1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Peningkatan angka harapan hidup (AHH) di Indonesia merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan dan menandakan adanya perbaikan status kesehatan masyarakat, termasuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. AHH tahun 2014 pada penduduk perempuan adalah 72, 6 tahun dan laki-laki adalah 68,7 tahun. Kondisi ini akan meningkatkan jumlah lanjut usia di Indonesia yaitu 18,1 juta jiwa (7,6%
dari total penduduk). Pada tahun 2014, jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia menjadi 18,781 juta jiwa dan diperkirakan pada tahun 2025, jumlahnya akan mencapai 36 juta jiwa. Usia lanjut akan menimbulkan masalah kesehatan karena terjadi kemunduran fungsi tubuh apabila tidak dilakukan upaya pelayanan kesehatan dengan baik (Kholifah, 2016).
Menurut World Health Organization (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya, kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan. Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentanya tubuh terhadap berbagai serangan penyakit dan hilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri secara perlahan (Fatimah, 2010).
Penyakit degeneratif merupakan penyakit kronik menahun yang banyak mempengaruhi kualitas hidup serta produktivitas seseorang. Penyakit degeneratif antara lain katarak, hipertensi, kanker, diabetes melitus, osteoporosis, penyakit sendi, asma dan sebagainya.
2
Peningkatan beberapa kejadian ini cenderung meningkat seiring bertambahnya usia sehingga lebih banyak dialami lansia. Proses pertambahan usia ini juga diiringi dengan terjadinya penurunan fungsi organ tubuh akibat berkurangnya kemampuan sel beregenerasi dan mempertahankan strukturnya.
Salah satu penyakit degeneratif yang banyak terjadi dan mempengaruhi kualitas hidup dan produktivitas seseorang salah satunya adalah katarak (Kholifah, 2016).
Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih dan bening menjadi keruh, lensa terletak dibelakang manik mata bersifat membiaskan dan memfokuskan cahaya pada retina atau selaput jala pada bintik kuning. Bila lensa menjadi keruh atau cahaya tidak dapat di fokuskan pada bintik kuning dengan baik, penglihatan akan menjadi kabur. Kekeruhan pada lensa yang relatif kecil tidak banyak menggangu penglihatan akan tetapi bila tingkat kekeruhannya tinggi maka akan menggangu penglihatan (Olver &
Lorraine 2011).
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2012 penyebab kebutaan paling banyak di dunia adalah katarak 51%, glaukoma 8% dan disusul oleh degenerasi makular terkait usia 5%. WHO memperkirakan bahwa hampir 18 juta orang dari populasi seluruh dunia menderita kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Data ini menjadikan katarak merupakan penyebab utama kebutaan dan penyebab penting dari tunanetra diseluruh dunia (WHO, 2012).
Perkiraan insiden katarak di Indonesia adalah 0,1% per tahun atau setiap tahun di antara 1000 orang terdapat seorang penderita baru katarak.
Besarnya jumlah penderita katarak saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun 2000 sebesar 15,3 juta orang dan jumlah dimaksud cenderung bertambah besar (Kementrian Kesehatan RI, 2014). Data yang diperoleh dari Sistem Informasi Rumah Sakit tahun 2010, katarak masuk dalam salah satu dari 10 penyakit tidak menular terbesar penyebab rawat jalan di RS di Indonesia tahun 2010 (Kementrian Kesehatan RI, 2012).
3
Di Jawa Barat katarak memiliki prevalensi sebesar 1,5% pada tahun 2013 lebih tinggi dibandingkan dengan DKI Jakarta 0,9% tingginya angka kejadian katarak tersebut masih belum sebanding dengan penatalaksanaannya sehingga mengakibatkan timbulnya penumpukan penderita katarak yang memerlukan operasi setiap tahun. Tiga alasan utama penderita katarak belum dioperasi adalah karena ketidaktahuan 51,6% ketidakmampuan 11,6% dan ketidakberanian 8,15%. Insiden katarak ini lebih tinggi pada kelompok umur 55 tahun keatas sebanyak 12,7% berbanding kelompok umur yang lain. Hal ini dihubungkan dengan proses degeneratif yang terjadi pada indera penglihatan (Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Penyebab penyakit mata katarak yang paling sering ditemukan adalah disebabkan oleh umur. Umur menjadi penyebab yang paling sering menyebabkan katarak karena protein pada lensa mata akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya umur. Katarak merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, namun katarak banyak terjadi pada usia diatas 40 tahun (Hadini et all, 2016). Tanda dan gejala yang timbul pada penderita katarak yang biasa terjadi adalah penglihatan suatu objek benda atau cahaya menjadi kabur atau buram, bayangan benda terlihat seakan seperti bayangan semu atau seperti asap, kesulitan melihat ketika malam hari, mata terasa sensitif bila terkena cahaya, bayangan cahaya yang ditangkap seperti sebuah lingkaran, membutuhkan pasokan cahaya yang cukup terang untuk membaca atau beraktivitas lainya (Nurarif & Hardhi, 2015).
