1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan sagu di Indonesia bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya dan pengolahan berkelanjutan menuju ketahanan pangan dan terwujudnya agroindustri sagu. Sasaran yang penting dicapai dalam pengembangan sagu ini diantaranya peningkatan produktivitas sagu, diservikasi pangan, dan peningkatan pendapatan petani sagu. Hal tersebut dikarenakan mengingat potensi sagu yang sangat besar meskipun belum diupayakan secara maksimal.
Sagu adalah salah satu hasil bumi daerah Asia Tenggara yang banyak tumbuh di area rawa atau daerah dengan sumber air yang melimpah. Tanaman sagu di Indonesia banyak tumbuh di daerah dataran rendah dan banyak ditemukan di Maluku dan Papua (Limbongan, 2007). Masyarakat daerah tersebut serta daerah Sulawesi (Utara, Selatan, dan Tenggara), Kalimantan Tengah, Sumatera Barat, Riau, dan Aceh sempat menggantungkan makanan pokok mereka pada sagu. Hal ini membuat Indonesia mengambil bagian 60% sebagai penyedia sagu dunia (Bantacut, 2011). Salah satu daerah penghasil sagu di Indonesia adalah Papua. Jenis sagu yang ada di Papua dikelompokkan menjadi sagu berduri (Metroxylon rumphii Mart.) dan sagu tidak berduri (Metroxylon sagu Rottb.) (Limbongan, 2007).
Sagu juga memiliki nilai budaya sebagai salah satu kearifan lokal dalam masyarakat tradisional yang senantiasa dipertahankan turun temurun. Sagu
memiliki peran dan fungsi sebagai pengatur dan pengikat kelompok berdasarkan keragaman budaya dan kearifan lokal yang terbentuk melalui pengalaman yang panjang sehingga tetap menjaga kesadaran masyarakat akan kearifan lingkungannya. Sagu memperlihatkan prinsip kesetaraan yang mempersatukan konsumennya dalam tingkatan dan derajat yang tidak berbeda. Sagu tidak mengklasifikasikan atau mengategorikan konsumen ke dalam batas-batas strata sosial. Secara ekonomi, sagu tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga atau masyarakat tetapi juga dijual dalam bentuk pangan ke kota lainnya. Seluruh bagian dari tanaman sagu seperti pelepah untuk dinding rumah, daun sagu dapat dijadikan atap rumah, kulit luar batang sagu untuk lantai rumah, hingga ampas untuk pakan ternak bernilai ekonomis (Numberi, 2011). Sagu bukan hanya sebagai bahan makanan utama tetapi juga memiliki kedudukan utama dalam mitos dan ritual yang berlangsung turun temurun (Ruddle et al., 1978).
Potensi sagu untuk dikembangkan sebagai bahan pangan pengganti beras.
Sagu mampu memberikan pati kering sepanjang tahun mencapai 25ton per hektare, melebihi kemapuan produksi pati dari beras sebesar 6ton atau jagung yang hanya 5,5 ton per hektare. Tepung sagu basah mampu dihasilkan oleh setiap batang sagu hingga 200 kg per tahun. Tepung sagu juga memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, yaitu 84,7 gram per 100gram bahan. Kandungan karbohidrat pati sagu setara dengan karbohidrat tepung beras, singkong, kentang, atau jika dibandingkan dengan jagung dan terigu maka kandungan karbohidrat sagu masih lebih tinggi. Energi yang dikandung tepung sagu dalam setiap 100 g tepung sagu adalah 353 kkal, setara dengan bahan pangan lain, seperti: beras,
jagung, singkong, dan kentang. Selain itu, sagu menghasilkan pati tidak tercerna yang sangat baik untuk pencernaan (Nggobe, 2005).
Proses pengolahan sagu dilakukan oleh masyarakat secara perorangan maupun berkelompok pada lokasi-lokasi tertentu. Hingga saat ini pengolahan sagu masih dilakukan secara tradisional dan masih terbatas pada pengambilan tepung sagu untuk kebutuhan bahan makanan. Penggunaan sagu secara tradisional untuk bahan makanan secara umum dikelompokkan ke dalam enam cara, yaitu:
1. Berbentuk adonan lengket seperti nasi, antara lain: papeda (Papua), kapurung (Sulawesi Selatan), dan sinonggi (Sulawesi Tenggara).
