1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Usaha dalam mengkritisi pengaruh buruk televisi bagi anak-anak dan remaja telah banyak yang dilakukan baik dengan menggunakan media yang mainstream maupun anti mainstream. Akan tetapi usaha yang mainstream belum mampu mengendalikan pengaruh buruk dari televisi tersebut karena anak-anak dan remaja tidak bisa dikendalikan hanya dengan larangan untuk menonton televisi. Perlu ada usaha yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan secara tidak sadar mampu mengendalikan fikiran dan pengaruh buruk televisi terhadap anak- anak dan remaja, kreatifitas yang dimaksud pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan modernisasi komunikasi mainan (visual urban toys) yang bernama Mr. Evilsion.
Rata-rata anak dan remaja menyaksikan 200.000 tindakan kekerasan di televisi pada usia 18 tahun. Banyak tindakan kekerasan disebabkan oleh tokoh idola yang dikagumi, seperti pada video games, pahlawan berhasil menang dengan berkelahi atau membunuh musuhnya, hal tersebut bisa memicu kebingungan ketika anak mencoba memahami perbedaan antara benar dan salah.
Anak-anak merasa takut dengan gambar yang menakutkan dan mengandung kekerasan. Dengan mengatakan gambar tersebut tidak nyata tidak akan membuat mereka merasa lebih baik, karena mereka belum bisa membedakan antara fantasi dan kenyataan, dalam berperilaku, mimpi buruk, dan kesulitan tidur bisa disebabkan oleh paparan kekerasan pada media komunikasi yaitu televisi.
Dampak buruk tindakan kekerasan di televisi juga menjadi salah satu pemicu terjadinya tawuran anak antar sekolah yang marak diberitakan dan menjadi perbincangan di masyarakat Indonesia, tawuran anak antar sekolah bukan hanya terjadi pada anak Sekolah Menengah Umum (SMU) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan tetapi tawuran anak antar sekolah juga terjadi pada anak Sekolah Dasar (SD) yang terjadi di Purwakarta Jawa Barat. Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tawuran anak Sekolah Dasar menjadi suatu keprihatinan dan perhatian khusus terhadap kasus 15 siswa SD di Purwakarta, Jawa Barat, yang diduga akan tawuran dengan membawa senjata tajam. KPAI akan mengawasi kelanjutan kasus itu melalui dinas pendidikan dan instansi terkait di Purwakarta. (https://www.republika.co.id/berita/nasional/)
Sebuah penelitian oleh AGB Nielsen menunjukan waktu yang dihabiskan anak-anak untuk menonton siaran televisi dalam sepekan yaitu rata-rata 28 hingga 35 jam atau sekitar 4,5 jam sehari. Jumlah tersebut tentu lebih besar daripada jam sekolah yang biasanya dimulai pada pukul 07.00- 12.00 WIB, dikurangi waktu istirahat (Tim KPI, 2011: 101). Oleh sebab itu menonton televisi juga berpotensi memberikan dampak negatif bagi anak-anak dan remaja, seperti perilaku agresif, penyalahgunaan zat, aktivitas seksual yang berisiko, obesitas, gangguan pola makan, dan menurunnya prestasi di sekolah. Selain itu, dampak langsung/
pengaruh televisi pada remaja misalnya cara berpakaian, gaya hidup konsumtif, budaya instan, cara berbicara, bahasa alay, permisif. Akibatnya, anak-anak dan remaja mudah terpengaruh pada apa yang ditayangkan oleh televisi. Terlebih pada remaja, di usianya yang baru beranjak dewasa dan labil, kemungkinan untuk terpengaruh pada media sangat besar. Karena di usia puber ini, remaja mulai
memasuki pada masa transisi, perubahan fisik, idealisme baru serta pencarian jati diri, dimana pencarian jati diri ini dilakukan dengan mencoba hal-hal yang ada di sekelilingnya. Selain itu masa remaja adalah masa pengambilan keputusan atau penentuan pilihan, dan media sangat berpengaruh kepada pengambilan keputusan yang dilakukan oleh remaja perlu adanya kemampuan untuk dapat melakukan pengontrolan media.
Dalam menyikapi terhadap perkembangan dan pengaruh buruk media televisi di Indonesia tentang pengaruh televisi terhadap remaja yaitu pengaruh pada sikap yaitu tokoh pada televisi biasanya digambarkan dengan berbagai stereotip, serta pengaruh pada perilaku yaitu keinginan anak untuk meniru. Dapat ditambahkan pengaruh pada pengetahuan remaja tersebut. Anak-anak dan remaja yang terlalu banyak menonton televisi ternyata cenderung memiliki perilaku antisosial dan kriminal ketika mereka dewasa. Hasil riset University of Otago di Selandia Baru pada tahun 2013.
Modernisasi komunikasi mainan (urban Toys) Mr.Evilsion merupakan kritikan positif terhadap dampak pengaruh buruk dari televisi. Toys Mr.Evilsion sebagai representasi dari pengaruh buruk teknologi komunikasi khususnya televisi. Konsep penciptaan karakter Mr.Evilsion merupakan sosok karakter menyerupai setan berkepala televisi bertanduk dan berwarna merah. Pemahaman dari karakter Mr. Evilsion yang terbayang adalah visual dari setan dari barat yang berwarna merah, bertanduk dan memiliki ekor, kemudian sosok Mr.Evilsion yang menyerupai setan tersebut dipadukan dengan televisi dan spiral pada bagian layarnya. Spiral disini sebagai simbol hipnotis, yang maksudnya adalah teknologi
komunikasi dapat menghipnotis, membuat yang menggunakannya terbuai akan kecanggihannya (dalam konteks negatif).
