1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Bencana gempa bumi selalu menimbulkan kerugian dan kerusakan infrastruktur dalam jumlah kecil maupun besar, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. Faktor lain yang mempengaruhi kerusakan akibat gempa bumi adalah lokasi, seperti; longsoran, batuan/tanah yang mengembang, struktur geologi, goncangan air di danau atau waduk dan patahan. Namun sebagai manusia, kita tidak dapat meramalkan kapan gempa bumi akan terjadi, dimana gempa bumi akan terjadi dan besarnya kekuatan gempa bumi yang akan terjadi (Yulaelawati dan Syihab, 2008:91).
Menurut catatan sejarah, gempa pernah terjadi di Pulau Flores pada tahun 1992. Gempa bumi berkekuatan 7.5 Skala Richter disertai dengan tsunami.
Korban yang meninggal dunia sekitar 1000 orang. Pada tahun 1996, gempa bumi dan tsunami terjadi di Pulau Biak (Papua) dengan kekuatan gempa 8.2 Skala Richter. Korban yang meninggal dunia sekitar 100 orang. Gempa bumi dan tsunami yang paling dahsyat terjadi tanggal 26 Desember 2004. Peristiwa ini mengakibatkan 8 negara yaitu Indonesia, Malaysia, India, Myanmar, Somalia, Sri Lanka, Maldives, dan Thailand mengalami kerusakan yang besar dan banyaknya korban yang meninggal. Kekuatan gempa mencapai angka 9.3 Skala Richter.
Pusat gempa terletak pada 3°LU dan 15°BT dengan kedalaman 10 km, atau jaraknya kurang lebih 160 km sebelah barat Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa bumi yang mengakibatkan tsunami ini menelan banyak korban jiwa, Indonesia
memiliki korban jiwa yang paling banyak terutama di Nanggroe Aceh Darussalam. Korban meninggal dunia diperkirakan lebih dari 150.000 orang (Kurnia et all, 2007:11).
Pemetaan gempa bumi dapat dilakukan dengan 2 cara, yang pertama adalah dengan memetakan sumber atau pusat gempa dengan skala dan kedalaman tertentu, dan yang kedua adalah dengan memetakan efeknya atau informasi makro gempa bumi. Pusat gempa dengan magnitude 5 atau lebih dan kedalaman kurang dari 50 km sering dipakai sebagai ukuran karena berpotensi merusak bangunan, sedangkan informasi makro gempa bumi yang biasa digunakan adalah peta dengan memakai skala Modified Mercalli Intensity (MMI), yaitu besarnya efek yang dirasakan oleh pengamat dimana gempa itu berada tanpa memperhatikan sumbernya (Yulaelawati dan Syihab, 2008:95).
Geographic Information System (GIS) dapat membantu melakukan pemetaan dengan lebih mudah, namun masih banyak orang yang menggunakan aplikasi desktop yang hanya bisa dijalankan di satu komputer saja, apabila ingin menambah komputer yang dapat menjalankan aplikasi tersebut maka harus melakukan instalasi yang memakan waktu dan biaya. Dengan kendala seperti itu maka dikembangkanlah GIS online dengan menggunakan website yang dapat menghasilkan informasi dengan lebih mudah serta dapat diakses kapanpun, dimanapun menggunakan browser selama terhubung pada jaringan internet.
Data-data informasi untuk gempa bumi yang telah terjadi biasanya hanya berbentuk teks yang berisikan tanggal dan waktu terjadinya gempa, lokasi gempa yang terdiri dari lintang utara dan bujur timur, kedalaman gempa, dan kekuatan gempa. Dengan data yang hanya berupa teks tersebut, tentunya akan sulit untuk
menentukan lokasi terjadinya gempa bumi tersebut. Namun bila data informasi gempa bumi yang berupa teks tersebut dapat dipetakan, maka akan lebih mudah menentukan dimana lokasi terjadinya gempa bumi tersebut dan area mana saja yang sering terjadi gempa. Dengan kemudahan dalam melihat dimana saja lokasi yang rawan terjadinya gempa, maka pemerintah dan masyarakat dapat melakukan persiapan untuk mengurangi kerusakan pada bangunan ataupun mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana gempa bumi.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penulis akan merancang aplikasi GIS untuk pemetaan lokasi-lokasi terjadinya gempabumi berbasis web yang dituangkan dalam skripsi berjudul “GIS Visualisasi Lokasi Gempa Bumi di Indonesia Menggunakan P5.JS”.
