerian.
Peraturan Menteri (Permen) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Indikator Kabupaten/Kota Layak Anak, pada pasal 5 menjelaskan terdapat dua indikator yakni penguatan kelembagaan dan klister hak anak.
Pada Pasal 6 di dalam Permen Nomor 12 Tahun 2011 PPPA tersebut menjelaskan penguatan kelembagaan sebagaimana dimaksud meliputi:
a. Adanya peraturan perundang-undangan dan kebijakan untuk pemenuhan hak anak;
b. Persentase anggaran untuk pemenuhan hak anak, termasuk anggaran untuk penguatan kelembagaan;
c. Jumlah peraturan perundang-undangan, kebijakan, program dan kegiatan yang mendapatkan masukan dari forum anak dan kelompok anak lainnya;
d. Tersedia sumber daya manusia (sdm) terlatih kha dan mampu menerapkan hak anak ke dalam kebijakan, program dan kegiatan;
e. Tersedia data anak terpilah menurut jenis kelamin, umur, dan kecamatan;
f. Keterlibatan lembaga masyarakat dalam pemenuhan hak anak; dan g. Keterlibatan dunia usaha dalam pemenuhan hak anak.
Sedangkan untuk klister hak anak dijelaskan di dalam pasal 7 yakni meliputi:
a. Hak sipil dan kebebasan;
b. Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif;
c. Kesehatan dasar dan kesejahteraan;
d. Pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; dan e. Perlindungan khusus.
Selain syarat indikator penguatan kelembagaan yang sudah sesuai dengan Konvensi Hak Anak (KHA), perintah daerah juga wajib memenuhi klister hak anak, sebagai berikut:
a. Hak Sipil dan Kebebasan yang terdiri dari Hak atas identitas, Hak perlindungan identitas, Hak berekspresi dan mengeluarkan pendapat, Hak berpikir, berhati nurani dan beragama, Hak berorganisasi dan berkumpul secara damai, Hak atas perlindungan kehidupan pribadi, Hak akses informasi yang layak dan Hak bebas dari penyiksaan dan penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia;
b. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif yang terdiri dari
Bimbingan dan tanggungjawab orang tua, Anak yang terpisah dari orang tua, Reunifikasi, Pemindahan anak secara illegal, Dukungan kesejahteraan bagi anak, Anak yang terpaksa dipisahkan dari lingkungan keluarga, Pengangkatan/adopsi anak, Tinjauan penempatan secara berkala dan Kekerasan dan penelantaran;
c. Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan yang terdiri dari Anak penyandang disabilitas, Kesehatan dan layanan Kesehatan, Jaminan sosial layanan dan fasilitasi Kesehatan dan Standar hidup;
d. Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya yang terdiri dari Pendidikan, Tujuan Pendidikan dan Kegiatan liburan, kegiatan budaya, dan olah raga;
e. Perlindungan Khusus yang terdiri dari Anak dalam situasi darurat, Anak yang berhadapan dengan hukum, Anak dalam situasi eksploitasi dan Anak yang masuk dalam kelompok minoritas dan adat.
Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak oleh pemerintah Kota Batam di bentuk sebagai wujud dari keseriusan pemerintah Kota Batam di dalam memberikan perlindungan khusus bagi anak khususnya diwilayah Kota Batam dari tindakan kekerasan terhadap anak. Perda tentang PPA tersebut dibuat atas dasar pertimbangan pemerintah Kota Batam untuk menjamin dan melindungi hak-hak anak dan anak agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal, dengan menghormati harkat dan martabatnya serta terlindungi dari kekerasan dan perlakuan diskriminasi serta pelanggaran hak anak lainnya, maka
perlu diupayakan perlindungan terhadap anak.
