• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB I"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang

Sistem penglihatan merupakan salah satu sistem yang tidak kalah penting dalam tubuh manusia. Mata adalah organ penglihatan, suatu struktur yang sangat khusus dan kompleks, serta berfungsi menerima dan mengirimkan data ke korteks serebral (Muttaqin, 2009). Namun gangguan terhadap indera penglihatan banyak terjadi, mulai dari gangguan ringan hingga gangguan yang berat yang dapat mengakibatkan kebutaan. Gangguan penglihatan dan kebutaaan masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Angka kebutaan di dunia 0,57% tertinggi di negara Afrika dan Asia Tenggara( Johnson, 2012). Di Asia tenggara populasi terbesar angka kebutaan terdapat di negara Filipina dan Indonesia. Menurut hasil survei dengan menggunakan metode Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di 3 provinsi di Indonesia yakni Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2014 didapatkan prevalensi kebutaan pada masyarakat usia lebih dari 50 tahun rata-rata di 3 provinsi tersebut adalah 3,2 %.

Survei kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan Perhimpunan Dokter Ahli Mata Indonesia (PERDAMI) dan Badan Litbangkes, tahun 2014-2016 di 15 provinsi pada penduduk diatas usia 50 tahun menunjukkan prevalensi kebutaan sebesar 3%. Sebanyak 15 provinsi itu sudah

(2)

mencakup 65% orang Indonesia. Provinsi yang tidak dilakukan survei, maka survei merujuk ke provinsi terdekat yang dilakukan survei. Hal tersebut karena kondisi demografinya hampir menyerupai.

Permasalahan kebutaan dan gangguan penglihatan, WHO membuat program Vision 2020 yang direkomendasikan untuk diadaptasi oleh negara-negara anggotanya. Vision 2020 adalah suatu inisiatif global untuk penanganan kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Dalam mencapai vision 2020 tersebut, Kementrian Kesehatan telah mengembangkan strategi- strategi yang dituangkan dalam Kepmenkes Nomor HK.02.02/MENKES/155/2015 mengenai komite mata nasional untuk penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan. Salah satu Renstranas PGPK adalah penguatan advokasi, komunikasi dan sosialisasi pada semua sektor untuk upaya penanggulangan gangguan penglihatan. Di Negara- Negara maju dengan tingkat pelayanan kesehatan mata yang sangat baik, kelainan retina merupakan penyebab utama kehilangan penglihatan.

Menurut Larkin, 2009 mengatakan ablasio retina merupakan salah satu kegawatan bidang oftalmologi yang keberhasilan penanganannya sangat tergantung oleh waktu (time- critical eye emergencies), keterlambatan dalam penanganan dapat menyebabkan kehilangan tajam penglihatan dan kebutaaan permanen. Angka kejadian ablasio retina relatif jarang, secara umum hanya sekitar 1 dari 10.000 orang pertahun. Di Amerika kondisi ini mengenai sekitar 10.000 penderita per tahun, angka kejadian ablasio retina di 3 negara terbesar Asia adalah sekitar 142.000 per tahun (China), 36.000 per tahun (India), dan 12.000 pertahun (Indonesia) (Johnson, 2012). Meskipun jarang ditemukan dan bukan merupakan penyebab utama

(3)

kebutaan di negara berkembang, keterbatasan fasilitas dalam penatalaksanaan dan deteksi dini ablasio retina, menyebabkan resiko kebutaan menjadi tinggi. Perhatian utama pada penanggulangan katarak, glaukoma dan kelainan refraksi membuat penatalaksanaan ablasio retina di negara berkembang juga masih menduduki prioritas rendah. Penatalaksanaan ablasio retina meliputi tindakan pencegahan dan tindakan medis. Tindakan ablasio retina diantaranya sclera buckle, pneumatik retinopexy, dan vitrektomi.

Vitrektomi adalah prosedur operasi mata untuk mengeluarkan cairan seperti jeli dari rongga mata, yang dikenal dengan istilah humor vitreous.

Tindakan pembedahan vitrektomi diindikasikan pada kasus tractional retinal detachment, perdarahan vitreus yang menetap, perdarahan pre makular dan edema makula yang diakibatkan vítreomacular traction. Tindakan ini juga memberikan akses untuk melakukan tindakan laser fotokoagulasi pada keadaan kekeruhan vitreus akibat terjadinya perdarahan vitreus (Gufta, 2013).

