BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia atau lanjut usia adalah periode dimana manusia telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi. Selain itu lansia juga masa dimana seseorang akan mengalami kemunduran dengan sejalannya waktu. Ada beberapa pendapat mengenai usia seseorang dianggap memasuki masa lansia, yaitu ada yang menetapkan pada umur 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang 70 tahun. Setiap manusia pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan dari bayi sampai menjadi tua.
Masa tua merupakan masa hidup manusia yang terakhir, dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental dan sosial sedikit demi sedikit sehingga tidak dapat melakukan tugasnya sehari-hari lagi. Lansia banyak menghadapi berbagai masalah kesehatan yang perlu penanganan segera dan terintegrasi.
(Muhammad, F. 2020)
Lansia ditandai dengan adanya beberapa tanda pada tubuh yang mulai mengalami perubahan secara perlahan seperti berkurangnya fungsi pendengaran, berkurangnya fungsi penglihatan serta kemampuan mengingat yang berkurang. Secara sederhana lansia dapat kita maknai beberapa tanda yaitu adanya ketidak mampuan tubuh seseorang untuk Kembali melakukan kegiatan yang bersifat produktif sebagaimana pada umumnya. Keberadaan lansia tersebar di seluruh dunia seiring berkembangnya suatu negara termasuk di Indonesia (Stefanus, 2018).
Indonesia memiliki jumlah penduduk usia lanjut atau lansia pada 2020 diperkirakan mencapai 28,8 juta jiwa atau 11,34 persen dari total jumlah penduduk di
Tanah Air, angka ini menjadi tantangan agar tercipta lansia sehat dan produktif. usia lanjut merupakan proses alami dalam hidup manusia yang tidak bisa dicegah.
Indonesia merupakan lima negara di dunia yang memiliki jumlah usia lanjut tertinggi.
Pada tahun 2010 jumlah lansia tercata sebanyak 18,1 juta jiwa atau 17,6 persen. Di tahun 2014 jumlah meningkat menjadi 18,8 juta jiwa.
Indonesia memiliki jumlah lansia sampai pada tahun 2000 berjumlah 14,4 juta.
Angka ini menunjukan bahwa jumlah lansia mencapai 7,18 % dari total keseluruhan populasi di Indonesia. Angka ini di prediksi akan terus meningkat di Indonesia sekitar 11,34% pada tahun 2020. Angka tersebut menunjukan signifikansi peningkatan jumlah lansia yang berada di global dan khususnya di Indonesia. Pada tingkat global jumlah lansia mencapai 901 juta lansia. Pada tingkat global jumlah angka lansia akan meningkat hingga 2,1 milyar (Sunaryo, dkk, 2016).
Indonesia dalam menjamin kesehatan masyrakat khususnya bagi lansia diadakan sebuah program pengelolaan penyakit kronis atau sering disebut Prolanis. Prolanis merupakan pelayanan kesehatan yang mencegah salah satu penyebab utama kematian di indonesia. Program ini didasarkan pada undang-undang nomor 40 tahun 2004.
Prolanis merupakan sebuah system pelayanan Kesehatan dan pendekatan proaktif yang dilaksanakan secaa terintegrasi yang melibatkan masyrakat. Kegiatan ini ditujukan untuk menunjang Kesehatan kehidupan masyarakat di Indonesia. Salah satu program kegiatan ini adalah melakukan berbagai edukasi kepada masyarakat dalam meningkatkan Kesehatan masyarakat. Program ini juga dibentuk mengingat perlu adanya persiapan terkait keberadaan manusia yang akan menghadapi fase lansia ( Rosdiana, 2017).
Manusia akan mengalami beberapa perubahan pada tubuh saat memasuki fase lansia. Perubahan yang terjadi terdapat pada bagian luar dan bagian dalam tubuh
seseorang. Perubahan ini pun dapat dilihat dari beberapa perubahan yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Setiap perubahan pada seseorang umumnya akan mengalami perubahan yang sama walaupun akan mengalami perbedaan pada waktu perubahannya. Perubahaan tersebut dapat di akibatkan kondisi tubuh seseorang yang berbeda-beda (Lilis, 2019).
Perubahaan pada tubuh seseorang saat memasuki fase lansia mulai timbul pada bagian terluar seseorang yaitu bagian kulit. Adanya perubahan kelenjar kulit akan mengakibatkan bekurangnya kekuatan kulit pada seseorang. Perubahan juga terjadi pada bagian fungsi pernapasan seseorang yaitu pada bagian jantung dan paru-paru yang mulai berkurang kemampuan kerjanya. Tidak terlepas sistem pencernaan seseorang pun akan mengalami perubahan kemampuan kerja yang mempengaruhi kinerja tubuh seseorang sebagai tanda penurunan kemampuan tubuh sseorang (Lilis, 2019). Menurunnya kemampuan tubuh seorang lansia memiliki berbagai risiko terhadap lansia itu sendiri. Risiko jatuh merupakan adanya kemungkinan seseorang untuk jatuh yang disebabkan oleh berkurangnya kesadaran serta cedera pada tubuh.
