BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
Angka kematian bayi (AKB) merupakan indikator yang penting untuk mencerminkan keadaan derajat kesehatan di suatu masyarakat karena bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap keadaan lingkungan tempat orangtua bayi tinggal dan sangat erat kaitannya dengan status sosial orangtua bayi. Kemajuan yang dicapai dalam bidang pencegahan dan pemberantasan berbagai penyakit penyebab kematian akan tercermin secara jelas dengan penurunan AKB. Dengan demikian, angka kematian bayi merupakan tolak ukur yang sensitif dari semua upaya intervensi yang dilakukan oleh pemerintah khususnya di bidang kesehatan.1
Bayi baru lahir disebut juga neonatus merupakan individu yang sedang bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37–42 minggu dan berat badan 2.500–4.000 gram.2
Bidan mempunyai peranan penting menurunkan angka kematian ibu dan anak sebagai ujung tombak pemberi asuhan kebidanan. Bidan memegang tanggung jawab terhadap tugas, bio-psiko sosial di tengah masyarakat, bidan juga berperan dalam memberi pendidikan kesehatan serta mengubah perilaku masyarakat terhadap pola hidup dan gaya yang tidak sehat. Bidan tidak hanya memberi asuhan pada individu, tetapi juga terhadap keluarga dan masyarakat. Oleh karena
1
itu, bidan harus mempunyai pendekatan manajemen agar dapat mengorganisasikan semua unsur yang terlibat dalam pelayanan dan pencatatan dengan baik dalam rangka menurunkan risiko tinggi ibu dan bayi.1
Kinerja tenaga bidan menjadi unsur yang sangat penting dalam upaya memelihara dan meningkatkan pembangunan nasional bidang kesehatan bayi.
Kajian tentang kinerja memberikan kejelasan bahwa faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja.2
Pelayanan kesehatan di masyarakat dilakukan dengan kegiatan pengawasan, pengendalian, serta penilaian yang meliputi pencatatan, pelaporan, monitoring, dan evaluasi. Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan karena tanpa pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya.3
Berdasar atas penelitian Dharmawan, dkk.4di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro Semarang tentang kinerja petugas dalam pencatatan dan pelaporan PWS KIA di Puskesmas Duren PWS KIA alat untuk mendokumentasi diri penyebab kunjungan bayi. Dengan mendeteksi diri penyebab kematian bayi.
Dapat dihindari dan mengurangi angka kematian bayi (AKB). Namun demikian, kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa masih terdapat ketidaklengkapan, ketidakakuratan, dan keterlambatan pelaporan PWS.4
Berdasar atas penelitian Kristiyanti, dkk.5 tentang evaluasi pencatatan kohort bayi di wilayah Kabupaten Pekalongan sebagian besar (83,3%) item dalam kohort belum diisi dengan lengkap oleh bidan. Item kohort bayi diisi
dengan lengakap sebesar 16,7% (nomor urut, nama bayi, jenis kelamin, alamat, dan kondisi saat lahir), sedangkan item yang lain diisi tidak lengkap. Hasil yang tidak lengkap paling sering ditemui pada item NIK (93%), kematian (98,2%), masuk balita (75,4%), dan keterangan (82,5%).5
Berdasar atas penelitian Ngemba, Syahrullah6 di Jurusan Teknologi Informasi, Fakultas Teknk Universitas Tadulako meneliti tentang aplikasi E- kohort register kesehatan ibu dan anak (KIA) di Puskesmas Nosarara Kota Palu di Puskesmas Nosarara Palu tidak didukung dengan pemanfaatan teknologi informasi sehingga pelayanan pencatatan kesehatan ibu dan anak menjadi tidak maksimal seperti kesalahan data, pencarian yang lambat, redudansi data, dan pembuatan laporan yang memerlukan waktu yang lama.
Pelaporan dan pencatatan kohort bayi atau register kohort merupakan sumber data pelayanan kesehatan bayi, termasuk neonatus yang bertujuan mempermudah bidan dalam mengidentifikasi masalah kesehatan bayi utamanya bagi penggunaan pemantauan melalui kohort bayi, diharapkan dapat memantau keadaan bayi, utamanya bagi pengambilan keputusan klinik pada saat dan waktu yang tepat.