Tindakan operasi akan menimbulkan respon baik fisik maupun psikis.

Respon psikis berupa kecemasan merupakan reaksi emosional pasien yang sering muncul. Kecemasan adalah rasa takut yang tidak jelas disertai dengan perasaan ketidakpastian, ketidakberdayaan, isolasi, dan ketidakamanan (Stuart, 2016).

Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan sehari- hari, selalu ada dan bukan milik masyarakat atau budaya tertentu. Kecemasan melibatkan fisik seseorang, persepsi diri, dan hubungan dengan orang lain. Keluhan- keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan diantaranya, merasa tegang, takut sendirian, gangguan pola tidur, gangguan konsentrasi dan daya

(4)

ingat, dan keluhan- keluhan somatik (Hawari, 2011). Kecemasan yang dirasakan pasien pre op vitrektomi dapat memperberat kondisi fisik yang dialami. Pasien harus mampu mengatasi kecemasan tersebut agar penyakit fisik yang dialaminya tidak bertambah berat.

Respon kecemasan yang terjadi pada pasien pre operatif berkaitan erat dengan mekanisme koping yang dimilikinya. Mekanisme koping yang baik akan membentuk respon psikologis yang positif sehingga dapat menunjang proses kesembuhan. Sebaliknya kecemasan yang terus berlanjut akan mempengaruhi proses tindakan yang dilakukan. Kecemasan yang terus berlanjut akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah terutama pada pasien dengan riwayat hipertensi (Kuraesin, 2009). Seseorang dapat mengatasi kecemasan dengan memobilisasi sumber koping yang dimiliki secara internal dan eksternal di lingkungan. Sumber daya seperti asset keuangan, kemampuan pemecahan masalah, dukungan social, dan keyakinan budaya dapat membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman kecemasan dalam hidup mereka dan belajar untuk mengadopsi strategi koping yang efektif (Stuart, 2016). Kecemasan yang berlebihan tidak jarang juga menyebabkan dari pihak medis mengambil keputusan penangguhan tindakan operasi, atau penundaan tindakan operasi, diantaranya periode 3 bulan terakhir Oktober- Desember 2018 yang dilakukan penundaan operasi karena pasien mengalami kecemasan yaitu 2 orang pasien.

Di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung dalam periode 3 bulan terakhir Oktober- Desember 2018 angka tertinggi yang mengalami masalah penglihatan adalah gangguan pada Retina yaitu 570 pasien yang harus dirawat inap

(5)

dan dilakukan tindakan operasi retina. Salah satu ruangan rawat inap yang ada di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo, yaitu ruang cempaka. Dalam periode 3 bulan terakhir Oktober- Desember 2018 di ruang cempaka terdapat 120 pasien yang mengalami gangguan pada retina dan dilakukan operasi vitrektomi. Di Pusat Mata Nasiona Rumah Sakit Mata Cicendo fenomena gangguan penglihatan yang diakibatkan oleh gangguan retina menjadi nilai yang tertinggi dibandingkan gangguan penglihatan lainnya, hal tersebut disebabkan tindakan operasi gangguan pada retina ini sangat rumit, dan tindakan operasinya memerlukan alat yang begitu cangih. Salah satu tindakan operasi gangguan pada retina tersebut yaitu vitrektromi.

Di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo didapatkan data bahwa 10 pasien yang akan menjalani operasi vitrektomi, 5 diantaranya mengalami sulit tidur, merasa gelisah, dan takut. Sedangkan 3 pasien mengalami jantung berdebar, tekanan darah tinggi (baik pasien yang memiliki riwayat hipertensi maupun pasien yang tidak memiliki riwayat hipertensi), tangan dan kaki berkeringat dingin, dan 2 pasien mendapatkan terapi diazepam 5 mg per oral 2 jam sebelum pre op. Sehingga jadwal operasi yang telah terjadwal waktunya menjadi tidak tepat, dikarenakan tekanan darahnya yang tidak memenuhi standar untuk dilakukan tindakan operasi, bahkan terdapat salah seorang pasien yang batal operasi karena gelisah, tidak kooperatif, dan tekanan darahnya tetap tinggi, walaupun terapi antihipertensi telah diberikan. Studi pendahuluan dari 10 orang setelah diperdengarkan murothal Al-Qur’an, 5 diantaranya merasakan tenang, tekanan darah menjadi normal, muka tidak terlihat tegang, 3 orang diantaranya

(6)

merasakan jantung tidak berdebar lagi, gelisah berkurang, dan 2 orang diantaranya merasa lebih tenang, dan lebih pasrah kepada Alloh SWT apa yang akan terjadi saat operasi nanti.

