8
BAB II
KONTEKS KONSEPTUAL
2.1 Kajian Terdahulu
Bagi peneliti kajian terdahulu mengenai objek dan materi yang diteliti sangat diperlukan, oleh karena itu hal tersebut berguna untuk memahami penelitian sebelumnya serta menjadi acuan peneliti mengkaji lebih jauh sudut pandang para peneliti terdahulu. Kajian terdahulu sendiri merupakan tinjauan penelitian terdahulu dan berfungsi sebagai dasar acuan peneliti dalam melakukan penelitian.
Peneliti melakukan studi penelitian terdahulu untuk menjadi referensi penelitian ini. Melalui jurnal-jurnal penelitian, peneliti dapat mengetahui apa yang akan terjadi sekarang didalam bidang diteliti. Berikut ini merupakan kajian terdahulu peneliti, diantaranya :
Sedangkan penelitian pertama yang ditulis oleh Riezky Siam Rachman dengan judul “Peran Humas Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kota Tangerang Dalam Mempromosikan Wisata Situ Cipondoh Di Era New Media” tahun 2018 dengan metode studi kasus mengenai kasus pengelolaan website, instagram dan Tangerang TV. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Hasil penelitian diketahui peran sebagai komunikator dengan cara mempenyebarkan berita atau informasi dan menyiapkan data atau informasi publisitas, peran dalam membina kerjasama untuk menguatkan peran atau tugas dari pihak yang terlibat, dan rencana memperluas kerjasama terkait promosi, peran sebagai pendukung manajemen dapat mengelompokkan permasalahan
9
pengelolaan dan promosi dan menyerap keinginan wisatawan, peran membentuk citra objek wisata dengan bekerja sama dengan Tangerang TV dan situs website dan Instagram dalam membentuk citra sebagai objek wisata unggulan di Kota Tangerang, pemanfaatan new media untuk promosi saat ini dengan website dan Instagram serta kerjasama dengan Tangerang TV sebagai alat promosi, new media yang paling efektif dalam promosi objek wisata adalah Instagram.
Penelitian kedua yang ditulis oleh Vivi Nur Elvia Margarita dengan judul
“Implementasi Kinerja Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri Dalam Meningkatkan Pelayanan Informasi Publik” tahun 2017 dengan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari seluruh kegiatan kehumasan Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri dapat disimpulkan pelayanan informasi publik meningkat.
Penelitian ketiga yang ditulis oleh Frizki Yulianti Nurnisya dan Adhianty Nurjanah dengan judul “Peran Humas Pemerintahan Kota Yogyakarta Dalam Sosialisasi Tagline “Jogja Istimewa” “ tahun 2016 dengan metode studi deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan paradigma positivistik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa hasil sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Humas Pemerintahan Kota Yogyakarta belum optimal.
Penelitian keempat yang ditulis oleh Firman Akbar Setiawan dengan judul
“Strategi Humas Pemerintah Kota Bandung Dalam Menyosialisasikan Program Gerakan Sejuta Biopori Dengan Memanfaatkan Facebook Sebagai Media Komunikasi” tahun 2014 dengan metode kualitatif deskriptif dan teknik
10
pengumpulan data melalui wawancara, observasi partisipan, studi dokumentasi dan internet browsing. Dan hasil penelitian yang didapatkan adalah sudah cukup baik, artinya pesan mengenai Gerakan Sejuta Biopori dapat diterima oleh masyarakat.
Penelitian kelima yang ditulis oleh Aris Mazidah dengan judul “Peran Public Relations Dalam Implementasi Community Development PT Telkom, Tbk
Kandatel Yogyakarta” tahun 2010 dengan metode kualitatif deskriptif.
Pengumpulan data menggunakan tiga metode : interview, observasi dan dokumentasi. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan masyarakat dilaksanakan oleh community development center (CDC) yang dibentuk oleh Telkom. Namun, humas diperlukan dalam implementasi pengembangan masyarakat sebagai komposer pesan yang akan disampaikan kepada publik.
