BAB I PENDAHULUAN
A. Judul Tugas Akhir
Asuhan Keperawatan Anak dengan pemberian terapi fisioterapi dada dengan masalah keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Dengan Diagnosa Medis Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) di Rumah Sakit tk II Dustira Cimahi.
B. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ saluran pernafasan bagian atas dan bagian bawah yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dari infeksi ringan sampai berat. Penyakit ini dapat menyerang saluran pernafasan mulai dari hidung sampai alveoli termasuk andeksanya seperti sinus, rongga telinga, dan pleura. Penyakit menular ini sering menyerang pada bayi, balita, anak-anak, dan orang lanjut usia, tetapi balita dan anak-anak paling rentan terinfeksi penyakit ini karena memiliki sistem imun yang belum matur dan mereka cenderung kontak dengan orang lain yang mungkin sedang sakit maupun fasilitas dan peralatan yang belum tentu terjamin kebersihannya sehingga cenderung beresiko lebih tinggi terinfeksi suatu penyakit (Hartono, 2018)
Menurut World Health Organization (WHO) menunjukkan angka kematian pada balita di dunia pada tahun 2013 sebesar 45,6 % per 1.000 kelahiran hidup. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit berada di rumah sakit. Dengan berdasarkan prevalensi ispa tahun 2013, Indonesia mencapai 25 % dengan
kejadian sekitar 17,5 % - 41,4 % dengan 16 provinsi. Survei mortalitas yang dilakukan oleh subsidi ISPA tahun 2013 merupakan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi , balita dan anak-anak terbesar di Indonesia dengan presentase 32,10 % dari seluruh penyebab kematian (Kharisna, 2013). Jawa Barat merupakan peringkat ketujuh kejadian ISPA tertinggi di Indonesia yaitu dengan prevalensi 9,3. Sama halnya dengan di Rumah Sakit Dustira angka kejadian ISPA menjadi 10 permasalahan yang sering terjadi pada balita, anak dalam kurun waktu 6 bulan kebelakang (Kemenkes RI, 2018)
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting untuk diperhatikan, karena merupakan penyakit akut dan bahkan dapat menyebabkan kematian pada balita, bayi, dan anak-anak di berbagai negara berkembang termasuk negara Indonesia. Infeksi saluran pernafasan ini disebabkan oleh virus dan bakteri, Adapun penyebab lainnya yaitu karena factor lingkungan, ventilasi, kepadatan rumah, umur, berat badan lahir, imunisasi dan factor perilaku.
Kebanyakan ISPA muncul dari gejala yang ringan seperti pilek dan batuk ringan tetapi jika imunitas anak rendah gejala yang ringan tersebut bisa menjadi besar. Anak yang terkena infeksi saluran pernafasan akan beresiko tinggi kematian.
Proses infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) mengakibatkan demam, batuk dan sering juga nyeri tenggorokan, coryza (pilek), sesak nafas, mengi, atau kesulitan bernafas.
Anak yang menderita gangguan pada system pernafasan seringkali mengalami kelebihan produksi lendir di paru- parunya. Dahak atau sputum biasanya akan menumpuk hingga menjadi kental dan menjadi sulit untuk dikeluarkan terutama pada anak-anak yang masih kesulitan untuk mengeluarkan dahak sehingga menjadi suatu masalah, salah satu masalah
keperawatan tersebut adalah bersihan jalan nafas tidak efektif (Dongky & Kadrianti, 2016)
Bersihan jalan nafas tidak efektif merupakan keadaan dimana individu tidak mampu mengeluarkan secret dari saluran nafas untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas. Karakteristik dari bersihan jalan nafas tidak efektif adanya batuk, sesak, ada suara nafas tambahan ( Ronchi), adanya penggunaan otot bantu nafas,serta adanya pernafasan cuping hidung. Maka dari itu diperluakn penanganan yang tepat untuk mengeluarkan dahak atau sputum pada klien, salah satu intervensi dalam keperawatan yang dapat digunakan adalah fisioterapi dada yang telah terbukti efektif dapat membersihkan dahak pada saluran pernafasan (Fillacano, 2016)
Fisioterapi dada adalah salah satu terapi non farmakologi yang digunakan dalam pengobatan untuk membersihkan jalan nafas dengan mencegah akumulasi sekresi paru (Lusianah, 2016). Fisioterapi dada merupakan Tindakan keperawatan yang dilakukan dengan cara postural drainage, cllaping/ perkusi, dan vibrating pada klien gangguan sistem pernafasan. Dengan dilakukan fisioterapi dada untuk mengatasi gangguan bersihan jalan nafas bermanfaat terutama pada anak-anak yang belum dapat melakukan batuk efektif dengan sempurna. Pada anak yang mengalami gangguan bersihan jalan nafas terjadi penumpukan secret, dengan teknik pemberian fisioterapi dada mempermudah pengeluaran sekret, sekret menjadi lepas dari saluran pernafasan dan akhirnya dapat keluar melalui mulut dengan adanya proses batuk pada saat dilakukan fisioterapi dada.
