1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Retardasi mental adalah kecacatan yang akan muncul sebelum usia 18 tahun ditandai dengan adanya keterlambatan signifikan dalam fungsi intelektual juga perilaku adaptif seperti dalam keterampilan penyesuaian diri, berhubungan dengan orang lain, sosial, dan praktis (Steele, 2005). Klasifikasi retardasi mental itu sendiri terdiri dari tiga kategori diantaranya retardasi mental tingkat ringan dapat dididik (IQ 52-68), retardasi mental tingkat sedang dapat dilatih (IQ 36-51) dan retardasi mental tingkat berat biasanya memerlukan bantuan total dalam perawatan diri (mandi, makan, berpakaian dan lain-lain) (Somantri, 2006).
Menurut Depdiknas (2009) penyandang retardasi mental di indonesia berjumlah 62.011 orang dimana dari jumlah tersebut 2,5 % dalam tingkat sangat berat, 2,8% dalam tingkat berat, 2,6% dalam tingkat cukup berat, dan 3,5% dalam tingkat ringan. Menurut Uswatun ( 2015) seorang anak perlu mencapai kemandirian karena kemandirian merupakan kemampuan yang sangat penting bagi seorang anak apa lagi anak tersebut anak mencapai usia remaja. Anak retardasi mental pun harus bisa mencapai tingkat kemandirian, dimana walaupun mereka memiliki keterlambatan, namun mereka tetap bisa melakukan aktivitas-aktifitas tertentu oleh diri mereka sendiri.
Kemandirian adalah perilaku mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan atau masalah, mempunyai rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain.
Keinginan seseorang untuk mengerjakan segala sesuatu untuk diri sendiri, mampu mengambil keputusan untuk mengatasi masalah yang dihadapi, memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya, dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya (Anwar, 2015). Hal ini sesuai dengan yang di katakan oleh Debor (2002) bahwa tahap kemandirian itu terdiri dari
mengatur kehidupan dan diri mereka sendiri misalnya dalam hal makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan gigi, memakai pakaian, dan lain sebagainya.
Menurut Wiyani (2013) kemandirian perlu diajarkan dan dilatih hal ini di karenakan kemandirian tidak muncul secara tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kemandirian yaitu ada faktor dari dalam dan faktor dari luar, faktor dari dalam terdiri dari fisiologi dan psikologi, sementara faktor dari luar terdiri dari lingkungan, cinta dan kasih sayang, pola asuh (dukungan keluarga), dan pengalaman dalam hidup. Menurut Alfita (2017) anak retardasi mental akan mengalami keterlambatan untuk mandiri bila tidak diberikan intervensi terus menerus untuk itu dibutuhkan dukungan keluarga untuk membuat anak mandiri.
Dukungan keluarga adalah suatu proses hubungan antara keluarga dan lingkungan sosial, tiga dimensi dukungan sosial keluarga bersifat timbal balik (sifat dan frekuensi dari hubungan timbal balik); anjurkan atau umpan balik (kulitas atau kuantitas komunikasi); dan keterlibatan emosional (derajat keakraban dan rasa percaya) dalam hubungan sosial, dukungan sosial dianggap mengurangi atau menyangga efek stres serta meningkatkan kesehatan mental individu secara langsung (Friedman, 2010). Menurut Friedman (2013) sumber dukungan keluarga terdapat berbagai macam bentuk seperti : dukungan informasi, dukungan penilaian atau penghargaan, dukungan instrumen, dukungan emosional.
Menurut Purnawan (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga diantaranya ada faktor internal dan eksternal, faktor internal diantaranya : tahap perkembangan, pendidikan atau tingkat pengetahuan, faktor emosi, spiritual sedangkan faktor eksternal diantaranya : praktik dikeluarga, sosioekonomi, latarbelakang budaya.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan (Hartono, 2017) kemandirian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pengasuhan saja melainkan faktor lain yang mempengaruhi kemandirian seperti faktor internal meliputi emosi (kemampuan anak untuk mengontrol emosinya dengan tepat) dan intelektual (kemampuan anak untuk mengatasi suatu permasalahan dengan baik); dan faktor eksternal meliputi lingkungan, karakteristrik sosial (status sosial dapat membuat tingkat
kemandirian anak berbeda), stimulasi, pola asuh (dukungan atau arahan atau bimbingan kemandirian dari orangtua dalam mengasuh anak), cinta serta kasih sayang, kualitas informasi mengenai pendidikan anak (pendidikan yang dimiliki orangtua dapat memperoses informasi pengajaran untuk meningkatkan kemandirian), status pekerjaan orang tua.
