BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan adalah salah satu bagian yang sangat penting dalam kehidupan, karena dengan menjaga kesehatan kita dapat menjalankan segala aktivitas sehari-hari, misalnya bekerja, belajar dan sebagainya. Namun, Kesehatan ini pula yang sangat susah untuk dijaga, tidak semua orang mendapatkan kesehatan fisik maupun psikis ada banyak orang yang menderita penyakit, terutama kanker. Di negara Indonesia sendiri memiliki angka kejadian kanker mencapai 136,2 per 100.000 penduduk. Jumlah tersebut membuat negara Indonesia menempati urutan ke-8 di Asia Tenggara untuk jumlah pengidap kankernya. Sedangkan di Asia, negara Indonesia menempati urutan ke-23. (Global Cancer Observatory, 2018).
Berdasarkan data Menteri Kesehatan Republik Indonesia, secara umum penderita kanker di Indonesia masih mengalami peningkatan berdasarkan data dalam kurun waktu 5 tahun yaitu pada tahun 2013 dengan presentase 1,4% per 1.000 penduduk menjadi 1,79% per 1.000 penduduk ditahun 2018. Berdasarkan hasil Riskesdas dapat diketahui bahwa prevalensi kanker pada kelompok perempuan lebih besar dibandingkan laki laki. Pola ini terjadi baik pada Riskesdas 2013 maupun Riskesdas 2018. (Datin Kemenkes Ri 2013-2018).
Kanker merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi, hingga saat ini kanker merupakan penyebab kematian tertinggi kedua di dunia setelah penyakit jantung, terhitung sekitar 9,6 juta kematian, atau satu dari enam kematian, pada tahun 2019.Pasien kanker di dunia meningkat 6,25 juta setiap tahun. Sebanyak 11-12 juta orang di dunia adalah penderita berbagai jenis kanker (AM Zuhud, 2011).
Yogyakarta, selain dikenal sebagai kota budaya dan pendidikan, Yogyakarta juga menghadapi tantangan serius di bidang kesehatan, termasuk meningkatnya kasus kanker. Seiring dengan pertumbuhan populasi dan perubahan gaya hidup, kanker menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin penting untuk diperhatikan.Kota Penyandang Kangker ke 2 setelah jakarta Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi kanker tertinggi berada di provinsi DI Yogyakarta yakni 4,86% per 1.000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47%per 1.000 penduduk dan Gorontalo 2,44% per 1,000 penduduk.(Data Detik Health 2020) Adapun gambaran deteksi dini dua kanker terbesar yaitu kanker payudara dan kanker leher Rahim per kabupaten kota Yogyakarta.
Data deteksi dini kanker payudara menunjukkan bahwa 1.446 orang berusia di bawah 30 tahun melakukan pemeriksaan, 3.283 orang pada usia 30-39 tahun, dan 28.233 orang pada usia 40- 50 tahun Jumlahnya menurun menjadi 664 orang pada usia di atas 50 tahun .Deteksi dini kanker leher rahim menunjukkan bahwa 1.435 orang berusia di bawah 30 tahun, 3.242 orang berusia 30-39 tahun, 2.816 orang berusia 40-50 tahun, dan 682 orang berusia di atas 50 tahun.
penduduk.(Data Dinkes Yogyakarta 2020).
Di Indonesia, Mempunyai 2 rumah sakit Besar khusus kanker: Rumah Sakit Dharmais dan Rumah Sakit Siloam MRCCC. Sementara itu, Yogyakarta, sebagai kota dengan prevalensi kanker tertinggi di Indonesia, belum memiliki rumah sakit atau pusat terapi khusus kanker. Saat ini, pasien kanker di Yogyakarta biasanya dirujuk ke RSUP Dr Sardjito, sebuah rumah sakit umum tipe A, yang fasilitas penanganannya tidak selengkap rumah sakit khusus kanker. (Data The Jakarta Post 2019-2020).
Yogyakarta belum memiliki rumah sakit Khusus kangker dalam Upaya untuk memenuhi kebutuhan Kesehatan, pasien penyandang kangker di kota Yogyakarta maka dibuatlah Rumah sakit dan Terapi rehabilitasi Kangker sebagai Solusi untuk memenuhi Kebutuhan pagi pasien penyandang kangker.
Dari itu muncul ide Rumah sakit ini akan dilengkapi dengan layanan rehabilitasi fisik dan psikis untuk membantu pemulihan pasien setelah menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi, radioterapi, atau operasi. Fasilitas terapi fisik akan membantu pasien memulihkan mobilitas dan fungsi tubuh, sedangkan terapi psikologis dan konseling bertujuan untuk mendukung pemulihan mental dan emosional mereka. Dengan demikian, rumah sakit ini tidak hanya mengatasi kanker dari aspek medis, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup pasien secara menyeluruh yang tidak ditemukan di rumah sakit kanker yang umumnya hanya fokus pada pengobatan Saja.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana merancang rumah sakit khusus kanker yang menyediakan fasilitas diagnosis, pengobatan, dan Terapi rehabilitasi untuk pasien penyandang kanker di Yogyakarta?
b. Bagaimana integrasi antara layanan pengobatan kanker yaitu Rumah Sakitnya dengan fasilitas rehabilitasi fisik dan psikis Yaitu Panti Terapinya yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien setelah pengobatan?
1.3 Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1.3.1 Tujuan dari pembahasan ini adalah
untuk merancang rumah sakit kangker dan terapi rehabilitasi kangker yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kota Yogyakarta maupun di Jawa Tengah.Fasilitas rumah sakit ini diharapkan dapat melakukan pengobatan lebih intensif kepada penderita penyakit kangker.
Adapun tujuan dari pembahasan ini meliputi
a. Menjadi rumah sakit rujukan khusus untuk penanganan penyakit kanker di Kota Yogyakarta maupun Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
b. Mengoptimalkan proses penanganan dan pelayanan kepada masyarakat penderita kanker di Kota Yogyakarta maupun di luar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
c. Memfasilitasi proses pemulihan bagi penderita kanker di Kota Yogyakarta maupun di di Luar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melalui layanan terapi rehabilitasi yang komprehensif.
1.3.2 Sasaran dari Pembahasan dari Rumah sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta adalah:
merancang Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kanker di Yogyakarta yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah. Fasilitas rumah sakit ini diharapkan mampu menyediakan layanan pengobatan yang intensif dan komprehensif bagi penderita kanker, serta memberikan rehabilitasi menyeluruh untuk mendukung pemulihan pasien secara optimal.
1.4 Manfaat Pembahasan
Manfaat dari pembahasan dalam Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu manfaat akademis dan manfaat non- akademis:
1.4.1 Manfaat Akademik
a. Sebagai syarat untuk Tugas Akhir Progam Studi Arsitektur.
b. Menambah ilmu pengetahuan tentang merancang sebuah bangunan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker secara umum secara khusus di Yogyakarta.
1.4.2 Manfaat Non Akademik
a. Meminimalisir kematian akibat Kangker dengan menyediakan sarana pengobatan dan Pemulihan Fisik dan Psikis yang baik di Kota Yogyakarta.
1.5 Metode Perancangan
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara-cara berikut:
1.5.1 Studi Literatur
Mengumpulkan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber, termasuk buku-buku yang relevan dengan topik Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kanker di Kota Yogyakarta, serta menggunakan media online seperti ebook, jurnal, tesis, ensiklopedia, dan situs web yang kredibel.
1.5.2 Observasi
Melakukan observasi untuk mengumpulkan data langsung di lapangan terkait dengan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kanker di Kota Yogyakarta, guna memahami kebutuhan, kondisi, dan potensi fasilitas yang diperlukan dalam perencanaan dan perancangan bangunan tersebut antara lain: Mengetahui letak site, batas-batas site, pencapaian menuju site, serta keadaan klimatologi pada site (matahari, angin, dll.
