BAB 2
LEMBAGA KEUANGAN dan OTORITAS JASA KEUANGAN
Lembaga keuangan meliputi Lembaga Keuangan Bank (LKB) dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) yang kegiatannya di bidang keuangan yakni melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat. Kedua jenis lembaga tersebut mempunyai perbedaan fungsi dan kelembagaanya. Bank meliputi Bank Sentral dan dalam hal ini adalah Bank Indonesia, Bank Umum dan BPR. Sedangkan lembaga keuangan non Bank dapat dikelompokan menjadi lembaga pembiayaan dan investasi serta penjualan surat-surat berharga ( leasing,modal ventura, anjak piutang dan pasar modal ) dan lembaga keuangan lainnya meliputi Pegadaian, Asuransi, dan Dana Pensiun.
Pengelompokan Lembaga Keuangan sebagai berikut : 1. LKB Bank Sentral
Bank Umum Bank Umum Konvensional Bank Umum Syariah
BPR BPR Konvensional BPR Syariah
2. LKBB Lembaga Pembiayaan Anjak Piutang Modal Ventura Leasing
Asuransi Asuransi Jiwa Asuransi Kerugian Reasuransi
Dana Pensiun Dana Pensiun Pemberi Kerja Dana Pensiun Lembaga Keuangan Pasar Modal
Pegadaian
2.1 BANK INDONESIA
Susunan dan kedudukan Bank Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia adalah sebagai berikut (www.bi.go.id) :
a. Bank Indonesia berkedudukan di ibukota negara Republik Indonesia.
b. Bank Indonesia dapat mempunyai kantor-kantor di dalam dan di luar wilayah negara Republik Indonesia.
c. Susunan Bank Indonesia dalam menjalankan tugasnya dipimpin oleh Dewan Gubernur yang terdiri atas seorang Gubernur, seorang Deputi Gubernur Senior, dan sekurang-kurangnya 4 (empat) orang atau sebanyak-banyaknya 7 (tujuh) orang Deputi Gubernur.
d. Dewan Gubernur dipimpin oleh Gubernur dengan Deputi Gubernur Senior sebagai wakil. Dalam hal Gubernur dan Deputi Gubernur Senior berhalangan, Gubernur atau Deputi Gubernur Senior menunjuk seorang Deputi Gubernur untuk memimpin Dewan Gubernur.
e. Dalam hal penunjukan sebagaimana pada poin di atas karena sesuatu hal tidak dapat dilaksanakan, salah seorang Deputi Gubernur yang paling lama masa jabatannya bertindak sebagai pemimpin Dewan Gubernur.
2.1.1 Status dan Kedudukan Hukum Bank Indonesia
Sebagai lembaga negara yang mempunyai otonomi dan mandiri disebutkan secara tegas pada Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 jo UU Nomor 4 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia yang berbunyi “Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independen dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, bebas dari campur tangan dari
pemerintah dan/atau pihak-pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur oleh undang undang ini.”
2.1.2 Tujuan, Tugas dan Kewenangan BI
Menurut Pasal 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, Tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Dalam kapasitas sebagai Bank Sentral maka Bank Indonesia (BI) mempunyai tujuan tunggal yaitu mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah( www.bi.go.id). Stabilitas nilai rupiah meliputi stabilitas nilai uang terhadap barang dan jasa serta stabilitas nilai uang terhadap mata uang lain. Dengan demikian BI harus mampu untuk menstabilkan nilai inflasi dan kurs mata uang. Untuk mencapai tujuan dimaksud BI memiliki tugas yang diatur pada Pasal 8 UU a quo (dimaksud) yaitu:
a. menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter;
b. mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran;
c. mengatur dan mengawasi Bank.
Dalam rangka menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk:
a. menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi yang ditetapkannya;
Sesuai dengan UU no.3 tahun 2004 pasal 7 tentang BI maka untuk mencapai tujuan mencapai dan memelihara stabilitas nilai rupiah maka sejak tahun Juli 2005 BI dalam melaksanakan kebijakan moneter dengan sasaran utama adalah inflasi dengan kerangka kerja ITF (Inflation Targeting Framework) dengan system kurs yang mengambang (free floating exchange rate). Dalam rangka mencapai tujuan maka BI dapat menetapkan sasaran kebijakan moneter seperti jumlah uang yang beredar dan juga tingkat suku bunga ( BI rate). BI rate adalah suku bunga yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.BI rate ini diharapkan mampu mempengaruhi suku bunga pasar uang ,suku bunga deposito dan suku bunga kredit yang akhirnya berdampak pada output (GNP) dan inflasi.
b. melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan cara cara yang termasuk tetapi tidak terbatas pada :
1. operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing
2. penetapan tingkat diskonto.
