PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Pemilihan Tema
Liturgi tidak dapat dirayakan tanpa Sabda Allah.1 Sabda Allah merupakan sumber dan inspirasi dari setiap tindakan liturgi. Setiap tindakan liturgi menjadi perwujudan Sabda Allah. Liturgi dan Sabda Allah merupakan dua bagian yang berkaitan dan tidak terpisahkan. Salah satu perayaan fundamental dalam gereja Katolik adalah perayaan Ekaristi2. Ekaristi adalah bagian dari perayaan liturgi yang bersumber dari Sabda Allah.
Perayaan ekaristi terdiri atas empat struktur yang saling berhubungan, yakni Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dan Ritus penutup. Keempatnya membentuk
1 Picrc Jounel, “The Bible in the Liturgy” dalam Mortimort, cl al., The Liturgy ami the Word of God (St. John’s Abbey Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1959), hlm. 1-2.
2 Ekaristi berasal dari Bahasa Yunani eucharistia, yang berarti ucapan syukur. Kata ini adalah suatu kata benda dari kata kerja eucharistein yang berarti memuji dan mengucap syukur. Pada awalnya setiap doa syukur dapat disebut Ekaristi. Namun, sejak Ignatius dari Antiokhia (tahun 110) kata Ekaristi telah menjadi istilah teknis yang digunakan gereja Katolik untuk perayaan Ekaristi. Ekaristi memiliki terminology lain misalnya, Perjamuan Tuhan, Pemecahan Roti, Kurban Suci, atau Misa Kudus. [Lihat Ernest Manyanto, Kamus Liturgi Sederhana (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm.
kesatuan utuh perayaan ekaristi. Unsur utama dari perayaan ekaristi adalah Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi.3
Perayaan ekaristi diawali dengan ritus pembuka, kemudian dilanjutkan dengan Liturgi Sabda. Liturgi Sabda adalah saat pembacaan Sabda Allah yang diambil dari Kitab Suci4. Kitab suci memiliki fungsi fundamental dalam Liturgi Sabda. Hal ini ditekankan dalam Konsili Vatikan II5 dalam Sacrosanctum Concilium, dengan tegas menyatakan bahwa,
Dalam perayaan Liturgi, Kitab Suci sangat penting. Sebab dari Kitab Sucilah dikutib bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab Sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah liturgi; dari padanya pula ucapan serta lambang-lambang memperoleh maknanya. Maka untuk membaharui, mengembangkan dan menyesuaikan liturgi suci perlu dipupuk cinta yang hangat dan hidup terhadap Kitab Suci, seperti ditunjukkan oleh tradisi ritus Timur maupun ritus Barat.6
3 Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosactum Concilium), no. 56, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana (Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI-OBER, 1993); untuk pengutipan selanjutnya akan disingkat SC dan diikuti dengan nomor.
4 Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru merupakan sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman. [Lihat Konferensi Wali Gereja Indonesia, Iman Katolik: Buku Informasi dan Referensi (Yogyakarta: Kanisius 1996), hlm. 214.] Kitab Suci adalah buku iman Gereja. Karena itu”
semua yang menyangkut menafsirkan Alkitab berada dibawah wewenang Gereja, yang menunaikan tugas serta pelayanan memelihara dan menafsirkan sabda Allah. (DV 12) Pada hakikatnya Kitab Suci adalah
“Injil”, atau “kabar baik” dan berbicara mengenai keselamatan. [Lihat Kono B. Kahaya, Kebaktian Sabda:
Menyusun dan Membawakan Homili Tematis dan Skematis (Jakarta: Obor,1994), hlm. 11.] Kitab Suci juga merupakan seluruh Gereja dan bagian dari “warisan Gereja” yang wajib hukumnya untuk dilestarikan, diakui dan diterapkan dalam upaya komunal. [Lihat Komisi Kitab Suci kepausan, Penafsiran Alkitab dalam Gereja; Edisi Revisi (Yogyakarta; Knisius, 2020), hlm. 103.]
5 Konsili Vatikan II (1962-1965) diadakan oleh Paus Yohanes XXIII (1881-1963). Konsili ini dilaksanakan dalam rangka Aggiornamento (Penyesuaian dengan zaman) kehidupan Gereja dan rumusan- rumusan ajarannya. [Lihat Gerald O’Collins-Edward G. Farrugia, Kamus Teologi (judul asli: A Concise Dictionary of Theology), diterjemahkan oleh I. Suharyo (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 163.]
