• Tidak ada hasil yang ditemukan

bab i pendahuluan - BAPPEDA ACEH TAMIANG

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "bab i pendahuluan - BAPPEDA ACEH TAMIANG"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

KERJASAMA BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN ACEH TAMIANG DENGAN BAPPEDA KABUPATEN ACEH TAMIANG

2007-2010

Produk Domestik Regional Bruto

Aceh Tamiang

Katalog BPS : 9205. 1114

(2)

PENDAHULUAN

(3)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perencanaan pembangunan ekonomi, memerlukan bermacam data statistik sebagai dasar berpijak dalam menentukan strategi kebijaksanaan, agar sasaran pembangunan dapat dicapai dengan tepat. Strategi dan kebijaksanaan yang telah diambil pada masa-masa lalu perlu dimonitor dan dievaluasi hasil-hasilnya. Berbagai data statistik yang bersifat kuantitatif diperlukan untuk memberikan gambaran tentang keadaan pada masa yang lalu dan masa kini, serta sasaran-sasaran yang akan dicapai pada masa yang akan datang.

Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan melalui pergeseran kegiatan ekonomi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Dengan perkataan lain arah dari pembangunan ekonomi adalah mengusahakan agar pendapatan masyarakat naik, disertai dengan tingkat pemerataan yang sebaik mungkin.

Untuk mengetahui tingkat dan pertumbuhan pendapatan masyarakat, perlu disajikan statistik Pendapatan Nasional/Regional secara berkala, untuk digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan nasional atau regional khususnya di bidang ekonomi.Angka-angka pendapatan nasional/regional dapat dipakai juga sebagai bahan evaluasi dari hasil pembangunan ekonomi yang telah dilaksanakan oleh berbagai pihak, baik pemerintah pusat/daerah, maupun swasta.

(4)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 3 1.2. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.

PDRB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlakumenggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedang PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.

Dalam publikasi ini tahun dasar yang digunakan adalah tahun 2000. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Untuk menghitung angka-angka PDRB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu:

a. Menurut Pendekatan Produksi

PDRB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu:

1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan, 2. Pertambangan dan Penggalian,

3. Industri Pengolahan, 4. Listrik, Gas dan Air Bersih, 5. Bangunan,

(5)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 4 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran,

7. Pengangkutan dan Komunikasi,

8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, 9. Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah.

Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.

b. Menurut Pendekatan Pendapatan

PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa faktor produksi yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan; semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. Dalam definisi ini, PDRB mencakup juga penyusutan dan pajak tidak langsung neto (pajak tak langsung dikurangi subsidi).

c. Menurut Pendekatan Pengeluaran

PDRB adalah semua komponen permintaan akhir yang terdiri dari:

(1) pengeluaran konsumsi rumahtangga dan lembaga swasta nirlaba, (2) konsumsi pemerintah,

(3) pembentukan modal tetap domestik bruto, (4) perubahan stok, dan

(5) ekspor neto, (ekspor neto merupakan ekspor dikurangi impor).

Secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Jadi, jumlah pengeluaran akan sama dengan jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama pula dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksi. PDRB yang dihasilkan dengan cara ini disebut sebagai PDRB atas dasar harga pasar, karena di dalamnya sudah dicakup pajak tak langsung neto.

(6)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 5 Di samping sebagai salah satu indikator dari data PDRB dapat juga diturunkan beberapa indikator ekonomi penting lainnya, seperti:

1. Produk Regional Bruto, yaitu PDRB ditambah dengan pendapatan neto dari luar negeri. Pendapatan neto itu sendiri merupakan pendapatan atas faktor produksi (tenaga kerja dan modal) milik penduduk Indonesia yang diterima dari luar negeri dikurangi dengan pendapatan yang sama milik penduduk asing yang diperoleh di Indonesia.

2. Produk Regional Neto atas dasar harga pasar, yaitu PDRB dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap yang digunakan dalam proses produksi selama setahun.

3. Produk Regional Neto atas dasar biaya faktorproduksi, yaitu produk regional neto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung neto. Pajak tidak langsung neto merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi dengan subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Baik pajak tidak langsung maupun subsidi, kedua-duanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diproduksi atau dijual. Pajak tidak langsung bersifat menaikkan harga jual sedangkan subsidi sebaliknya.

Selanjutnya, produk regional neto atas dasar biaya faktor produksi disebut sebagai Pendapatan Regional.

4. Angka-angka per kapita, yaitu ukuran-ukuran indikator ekonomi sebagaimana diuraikan di atas dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

1.3. Tujuan dan Kegunaan Statistik Produk Domestik Regional Bruto Data produk domestik regional bruto adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian daerah setiap tahun. Manfaat yang dapat diperoleh dari data ini antara lain adalah:

1. PDRB harga berlaku nominal menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Nilai PDRB yang besar

(7)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 6 menunjukkan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar, begitu juga sebaliknya. PDRB harga berlaku juga menunjukkan pendapatan yang memungkinkan untuk dinikmati oleh penduduk suatu daerah.

2. PDRB harga konstan (riil) dapat digunakan untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun. Apabila dibandingkan angka-angka nilai tambah bruto atas dasar harga konstan dengan angka-angka tahun sebelumnya maka akan diketahui besarnya tingkat pertumbuhan ekonomi di suatu daerah baik secara keseluruhan maupun secara sektoral.

3. Distribusi PDRB harga berlaku menurut sektor menunjukkan struktur perekonomian atau peranan setiap sektor ekonomi dalam suatu daerah.

Sektor-sektor ekonomi yang mempunyai peran besar menunjukkan basis perekonomian suatu daerah. Dengan melihat angka persentase setiap sektor tersebut, selain dapat diketahui sumbangan atau kontribusi masing-masing sektor, sekaligus juga dapat dilihat struktur perekonomian daerah yang bersangkutan. Dengan demikian dapat diketahui apakah perekonomian daerah bersifat agraris atau non agraris. Apabila pendapatan regional dikumpulkan dari waktu ke waktu, maka akan terlihat perubahan kontribusi masing-masing sektor serta perubahan struktur ekonominya.

4. PDRB harga berlaku menurut penggunaan menunjukkan produk barang dan jasa digunakan untuk tujuan konsumsi, investasi dan diperdagangkan dengan pihak luar negeri.

5. Distribusi PDRB menurut penggunaan menunjukkan peranan kelembagaan dalam menggunakan barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor ekonomi.

6. PDRB penggunaan atas dasar harga konstan bermanfaat untuk mengukur laju pertumbuhan konsumsi, investasi dan perdagangan luar negeri.

7. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku menunjukkan tingkat kemakmuran suatu daerah. Untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu daerah sedikit banyaknya harus mempunyai angka pembanding dari daerah

(8)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 7 lain, sedangkan untuk mengetahui perkembangannya perlu diketahui angka perkembangan pendapatan secara berkala.

8. Perbandingan antara pendapatan regional atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan merupakan angka indeks implisit yang dapat dipergunakan untuk mengetahui adanya perubahan harga barang dan jasa secara keseluruhan.

9. Elastisitas kesempatan kerja dengan bantuan data tenaga kerja yang apabila disajikan bersama-sama secara series dari waktu ke waktu, maka dapat dihitung angka elastisitas kesempatan kerja terhadap pendapatan regional.

Elastisitaskesempatankerja ini mencerminkan pengaruh kenaikan/penurunan pendapatan regional terhadap kesempatan kerja. Perlu ditekankan disini bahwa kenaikan pendapatan regional bukan saja disebabkan oleh adanya kesempatan kerja yang bertambah tetapi juga disebabkan adanya penambahan modal. Pengaruh dari dua faktor ini sangat sulit dipisahkan.

10. Untuk melihat produktifitas per sektoral yaitu dengan membagi jumlah nilai tambah dari sektor yang bersangkutan dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut. Produktivitas tenaga kerja sektoral ini sangat berguna untuk mempertimbangkan penentuan alokasi tenaga kerja secara sektoral.