3. penetapan cadangan wajib minimum.
4. pengaturan kredit atau pembiayaan
Operasi Pasar Terbuka ( Open Market Policy). Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.
Penetapan Tingkat Diskonto (Discount Rate). Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga Bank Sentral pada Bank Umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke Bank Sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga Bank Sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.
Penetapan Cadangan Wajib Minimal (Reserve Requirement Ratio). Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.
Imbauan Moral (Moral Persuasion). Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati- hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.
Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, Bank Indonesia berwenang:
a. melaksanakan dan memberikan persetujuan dan izin atas penyelenggaraan jasa sistem pembayaran
b. mewajibkan penyelenggara jasa sistem pembayaran untuk menyampaikan laporan tentang kegiatannya
c. menetapkan penggunaan alat pembayaran.
2.1.3 Sistem Moneter Indonesia
Sistem moneter di Indonesia meliputi bank sentral (BI) sebagai otoritas moneter, pemerintah dan bank-bank umum. Otoritas moneter merupakan lembaga yang memiliki wewenang dalam penentuan kebijakan moneter. Otoritas moneter merupakan sumber uang primer baik perbankan,masyarakat dan pemerintah.Disamping uang kartal, Bank Indonesia menerima simpanan giro dari perbankan dan pemerintah. Simpanan giro bagi otoritas moneter merupakan uang primair sementara bagi bank-bank uang tersebut merupakan alat likuid.Bank wajib memiliki rekening giro pada Bank Indonesia dan BI mewajibkan setiap bank untuk mempertahankan sejumlah dana tertentu pada rekening giro di BI.Saldo minimal dengan statutory reserve requirement dan persentasenya sesuai ketentuan dari total dana masyarakat yang dihinpun di bank. Fungsi giro tersebut adalah untuk memperlancar transaksi antar bank melalui kliring juga sebagai alat pengendali jumlah uang beredar.
Sebagai oritas moneter, BI tidak saja menjaga stabilitas moneter, namun juga stabilitas sistem keuangan (perbankan dan sistem pembayaran). Keberhasilan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter tanpa diikuti oleh stabilitas sistem keuangan, tidak akan banyak artinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas moneter dan stabilitas keuangan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas keuangan begitu pula sebaliknya, stabilitas keuangan merupakan pilar yang mendasari efektivitas kebijakan moneter. Sistem keuangan merupakan salah satu alur transmisi kebijakan moneter, sehingga bila terjadi ketidakstabilan sistem keuangan maka transmisi kebijakan moneter tidak dapat berjalan secara normal. Sebaliknya, ketidakstabilan moneter secara fundamental akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat tidak efektifnya fungsi sistem keuangan. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa stabilitas sistem keuangan juga masih merupakan tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia.
Pertanyaannya, bagaimana peranan Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas sistem keuangan? Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki lima peran utama dalam menjaga
stabilitas sistem keuangan. Kelima peran utama yang mencakup kebijakan dan instrumen dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu adalah:
Pertama, Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter secara tepat dan berimbang. Hal ini mengingat gangguan stabilitas moneter memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek ekonomi.
Kebijakan moneter melalui penerapan suku bunga yang terlalu ketat, akan cenderung bersifat mematikan kegiatan ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, untuk menciptakan stabilitas moneter, Bank Indonesia telah menerapkan suatu kebijakan yang disebut inflation targeting framework .
Kedua, Bank Indonesia memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Seperti halnya di negara-negara lain, sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan. Oleh sebab itu, kegagalan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan mengganggu perekonomian. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut, sistem pengawasan dan kebijakan perbankan yang efektif haruslah ditegakkan. Selain itu, disiplin pasar melalui kewenangan dalam pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan. Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan. Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan, Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II.
Ketiga, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Bila terjadi gagal bayar (failure to settle) pada salah satu peserta dalam sistem sistem pembayaran, maka akan timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. Kegagalan tersebut dapat menimbulkan risiko yang bersifat menular (contagion risk) sehingga menimbulkan gangguan yang bersifat sistemik. Bank Indonesia mengembangkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Antara lain dengan menerapkan sistem pembayaran yang bersifat real time atau dikenal dengan nama
sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) yang dapat lebih meningkatkan keamanan dan kecepatan sistem pembayaran. Sebagai otoritas dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia memiliki informasi dan keahlian untuk mengidentifikasi risiko potensial dalam sistem pembayaran.