Menurut penelitian Syahda (2018) tentang Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Kemandirian Anak Retardasi Mental Di SLB Bangkinang mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kemandirian anak retardasi mental dengan nilai OR =14,0 yang berarti anak yang tidak mendapat dukungan keluarga berpeluang 14 kali untuk tidak mandiri. Menurut Swenson (2014) tanpa ada dukungan keluarga, kehidupan sebagian besar individu penyandang cacat akan berkurang dalam kenyamanan, kemandirian, peluang, dan hubungan yang saling peduli.
SLB Kecamatan Cicalengka adalah SLB yang terdiri dari SLB A YPKR Cicalengka dan SLB BCD Cicalengka. SLB tersebut salah satunya terdiri dari siswa-siswi penyandang tunagrahita, alasan penelitian di SLB Kecamatan Cicalengka karena masih jarang yang melakukan penelitian di SLB Kecamatan Cicalengka, untuk tingkat kemandiriannya juga masih belum ada data, juga masih jarang anak dengan retardasi mental usia 6-13 di sekolahkan di sekolah inklusi, Sementara itu di salah satu SLB Kota Bandung menurut Septianti (2017) bahwa hasil penelitian di SLB C kota Bandung Sumbersari kemampuan perawatan diri anak tunagrahita menunjukan dari 50 responden, 25 orang (50%) menunjukan mampu melakukan perawatan diri secara mandiri dengan baik dan responden yang kurang mandiri 25 orang (50%).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan wawancara yang dilakukan oleh peneliti pada bulan mei 2018 pada 2 sekolah yang berbeda menunjukkan 1 dari 2 sekolah terdapat perbandingan dimana 10 orang tua (ibu) anak di SLB A YPKR Cicalengka bahwa 8 orang anak masih belum bisa melakukan perawatan diri secara mandiri diantaranya masih dibantu dalam hal mandi, gosok gigi, memakai baju, memakai sandal, makan, mencuci tangan, mencuci kaki, dll dan 2 orang tua mengatakan anaknya sudah mampu dalam perawatan diri, sedangkan 6 orang (ibu) di SLB BCD
YPKR Warung Lahang mengatakan bahwa 2 orang anak masih belum bisa mandiri dalam perawatan diri diantaranya masih dibantu dalam hal makan, minum, memakai baju, memakai celana, memakai sepatu, BAK, membersihkan kotoran dengan air setelah BAB atau BAK, juga dalam hal BAB masih belum bisa terkontol dan masih BAB dicelana dan 1 orang tua mengatakan bahwa anaknya sudah bisa melakukan sebagian perawatan diri secara mandiri dalam hal makan, minum, membersihkan kotoran dengan air setelah BAB, BAB, BAK, hanya saja masih harus dibantu dalam hal mandi, memakai baju, memakai sepatu, dan 3 diantaranya sudah bisa melakukan perawatan diri secara mandiri. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara kepada wali kelas murid kelas 3 SD bahwa untuk anak murid kelas 3 SD sudah bisa melakukan perawatan diri secara mandiri.
Dari fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian perawatan diri pada anak retardasi mental ringan-sedang usia 6-13 tahun di SLB Kecamatan Cicalengka.
1.2 Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka peneliti ingin mengetahui adakah hubungan antara dukungan keluarga dengan kemandirian anak retradasi mental ringan- sedang usia 6-13 tahun di SLB Kecamatan Cicalengka?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian perawatan diri anak retardasi mental ringan-sedang usia 6-13 tahun di SLB Kecamatan Cicalengka?
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Mengidentifikasi dukungan keluarga pada anak retardasi mental ringan- sedang usia 6-13 tahun.
1.3.2.2 Mengidentifikasi kemandirian anak retardasi mental ringan-sedang usia 6-13 tahun.
1.3.2.3 Mengidentifikasi hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian perawatan diri anak retradasi mental ringan-sedang usia 6-13 tahun.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara teoritis
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memperkaya informasi terutama bagi disiplin ilmu keperawatan.
1.4.2 Secara Praktisi
1.4.2.1 Bagi orang tua dan keluarga yang mempunyai anak retradasi mental diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat yang cukup sehingga dapat menerapkan pola asuh atau motode yang paling efektif dalam meningkatkan kemandirian anak retradasi mental.
1.4.2.2 Bagi Fakultas Ilmu Keperawatan dengan hasil karya tulis ini sebagai data dasar kajian peneliti selanjutnya
1.4.2.3 Bagi Lembaga Pendidikan (SLB)
Dapat menjadi bahan evaluasi guru SLB untuk mengembangkan program pengajaran atau pelatihan terkait keterampilan dan kemandirian anak retardasi mental dalam melakukan perawatan diri, baik di sekolah maupun saat di rumah.
1.4.2.4 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian diharapkan dapat menjadi pertimbangan dan masukan dalam mengembangkan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian perawatan diri anak retardasi mental.
6