Mr.Evilsion telah banyak beredar di masyarakat dan telah menjadi salah satu ikon kritikan positif terhadap dampak buruk teknologi komunikasi khususnya media televisi. Mr.Evilsion yang berupa mainan lucu dan banyak diminati oleh anak-anak dan remaja di masyarakat Indonesia khususnya Kota Bandung mampu memberikan pengaruh yang positif tentang bahaya dampak buruk teknologi komunikasi khususnya media televisi. Ide kreatif dari mainan Mr.Evilsion menarik minat penulis untuk mengangkat fenomena dampak buruk teknologi komunikasi khususnya media televisi yang terjadi di masyarakat khususnya Di Kota Bandung dengan pemahaman literasi media.
Art Silverblatt menekankan pengertian literasi media pada beberapa elemen, di antaranya: (1) kesadaran akan pengaruh media terhadap individu dan sosial; (2) pemahaman akan proses komunikasi massa; (3) pengembangan strategi untuk menganalisis dan mendiskusikan pesan media; (4) kesadaran bahwa isi media adalah teks yang menggambarkan kebudayaan dan diri kita sendiri pada saat ini; dan (5) mengembangkan kesenangan, pemahaman, dan penghargaan terhadap isi media. Kelima elemen Silverblatt ini kemudian dilengkapi oleh Baran dengan pemahaman akan etika dan kewajiban moral dari praktisi media; serta pengembangan kemampuan produksi yang tepat dan efektif.
Literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media.
Literasi media merupakan seperangkat perspektif yang digunakan secara aktif saat mengakses media masa untuk menginterpretasikan pesan yang di hadapi.
Meskipun beragam definisi tentang literasi media telah dikemukakan oleh banyak pihak, namun secara garis besar menyebutkan bahwa literasi media berhubungan dengan bagaimana khalayak dapat mengambil kontrol atas media. Literasi media merupakan skill untuk menilai makna dalam setiap jenis pesan, mengorganisasikan makna itu sehingga berguna, dan kemudian membangun pesan untuk disampaikan kepada orang lain. Literasi media berusaha memberikan kesadaran kritis bagi khalayak ketika berhadapan dengan media. Kesadaran kritis menjadi kata kunci bagi gerakan literasi media. Literasi media sendiri bertujuan untuk, terutama, memberikan kesadaran kritis terhadap khalayak sehingga lebih berdaya di hadapan media.
Mr. Evilsion dipilih sebagai alat literasi media karena, media yang lebih dominan digunakan oleh masyarakat adalah televisi. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya masyarakat yang mempunyai televisi di rumahnya. Data Survei Nasional Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2017 menunjukan 79,3% masyarakat Indonesia menonton siaran televisi setiap hari dan hampir 80% Rumah Tangga di Indonesia mempunyai televisi. Dengan demikian, kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi televisi pada setiap harinya sangat mungkin. (http://industri.bisnis.com/read/20171103/105/705870/survei- membuktikan-generasi-milenial-lebih-suka-nonton-tv)
Berdasarkan konteks penelitian yang telah dijelaskan diatas maka diambil fokus penelitian tentang bagaimana modernisasi komunikasi visual melalui karakter toys Mr. Evilsion dapat membantu literasi media pada remaja di Kota Bandung.
1.2 Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan pada sub bab sebelumnya maka pertanyaan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa prinsip modernisasi komunikasi visual urban toys Mr. Evilsion?
2. Bagaimana karakter mainan Mr. Evilsion mampu menggambarkan dampak kekerasan media televisi?
3. Bagaimana karakter mainan Mr. Evilsion dapat merepresentasikan alat literasi media?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan penelitian di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui prinsip modernisasi komunikasi visual urban toys Mr.
Evilsion.
2. Untuk mengetahui karakter mainan Mr. Evilsion mampu menggambarkan dampak kekerasan media televisi.
3. Untuk mengetahui karakter mainan Mr. Evilsion dapat merepresentasikan alat literasi media.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan berbagai macam manfaat baik secara teoritis dan praktis. Dalam penelitian ini, penulis memaparkan 2 (dua) jenis kegunaan penelitian yang kelak akan berguna di masa yang akan datang. dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.4.1 Kegunaan Teoritis
Kegunaan pertama ialah kegunaan teoritis, dimana penulis berharap bahwa hasil penelitian penulis dapat berguna dalam memberikan tambahan wawasan mengenai kajian ilmu komunikasi dalam kaitannya dengan modernisasi komunikasi visual dan literasi media melalui mainan Mr. Evilsion, Penelitian ini dapat melengkapi kepustakaan mengenai modernisasi komunikasi visual dan literasi media melalui karakter mainan Mr. Evilsion.
1.4.2 Kegunaan Praktis
Sementara kegunaan kedua ialah kegunaan praktis, dimana penulis berharap bahwa hasil penelitian ini dapat berguna dalam penerapan praktis di kehidupan sehari-hari, khususnya bijak dalam memilah dan memilih informasi di media sosial. Diharapkan kepada masyarakat dapat mengetahui dengan adanya penelitian ini tentang modernisasi komunikasi visual dan literasi media melalui karakter mainan Mr. Evilsion.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini meliputi modernisasi komunikasi visual dan literasi media melalui karakter mainan Mr. Evilsion.