1.4. Konsep dan Definisi

Untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang kondisi perekonomian suatu negara atau daerah dapat dilihat melalui neraca ekonominya. Seperti telah diterangkan sebelumnya perhitungan-perhitungan ini dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan tujuan penggunaannya.

Lebih lanjut akan diuraikan konsep dan definisi yang digunakan untuk perhi- tungan pendapatan regional.

Konsep dan definisi menjadi amat penting untuk memahami lebih lanjut mengenai data yang tersedia. Arti, wujud phisik, karakteristik, batasan dan sifat

(9)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 8 kegiatan tentang eksistensi, perubahan dan perpindahan suatu barang dan jasa harus tercermin jelas dalam konsep dan definisi. Definisi yang berbeda akan menghasilkan data yang berbeda pula. Perlu diingat bahwa konsep dan definisi yang tercantum dalam buku ini pada dasarnya untuk tujuan penyusunan neraca regional.

1.4.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

PDRB dapat diartikan kedalam tiga pengertian, yaitu:

a. Menurut pengertian produksi, PDRB adalah jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di dalam suatu wilayah (region) dalam jangka waktu tertentu (satu tahun).

b. Menurut pengertian pendapatan, PDRB adalah jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah atau daerah dalam jangka waktu tertentu (satu tahun). Balas jasa faktor produksi meliputi upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan, semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak tak langsung lainnya. Dalam pengertian Produk Domestik Regional Bruto, kecuali faktor pendapatan di atas, termasuk pula komponen penyusutan barang modal tetap dan pajak tak langsung neto. Semua komponen pendapatan ini secara sektoral disebut Nilai Tambah Bruto, sehingga Produk Domestik Regional Bruto adalah nilai penjumlahan pada nilai tambah dari seluruh sektor (lapangan usaha).

c. Menurut pengertian pengeluaran, PDRB adalah jumlah pengeluaran yang dilakukan untuk konsumsi rumahtangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi Pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan ekspor neto (ekspor dikurangi impor).

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu hubungan bahwa jumlah pengeluaran untuk berbagai kepentingan tadi harus sama dengan jumlah produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan dan harus sama juga dengan jumlah pendapatan untuk faktor-faktor produksinya. Produk Domestik Regional

(10)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 9 Bruto seperti yang telah diuraikan di atas disebut sebagai Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar, karena tercakup didalamnya komponen pajak tak langsung neto. Pajak tak langsung neto merupakan jumlah pajak tak langsung dikurangi subsidi.

1.4.2. Produk Regional Bruto (PRB)

PRB merupakan Produk Domestik Regional Bruto ditambah balas jasa faktor produksi milik penduduk wilayah tersebut yang berasal dari luar dikurangi balas jasa faktor produksi yang mengalir keluar milik penduduk luar wilayah.

1.4.3. Produk Regional Neto (PRN)

PRN merupakan Produk Regional Bruto dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap yang digunakan selama setahun.

1.4.4. Produk Regional Neto Atas Dasar Biaya Faktor Produksi

PRN atas dasar biaya faktor produksi adalah Produk Regional atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tak langsung. Pajak tak langsung neto sendiri merupakan pajak tak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi dengan subsidi pemerintah. Baik pajak tak langsung maupun subsidi, keduanya dikenakan terhadap barang dan jasa yang diproduksi atau dijual, hanya pajak tak langsung bersifat menaikan harga jual sedangkan subsidi sebaliknya.

Selanjutnya Produk Regional Neto atas dasar biaya faktor produksi disebut sebagai pendapatan regional. Oleh karena data tentang arus faktor pendapatan yang keluar maupun yang masuk ke Kabupaten AcehTamiang sulit dipantau maka faktor pendapatan neto dari luar wilayah atau daerah ini diprediksikan dengan melakukansurvei khusus.

1.4.5. Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita

(11)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 10 PDRB per kapita merupakan merupakan Produk Domestik Regional Bruto dan Pendapatan Regional dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.

1.5. Penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan

Penghitungan PDRB atas dasar harga konstan secara berkelanjutan dan berkala sangat berguna untuk mengetahui perkembangan sektor ekonomi secara riil. Karena pada penghitungan ini tidak terkandung perubahan harga barang, melainkan hanya perubahan indikator produksinya saja. Untuk itu diperlukan penetapan tahun dasar secara nasional sebagai acuan perbandingannya. BPS telah menetapkan tahun 2000 sebagai tahun dasarnya.

Sedangkan tahun dasar sebelumnya adalah tahun 1993. Untuk menghitung nilai tambah sektoral atas dasar harga konstan dikenal empat penghitungan yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut:

1.5.1. Revaluasi

Metode revaluasi dilakukan dengan cara menilai produksi dan biaya antara masing-masing tahun dengan harga tahun dasar 2000 dan hasilnya merupakan output dan biaya antara atas dasar harga konstan 2000. Selanjutnya nilai tambah bruto atas dasar harga konstan diperoleh dari hasil selisih antara output dan biaya antara hasil penghitungan di atas.

Metode ini sangat sulit dilakukan terhadap biaya antara yang digunakan, karena mencakup komponen input yang terlalu banyak dan juga data harga kurang tersedia. Karena itu biaya antara atas dasar harga konstan diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga konstan masing-masing tahun dengan rasio tetap biaya antara terhadap output pada tahun dasar.

1.5.2. Ekstrapolasi

(12)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 11 Dengan metode ekstrapolasi nilai tambah masing-masing tahun atas dasar harga konstan tahun 2000 diperoleh dengan cara mengalikan nilai tambah pada tahun dasar 2000 dengan indeks produksi sebagai ekstrapolator dapat merupakan indeks dari masing-masing produksi yang dihasilkan ataupun indeks dari indikator produksi seperti tenaga kerja, jumlah perusahaan dan lainnya yang dianggap cocok dengan jenis kegiatan yang dihitung.

Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap penghitungan output atas dasar harga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan.

1.5.3. Deflasi

Untuk memperoleh nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 dapat dilakukan dengan metode deflasi yaitu dengan cara membagi nilai tambah atas dasar harga berlaku masing-masing tahun dengan indeks harga. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator biasanya merupakan Indeks Harga Konsumen, Indeks Harga Perdagangan Besar dan sebagainya.

Indeks harga di atas dapat pula dipakai sebagai inflator dalam keadaan dimana nilai tambah atas dasar harga yang berlaku justru diperoleh dengan mengalikan nilai tambah atas dasar harga konstan dengan indeks harga tersebut.

1.5.4. Deflasi Berganda

Yang dideflasi dalam deflasi berganda ini adalah output dan biaya antaranya, sedangkan nilai tambah diperoleh dari selisih antara output dan biaya antara hasil deflasi tersebut. Indeks harga yang digunakan sebagai deflator untuk penghitungan output atas dasar harga konstan biasanya merupakan Indeks Harga Produsen atau Indeks Perdagangan Besar sesuai

(13)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 12 dengan cakupan komoditasnya, sedangkan indeks harga untuk biaya antara adalah indeks harga dari komponen input terbesar.

Metode ini tidak banyak digunakan dalam perhitungan karena kenyataannya sangat sulit melakukan deflasi terhadap biaya antara, disamping karena komponennya terlalu banyak juga karena indeks harganya belum tersedia secara baik. Penghitungan komponen penggunaan Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan juga dilakukan dengan menggunakan cara-cara di atas, tetapi mengingat data yang tersedia kurang lengkap maka cara deflasi dan ekstrapolasi lebih banyak dipakai.