6 SC no. 24.
Hal ini juga didukung dalam SC no. 51 yakni, “Agar santapan Sabda Allah dihidangkan secara lebih melimpah kepada umat beriman, hendaknya khazanah Alkitab dibuka lebar, sehingga dalam kurun waktu beberapa tahun bagian-bagian penting Kitab Suci dibacakan kepada umat.”
Pembacaan Kitab Suci ini mengandung arti kehadiran Allah yang menyapa, menguatkan, memberi inspirasi hidup, memberi harapan dan sebagainya kepada umat secara personal.7 Pada dasarnya, Liturgi Sabda merupakan kerangka yang diciptakan agar Sabda Allah diperdengarkan secara efektif dan bersama-sama. Gereja mengusahakan agar bagian-bagian penting dari Kitab Suci diperdengarkan secara runtut kepada umat.
Bacaan-bacaan tersebut disusun secara struktural dalam buku Bacaan Misa Misale Romanum.8
Ditinjau dari sisi sejarah liturgi, tak dapat disangkal bahwa Perayaan ekaristi dipengaruhi oleh tradisi Yahudi. Yesus, para rasul, dan jemaat perdana merupakan bagian dari bangsa Yahudi. Hal ini menyebabkan tradisi Yahudi memengaruhi ibadat jemaat
7 Konferensi Waligereja Indonesia, Kursus Dasar Teologi Liturgi(Ygyakarta: Kanisius, 2001), hlm. 150.
8 Buku Bacaan Misale Romanum merupakan buku misa resmi untuk Gereja Katolik Roma. Buku ini menunjuk pada buku yang berisi doa, nyanyian dan bacaan Alkitab yang digunakan dalam Liturgi Sabda dalam perayaan Ekaristi. Secara umum bacaan-bacaan tersebut dibagi dalam enam bagian besar yakni, Bacaan Misa Hari Minggu dan Hari Raya, Bacaan Misa Para Kudus, Bacaan Misa hari Biasa, Bacaan untuk Keperluan Ritus-Ritus, Bacaan Untuk Aneka Upacara, dan Bacaan Misa Votif. Namun, untuk Misale Romawi Indonesia, Komisi Liturgi KWI membagi bacaan tersebut dalam tiga buku saja yakni Bacaan Misa Hari MInggu dan Hari Raya, Bacaan Misa Harian, dan Bacaan Misa Para Kudus dan Misa Upacara [Lihat Jovian P. Lang, Dictionary of the Liturgy (New York: Catholic Book Publishing Co, 1989), hlm. 312-314;
bdk. Komisi Liturgi KWI, Buku Bacaan Misa II (Jakarta: Obor, 1987), hlm. 7.]
Kristen awal. Tradisi Yahudi tersebut perlahan disesuaikan menjadi ibadat Kristen.9 Perjanjian Lama menggambarkan bagaimana umat Israel mendengarkan Sabda Allah melalui nabi. Orang-orang Yahudi pada zaman Yesus pun mendengarkan Sabda Allah di bait Allah atau sinagoga. Yesus sendiri pun ikut ambil bagian dalam peribadatan tersebut (bdk. Luk 4:16-21). Pola peribadatan Yahudi terdiri dari tiga unsur penting yakni, bacaan- bacaan, tanggapan, dan doa.10
Umat Kristen awal menyadari pentingnya Sabda Allah dalam kehidupan mereka.
Mereka selalu membaca tulisan dan kitab yang ditulis para nabi sebagai bentuk praktik hidup keagamaan. Kitab itu biasanya dibacakan sebelum mereka mengadakan pemecahan roti.11 Ketika tulisan-tulisan Perjanjian Baru muncul, mereka pun menambahkan bacaan dari Perjanjian Baru dalam peribadatan mereka. Paulus sendiri pun meminta agar surat-suratnya dibacakan dalam pertemuan jemaat (bdk. 1Tes 5:27;
Kol4:16).12 Oleh sebab itu, sejak awal kekristenan, Kitab Suci memiliki peranan penting dalam kehidupan umat beriman. Namun, pada abad pertengahan, pembacaan Kitab Suci mengalami kemunduran. Hal ini terjadi karena Liturgi Ekaristi dipandang lebih penting daripada Liturgi Sabda.13
9 Adrian Fortescue, The Mass: A Study of the Roman Liturgy (London, New York, Toronto:
Longmans, Green and Co, 1950), hlm. 2-3, 254.