1.5.3 Dokumentasi
Melengkapi data yang telah diperoleh dari teknik observasi dengan mengambil gambar- gambar, dapat berupa foto atau sketsa sebagai ilustrasi visual untuk memperjelas keadaan objek observasi.
1.5.4 Studi Preseden
dengan menganalisis contoh-contoh desain rumah sakit dan fasilitas rehabilitasi kanker yang telah ada sebelumnya, untuk mendapatkan wawasan tentang praktik terbaik, inovasi desain, dan solusi yang telah diterapkan dalam perancangan fasilitas serupa.
1.6 Ruang Lingkup dan Batasan Perancangan.
1.6.1 Batasan Perancangan
Batasan Yang di terapkan Pada Perancangan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta Berupa Solusi wadah desain Berupa Kegiatan utama Kesehatan pengobatan dan Penunjang Berupa Tempat Pemulihan Terapi Fisik dan Psikisk untuk penyandang Kangker,Serta Kegiatan Pelayanan/Service.
1.6.2 Ruang Lingkup Perancangan
Ruang lingkup perancangan menjelaskan tentang isi dari perancangan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi kangker, di Kota Yogyakarta yaitu sebagai berikut :
a. Deskripsi secara umum maupun deskripsi secara khusus yang berkaitan dengan kegiatan, teknologi, studi bentuk, permasalahan spesifikasi desain Tentang perancangan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi kangker, di Kota Yogyakarta.
b. Program-program arsitektural yang meliputi perilaku pengguna, kebutuhanruang, studi fasilitas, studi ruang, sistem utilitas, sistem struktur Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta.
c. Kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang dominan dan penekanan pada desain, mulai dari terminologi, uraian penekanan desain, dan penerapan konsep Pada Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta.
1.7 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini berfungsi sebagai panduan dalam mengorganisir dan menyusun informasi secara terstruktur, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami isi dari tugas akhir tersebut. Dalam Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A) ini menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:
a. Bagian Awal LP3A
Dalam bagian awal memuat halaman sampul depan, halaman judul, halaman persetujuan dosen pembimbing, halaman pengesahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar tabel, halaman daftar gambar dan daftar halaman Lampiran.
b. Bagian Utama LP3A
c. Di bagian Utama Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur terbagi atas bab dan sub bab, diantaranya:
Bab I Pendahuluan
a. Bab ini terdiri dari latar belakang, tujuan pembahasan, manfaat pembahasan, metode pembahasan, ruang lingkup pembahasan,sistematika penulisan dan alur pikir.
Bab II Tinjauan Literatur Rumah Sakit Dan Terapi Rehabilitasi Kangker Di Yogyakarta Bab tinjauan umum ini meliputi :
a. Telaah penelitian yang berisi tentang hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan Yang Berisi Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta
b. Landasan teori yang berisi tentang Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitas Kangker di Yogyakarta
c. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan perancangan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitas Kangker di Yogyakarta
Bab III Studi Banding
Dalam bab ini, penulis akan melalukan studi banding ke dua tempat yang identik dengan apa yang akan menjadi objek tugas akhir yaitu Rumah Sakit Kanker Dharmais (Jakarta) dan Rumah Sakit Eka Hospital (Tangerang dan Jakarta). Dalam studi banding ini akan dilakukan pengamatan terkait lokasi,struktur organisasi, data pengguna, fasilitas yang ada, kegiatan dan hal teknis terkait bangunan. Setelah melakukan pendataan akan dianalisamenjadi hasil studi banding berupa matrik studi banding dan Kesimpulan studi banding.
Bab IV Tinjauan Khusus Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Semarang Bab ini terdiri dari dua bagian yaitu tinjauan khusus wilayah dimana Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta dari tugas akhir ini akan rancang dan tinjauan khusus dimana Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta terkait keberadaan yang identik dengan tugas akhir yang berada wilayah Yogyakarta.
Bab V Kesimpulan, Batasan, Anggapan
Bab ini terdiri dari tiga bagian utama: kesimpulan, batasan, dan anggapan. Kesimpulan merupakan ringkasan dari hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, yang menjadi bagian penting dalam Laporan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (LP3A).
Selain itu, kesimpulan juga memiliki batasan yang berkaitan dengan objek penelitian LP3A itu sendiri. Batasan ini membatasi cakupan laporan dan penelitian. Kesimpulan sering kali dibuat berdasarkan anggapan tertentu, yaitu asumsi yang didasarkan pada pengetahuan dan data yang tersedia, yang mempengaruhi arah analisis dan hasil laporan.
Bab VI Pendekatan Konsep Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur
Bab ini terdiri dari lima pendekatan yaitu Pendekatan aspek dasar Pendekatan dasar perencanaan, Pendekatan sistem utilitas, Pendekatan sistem struktur bangunan dan Pendekatan Lokasi Mengenai Object Tugas Akhir Rumah sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta.
Bab VII Program Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur
Bab ini terdiri dari enam bagian yaitu Konsep perencanaan dan perancangan, Program ruang, Tapak terpilih, Perhitungan luas tapak,Sistem struktur bangunan dan Sistem kinerja Mengenai Object Tugas Akhir Rumah sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta.
C.Bagian Akhir Tugas Akhir
Bagian akhir dari Tugas Akhir marupakan bagian yang tak kalah yang berisikan tentang daftar pustaka dan daftar lampiran. Daftar pustaka mencantumkan semua sumber referensi yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir, sementara daftar lampiran berisi semua materi tambahan seperti tabel, grafik, atau dokumen pendukung yang tidak dimasukkan dalam teks utama tetapi relevan dengan penelitian. Kedua bagian ini memberikan kepercayaan pada pembaca bahwa penulisan Tugas Akhir didukung oleh sumber yang valid dan dapat diakses untuk informasi lebih lanju
1.8 Alur Pikir
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1 Pengertian Judul
Adapun uraian mengenai judul “Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker di Yogyakarta”
2.1.1 Pengertian Rumah Sakit
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang mengadakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang meluangkan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.
Sedangkan definisi rumah sakit menurut keterangan dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1204/Menkes/SK/X/2004 mengenai Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, ditetapkan bahwa Rumah sakit adalah sarana pelayanan kesehatan, lokasi berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, atau bisa menjadi lokasi penularan penyakit serta memungkinkan terjadinya perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan.
2.1.2 Pengertian Terapi Rehabilitasi
Terapi rehabilitasi adalah proses pemulihan yang bertujuan untuk mengembalikan kemampuan fisik, mental, sosial, dan ekonomi seseorang setelah mengalami cedera, penyakit, atau kondisi medis tertentu. Rehabilitasi ini mencakup berbagai jenis terapi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, seperti terapi fisik, terapi okupasi, dan terapi psikososia.
2.1.3 Pengertian Kangker
Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal yang tidak terkendali di dalam tubuh. Sel-sel ini dapat merusak jaringan sehat di sekitarnya dan menyebar ke bagian tubuh lainnya Kanker dapat terjadi di hampir semua bagian tubuh dan memiliki banyak jenis, seperti kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker darah (leukemia).
2.1.4 Pengertian Rumah Sakit Kangker
Kementerian Kesehatan RI: Rumah sakit kanker adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, menyediakan layanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat khusus untuk pasien kanker.
WHO (World Health Organization): Rumah sakit kanker adalah bagian integral dari organisasi sosial dan kesehatan yang menyediakan pelayanan kuratif dan preventif untuk pasien kanker, serta berperan dalam penelitian dan pengembangan teknologi Kesehatan.
2.1.5 Pengertian Terapi Rehabilitasi Kangker
Kamus Kedokteran Dorland: Terapi Rehabilitasi adalah pemulihan ke bentuk atau fungsi yang normal setelah terjadi luka atau sakit, atau pemulihan pasien yang sakit atau cedera pada tingkat fungsional optimal di rumah dan masyarakat, dalam hubungan dengan aktivitas fisik, psikososial, kejuruan, dan rekreasi.