Perlindungan itu dimaksud ialah perlindungan yang diberikan kepada anak- anak dari adanya perilaku, perbuatan maupun tindakan individu maupun kelompok tertentu yang merugikan atau membahayakan anak-anak. Hal ini pula yang membangkitkan semangat pemerintah Kota Batam secara hirarki membentuk peraturan khusus yang memuat tentang perlindungan anak dengan harapan agar dapat memberikan jaminan hukum terhadap hak dan kewajiban anak dari tindakan kekerasan serta terimplementasikan dengan baik kepada masyarakat.
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.1 Dalam rentan usia tersebut, maka anak harus memiliki jaminan hak asasi manusia yang diberikan oleh individu, kelompok maupun Lembaga. Di dalam pasal (1) ayat (14) Peraturan Daerah Kota Batam Nomro 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak menyebutkan bahwa “Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara”.
Pemerintah Kota Batam di dalam upaya untuk mengimplementasikan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak tersebut dengan melibatkan beberapa lembaga atau dapat disebut sebagai pelaksana khusus yang di bentuk agar pelaksanaan upaya penyelenggaraan perlindungan anak dapat berjalan dengan baik, tertib dan sesuai dengan tujuan
1 Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak Pasal (1) Ayat (12)
dibentuknya Perda tersebut berdasarkan tugas dan fungsinya masing-masing.
Adapun terkait penyelenggaraan perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terselenggaranya hak-hak anak secara terencana, sistematis, terpadu dan berkelanjutan.
Berdasarkan Perda Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016, setidaknya ada 4 (empat) Lembaga atau pelaksana khusus yang mengurusi urusan penyelenggaran perlindungan anak diwilayah Kota Batam yakni :
a. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang selanjutnya disebut P2TP2A adalah organisasi yang memberikan pelayanan kepada korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di tingkat Kota.;
b. Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah yang selanjutnya disingkat KPPAD adalah lembaga resmi yang memiliki wewenang memberi referensi, rujukan, pertimbangan dan pengawasan atas penyelenggaraan perlindungan anak di daerah;
c. Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak yang selanjutnya disingkat LKSA;
d. Gugus Tugas Kota Layak Anak.
Setiap Lembaga sebagaimana yang peneliti sampaikan bahwa terdapat tugas dan fungsinya serta peran yang dijalankan masing-masing guna memaksimalkan urusan penyelenggaraan terhadap perlindungan anak di Kota Batam. Berdasarkan perihal itu pula, harusnya anak-anak Kota Batam lebih terjamin kehidupannya.
Menurunnya angka kekerasan terhadap anak, terlindunginya korban kekerasan terhadap anak dan dapat mengupayakan hilangnya kasus kekerasan terhadap anak-
anak Kota Batam.
Penjamin kebutuhan akan setiap hak-hak warga Negara haruslah bekerja dengan semaksimal mungkin untuk meminimalisir adanya potensi-potensi terjadinya kekerasan terhadap anak memalui perlindungan, pencegahan, dan penanganan terhadap anak yang diberikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat itu sendiri yang telah di tentukan di dalam peraturan. Untuk mengetahui perkembangan kasus kekerasan terhadap anak di Kota Batam, dapat di lihat berdasarkan Gambar 1.1 sebagai berikut:
Gambar 1. 1 Kejadian Kekerasan Anak Di Kota Batam
Sumber : Data Kekerasan Anak Di Kota Batam, 2023 (telah di olah kembali).
Berdasarkan data tabel yang di paparkan di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan angka kekerasan terhadap anak dari tahun 2019 hingga tahun 2021.
Data yang diperoleh sejalan dengan rekap tersebut mengenai UPTD PPA Batam tahun 2021 menunjukkan pada tahun 2019 terdapat 59 kasus kekerasan terhadap
140
80 60 40 20
2019 2020
anak dengan berbagai jenis dan bentuk kekerasan. Lalu pada tahun 2020 melonjak pesar menjadi 109 kasus kekerasan terhadap anak dan terus meningkat kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2021 yakni sebanyak 125 kasus kekerasan terhadap anak.