1.6. Penyajian Agregat PDRB

Pada publikasi ini penyajian angka agregat pendapatan selalu dilakukan dalam dua bentuk yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan suatu tahun dasar, yang masing-masing dapat dibedakan berikut ini:

a. Untuk penyajian atas dasar harga berlaku, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang berlaku pada masing-masing tahun, baik pada saat menilai produksi, biaya antara maupun pada penilaian komponen nilai tambah dan komponen penggunaan Produk Domestik Regional Bruto.

b. Penyajian atas dasar harga konstan suatu tahun dasar, semua agregat pendapatan dinilai atas dasar harga yang tetap yang terjadi pada tahun dasar. Karena menggunakan harga konstan, maka perkembangan agregat pandapatan dari tahun ke tahun semata-mata karena perkembangan satuan output (riil) dan bukan karena harga. Saat ini tahun dasar yang dipakai adalah tahun 2000.

Dalam penyajian statistik PDRB dikenal tiga macam indeks untuk menggambarkan perubahan agregat-agregat pendapatan ini, yaitu indeks perkembangan, indeks berantai dan indeks implisit yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

(14)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 13 a. Indeks perkembangan, diperoleh dengan membagi nilai-nilai pada masing-

masing tahun dengan nilai pada tahun dasar, dikalikan 100. Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan agregat pendapatan dari tahun ke tahun terhadap tahun dasar.

b. Indeks berantai, diperoleh dengan membagi nilai-nilai pada masing-masing tahun dengan nilai pada tahun sebelumnya, dikalikan 100. Jadi angka tahun sebelumnya selalu dianggap 100. Indeks ini menunjukkan tingkat pertumbuhan agregat pendapatan untuk masing-masing tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

c. Indeks implisit, diperoleh dengan membagi nilai atas dasar harga berlaku dengan nilai atas dasar harga konstan untuk masing-masing tahunnya, dikalikan dengan 100. Indeks ini menunjukkan tingkat perkembangan harga dari agregat pendapatan terhadap harga pada tahun dasar. Selanjutnya bila dari indeks implisit ini dibuat indeks berantainya, akan terlihat tingkat perkembangan harga barang dan jasa setiap tahun terhadap tahun sebelumnya.

1.7. Perubahan Tahun Dasar

Seperti telah disebutkan di awal, Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) disajikan dalam versi PDRB atas dasar harga berlaku, yaitu apabila semua produksi barang dan jasa yang dihasilkan dinilai berdasarkan harga pasar pada tahun yang bersangkutan, dan PDRB atas dasar harga konstan, yaitu apabila semua produksi barang dan jasa yang dihasilkan dinilai dengan harga pada tahun tertentu yang dipilih sebagai tahun dasar.

Pada prakteknya penggunaan tahun dasar sebagai dasar penghitungan PDRB atas dasar harga konstan selalu mengalami pemutakhiran. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menjaga agar nilai PDRB atas dasar harga konstan yang dihasilkan dapat tetap menggambarkan kondisi perekonomian suatu daerah secara realistis.

(15)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 14 Penggunaan tahun dasar dalam penghitungan PDRB secara Nasional telah mengalami perubahan empat kali, yaitu tahun 1960, 1973, 1983, dan tahun 1993. Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir harga yang digunakan untuk menghitung PDRB atas dasar harga konstan adalah harga pada tahun 1993. Namun demikian, perubahan struktur ekonomi akibat perkembangan global yang demikian pesat selama satu dasawarsa terakhir telah membuat pertumbuhan ekonomi yang dihitung dengan harga tahun 1993 menjadi lebih rendah, sehingga tidak lagi dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

Oleh karena itu, BPS terdorong untuk mengganti tahun 1993 dengan tahun 2000 sebagai tahun dasar penghitungan karena situasi perekonomian dan alasan teknis berikut:

a. Perubahan struktur ekonomi yang relatif cepat serta perubahan komposisi harga antara sektor primer, sekunder dan tersier mengakibatkan pengukuran pertumbuhan ekonomi berdasarkan PDRB tahun dasar 1993 menjadi terlalu rendah.

b. Struktur ekonomi tahun 1993 belum tersentuh dampak deregulasi dan debirokratisasi. Sektor pertanian dan pertambangan sangat dominan, sementara sektor industri relatif masih kecil peranannya. Sejak tahun 1991 peranan sektor industri sudah melampaui peranan sektor pertanian.

c. Saat ini, tenggang waktu dari tahun 1993 sudah terlalu jauh sehingga apabila mengukur pertumbuhan berdasar pada tahun 1993 menjadi tidak realistis. Perkembangan ekonomi dunia dalam kurun waktu 1993-2000 yang diwarnai oleh globalisasi telah mempengaruhi perekonomian domestik.

d. Pada pertengahan tahun 1997 krisis ekonomi juga merubah struktur perekonomian Nasional.

e. Perekonomian Indonesia selama tahun 2000 relatif stabil dengan laju pertumbuhan PDB sebesar 4,92 persen dan inflasi pada posisi 9,35 persen.

Sejak tahun 2000 hingga 2003 pertumbuhan ekonomi secara agregat terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal itu bisa bermakna sebagai awal berjalannya proses pemulihan ekonomi setelah krisis yang membuat PDB

(16)

PDRB Aceh TamiangTahun 2007 - 2010 15 merosot sampai minus 13,13 persen di tahun 1998 dengan inflasi hingga mencapai 77,63 persen.

f. BPS telah menyusun Tabel Input-Output Indonesia 2000. Tabel I-O tersebut secara baku dipakai sebagai basis penghitungan series PDB baik sektoral maupun penggunaan. Besaran PDB yang diturunkan dari Tabel I-O telah mengalami uji konsistensi pada tingkat sektoral dengan mempertimbangkan kelayakan struktur permintaan maupun penawaran.

g. Dalam waktu dekat, penyusunan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) maupun Indeks Harga Konsumen (IHK) akan menggunakan tahun 2000 sebagai tahun dasar. Penyempurnaan metodologi dan cakupan komoditi akan menghasilkan series IHPB dan IHK yang lebih akurat sebagai deflator dalam penghitungan PDB.

h. Ketersediaan data dasar sektor ekonomi baik harga maupun volume secara rinci tahun 2000, relatif lebih lengkap dan berkelanjutan dibandingkan tahun 1993. Hal itu dimungkinkan karena berbagai departemen/kementerian maupun instansi pemerintah lainnya ikut membangun statistik bagi keperluan perencanaan sektoral masing-masing. Dengan dukungan data-data yang lebih lengkap dan terperinci serta konsisten, diharapkan estimasi PDB dengan tahun dasar 2000 dapat disusun lebih akurat dan konsisten.

i. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) sebagaimana tertuang dalam buku panduan “Sistem Neraca Nasional” yang terbaru merekomendasikan bahwa estimasi PDB atas dasar harga konstan sebaiknya dimutakhirkan secara periodik dengan menggunakan tahun referensi yang berakhiran 0 dan 5. Hal ini juga sudah didukung oleh komitmen pimpinan kantor statistik negara Asean pada tahun 2000 dengan maksud agar besaran angka-angka PDB dapat saling diperbandingkan antar negara dan antar waktu guna keperluan analisis kinerja perekonomian dunia.

Dengan demikian, pemutakhiran tahun dasar penghitungan PDRB dari tahun 1993 ke tahun 2000 menjadi perlu dilakukan agar hasil estimasi PDRB sektoral maupun penggunaan menjadi lebih realistis.

(17)

TINJAUAN

PEREKONOMIAN KABUPATEN

ACEH TAMIANG

TAHUN 2010

(18)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 17

BAB II

TINJAUAN PEREKONOMIAN

KABUPATEN ACEH TAMIANG TAHUN 2010

2.1. Struktur Ekonomi

Aktifitas produksi dapat dibedakan dalam tiga kelompok kegiatan yaitu primer, sekunder, dan tersier. Kegiatan primer berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam, terdiri dari sektor pertanian (tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan) dan sektor pertambangan /penggalian.