Berdasarkan penelitian Dewi, Rifa, dkk dari jurnal kedokteran volume 4 No. 2, tahun 2018 dari sampel pasien RS Al Ihsan Bandung berjumlah 265 kasus. Diperoleh hasil dengan frekuensi tertinggi terjadi pada kelompok usia 15-64 tahun sebanyak 255 pasien (70%), kelompok usia < 15 tahun sebanyak 9 pasien (2%) kelompok usia > 64 tahun sebanyak 101 pasien (28%) hal ini sesuai dengan hasil penelitian Gricia Earlene Tamansa 2016, yang menunjukan bahwa kelompok usia 53-64 tahun merupakan kelompok usia yang paling sering ditemukan kelainan katarak sebanyak 120 penderita (60,9%).
4
Pada tahun 2017 jumlah penderita katarak di wilayah kabupaten Sumedang tercatat sebanyak 1.747 orang dengan usia rata-rata 50 tahun ke atas. Pada awal tahun 2018 sudah tercatat sebanyak 110 orang menderita katarak di wilayah Sumedang (Dinkes Sumedang, 2018).
Adapun peran sebagai seorang perawat gerontik tidak hanya sebagai pemberi asuhan kepada lansia namun juga dapat berperan sebagai guide Persons of all ages toward a healthy aging process (membimbing orang segala usia untuk mencapai masa tua yang sehat) serta sebagai teach and support caregives (mendidik dan mendorong pemberi pelayanan kesehatan).
Hal ini berarti bahwa seorang perawat dalam menjalankan tugas harus dapat mengetahui dan memahami dalam menjalankan praktik keperawatan sesuai standar asuhan yang berlaku (Kholifah, 2016).
Dengan ditemukannya data pada Tn. A di wilayah Dusun Sukahirup yang mana pernah mengalami trauma tumpul 30 tahun yang lalu dan sudah 10 tahun di nyatakan katarak oleh pihak puskesmas serta tidak pernah dilakukan pemeriksaan kembali ke fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan studi kasus dengan judul
“Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang” yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan mutu kesehatan yang baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan di latar belakang masalah, maka rumusan masalah penelitian adalah “Bagaimana Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Desa Dusun Sukahurip Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang?”
5 C. Tujuan Studi Kasus
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini untuk mengidentifikasi “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang”.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang.”
b. Mampu merumuskan diagnosa “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang.”
c. Mampu menyusun rencana tindakan “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang.”
d. Mampu melaksanakan rencana tindakan “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang.”
e. Mampu mengevaluasi hasil tindakan “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada Tn. A Dengan Gangguan Sistem Penginderaan : Katarak Di Dusun Sukahurip Desa Jatihurip Kecamatan Sumedang Utara Kabupaten Sumedang.”
6 D. Manfaat Penyusunan Tugas Akhir
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan hasil penulisan ini dapat menjadi informasi bagi penulis yang dapat digunakan sebagai data dasar penulisan lebih lanjut, serta dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya teori kesehatan pada pasien katarak.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil dari Karya Tulis Ilmiah ini bisa untuk menjadi sumber bacaan bagi adik kelas dan sebagai sumber informasi tentang katarak atau pun sebagi acuan dalam pemberian Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Katarak.
b. Bagi Mahasiswa/i
Menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa/i serta dapat meningkatkan keterampilan dalam memberikan Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Katarak.
c. Bagi Pasien dan Keluarga
Untuk memberikan informasi yang lebih jelas tentang katarak sehingga mampu mengetahui lebih dini dan dapat menanggulangi lebih awal dari penyakit katarak yang pada umumnya lebih banyak di derita oleh seseorang pada lanjut usia.