Di sisi lain berdasarkan catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) provinsi Kepulauan Riau (Kepri) selama tahun 2021 lalu setidaknya terdapat 150 kasus kekerasan anak yang ditangani oleh DP3AP2KB. Dimana 124 kasus diantaranya adalah kasus kekerasan seksual dan Kota Batam menjadi wilayah tertinggi pertama yang ada di Kepri yang terjadi kasus kekerasan anak disusul wilayah Kota Tanjungpinang diperingkat kedua tertinggi kasus kekerasan anak di Kepri.2
Angka-angka tersebut di atas menunjukkan bahwa kasus kekerasan anak di Kota Batam sangat tergolong tinggi bahkan terus meningkat setiap tahunnya.
Dengan berbagai bentuk dan jenis kekerasan terhadap anak, Kota Batam memiliki tugas dan tanggungjawab besar untuk menurunkan maupun memperkuat perlindungan terhadap anak-anak di Kota Batam. Sehingga Dari data kasus tahunan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penerapan peraturan tersebut yang menyangkut perlindungan anak belum terdapat perubahan kearah yang baik dan belum mampu memenuhi hak serta kewajiban anak-anak diwilayah KotaBatam.
2 rri.co.id. Batam Masih Menjadi Kota Tertinggi Kasus Kekerasan Anak di Keprihttps://rri.co.id/tanjungpinang/daerah/1392894/batam-masih-menjadi kota-tertinggi-kasus- kekerasan-anak-di
kepri?utm_source=news_main&utm_medium=internal_link&utm_campaign=General%20Campai gn. Diakses pada 28 september 2022. Pukul:03.36.
Sejalan dengan Peraturan Gubernur Kepri Nomor 60 Tahun 2016 Tentang Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, pada pasal 283 ayat (1) menjelaskan bahwa DP3AP2KB mempunyai tugas pokok merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis di bidang Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Selain perumusan, DP3AP2KB juga bertugas untuk pengkoordinasian, pemberian dukungan penyelenggaran kebijakan, pembinaan dan pelaksanaan kebijakan serta pelaksanaan tugas lain di bidang pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pengendalian penduduk dan keluarga berencana yang diberikan oleh gubernur.
Di bentuknya lembaga-lembaga atau pelaksana yang bertugas khusus untuk menjalankan penyelenggaran perlindungan anak dapat di katakan tidak berjalan dengan maksimal. Pemerintah daerah (Pemda) berkewajiban di dalam pencegahan dalam penyelenggaraan perlindungan anak. Pemda memberikan perlindungan anak dengan melalui program-program, adanya rumusan peraturan dan terkait penerapannya tentang :
a. Mengawasi, mencegah, membuat aduan, dan adanya pengembangan data- data soal perlindungan bagi anak; dan,
b. pengasuhan terpadu bagi anak korban kekerasan, pelecehan, eksploitasi dan penelantaran.3
Menjaga keamanan dan melindungi anak menjaid tangunjawab pada setiap
3Peraturan Daerah Kota Batam noor 2 tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak Bab IV Pasal (7)
lembaga-lembaga yang ada sesuai dengan tugas dan perannya. Namun dengan adanya peningkatan kasus kekerasan pada anak yang meningkat pada setiap tahunnya, menjadi problematika bersama saat ini atas penilaian terhadap keseirusan pemerintah Kota batam di dalam mengimplementasikan Perda PPA tersebut.
Terdapat upaya untuk pengurangan resiko terjadinya kekerasan terhadap anak.
Pengurangan resiko dalam penyelenggaraan perlindungan anak meliputi :
a. Pengidentifikasian kelompok anak yang rentan mengalami kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah, dan penelantaran; dan,
b. Pendidikan kecakapan hidup atau bentuk penguatan lain yang dapat mengurangi kerentanan.4
Berdasarkan tugas dan fungsi penyelengara perlindungan anak sebagaimana yang disebutkan di atas, dapat di jelaskan maka, pertama; P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak). kedua; LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak). ketiga; KPPAD. Dan keempat; satgass Kota layak anak bertanggungjawab untuk mengimplemtasikan Perda perlindungan bagi anak tersebut.
