• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 SEMINAR siklus keperawatan medikal bedah 1

N/A
N/A
syahdila widya

Academic year: 2023

Membagikan "BAB 4 SEMINAR siklus keperawatan medikal bedah 1"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian

Asuhan keperawatan pada Tn. F dengan Tonsilektomi dilakukan selama 3 hari berturut-turut sejak tanggal 16 November 2023 sampai tanggal 18 November 202. Klien mengatakan alasan dirawat di rumah sakit karena nyeri pada tenggorokannya dan sulit untuk menelan dan nyeri tersebut sudah ada sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengatakan nyeri hilang timbul dan sering terasa nyeri ketika pasien dalam keadaan kurang enak badan. Pasien mengatakan sebelumnya pergi ke klinik terdekat untuk melakukan pemeriksaan dan disarankan untuk datang konsul dengan dokter spesialis Tht-mata, pasien memilih dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Rumah Sakit Achmad Mucthar Bukittinggi. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di poli, dokter menyarankan untuk dilakukannya tindakan tonsilektomi.

Pengkajian keperawatan pre op pada Tn. F dilakukan pada tanggal 16 November 2023 dan pengkajian post op dilakukan pada tanggal 17 November 2023. Keluhan utama pada pre op pasien mengeluhkan cemas karena sebelumnya belum pernah dilakukan tindakan operasi. Keluhan utama post op didapatkan pasien mengeluhkan nyeri dan sakit saat menelan serta berbicara kerasa dan pasien juga mengeluhkan tidak nyaman, sulit tidur dan sering terbangun karena nyeri tersebut.

Persepsi pasien terhadap penyakitnya, pasien mengatakan sakit yang sekarang dialaminya merupakan salah satu dampak dari pola hidup pasien sebelumnya, karena sebelumnya pasien sering mengkonsumsi makan-makanan pedas dan minum-minuman

(2)

yang bersoda. Dan pasien mengatakan jika nyeri tenggorokan nya timbul, penanggan pasien hanya dibiarkan saja dan terkadang pasien hanya membawa tidur.

Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme pasien mengatakan selera makan pasien saat sakit berkurang, nasi yang dihabiskan ½ porsi dan saat diit pasien makanan cair tinggi kalori tinggi protein.

Dalam pengkajian pola tidur, pasien mengatakan tidur hanya 3-4 jam, pasien mengatakan tidak merasa segar setelah bangun tidur dan pasien mengatakan sulit tidur dan sering terbangun karena nyeri.

Dalam pengkajian Kognitif-Persepsi, tingkat ansietas pasien sedang dan pasien mengalami nyeri. Nyeri post op (Nyeri Akut) didapatkan P (Post op karena dilakukan tindakan tonsilektomi), Q (seperti ditusuk-tusuk dan pedih), R (nyeri pada tenggorokan), S (skala nyeri 4), T (saat menelan dan berbicara keras).

Pengkajian Pola Koping-Toleransi Stres, didapatkan pasien acuh tak acuh dengan tindakan yang diberikan.

Pemeriksaan fisik, dilakukan pada Tn. F didapatan keadaan umum baik. Tekanan darah (140/80mmHg), Nadi (100 x/i), Pernapasan (20x/i), Suhu (36,50). GCS 15 (4 E, 5 V, 6 M). Pada sistem pencernaan bagian mulut dan tenggorokan didapatkan peradangan pada tonsil dan sakit di tenggorokan saat menelan.

Pemeriksaan yang dilakukan pada Tn. F yaitu pemeriksaan laboratorium didapatkan ALT/SGPT/ Alanine Aminotransferase( jumlah enzim didalam darah untuk tes fungsi hati) : 13 U/L (normal 0-41), AST/SGOT/Aspartat Transaminase (untuk melihat kinerja fungsi organ hati) : 15 U/L (normal 0-40), Creatinine: 0.95 mg/dl (normal 0.51-1.17), Glukosa : 108 mg/dl (normal 74-109), Urea/Bun : 15 mg/dl ( normal 17-49),

(3)

HGB/ Hemoglobin : 15.1 g/dl (normal 13.0-16.0), RBC/ Red Blood Cel: 4.92 106/ul (normal 4.5-5.5), HCT/ Hematokrit: 45.6% (normal 42.0-52.0), WBC/White Blood Cel:

7.79 106/ul (normal 5.0-10.0), PLT/ Trombosit: 336 (normal 150-450), PT/Pembekuan darah : 11.2 (normal 9.2-12.4 sec), APTT : 24.0 (normal 20.3-27.5 sec), INR : 1.03.