Intervensi keperawatan yang biasa dilakukan di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo ini dalam menangani pasien yang mengalami kecemasan saat pre operasi yaitu manganjurkan pasien menarik nafas dalam sebanyak 10 kali. Beberapa penelitian pengaruh murotal Al Qur’an terhadap kecemasan pasien pre operasi bedah orthopedi (Maulana, 2015) menyatakan bahwa murotal Al Qur’an secara langsung memberikan pengaruh fisik dan psikis terhadap responden, menurut pengamatan peneliti hal ini terjadi akibat responden meresapi dan benar-benar melakukan serangkain intervensi dengan baik, maka manfaat murotal secara langsung didapatkan oleh responden. Pengaruh perangsangan auditori murrotal (Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an) terhadap nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik (Armiyati, 2013) menyatakan bahwa hasil penelitian menunujukkan ada perbedaan yang signifikan intensitas nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik setelah pemberian perangsangan auditori murotal (p

= 0.000). Hasil penelitian ini merekomendasikan perlunya penatalaksanaan nyeri pada pasien yang terpasang ventilator mekanik menggunakan perangsangan auditori murrotal. Penelitian lain terapi murothal Al-Qur'an Surat Arrahman meningkatkan kadar β-Endorphin dan menurunkan intensitas nyeri pada ibu bersalin kala I fase aktif ( Wahida, 2015) menyatakan bahwa terapi murotal Al- Qur'an juga menunjukkan peningkatan signifikan (p=0,000) kadar β-Endorphin sebelum perlakuan (1053,6±606,32ng/L) dan setelah perlakuan

(7)

(1813,6±546,78ng/L). Dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi murotal Al- Qur'an dapat menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kadar β- Endorphin.

Berdasarkan beberapa penelitian di atas, terapi murothal Al-Qur’an sangat berarti dengan ayat- ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepada orang yang sakit, selain bacaan do’a-do’a yang ma’tsur, dan diulang- ulang beberapa kali hingga datanglah kesembuhan atas izin Alloh. Dengan suara itu memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap sel tubuh, dan suara yang paling kuat pengaruhnya adalah kalam Al- Qur’an (Al- Kaheel, 2012). Bahwa getaran suara murothal Al-Qur’an yang diterima akan mempengaruhi ke dalam sel otak, lalu otak akan mempengaruhi ke dalam sel tubuh untuk bereaksi terhadap getaran-getaran suara tersebut (Al-Kaheel, 2012).

Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia, sehingga dalam praktiknya akan ditemukan bahwa sebagian besar pasien pre op vitrektomi juga beragama Islam.

Tindakan spiritual yang dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan sesuai dengan ajaran Islam adalah murothal Al-Qur’an, tetapi sebagian orang belum mengetahuinya bahwa murothal Al-Qur’an dapat mengurangi kecemasan. Data yang ditemukan di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo 3 bulan terakhir antara bulan Oktober- Desember 2018 pasien yang beragama islam berjumlah sebanyak 98%. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengaruh Murothal Al-Quran Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre op Vitrektomi Di Ruang Cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

(8)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat diambil rumusan masalah yaitu “Adakah pengaruh murothal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan pasien pre op vitrektomi di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung?”

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh murothal Al-Quran terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre op vitrektomi di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sebelum diberikan murothal Al- Qur’an

b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan sesudah diberikan murothal Al- Qur’an

c. Mengidentifikasi pengaruh murothal Al-Qur’an terhadap tingkat kecemasan pasien pre op vitrektomi sebelum dan sesudah pemberian terapi murothal Al-Qur’an

(9)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Peneliti berharap hasil penelitian dapat dijadikan sumber referensi mengenai pengaruh murothal Al-Qur’an terhadap tingkat kecemasan pasien pre op vitrektomi di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan terapi murothal Al Qur’an dapat menjadi salah satu intervensi asuhan keperawatan terhadap pasien pre operatif di ruang cempaka Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

58 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Terdapat hubungan dengan korelasi positif moderat antara perfusi retina peripapiler dan ketebalan RNFL peripapiler pada pasien diabetes