2. Sagu panggang seperti lempeng sagu (dange, sagu rangi), 3. Mie sagu,
4. Aneka makanan ringan (bagea, ongol-ongol, cendol), 5. Mutiara sagu, dan
6. Pati sagu kering atau tepung sagu kering (Haryanto & Pangloli, 1992).
Proses pengolahan sagu dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:
metode tradisional dan modern. Metode tradisional dibagi menjadi dua skala, yaitu: skala domestik dan pengolahan skala kecil. Skala domestik dilakukan oleh secara perorangan, dimana pohon sagu ditebang dan diproses langsung di kebun sehingga batang-batang sagu yang telah dipotong tidak perlu diangkat atau dipindahkan jauh dari lokasi pohon. Pengolahan sagu skala kecil atau skala pabrik, proses pengolahan sagu dilakukan secara berkelompok dan telah menggunakan beberapa alat mekanis. Pada skala pabrik, batang-batang pohon sagu dipotong dengan ukuran yang lebih pendek, 1-1,2 m kemudian diangkut ke
pabrik melalui sungai atau menggunakan kendaraan (Flach, 1997; Ruddle et al., 1978). Pabrik pengolahan sagu skala kecil ini memproduksi lamentak (tepung sagu olahan basah) yaitu tepung sagu yang prosesnya dilakukan dengan mengeringkan dibawah sinar matahari. Sebagian besar daerah di Indonesia yang memiliki perkebunan sagu masih menggunakan proses pengolahan dengan cara tradisional (Zulpilip et al., 1991).
Faktor yang mempengaruhi eksistensi sagu melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Sagu di olah dengan berbagai macam peroduk dengan pengolahan yang menarik, Sehingga bisa menarik minat kalangan muda, sagu tidak hanya di olah menjadi makanan berat seperti , gubal, Kepurun, laksa, lambok dan lempeng sagu.
Tetapi sagu tadi di olah menjadi berbagai makanan yang menarik seperti, keripik sagu lenggang, sagu lemak, kerupuk cincin, kue bangkit, juga dalam bentuk olahan kue lainya seperti ongol-ongol, dan juga di olah dalam bentuk mie.
Kabupaten Lingga, terletak di Provinsi Kepulauan Riau, merupakan daerah di mana sagu diperkenalkan Pada tahun 1842, Sultan Mahmud Muzaffar Syah memulai produksi sagu sebagai solusi terhadap masalah pangan yang disebabkan oleh kegagalan penanaman padi di Lingga. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 2 bahwa Kebijakan Percepatan keaneka ragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah dalam melakukan perencanaan, penyelenggaraan, evaluasi dan pengendalian Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Hal ini patut ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah terutama bagi OPD (Organisasi
Perangkat Daerah) agar melakukan pemanfaatan sagu dalam rangka penyelenggaraan program keaneka ragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal. Akan tetapi pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan dan konsumsi pangan lokal yakni makanan yang dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal dilihat masih kurang.
Kabupaten Lingga memiliki potensi pemanfaatan pangan lokal yakni sagu untuk dikembangkan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan. Hal ini dipengaruhi oleh sosialisasi untuk menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan pangan lokal belum optimal (Prabowo, 2010).
Eksistensi sagu di Kabupaten Lingga meningkat pada periode 1857-1883 dibawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Pada periode tersebut, pengolahan serta penanaman sagu semakin digencarkan. Luas area sagu dan produksi dari Kabupaten Lingga tahun 2019 angkanya jauh dibawah awal abad 20. Luas sagu di Kabupaten Lingga 2019 sebesar 3.341 hektar dengan produksi mencapai 2.614 ton/ tahun. Angka ini memang terbesar di Kepri.
Namun, jika dibandingkan awal abad 20, luas areal sagu di Lingga kalah jauh.
Tumbuhan sagu menyebar ke berbagai daerah di Kabupaten Lingga setelah sebelumnya hanya berfokus di lingkungan istana. Kearifan-kearifan lokal dalam mengelola dan memanfaatkan sagu semakin berkembang (Haji, et al., 1998). Di Kabupaten Lingga sagu sampai saat ini masih tetap bertahan sebagai makanan yang di sandingkan dengan beras atau lauk pauk lainnya.
Kabupaten Lingga juga kenal dikalangan luas sebagai daerah penghasil sagu dan memiliki oleh-oleh atau makanan khas yang berbahan dasar sagu. Salah
satu penghasil sagu di Kabupaten Lingga yang memiliki potensi sagu berkualitas yaitu Desa Panggak Laut. Masyarakat Desa Panggak Laut mempunyai cara untuk memperkenalkan sagu ke kalangan muda, agar mereka tertarik dengan berbagai olahan makanan yang berbahan dasar dari sagu. Sagu tersebut di kemas semenarik mungkin dan diolah dengan berbagai bentuk olahan dari makanan kering juga basah, seperti, keripik sagu lenggang, keripik cincin, sagu lemak, dan di olah dalam bentuk kue basah maupun kering yang menarik dan juga di olah menjadi bentuk mie. Hal inilah yang membuat sagu masih bisa eksis sampai sekarang.