Terapi yang diberikan kepada Tn.F, terpasang infus 20 tetes/menit, amoxilin pulpis 30x500mg, paracetamol 3x500mg, amoxiclav 625mg 3x1.

Rencana tindak lanjut pada Tn. F pulang setelah 3 hari rawatan dan pasien pulang pada tanggal 18 November 2023.

B. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan analisa data yang didapatkan dari pengkajian pre op dan post op, maka kelompok mengambil 4 diagnosa prioritas keperawatan. Diagnosa pertama yang muncul pada Tn. F adalah ansietas karena didapatkan data subjektif pasien mengeluhkan cemas karena sebelumnya belum pernah dilakukan tindakan operasi. Dan diagonsa pertama yang muncul pada post op Tn. F nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis post op . Diagnosa ini diangkat karena berdasarkan data subjektif setelah operasi pasien mengeluh nyeri dan sakit saat menelan serta berbicara keras, pasien mengeluh tidak nyaman, sulit tertidur dan sering terbangun karena nyeri tersebut.

Berdasarkan data objektif pasien tampak meringgis, pasien tampak gelisah, pasien tampak sulit tidur, ku (sedang), kes(cm), pengkajian nyeri P(post operasi karena tonsil meradang(tonsilektomi), Q(klien mengatakan nyeri seperti menusuk-nusuk dan pedih, R(nyeri di tenggorokan, S(skala nyeri 4), T(nyeri saat berbicara keras dan menelan).

Tekanan darah (120/80mmHg), nadi (89x/i), pernapasan (19x/i), suhu (36,50), GCS (4 E, 5 V, 6M).

(4)

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Murdiono et al 2016 dimana pasien dengan tonsililitis mengalami gangguan pada kebutuhan dasar manusia yaitu rasa aman dan nyaman. Sehingga memprioritaskan diagnosa nyeri karena berdasarkan tingkatan dasar kebutuhan dasar manusi dalam Hirarki Maslow. Kebutuhan dasar yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis dimana bebas dari rasa nyeri menjadi salah satu diantaranya. Diagnosa kedua yang didapatkan adalah ansietas berhubungan dengan Prosedur tindakan invasif. Diagnosa ini diangkat sebab berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data subjektif pasien mengeluhkan cemas, karena sebelumnya belum pernah melakukan tindakan operasi data bahwa pasien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan. Data objektif yang didapatkan pasien tampak gelisah, tingkat ansietas sedang, pasien tampak sulit tidur, keadaan umum sedang, kesadaran compos mentis. Tekanan darah (140/80 mmHg), nadi (100 x/i), pernapasan (20 x/i), suhu (36,5 0C). GCS : E4, V5, M6. Hal didukung oleh SDKI (2017), dimana ansietas adalah kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu melakukan tindakan untuk menghadapi ancaman, gejala dan tanda mayornya, objektifnya tampaj gelisah, tampak tegang, sulit tidur dan gejala dan tanda minor objektifnya frekuensi napas meningkat, frekuensi nadi meningkat, tekanan darah meningkat. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Humaira (2022), dimana pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan akan mengalami kecemasan, pasien pre op tidak mampu mengkontrol kecemasan dapat memperburuk keadaan fisiologis maupun psikologis, sehingga perlu dilakukan menajemen untuk menurunkan kecemasanya.

(5)

Diagnosa ketiga yang didapatkan adalah resiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur invasif. Diagnosa ini diangkat karena pasien dilakukan tindakan tonsilektomi diamana nantinya luka bekas operasi berisiko mengalami infeksi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data subjektifnya pasien mengatakan telah dilakukannya tindakan operasi mandel dan data objektifnya pasien post op tonselektomi dengan ananstesi umum.