10 E. Martasudjita, Pengantar Liturgi: Makna Sejarah dan Teologi Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 1999), hlm. 184.
11 Terminologi pemecahan roti ditemukan dalam Perjanjian Baru (Kis 2:42, 46; 20:7,11).
Pemecahan roti ini menunjuk pada perayaan Ekaristi. [Lihat E. Martasudjita, Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral (Yogyakarta; kanisius, 2005), hlm. 31.]
12 Adrian Fortescue, The Mass …, hlm. 20.
13 E. Martasudjita, Pengantar …, hlm. 184-185.
Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi memiliki kekayaan simbolisme dan makna.
Setiap tindakan dalam liturgi mengandung makna yang tersembunyi. Namun, banyak umat bahkan imam kurang memahami simbolisme tersebut. Pemahaman yang kurang menyebabkan penghayatan yang kurang pula. Salah satu simbolisme dalam Liturgi Sabda ialah Evangeliarium14 dan pemakluman Injil. Evangeliarium dan pemakluman Injil kerap dianggap sebagai simbol liturgi saja, padahal keduannya memiliki keistimewaan dan makna khusus, yakni sebagai simbol dan puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda.
15
Tindakan pemakluman Injil menjadi sesuatu yang penting. Pemakluman Injil membantu umat Allah untuk mengerti apa yang hendak dilakukan.16 Sabda Allah yang dimaklumkan dalam perayaan liturgi tidak hanya bertujuan untuk mengingat peristiwa yang terjadi pada masa lampau, akan tetapi ingin menyentuh peristiwa yang terjadi dalam kekinian serta ingin menggapi suatu harapan di masa yang akan datang sebagaimana ditekankan dalam tata bacaan misa nomor 7, yang berbunyi; “Sabda Allah yang dimaklumkan dalam perayaan misteri-misteri Ilahi, tidak hanya menyinggung hal-hal
14 Evangeliarium merupakan Kitab Injil yang berisi bacaan-bacaan Kitab Suci dari keempat Injil.
Evangeliarium berbeda dengan Lectionarium yang bersi bacaan dari perjanjian lama dan perjanjian baru.
Evangeliarium memiliki keistimewaan dalam liturgi sabda yakni sebagai lambang kehadiran Kristus. [Lihat Stephanus Augusta Yudhiantoro, “Evangeliarium dan Pemakluman Injil: Simbol dan Puncak Kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda”, dalam Melintas, 34/3 (Desember 2018), hlm. 284.
15 Stephanus Augusta Yudhiantoro, “Evangeliarium dan Pemaklumatan Injil…”, hlm. 273.
16 Aloysius Lerebulan, Petunjuk Praktis Penggunaan Kitab Suci dalam Berkotbah (Yogyakarta:
Kanisius, 2013), hlm. 7.
aktual masa kini, melainkan juga melihat peristiwa-peristiwa masa lampau serta menguak masalah-masalah yang akan datang”.17
Dewasa ini, banyak orang tidak memahami pentingnya Liturgi Sabda dalam perayaan Gereja Katolik. Orang datang ke gereja hanya ketika ada perayaan Ekaristi. Saat perayaan Ekaristi tidak dirayakan dan yang ada hanya perayaan Liturgi Sabda, jumlah umat yang hadir jauh lebih sedikit. Hal itu terjadi karena umat kurang mengerti akan kekayaan simbolisme serta makna Liturgi Sabda tersebut. Umat memandang Liturgi Ekaristi lebih tinggi dibandingkan Liturgi Sabda. Mereka berpendapat bahwa eksistensi Allah hanya tampak dalam perayaan Ekaristi.
