pemantauan awal (initial monitoring) dan melakukan pengujian secara langsung (live testing) terhadap model yang digunakan bank sebelum memberikan persetujuan terhadap penggunaan model tersebut untuk tujuan perhitungan KPMM.
Sesuai dengan kerangka waktu penerapan Basel II, pengajuan penggunaan IM untuk perhitungan ATMR Risiko Pasar direncanakan dimulai setelah pertengahan tahun 2007 dan dapat berlaku efektif dalam perhitungan KPMM tahun 2008.
biasanya disebut sebagai net worth yang artinya selisih antara nilai pasar dari aset dan nilai pasar dari utang perusahaan.69
Krisis perbankan yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998 membawa dampak terhadap penurunan modal perbankan di Indonesia, oleh karena itu BI menetapkan perubahan rasio KPMM menjadi 8% (delapan perseratus) yang berlaku sejak tahun 2001 (sebelumnya sebesar 4%). Modal bank di Indonesia harus memenuhi kriteria-kriteria sesuai dengan KPMM. KPMM addalah ketentuan yang mengatur tentang pemenuhan modal minimum bank yang merupakan salah satu aspek dalam tata cara penilaian kesehatan bank; menurut ketentuan tersebut, modal bank sekurang-kurangnya harus memenuhi perbandingan tertentu antara jumlah modal dan ATMR.70. Menurut Basel II menyatakan bahwa komponen modal terdiri dari 3 (tiga) tingkatan (tier) yaitu Tier 1, Tier 2, dan Tier 3 (khusus untuk risiko pasar). Penetapan proporsi dan peranan masing-masing kelompok modal secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut:
Modal Tier 1 (modal inti)
Modal dalam kelompok ini terdiri dari istrumen yang memiliki kapasitas terbesar untuk menyerap kerugian yang terjadi setiap saat. Sesuai dengan ketentuan BI, bank wajib menyediakan modal inti paling kurang 5% dari ATMR. Berikut adalah komponen modal inti :
1) Modal disetor
69 Saunders And Cornet. 2008. Financial Institution Management : A Risk Management Approach. Fifth Edition. McGraw-Hill Education. Singapore. Page 568
70Djiwandono, J. Soedradjad, et.al. 2006. Sejarah Bank Indonesia Periode :1995-1999, Bank Indonesia pada Masa Krisis Ekonomi, Moneter dan Perbankan. Museum Bank Indonesia. Jakarta. Glosarium. Hal.
1045
Modal disetor adalah modal yang telah disetor secara efektif oleh pemiliknya.71 2) Cadangan Tambahan Modal (Disclosed Reserves), berupa :
a) Agio Saham
Selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.72
b) Disagio -/-
Selisih negatif setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham kurang dari nilai nominalnya.
c) Modal Sumbangan
Modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham tersebut dijual.73
d) Cadangan Umum dan Cadangan Tujuan
Cadangan umum yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat persetujuan rapat umum pemegang saham (untuk selanjutnya disebut RUPS) atau rapat anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran dasar masing-masing bank.74
Cadangan tujuan yaitu bagian laba setelah dikurangi pajak yang disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS atau rapat anggota.75
e) Laba Tahun-tahun Lalu Setelah Diperhitungkan Pajak
71 Dahlan Siamat, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 251
72Ibid
73Ibid
74 Ibid., 252
75Ibid
Seluruh laba bersih tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan pajak dan belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS atau rapat anggota.76
f) Rugi Tahun-tahun lalu -/-
g) Laba Tahun Berjalan Setelah Diperhitungkan Pajak (50%)
Laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan setelah dikurangi taksiran utang pajak.77
h) Rugi Tahun Berjalan -/-
i) Selisih Penjabaran Laporan Keuangan Kantor Cabang Luar Negeri j) Dana Setoran Modal
Dana yang telah disetor penuh untuk tujuan penambahan modal namun belum didukung dengan kelengkapan persyaratan untuk dapat digolongkan sebagai modal disetor.78
k) Penurunan Nilai Penyertaan pada Portfolio Tersedia untuk Dijual -/- 3) Goodwill -/-
4) Selisih Penilaian Aktiva dan Kewajiban akibat Kuasi Reorganisasi
Modal Tier 2 (modal pelengkap)
Modal pelengkap ini terdiri dari campuran instrumen ekuitas bank secara umum dan instrumen utang (hybrid capital). Total modal Tier 2 dibatasi hingga 100% dari Tier 1 dan terbagi menjadi dua kategori yaitu Tier 2 Utama (Upper Tier 2) yang dibatasi
76Dahlan Siamat, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 252
77 Ibid
78 Ibid
maksimal 100% dari modal Tier 1 dan Tier 2 Pendukung (Lower Tier 2) yang dibatasi maksimal 50% dari modal Tier 1. Komponen modal pelengkap adalah :
1) Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap
Cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak.79
2) Selisih Penilaian Aktiva dan Kewajiban akibat Kuasi Reorganisasi 3) Cadangan Umum PPAP (maksimal 1,25% dari ATMR)
Cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan dengan maksud untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif.80
4) Modal Pinjaman
Utang yang didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal.81
5) Pinjaman Subordinasi (maksimal 50% dari modal inti)
6) Peningkatan Harga Saham pada Portfolio Tersedia untuk Dijual (45%)
Modal Tier 3 (modal pelengkap tambahan)
Ditambahkan pada tahun 1996 dan hanya digunakan untuk memenuhi persyaratan modal pada risiko pasar. Modal pelengkap tambahan 82 meliputi :
1) Pinjaman subordinasi atau obligasi subordinasi jangka pendek;
2) Modal pelengkap yang tidak dialokasikan untuk menutup beban modal untuk risiko kredit dan/atau beban modal untuk risiko operasional namun memenuhi syarat sebagai modal pelengkap (unused but eligible tier 2); dan
79Dahlan Siamat, 2005. Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta. Hal. 252
80 Ibid
81 Ibid
82 PBI Nomor 10/15/PBI/2008 tentang KPMM
3) Bagian dari modal pelengkap level bawah (lower tier 2) yang melebihi batasan modal pelengkap level bawah (lower tier 2).
Biasanya Bank Sentral menentukan jumlah modal minimum yang harus dimiliki oleh bank pada persentase tertentu, untuk Indonesia rasio kecukupan modal (untuk selanjutnya disingkat menjadi CAR βCapital Adequacy Ratioβ) ditetapkan sebesar 8%
(sesuai dengan Basel II). Modal minimum tersebut mencakup tiga jenis risiko yaitu risiko pasar, risiko kredit, dan risiko operasional, untuk lebih jelasnya perhatikan deskripsi CAR berikut :
CAR
πππ‘ππ π πππ’πππ‘πππ¦ πΆππππ‘ππ (Modal )
πππ‘ππ π ππ π ππππ βπ‘ππ π΄π π ππ‘π (ATMR )
β₯ 8%
Gambar 2.2 Deskripsi CAR