Dengan meningkatnya kejadian kekerasan untuk anak di Kota Batam, menjadi catatan penting bagi pemerintah Kota Batam untuk lebih serius di dalam mengurusi penyelenggaraan perlindungan anak di Kota Batam baik dari kekerasan seksual, kekerasan mental, psikis, verbal maupun bentuk dan jenis kekerasan lainnya.
Dalam Rangka Hari Anak Nasional, Kota Batam menerima penghargaan
4 Peraturan Daerah Kota Batam nomor 2 tahun 2016 tentang penyelenggaraan perlindungan anak bab IV pasal (8)
Kota Layak Anak (KLA) tahun 2022 dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Jika dibandingkan dengan data kekerasan anak sebagaimana yang disampaikan di atas, maka Kota Batam belum layak mendapatkan penghargaan KLA tersebut. Secara tiga tahun terakhir, Kota Batam juga menerima penghargaan KLA yakni pada tahun 2019 dan tahun 2021 dengan tingkat berebeda yang sudah di raih Kota Batam yakni tingkat pratama, madya, nindya, utama dan kabupaten/Kota layak anak.
Di dalam Bab IV Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, terdapat upaya-upaya yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk menangani permasalahan yang terjadi pada kekerasan anak, yakni upaya pencegahan, pengurangan resiko, penanganan, sarana dan prasaranaa dan system informasi perlindungan anak.
Sesuai dengan data sementara yang peneliti peroleh tentang meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap anak dari tahun 2019-2021, jika di lihat berdasarkan pencegahan terhadap peningkatan angka kekerasan terhadap anak di Kota Batam maka Kota Batam belum memenuhi syarat untuk mendapatkan penghargaan Kota Layak Anak. Berdasarkan Perda Nomor 2 tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, terdapat lima indikator yang menjadi langkah-langkah di dalam melaksanakan penyelenggaraan perlindungan anak di Kota Batam, yakni sebagai berikut:
a. Pencegahan
Proses pencegahan untuk penyelenggaraan perlindungan anak oleh Pemerintah Daerah dengan langkah :
1. Memformulasikan suatu kebijakan dan program- program serta tata cara pelaksanaan terhadap :
a) Pengawasan, Pencegahan, pengembangan data masalah perlindungan anak dan melaporkan atau pengaduan;
b) Menangani anak yang menjadi korban secara terstruktur akibat dari kekerasan, penelantaran, eksploitasi dan perlakuan salah;
c) Memberikan jaminan kepada setiap anak yang menjadi korban eksploitasi, kekerasan, penelantaran, dan perlakuan salah atas:
1) Layanan Bantuan Hukum (LBH) 2) Layanan kelangsungan pendidikan
3) Layanan untuk pemulihan dan memelihara kesehatan 4) Layanan sosial dan psikologis
5) Adanya akta kelahiran
d) Menyelenggarakan dukungan bagi keluarga yakni:
1) Bantuan melalui konselor 2) Penyelesaian keluarga
3) Adanya pendidikan untuk pengasuhan anak 4) Dukungan terhadap ekonomi
e) Upaya penguatan pencapaian standar pelayanan minimal dalam ketentuan kinerja perlindungan anak.
2. Meningkatkan kesadaran dan sikap masyarakat melalui sosialisasi, pendidikan dan informasi terhadap:
a) pengasuhan anak, hak bagi anak, dan perlindungan untuk anak
b) Perlakuan yang salah, akibat buruk kekerasan, pembiayaran anak dan eksploitasi.