11 Tabel 2.1
Daftar Kajian Terdahulu
Penelitian Riezky Siam Rachman
Vivi Nur Elvia Margarita
Frizki Yulianti Nurnisya dan Adhianty Nurjanah
Firman Akbar Setiawan
Aris Mazidah Ofi Sofiyanti
Institusi/
Tahun
Universitas Sultan Agung Tirtayasa /
2018
Institut Agama Islam Negeri Surakarta / 2017
Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
/ 2016
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati /
2014
Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga Yogyakarta /
2010
Universitas BSI Bandung /
2019
Judul Peran Humas Dinas Kebudayaan Dan
Pariwisata Kota Tangerang Dalam
Mempromosikan Wisata Situ Cipondoh Di Era
New Media
Implementasi Kinerja Bagian
Humas Sekretariat
Daerah Kabupaten Wonogiri Dalam
Meningkatkan Pelayanan Informasi Publik
Peran Humas Pemerintahan Kota Yogyakarta Dalam Sosialisasi Tagline
“Jogja Istimewa
Strategi Humas Pemerintah Kota
Bandung Dalam Menyosialisasikan
Program Gerakan Sejuta Biopori
Dengan Memanfaatkan Facebook Sebagai Media Komunikasi
Peran Public Relations Dalam
Implementasi Community Development PT
Telkom, Tbk Kandatel Yogyakarta
Peran Humas Pusat Litbang Perumahan
dan Permukiman
Balitbang Kementerian PUPR Dalam Sosialisasi
RISHA (Rumah Instan
Sederhana
12 Sehat) Pasca
Bencana Di Lombok Tujuan Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui peran
humas Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Tangerang dalam
menjalankan promosi, pemanfaatan new
media dan new media yang efektif dalam promosi objek
wisata Situ Cipondoh.
Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan
tentang pelaksanaan kegiatan-kegiatan
kehumasan di Bagian Humas
Sekretariat Daerah Kabupaten dalam
Meningkatkan Pelayanan Informasi Publik.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran
humas Pemerintahan Kota
Yoyakarta dalam mensosialisasikan
tagline “jogja istimewa” sebagai
branding Yogyakarta.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana strategi
humas dalam menyosialisasikan
Gerakan Sejuta Biopori kepada
masyarakat Bandung melalui facebook sebagai media komunikasi.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
program community development yang
telah dijalankan PT. Telkom, Tbk
Kandatel Yogyakarta.
Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui
Humas merencanakan
informasi tentang RISHA, mengetahui media yang digunakan Humas dalam mensosialisasi kan program
RISHA, mengetahui
Humas mengukur keberhasilan
informasi tentang
13 RISHA.
Metode Penelitian
Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif
Hasil Hasil dari penelitian adalah
diketahui peran sebagai komunikator
dengan cara mempenyebarkan
berita atau informasi dan menyiapkan data
atau informasi publisitas, peran dalam membina kerjasama untuk menguatkan peran
atau tugas dari pihak yang terlibat, dan
rencana memperluas
Hasil dari penelitian adalah
menunjukkan bahwa dari seluruh kegiatan
kehumasan Bagian Humas
Sekretariat Daerah Kabupaten Wonogiri dapat
disimpulkan pelayanan informasi publik
meningkat.
Hasil dari penelitian adalah menemukan bahwa
hasil sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Humas Pemerintahan Kota
Yogyakarta belum optimal.
Hasil dari penelitian adalah sudah cukup baik,
artinya pesan mengenai Gerakan
Sejuta Biopori dapat diterima oleh
masyarakat.
Hasil dari penelitian adalah
menunjukkan bahwa pengembangan
masyarakat dilaksanakan oleh
community development center (CDC) yang dibentuk oleh Telkom.
Namun, humas diperlukan dalam
implementasi pengembangan
masyarakat sebagai komposer
pesan yang akan disampaikan
Hasil dari penelitian ini yaitu infromasi
tentang RISHA menggunakan
variabel presdiposing
dan variabel situasional, media yang digunakan
Humas menggunakan
media berita, media siaran dan media komunikasi tatap muka dan
informasi
14 kejasama terkait
promosi, peran sebagai pendukung manajemen dapat mengelompokkan
permasalahan pengelolaan dan
promosi dan menyerap keinginan wisatawan, peran membentuk citra
objek wisata dengan bekerja
sama dengan Tangerang TV dan situs website
dan Instagram dalam membentuk citra
sebagai objek wisata unggulan
di Kota Tangerang, pemanfaatan new
kepada publik. tentang sosialisasi RISHA yang dilakukan oleh Humas Puskim adalah sudah
cukup baik, artinya pesan
mengenai RISHA dapat di terima oleh masyarakat di
Lombok.
