Oleh karena itu, penting untuk dijelaskan cara menghitung ATMR risiko operasional dengan menggunakan PID (sesuai SEBI nomor 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009). Rumusan masalah dalam pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Bagaimana teknik dan prosedur perhitungan ATMR risiko operasional... perbankan di Indonesia menggunakan PID?
Perkembangan Manajemen Risiko Perbankan di Indonesia
Penerapan manajemen risiko tidak hanya diwajibkan bagi bank umum yang berprinsip konvensional saja, namun juga bagi bank umum yang berprinsip syariah (dengan cakupan risiko tertentu) 12 Mengenai manajemen risiko bagi bank umum, BI mengeluarkan aturan baru yaitu PBI Nomor: 11/25 /PBI/ 2009. Secara umum perbankan di Indonesia telah menerapkan manajemen risiko untuk menunjang kegiatan usahanya (khususnya bagi bank umum) dan BI (sebagai regulator) mempunyai tanggung jawab untuk selalu memperbaharui peraturan mengenai manajemen risiko sejalan dengan perkembangan terkini. sektor perbankan .
Regulasi Manajemen Risiko Perbankan di Indonesia
Penerapan dan Tata Cara Manajemen Risiko
Selain itu, bank juga dilarang menugaskan atau memberikan persetujuan kepada pengurus dan/atau pegawai bank untuk memasarkan produk atau melakukan kegiatan yang bukan merupakan produk bank atau kegiatan dengan menggunakan sarana atau fasilitas bank.
Sertifikasi Manajemen Risiko
Pengertian Manajemen Risiko
5. semakin kompleksnya risiko pada kegiatan usaha perbankan.30 Ruang lingkup manajemen risiko menurut ketentuan BI meliputi31. Dewan Komisaris dan Direksi Bank mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap penerapan manajemen risiko pada bank yang dipimpinnya.
Jenis Risiko Perbankan
10) Risiko kebangkrutan adalah risiko dimana FI tidak memiliki modal yang cukup untuk mengimbangi penurunan nilai asetnya secara tiba-tiba. 10) Risiko persaingan adalah risiko yang timbul karena produk-produk bank hampir sepenuhnya homogen.
Definisi Risiko Operasional
Kerugian tersebut dapat terjadi setelah jangka waktu tertentu atau secara tidak langsung, misalnya dengan merusak reputasi atau citra bank.39 Oleh karena itu, secara tidak langsung, risiko operasional selalu ada dalam operasional bank.
Risiko Terkait ATMR
Bank bukan devisa yang dikonsolidasi dengan anak perusahaan mempunyai posisi instrumen keuangan berupa surat berharga termasuk instrumen keuangan yang terekspos risiko ekuitas dan/atau transaksi derivatif pada trading book dan/atau instrumen keuangan yang terekspos risiko komoditas dalam disertasi. buku dan buku bank sebesar Rp dua lima puluh lima miliar rupiah) atau lebih. Bank yang mempunyai jaringan kantor dan/atau anak perusahaan di negara lain atau kantor cabang bank yang kantor pusatnya berlokasi di luar negeri.
Aset Tertimbang Menurut Risiko
Pengertian ATMR
Estimasi nilai eksposur risiko masing-masing aset akan digunakan untuk menghitung KPMM berbasis risiko (risk-based capital). Aset yang termasuk dalam kelompok kewajiban yang diasumsikan dan kewajiban kontinjensi (akun neraca) terlebih dahulu dihitung ulang bobot spesifiknya untuk mengukur nilai yang akan direalisasikan dan sesuai untuk penetapan bobot risiko tergantung pada jenis asetnya.
Penghitungan ATMR
Sesuai dengan regulasi Basel II, GI digunakan sebagai estimasi (proxy) dalam perhitungan ATMR risiko operasional. Pada PS, perhitungan ATMR risiko operasional dilakukan berdasarkan lini bisnis yang dijalankan bank.
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum
Laba yang dicapai pada tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran liabilitas pajak.77 .. i) Selisih penjabaran laporan keuangan cabang luar negeri j) Dana simpanan modal. Modal pelengkap ini terdiri dari campuran instrumen modal umum perbankan dan instrumen utang (modal hybrid).
Contoh Penerapan PID Dalam Penghitungan ATMR-risiko operasional
Nilai ATMR risiko operasional di atas digunakan untuk menghitung total ATMR (dikombinasikan dengan ATMR risiko kredit dan ATMR risiko pasar), kemudian dibandingkan dengan nilai modal bank. Apabila CAR lebih rendah dari 8% (delapan persen), berarti tingkat kesehatan bank tersebut tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan BI.
KERANGKA PEMIKIRAN
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menjelaskan (deskripsi) penerapan Basel II terutama terkait ATMR risiko operasional ditinjau dari teknik dan prosedur melakukan perhitungan ATMR dengan menggunakan PID serta mendeskripsikan dampak kuantitatif terhadap CAR. bank. Definisi tersebut digunakan peneliti untuk menjelaskan risiko operasional dalam hal perhitungan ATMR risiko operasional di KPMM dan menganalisis pengaruhnya terhadap rasio KPMM.