2.1.6 Pengertian Yogyakarta
Yogyakarta, sering disebut sebagai "Kota Pelajar," adalah pusat pendidikan di Indonesia dengan berbagai universitas dan lembaga pendidikan tinggi yang terkemuka, seperti Universitas Gadjah Mada. Selain itu, Yogyakarta juga dikenal sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang memiliki status khusus karena adanya Kesultanan Yogyakarta yang masih aktif dan berperan sebagai Gubernur. Status istimewa ini memberikan hak-hak budaya dan administratif tertentu yang menjadikan Yogyakarta unik dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia.
2.1.7 Kesimpulan Judul
Rumah sakit ini menawarkan Fasilitas Lengkap dalam penanganan kanker dengan tidak hanya fokus pada pengobatan medis, tetapi juga menyediakan layanan terapi dan rehabilitasi yang Mmenuhin Kebutuhan Pasien Kangker . Fasilitas ini mencakup terapi fisik untuk memulihkan mobilitas dan fungsi tubuh serta terapi psikologis dan konseling untuk mendukung pemulihan mental dan emosional pasien. Dengan demikian, rumah sakit ini berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup pasien secara menyeluruh, membedakannya dari rumah sakit kanker lain yang umumnya hanya memusatkan perhatian pada aspek medis.
2.2 Tinjauan Umum Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker 2.2.1 Jenis Jenis Rumah sakit
Di Ada tiga macam rumah sakit di Indonesia: rumah sakit berdasarkan kepemilikan, rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan, dan rumah sakit berdasarkan kelas. Tiga jenis rumah sakit berbeda diidentifikasi berdasarkan kepemilikan, yaitu adalah:
a. Rumah Sakit Pemerintah RS Pusat RS Provinsi, RS Kabupaten),RS BUMN/ABRI danRS Swasta
b. RS Umum, RS Jiwa, RS Khusus c. RS kelas A, B, C dan RS kelas D
Bangunan dan prasarana Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada Pasal 12 harus memenuhi persyaratan tata bangunan dan lingkungan serta persyaratan keandalan bangunan dan prasarana Rumah Sakit.Menurut UU 44 tahun 2010 rumah sakit kanker merupkan jenis Rumah Sakit Khusus.
Gambar 2.1. Data rekap jenis dan jumlah rumah sakit khusus Sumber: sirs.kemkes.go.id
Di Indonesia, hanya terdapat 5 rumah sakit Khusus kanker yang terdaftar Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan yaitu:
a. RS. kanker Dharmais, Jakarta Barat, DKI Jakarta.
b. RS. MRCC Siloam, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
c. RS. Kanker FUDA, Jakarta Utara, DKI Jakarta.
d. Primaya Hospital, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
e. Mayapada Hospital Oncology Center, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
2.2.2 Klasifikasi Rumah sakit
Rumah sakit umum dan rumah sakit khusus adalah dua kategori rumah sakit yang dipisahkan berdasarkan klasifikasi umum. Rumah sakit umum adalah fasilitas yang menawarkan perawatan medis untuk semua spesialisasi dan penyakit. Menurut disiplin ilmu, kelompok umur, organ, atau jenis penyakit, rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan primer pada subjek atau jenis penyakit tertentu, misalnya rumah sakit kanker.
Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020, antara lain: Rumah Sakit Khusus terdiri dari Rumah Sakit Khusus kelas A,B,C (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 pasal 19 Tahun 2020), hal tersebut dapat dibedakan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan.
Berikut antara lain klasifikasi Rumah sakit Khusus
a. Rumah Sakit khusus kelas A memiliki jumlah tempat tidur paling sedikit 100 (seratus) buah tempat tidur.
b. Rumah Sakit khusus kelas B memiliki jumlah tempat tidur paling sedikit 75 (tujuh puluh lima) buah tempat tidur.
c. Rumah Sakit khusus kelas C memiliki jumlah tempat tidur paling sedikit 25 (dua puluh lima) buah tempat tidur.
Berdasarkan penawarannya, infrastruktur, karyawan, peralatan, manajemen, dan administrasi, rumah sakit kanker dapat dikategorikan. Berikut persyaratan rumah sakit khusus kanker kelas A dan B Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/2010:
1.Kriteria Klasifikasi Rumah Sakit Khusus Kanker Berikut dibawah merupakan tabel jenis Kegiatan pelayanan pada rumah sakit Yang dibedakan menjadi 5 Jenis yaitu:
A. Kegiatan Pelayanan Medik
(Tabel 2.2 Jenis Pelayanan Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/2010) Pelayanan medik khusus kanker mencakup perawatan intensif dan spesifik untuk pasien kanker, termasuk konsultasi dengan onkolog, pemeriksaan diagnostik seperti biopsi dan pencitraan, serta terapi seperti kemoterapi, radioterapi, dan imunoterapi. Selain itu, layanan ini juga melibatkan perawatan paliatif, dukungan psikososial, dan program rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
B. Kegiatan Pelayanan Medis
(Tabel Jenis 2.3 Pelayanan Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/2010) Pelayanan medis adalah tindakan oleh profesional kesehatan untuk mendiagnosis, merawat, dan memantau kondisi pasien, termasuk konsultasi dokter, pemeriksaan fisik, terapi, dan perawatan darurat serta lanjutan.
C. Kegiatan Pelayanan Penunjang Medis
(Tabel 2.4 Jenis Pelayanan Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/201 Pelayanan penunjang medis di rumah sakit mencakup laboratorium untuk tes diagnostik, radiologi untuk pencitraan medis, farmasi untuk penyediaan dan pengelolaan obat, fisioterapi untuk rehabilitasi fisik, gizi untuk perencanaan diet, dan elektromedik untuk pemeriksaan fungsi jantung, otak, dan otot.
D. Kegiatan Pelayanan Non Medis
(Tabel 2.5 Jenis Pelayanan Non Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/201 Pelayan Non Medis adalah staf yang mendukung operasional rumah sakit tanpa terlibat langsung dalam perawatan pasien. Tugas mereka mencakup administrasi, kebersihan, keamanan, logistik, serta layanan pendukung lainnya yang penting untuk menjaga kelancaran fasilitas kesehatan.
E.Kegiatan Pelayanan Keperawatan
(Tabel 2.5 Jenis Pelayanan Non Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/201 Pelayanan keperawatan adalah layanan kesehatan yang diberikan oleh perawat, meliputi perawatan fisik, pemantauan kesehatan, pemberian obat, serta edukasi untuk mendukung pemulihan dan peningkatan kesehatan pasien.
2. Tabel Kriteria Fasilitas Medis Rumah Sakit
(Tabel 2.5 Jenis Pelayanan Non Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/201
Kriteria Fasilitas Medis Rumah Sakit 1.Fasilitas Medis Utama
a) Ruang Rawat Jalan
Ruang Rawat Jalan di Rumah Sakit adalah area di mana pasien menerima perawatan medis tanpa perlu menjalani rawat inap. Di Rumah Sakit Kanker, ruang ini biasanya digunakan untuk berbagai keperluan seperti konsultasi dengan dokter spesialis, pemeriksaan medis, terapi, dan pengobatan yang tidak memerlukan observasi 24 jam.
b) Ruang Rawat Inap
Ruang rawat inap di Rumah Sakit Kanker menyediakan perawatan intensif untuk pasien setelah prosedur medis atau perawatan kanker, termasuk kemoterapi dan bedah. Fasilitas ini menawarkan pemantauan terus-menerus, manajemen nyeri, dan dukungan medis untuk pemulihan pasien.
c) Ruang Gawat Darurat
Fungsi ruang IGD di rumah sakit adalah memberikan penanganan cepat untuk kondisi medis darurat dan kritis, termasuk evaluasi, stabilisasi, dan perawatan awal sebelum pasien dipindahkan jika perlu.
d) Ruang Perawatan Intensif
Ruang Perawatan Intensif, atau Intensive Care Unit (ICU), adalah bagian dari rumah sakit yang dikhususkan untuk merawat pasien dengan kondisi kritis yang memerlukan pengawasan dan perawatan intensif secara terus-menerus.