Selama periode 2007-2010 dapat dikatakan bahwa setengah dari PDRB Kabupaten Aceh Tamiang berasal dari kegiatan sektor primer, yakni sekitar 52,91 sampai dengan 59,76 persen. Sektor ini cenderung terus menurun dari tahun 2007 sebesar 59,76 persen hingga menjadi 53,58 persen pada tahun 2009. Dan peranan sektor primer kembali menurun pada tahun 2010 yaitu menjadi 52,91 persen.

Gambar 2.1

Peranan Kegiatan Ekonomi Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 (persen)

2007 2008 2009 2010

59.76 58.1 53.58 52.91

14.71 15.14 16.94 17.28

25.53 26.76 29.48 29.81

Primer Sekunder Tersier

(19)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 18 Sektor sekunder memanfaatkan hasil sumber daya alam untuk diolah lebih lanjut, yakni terdiri dari sektor industri pengolahan, energi (listrik dan air) dan konstruksi. Sumbangan sektor ini terhadap PDRB Kabupaten Aceh Tamiang berkisar antara 14,71 sampai dengan 17,28 persen.

Kegiatan sektor tersier memfasilitasi pergerakan sektor primer dan sektor sekunder, terdiri dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran; sektor pengangkutan dan telekomunikasi; sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; serta sektor jasa-jasa. Selama periode 2007-2010 dapat dikatakan bahwa sumbangan sektor tersier ini cenderung meningkat dari 25,53 persen sampai dengan 29,81 persen.

Secara umum masing-masing lapangan usaha memiliki perannya dalam pembentukan nilai tambah PDRB suatu daerah. Untuk Kabupaten Aceh Tamiang peranan sektor ekonomi menurut lapangan usaha masih cenderung sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Dari sembilan sektor yang ada, terdapat tiga sektor yang mampu memberikan kontribusinya di atas 8 persen dalam pembentukan nilai tambah PDRB.

Sektor pertanian masih mendominasi dalam pembentukan nilai tambah PDRB Aceh Tamiang. Tahun 2010 kontribusi yang diberikan sektor pertanian tercatat sebesar 42,33 persen mengalami sedikit penurunan dari tahun 2009 yang tercatat sekitar 43,86 persen. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) yang menyumbang kontribusi sebesar 19,83 persen. Besarnya kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan PDRB tahun 2010 dikarenakan Kabupaten Aceh Tamiang tercatat sebagai penghasil padi dan tanaman jagung terbesar di Aceh. Selain itu daerah Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu sentral perkebunan di Aceh yang dimotori oleh perkebunan kelapa sawit dan perkebunan karet.

Sub sektor tanaman perkebunan pada tahun 2010 mampu memberikan kontribusinya sebesar 13,23 persen.

(20)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 19 Sektor yang memberikan sumbangan terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Tahun 2010 sektor ini memberikan kontribusinya dalam pembentukan PDRB sebesar 15,43 persen. Kontribusi ini sedikit menurun dibandingkan kontribusi tahun 2009 yaitu sebesar 15,65 persen. Adapun sub sektor yang paling tinggi memberikan kontribusinya adalah perdagangan besar dan eceran yaitu sebesar 14,82 persen pada tahun 2010 sementara kontribusi tahun sebelumnya tercatat sebesar 15,03 persen pada tahun 2009.

Sektor yang memberikan kontribusi terbesar ketiga pada tahun 2010 adalah sektor pertambangan dan penggalian yaitu sebesar 10,59 persen.

Apabila kita lihat lebih lanjut kontribusi sektor pertambangan dan penggalian tahun 2010 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2009 yang sebesar 9,72 persen.

Selanjutnya, sektor industri pengolahan non-migas memberikan kontribusi dalam pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 8,63 persen pada tahun 2010. Masih seperti tahun yang lalu, sub sektor yang perlu mendapatkan perhatian dalam perekonomian adalah sub sektor industri pengolahan makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbangkan hanya 5,93 persen serta sub sektor industri pengolahan barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 1,88 persen.

Pesatnya pembangunan fisik yang dilakukan oleh pemerintahan dan masyarakat dalam penyediaan dan perbaikan sarana dan prasarana fisik di Kabupaten Aceh Tamiang menempatkan sektor bangunan (construction) sebagai sektor yang memberikan sumbangan terbesar ke-lima dalam PDRB Kabupaten Aceh Tamiang. Tahun 2010 sektor ini mampu memberikan kontribusinya sebesar 7,94 persen naik dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 7,15 persen pada tahun 2009.

(21)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 20 Tabel 2.1

Peranan Kegiatan Ekonomi dalam PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 - 2010 (persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

Primer 59.76 58.10 53.58 5.91

1. Pertanian 43.88 42.38 43.86 42.33

2. Pertambangan & Penggalian 15.88 15.72 9.72 10.59

Sekunder 14.71 15.14 16.94 17.28

3. Industri Pengolahan 9.71 9.12 9.22 8.63 4. Listrik & Air Bersih 0.36 0.43 0.57 0.72

5. Bangunan 4.63 5.59 7.15 7.94

Tersier 25.53 26.76 29.48 29.81

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 13.54 14.32 15.65 15.43 7. Angkutan & Komunikasi 3.21 3.68 4.42 4.78 8. Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan 1.73 1.77 1.94 1.92

9. Jasa-Jasa 7.05 6.98 7.47 7.68

PDRB Dengan Migas 100.00 100.00 100.00 100.00 PDRB Tanpa Migas 84.96 85.12 91.19 90.31

Sektor jasa-jasa memberikan kontribusi sebesar 7,68 persen.

Penyumbang kontribusi terbesar adalah sub sektor administrasi pemerintahan dan pertahanan sebesar 7,15 persen. Berikutnya sektor pengangkutan dan komunikasi berperan sebesar 4,78 persen.

Selanjutnya sektor yang relatif kecil sumbangannya pada tahun 2010 adalah sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar 1,92 persen

(22)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 21 dan terakhir sektor listrik, gas dan air bersih sebagai pemberi kontribusi terkecil dalam pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2010 yaitu sebesar 0,72 persen.

Sumbangan sektor ekonomi tanpa migas tahun 2010 sebesar 90,31 persen. Persentase ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 91,19 persen.

Secara keseluruhan, struktur perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang selama periode 2007 - 2010 dapat dilihat pada Tabel 2.1 dan Gambar 2.2

Gambar 2.2

Struktur Perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 (Persen)

Pertanian 42.33 Pertambangan &

Penggalian 10.59

0%

Industri Pengolahan

8.63

Listrik & Air Bersih

0.72

Bangunan

7.94 Perdagangan, Ho tel & Restauran

15.43

Angkutan &

Komunikasi 4.78 Keuangan, Perse

waan & Jasa Perusahaan

1.92

Jasa-jasa 7.68

(23)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 22 2.2. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah merupakan salah satu ukuran kinerja pembangunan daerah khususnya di bidang perekonomian. Pertumbuhan ekonomi ini dapat dilihat dari laju pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan 2000, yaitu dengan menghilangkan faktor perubahan harga (inflasi) dan menggunakan faktor pengali harga konstan (at constant price inflation factor), digunakan harga dasar tahun 2000, sehingga diperoleh gambaran peningkatan produksi secara makro.

Dari tahun ke tahun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Aceh Tamiang terus memperlihatkan suatu perkembangan yang fluktuatif.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Tamiang dengan migas tahun 2007 sebesar -0,64 persen dan mulai meningkat pada tahun 2008 menjadi 2,74 persen dan kembali mengalami sedikit penurunan menjadi 2,17 persen pada tahun 2009. Dan kembali meningkat pada tahun 2010 menjadi sebesar 3,02 persen. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Aceh Tamiang tentu tidak terlepas dari peran para pelaku ekonomi, masyarakat dan pemerintah dengan berbagai kebijakan ekonomi nya yang produktif. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi tanpa migas pada tahun 2010 sebesar 3,15 persen. Dari tahun 2008 hingga tahun 2009 pertumbuhan PDRB tanpa migas berturut-turut : 2,69 persen pada tahun 2008 dan 2,71 persen pada tahun 2009.