15 media untuk
promosi saat ini dengan website dan Instagram serta kerjasama
dengan Tangerang TV
sebagai alat promosi, new
media yang paling efektif dalam promosi
objek wisata adalah Instagram.
Persamaan Menggunakan metode penelitian
kualitatif untuk menjalankan promosi melalui
peran humas.
Membahas implementasi
kinerja yang dilakukan bagian
humas dalam meningkatkan
pelayanan informasi publik.
Membahas peran humas dalam mensosialisasi suatu program.
Menggunakan metode penelitian
kualitatif untuk melalui peran
humas
Membahas peran humas dalam implementasi suatu program.
Terletak pada peran Humas
dalam sosialisasi
RISHA (Rumah Instan
Sederhana Sehat) pasca
bencana di Lombok.
16 Perbedaan Cara yang
digunakan dalam menjalankan
promosi menggunakan pemanfaatan new
media.
Terletak pada tehapan peran humas dengan menggunakan kegiatan human relations, media relations dan public speaking.
Cara yang digunakan dalam proses sosialisasi dilakukan dengan mengkombinasikan
teknik promosi untuk pemasaran.
Terletak pada tahapan strategi yang dilakukan oleh humas dalam menyosialisasikan
suatu program melalui facebook
sebagai media komunikasi.
Cara yang dilakukan untuk
implementasi dengan menggunakan
program community development.
Dalam analisis yang dilakukan
peneliti, menampilkan
hasil yang hampir sama namun berbeda
pada objek penelitian dan lebih berfokus kepada peran
Humasnya.
17
2.2 Kajian Literatur
2.2.1 Komunikasi
2.2.1.1 Definisi Komunikasi
Komunikasi dianggap tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan proses demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu kepada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Definisi-definisi komunikasi kemudian mengabaikan komunikasi yang tidak disengaja, seperti pesan tidak direncanakan yang terkandung dalam nada suara atau ekspresi wajah, atau isyarat lain yang spontan. Beberapa definisi yang sesuai dengan konsep ini adalah sebagai berikut.
Menurut Gerald R. Miller, “Komunikasi terjadi ketika suatu sumber menyampaikan suatu pesan kepada penerima dengan niat yang disadari untuk mempengaruhi perilaku penerima”. (Mulyana, 2015:68)
Definisi berikutnya menurut Everett M. Rogers menjelaskan
“Komunikasi adalah suatu proses di mana suatu ide dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka”. (Cangara, 2016:22)
Sedangkan menurut Belerson dan Stainer dalam karyanya Human Behavior sebagaimana dikutip oleh Rosady Ruslan dalam bukunya Kampanye Public Relations mendefinisikan komunikasi sebagai berikut: Komunikasi adalah penyampaian informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan lambang- lambang, kata-kata, gambar, bilangan, grafik, dan lain-lain. Kegiatan
18
atau proses penyampaianlah yang biasanya dinamakan komunikasi.
(Ruslan, 2013:17)
Pendapat lain menyatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, merubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media). (Effendy,2011:13)
Jadi, pada intinya komunikasi merupakan suatu hubungan dengan adanya suatu pertukaran informasi (pesan), di mana adanya perubahan sikap dan tingkah laku serta kebersamaan dalam menciptakan saling pengertian orang-orang yang ikut serta dalam suatu proses komunikasi.
Dalam layanan komunikasi dapat dimaknai sebagai kegiatan, pekerjaan, tugas yang dilaksanakan secara rutin untuk membina hubungan harmonis baik di dalam maupun organisasi.
1. Layanan Komunikasi kepada Publik Internal (di Dalam Organisasi) Publik internal adalah orang-orang yang terlibat dalam proses produksi barang dan/atau jasa yang dihasilkan perusahaan atau organisasi, dari mulai merencanakan produksi, menghasilkan produk, sampai dengan proses pemasaran dan penjualannya.
(Suranto, 2018:183)
2. Layanan Komunikasi kepada Publik Eksternal (di Luar Organisasi) Publik eksternal terdiri orang perorangan, kelompok, masyarakat, organisasi lain, maupun instansi pemerintahan yang menggunakan
19
produk barang dan/atau jasa yang dihasilkan oleh suatu organisasi.
