Universitas YARSI 1 BAB 1
PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
World Health Organization (WHO) telah mendefinisikan bahwa lanjut usia
pada negara maju adalah orang berusia 65 tahun atau lebih, sedangkan pada negara berkembang adalah orang yang berusia tidak lebih dari 60 tahun.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Bab I Pasal 1 Ayat 2 menyebutkan yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.1
Memasuki usia lanjut yaitu akhir 40-an dan 50-an, seorang wanita akan mengalami proses alamiah yang disebut menopause, dan adalah sebagai salah satu bentuk dari proses menua. Pada saat seorang wanita sudah memasuki masa menopause, produksi hormon estrogennya terhenti. Akibatnya dapat terjadi perubahan rasa atau pengecapan, serta lebih sensitif terhadap makanan dan minuman yang panas ataupun dingin. Selain itu, juga penurunan aliran saliva (air liur) yang dapat menyebabkan keadaan xerostomia (dry mouth).2
Masalah rongga mulut yang sering timbul pada perempuan menopause adalah adanya ketidaknyamanan oral (oral discomfort), atrofi gingiva, menopausal gingivostomatitis, penurunan aliran saliva, menipisnya epitel gingiva, disfungsi mandibula, ulser, penyakit periodontal, kanker mukosa mulut, serta kandidiasis. Keadaan ini lebih sering terjadi atau lebih parah pada perempuan dalam masa menopause dengan oral hygine buruk. Selain itu, perubahan-perubahan yang terjadi pada fase menopause yaitu adanya rasa terbakar pada mulut (burning mouth), resesi gingiva, xerostomia, gangguan sensasi rasa, dan resorpsi tulang alveolar.1
Resesi gingiva sering merupakan masalah, umumnya penderita mengeluh giginya terlihat lebih panjang. Hal ini terjadi karena posisi marginal gingiva bergerak ke arah apikal menjauhi cemento enamel junction (CEJ), sehingga
Universitas YARSI 2 permukaan akar yang semula tertutup menjadi terbuka. Pada proses penuaan (aging), insidensi resesi gingiva semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia.3
Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi akibat migrasi gingival margin dan junctional-epithelium ke arah apikal. Secara klinis ditandai dengan gingival margin berada apikal dari cemeto-enamel junction (CEJ). Kondisi ini dapat terjadi pada satu maupun sekelompok gigi, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Masalah yang sering dikeluhkan penderita akibat resesi gingiva adalah masalah estetika, terutama jika resesi terjadi pada gigi anterior atas.3
Setiap wanita dalam kondisi normal akan mengalami haid, makin menua seseorang maka kondisi tubuhnya akan mengalami perubahan contohnya adalah menopause atau berhenti haid. Tetapi, waktu memulai haid atau berhenti haid bukan merupakan hal yang mutlak dengan kata lain tidak ada waktu yang terperinci kapan seseorang akan haid dan kapan seseorang tersebut akan menopause.Dalam sudut pandang Islam didapatkan ayat-ayat Al-Quran yang membahas tentang ketentuan-ketentuan jika wanita sudah menopause dan bagaimana harus bersikap jika mengalami cobaan dan penyakit yang ditimbulkannya. Salah satu keadaan yang dapat ditimbulkannya adalah resesi gingiva. Dengan terjadinya keadaan tersebut maka akan membuat seseorang yang mengalami menjadi tidak nyaman dalam menjalankan aktifitasnya.
Berdasarkan fakta di atas, maka akan dilakukan penelitian mengenai perbandingan resesi gingiva pada wanita pramenopause dan menopause di Puskesmas Kecamatan Senen.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan pertanyaan penelitian, yaitu
Universitas YARSI 3 Bagaimana tingkat perbedaan resesi gingiva pada wanita pramenopause dan menopause?
1.3 Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
Untuk mengetahui tingkat perbedaan resesi gingiva pada wanita pramenopause dan menopause.
1.4 Manfaat penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah
1. Dapat menjadi bahan masukan bagi institusi pendidikan umumnya, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas YARSI khususnya mengenai tingkat perbedaan resesi gingiva pada wanita pramenopause dan menopause.
2. Dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat khususnya wanita pramenopause dan menopause mengenai resesi gingiva.
3. Dapat memberi informasi kepada tenaga-tenaga kesehatan gigi dan mulut dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut wanita pramenopause dan menopause.
4. Dapat menjadi data awal bagi peneliti-peneliti lain untuk menelaah lebih lanjut mengenai perbedaan resesi gingiva pada wanita pramenopause dan menopause.