Dilihat dari sektor-sektornya, pada tahun 2010 sebagian besar sektor mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi dialami oleh sektor jasa- jasa yaitu sebesar 11,76 persen. Sektor lainnya masing-masing tumbuh sebagai berikut: sektor bangunan sebesar 8,01 persen; sektor perdagangan, hotel dan restauran sebesar 4,81 persen; sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 3,64 persen; sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 2,87 persen; sektor angkutan dan komunikasi sebesar 2,70 persen; sektor pertambangan dan penggalian sebesar 1,79 persen; sektor industri pengolahan 0,99 persen dan yang paling kecil pertumbuhannnya adalah sektor pertanian

(24)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 23 sebesar 0,32 persen. Jika kita lihat lebih lanjut, maka sektor dengan peningkatan laju pertumbuhan yang sangat signifikan ditunjukkan oleh sektor pertambangan dan penggalian. Pada tahun 2009 laju pertumbuhan untuk sektor ini sebesar -1,55 persen sementara pada tahun 2010 sudah meningkat ke arah positif. Salah satu penyebab meningkatnya pertumbuhan sektor pertambangan pada tahun 2010 adalah mulai dieksploasi kembali pertambangan minyak yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang.

Tabel 2.2

Laju Pertumbuhan Riil Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Pertanian 0.34 0.06 0.18 0.32

2. Pertambangan & Penggalian -14.45 2.93 -1.55 1.79

3. Industri Pengolahan 1.15 0.23 2.34 0.99

4. Listrik, Gas & Air Bersih 2.49 3.18 2.03 2.87

5. Bangunan 7.52 14.96 6.07 8.01

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 4.85 6.03 4.38 4.81 7. Angkutan & Komunikasi 1.91 3.53 2.62 2.70 8. Keuangan, Persewaan & Jasa

Perusahaan 1.72 3.59 3.70 3.64

9. Jasa-Jasa 0.94 6.42 8.95 11.76

PDRB Dengan Migas -0.64 2.74 2.17 3.02

PDRB Tanpa Migas 1.66 2.69 2.71 3.15

(25)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 24 Grafik 2.3

Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2010 (persen)

2.3. Pendapatan Per Kapita

Dampak kebijaksanaan pembangunan suatu daerah terlihat dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Tingginya PDRB suatu daerah belum tentu mencerminkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, karena juga sangat tergantung kepada perkembangan jumlah penduduk. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah PDRB perkapita dan pendapatan regional perkapita, yang menggambarkan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama setahun. Jika pertumbuhan PDRB lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk pertengahan pada tahun yang sama, maka PDRB perkapitanya akan semakin besar berarti tingkat kesejahteraan masyarakatnya makin lebih baik dan begitu juga sebaliknya.

-0.64

2.74

2.17

3.02

1.66

2.69 2.71

3.15

-1 -0.5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

2007 2008 2009 2010

PDRB Dengan Migas PDRB Tanpa Migas

(26)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 25 Produk Domestik Regional Bruto per kapita merupakan hasil bagi antara PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan Pendapatan Regional per kapita diperoleh dari hasil bagi antara Produk Domestik Regional Neto (PDRN) atas biaya faktor produksi (PDRB yang telah dikurangi penyusutan dan pajak tak langsung) dengan penduduk pertengahan tahun.

Tabel 2.3

PDRB dan Pendapatan Regional per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Aceh Tamiang Tahun 2007 – 2010 (Rupiah)

URAIAN Atas Dasar Harga Berlaku

2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

Dengan Migas

PDRB per kapita (Rp) 7,835,021.56 8,483,541.60 8,562,496.47 9,254,818.51 Pendapatan per kapita (Rp) 7,348,033.74 7,956,244.85 8,030,292.26 8,679,582.84

Tanpa Migas

PDRB per kapita (Rp) 6,656,371.11 7,221,383.06 7,807,832.77 8,357,788.65 Pendapatan per kapita (Rp) 6,242,642.62 6,772,536.10 7,322,526.44 7,838,308.10

PDRB per kapita atas dasar harga berlaku (dengan migas) pada tahun 2007 sebesar 7.835.021,56 rupiah; tahun 2008 sebesar Rp 8.483.541,60 rupiah;

tahun 2009 sebesar 8.562.496,47 rupiah; dan tahun 2010 sebesar 9.254.818,51 rupiah. Terjadi kenaikan PDRB per kapita sebesar 8,09 persen pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

(27)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 26 Pendapatan regional per kapita atas dasar harga berlaku (dengan migas) pada tahun 2007 sebesar 7.348.033,74 rupiah; tahun 2008 sebesar 7.956.244,85 rupiah; tahun 2009 sebesar 8.030.292,26 rupiah; dan tahun 2010 sebesar 8.679.582,84 rupiah. Pendapatan regional per kapita Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2010 juga mengalami kenaikan sebesar 8,09 persen dari tahun sebelumnya sebagaimana PDRB per kapitanya.

PDRB per kapita tanpa migas pada tahun 2008 sebesar 7.221.383,06 rupiah, pada tahun 2009 sebesar 7.807.823,77 sedangkan tahun 2010 sebesar 8.357.788,65 rupiah. Terdapat kenaikan PDRB per kapita tanpa migas sebesar 7,04 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan untuk pendapatan regional per kapita tanpa migas pada tahun 2009 sebesar 7.322.526,44 rupiah dan pada tahun 2010 sebesar 7.838.308,10 rupiah.

Dengan meningkatnya PDRB perkapita maupun pendapatan regional perkapita pada tahun 2010 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, secara umum mencerminkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk Kabupaten Aceh Tamiang mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.

Cukup tingginya PDRB perkapita dan pendapatan regional perkapita pada tiga tahun terakhir ini ada kemungkinan disebabkan oleh peningkatan produktifitas sektor-sektor lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang, dan tidak tertutup juga kemungkinan sebagai akibat cukup tingginya inflasi yang terjadi di Indonesia, baik secara langsung atau tidak langsung akan berdampak ke Kabupaten Aceh Tamiang.

(28)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 27 Gambar 2.4

PDRB per kapita Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (Juta Rupiah)

Gambar 2.5

Pendapatan per kapita Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007-2010 (Juta Rupiah)

2007 2008 2009 2010

7.83

8,48 8.56

9.25

6.66 7,22

7.81 8.36

Dengan Migas Tanpa Migas

2007 2008 2009 2010

7.35 7.96 8.03 8.68

6.24 6.77 7.32 7.84

Dengan Migas Tanpa Migas

(29)

PERANAN PDRB

MENURUT LAPANGAN

USAHA

(30)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 29

BAB III

PERANAN PDRB MENURUT LAPANGAN USAHA

Struktur perekomian suatu daerah dapat dilihat dari komposisi masing- masing sektor perekonomian terhadap pembentukan PDRB daerah tersebut.Dengan melihat struktur perekonomian suatu daerah dapat diketahui sektor mana yang dapat dijadikan sebagai sektor andalan di daerah tersebut.

Apabila dilakukan kajian lebih mendalam tentang struktur perekonomian daerah akan dapat diketahui sektor mana yang memiliki efek multiplier yang tinggi, yang akan memberikan dampak keterkaitan ke depan (forward linkage) maupun keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang tinggi sehingga kebijakan pembangunan yang dilakukan dapat diprioritaskan sesuai potensi daerah tersebut. Pembangunan daerah yang disesuaikan dengan potensi daerah akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.