Keempat, melalui fungsinya dalam riset dan pemantauan, Bank Indonesia dapat mengakses informasi-informasi yang dinilai mengancam stabilitas keuangan. Melalui pemantauan secara macroprudential, Bank Indonesia dapat memonitor kerentanan sektor keuangan dan mendeteksi potensi kejutan (potential shock) yang berdampak pada stabilitas sistem keuangan. Melalui riset, Bank Indonesia dapat mengembangkan instrumen dan indikator macroprudential untuk mendeteksi kerentanan sektor keuangan. Hasil riset dan pemantauan tersebut, selanjutnya akan menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredam gangguan dalam sektor keuangan.
Kelima, Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. Fungsi sebagai LoLR mencakup penyediaan likuiditas pada kondisi normal maupun krisis. Fungsi ini hanya diberikan kepada bank yangdapat diterapkan pada bank yang mengalami kesulitan likuiditas temporer namun masih memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR, Bank Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard. Oleh karena itu, pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang ketat harus diterapkan dalam penyediaan likuiditas tersebut.
2.2 Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat
Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan demokrasi ekonomi dan menggunakan prinsip kehati-hatian. Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak.
Perbankan memiliki kedudukan yang strategis, yakni sebagai penunjang kelancaran sistem
pembayaran, pelaksanaan kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem keuangan, sehingga diperlukan perbankan yang sehat, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Definisi
a. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.
b. Bank Konvensional adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara konvensional dan berdasarkan jenisnya terdiri atas Bank Umum Konvensional (BUK) dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
c. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.
2.2.1 Kegiatan Usaha Bank
Bank Umum ( Commercial Bank ).
Lembaga Keuangan ini menerima simpanan dari masyarakat dan memberikan kredit serta jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang.Dengan demikian fungsi bank umum adalah :
Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit. Menciptakan kredit ( created money deposit) dengan cara menciptakan demand deposit yang sewaktu-waktu dapat dicairkan.
Money creation dari bank umum akan mempengaruhi jumlah uang yang beredar. Proses penciptaan uang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Aisda memasukan uang sebesar Rp. 10.000.000,- pada Bank Anugrah dan tambahan dana dari Aisda dikenal sebagai primary deposit akan mempengaruhi posisi neraca Bank Anugrah.
Neraca Bank Anugrah
Uang Kas Rp.10.000.000,- RR Rp. 2.000.000,-
ER Rp. 8.000.000,-
--- Rp. 10.000.000,-
Demand Deposit Rp. 10.000.000,-
--- Rp. 10.000.000,- RR (Reserve Requirement) misal 20 %
ER ( Excess Requirement ) 100 % - RR
Pada saat Aisda memasukan uang di bank berarti uang kas berkurang tetapi sebaliknya adanya uang Aisha di bank maka tercipta uang giral (demand deposit). Jumlah uang beredar menurut definisi yaitu uang kartal dan uang giral maka dengan adanya tambahan dana dari Asida ke bank tidak menambah jumlah uang beredar hanya komposisi yang berubah. Karena Bank Anugerah mempunyai kelebihan dana (Excess Reserve) maka uang tersebut dapat dipinjamkan. Jika uang tersebut dipinjamkan Bank pada Frisda maka posisi neraca di bank menjadi sebagai berikut :
Neraca Bank Anugrah
Uang Kas Rp. 2.000.000,- Piutang Rp. 8.000.000,- --- Rp.10.000.000,-
Demand Deposit Rp. 10.000.000,-
--- Rp. 10.000.000,-
Dengan adanya piutang Bank Anugerah pada Farisda akan menambah uang kartal di masyarakat.Uang yang di tangan Farisda misalnya untuk bayar kepada Irwan dan oleh Irwan uang tersebut dimasukan ke Bank Amarta. Maka neraca Bank Amarta sebagai berikut :
Neraca Bank Amarta
Uang Kas Rp.8.000.000,- RR Rp. 1.600.000,-
ER Rp. 6.400.000,- --- Rp. 8.000.000,-
Demand Deposit Rp. 8.000.000,-
--- Rp. 8.000.000,- Karena Bank Amarta mempunyai kelebihan dana (Excess Reserve) maka uang tersebut dapat dipinjamkan. Jika uang tersebut dipinjamkan Bank pada Firdi maka posisi neraca di bank menjadi sebagai berikut
Neraca Bank Amarta
Uang Kas Rp. 1.600.000,- Piutang Rp. 6.400.000,- --- Rp. 8.000.000,-
Demand Deposit Rp. 8.000.000,-
--- Rp. 8.000.000,-
Oleh Firdi , uang tersebut diberikan pada Irwanda dan oleh Irwanda dimasukan pada Bank Alamanda. Posisi neraca Bank Alamanda sebagai berikut :
Neraca Bank Alamanda
Uang Kas Rp.6.400.000,- RR Rp. 1.280.000,-
ER Rp. 5.120.000,-
Demand Deposit Rp. 6.400.000,-
--- Rp. 6.400.000,-
--- Rp. 6.400.000,- Demikian seterusnya. Total kenaikan jumlah uang beredar adalah sebagai berikut:Rp.