Ruang Perwatan Intensif Teridiri dari:
• Ruang ICU (Intensive Care Unit) adalah unit perawatan intensif untuk pasien dengan kondisi kritis, dilengkapi peralatan medis canggih dan dipantau 24 jam oleh tim medis.
Pasien di ICU sering mengalami kondisi serius seperti kecelakaan berat, pasca operasi besar, infeksi berat, serangan jantung, atau gagal organ.
• Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) adalah unit perawatan intensif khusus untuk anak-anak yang membutuhkan pengawasan dan perawatan medis intensif. Di sini, pasien anak yang mengalami kondisi kritis atau komplikasi serius mendapatkan perawatan 24 jam dengan dukungan tim medis terampil dan peralatan canggih.
• Fungsi ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) adalah memberikan perawatan intensif kepada bayi baru lahir yang mengalami kondisi kritis atau komplikasi medis.
NICU dilengkapi dengan peralatan khusus dan dipantau 24 jam untuk menangani masalah kesehatan seperti prematuritas, gangguan pernapasan, atau kelainan bawaan.
e) Ruang Farmasi
Fungsi ruang farmasi di rumah sakit adalah menyediakan, menyimpan, dan mendistribusikan obat-obatan serta memberikan konsultasi tentang penggunaan obat yang aman dan efektif kepada tim medis dan pasien.
f) Ruang Operasi
Ruang operasi di rumah sakit adalah area khusus di mana prosedur bedah dilakukan, dilengkapi dengan peralatan sterilisasi dan medis canggih. Ruang ini dirancang untuk mendukung tim bedah dalam melakukan operasi dengan aman dan efisien.
g) Ruang Radioterapi
Ruang radioterapi adalah area di rumah sakit yang digunakan untuk memberikan perawatan kanker dengan radiasi. Ruang ini dilengkapi dengan mesin radioterapi.
h) Ruang CSSD
Ruang CSSD (Central Sterile Supply Department) adalah bagian penting dari rumah sakit yang bertanggung jawab atas pengelolaan, sterilisasi, dan distribusi peralatan medis.
i) Ruang Laboratorium
Ruang laboratorium di rumah sakit memiliki fungsi yang sangat penting dalam mendukung diagnosis, pengobatan, dan pemantauan kondisi kesehatan pasien.
j) Ruang Radiologi
Fungsi ruang radiologi adalah untuk melakukan pemeriksaan pencitraan medis, seperti rontgen, CT scan, MRI, dan ultrasonografi, guna membantu diagnosis dan pemantauan kondisi kesehatan pasien. Ruang ini dilengkapi dengan peralatan canggih untuk menghasilkan gambar tubuh yang membantu dokter dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan.
k) Ruang Elektromedik diaknostik
Fungsi ruang elektromedik diagnostik adalah untuk melakukan pemeriksaan dan tes menggunakan perangkat elektronik medis, seperti elektrokardiogram (EKG), elektroensefalogram (EEG), dan elektromiogram (EMG), guna mendiagnosis dan memantau gangguan fungsi jantung, otak, dan otot.
l) Ruang rehabilitasi medik
fasilitas di rumah sakit atau klinik yang digunakan untuk pemulihan pasien setelah mengalami penyakit, cedera, atau operasi. Di ruang ini, pasien menerima terapi fisik, okupasi, atau terapi lainnya yang bertujuan mengembalikan fungsi tubuh dan meningkatkan kualitas hidup.
m) Ruang registrasi kanker
Tempat untuk mendata dan mencatat informasi pasien kanker guna mendukung pengelolaan dan perawatan secara terstruktur.
n) Ruang paliatif dalam rumah sakit
area khusus yang menyediakan perawatan bagi pasien dengan penyakit serius atau terminal.
Fokusnya adalah mengelola gejala, mengurangi rasa sakit, serta memberikan dukungan fisik, emosional, dan spiritual untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Tim paliatif juga memberikan dukungan kepada keluarga pasien.
o) Ruang rekam medis di rumah sakit
area yang menyimpan dan mengelola semua informasi medis pasien, baik dalam bentuk fisik maupun elektronik, untuk memastikan dokumentasi yang akurat dan aman.
p) Bank darah rumah sakit
fasilitas yang mengumpulkan, menyimpan, dan mendistribusikan darah dan produk darah untuk kebutuhan pasien. Fasilitas ini memastikan bahwa darah yang disediakan aman, teruji, dan tersedia sesuai dengan kebutuhan medis rumah sakit.
2.Fasilitas Penunjang Medis di antara lain:
a. Laundry/Linen.
b. Kamar jenazah.
c. Ruang pemeliharaan sarana-prasarana dan alat.
d. kesehatan RS (PSRS).
e. Ruang kantor dan administrasi.
f. Ambulans.
3.Fasilitas Non medis
a. Pengelolaan air bersih, limbah dan sanitasi.
b. Penanggulangan kebakaran.
c. Pengelolaan gas medik.
d. Pengelolaan sampah.
3. Tabel Kriteria Ketenaga Kerjaan Rumah Sakit Kangker
Tabel dibawah merupakan tabel jenis ketenagaan yang ada pada rumah sakit kanker kelasA dan B, yang bersumber dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor340/Menkes/Per/II/2010, yaitu :
(Tabel 2.6 Jenis Pelayanan Non Medis)
(Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/Menkes/Per/II/201 Jenis Ketenagaan Medis Antara Lain
1 Kelompok Tenaga Medis Terdiri dari:
a. Dokter Spesialis Seusai Kekhususan b. Dokter Subspesialis
c. Dokter
d. Dokter Spesialis (Spesialis Lain, Spesialis dasar, Spesialis Penunjang) 2. Kelompok Tenaga Farmasian
a. Apoteker
b. Tenaga Tkenis Kefarmasian 3.Kelompok Tenaga Keperawatan 4.Kelompok Tenaga Kesehatan Lainnya
a. Keteknisan Medis b. Psikologi Klinis c. Gizi
d. Keterapian Fisik e. Teknik Biomedik
f. Tenaga Kesehatan Lingkungan , Masyarakat dan Yang Lainnya.
5. Tenaga Non Kesehatan.
2.2.3 Pelaku Kegiatan Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker
Rumah sakit khusus kanker dan Terapi Rehabilitasi Kangker memiliki dua bagian yaitu pengguna dan instalasi layanan. Pasien, mitra pasien, pengunjung pasien, petugas medis dan paramedis, serta karyawan non-medis, semuanya dianggap sebagai komponen pengguna.
Beberapa unit instalasi yang komponennya sama dengan rumah sakit umum atau rumah sakit kanker termasuk dalam komponen instalasi pelayanan.
A.Komponen berdasarkan pengguna adalah:
1. Pasien.
Berdasarkan pada rentang umurnya maka pasien dapat digolongkan menjadi dua jenis, antara lain:
a. Pasien anak-anak Berumur dari 0 – 13 tahun.
b. Pasien dewasa Berumur 13 tahun keatas.
2. Pendamping Pasien.
Pendamping pasien merupakan orang menemani pasien ketika melakukan tindakan perawatan di rumah sakit, baik itu dari pihak keluarga atau pun orang terdekat.
3. Pengunjung Pa©sien.
Pengunjung pasien yaitu orang yang melihat dan menjenguk pasien di rumah sakit tempat dia menjalani tindakan dan proses penyembuhan (rawat inap), biasanya mereka adalah pihak yang datang dari keluarga maupun kerabat pasien atau orang-orang terdekatnya.
4. Petugas Medik & Paramedik
Dokter, perawat, dan profesional medis lainnya yang bekerja di rumah sakit dianggap sebagai petugas medis dan paramedis.