Melihat kenyataan ini kirannya umat beriman perlu diingatkan kembali akan pentingnya nilai Evangeliarium dalam perayaan liturgi. Sebab Allah sungguh-sungguh hadir, menyapa, menguatkan dan mengispirasi bukan hanya lewat perayaan Ekaristi tetapi juga lewat pemakluman Injil.18 Sehubungan dengan itu Sabda Allah yang dimuat dalam Evangeliarium tidak hanya sebatas kitab Injil yang hanya memberi keterangan mengenai
perjalanan hidup Yesus dan karya-Nya. Akan tetapi didalamnya terdapat berita keselamatan, pendamaian dan hidup yang kekal.19
17 [tanpa Pengarang], Pendampingan Pemimpin; Liturgi Sabda, Seri I (Pematangsiantar: Komlit KAM, 1988), hlm. 9.
18 E. Martasudjita, Pengantar …, hlm. 179.
19 A. N. Hendriks, Pengatur Rumah Allah: Uluran Tangan Kepada Penatua (Jakarta: Gunung Mulia, 2000), hlm. 52.
Kurangnya penghayatan umat terhadap Evangeliarium dan pemakluman Injil, kerap menimbulkan berbagai persoalan yakni lahirnya implementasi untuk mengganti Evangeliarium dengan buku bacaan lain; tulisan orang kudus dan buku ajaran Gereja.20
Praktik menggantikan Evangeliarium semakin sering terjadi teristimewa di era globalisasi ini. Evangeliarium kerap juga digantikan dengan alat-alat elektronik.
Tindakan demikian tentu sudah mengurangi sakralitas liturgi. Demi Sabda Allah yang hendak dimaklumkan, Konsili Vatikan II menegaskan bahwa sumber pewartaan utama ialah Kitab Suci. Sehubungan dengan itu, konsili juga mengetengahkan bahwa pemikiran para teolog mesti bersumber dari Kitab Suci.21
Berdasarkan penjelasan diatas, lahirlah pertanyaan dalam diri penulis yakni; dari Struktur perayaan Ekaristi yang terdiri atas dua unsur utama yakni Liturgi Ekaristi dan Liturgi sabda; Liturgi Sabda terdiri atas tiga bagian penting yakni ritus pembuka, memaklumkan dan mendengarkan sabda Allah.22 Sebenarnya, apakah makna dari perayaan Liturgi Sabda yang adalah bagian dari liturgi Ekaristi, secara istimewa menyangkut Evangeliarium dan Pemaklumatan Injil? Apakah bacaan dari Evangeliarium yang diwartakan hanya sebatas buku bacaan yang dapat diganti-ganti dengan buku bacaan lain atau memang Evangeliarium itu adalah buku bacaan yang wajib hukumnya untuk digunakan dan dimaklumkan dalam Perayaan Ekaristi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi alasan penulis untuk menuliskan skripsi ini.
20 E. Martasudjita, Ekaristi …, hlm. 133.
21 Aloysius Lerebulan, Petunjuk …, hlm. 7.
22 Stephanus Augusta Yudhiantoro, “Evangeliarium dan Pemaklumatan Injil …, hlm. 273
2. Perumusan dan Pembatasan Masalah
Puncak Kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi Gereja Katolik tidak hanya ada dalam Liturgi Ekaristi melainkan juga dalam Liturgi Sabda. Dalam perayaan liturgi khususnya dalam perayaan Ekaristi, Sabda Allah yang terdapat dalam Evangeliarium merupakan sesuatu yang wajib disampaikan. Sebab memang Liturgi Sabda itu merupakan tempat dan kesempatan untuk memaklumkan Sabda Allah. Oleh sebab itu, seluruh perayaan liturgi tidak pernah lepas dari Sabda Allah. Perayaan liturgi akan terasa hampa dikala Sabda Allah tidak dihidangkan.23
Keseluruhan liturgi24 hendak menggambarkan Allah yang hadir dan bersabda.
Allah hendaknya menjadi subjek utama dalam perayaan tersebut. Sedangkan orang yang merayakannya ialah hamba-hamba Allah. Kehadiran Allah dalam liturgi semakin nyata saat Evangeliarium dihidangkan dalam meja sabda. Subjek utama yang dihidangkan ialah Sabda Allah bukan pribadi yang memaklumkannya.25
23 A. N. Hendriks, Pengatur Rumah Allah …, hlm. 53.
24 Liturgi berasal dari kata leitourgia. Kata leitourgia berasal dari bahasa Yunani, yaitu perpaduan dari kata ergon (karya) dan leitos (kata sifat untuk kata benda laos, yang artinya bangsa). Berdasarkan akar kata itu, maka secara harafia leitourgia berarti karya pelayanan yang dibaktikan demi kepentingan bangsa.