10.000.000,- + Rp. 8.000.000,- + Rp. 6.400.000,- + Rp. 5.120.000,- +…..
Jadi ekspansi kredit = 1/(1-ER)* Primary Deposit
= 1/RR * Rp. 10.000.000,- = Rp. 50.000.000,-
Hal di atas dapat disimpulkan sebagai berikut ( penambahan jumlah uang beredar):
Ekspansi kredit tergantung besarnya reserved requirement.
Besar kecilnya primary deposit.
Perilaku masyarakat terhadap perbankan.
c. Menerbitkan surat pengakuan hutang.
d. Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya:
1. Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan suratsurat dimaksud.
2. Surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan suratsurat dimaksud.
3. Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah.
4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
5. Obligasi.
6. Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 tahun.
7. Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 tahun.
e. Memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah.
f. Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya.
g. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.
h. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.
i. Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak.
j. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek.
k. Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat.
l. Menyediakan pembiayaan dan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
m. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan Undang Undang tentang Perbankan dan peraturan perundangundangan yang berlaku.
n. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
o. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain di bidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
p. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
q. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.
r. Melakukan kegiatan usaha bank berupa Penitipan dengan Pengelolaan/Trust.
s. Mempermudah dalam lalu lintas pembayaran . Kegiatan Usaha Bank Umum Syariah
a. Menghimpun dana dalam bentuk Simpanan berupa Giro, Tabungan, atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
b. Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa Deposito, Tabungan, atau bentuk lainnya yang (dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
c. Menyalurkan pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah, akad musyarakah, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
d. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad murabahah, akad salam, akad istishna’, atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
e. Menyalurkan pembiayaan berdasarkan akad qardh atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
f. Menyalurkan pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah dan/atau sewa beli dalam bentuk Ijarah Muntahiya bit Tamlik (IMBT) atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
g. Melakukan pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
h. Melakukan usaha kartu debit dan/atau kartu pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah.
i. Membeli, menjual, atau menjamin atas risiko sendiri surat berharga pihak ketiga yang diterbitkan atas dasar transaksi nyata berdasarkan Prinsip Syariah, antara lain, seperti akad ijarah, musyarakah, mudharabah, murabahah, kafalah, atau hawalah.
j. Membeli surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah dan/atau BI.
k. Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan pihak ketiga atau antar pihak ketiga berdasarkan Prinsip Syariah.
l. Melakukan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu akad yang berdasarkan Prinsip Syariah.
m. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga berdasarkan Prinsip Syariah.
n. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah berdasarkan Prinsip Syariah.
o. Melakukan fungsi sebagai wali amanat berdasarkan akad wakalah.
p. Memberikan fasilitas letter of credit atau bank garansi berdasarkan Prinsip Syariah.
q. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan di bidang perbankan dan di bidang sosial sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
r. Melakukan kegiatan valuta asing berdasarkan Prinsip Syariah.
s. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada BUS atau lembaga keuangan yang melakukan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah.
t. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya.
u. Bertindak sebagai pendiri dan pengurus dana pensiun berdasarkan Prinsip Syariah.
v. Melakukan kegiatan dalam pasar modal sepanjang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah dan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
w. Menyelenggarakan kegiatan atau produk bank yang berdasarkan Prinsip Syariah dengan menggunakan sarana elektronik.
x. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka pendek berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar uang.
y. Menerbitkan, menawarkan, dan memperdagangkan surat berharga jangka panjang berdasarkan Prinsip Syariah, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui pasar modal.
z. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha bank umum syariah lainnya yang berdasarkan Prinsip Syariah.