3. Peningkatan kapasitas layanan perlindungan anak, termasuk peningkatan kapasitas organisasi dan penyedia layanan.
4. Adapun tenaga pelayanan yakni tenaga untuk:
a) Pelayanan untuk pendidikan;
b) Pelayanan untuk psikologis dan sosial c) Pelayanan untuk kesejahteraan sosial d) Pelayanan untuk kesehatan
e) Pelayanan untuk pengasuhan f) Pelayanan untuk bantuan hukum
5. Meningkatkan kemampuan anak untuk mengenali risiko dan bahaya situasi atau tindakan yang dapat mengarah pada pelecehan, tindak kekerasan, eksploitasi, dan pembiayaran.
b. Pengurangan resiko
1. Mengurangi resiko anak yang rentan yakni terdiri dari:
a) Mengidentifikasi kelompok anak yang rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, pelecehan dan pembiayaran
b) Pendidikan kecakapan hidup atau bentuk penguatan lainnya dapat mengurangi kerentanan.
2. Pengurangan resiko pada kawasan pengasuhan yang mengakibatkan anak pada situasi rentan yakni
a) Mengindetifikasikan setiap lingkungan pengasuhan
b) Memberikan dukungan kepada keluarga dalam situasi rentan melalui pendidikan pengasuhan anak, konseling, konseling dan memulihkan hubungan keluarga
c) Memberikan dukungan dalam bentuk jaminan sosial dan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga rentan
d) Peningkatan kapasitas keluarga dengan anak yang hidup dengan HIV/AIDS dan anak penyandang disabilitas dalam merawat dan merawatnya
e) Menyediakan atau memfasilitasi pengasuhan tangguh bagi anak- anak yang rentan terhadap pelecehan, kekerasan, pembiaran dan ekspolitasi
f) Mengawasi secara bertahap dan mengevaluasi lembaga pengasuhan anak diluar lingkungan keluarga
3. Upaya mengurangi resiko di kawasan pendidikan yakni:
a) Identifikasi sekolah atau lingkungan pendidikan yang rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, pelecehan dan pembiayaran terhadap anak
b) Memfasilitasi peningkatan kapasitas dan partisipasi guru dan pendidik dalam pencegahan dan penanganan masalah perlindungan anak
4. Mengurangi resiko di lingkungan masyarakat yakni:
a) Identifikasi wilayah atau kelompok orang yang rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, pelecehan dan penelantaran anak
b) Peningkatan kapasitas rukun tetangga dan masyarakat, kepala desa dan sub-kawasan untuk melaksanakan pengurangan risiko
c) Membangun kapasitas dan mendorong masyarakat untuk mengatasi kasus kekerasan terhadap anak melalui rehabilitasi
d) Aktif memantau penyedia layanan bisnis, hiburan, dan pengasuhan anak secara berkala
e) Memfasilitasi peningkatan kapasitas bagi lembaga-lembaga yang terlibat dalam pengasuhan anak yang hidup/bekerja di jalanan atau anak yang menjadi korban eksploitasi ekonomi dan seksual
f) Memperkuat kelembagaan masyarakat untuk mencegah tindak kekerasan, eksploitasi, penyalahgunaan dan penelantaran kelompok rentan
g) Pemantauan dan evaluasi berkala terhadap organisasi kemasyarakatan yang berperan dalam pengelolaan pelayanan perlindungan anak
h) Libatkan organisasi anak di setiap kabupaten untuk berpartisipasi dalam upaya pencegahan kekerasan, eksploitasi, penyalahgunaan dan penelantaran kelompok rentan
c. Penanganan
1. Untuk pelayanan di daerah yakni:
a) Adanya layanan pengaduan bagi masyarakat 24 jam
b) Adanya rumah perlindungan sementara bagi anak untuk tindakan darurat
c) Adanya layanan psikologis, rehabilitasi kesehatan, advokasi dan sosial
d) Adanya layanan penyatuan kembali sosial dan dukungan setelah rehabilitasi korban
2. Upaya menangani perlindungan untuk anak di laksanakan dengan berpedoman kepada standarisasi yang di berlakukan
3. Pemrosesan dapat dilakukan secara terpadu di bawah koordinasi SKPD yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang- undangan.