(Suranto, 2018:186) 2.2.2 Humas
2.2.2.1 Definisi Humas
Pada dasarnya Public Relations atau disebut Humas merupakan bidang atau fungsi tertentu yang diperlukan oleh setiap organisasi, perusahaan bahkan pemerintahan. Perannya sebagai wahana komunikasi ke dalam dan ke luar. Kebutuhan dan kehadirannya tidak biasa dicegah, karena Humas merupakan salah satu elemen yang menentukan kelangsungan suatu organisasi secara positif.
Batasan pengertian Humas, menurut para ahli sampai saat ini belum ada satu kesepakatan secara tegas, ini disebabkan karena pertama, banyaknya definisi Humas yang satu sama lain saling berbeda pendapat tentang Humas yang telah dirumuskan oleh para pakar atau ahli, maupun profesional Humas yang satu sama lain saling berbeda pendapat tentang Humas. Kedua, terjadi perbedaan batasan pengertian tentang Humas diakibatkan karena adanya latar belakang yang berbeda, misalnya definisi yang dilontarkan oleh kalangan akademis akan lain dengan apa yang diungkapkan oleh kalangan praktisi Humas. Ketiga, sesuatu yang menunjukkan baik secara teoritis maupun praktisi bahwa kegiatan Humas itu bersifat dinamis dan fleksibel terhadap perkembangan dinamika masyarakat serta mengikuti kemajuan zaman.
Mungkin tidak ada bidang ilmu lain yang sulit didefinisikan seperti Humas. Semua orang percaya bahwa definisi dari Humas bisa
20
saja berbeda-beda arti bagi masing-masing pihak. Ada yang melihatnya dari segi komunikasi, publikasi, manajemen, pemasaran, atau periklanan, begitu kompleksnya.
Humas merupakan bagian dari tugas penerangan, baik pemerintah maupun swasta karena penerangan merupakan bagian dari komunikasi sosial dan komunikasi harus berkembang antara pemerintah dan rakyat, kelompok masyarakat dan kelompok masyarakat lainnya.
Setiap lembaga atau instansi ingin mencapai tujuan yang telah digariskan sebelumnya, melaksanakan upaya-upaya dan langkah- langkah tertentu. Tentu saja keberhasilan ini tidak dapat dicapai berdasarkan kemampuannya yang ada. Karena selain daripada itu masih diperlukan pengertian, peran serta (partisipasi) publiknya (internal, eksternal). (Widjaja, 2010:3)
Menurut Frank Jefkins, terdapat begitu banyak definisi Humas namun ia sendiri memberikan batasan humas, yaitu :
“Sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar antara suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik berlandaskan pada saling pengertian”. Menurutnya, Humas pada intinya senantiasa berkenaan dengan kegiatan penciptaan pemahaman melalui pengetahuan, dan melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan akan muncul suatu dampak yakni perubahan yang positif. (Morissan, 2010:8)
Sedangkan menurut Edward Bernays (1923), public relations adalah memberikan informasi secara langsung dan persuasif kepada publik agar merubah tindakan dan sikap publik dapat berintegrasi
21
dengan tindakan dan sikap publik dari suatu institusi. (Danandjaja, 2011:14)
Pengertian dari para ahli tersebut menunjukkan bahwa Humas merupakan fungsi manajemen mengenai hubungan-hubungan antara dua atau lebih organisasi dan publik yang menghasilkan jenis hubungan yang diinginkan atau dipergunakan oleh organisasi-organisasi dari khalayak tersebut.
2.2.2.2 Fungsi Humas
Pada dasarnya secara praktis, diketahui bila berbicara mengenai fungsi Humas atau public relations itu sendiri, tidaklah akan terlepas begitu saja kaitannya dengan kegiatan public relations. Karena melalui kegiatan public relations itu dapat secara jelas langsung dapat diketahui mengenai fungsi apa saja yang dilakukan oleh kegiatan public relations itu, baik kegiatannya dalam bentuk external maupun internal.
Menurut Bertrand R. Canfield dalam bukunya Public Relations Principles and Problems, mengemukakan Humas berfungsi :
1. Mengabdi kepentingan public.
2. Memelihara komunikasi yang baik.
3. Menitikberatkan moral dan tingkah laku yang baik. (Widjaja, 2010:
54)
Menurut Scott M. Cutlip dan Allen H. Center menjelaskan bahwa adapun fungsi dari public relations bila diarahkan keluar adalah untuk memberikan dan menyebarkan pernyataan-pernyataan kepada publik.