Kegiatan Usaha Bank Perkreditan Rakyat
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/ atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
b. Memberikan kredit.
c. Menempatkan dananya dalam bentuk SBI, deposito berjangka, sertifikat deposito dan/atau tabungan pada bank lain.
Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk:
1. Simpanan berupa tabungan atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad wadi’ah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
2. Investasi berupa deposito atau tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah;
b. Menyalurkan dana kepada masyarakat dalam bentuk:
1. Pembiayaan bagi hasil berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah.
2. Pembiayaan untuk transaksi jual beli berdasarkan akad murabahah, salam, atau istishna.
3. Pembiayaan berdasarkan akad qard.
4. Pembiayaan penyewaan barang bergerak atau tidak bergerak kepada nasabah berdasarkan akad ijarah atau sewa beli dalam bentuk IMBT.
5. Pengambilalihan utang berdasarkan akad hawalah.
c. Menempatkan dana pada bank syariah lain dalam bentuk titipan berdasarkan akad wadi’ah atau investasi berdasarkan akad mudharabah dan/atau akad lain yang tidak bertentangan dengan Prinsip Syariah.
d. Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah melalui rekening BPRS yang ada di BUS, BU, dan UUS.
e. Menyediakan produk atau melakukan kegiatan usaha Bank Syariah lainnya yang sesuai dengan Prinsip Syariah berdasarkan persetujuan OJK.
Kegiatan Pendukung Usaha
Kegiatan Pendukung usaha adalah kegiatan lain yang dilakukan bank di luar kegiatan usaha bank. Kegiatan pendukung usaha tersebut antara lain terkait dengan sumber daya manusia,
manajemen risiko, kepatuhan, internal audit, akunting dan keuangan, teknologi informasi, logistik dan pengamanan.
2.2.2 Larangan Kegiatan Usaha Bank
Larangan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional
a. Melakukan penyertaan modal, kecuali melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam huruf B No. 15 dan 16 pada penjelasan kegiatan usaha BUK.
b. Melakukan usaha perasuransian.
c. Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam huruf B di atas.
Larangan Kegiatan Usaha Bank Umum Syariah
a. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah.
b. Melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung di pasar modal.
c. Melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud pada angka 19 dan 20 pada kegiatan usaha BUS.
d. Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.
Larangan Kegiatan Usaha Bank Perkreditan Rakyat
a. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran.
b. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing kecuali sebagai Pedagang Valuta Asing (PVA) dengan izin OJK.
c. Melakukan penyertaan modal.
d. Melakukan usaha perasuransian.
Larangan Kegiatan Usaha Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
a. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah.
b. Menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran.
c. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali penukaran uang asing dengan izin OJK.
d. Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk asuransi syariah.
e. Melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk untuk menanggulangi kesulitan likuiditas BPR.
2.3 Lembaga Keuangan Non Bank
Jenis-jenis lembaga keuangan non bank adalah :
Pasar Modal : tempat pertemuan dan transaksi pencari dana dan investor dan produk yang dijualbelikan adalah saham, obligasi , derivatip dan lainnya.
Pasar Uang dan Valas: tempat jual beli surat berharga dengan jangka waktu kurang satu tahun.
Modal Ventura
Pegadaian
Asuransi
Anjak Piutang
Leasing
Koperasi Simpan Pinjam
Dana Pensiun PASAR MODAL
Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar
modal sebagai kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. Sedangkan Tjiptono Darmaji (2011:1) menyatakan pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya.
PASAR UANG DAN PASAR VALUTA ASING
Tujuan pasar uang adalah ntuk memenuhi kebutuhan dana jangka pendek, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas ,untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Instrumen pasar uang yaitu
Interbank Call Money
Sertifikat Bank Indonesia
Sertifikat Deposito
Surat Berharga Pasar Uang
Banker'k Acceptance
Commercial Paper
Treasury Bills
Repuchase Agreement
Foreign Exchange Market MODAL VENTURA
Merupakan perusahan yang berani melakukan investasi yang mengandung suatu resiko tinggi. Keputusan ini dibuat dengan berbagai pertimbangan.Ciri-ciri modal ventura adalah
sebagai berikut : pertama, kegiatan yang dilakukan bersifat penyertaan langsung kesuatu perusahan; kedua, penyertaan dalam perusahaan bersifat jangka panjang; ketiga bisnis yang dimasuki adalah bisnis yang beresiko tinggi; keempat, keuntungan yang diperoleh berupa capital gain, deviden atau bagi hasil dan kelima; kegiatannya banyak dilakukan untuk pembukaan usaha baru.Modal ventura didirikan dengan tujuan untuk pengembangan suatu proyek tertentu;. pengembangan suatu teknologi baru; pengambil alihan kepemilikan suatu perusahaan dan kemitraan dalam rangka pengentasan kemiskinan.