5. Staf atau Petugas Non-Medik
Di lingkungan rumah sakit, tenaga atau petugas non medis mempunyai tanggung jawab memberikan pelayanan non medis kepada pasien, seperti :
a. Direktur, wakil direktur, kepala instalasi, atau kepala unit rumah sakit.
b. Pelayanan administratif harus disediakan oleh sektor manajemen atau administrasi.
c. Departemen pelayanan dan pengunjung, yaitu departemen yang bertugas mengawasi semua operasi atau layanan yang disediakan oleh rumah sakit.
2.3 Tinjauan Umum Persyaratan dan Standar Teknis Bangunan Rumah Sakit Adapun persyaratan Teknis banunan Rumah Sakit menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016, tentang persyaratan teknis bangunan dan prasarana rumah sakit antara lain:
A. Lokasi Rumah Sakit 1. Geografis
a. Kontur tanah mempengaruhi perencanaan struktur, arsitektur, dan mekanikal elektrikal rumah sakit. Selain itu kontur tanah juga berpengaruh terhadap perencanaan sistem drainase, kondisi jalan terhadap tapak bangunan dan lain- lain.
b. Lokasi rumah sakit sebagai berikut:
Berada pada lingkungan dengan udara bersih danlingkungan yang tenang, bebas dari kebisingan yang tidak semestinya dan polusi atmosfer yang datang dari berbagai sumber, tidak di tepi lereng,tidak dekat kaki gunung yang rawan terhadap tanah longsor, idak dekat anak sungai, sungai atau badan air yang dapatt mengikis pondasi, tidak di atas atau dekat dengan jalur patahan aktif, tidak di daerah rawan tsunami, tidak di daerah rawan banjir, tidak dalam zona topan, tidak di daerah rawan badai, tidak dekat stasiun pemancar, tidak berada pada daerah hantaran udara tegangan tinggi.
2. Peruntukan Lokasi
Bangunan rumah sakit harus diselenggarakan pada lokasi yang sesuai dengan peruntukannya yang diatur dalam ketentuan tata ruangdan tata bangunan daerah setempat.
3. Aksesibilitas untuk Jalur Transportasi dan Komunikasi
Lokasi harus mudah dijangkau oleh masyarakat atau dekat ke jalan raya dan tersedia infrastruktur dan fasilitas dengan mudah, yaitu tersedia transportasi umum, pedestrian, jalur-jalur yang aksesibel untuk disabel.
4. Fasilitas Parkir
Perancangan dan perencanaan prasarana parkir di RS sangat penting,karena prasarana parkir dan jalan masuk kendaraan akan menyita banyak lahan. Dengan asumsi perhitungan kebutuhan lahan parkir pada RS idealnya adalah 37,5m2 s/d 50m2 per tempat tidur (sudah termasuk jalur sirkulasi kendaraan)
5. Utilitas Publik
Rumah sakit harus memastikan ketersediaan air bersih, pembuangan air kotor/limbah, listrik, dan jalur telepon selama 24 jam.
6. Fasilitas Pengelolaan Kesehatan Lingkungan
Setiap rumah sakit harus dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan kesehatan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
B. Bentuk Bangunan
1. Bentuk denah bangunan rumah sakit sedapat mungkin simetris guna mengantisipasi kerusakan yang diakibatkan oleh gempa.
2. Massa bangunan rumah sakit harus mempertimbangkan sirkulasi udara dan pencahayaan, kenyamanan dan keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan.
3. Perencanaan bangunan rumah sakit harus mengikuti Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), yang meliputi persyaratan
4. Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), Koefisien Daerah Hijau (KDH), Garis Sepadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Pagar (GSP).
5. Penentuan pola pembangunan rumah sakit baik secara vertikal maupun horisontal, disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang diinginkan rumah sakit (health needs), kebudayaan daerah setempat (cultures), kondisi alam daerah setempat (climate), lahan yang tersedia (sites) dan kondisi keuangan manajemen rumah sakit (budget).
(Gambar 2.1Bentuk Teknis dan Massa Bangunan Rumah Sakit) (Sumber Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor 56 Tahun 2014.)
C. Struktur Bangunan
1. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan dan dilaksanakandengan sebaik mungkin agar kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur bangunan dengan mempertimbangkan fungsi bangunanrumah sakit.
2. Kemampuan memikul beban baik beban tetap maupun beban sementara yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur harus diperhitungkan.
3. Penentuan mengenai jenis, intensitas dan cara bekerjanya beban harus sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
4. Struktur bangunan rumah sakit harus direncanakan terhadap pengaruh gempa sesuai dengan standar teknis yang berlaku.
5. Pada bangunan rumah sakit, apabila terjadi keruntuhan, kondisi strukturnya harus dapat memungkinkan pengguna bangunan menyelamatkan diri.
6. Untuk menentukan tingkat keandalan struktur bangunan, harus dilakukan pemeriksaan keandalan bangunan secara berkala sesuai dengan Pedoman Teknis atau standar yang berlaku. dan harus dilakukan atau didampingi oleh ahli yang memiliki sertifikasi sesuai.
D. Zonasi
Zonasi ruang adalah pembagian atau pengelompokan ruangan- ruangan berdasarkan kesamaan karakteristik fungsi kegiatan untuk tujuan tertentu. Pengkategorian pembagian area atau zonasi rumah sakit terdiri atas zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit, zonasi berdasarkan privasi dan zonasi berdasarkan pelayanan.
A. Zonasi berdasarkan tingkat risiko terjadinya penularan penyakit terdiri dari:
1. area dengan risiko rendah, diantaranya yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi, ruang pertemuan, ruang arsip/rekam medis.
2. area dengan risiko sedang, diantaranya yaitu ruang rawatinap penyakit tidak menular, ruang rawat jalan.
3. area dengan risiko tinggi, diantaranya yaitu ruang ruang gawat darurat, ruang rawat inap penyakit menular (isolasi infeksi), ruang rawat intensif, ruang bersalin, laboratorium, pemulasaraan jenazah, ruang radiodiagnostik.
B. Zonasi berdasarkan privasi kegiatan terdiri dari:
1. area publik, yaitu area dalam lingkungan rumah sakit yang dapat diakses langsung oleh umum, diantaranya yaitu ruang rawat jalan, ruang gawat darurat, ruang farmasi, ruang radiologi, laboratorium.
2. area semi publik, yaitu area dalam lingkungan rumah sakit yang dapat diakses secara terbatas oleh umum, diantaranya yaitu ruang rawat inap, ruang diagnostik, ruang hemodialisa.
3. area privat, yaitu area yang dibatasi bagi pengunjung rumah sakit, diantaranya yaitu seperti ruang perawatan intensif, ruang operasi, ruang kebidanan, ruang sterilisasi, ruangan- ruangan petugas.
C. Zonasi berdasarkan pelayanan terdiri dari:
a. Zona pelayanan medik dan perawatan, diantaranya yaitu ruang rawat jalan, ruang gawat darurat, ruang perawatan intensif, ruang operasi, ruang kebidanan, ruang rawat inap, ruang hemodialisa. Perletakan zona pelayanan medik danperawatan harus bebas dari kebisingan.
b. Zona penunjang dan operasional, diantaranya yaitu ruang farmasi, ruang radiologi, laboratorium, ruang sterilisasi.
c. Zona penunjang umum dan administrasi, diantaranya yaitu ruang kesekretariatan dan administrasi, ruang pertemuan, ruang rekam medis.
2.3.1 Tinjauan Arsitektural Bangunan Rumah Sakit tan Terapi Rehabilitasi Kangker 1.Penampilan Bangunan Gedung
Pemilihan Bentuk dan Materialyang digunakan Harus memperhatikan fungsi ruang,penerapan kriteria bangunan kemudahan konstruksi dan pemeliharaan.