22
Adapun ciri atau karakteristik dari pernyataan yang disampaikan itu mencakup kepada arti:
1. Apabila pernyataan tersebut berupa informasi, maka informasi itu harus diberikan dengan jujur dan objektif, dengan dasar kepentingan public dinomorsatukan.
2. Apabila pernyataan tersebut ditujukan kepada usaha untuk membangkitkan perhatian public, maka pesan komunikasinya harus direncanakan secermat mungkin, sehingga pada tahap selanjutnya public akan menaruh simpati dan kepercayaan perusahaan atau instansi itu melalui penyebaran informasi. (Danandjaja, 2011: 21)
Rosady Ruslan dalam bukunya Kampanye Public Relations, menjelaskan ada tiga fungsi utama Public Relations, yaitu :
a. Bertindak sebagai komunikator dalam kegiatan komunikasi pada organisasi perusahaan, prosesnya berlangsung dalam dua arah timbal balik (two way traffic reciprocal communication). Dalam hal ini disatu pihak melakukan fungsi komunikasi merupakan bentuk penyebaran informasi, dilain pihak komunikasi berlangsung dalam bentuk penyampaian pesan dalam menciptakan opini publik (public opinion).
b. Membangung atau membina hubungan (relations) yang positif dan baik dengan pihak publik sebagai target sasaran, yaitu publik internal dan eksternal. Khususnya dalam menciptakan saling mempercayai (mutually understanding) dan saling memperoleh manfaat bersama (mutually symbiosis) antara lembaga/organisasi perusahaan dan publiknya.
c. Peranan backup management dan sebelumnya dijelaskan bahwa fungsi public relations melekat pada fungsi manajemen, berarti ia tidak dapat dipisahkan dari manajemen. Untuk mencapai tujuan tersebut dalam fungsi manajemen. Menurut teori bahwa proses tersebut melaluti tahapan yang terkenal POAC, yaitu dari Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actualing (penggiatan), dan Controlling (pengawasan). (Ruslan, 2013:10)
23
Berdasarkan dari para ahli tersebut menunjukkan bahwa fungsi Humas atau public relations memberikan penerangan kepada masyarakat, memelihara komunikasi yang baik dan membina hubungan secara harmonis antara organisasi dan publik, baik internal maupun eksternal.
2.2.2.3 Peranan Humas
Perkembangan profesionalisme public relations yang berkaitan dengan pengembangan peranan PR, baik sebagai praktisi maupun profesional dalam suatu organisasi atau perusahaan, menurut Dozier D.M., (1992) merupakan salah satu kunci untuk memahami fungsi public relations dan komunikasi organisasi. Selain itu, hal tersebut juga merupakan kunci untuk pengembangan peranan praktisi PRO (Pejabat Humas) dan pencapaian profesionalisme dalam public relations.
Peranan public relations dalam suatu organisasi dapat dibagi empat kategori (Dozier & Broom, 1995);
1. Penasehat Ahli (Expert prescriber)
Seorang praktisi pakar public relations yang berpengalaman dan memiliki kemampuan tinggi dapat membantu mencarikan solusi dalam penyelesaian masalah hubungan dengan publiknya (public relationship). Hubungan praktisi pakar PR dengan manajemen organisasi seperti hubungan antara dokter dan pasiennya. Artinya, pihak manajemen bertindak pasif untuk menerima atau mempercayai apa yang telah disarankan atau usulan dari pakar PR (expert prescriber) tersebut dalam memecahkan dan mengatasi persoalan public relations yang tengah dihadapi oleh organisasi bersangkutan.
2. Fasilitator Komunikasi (Communication Fasilitator)
Dalam hal ini, praktisi PR bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Dipihak lain, dia juga dituntut mampu menjelaskan kepada pihak publiknya. Sehingga dengan
24
komunikasi timbal balik tersebut dapat tercipta saling pengertian, mempercayai, menghargai, mendukung dan toleransi yang baik dari kedua belah pihak.
3. Fasilitator Proses Pemecahan Masalah (Problem solving process fasilitator)
Peranan praktisi PR dalam proses pemecahan persoalan public relations ini merupakan bagian dari tim manajemen.