Tumbuhan sagu, yang terkenal sebagai bahan makanan tradisional Indonesia yang berkualitas tinggi, juga memiliki manfaat lain yang signifikan.
Menurut Vita (2017), setiap bagian dari tumbuhan sagu memiliki kegunaan yang beragam. Daun sagu sering digunakan sebagai bahan bangunan untuk membuat atap dan dinding rumah. Kulit dan batang sagu dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hutan sagu juga memiliki peran penting dalam melindungi pantai dari polusi yang berasal dari daratan, dengan mencegah endapan limbah ke laut. Selain itu, tumbuhan sagu juga memiliki sifat obat-obatan yang bermanfaat.
Tumbuhan sagu memiliki potensi sebagai sumber pengetahuan budaya lisan. Proses pengolahan sagu menjadi berbagai makanan adalah sebuah tradisi lisan yang masih dilestarikan hingga saat ini. Pengetahuan tentang pengolahan sagu umumnya diperoleh melalui percobaan berulang yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Pengetahuan ini, yang diturunkan secara turun-temurun, didasarkan pada pengalaman, tradisi, dan keyakinan yang berakar dalam kehidupan masyarakat lokal. Tulalessy (2016)
Tepung sagu juga memiliki potensi sebagai bahan dasar untuk berbagai jenis makanan tradisional. Sagu dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat makanan tradisional. Sebanyak 15 jenis makanan telah di dokumentasikan dengan kategori : makanan berat (6 jenis), makanan ringan (6 jenis), lauk pauk (3 jenis, yang dimakan bersama nasi). Makanan tersebut juga dapat dikelompokkan berdasarkan bahan baku yang digunakan, seperti yang dapat dilihat pada sembilan jenis makanan tradisional yang menggunakan sagu basah, lima jenis yang menggunakan tepung sagu, dan satu jenis yang menggunakan pucuk apikal pohon sagu. Beberapa makanan tradisional tersebut meliputi sagu lemak, sagu lenggang, bubur lambok, keripik sagu lenggang, gubal sagu, lempeng sagu, dan kepurun.
Pengetahuan mengenai penggunaan tumbuhan ini mencakup penggunaan dalam masakan tradisional dan pengobatan tradisional, Fitmawati et al. (2017).
Salah satu tumbuhan yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat di Lingga sebagai bahan masakan adalah sagu (Metroxylon sago).
Konsumsi pangan yang hanya fokus pada satu jenis pangan tidak dapat memastikan adanya keseimbangan gizi yang memadai. Akibatnya, gaya hidup dan pola konsumsi pangan di rumah tangga cenderung tidak sehat. Menurut informan, dalam satu hari, meskipun ada variasi makanan seperti sagu yang disediakan, anggota rumah tangga cenderung lebih memilih untuk mengonsumsi sagu. Sagu menjadi makanan favorit bagi sebagian besar masyarakat di Desa Panggak Laut.
Pada saat ini, masyarakat cenderung lebih memilih untuk mengonsumsi beras (nasi) daripada sagu. Hal ini disebabkan tidak hanya oleh kemudahan dalam
proses memasaknya, tetapi juga karena beras (nasi) dapat dikonsumsi berulang kali dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lebih lama. Dengan begitu masyarakat sekarang lebih menyukai mengkonsumsi makanan yang mudah atau instan karena tidak semua olahan sagu yang bisa di sandingkan dengan makanan lauk pauk lainnya, hanya makanan tertentu saja. Namun masyarakat Kabupaten Lingga tidak meninggalkan budaya atau tradisi yang sudah berkembang secara turun temurun tersebut. Sagu masih tetap di konsumsi namun hanya di jadikan sebagai makanan adat saja tidak lagi sebagai makanan pokok
Berdasarkan paparan sebelumnya, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Eksistensi Sagu Sebagai Konsumsi Dari Pewarisan Masyarakat Melayu Desa Panggak Laut Kabupaten Lingga”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, masalah yang ingin diteliti dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana Eksistensi sagu sbagai konsumsi masyarakat melayu Desa Panggak Laut di Kabupaten Lingga?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana eksistensi sagu sebagai konsumsi pewarisan masyarakat melayu Desa Panggak Laut di Kabupaten Lingga?
1.4 Manfaat Penelitian dan kegunaan penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yang terkait, antara lain:
1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi peneliti- peneliti selanjutnya yang tertarik dengan tema yang sama, sehingga dapat memberikan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan sagu.
1.4.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini di harapkan bisa mengaplikasikan dan mengembangkan penelitian sesuai dengan jurnal yang di ampu saat ini yaitu, Sosiologi. Serta penelitian ini bisa menjadi sebuah informasi dan bacaan, serta menjadi literatur penelitian selanjutnya bisa dengan tema penelitian yang sama.