Pemberian fisioterapi dada pada anak efektif diberikan 1 hari 2 kali yaitu pada pagi hari sebelum sarapan dan sore sebelum tidur dengan efektifitas waktu 20-30 menit dengan
melihat kondisi klien. Seperti halnya yang dilakukan di ruang Sakura ketika ada klien dengan permasalahan bersihan jalan nafas tidak efektif terutama pada anak-anak selain pemberian obat farmakologi diberikan juga terapi non farmakologi salah satunya yaitu diajarkan batuk efektif.
Berdasarkan hasil penelitian Andi Muh (2020) pemberian fisioterapi dada dengan menggunakan tekhnik clapping, vibration dan diakhiri dengan batuk efektif menunjukkan efektif meningkatkan bersihan jalan nafas dengan nilai p value (p=0,000) dan efektif terhadap indicator bersihan jalan nafas, yaitu penurunan frekuensi pernapasan (p=0,0031), penurunan produksi sputum ( p=0,000) dan ronchi (p=0,001). Sehingga dapat disimpulkan bahwa fisioterapi dada dengan g=tekhnik clapping dan vibration efektif membersihkan jalan nafas pada pasien ISPA. Berdasarkan studi kasus Suci (2022), menunjukkan bahwa terjadi perubahan suara nafas setelah intervensi fisioterapi dada dilakukan selama 15 menit, selama 6 hari perawatan dengan suara nafas klien di hari ke 5 suara nafas klien vesikuler (normal).
Berdasarkan studi kasus lainnya Oktavia (2018), menunjukan bahwa pada saat diberikan terapi fisioterapi dada pada 2 anak dengan masalah bersihan jalan nafas tidak efektif, respon anak setelah diberikan frekuensi nafas selama perawatan mulai menurun, bunyi nafas tambahan mulai hilang, tidak ada retraksi dinding dada, tidak ada pernafasan cuping hidung, dan tidak ada batuk berdahak. Respon kedua klien saat diberikan fisioterapi dada, sesuai dengan penelitian sebelumnya dari Marini (2017) penilaian bersihan jalan nafas tidak efektif pada anak dengan Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA)
sesudah mendapatkan fisioterapi dada, mayoritas responden tidak ada timbul efek samping.
Berdasarkan uraian diatas untuk membantu mengatasi Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) pada anak khususnya dalam mengurangi sesak nafas serta mencegah terjadinya penumpukan secret maka peneliti tertarik mengambil topik “Asuhan Keperawatan Dengan Pemberian Fisioterapi Dada Pada An.S Usia 9 Tahun Dengan Masalah Keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif Dengan Diagnosa Medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) Di Ruang Sakura Rumah Sakit Tk II Dustira Cimahi”
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penulisan Karya Ilmiah ini bertujuan untuk melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnose medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk II Dustira Cimahi.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnosa medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnosa medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi
c. Mampu menyusun perencanaan keperawatan pada pasien dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnosa medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan masalah
keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnose medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi e. Mampu melakukan evaluasi pada pasien dengan masalah keperawatan bersihan
jalan nafas tidak efektif dengan diagnose medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi
f. Mampu memaparkan hasil analisis inovasi keperawatan sebelum dan sesudah Tindakan pemberian terapi fisioterapi dada di ruang Sakura rumah sakit tk.II Dustira Cimahi
D. Manfaat
1. Manfaat kelimuan
Manfaat keilmuan studi kasus ini adalah untuk pengembangan ilmu keperawatan dalam pembuatan Asuhan Keperawatan tentang pasien dengan masalah keperawatan bersihan jalan nafas tidak efektif dengan diagnose medis Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) di ruang Sakura rumah sakit tk. II Dustira Cimahi.
2. Manfaat Aplikatif a. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan, dan pemahaman dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien anak dengan Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) dapat
dilakukan intervensi fisioterapi dada b. Bagi Rumah sakit
Bahan masukan bagi rumah sakit tentang terapi non farmakologi pemberian asuhan keperawatan pada pasien dengan Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA) sehingga rumah sakit dapat menambahkan dan membuat SOP tentang tindakan keperawatan pada klien.
c. Bagi Keluarga
Menambah pengetahuan tentang terapi non farmakologi pemberian fisioterapi dada untuk membantu mengeluarkan secret yang dapat diaplikasikan dirumah secara mandiri dengan pemahaman yang benar dan dapat dibantu oleh akses sosial media youtube cara yang sesuai