PDRB menurut lapangan usaha dibagi menjadi 9 sektor, dan masing- masing sektor dirinci menjadi sub sektor. Pemecahan menjadi sub sektor ini disesuaikan dengan Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2005. Secara lengkap tinjauan PDRB sektoral Kabupaten Aceh Tamiang selama kurun waktu 2007 hingga 2010 adalah sebagai berikut:

3.1. Sektor Pertanian

Sektor ini mencakup sub sektor tanaman bahan makanan (tabama), tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya, kehutanan, serta perikanan. Sektor pertanian merupakan sektor unggulan perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang. Kontribusi sektor ini setiap tahunnyaberfluktuatif.

Pada tahun 2007, kontribusi sektor ini terhadap PDRB Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 43,88 persen. Pada tahun selanjutnya kontribusinya mengalami penurunan menjadi 42,38 persen. Dan pada tahun 2009sedikit

(31)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 30 meningkatmenjadi 43,86 persen dan menurun kembali menjadi 43,23 persen pada tahun 2010. Menurunnya nilai kontribusi sektor pertanian menunjukkan adanya peningkatan kontribusi terhadap PDRB pada sektor-sektor yang lainnya.

Kontribusi tertinggi diberikan oleh sub sektor tanaman bahan makanan sebesar 19,83 persen. Kontribusi sub sektor lainnya secara berurutan adalah sub sektor perkebunan sebesar 13,23 persen, sub sektor peternakan sebesar 4,08 persen, sub sektor perikanan sebesar 3,77 persen, dan terakhir sub sektor kehutanan sebesar 1,42 persen.

Sedangkan jika dilihat dari laju pertumbuhannya, selama kurun waktu 2007-2010 sektor petanian belum dapat menunjukkan kinerja yang menggembirakan dengan pertumbuhan sekitar 2 persen ke bawah. Pada tahun 2010, sub sektor peternakan merupakan sub sektor dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi yaitu sebesar 2,02 persen. Namun sub sektor yang paling kecil pertumbuhannya adalah sub sektor perkebunan sebesar 0,27 persen. Jika dilihat lebih lanjut, pertumbuhan sub sektor kehutanan semakin mengalami perlambatan.Hal ini disebabkan hasil kayu yang semakin berkurang.

Tabel 3.1

Distribusi Persentase PDRB Sektor Pertanian Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Pertanian 43.88 42.38 43.86 42.33

a. Tanaman Bahan Makanan 21.51 20.38 20.71 19.83 b. Tanaman Perkebunan 13.19 13.03 13.68 13.23

c. Peternakan 3.83 3.83 4.14 4.08

d. Kehutanan 1.82 1.60 1.54 1.42

e. Perikanan 3.54 3.55 3.80 3.77

(32)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 31 Tabel 3.2

Laju Pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian

Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

1. Pertanian 0.34 0.06 0.18 0.32

a. Tanaman Bahan Makanan 0.21 0.22 0.61 1.12

b. Tanaman Perkebunan 0.20 0.21 0.37 0.27

c. Peternakan 0.21 0.53 1.08 2.02

d. Kehutanan 1.10 -6.41 -12.47 -20.02

e. Perikanan 1.26 0.85 0.99 1.04

3.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian

Sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor ketiga terbesar dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Aceh Tamiang.

Selama kurun waktu 2007 hingga 2010 kontribusi yang diberikan sektor ini cenderung berfluktuatif terutama sub sektor minyak dan gas bumi. Pada tahun 2010, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian meningkat. Hal ini dikarenakan pertambangan minyak mulai dieksplorasi lagi di beberapa daerah di Kabupaten Aceh Tamiang.

Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2007 sebesar 15,88 persen; pada tahun 2008 sebesar 15,72 persen; pada tahun 2009 sebesar 9,72 persen dan pada tahun 2010 sebesar 10,59 persen. Begitu juga dengan sub sektor penggalian yang terus mengalami peningkatan kontribusi. Pada tahun 2010, sub sektor penggalian memberikan kontribusi yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu sebesar 0,90 persen.

(33)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 32 Pada tahun 2007 sektor pertambangan dan penggalian mencatat pertumbuhan sebesar -14,45 persen dan pada tahun 2008mengalami percepatan sebesar 2,93 persen. Pada tahun 2009 sedikit kembali mengalami perlambatan sebesar -1,55 persen dan pada tahun 2010 kembali meningkat menjadi 1,79 persen.

Gambar 3.1

Distribusi Persentase Sektor Pertambangan dan Penggalian Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010 (Persen)

3.3. Sektor Industri Pengolahan

Kontribusi sektor industri pengolahan selama empat tahun terakhir cenderung menurun. Pada tahun 2010 sektor industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar keempat terhadap PDRB Kabupaten Aceh Tamiang yaitu sebesar 8,63 persen yang berasal dari kontribusi sub sektor industri non migas terutama makanan, minuman dan tembakau yang mencapai 5,93 persen dan sub sektor barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 1,88 persen.

15.88 15.72

9.72

10.59

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00

2007 2008 2009 2010

(34)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 33 Tabel 3.3

Distribusi Persentase Sektor Industri Pengolahan Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

3. Industri Pengolahan 9.71 9.12 9.22 8.63

a. Industri Migas 0.00 0.00 0.00 0.00

b. Industri Tanpa Migas 9.71 9.12 9.22 8.63

 Makanan,

Minuman,Tembakau 6.76 6.29 6.41 5.93

 Barang Kayu & Hasil Hutan 2.16 2.01 1.99 1.88

 Kertas & Barang Cetakan 0.09 0.09 0.09 0.09

 Pupuk, Kimia & Brg dari Karet 0.70 0.72 0.72 0.71

 Logam Dasar Beji & Baja 0.01 0.01 0.01 0.01

Sedikit berbeda dengan kontribusinya, pertumbuhan sektor industri pengolahan berfluktuatif setiap tahun. Pada tahun 2007, sektor ini hanya mampu tumbuh sebesar 1,15 persen, di tahun 2008menurun menjadi 0,23 persen. Di tahun berikutnya, pertumbuhan sektor ini kembali meningkat menjadi 2,34 persen dan di tahun 2010 pertumbuhannya kembali menurunmenjadi0,99 persen.

(35)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 34 Tabel 3.4

Laju Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan

Atas Dasar Harga Konstan 2000Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Lapangan Usaha 2007 2008 2009 2010

(1) (2) (3) (4) (5)

3. Industri Pengolahan 1.15 0.23 2.34 0.99

a. Industri Migas 0.00 0.00 0.00 0.00

b. Industri Tanpa Migas 1.15 0.23 2.34 0.99

 Makanan,

Minuman,Tembakau 0.24 0.36 3.78 0.67

 Barang Kayu & Hasil Hutan 2.67 -2.22 -0.98 0.53

 Kertas & Barang Cetakan 5.82 6.66 1.98 5.59

 Pupuk, Kimia & Brg dari Karet 3.07 6.66 1.63 4.32

 Logam Dasar Beji & Baja 0.44 0.48 0.50 0.46 Gambar 3.2

Laju Pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan Tahun 2007 - 2010 (Persen)

1.15

0.23

2.34

0.99

0 0.5 1 1.5 2 2.5

2007 2008 2009 2010

(36)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 35 3.4. Sektor Listrik, Gas dan Air Minum

Selain sebagai sektor penunjang kegiatan ekonomi dan infrastruktur yang mendorong aktivitas produksi, sektor listrik, gas dan air minum juga berperan memenuhi kebutuhan masyarakat. Sektor ini merupakan sektor penopang yang berkaitan langsung dengan proses produksi maupun pemenuhan kebutuhan masyarakat. Produksi listrik sebagian besar dihasilkan oleh PLN (Perusahaan Listrik Negara).Sedangkan air bersih dihasilkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Sumbangan nilai tambah sektor ini dalam pembentukan nilai tambah perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang secara keseluruhan termasuk yang paling rendah dibandingkan dengan sektor yang lain.Namun, kebutuhan akan sektor ini dalam pembentukan PDRB sangat penting sebagai penunjang kegiatan bagi sektor-sektor lainnya. Selama kurun waktu 2007 hingga 2010 sektor ini memberikan sumbangan antara 0,36 sampai 0,72 persen. Pada tahun 2007 sumbangan sektor ini sebesar 0,36 persen, kemudian pada tahun 2008 meningkat lagi menjadi 0,43 persen dan pada tahun 2009 sebesar 0,57 persen.