1.2. Identifikasi Permasalahan
Dari Latar belakang tersebut, didapatkan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Penambahan data gempa bumi masih dilakukan secara manual.
2. Pemetaan lokasi gempa bumi masih menggunakan aplikasi GIS desktop.
3. Informasi mengenai gempa bumi tidak dapat diakses oleh semua orang.
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan di atas, maka perumusan masalah yang ada antara lain :
1. Bagaimana agar peta lokasi gempa bumi di Indonesia menampilkan informasi berupa visualisasi yang sesuai dengan kebutuhan?
2. Bagaimana agar lokasi aplikasi GIS berbasis web ini dapat diakses dengan mudah oleh siapapun?
3. Bagaimana membangun aplikasi GIS berbasis web yang dapat menampilkan lokasi – lokasi terjadinya gempa di Indonesia?
4. Bagaimana membangun aplikasi GIS berbasis web yang dapat menambah data gempa bumi secara otomatis?
1.4. Maksud dan Tujuan
Maksud dari penulis dalam penelitian ini adalah:
1. Membangun aplikasi GIS berbasis web yang dapat menampilkan peta yang memiliki informasi sesuai dengan kebutuhan.
2. Membangun aplikasi GIS berbasis web yang menampilkan lokasi terjadinya gempa bumi di Indonesia.
3. Membangun aplikasi GIS berbasis web yang dapat memperbaharui data secara otomatis.
4. Membangun aplikasi GIS yang dapat diakses dengan mudah dan oleh siapapun.
Tujuan dari penulisan penelitian ini adalah untuk memenuhi syarat kelulusan program strata 1 (S1) program studi Teknik Informatika pada Universitas Bina Sarana Informatika Bandung.
1.5. Metode Penelitian
Penulis melakukan penelitian dengan tahapan sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Penulis melakukan studi literatur untuk mengkaji penelitian yang pernah dilakukan dan berkaitan dengan topik penilitian.
2. Pengambilan Data
Penulis melakukan pengambilan data gempa bumi menggunakan data publik yang tersedia pada United States Geological Survey (USGS).
3. Pembuatan Program
Program dibuat dengan menggunakan p5.js.
1.5.1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Penulis melakukan pengamatan di Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi yang dibutuhkan untuk penelitian ini.
2. Wawancara
Penulis melakukan wawancara dengan bagian Fungsional mengenai hal yang berkaitan dengan penelitian ini.
3. Studi Pustaka
Pada studi pustaka penulis melengkapi informasi yang berkaitan dengan sistem informasi geografis dengan sumber yang didapatkan dari website, buku, e-book dan jurnal.
1.5.2. Model Pengembangan Sistem
Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode Waterfall yang memiliki 5 tahapan utama yaitu :
1. Analisa Kebutuhan Sistem
Pada tahap analisa kebutuhan sistem penulis melakukan analisa di Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi untuk mengumpulkan informasi.
Informasi ini akan penulis gunakan untuk membantu membangun aplikasi visualisasi data gempa.
2. Desain
Penulis melakukan perancangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dalam membangun aplikasi GIS berbasis web.
3. Code Generation
Setelah melalui tahap desain maka langkah selanjutnya adalah membuat aplikasi GIS berbasis web yang menampilkan lokasi gempabumi di Indonesia. Aplikasi ini dibuat menggunakan p5.js.
4. Testing
Setelah kode program dibuat, pada tahap ini penulis akan melakukan pengujian terhadap program. Pengujian dilakukan untuk melihat apakah program yang dibuat dapat dijalankan dan sesuai dengan kebutuhan.
5. Support
Aplikasi GIS berbasis web yang penulis buat akan dipublikasikan secara online.
1.6. Ruang Lingkup
Untuk membatasi pembahasan pada penelitian ini agar tidak terlalu jauh dari kajian masalah, maka ruang lingkup yang dibahas adalah sebagai berikut:
1. Penulis tidak melakukan perbandingan antara p5.js dengan metode yang lain.
2. Aplikasi GIS visualilasi lokasi gempa bumi ini adalah berbasis web.
3. Pembuatan program ini menggunakan p5.js.
4. Peta yang akan ditampilkan pada program ini menggunakan Mapbox API.
5. Visualilasi lokasi gempa bumi dibuat untuk seluruh wilayah Indonesia.