KPMM
PID merupakan metode penghitungan kebutuhan modal untuk risiko operasional dengan menggunakan rata-rata GI 3 tahun terakhir sebagai proksi kuantitatif risiko operasional dan dikalikan dengan persentase tetap (α) sesuai kebijakan BI. GI didefinisikan sebagai nilai pendapatan bunga bersih ditambah pendapatan non-bunga (net interest income ditambah pendapatan non-bunga). Untuk α, penelitian ini menggunakan ilustrasi perhitungan ATMR risiko operasional dengan PID dengan persentase 5%, 10% dan 15%. 𝛼5% digunakan untuk menghitung proyeksi risiko operasional ATMR periode Januari 2010 hingga Juni 2010, 𝛼10% digunakan untuk menghitung proyeksi risiko operasional ATMR periode Juli 2010 hingga Desember 2010, dan 𝛼15% digunakan untuk menghitung proyeksi risiko operasional ATMR untuk periode tahun 2011. Penelitian menggunakan nilai ATMR risiko pasar tahun 2009 sebagai dasar proyeksi perhitungan), dan kombinasi ATMR risiko operasional menggunakan PID dengan α = 5%, 10% dan 15%.
Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran secara lengkap (ditinjau dari jangka waktu pelaksanaannya) mengenai dampak penambahan ATMR-risiko operasional dalam perhitungan KPMM perbankan di Indonesia.
BAB III
- POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN
- Populasi Penelitian
- Sampel Penelitian
- SIFAT DAN OBJEK PENELITIAN
- TEKNIK PENGUMPULAN DATA
- TEKNIK PENGOLAHAN DATA
Penelitian penerapan Basel II kaitannya dengan perhitungan KPMM-Risiko Operasional menggunakan PID adalah untuk memberikan gambaran (pameran) teknik dan prosedur penerapan PID serta mengetahui pengaruhnya terhadap kecukupan modal bank (khususnya konvensional). bank) di Indonesia. Perhitungan nilai ATMR-risiko operasional bank dilakukan mulai dari periode persetujuan ketentuan BI yaitu 1 Januari 2010 sampai dengan 30 Juni 2010 (α = 5%), periode 30 Juli 2010 sampai dengan Desember 31 Tahun 2010 (α = 10 %), dan periode tahun 2011 (α = 15%) dengan melakukan pendekatan simulasi perhitungan proyeksi.5. Perhitungan ini akan menghasilkan KPID untuk setiap α, kemudian dikalikan lagi dengan pengali tetap sebesar 12,5× (dua belas koma lima kali) sehingga diperoleh ATMR-Risiko Operasional.
Simulasi perhitungan ini menggunakan data perhitungan KPMM tahun 2009 sebagai dasar perhitungannya, artinya penelitian ini akan menggunakan data-data terkait ATMR-Risiko Pasar tahun 2009, ATMR-Risiko Kredit tahun 2009 dan dipadukan dengan hasil perhitungan ATMR-Risiko Operasional tahun 2009 ( berdasarkan α). Artinya berapa rasio kecukupan modal (CAR) suatu bank sampel jika menggunakan α dengan nilai 5%, 10% dan 15% jika menggunakan PID untuk menghitung ATMR risiko operasional. Metode pengolahan data simulasi ini digunakan karena merupakan proyeksi kecukupan modal bank untuk menambah risiko operasional ATMR saat menghitung rasio KPMM (CAR) bank.
BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
- Objek Penelitian Berdasarkan Struktur dan Prinsip Kegiatan Usaha
- Objek Penelitian Berdasarkan Total Aset
- Objek Penelitian Berdasarkan Bentuk Hukum dan Kepemilikan
- Objek Penelitian Berdasarkan Kegiatan Devisa
Bank dengan jumlah neraca antara 10 triliun rupiah sampai dengan 30 triliun rupiah terdapat 4 (empat) bank yang termasuk dalam kategori ini (dengan share total sampel sebesar 14%). Berikut adalah diagram lingkaran sampel bank yang diperingkat berdasarkan total aset secara keseluruhan, dengan rincian persentase masing-masing kategori. Berdasarkan ketentuan tersebut maka sampel bank yang digunakan dalam penelitian adalah seluruh bank yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas.