Pada tahun 2010 kontribusi sektor ini dalam pembentukan PDRB sebesar 0,72 persen.

Sebagian besar kontribusi yang diberikan sektor ini berasal dari sub sektor listrik dan hanya sebagian kecil saja dari sub sektor air bersih. Adapun sub sektor gas tidak terdapat di wilayah Aceh Tamiang, sehingga nilainya nol.

Laju pertumbuhan sektor listrik dan air bersih cenderung berfluktuatif.

Pada tahun 2007, sektor ini hanya mampu tumbuh laju sebesar 2,49 persen, kemudian meningkatpada tahun 2008yaitu sebesar 3,18 persen. Pada tahun 2009, laju pertumbuhan sektor ini menurun menjadi 2,03 persen, akan tetapi laju pertumbuhan pada tahun 2010 sedikit meningkat kembali menjadi 2,87 persen.

Adapun laju pertumbuhan untuk sub sektor listrik pada tahun 2010 sebesar 3,18 persen dan sub sektor air bersih tumbuh sebesar 0,14 persen.

(37)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 36 Tabel 3.5

Kontibusi dan Laju Pertumbuhan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Kontribusi 2007 2008 2009 2010

4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 0.36 0.43 0.57 0.72

a. Listrik 0.34 0.41 0.55 0.70

b. Gas 0.00 0.00 0.00 0.00

c. Air Bersih 0.02 0.02 0.02 0.02

Laju Pertumbuhan

4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 2.49 3.18 2.03 2.87

b. Listrik 2.81 3.52 2.13 3.18

b. Gas 0.00 0.00 0.00 0.00

c. Air Bersih -0.18 0.27 1.18 0.14

Gambar 3.3

Laju Pertumbuhan Sektor Lstrik, Gas dan Ar Bersih Tahun 2007 - 2010 (Persen)

2.49

3.18

2.03

2.87

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

2007 2008 2009 2010

(38)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 37 3.5. Sektor Bangunan

Meningkatnya situasi perekonomian secara jelas terlihat pada sektor bangunan. Kontribusinya terhadap pembentukan PDRB tahun 2010meningkat dari kontribusi tahun lalu. Pada tahun 2008, kontribusi sektor pembangunan mencapai 5,59 persen; pada tahun 2009 meningkat menjadi 7,15 persen dan pada tahun 2010 kontribusi sektor pembangunan menjadi 7,94 persen.

Laju pertumbahan sektor bangunan pada tahun 2007 sebesar 7,52 persen, pada tahun 2008 mengalami peningkatan pertumbuhan menjadi14,96 persen. Pada tahun 2009, mengalami pertumbuhan yang sedikit menurun menjadi 6,07 persen dan tahun 2010 kembali mengalamipeningkatan pertumbuhan menjadi 8,01 persen.

Gambar 3.4

Laju Pertumbuhan Sektor Bangunan Tahun 2007 - 2010 (Persen)

7.52

14.96

6.07

8.01

0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00

2007 2008 2009 2010

(39)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 38 3.6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran

Peranan sektor ini berpengaruh langsung dalam mempercepat kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa. Kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2010 menempati urutan kedua yang memberikan kontribusi paling besar diantara sektor-sektor lainnya.

Selama periode 2007-2010 kontribusinya cenderung terus meningkat.

Pada tahun 2007 mampu memberikan kontribusi sebesar 13,54 persen dan terus meningkat hingga tahun 2010 menjadi 15,43 persen. Kontribusi terbesar sektor ini disumbang oleh sub sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 14,82 persen. Kemudian sub sektor restoran sebesar 0,60 persen dan terakhir disumbang oleh sub sektor hotel sebesar 0,01 persen. Sedikitnya sumbangan sektor hotel disebabkan karena fasilitas perhotelan yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang belum lengkap dan masih sedikitnya jumlah hotel yang ada di Aceh Tamiang.

Sektor perdagangan, hotel dan restauran mampu tumbuh sebesar 4,81 persen. Dilihat dari sub sektor yang membentuk laju pertumbuhan sektor ini, sub sektor perdagangan besar dan eceran mampu tumbuh sebesar 4,94 persen, sub sektor restoran tumbuh sebesar 1,88 persen dan terakhir sub sektor hotel tumbuh sebesar 1,18 persen.

(40)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 39 Tabel 3.6

Kontibusi dan Laju Pertumbuhan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Kontribusi 2007 2008 2009 2010

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 13.54 14.32 15.65 15.43 a. Perdagangan Besar & Eceran 12.89 13.70 15.03 14.82

b. Hotel 0.01 0.01 0.01 0.01

c. Restoran 0.64 0.60 0.62 0.60

Laju Pertumbuhan

6. Perdagangan, Hotel & Restoran 4.85 6.03 4.38 4.81 b. Perdagangan Besar & Eceran 4.92 6.28 4.47 4.94

b. Hotel 1.00 1.43 0.91 1.18

c. Restoran 3.41 0.59 2.18 1.88

Gambar 3.5

Peranan Sektor Perdagangan, Hotel & Restoran Tahun 2010 (Persen)

Restoran 0.60

Bukan Perdagangan, Ho

tel & Restauran 84.57 Hotel

0.01 Perdagangan

Besar & Eceran 14.82

(41)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 40 3.7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi

Sektor pengangkutan dan komunikasi memiliki peranan sebagai pendorong aktivitas di setiap sektor ekonomi. Pada era globalisasi, peranan sektor ini sangat vital dan menjadi indikator kemajuan suatu bangsa, terutama jasa telekomunikasi yang menjadikan dunia tanpa batas. Sub sektor transportasi memiliki peran sebagai jasa pelayanan bagi mobilitas perekonomian.

Selama tahun 2007 hingga tahun 2010, sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi yang semakin meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun 2007 sektor ini memberikan kontribusi sebesar 3,21 persen. Sedikit meningkat pada tahun 2008 menjadi 3,68 persen. Dan terus meningkat tiap tahunnya hingga pada tahun 2010 kontribusi yang diberikan sebesar 4,78 persen.

Sub sektor yang memberikan kontribusi paling besar adalah pengangkutan jalan raya (darat). Pada tahun 2010 kontribusi yang diberikan sub sektor angkutan jalan raya sebesar 3,80 persen dan kontribusi terbesar kedua adalah sub sektor komunikasi khususnya pos dan telekomunikasi sebesar 0,50 persen.

Pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2008 sebesar 3,53 persen dan sebesar 2,62 persen pada tahun 2009 dan sebesar 2,70 persen pada tahun 2010. Sub sektor pengangkutan juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,72 persen pada tahun 2010. Begitu juga dengan sub sektor komunikasi yang mampu tumbuh sebesar 2,59 persen pada tahun 2010.

(42)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 41 Tabel 3.7

Kontibusi dan Laju Pertumbuhan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Kontribusi 2007 2008 2009 2010

7. Pengangkutan & Komunikasi 3.21 3.68 4.42 4.78

a. Pengangkutan 2.60 3.06 3.74 4.10

b. Komunikasi 0.61 0.62 0.68 0.68

Laju Pertumbuhan

7. Pengangkutan & Komunikasi 1.91 3.53 2.62 2.70

b. Pengangkutan 1.81 3.72 2.60 2.72

b. Komunikasi 2.39 2.59 2.72 2.59

3.8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan

Secara garis besar, sektor ini terdiri dari lima kelompok kegiatan utama yaitu; (1) usaha perbankan dan otoritas moneter (bank), (2) lembaga keuangan bukan bank, (3) jasa penunjang keuangan, (4) real estate (persewaan bangunan dan tanah, serta (5) jasa perusahaan. Tiga kelompok pertama disebut sektor finansial, karena kegiatan utamanya berkaitan dengan penarikan dana dari masyarakat dan penyalurannya kembali. Fungsi sektor ini terhadap jalannya roda perekonomian sangat besar terutama dalam sisi pembiayaan pembangunan, namun kontribusi yang diberikan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang relatif masih kecil.

Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan memberikan kontribusi kedua terendah terhadap perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang.Perubahannya relatif kecil dan slalu stabil dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007, sektor ini memberikan kontribusi sebesar 1,73 persen.

Kontribusinya terus meningkat pada tahun 2008 menjadi 1,77 persen. Dan

(43)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 42 kontribusi ini terus meningkat hingga pada tahun 2009 kontribusinya sebesar 1,94 persen. Akan tetapi kontribusi sektor keuangan sedikit menurun pada tahun 2010 menjadi sebesar 1,92 persen. Sub sektor usaha perbankan dan otoritas moneter (bank) merupakan penyumbang terbesar dalam sektor ini yaitu sebesar 0,96 persen dan kemudian disusul oleh sub sektor real estate yang memberikan sumbangan sebesar 0,85 persen.

Pertumbuhan sub sektor bank pada tahun 2010 yaitu sebesar 7,03 persen. Kemudian pertumbuhan yang kedua berada pada sub sektor jasa perusahaan sebesar 2,74 persen pada tahun 2010.

Tabel 3.8

Kontibusi dan Laju Pertumbuhan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Kontribusi 2007 2008 2009 2010

8. Keuangan, Persewaan & Js Prsh 1.73 1.75 1.94 1.92

a. Bank 0.86 0.90 0.97 0.97

b. Lembaga Keuangan tanpa Bank 0.09 0.10 0.10 0.10

c. Real Estate 0.78 0.78 0.86 0.82

d. Jasa Perusahaan 0.01 0.01 0.01 0.01

Laju Pertumbuhan

8. Keuangan, Persewaan & Js Prsh 1.72 3.59 3.70 3.64

d. Bank 2.94 7.02 6.41 7.03

e. Lembaga Keuangan tanpa Bank 1.75 1.85 3.24 1.70

f. Real Estate 0.73 1.02 1.42 0.83

d. Jasa Perusahaan 2.75 3.07 3.01 2.74

(44)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 43 3.9. Sektor Jasa-jasa

Sektor jasa-jasa terdiri dari subsektor jasa pemerintahan umum dan jasa swasta.Jasa pemerintahan umum mencakup kegiatan adminitrasi pemerintahan dan pertahanan, serta jasa pemerintahan lainnya seperti jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan jasa kemasyarakatan lainnya.Sedangkan subsektor jasa swasta meliputi kegiatan jasa sosial dan kemasyarakatan; jasa hiburan dan rekreasi;

dan jasa perorangan maupun rumahtangga.

Kontribusi sektor jasa-jasa terhadap PDRB Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2007 sebesar 7,05 persen, kemudian menurun menjadi 6,98 persen pada tahun 2008. Dan sedikit meningkat menjadi 7,47persen pada tahun 2009.

Berikutnya di tahun 2010 kontribusi sektor ini kembali meningkat menjadi 7,68 persen. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh sub sektor jasa pemerintahan umum sebesar 7,15 persen. Sementara sub sektor jasa swasta hanya mampu menyumbangkan sebesar 0,53 persen pada tahun 2010.

Pertumbuhan sektor jasa-jasa pada tahun 2010sebesar 11,76 persen.

Jika dilihat dari pertumbuhan sub sektornya, pertumbuhan sub sektor jasa pemerintahan umum pada tahun 2010 mampu tumbuh mencapai 12,37 persen sementara sub sektor jasa swasta hanya mampu tumbuh sebesar 2,91 persen.

(45)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 44 Tabel 3.9

Kontibusi dan Laju Pertumbuhan Sektor Jasa-jasa Tahun 2007 - 2010 (Persen)

Kontribusi 2007 2008 2009 2010

9. Jasa-jasa 7.05 6.98 7.47 7.68

a. Pemerintahan Umum 6.49 6.44 6.91 7.15

b. Swasta 0.56 0.54 0.56 0.53

 Sosial Kemasyarakatan 0.23 0.22 0.22 0.21

 Hiburan & Rekreasi 0.06 0.06 0.06 0.06

 Perorangan & Rumahtangga 0.27 0.27 0.27 0.26 Laju Pertumbuhan

9. Jasa-jasa 0.94 6.42 8.95 11.76

a. Pemerintahan Umum 0.79 6.67 9.41 12.37

b. Swasta 2.92 3.14 2.74 2.91

 Sosial Kemasyarakatan 1.92 2.34 2.96 2.02

 Hiburan & Rekreasi 0.07 0.10 1.15 0.21

 Perorangan & Rumahtangga 4.34 4.39 2.86 4.12

(46)

LAMPIRAN-LAMPIRAN

A.RUANG LINGKUP

DAN METODE

PENGHITUNGAN

(47)

PDRB Aceh Tamiang Tahun 2007 - 2010 46

A. RUANG LINGKUP DAN METODE PERHITUNGAN

Uraian sektoral yang disajikan dalam bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, cara-cara perhitungan Nilai Tambah Bruto (NTB) baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000, serta sumber datanya.

1.1. Pertanian

Sektor ini terdiri dari sub sektor tanaman bahan makanan, sub sektor tanaman perkebunan, sub sektor peternakan dan hasilnya, sub sektor kehutanan, sub sektor perikanan dan sub sektor jasa pertanian.

Sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) ini mencakup komoditi bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, umbi- umbian, kacang tanah, kacang kedele, kacang-kacangan lainnya, sayur- sayuran, buah-buahan, padi-padian serta bahan makanan lainnya.

Sub sektor tanaman perkebunan mencakup semua jenis kegiatan tanaman perkebunan yang diusahakan baik oleh rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan. Komoditi yang dicakup meliputi antara lain kelapa, kelapa sawit, kemiri, kina, kopi, lada, pala, panili, serat karung, tebu, tembakau, teh, cengkeh, jahe, jambu mete, jarak, kakao, karet, kapas, kapok, kayu manis serta tanaman perkebunan lainnya.

Sub sektor peternakan dan hasilnya mencakup semua kegiatan pembibitan dan budidaya segala jenis ternak dan unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakkan, dibesarkan, dipotong dan diambil hasilnya, baik yang dilakukan rakyat maupun oleh perusahaan peternakan. Jenis ternak yang dicakup adalah : sapi, kerbau, kambing, babi, kuda, ayam, itik, telur ayam, telur itik, susu sapi serta hewan peliharaan lainnya.

Gambar

Tabel 1.  PDRB  KABUPATEN ACEH TAMIANGATAS DASAR HARGA BERLAKU  MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2007 - 2010 (JUTA RUPIAH)
Tabel 2.  PDRB KABUPATEN ACEH TAMIANGATAS DASAR HARGA KONSTAN2000  MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2007 - 2010 (JUTA RUPIAH)
Tabel 3.    DISTRIBUSI  PERSENTASE PDRB  KABUPATEN ACEH TAMIANGATAS DASAR HARGA BERLAKU  MENURUT LAPANGAN USAHATAHUN 2007 - 2010 (PERSEN)
Tabel 4.    DISTRIBUSI PERSENTASE PDRB  KABUPATEN ACEH TAMIANGATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000   MENURUT LAPANGAN USAHATAHUN 2007 - 2010 (PERSEN)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Analisis Pendapatan dan Nilai Tambah pada Agroindustri Keripik Ubi di Kecamatan Tanah Luas Kabupaten Aceh