Risiko jatuh umumnya terjadi pada seseorang yang memasuki fase lansia. Seseorang dengan usia tidak produktif biasanya memiliki risiko jatuh lebih besar daripada seseorang yang masih dalam usia produktif. Salah satu risiko terbesar dari lansia yang telah berumur lebih dari 90 tahun yaitu risiko jatuh. (Lilis, 2019).
Risiko jatuh pada lansia dapat diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor risiko yang menyebabkan jatuh pada lansia terbagi menjadi 2 bagian, yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik menggambarkan variable-variabel yang menentukan mengapa seseorang dapat jatuh pada waktu tertentu dan orang lain dalam kondisi yang sama mungkin tidak jatuh, atau faktor yang disebabkan oleh keadaan dalam diri seorang lansia tersebut (Stanley, 2006). Adapun faktor tersebut seperti gangguan
musculoskeletal, misalnya menyebabkan gangguan gaya berjalan, kelemahan ekstremitas bawah, dan kekakuan sendi, selain itu adanya gangguan jantung, gangguan sistem susunan saraf, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan psikologis (Fany, 2019).
Faktor eksternal merupakan faktor dari luar (lingkungan sekitarnya), diantaranya adalah penggunaan alas kaki yang kurang sesuai sehingga mempengaruhi kemampuan seorang lansia dalam berjalan. Disamping itu ganguan lingkungan di sekitar rumah seperti tidak adanya pegangan, jalan yan tidak merata serta gangguan lingkungan lainnya. Penurunan fungsi penglihatan juga mempengaruhi seorang lansia mengalami risiko jatuh. Ketika seorang lansia dapat tersandung oleh benda-benda yang berada dibawah dan tidak terjangkau oleh penglihatan lansia tersebut (Azizah, 2011). Angka jatuh pada lansia yang berumur lebih dari enam puluh tahun mencapai 57% kejadian.
Adapun kejadian tersebut mengakibatkan dampak yang berbahaya seperti luka memar, adanya cidera pada bagian tubuh hingga menyebabkan berbagai masalah lainnya (Hutomo, 2015).
Beberapa akademisi sebelumnya telah melakukan penelitian terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko jatuh seorang lansia. Penelitian yang dilakukan oleh Abil dan Rinto menjelaskan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingginya risiko jatuh seorang lansia. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2019 bertujuan untuk menjelaskan berbagai macam faktor yang mempengaruhi risiko jatuh pada lansia. Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional yang mengambil 36 responden untuk kemudian dijadikan responden dalam penelitiannya. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa adanya hubungan antara gangguan sistem anggota gerak dan lingkungan rumah dengan risiko jatuh pada seorang lansia (Abil, 2019).
Perawat memiliki peranan penting dalam mengatasi pencegahan jatuh di institusi dengan pemberian asuhan keperawatan yang tepat. Hal tersebut dikarenakan perawat berperan sebagai care provider melakukan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi, serta harus mempunyai keterampilan untuk memberikan intervensi (DeLauene & Ladner, 2016).
Dalam asuhan keperawatan gerontik, peran perawat terbagi dalam dua macam, yakni peran perawat secara umum dan spesialis. Peran secara umum dilakukan dalam berbagai wilayah tugas seperti rumah sakit, panti jompo (nursing home), komunitas, serta menyediakan perawatan kepada individu dan keluarganya. Selain berbagai macam pelayanan gerontik, Keperawatan Kesehatan masyarakat sebagai pelayanan keperawatan profesional yang merupakan perpaduan antara konsep keperawatan yang ditujukan untuk seluruh masyarakat dengan penekan pada kelompok risiko tinggi (Depkes RI, 2003).
Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan pengkajian secara mendalam mengenai Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, terdapat rumusan masalah yang diambil yaitu “Apakah Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Risiko Jatuh Pada Lansia Melalui Kajian Literatur?”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor-faktor yang berhubungan dengan risiko jatuh pada lansia.
2. Tujuan Khusus
a. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor internal yang berhubungan dengan risiko jatuh pada lansia.
b. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui faktor eksternal yang berhubungan dengan risiko jatuh pada lansia.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara akademis penelitian ini dapat memberikan gambaran dan pengetahuan serta bahan kajian dalam pembelajaran terkait faktor-faktor internal dan eksternal yang ada serta mempengaruhi risiko jatuh pada lansia. Penelitian ini juga bermanfaat bagi para pelajar dalam menambah studi literatur.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini berguna untuk:
1. Bagi pasien dan keluarga Pasien
Diharapkan bagi pasien dan keluarga agar memantau penyakit melalui kegiatan posbindu atau prolanis
2. Bagi peneliti Selanjutnya
Bagaimana bagi peneliti selanjutnya untuk mempertajam bahwa penyakit sebagai faktor internal dan lingkungan rumah sebagai faktor eksternal, untuk pengendalian faktor penyakit dorong lansia untuk menjadi anggota prolanis atau ikut serta untuk mengikuti program posbindu.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Lingkup Waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan bulan September tahun 2020.
2. Lingkup Kajian
Penelitian ini meliputi kajian literatur yang bersumber pada penelitian terintegrasi publikasi ilmiah.