2.Tata Ruang dalam
a. Pemanfaatan ruang dalam bangunan,harus efisien dan efektif sesuai fungsi ruang b. Tata Letak ruang dalam bangunan harus memenuhi syarat zonasi berdasarkan tingkat
risiko penularan penyakit zonasi berdasarkat tingkat resiko penularan penyakit,zonasi berdasarkan tingkat resiko penuralan privasi, dan Zonasi berdasarkan pelayanan ataun kedekatan hubungan fungsi antar ruang Pelayanan.
c. Alur kegiatan pasien , petugas pengunjung dan barang (bersih dan kotor) harus direncanakan dengan jelas dalam rangka pengendalian dan pencegahan infeksi.
d. Tata Letak Furnitur / Perabot dan partisi interior tidak boleh menghalangi / membatasi bukaan jendela / pintu untuk aliran udara dan cahaya serta sirkulasi aktifitas pengguna
tata letak furnitur / perabot dikaitkan dengan posisi bukaan ventilasi juga tidak boleh memungkinkan terjadinya aliran udara dari pasien ke Petugas.
(Gambar 2.2 Layout Sirkulasi Udara Bangunan Rumah Sakit) (Sumber Permenkes Indonesia Nomor 40 Tahun 2022.)
e. Pemanfaatan Ruang dalam Mengacu pada kenyamanan ruang gerak dan aspek kemudahan yang menerapkan desain universal sesuai peraturan perundang terkait letak bangunan Gedung.
f. Letak ruang fungsi pelayanan kritis dan Tindakan sebaik baiknya tidak lebih dari lantai empat terutama daerah yang rawan terhadap penerapan berbagai berbagai perkembangan arsitektur.
3. Peruntukan dan Intensitas Bangunan Gedung
1. Intensitas Bangunan Gedung Rumah Sakit merupakan pemenuhan terhadap Kepadatan dan Ketinggian Bangunan Gedung Meliputi:
a. Koefisien Dasar Bangunan (KDB) b. Koefisien Lantai Bangunan (KLB) c. Ketinggian Bangunan Gedung (KBG) d. Koefisen Daerah Hijau (KDH)
e. Koefisien Tapak Basement (KTB)
2. Jarak Bebas Bangunan Gedung Rumah Sakit Meliputi:
a. Garis Sepadan Bangunan (GSB) dan Garis Sepadan Lainnya (jalan,Sungai,Pantai,dll)
b. Jarak Bangunan Gedung dengan Jarak Persilangan dan Jarak antar bangunana lainnya.
c. Setiap Bangunan Gedung Rumah Sakit Yang didirakan Harus mengikuti ketentuan peruntukan dan intensitas bangunan Gedung yang di tetapkan dalam RDTR /RTBL yang disusun oleh Pemerintah daerah / Kabupaten Kota.
4. Pola Hubungan Antar Ruang Ruang di Rumah Sakit
(Gambar 2.3 Pola Hubungan Ruang Bangunan Rumah Sakit) (Sumber Permenkes Indonesia Nomor 40 Tahun 2022.) Pola Hubungan anatar Ruang di Rumah Sakit adalah Sebagai Berikut:
a. Blok-blok bangunan atau area area rumah sakit dikelompokkan menjadi 3 Zonasi,Yaitu Zona merah ( Area Pelayanan Pasien Penyakit infeksi Energing) Zona Kuning (Area Pelayanan Pasien Umum), dan Zona Hijau (area penunjang dan manajemen).
b. Dalam Rangka meminimalisir resiko terjadinya penularan penyakit infeksi energing di rumah sakit,perlu dilakukan pemngaturan atau penataan Kembali blok-blok bangunan sesuai zonasi
c. Rumah sakit menyediakan area/ruang triase untuk melakukan skirining pasien masuk sebelum sebelum dilaksanakan pelayanan.
d. Pasien yang datang dengan rujukan PIE dapat langsung menuju ruang pelayanan PIE melalui akses khusus PIE
e. Sementara beberapa ruang radiologi , ruang jenazah ,laundry dan ruang lainnya terkait pelayanan PIE disarankan terpisah. Untuk ruang ruang yang digunakan Bersama diatur sesuai kaidah pencegahan dan penegndalian infeksi.
f. Terhadap blok bangunan yang ditata sesuai warna zoan ,maka dilakukan penyesuain layout /redesain ,baik membangun baru ,atau memanfaatkan bangunan eksisting (refungsi) dengan merenovasi / merehabilitasi bangunan tersebut sehingga memenuhi persyaratan bangunana dan fungsinya.
2.3.2 .Tata Sirkulasi Rumah Sakit dan Terapi Rehabilitas Kangker A.Tata Sirkulasi Internal Rumah Sakit
Sistem sirkulasi internal merujuk pada pengaturan hubungan antara fungsi
ruangan yang saling terkait dalam bangunan. Ini melibatkan beberapa fasilitas sirkulasi, termasuk:
a. Selasar atau koridor sebagai penghubung antara ruangan.
b. Tangga, Lift maupun Ramp sebagai penghubung antara lantai dan juga digunakan sebagai akses vertikal.
Kualitas sirkulasi dapat dibedakan dalam beberapa kategori, yaitu:
a. Sirkulasi umum, yang digunakan oleh pengunjung umum dengan berbagai keperluan di rumah sakit. Ruang kantor dan administrasi juga termasuk dalam b. sirkulasi umum karena memiliki karakteristik yang serupa.
c. Sirkulasi medis, yang digunakan oleh staf medis rumah sakit untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan kesehatan.
d. Sirkulasi barang dan layanan, yang digunakan untuk distribusi, pengiriman barang atau logistik, dan fungsi pemeliharaan.
Perpindahan pasien dari satu area ke area lainnya dalam rumah sakit sangat penting, dan untuk itu diperlukan sirkulasi yang baik. Beberapa kondisi yang harus diperhatikan dalam hal sirkulasi adalah sebagai berikut:
a. Koridor yang digunakan untuk akses pasien yang menggunakan brankar atau tempat tidur serta peralatan harus memiliki lebar minimum 2,44 meter
b. Koridor yang tidak digunakan untuk akses tempat tidur, usungan, atau transportasi peralatan harus memiliki lebar 1,83 meter
c. Ramp atau lift harus disediakan untuk area bantuan medis dan perawatan pada bangunan bertingka.
d. Ramp harus disediakan sebagai akses masuk rumah sakit jika tinggi lantai dasarnya berbeda dengan bagian luar.
e. Kemiringan maksimal untuk ramp adalah 7 derajat. Lebar minimum ramp dengan tepi pengaman adalah 120 cm. Jika ada platform di ujung ramp, harus
memungkinkan kursi roda dan brankar untuk manuver, dengan panjang minimum 160 cm
B. Tata Sirkulasi Eksternal Rumah Sakit
Perencanaan sirkulasi di luar bangunan merupakan fokus utama. Sirkulasi eksternal rumah sakit dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a. Sirkulasi gawat darurat, yang memberikan akses langsung ke IGD. Sirkulasi ini ditandai dengan kecepatan dan tidak ada hambatan
b. Sirkulasi umum, yang memfasilitasi pengunjung umum dari luar menuju poliklinik,pusat diagnostik, atau kunjungan ke rawat inap
c. Sirkulasi staf, yang merupakan akses bagi karyawan medis dan non-medis ke zona d. aktivitas. Sirkulasi barang dan layanan, yang mencakup drop-off bahan di instalasi gizi, operasi pemeliharaan IPAL dan incinerator, serta sirkulasi kendaraan pemadamkebakaran.
Pada kondisi darurat atau keadaan luar biasa, keempat area drop-off tersebutdapat digunakan secara bersama-sama untuk menghindari antrian yang panjang. Prinsipsirkulasi eksternal adalah mengoptimalkan akses dari jalan utama. Sirkulasi eksternaldidukung oleh area parkir dan zona drop-off. Zona drop-off yang paling penting adalah area di mana pasien turun dari kendaraan pengangkut. Area ini direncanakan agar terlindung dari hujan dan panas, dengan pencahayaan yang memadai di malam hari dan dilengkapi dengan tanda-tanda yang jelas.
