BAB IV BAB IV
5.2 SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN .1 Saran
bank dengan fokus pada kisaran 1,632 a.p sedangkan bank nasional pada kisaran 1,630 a.p. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa bank nasional relatif lebih siap untuk menerapkan ketentuan penghitungan KPMM sesuai Basel II.
Secara keseluruhan berdasarkan kategori bank, seluruh sampel penelitian diproyeksikan sepenuhnya telah siap (dari segi permodalan) untuk mengimplementasikan masuknya penghitungan ATMR-risiko operasional dalam penghitungan KPMM dengan penggunaan PID padas semua tingkatan α (5%, 10% dan 15%).
4) Besarnya nilai ATMR-risiko berkorelasi positif dengan besarnya nilai GI, secara tidak langsung hal ini mengindikasikan bahwa bank yang menghasilkan GI yang relatif lebih besar dari pada bank lain akan menimbulkan eksposur risiko operasional yang lebih besar. Selain itu profil risiko lainnya juga berpengaruh pada besarnya penurunan nilai CAR1 yaitu besarnya profil risiko kredit dan risiko pasar, apabila kedua profil risiko ini rendah maka kemungkinan menurunnya nilai CAR1 dengan nilai yang relatif besar akan cenderung lebih rendah atau sebaliknya.
5.2 SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN
risiko untuk bank menjadi hal yang penting untuk diperhatikan, karena kompleksitas cakupan manajemen risiko dan teknik penanganannya (baik dari proses kuantifikasi maupun kualifikasi risiko) semakin komprehensif.
3) Dengan masuknya ATMR-risiko operasional dalam penghitungan KPMM pasti akan menurunkan CAR (karena di sisi lain eksposur risiko kredit dan risiko pasar tahun berjalan akan meningkat akibat ekpsansi usaha bank), maka dibutuhkan penambahan modal bagi bank.
4) Khusus untuk BI, berdasarkan simulasi proyeksi penghitungan dalam penelitian, maka para pengawas diharapkan tidak lagi ‘mempertanyakan’ kemampuan bank (dari segi permodalan) untuk menerapkan ketentuan KPMM sesuai Basel II.
5) Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan menggunakan sampel penelitian berupa bank yang belum terdaftar di BEI, agar dapat memberikan gambaran kesiapan perbankan di Indonesia secara komprehensif.
5.2.2 Keterbatasan Penelitian
Untuk penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan implementasi penghitungan KPMM untuk risiko operasional dengan penggunaan PID, disarankan menggunakan data tentang penghitungan KPMM sampel bank pada tahun yang sama dengan tahun dilakukannya penelitian. Hal ini akan meningkatkan keakuratan proyeksi penghitungannya. Selain itu pengembangan penelitian dapat dilakukan dalam hal perbandingan antara PID dan PS dalam kontribusinya menghitung ATMR-risiko operasional.
Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini adalah :
1) Peneliti belum dapat menggunakan laporan keuangan tahun berjalan (2010) sampel bank, karena penelitian dilakukan pada tahun yang sama. Sehingga penelitian hanya
memproyeksikan nilai CAR sebenarnya.
2) Jumlah sampel yang terbatas (karena hanya bank umum konvensional yang telah listing di BEI), sehingga tidak menggambarkan kondisi bank umum lainnya yang masih belum terdaftar di BEI. Sehingga disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menggunakan sampel penelitian yang lebih kompleks (tidak hanya terbatas pada bank-bank yang telah listing).
3) Kurangnya literatur terkait PID untuk di kawasan Asia (terutama Indonesia) dan sulit untuk menemukannya dari sumber-sumber di negara maju, karena di kawasan negara- negara maju tidak menggunakan PID dalam penghitungan ATMR-risiko operasional, tetapi telah menggunakan pendekatan yang lebih kompleks yaitu PS dan AMA untuk menghitung ATMR-risiko operasional.
Kesimpulan dan saran merupakan tahapan akhir dalam penelitian, semoga bermanfaat dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan penelitian, terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Bank for International Settlements (2001), “Consultative Document Operational Risk”, Swiss : Basel Committee on Banking Supervision.
Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia (2009), Laporan Hasil Survey : Praktek Manajemen Risiko Operasional Dan Persiapan Penerapan Pendekatan Standar Dalam Perhitungan Modal Minimum Dengan Memperhatikan Risiko Pada Perbankan Di Indonesia. Jakarta : Bank Indonesia.
Djiwandono, J. Soedradjad, Binhadi, Paul Soetopo Tjokronegoro, Soengkowo Prijoredjo, Deddy Nurjaman, J.B. Sudibyo, Sulastinah Tirtonegoro, Desmi Demas, Permadi Gandapradja, Kusnadi Paimin, Hirawati Suhirman dan Idris Kadir (2006), Sejarah Bank Indonesia Periode V : 1995 – 1999, Bank Indonesia pada Masa Krisis Ekonomi, Moneter dan Perbankan. Jakarta : Museum Bank Indonesia.
Idroes, Ferry N. (2008), Manajemen Risiko Perbankan : Pemahaman Pendekatan 3 Pilar Kesepakatan Basel II Terkait Aplikasi Regulasi dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta : Rajawali Pers.
Jones, Charles P. (2007), Investments. Tenth Edition. Singapore : John Wiley & Sons (Asia) Pte Ltd.
Laudon, Kenneth C. and Jane P. Laudon (2007), Management Information System.
Tenth Edition. New York : Pearson Education Inc.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/25/PBI/2005 tentang Risk Management.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 tentang Ketentuan Penyediaan Modal Minimum Bank Umum (KPMM Bank Umum).
PBI Nomor 11/25/PBI/2009 tentang perubahan PBI Nomor 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum.
Rose, Peter S. and Silvia C. Hudgins (2005), Bank Management and Financial Services.
Sixth Edition. Singapore : McGraw-Hill Education.
Saunders, Anthony And Marcia Millon Cornett (2008), Financial Institution Management : A Risk Management Approach. Fifth Edition. Singapore : McGraw- Hill Education.
SEBI Nomor 11/3/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal Perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional dengan Menggunakan PID.
Siamat, Dahlan (2005), Manajemen Lembaga Keuangan : Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima. Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sugiarto, Dr. Agus (2004), “Mengapa Manajer Risiko Bank Harus Disertifikasi”. Kompas. 17 April.
Sundmacher, Maike (2007), Operational Risk Measurement in Banks : Arbritage, Adjustments and Alternatives. Australia : School of Economics and Finance University of Western Sydney. http://ssrn.com/abstract=963231
Sundmacher, Maike (2007), The Basic Indicator Approach and The Standardized Approach to Operational Risk : An Example and Case Study-Based Analysis.
Australia : School of Economics and Finance University of Western Sydney.
http://ssrn.com/abstract=988282
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Bank Indonesia.
Young, Brendon and Rodney Coleman (2009), Operational Risk Assessment : The Commercial Imperative of a more Forensic and Transparent Approach. England : John Wiley & Sons Ltd.
www.bataviase.co.id/