Jadi sampel bank yang digunakan dalam penelitian ini mayoritas adalah BUSN dan semuanya berbentuk perseroan terbatas. Berdasarkan beberapa kategori di atas, maka sampel bank yang digunakan dalam penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu bank fokus dan bank nasional. Jadi, mayoritas bank sampel (21 bank) merupakan bank fokus yang mempunyai modal antara 0,1 triliun rupiah hingga 10 triliun rupiah (75%), dan sisanya (7 bank) merupakan bank nasional.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
- Proses Penghitungan KPMM
- Modal
- ATMR-risiko kredit
- ATMR-risiko pasar
- ATMR-risiko operasional
- Penghitungan Rasio KPMM (CAR)
- Analisis Kecukupan Modal Sampel Penelitian Setelah Penambahan ATMR- risiko operasional
- CAR Setelah Penambahan ATMR-risiko operasional (PID pada α = 5%)
- CAR Setelah Penambahan ATMR- risiko operasional (PID pada α = 10%)
- CAR Setelah Penambahan ATMR- risiko operasional (PID pada α = 15%)
Untuk kategori bank dengan total aset 1T – 5T, rata-rata rasio antara ATMR – risiko kredit terhadap total aset adalah sebesar 61,50%. Nilai ATMR risiko operasional yang digunakan merupakan hasil penggunaan PID dengan α = 5% (ketentuan periode 1 Januari 2010 sampai dengan 30 Juni 2010). Bank dengan total aset 10T – 30T rata-rata mengalami penurunan CAR setelah ATMR risiko operasional dalam perhitungan KPMM sebesar 1,41 a.p.
Penurunan rata-rata CAR bank-bank BUMN setelah memasukkan ATMR risiko operasional dalam perhitungan KPMM adalah sebesar 0,84 a.p. Bank fokus mengalami penurunan rata-rata CAR sebesar 0,89 a.p. dialami setelah menambahkan ATMR risiko operasional ke dalam perhitungan KPMM mereka.
KESIMPULAN
Seluruh proyeksi yang dihitung dengan α dan 15% menunjukkan bahwa bank dengan total aset 10T – 30T mengalami rata-rata penurunan CAR1. Dengan demikian, bank yang rata-rata penurunan CAR1 terkecil diperkirakan lebih siap menerapkan ketentuan ICMM sesuai Basel II (karena dampak penurunan CAR1 akibat masuknya nilai ATMR – risiko operasional adalah relatif kecil). Seluruh proyeksi yang dihitung dengan α dan 15% menunjukkan bahwa bank-bank BUMN cenderung memiliki rata-rata persentase penurunan CAR1 yang lebih rendah, yaitu pada kisaran 1,61 a.p. dan BUSN pada interval 1.64 a.p. Dengan demikian, bank-bank BUMN diharapkan lebih siap menerapkan ketentuan memasukkan ATMR risiko operasional dalam perhitungan KPMM.
Seluruh proyeksi perhitungan dengan α dan 15% menunjukkan bahwa bank devisa memiliki rata-rata persentase penurunan CAR1 yang relatif lebih besar yaitu pada kisaran 1,70 p.e. bahwa bank noncurrency dengan persentase penurunan CAR1 pada kisaran 1,10 a.p. Penurunan yang besar pada kategori perbankan devisa disebabkan oleh besarnya eksposur risiko akibat kompleksitas kegiatannya. Proyeksi perhitungan dengan α dan 15% menunjukkan bahwa bank fokus (0,1T < modal bank ≤ 10T) mengalami rata-rata penurunan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perbankan nasional relatif lebih siap menerapkan ketentuan perhitungan ICMM sesuai Basel II.
SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN .1 Saran
- Keterbatasan Penelitian
Secara keseluruhan, berdasarkan kategori bank, seluruh sampel penelitian diproyeksikan sepenuhnya siap (dari segi permodalan) untuk melaksanakan pencantuman perhitungan ATMR risiko operasional dalam perhitungan KPMM menggunakan PID pada seluruh level α (5%, 10% dan 15). ) ). 4) Besarnya nilai ATMR risiko berkorelasi positif dengan besarnya nilai CI Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa bank yang menghasilkan CI yang relatif lebih besar dibandingkan bank lain akan mempunyai eksposur risiko operasional yang lebih besar. Bagi penelitian selanjutnya terkait penerapan perhitungan KPMM risiko operasional dengan menggunakan PID, disarankan untuk menggunakan data mengenai perhitungan KPMM pada sampel bank pada tahun yang sama dengan tahun dilakukannya penelitian. Selain itu, dapat dilakukan pengembangan penelitian berupa perbandingan antara PID dan PS dalam kontribusinya dalam perhitungan ATMR risiko operasional.
Sehingga disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk menggunakan sampel penelitian yang lebih kompleks (tidak hanya terbatas pada bank-bank yang terdaftar). 3) Literatur terkait PID untuk kawasan Asia (khususnya Indonesia) masih kurang dan sulit diperoleh dari sumber di negara maju karena negara-negara maju di kawasan tidak menggunakan PID untuk menghitung ATMR risiko operasional namun sudah menggunakan pendekatan yang lebih kompleks yaitu PS dan AMA untuk menghitung ATMR risiko operasional. Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indonesia (2009), Laporan Hasil Survei: Praktik Manajemen Risiko Operasional dan Persiapan Penerapan Pendekatan Standar dalam Perhitungan Modal Minimum, dengan Mempertimbangkan Risiko pada Perbankan di Indonesia. Peraturan Bank Indonesia No. 10/15/PBI/2008 Tentang Ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (KPMM Bagi Bank Umum).