Terdapat empat zona drop-off yang terpisah, yaitu a. Drop-off untuk fasilitas kantor dan pendidikan.
b. Drop-off untuk fasilitas Gawat Darurat.
c. Drop-off untuk fasilitas Poliklinik.
d. Drop-off untuk fasilitas Rawat Inap.
e. Drop-off untuk fasilitas Layanan. Peraturan Permenkes Nomor 40 Tahun 2022 Tentang Arsitektural Bangunan Rumah Sakit
2.3.3 Desain Komponen Bangunan Rumah Sakit
Persyaratan Komponen bangunan rumah sakit yang perlu diperhatikan dalam perancangan bangunan adalah sebagai berikut (KEPMENKES RI No.40 2022 tentang Persyaratan desain komponen bangunan Rumah Sakit, meliputi:
1.Atap
a. Atap Harus Kuat,tidak Bocor,tahan lama dan tidak menjadi tempat perindukan serangga ,tikus dan Binatang penggannggu lainnya.
b. Atap dirancang tahan terhadap kecepatan angin 175-250 kph dalam area rawan topan c. Sistem drainase atap mempunyai kapasitas yang cukup dan dirawat dengan benar.
2. Langit-Langit
a. Langit langit Harus Kuat,Berwarna terang,dan mudah dibersihkan tidak mengandung unsur yang dapat membahayakan pasien tidak berjamur.
b. Rangka-rangka langit harus kuat.
c. Tinggi Langit Langit di ruangan Minimal 2.80 m dan tinggi di selasar (koridor) minimal 240 m
d. Tinggi Langit-langit di ruangan operasi minimal 3.00 m
e. Pada ruang operasi dan ruang perawatan intensif bahan dan penggantung langit-langit hrus kuat,tidak rontok saat terjadi bencana.
f. Pada tempat tempat yang membutuhkan Tingkat kebersihan ruangan tertentu maka lampu lampu penerangan ruangan dipasang dibenamkan pada plafond (recessed) 3. Dinding dan Partisi
a. Dinding harus Keras rata tidak berpori,kedap air tahan api tahan karat harus mudah dibersihkan,tahan cuaca dan tidak berjamur.
b. Warna dinding cerah dan tidak menyilaukan mata.
c. Khusus pada ruangan ruangan yang berkaitan dengan aktivitas dan pelayanan anak anak,pelapis ndinding dapat berupa gambar untuk meransang aktivitas anak.
d. Pada daerah yang dilalui pasien dindingnya harus dilengkapi pegangan rambat atau (handrail)
e. Yang menerus dengan ketinggian yang berkisar 80-100 cm dari permukaan lantai.pegangan harus mampu menahan beban orang dengan berat 75 kg yang berpegangan dengan satu tangan
f. Pegangan rambat harus terbuat dari bahan yang tahan api mudah dibersihkan dana memiliki lapisan permukaan non porosif.
g. Pada ruangan yang menggunakan peralatan x-ray maka dinding harus memenuhi persyaratan teknis proteksi radiasi sinar pengion.
h. Ruangan Yang mempunyai kebisingan tinggi anatara ruangan lain ruangan genset ,pompa chiller,ahu harus menggunakan bahan yang kedap suara.
4. Lantai
a. Lantai Harus terbuat dari bahan yang kuat,kedap air permukaan rata ,tidak licin ,warna terang dan mudah dibersihkan.
b. Tidak terbuat dari bahan yang memiliki lapisan permukaan dengan porositas yang tinggi yang dapat menyimpan debu.
c. Lantai berwarna cerah dan tidak menyilaukan.
d. Khusus untuk area perawatan pasien (area tenang) bahan lantai menggunakan yang tidak menimbulkan bunyi
e. Khusus ruang yang berinteraksi dengan bahan kimia dan mujdah terbakar ,mka bahan penutup lantai harus dari bahan mempunyai Tingkat ketahahan api(TKA)minimal 2 jam Tahan bahan kimia.
5. Pintu dan Jendela
a. Pintu utama pintu pintu yang dilaui brankar / tempat tidur pasien memiliki lebar bukaan Minimal 120 cm dan pintu pintu yang tidak menjadi tempat tidur pasien memiliki akses lebar Bukaan 90 cm
b. di daerah sekitar pintu masuk tidak boleh ada perbedaan ketinggian lantai dan hindari Adanyanya ram.
A .Pintu darurat
a. Setiap Bangunan Rumah Sakit yang bertingkat lebih dari 3 lantai harus dilengkapi dengan pintu darurat.
b. Lebar pintu darurat minimal 100 cm membuka kearah ruangan tangga penyelamatan (darurat)
c. Kecuali pada lantai Dasar membuka ke arah Luar (halaman )
d. Jarak anatar pintu darurat dalam satu blok bangunan Gedung maksimal 25 m dari segala arah.
6. Toilet/Kamar Mandi
a. Toilet dilengkapi dengan penanda yang jelas dan informatif untuk toilet penyandang disabilitas harus dilengkapi tanda simbol difabel pada bagian luar pintu.
b. Ruangan dalam toilet dipilih dari material bertekstur dan tidak licin.
c. Luas Rungan dalam toilet penyandang disabilitas paling sedikit memiliki ukuran 152.5 cm x 227.5 cm dengan mempertimbangkan ruang gerak pengguna kursi roda.
d. Lebar bersih pintu toilet paling sedikit 70cm kecuali untuk penyandang difabel 90cm e. Luas ruanga toilet umum palaing sedikit berukuran 80cm x 155 cm.
7. Koridor Selasar
a. Lebar Koridor dan selasar yang aksesbilitas untuk 2 (dua) tempat tidur pasien berpapasan adalah minimal 2.40 m.
b. Koridor dilengkapi dengan penanda atau petunjuk arah yang informatif dan mudah terlihat terutama menuju pintu keluar dan pintu keluar darurat/exit.
c. Koridor dilengkapi dengan pegangan rambat (Railing) paling sedikit pada salah satu sisi koridor.
2.4 Standart Teknis Ruang Fasilitas Unis Instalasi Rumah sakit dan Terapi Rehabilitasi Kangker.
Standar teknis ruang fasilitas untuk instalasi rumah sakit dan terapi rehabilitasi kanker mengacu pada peraturan kesehatan serta standar-standar yang ditetapkan oleh kementerian terkait di Indonesia, seperti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Peraturan Menteri Kesehatan.
Berikut adalah beberapa elemen penting yang perlu dipenuhi dalam perancangan ruang-ruang ini:
A. Ruang Operasi Utama
Pada ruang operasi, satu deret terdiri dari ruang-ruang perawatan dan ruang kerja. Ruang-ruang ini harus dekat dengan ruang operasi dan sebaiknya digabungkan langsung. Ruang operasi berbentuk segiempat, untuk memungkinkan putaran meja operasi ke semua arah, besarnya + 6,50 x 6,50 m, tinggi harus 3,00 m, untuk pengatur suhu dan instalasi + tingginya 0,70 m.
Ruang operasi diatur secara menyatu, agar fungsinya fleksibel untuk pengaturan awal/dasar diperlukan satu sistem meja operasi yang variabel dan dapat digerakkan, yang dipasang pada satu tumpuan yang permanen di tengah ruang operasi.
Penerangan alamiah ruang operasi yang secara psikologis menguntungkan seringkali tidak dicapai oleh pengaturan ruang.
(Gambar 2.4 Layout Ruang Operasi Utama Rumah Sakit) (Sumber : Neufert, Ernest, 2002: 214)
B. Standart Pencahayaan
Alat penerangan yang sering digunakan adalah lampu langit-langit yang dapat digerakkan.
Lampu Lampu tersebut terdiri dari lampu langit-langit yang dapat diputar, yang dilengkapi dengan suatu sinar tambahan dalam bentuk satu satelit yang kecil. Untuk satu cahaya utama terdapat 4 cahaya kecil tambahan. Lampu sorot sangat jarang digunakan. DIN 5035 memberikan 3 bagian standar untuk penerangan di rumah sakit.