Praktik klinik yang bermutu memenuhi standar dan dapat menurunkan jumlah kematian pada bayi, namun pada kenyataan, sistem pencatatan atau register kohort bayi manual memiliki banyak kendala dikarenakan banyak data yang tidak lengkap. Pengisian kohort bayi masih dilakukan secara manual sehingga memakan waktu lama, mudah rusak, dan banyak kolom yang harus diisi.4
Hasil pencatatan kohort bayi ini adalah informasi yang berharga serta bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan benar. Data dan informasi ini merupakan sebuah unsur terpenting dalam sebuah tindakan yang cepat dalam mangatasi risiko. Data evaluasi pengisian kohort di seluruh puskesmas Kota Kendari didapatkan sebanyak 15 puskesmas. Evaluasi pengisian kohort dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Kendari dengan hasil evaluasi terdapat 5 puskesmas Kota kendari yang baik dalam pengisian kohort dan 10 puskesmas Kota Kendari tidak lengkap dalam pengisian kohort.4
Penelitian sebelumnya tentang kinerja bidan di desa terhadap sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan ibu dan anak menuju sistem surveilens kelangsungan hidup anak di Puskesmas Sepatan Kabupaten Tangerang tahun 2010 didapatkan beberapa alasan yang memungkinkan pencatatan dan pelaporan ini tidak lengkap.
Perkerjaan yang dilakukan bidan dalam pencatatan dan pelaporan terlalu banyak di polindes karena faktor kendala administrasi puskesmas atau karena sibuk menolong persalinan.5
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Agustus 2019 di Puskesmas Rawat Inap Wua-wua pada bidan desa sebanyak 10 orang. Tiga orang bidan desa yang mengisi kohort bayi pada saat kontak langsung dengan pemeriksaan bayi. Tujuh orang bidan desa yang lain hanya mengisi kohort bayi pada akhir bulan atau pada saat ada pemantauan bidan puskesmas dengan alasan pada kohort bayi banyak kolom yang harus diisi, kolom yang diisi terlalu kecil, mudah robek, dan mudah hilang sehingga data tidak aman. Beberapa alasan lain
banyak pencatatan yang harus dikerjakan seperti laporan obat, laporan penyakit, dan pelayan kesehatan di wilayah setempat.
Hasil evaluasi program untuk menyelesaikan masalah dibuatkan proyek, yaitu kohort bayi digital di wilayah Puskesmas Wua-wua. Proyek ini disponsori oleh bidan setempat dan proyek kohort bayi digital diuji coba secara terbatas di lingkungan puskesmas Wua-wua dan layak digunakan.
Kohort bayi digital merupakan aplikasi yang digunakan untuk memantau perkembangan kesehatan bayi. Kelebihan kohort bayi digital mempermudah bidan untuk mencatat data kesehatan bayi, lebih cepat dalam pengisian data bayi, data yang tersimpan aman, dan dapat digunakan kapanpun dalam jangka panjang.
Berdasar atas permasalahan tersebut maka yang menjadi tema sental penelitian ini adalah:
kinerja tenaga kesehatan menjadi unsur yang sangat penting dalam upaya memelihara dan meningkatkan pembangunan nasional bidang kesehatan. Pencatatan dan pelaporan adalah indikator keberhasilan suatu kegiatan. Pengisian kohort merupakan tugas bidan dalam pencatatan kesehatan bayi untuk mengetahui perkembangan kesehatan, beberapa alasan yang memungkinkan pencatatan dan pelaporan ini tidak lengkap.
Pengisian kohort bayi masih dilakukan manual sehingga memakan waktu lama, mudah rusak, dan banyak kolom yang harus diisi. Mengingat seorang bidan menguasai pencatatan maka diperlukan kohort bayi digital pengganti kohort bayi manual untuk mempermudah pencatatan, dilihat dari perkembangan sistem teknologi karena tanpa pencatatan dan pelaporan, kegiatan atau program apapun yang dilaksanakan tidak akan terlihat wujudnya. Hasil pencatatan dan pelaporan ini adalah sebuah data informasi yang berharga serta bernilai bila menggunakan metode yang tepat dan benar. Keunggulan kohort digital memudahkan perkerjaan bidan di lapangan dan kelemahan kohort manual cara penyimpan mudah rusak, robek, dan hilang.
Berdasar atas uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian efektivitas kohort bayi digital dibanding dengan kohort bayi manual di wilayah UPT Puskesmas Inap Wua-wua Kota Kendari.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasar atas latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian adalah:
1. apakah kohort bayi digital lebih efektif dibanding dengan kohort bayi manual terhadap kinerja bidan ?
2. apakah penggunanan kohort bayi digital lebih praktis daripada kohort bayi manual ?
1.3 Tujuan Penelitian ini adalah:
1. menganalisis efektivitas kohort bayi digital dibanding dengan kohort bayi manual;
2. menganalisis kepraktisan penggunaan kohort bayi digital dibanding dengan kohort bayi manual.
1.4 Kegunaan Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan ide pemikiran untuk meningkatkan kualitas pelayanan KIA khususnya untuk mengatasi permasalahan dalam pencatatan dan perkembangan kesehatan baby
1.5 Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharap dapat membantu pelayanan di puskesmas dan dapat dijadikan sisitem informasi kemajuan teknologi untuk meningkatkan kualitas pencatatan dan pelaporan pemantauan kesehatan bayi oleh bidan.