Hal ini dimaksudkan untuk membantu pimpinan organisasi baik sebagai penasehat (adviser) hingga mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang tengah dihadapi secara rasional dan profesional. Biasanya dalam menghadapi suatu krisis yang terjadi, maka dibentuk suatu tim posko yang dikoordinir praktisi ahli PR dengan melibatkan berbagai departemen dan keahlian dalam satu tim khusus untuk membantu organisasi, perusahaan dan produk yang tengah menghadapi atau mengatasi persoalan krisis tertentu.
4. Teknisi Komunikasi (Communication technician)
Berbeda dengan tiga peranan praktisi PR profesional sebelumnya yang terkait erat dengan fungsi dan peranan manajemen organisasi. Peranan communication technician ini menjadikan praktisi PR sebagai journalist in resident yang hanya menyediakan layanan teknis komunikasi atau dikenal dengan methode of communication in organization.
Sistem komunikasi dalam organisasi tergantung dari masing-masing bagian atau tingkatan (level), yaitu secara teknis komunikasi, baik arus maupun media komunikasi yang dipergunakan dari tingkat pimpinan dengan bawahan akan berbeda dari bawahan ke tingkat atasan. Hal yang sama juga berlaku pada arus dan media komunikasi antar satu level, misalnya komunikasi karyawan antar karyawan satu departemen dengan lainnya (employee relations and communication media model). (Ruslan, 2011:20-21)
Dari keempat peranan public relations tersebut, dapat terlihat mana yang berperan dan berfungsi pada tingkat manjerial skill, keterampilan hubungan antarindividu (human relations skill) dan keterampilan teknis (technical skill) dalam manajemen Humas.
Peranan humas adalah tetap menjalin hubungan baik dengan para pihak atau publik-publik organisasi. Hubungan yang baik tersebut bukan semata demi keuntungan dan kemaslahatan organisasi melainkan
25
untuk keuntungan dan kemaslahatan kedua belah pihak. Organisasi menikmati keuntungan dan manfaat dari hubungan baik itu dan publik organisasi itu pun menikmati keuntungan dan manfaat dari hubungan baik tersebut. Tak ada yang ditinggalkan atau diperalat dalam hubungan yang terjadi dengan baik tersebut. (Iriantara,2010:18)
Peran humas adalah bertanggung jawab menjelaskan tidakan perusahaan kepada khalayak yang berkepentingan dengan organisasi atau perusahaan. Khalayak yang berkepentingan selalu tertarik dengan apa saja yang dilakukan perusahaan. Peran humas harus memberikan perhatian terhadap pikiran dan perasaan khalayak terhadap organisasi.
Humas harus menjadi saluran arus bolak-balik antara organisasi dan khalayaknya. Organisasi pada dasarnya berhubungan dengan berbagai macam khalayak. Secara umu khalayak humas terbagi atas khalayak internal seperti: karyawan, organisasi buruh serta pemegang saham yang namanya tercatat pada perusahaan dan khalayak eksternal seperti:
badan atau instansi pemerintahan, dealer, pemasok, masyarakat sekitar, media massa dan pemegan saham yang tidak tercatat pada daftar pemegang saham. (Morissan, 2010:9)
2.2.2.4 Media Humas
Media Humas merupakan alat yang digunakan dalam upaya membangun komunikasi dengan masyarakat. Humas dalam suatu organisasi atau perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya tidak lepas dari media yang digunakan untuk mengusahakan hubungan baik dengan
26
publiknya untuk mencapai tujuan. Penggunaan media Humas tergantung dari lingkup besar kecilnya suatu perusahaan atau instansi.
Untuk menjangkau khalayak tertentu dalam rangka mencapai tujuan Humas, adakalanya penggunaan media massa pers, radio, televisi tidak sesuai apalagi jika khalayak tersebut hanya terdiri dari beberapa kelompok kecil saja. Contoh dari khalayak seperti itu adalah para staf atau anggota organisasi sendiri yang mungin dapat dijangkau atau hanya komponen dari luar lembaga saja. Oleh karena itu dibutuhkan media Humas eksternal yang mampu menjangkau seluruh khalayak.
Menurut M. Linggar Anggoro (2005:174) membagi media-media Humas eksternal. Adapun media komunikasi eksternal itu sendiri memiliki berbagai bentuk antara lain:
a. Jurnal internal dan jurnal eksternal.
b. Media audiovisual.
c. Literatur edukatif.
d. Komunikasi lisan.
e. Pameran.
f. Seminar dan konferensi serta.
g. Sponsor.