PEGADAIAN
Usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu,guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang dijaminkan akan ditebus kembali sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan lembaga gadai. Ciri-ciri usaha gadai sebagai berikut: terdapat barang-barang berharga yang digadaikan ; nilai jumlah pinjaman tergantung nilai barang yang digadaikan dan barang yang digadaikan dapat ditebus kembali.
Keuntungan pegadaian adalah pihak pegadai tidak mempermasalahkan untuk apa uang tersebut. Begitu pula dengan sangsi yang diberikan relative ringan, apabila tidak dapat melunasi dalam waktu tertentu. Sangsi yang paling berat adalah jaminan yang disimpan akan dilelang untuk menutupi kekurangan pinjaman yang telah diberikan. Besarnya jumlah pinjaman tergantung dari nilai jaminan (barang-barang berharga) yang dijaminkan.
ASURANSI
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seseorang tertanggung dengan menerima suatu premi untuk memberikan pergantian kepadanya karena suatu kerugian,kerusakan,atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin terjadi karena suatu peristiwa tertentu.
Manfaat Asuransi :
Rasa aman dan perlindungan
Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil.
Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit.
Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan.
Alat penyebar resiko.
Penggolongan Asuransi : Menurut sifat pelaksanaan :
a.Asuransi sukarela
b.Asuransi wajib.
Menurut Jenis Usaha :
a.Asuransi kerugian : Asuransi kebakaran , Asuransi pengangkutan dan aneka asuransi seperti spt.asuransi kendaraan bermotor.
b.Asuransi jiwa
c. Reasuransi
Pihak yang terlibat dalam asuransi adalah :
Pialang Asuransi ( usaha yang memberika jasa perantara dalam penutupan asuransi dan penanganan ganti rugi asuransi dengan bertindak untuk kepentingan
tertanggung).
Pialang Reasuransi (usaha yang memberika jasa perantara dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan pihak perusahaan asuransi).
Penilai Kerugian Asuransi (Usaha yang memberikan jasa penilaian terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggung jawabkan).
Konsultan Aktuaria (Memberi jasa konsultan aktuaria)
Agen Asuransi (Pihak yang memberikan jasa keperantaraan dalam rangka pemasaran jasa asuransi atas nama penanggung)
ANJAK PIUTANG
Perusahaan yang kegiatannya adalah melakukan penagihan atau pembelian, atau pengambilalihan atau pengelolaan hutang piutang suatu perusahaan dengan imbalan atau pembayaran tertentu milik perusahaan. Kegiatan utama anjak piutang adalah mengambilalihan pengurusan piutang suatu tanggung jawab tertentu, tergantung kesepakatan dengan pihak kreditur (pihak yang punya piutang). Usaha-usaha yang dijalankan oleh perusahaan anjak piutang berkaitan dengan pengambilalihan dan pengelolaan piutang suatu perusahaan, tergantung permintaan pihak kreditur. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan transaksi anjak piutang adalah: kreditur atau klien yang menyerahkan tagihannya kepada pihak anjak piutang untuk ditagih dan dikelola, Perusahaan Anjak Piutang,Debitur.
Keuntungan yang diperoleh masing-masing pihak adalah sebagai berikut:
Bagi perusahaan anjak piutang
Memperoleh keuntungan berupa Fee atau biaya administrasi
Membantu Menyelesaikan Pertikaian diantara kreditur dan debitur
Membantu pihak menajemen pihak kreditur dan penyelenggaraan kredit.
Bagi Kredit (klien)
Mengurangi resiko kerugaian
Memperbaiki system administrasi
Memperlancar kegiatan usaha Bagi debitur,
Memberikan motivasi kepada debitur untuk segera membayar secepatnya, karena ada rasa malu sehingga berusaha sekuat tenaga untuk segera membayar dengan berbagai cara.