4. Prosedur pengolahan terpadu diatur lebih lanjut dengan peraturan walikota
d. Sarana dan Prasaranaa
1. Pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menyediakan sarana dan prasarana untuk anak, antara lain tempat penampungan, pusat layanan rujukan, tempat menyusui, taman bermain, pusat rekreasi, tempat kreatif, KPPAD, P2TP2A dan LKSA
2. Pemenuhan kriteria bagi sarana dan prasarana yakni:
a) Menjamin pertumbuhan dan perkembangan, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kesehatan anak
b) Partisipasi, memotivasi, kreatifitas anak dan partisipasi c) Adanya unsur pendidikan
3. Penyediaan sarana dan prasarana oleh pemerintah Daerah dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan daerah
4. P2TP2Adi laksanakan berbasis masyarakat
5. LKSA di lakukan sesuai prinsip yaitu:
a) Pencegahan keterpisahan keluarga;
b) Hak anak untuk memiliki keluarga c) Kontinuitas pengasuhan
d) Tanggungjawab dan peran orang tua dan keluarga e) Dukungan kepada keluarga untuk pengasuhan f) Pengasuhan alternatif
g) Tanggungjawab negara
h) Pengasuhan berbasis lembaga kesejahteraan sosial anak i) Asesmen kebutuhan pengasuhan anak
j) Pengambilan keputusan untuk penempatan anak dalam pengasuhan alternatif
k) Keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan pengasuhan.
l) Keberlangsungan pendidikan dan kehidupan sosial budaya anak 6. LKSA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan berdasakan
standar nasional pengasuhan untuk LKSA yang ditetapkan oleh Pemerintah.
7. Di daerah dapat membentuk KPPAD atau pengoptimalan KPPAD diProvinsi yang telah terbentuk sesuai peraturan perundang- undangan 8. penyelenggaraan sarana dan prasaranaa untuk tata cara dan kriterianya
di atur melalui Peraturan Walikota e. Sistem informasi perlindungan anak
1. Melalui SKPD pemerintah daerah menyelenggarakan sistem informasi
perlindungan bagi anak
2. Sistem informasi perlindungan anak bagi yakni:
a) kepesertaan pendidikan b) jenis kelamin
c) mendapatkan asuhan di luar orang tua d) anak disabilitas
e) kepesertaan jaminan kesehatan
f) Data anak dalam keadaan darurat/bencana, pelanggar hukum, korban kekerasan, pelecehan, penelantaran, eksploitasi seksual, perdagangan manusia dan kecanduan narkoba
3. Sistem informasi perlindungan anak dibangun sesuai dengan kebutuhan pengelolaan perlindungan anak dan dikelola dengan sistem operasi elektronik
4. Sistem informasi diatur dalam peraturan walikota untuk tata cara pelaksanaannya
Adapun yang peneliti dapatkan di lapangan, antara penghargaan di peroleh Kota Batam sebagai KLA tidak sesuai dengan data meningkatknya aksus kekersan anak di Kota Batam. Jika di lihat berdasarkan ketentuan Bab IV Perda Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak di atas, maka terdapat langkah-langkah yang sudah menjadi kewajiban bagi penyelenggara kebijakan tersebut untuk di laksanakan sebagaimana mestinya. Untuk itu, peneliti mengaitkan ketertarikan penelitian tersebut dengan judul Implementasi Bab IV Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang penyelengaraan
perlindungan anak.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah peneliti uraikan di atas maka rumusan masalah penelitian ini ialah “Bagaimana Implementasi Bab IV Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelengaraan Perlindungan Anak?”
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui implementasi Bab IV Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 2 Tahun 2016 Tentang Penyelengaraan Perlindungan Anak.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Teoritis
Adapun manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah untuk:
a. Dapat di gunakan sebagai jurnal dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkesinambungan
b. Menjadi acuan bagi pembaca untuk memberikan pengetahuan 1.4.2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan serta saran bagi pemerintah Kota Batam.