Sedangkan menurut Lena Satlita (2002:58) media adalah sarana komunikasi yang sering digunakan oleh praktisi public relations untuk menyampaikan pesan kepada publiknya, dan sekaliguas mampu meningkatkan citra, antara lain:
a. House journal
Media internal dipergunakan oleh public relations untuk keperluan publikasi atau sebagai sarana komunikasi yang ditujuan kepada kalangan terbatas seperti: karyawan, relasi, bisnis, nasabah dan konsumen.
b. Printed material
Barang cetakan untuk tujuan publikasi public relations dalam upaya penyampaian pesan-pesannya yang berbentuk:
27
brosur, leaflet, booklet, kop surat, kartu nama, kalender, dan lain sebagainya.
c. Media Pertemuan
Media pertemuan secara langsung dengan public relations audiensnya melalui tatap mua misalnya presentasi, diskusi panel, seminar dan pameran broadcasting media.
d. Broadcasting
Publikasi public relations yang disiarkan melalui TV dan radio baik milik pemerintah dan swasta (komersial).
Berdasarkan beberapa pendapat mengenai media Humas di atas dapat disimpulkan bahwa media Humas merupakan sarana komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Media komunikasi Humas ini digunakan untuk menjadi saluran komunikasi dalam intern perusahaan atau lembaga maupun komunikasi eksternal dengan masyarakat luas.
2.2.2.5 Sasaran Kegiatan Humas
Sasaran Humas meliputi dua hal, yaitu : 1. Sasaran yang berupa publik intern
Yang dimaksud dengan publik adalah kelompok masyarakat yang harus selalu dihubungi dalam melaksanakan Humas.
Sasaran ini berada di lingkungan sendiri, yaitu seluruh pegawai mulai dari karyawan terendah sampai karyawan tertinggi.
2. Sasaran yang berupa publik ekstern
Sasaran ini berupa orang-orang yang berada di luar lingkungan/jajaran, misalnya para anggota masyarakat dan wartawan. (Widjaja, 2010:59)
28
Menurut H. Fayol beberapa kegiatan dan sasaran PR/Humas, adalah sebagai berikut.
1. Membangun Identitas dan Citra Perusahaan (Building corporate identity and image)
a. Menciptakan identitas dan citra perusahaan yang positif.
b. Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai pihak.
2. Menghadapi Krisis (Facing of Crisis)
Menangani keluhan (complaint) dan menghadap krisis yang terjadi dengan membentuk manajemen krisis dan PR Recovery of image yang bertugas memperbaiki lost of image and damage (untuk jelasnya masalah manajemen krisis).
3. Mempromosikan Aspek Kemasyarakatan (Promotion public causes) a. Mempromosikan yang menyangkut kepentingan publik.
b. Mendukung kegiatan kampanye sosial anti merokok, serta menghindari obat-obatan terlarang, dan sebagainya. (Ruslan, 2011:23-24)
2.2.3 Sosialisasi
2.2.3.1 Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi dalam sebuah kebijakan sendiri berarti pemberian informasi kepada masyarakat mengenai suatu kebijakan. Menurut Narwoko dan Suyanto seperti yang dikutip Sukmawati Herlina (2009:3), “Sosialisasi dapat diartikan sebagai kegiatan penyebarluasan informasi oleh lembaga tertentu kepada masyarakat”. Sosialisasi
29
tersebut dapat dilakukan melalui tatap muka secara langsung dan melalui media. Sosialisasi juga merupakan proses yang amat besar signifikannya bagi kelangsungan keadaan tertib masyarakat.
Menurut Soejono Soekanto dalam Taufiq Rochman Dhoiri, dkk (2007:79), “sosialisasi merupakan suatu proses sosial dimana seseorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan perilaku orang-orang di dalam kelompoknya”. Sosialisasi juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial yang terjadi bila seorang individu menghayati dan melaksanakan norma-norma kelompok tempat ia hidup sehingga akan menjadi bagian dari kelompoknya.
Berdasarkan beberapa pengertian mengenai sosialisasi di atas bahwa pada dasarnya sosialisasi merupakan suatu proses pengenalan ataupun penyebaran informasi mengenai sesuatu yang ada dalam lingkup masyarakat yang dapat mempengaruhi pembentukan sikap maupun perilaku seseorang. Sosialisasi juga memungkinkan individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan adat maupun norma yang ada di suatu lingkup masyarakat.