(Gambar 2.5 Standart Pencahayanaan Rumah Sakit) (Sumber : Neufert, Ernest, 2002: 214)
C. Ruang Kantor Kesatuan Perawatan Normal
Ruang Kantor (Kesatuan Perawatan Normal). Pengaturan dan peralatan selalu dikoordinasikan berdasarkan kelangsungan kerja tertentu dan kondisi khusus dari bidang ahli.
(Gambar 2.6 Ruang Dinas Perawat dan Ruang Kerja Non Steril) (Sumber : Neufert, Ernest, 2002: 214
Ruang kerja Non-Steril Ruang ini harus dapat dijangkau dengan mudah oleh petugas tanpa harus melewati koridor penyeberangan. Setiap 8 posisi tempattidur harus terdapat satu ruang kerja non-steril. Alat pencucian dan pembersih anti bakteri, wastafel, pelat kerja dengan penerapan yang baik, lemari-lemari atau rak untuk kantung pakaian kotor kosong harus tersedia. Luas + 8 - 10 m2.
Ruang Dinas perawat
• harus terbuka menuju koridor, tempat tulis dan mungkin terletak di tengah,mengarah ke ruang perawatan pasien. Luas 6 m2.
Penataan Ruang
• Ruang-ruang ini harus dikombinasikan antara yang satu dengan lain karena terdapat kegiatan dan hubungan yang sibuk antara ruangan-ruangan tersebut. Ruangan ini harus berada di bagian tengah. Luas masing-masing ruangan tergantung pada bagian bidang ahli (16 - 18 m).Dapur Kecil Dapur ini merupakan pelengkap dari ruang istirahat. Di sini petugas sedapat mungkin diberikan kesempatan untuk menyiapkan makanan atau minuman dalam waktu istirahat yang singkat. Dapur harus berada di bagian tengah agar mudah menjangkau semua ruang perawatan dengan jalan singkat. Luas 8 - 10 m2.
D. Ruang dokter, Ruang Pemeriksaan dan Pengobatan
(Gambar 2.7 Penataan Ruang dokter, Ruang Pengobatan, Ruang Kerja Perawat dan Ruang Dinas menjadi Satu Kesatuan)
(Sumber: Neufert, Ernest, 2002: 222)
Ruang dokter, Ruang Pemeriksaan dan Pengobatan Ruang-ruang ini harus dikombinasikan antara yang satu dengan lain karena terdapat kegiatan dan hubungan yang sibuk antara ruangan- ruangan tersebut. Ruangan ini harus berada di bagian tengah. Luas masing-masing ruangan tergantung pada bagian bidang ahli (16 - 18 m)
Ruang Kerja Steril Obalobatan, alat-alat dan jarum suntik yang sangat diperlukan oleh bagian pemeliharaan medis disimpan di ruang ini. Selain itu instrumen-instrumen dan perkakas steril yang diperlukan untuk kegiatan sterilisasi sentral juga disimpan di sini. Luas 15 m2.
Kamar Mandi Pasien Harus terbuka pada ketiga sisinya dan hanya bak mandi yang merapat pada dinding dengan sandaran kepala yang sesuai dengan standar, sepertihalnya bakdengan tempatduduk, WC, dan wastafel untuk cuci tangan. Kamar mandi harus memiliki luas yang cukup sehingga pasien dapat diangkut dengan mudah oleh dua tenaga perawat dafi Bath fub.
Luas 15 m2
E. Penataan Ruang Kerja
Ruang Kantor (Kesatuan Perawatan Normal). Pengaturan dan peralatan selalu dikoordinasikan berdasarkan kelangsungan kerja tertentu dan kondisi khusus dari bidang ahli.
Ruang kerja Non-Steril Ruang ini harus dapat dijangkau dengan mudah oleh petugas tanpa harus melewati koridor penyeberangan. Setiap 8 posisitempattidur harus terdapat satu ruang kerja non-steril. Alat pencucian dan pembersih anti bakteri, wastafel, pelat kerja dengan penerapan yang baik, lemari-lemari atau rak untuk kantung pakaian kotor kosong harus tersedia. Luas + 8 - 10 m2.
(Gambar 2.8 Penataan Ruang dokter, Ruang Pengobatan, Ruang Kerja Perawat dan Ruang Dinas menjadi Satu Kesatuan
Sumber: Neufert, Ernest, 2002: 222) F. Penataan Ruang Rawat Pasien
Perawatan kelompok (tim) melibatkan sekelompok perawat (16-18 orang) yang bekerja secara mandiri dan bertanggung jawab untuk melaksanakan semua tugas perawatan bersama.
Tanggung jawab perawatan sepenuhnya berada di tangan tim perawat. Organisasi perawatan ini terdiri dari 4-6 kelompok perawatan yang berada di bawah pimpinan seorang suster bagian.
(Gambar 2.7 : Penataan Ruang rawat Pasien Sumber: Neufert, Ernst, 2002: 220)
Kelompok perawatan akan merupakan kelompok hirarki yang tidak berubah- ubah, dan merupakan suatu kelompok perawatan bagi pasien yang bersifat lebih pribadi sifatnya.
Perawatan Kamar Satu Orang Peningkatan rasa kurang nyaman atas perlakuan yang didapat pada perawatan stasiun, di USA,
G. Tipe Ruang Rawat Pasien
Sentra perawatan (Perawatan fungsional, Perawatan putaran) Di sini diserahkan tanggung jawab pada suatu tim-perawatan, fungsi - fungsi perawatan bersama untuk suatu kelompok- perawatan (16-18 orang). Tim Perawat menyelesaikan secara berdikari dan bertanggungjawab atas semua pekerjaan. Pertanggungjawaban atas perawatan bersama ini berada di pundak tim- perawat (karena itu juga merupakan perawatan tim). 4-6 kelompok perawat bertanggung jawab saling mengawasi, bahwa permintaan para pasien benar-benar dilaksanakan. Pembagian kerja dan kepemimpinan diatur secara hirarki dengan ketat. Kesemua kegiatan perawatan dasar, penanganan perawatan dan administrasi dilaksanakan di dalam lingkup stasiun atas pertanggunjawaban sendiri. Untuk permasalahan-permasalahan spesialisasi.
(Gambar 2.8 : Tipe Ruang rawat Pasien Sumber: Neufert, Ernst, 2002: 220)
F. Standart Ukuran Ruang Pasien Lemah Fisik
Tempat tinggal yang baik sangat penting artinya bagi orang yang cacat, karena ia melewatkan waktu yang lebih banyak di dalam ruangan tersebut. Bagi orang yang menggunakan kursi roda penting diperhatikan bidang- bidang bekerja yang dapat dilalui kereta.
(Gambar 2.9 : Standart Ukuran Ruang Untuk Pasien Cacat Fisik (Sumber: Neufert, Ernst, 2002: 222)
Untuk perputaran 180° kursi roda, diperlukan ruang berukuran 138 cm lebar dan 170-180 cm panjang. Menurut standar DIN 1802511, ruang perputaran 180° memerlukan 140 x 140 cm.
Kursi roda dapat bergerak di atas perlengkapan dengan ketinggian lebih dari 30 cm dari lantai.
Di area masuk rumah, tinggi pintu minimal 150 cm dan lebar 175 cm harus disediakan untuk akses kursi roda. Di garasi, ruang antara mobil dan gerbang harus 100-125 cm agar kursi roda bisa bergerak di belakang mobil. Pegangan tangan di kedua sisi tangga, dengan ukuran anak tangga 16 x 30 cm, serta bordes pada setiap dua anak tangga diperlukan untuk kenyamanan pengguna kursi roda.
G. Standart Ukuran Type Ruaang Kerja Perawat
(Gambar 2.10 : Type Ruang Kerja Perawat ) (Sumber: Neufert, Ernst, 2002: 22)