Pada abad II SM kata ini muncul dalam pelayanan kultis (pelayan ibadat). Pengertian ini digunakan oleh kelompok Septuaginta (LXX). Kata ini juga terdapat dalam Perjanjian Baru (Kis 13:2; Luk 1:23). [Lihat Emanuel Martasudjita, Liturgi Pengantar untuk studi dan Praktis Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hlm. 15.] Dalam Gereja Ortodoks, kata liturgi sering digunakan khusus untuk kegiatan Ekaristi sedangkan dalam Gereja-gereja Barat yang condong digunakan ialah kata “Liturgis” yang dikenakan untuk semua bentuk kegiatan ibadah yang notabene mengajak seluruh umat untuk hadir secara aktif. [Lihat James F.
White, Paengantar Ibadah Kristen (Jakarta: Gunung Mulia, 2009), hlm. 14.]
25 Bosco da Cunha, Teologi Liturgi dalam Hidup Gereja (Malang: Dioma, 2004), hlm. 97.
Sejak abad-abad pertama, para bapa Konsili Vatikan II sudah mengetengahkan bahwa Gereja sangat menghormati Kitab Injil, yang kemudian dikenal sebagai Evangeliarium dan pemakluman Injil, khususnya dalam perayaan Ekaristi.
Penghormatan kepada Evangeliarium bertitik tolak dari eksistensi buku tersebut yakni sebagai simbol dan puncak dan kehadiran Kristus. Evangeliarium dan pemakluman Injil yang dinobatkan sebagai simbol dan puncak kehadiran Kristus hendaknya dimaknai dan dihormati secara baik dan benar.26
Pentingnya pengetahuan, pendalaman, penghayatan akan Evangeliarium yang adalah bagian dari Kitab Suci, sebagaimana diketengahkan dalam kosili Vatikan II, hendaknya tidak pernah luput dari hidup beriman kristiani, sebab di dalam Evangeliarium yang dimaklumkan, Allah sendiri berbicara kepada umat-Nya dan Kristus hadir dalam Sabda-Nya.27
Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi memiliki kedudukan yang sama dalam perayaan Ekaristi. Keduanya memiliki simbolisme khusus untuk mengungkapkan kehadiran Kristus. Umat diharapkan mampu memahami makna dari simbol yang terdapat didalamnya. Simbol tidak pernah hadir untuk dirinya sendiri. Simbol selalu mengandung makna yang terselubung atau representasi dari maksud tertentu. Ungkapan dari inti misteri iman yang dirayakan terdapat dalam simbol itu.28 Kekayaan simbolisme
26 Stephanus Augusta Yudhiantoro, “Evangeliarium dan Pemaklumatan Injil …, hlm. 285.
27 Aloysius Lerebulan, Petunjuk Praktis Penggunaan Kitab Suci …, hlm. 7.
28 Emanuel Martasudjita, Liturgi …, hlm. 131.
dan makna Evangeliarium itu sendiri hendaknya dipahami dan didalami secara baik.
Oleh sebab itu, penulis memberikan judul skripsi ini Makna Evangeliarium dan Pemakluman Injil sebagai Simbol dan Puncak Kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda.
3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan skripsi ini ialah untuk memenuhi syarat akademis guna memperoleh gelar Sarjana Starata Satu (S-1) di Fakultas Fisafat, Jurusan Filsafat, Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara. Selain itu, skripsi ini dan proses penulisannya juga bertujuan untuk menambah pengetahuan, pemahaman dan penghayatan penulis akan makna Evangeliarium dan pemakluman Injil. Kemudian penulisan skripsi ini bertujuan untuk menegaskan kembali makna Evangeliarium dan pemaklumatan Injil yang adalah simbol dan puncak kehadiran Kristus. Skripsi ini kirannya menuntun penulis dan umat beriman memahami secara baik dan benar makna Evangeliarium dan Pemaklumatan Injil, dengan demikian setiap individu mampu
mengikuti dan menghayati prayaan Liturgi Sabda yang merupakan bagian dari Liturgi Ekaristi sebagai puncak dan sumber kekuatan umat beriman Kristiani dengan baik.