Pemeriksaan laboratorium, WBC (White Blood Cel) : 7.70 (103/uL), tekanan darah(120/80 mmHg), nadi (89 x/i), pernapasan (19 x/i), suhu (36,5 0C), GCS : E 4, V5, M6, keadaan umum sedang, kesadaran (compos mentis). Hal ini didukung oleh SDKI (2017) dimana resiko infeksi adalah beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik dan penyebabnya adalah efek dari prosedur invasif. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Novensia (2020) dimana luka operasi dapat menyebabkan terjadinya infeksi ketika tidak menjaga kebersihan luka operasi dengan baik. Untuk itu perlunya perawatan untuk mengatasi terjadinya resiko infeksi.

Diagnosa keempat yang didapatkan adalah defisit pengetahuan berhubungan dengan penyakit peradangan tonsil. Diagnosa ini diangkat berdasarkan data subjektifnya pasien mengatakan sebelumnya tidak mengetehaui tentang penyakitnya, pasien mengatakan penyakit yang terjadi pada saat ini merupakan salah satu dampak dari pola hidup pasien sebelumnya, karena sebelumnya pasien sering mengkonsumsi makanan – makanan pedas dan minuman bersoda. Pasien mengatakan jika nyeri yang ditenggorokan pasien timbul, penanganan pasien hanya dibiarkan saja dan terkadang pasien hanya membawa tidur. Berdasarkan data objektif yang didapatkan Klien tampak acuh tak acuh pada setiap tindakan keperawatan yang didapatkan, keadaan umu (sedang), GCS (E4 V5

(6)

M6). Hal ini didukung oleh SDKI (2017) dimana defisit pengetahuan adalah kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan topik tertentu (tentang tonsilitis).

C. Intervensi

Intervensi yang dilakukan oleh kelompok pada Tn. F adalah intervensi untuk megurangi tingkat nyeri post op. Kelompok mengambil nyeri karena diagnosa post op Tn. F nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Mardiono et al 2020, dimana dalam memprioritaskan diagnosa keperawatan, terdapat 2 macam cara, yaiu pertama berdasarkan kegawatdaruratan dan berdasarkan tingkat kebutuhan dasar manusia. Dalam kasus tonsililektomi pasien mengalami gangguan pada kebutuhan dasar manusia yaitu rasa aman dan nyaman.

Sehingga memprioritaskan diagnosa nyeri karena berdasarkan tingkatan dasar kebutuhan dasar manusi dalam Hirarki Maslow. Kebutuhan dasar yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis dimana bebas dari rasa nyeri menjadi salah satu diantaranya.

Intervensi yang diberikan kepada Tn. F adalah teknik relaksasi napas dalam diambil dari jurnal EBN, dimana penelitian ini dilakukan oleh Nurgroho, R., K. dan Suyanto. S. (2023) yang berjudul Meta- Analisis Pengaruh Terapi Relaksasi Napas Dalam Terhadap Rasa Nyeri Pada Pasien Post Operasi. Teknik napas dalam ini dilakukan dengan cara mengajarkan dan menganjurkan klien untuk menarik napas dengan baik, menarik napas dalam dan menghembuskan naps sambil melepaskan rasa nyeri yang dirasakan. Respon nyeri yang dirasakan oleh pasien merupakan efek samping yang timbul setelah menjalani suatu operasi. Nyeri yang disebabkan oleh operasi biasanya membuat pasien merasa sangat kesakitan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui estimasi pengaruh pemberian Teknik. Relaksasi napas dalam terhadap nyeri pada pasien

(7)

post operasi. Penelitian ini merupakan penelitian sys-tematic review dan meta-analysis denagn menggunakan diagram PRISMA. Pencarian artikel dilakukan berdasarkan kriteria kelayakan Model PICO. P= Pasien post oprasi; I= Relaksasi napas; C= Tidak ; relaksasi napas; O= Rasa nyeri Artikel yang digunakan berasal dari 3 database, yaitu: PubMed dan Google Scholar. Dengan kata kunci antara lain “breath relaxation” AND “pain” AND