LEASING
Sewa guna usaha adalah bergerak dibidang pembiayaan untuk keperluan barang barang modal yang diinginkan oleh nasabah.Pembiayaan disini maksudnya jika seorang nasabah membutuhkan barang-barang modal seperti peralatan kantor atau mobil dengan cara sewa atau dibeli secara kredit dapat diperolah diperusahaan leasing. Pihak lesing dapat membiayai keinginan nasabah sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati kedua belah pihak. Pihak- pihak yang terlibat dalam proses pemberian fasilitas leasing adalah sebagai berikut: Lessor, Lessee, Supplier dan Asuransi.
KOPERASI SIMPAN PINJAM
Koperasi merupakan suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai tujuan atau kepentingan bersama. Jadi koperasi merupakan bentuk dari sekelompok orang yang memiliki tujuan bersama. Kelompok orang inilah yang akan menjadi anggota koperasi berdasarkan asas kekeluargaan dan gotong royong khususnya untuk membantu para anggotanya yang memerlukan bantuan baik berbentuk barang maupun pinjaman uang.
Sumber-sumber Dana Koperasi adalah dari para anggota koperasi berupa iuran wajib, iuran pokok,iuran suka rela); dari luar koperasi misal dari Badan pemerintah, Perbankan dan Lembaga swasta lainnya.
DANA PENSIUN
Pensiun adalah hak seseorang untuk meperoleh penghasilan setelah berkerja sekian tahun dan sudah memasuki usia pensiun atau ada sebab-sebab lain sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan.Tujuan Pensiun adalah memberikan penghargaan kepada karyawannya yang telah mengabdi, agar dimasa usia pensiun karyawan dapat menikmati hasil, memberikan rasa aman dari segi batiniah, meningkatkan motivasi karyawan dan meningkatkan citra perusahaan.
Jenis-jenis Dana Pensiun : Dana pensiun pemberi kerja dan Dana pensiun lembaga keuangan.
Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun bagi pesertanya . Penyelenggaraan pensiun tersebut dapat dikelola pemberi kerja atau menyerahkan kepada lembaga-lembaga keuangan yang menawarkan jasa pengelolaan program pensiun.
Tujuan Penyelenggaraan Dana Pensiun bagi karyawan dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
Jika dipandang dari sisi pemberi kerja maka tujuan penyelenggaraan dana pensiun adalah : kewajiban moral, loyalitas, kompetisi pasar tenaga kerja. Dipandang dari sisi kaeyawan maka keberadaan dana pension akan memberikan rasa aman dan nyaman di masa mendatang serta kompensasi yang baik. Program Dana Pensiun dapat dipandang sebagai asuransi, tabungan maupun sebagai pensiun.
2.4 Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
OTORITAS JASA KEUANGAN Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan lembaga independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan di sektor jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang RI No. 21 Tahun 2011 tentang OJK. A.
2.4.1 Misi dan Visi OJK
Misi
a. Mewujudkan terselenggaranya seluruh kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel.
b. Mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.
c. Melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
Visi
Menjadi lembaga pengawas industri jasa keuangan yang terpercaya, melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, dan mampu mewujudkan industri jasa keuangan menjadi pilar perekonomian nasional yang berdaya saing global serta dapat memajukan kesejahteraan umum
2.4.2 Nilai-Nilai Strategis OJK
a. Integritas adalah bertindak objektif, adil, dan konsisten sesuai dengan kode etik dan kebijakan organisasi dengan menjunjung tinggi kejujuran dan komitmen.
b. Profesionalisme adalah bekerja dengan penuh tanggung jawab berdasarkan kompetensi yang tinggi untuk mencapai kinerja terbaik.
c. Sinergi adalah berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal secara produktif dan berkualitas.
d. Inklusif adalah terbuka dan menerima keberagaman pemangku kepentingan serta memperluas kesempatan dan akses masyarakat terhadap industri keuangan.
e. Visioner adalah memiliki wawasan yang luas dan mampu melihat kedepan (Forward Looking) serta dapat berpikir di luar kebiasaan (Out of The Box Thingking)
Tujuan OJK
OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan : a. Terselenggara secara teratur, adil, transparan dan akuntabel.
b. Mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil.
c. Mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.
Fungsi dan Tugas OJK
OJK berfungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK melaksanakan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan dan Lembaga Jasa Keuangan lainnya.