4. Metode Penelitian dan Penulisan
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian kepustakaan (Library research). Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis akan mencari, mengumpulkan, membaca, memahami, mengolah dan menggali berbagai pengetahuan serta pemahaman dari buku-buku, artikel dan dokumen Gereja lain dan pada akhirnya membahasakannya sesuai dengan tema skripsis ini. Sebagai referensi penulisan skripsi ini. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan tersebut, penulis akan menyatukan, membahasakan dan memaparkannya secara sistematis sesuai dengan tema kripsi ini.
5. Sistematika Penyajian
Dalam skripsi ini, penulis menggunakan sistematika tertentu, yakni dengan menyusunnya dalam empat bab. Bab I adalah pendahuluan. Pada bab ini penulis akan memaparkan latar belakang pemilihan tema, perumusan dan pembatasan tema, tujuan penulisan, metode penelitian dan penulisan dan diakhiri dengan sistematika penyajian.
Bab II adalah pembahasan mengenai selayang pandang Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi. Dalam bab ini, penulis akan mengawali pembahasan dengan pengantar singkat. Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan latar belakang Liturgi Sabda. Dalam bagian latar belakang ini, penulis akan memaparkan bagaimana pengalaman Sabda Allah dalam Perjanjian Lama, pengalaman akan Sabda Allah dalam Perjanjian Baru, dan bagaimana gambaran umum pembentukan Liturgi Sabda. Penulis juga menguraikan
secara singkat mengenai unsur-unsur permbentuk Liturgi Sabda yakni bacaan, homili, dan tanggapan umat. Kemudian setelah memaparkan latar belakang Liturgi Sabda, penulis melanjutkan pemaparan dengan menjelaskan buku-buku yang digunakan dalam perayaan Liturgi Sabda. Adapun buku yang dimaksud penulis ialah buku Lectionarium dan Evangeliarium. Setelah menerangkan bagian buku-buku yang digunakan untuk perayaan Liturgi Sabda, penulis akan membahas secara singkat mengenai keistimewaan Lectionarium dan Evangeliarium. Penulis juga menerangkan penguunaan Evangeliarium dalam liturgi Gereja Katolik. Kemudian bab II ini, akan diakhiri dengan rangkuman.
Dalam Bab III, penulis akan memaparkan makna Evangeliarium dan pemaklumatan Injil sebagai simbol dan puncak kehadiran Kristus dalam Liturgi Sabda.
Dalam bab ini, pembahasan akan diawali penulis dengan menuliskan pengantar singkat.
Penulis juga akan memperdalam pemaparan dengan melihat makna teologis dan makna liturgisnya. Pada bagian makna Teologis ada beberapa poin penting yang disoroti dan akan dipaparkan penulis yaitu: Evangeliarium sebagai sarana campur tangan Allah;
Allah yang bersabda (Allah bersabda melalui Evangeliarium, Allah bersabda menggunakan bahasa manusia dan Allah bersabda melalui meja sabda); dan dialog antar manusia dengan Allah. Setelah memaparkan makna teologisnya, penulis akan memaparkan makna liturgisnya. Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai penghormatan Evangeliarium dalam Liturgi Sabda. Kemudian akan dilanjut dengan memaparkan penggunaan Evangeliarium yang kemudian dibagi atas dua yakni penggunaan umum dan penggunaan khusus. Kemudian penulis akan memaparkan tata
cara membawakan Evangeliarium dan pemaklumatan injil. Kemudian pada poin berikutnya penulis akan memaparkan mengenai tanggapan manusia dalam mendengarkan Evangeliarium. Dalam pemaparan ini penulis akan menerangkan secara singkat
menyangkut tata gerak dan sikap tubuh. Kemudian pemaparan terakhir dari topik makna liturgis ini adalah tempat pentahtahan Evangeliarium. Pada akhirnya bab III ini ditutup dengan rangkuman.
Bab IV adalah bagian penutup dari skripsi ini. Dalam bab IV ini, penulis akan menuliskan rangkuman umum atas seluruh pembahasan yang telah dipaparkan dalam skripsi ini. Setelah menuliskan rangkuman umum, penulis akan menuliskan refleksi kritis dan diakhiri dengan aplikasi pastoral.