”postoperative patient” AND “randomized controlled trial”. Artikel dianalisis menggunakan digram PRISMA dan aplikasi Review Manager 5.3. 5 artikel dari tahun 2018 – 2022. dengan desain studi randomized controlled trial yang akan digunakan sebagai sumber meta-analisis pengaruh relaksasi napas terhadap rasa nyeri pada pasien post oprasi. Menunjukan bahwa tidak relaksasi napas meningkatkan kemungkinan terjadinya nyeri pada pasien post oprasi. Pasien post oprasi yang tidak relaksasi napas meningkatkan nyeri sebesar 1.18 kali dibandingkan dengan pasien post oprasi yang melakukan relaksasi napas (SMD= 1.18; CI 95%= -1.25 hingga 3.62; p=0.34). Meta- analisis dari 5 studi randomized controlled trial menyimpulkan bahwa tidak melakukan relaksasi napas meningkatan nyeri pada pasien post oprasi.Kkompres dingin untuk menguraingi rasanya nyeri pre op dan post op. Intervensi ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hanung pada tahun 2018 yang berjudul penerapan terapi kompres dingin terhadap nyeri pasca operasi tonsilektomi di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga, dimana penelitian menggunakan studi kasus dengan responden sebanyak 2 pasien pasca operasi tonsilektomi di RSUD dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga dan hasil penelitian menunjukan bahwa kedua pasien mengalami penurunan nyeri. Salah satu upaya untuk meredakan nyeri adalah dengan terapi kompres dingin selama 1 hari selama 10 menit. Diperoleh hasil berupa kedua pasien mengalami penurunan antara (1-2 skala).

(8)

Dan kesimpulan dari hasil yang diperoleh disimpulan bahwa dengan kompes dingin dapat mengurangi pasca nyeri operasi tonsilektomi.

D. Implementasi

- Mengidentifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.

Identifikasi skala nyeri.

- Mengidentifikasi respons nyeri non verbal.

- Mengidentifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri.

- Memberikan posisi yang nyaman posisi semi fowler dan fowler

- Memberikan terapi nonfarmakologi untuk mengurangi rasa nyeri dengan teknik relaksasi napas dalam. . Teknik napas dalam ini dilakukan dengan cara mengajarkan dan menganjurkan klien untuk menarik napas dengan baik, menarik napas dalam dan menghembuskan naps sambil melepaskan rasa nyeri yang dirasakan

- Menjelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri.

- Mengajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri menggunkan teknik kompres dingin

- Mengkolaborasi pemberian analgetik, jika perlu E. Evaluasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam untuk mengurangi rasa nyeri pasca operasi tonsilektomi pada Tn. F dengan menggunakan teknik relaksasi napas dalam , didapatkan hasil adanya penurunan rasa nyeri dari hari pertama skala nyeri 4 dan hari ke terakhir skala nyeri 2. Sehingga didapatkan hasil masalah nyeri akut pasca operasi tonsilektomi teratasi dan intevensi dihentikan pasien dibolehkan pulang.

(9)

Referensi

Dokumen terkait

Keperawatan Medikal Bedah III adalah mata ajar yang membahas tentang masalah kesehatan yang lazim terjadi pada usia dewasa akut, maupun kronik yang meliputi gangguan

Memperhatikan : Permusyawaratan dalam KONAS II Himpunan Perawat Medikal Bedah Komisi yang membahas Garis Besar Program Kerja Periode 2016 – 2021 Himpunan Perawat Medikal

KEDUA : Penetapan Rekomendasi Hasil KONAS I tentang Praktek Keperawatan Mandiri area Medikal Bedah Himpunan Perawat Medikal Bedah Indonesia sebagaimana dimaksud

Praktek profesi Keperawatan Medikal Bedah merupakan program yang menghantarkan mahasiswa dalam adaptasi profesi untuk dapat menerima pendelegasian kewenangan secara

Keperawatan Politeknik Kesehatan Surakarta yang telah menerapkan metode PBL pada mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah I (KMBI) pada 8 sub pokok bahasan dan

Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan memeprhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan

Memperhatikan : Permusyawaratan dalam KONAS I Himpunan Perawat Medikal Bedah Komisi yang membahas Garis Besar Program Kerja Periode 2010 – 2015 Himpunan Perawat Medikal

Temuan empiris dan fenomena gap yang terjadi di lahan praktik rumah sakit dapat disimpulkan bahwa model faktual program pembelajaran klinik Keperawatan Medikal Bedah belum berjalan