2.3 Kajian Teoritis
2.3.1 Contingency of Accomodation in Public Relations Theory (CA) Teori contingency of accomodation in public relations (CA) berkembang sebagai kritik atas model two-way symmetric dalam teori excellence in public relations. Pada pengagas teori CA yaitu Glen T.
Cameron, Fritz Cropp, Bryan Reber, Amanda E. Cancel, Lynne Sallot dan
30
Michael Mitrook (1997; 2001; 2003). Menurut penggagasnya, teori CA adalah modifikasi dan pelengkap dari teori normatif (teori excellence).
Karena berdasarkan kontinum tertentu, CA dianggap merupakan potret yang lebih realistis dari strategi PR atau model PR. Kontinum merupakan representasi dari kemungkinan sikap organisasi terhadap publik. Praktik public relations bergerak pada suatu kontinum antara advokasi total (murni) bagi organisasi atau klien dan akomodasi total (murni) bagi publiknya.
(Kriyantono, 2014 : 119)
1. Kontingensi : Akomodasi dan Advokasi
Akomodasi dapat diartikan sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan, mencakup kemampuan untuk berkolaborasi dengan pihak lain. Advokasi dapat diartikan sebagai upaya memberikan dukungan dan pembelaan terhadap kebijakan organisasi, jadi seorang PR layaknya penasihat hukum membela kliennya. Dikatakan kontingensi karena antara bersikap akomodasi dan advokasi, seorang PR di pengaruhi oleh faktor-faktor kemungkinan sehingga bersifat situasional. (Kriyantono, 2014 : 121)
2. Variabel Teori contingency of accomodation in public relations
Seperti yang telah dipaparkan pada penjelasan sebelumnya, menurut Cameron bahwa teori CA ini menekankan bahwa sikap atau posisi seorang PR sangat dinamis dan tergantung pada perubahan situasi yang terjadi. Perubahan situasi ini ditentukan oleh variabel internal dan eksternal yang memengaruhi organisasi. (Kriyantono, 2014 : 122)
31
Cancel dkk. (1999) mengembangkan dua variabel untuk melengkapi teori CA yaitu :
a. Variabel Presdiposing menurut Cancel, dkk (1999); Rabber &
Cameron (2003), adalah variabel yang memiliki pengaruh besar pada organisasi dengan membantu membentuk kecenderungan bersikap dan menjalin relasi terhadap publik eksternal.
b. Variabel Situasional yaitu situasi yang spesifik dan berubah secara dinamis selama interaksi yang melibatkan organisasi dan publiknya. Situasi berperan dalam perubahan sikap dan pendirian organisasi dalam menghadapi publiknya.
3. Model Two-way Symmetric
Two-way symmetric dalam model ini, Public Relations menerapkan komunikasi dua arah timbal balik, dimana organisasi dan publik berupaya untuk mengadaptasikan dirinya untuk kepentingan bersama.
Terbuka untuk proses negosiasi sehingga terjadi relasi jangka panjang.
Komunikasi berfungsi sebagai alat negosiasi dan kompromi dalam mewujudkan pemecahan masalah yang “win-win solution”. Organisasi benar-benar memerhatikan kepentingan publiknya. Lebih khusus, manajer senior mungkin mengubah pengetahuannya. Bagaimana dia merasa, dan cara organisasi bertindak sebagai hasil komunikasi yang simetris. Dalam teori permainan organisasi menerapkan “positive sum game”: both your organization and publics involved can win result of negotiation and compromise. (Kriyantono, 2009 : 90-98)
Model komunikasi ini seringkali memberi gambaran ideal tentang
32
praktik PR. Hal ini menjelaskan sebuah level persamaan komunikasi yang tidak hanya ditemukan dalam kehidupan nyata, dimana setiap kelompok bersedia mengubah sikap mereka untuk mengakomodasi kebutuhan- kebutuhan orang lain. Jika biasanya model-model lain dikarakterisasi dengan komunikasi tipe monolog (monolog-type communication), maka model pendekatan simetris ini dikarakterisasi dengan melibatkan ide-ide dialog.
Karakter ini bisa mengarahkan sebuah manajemen organisasi untuk bertukar pandangan dengan kelompok lain, memungkinkan bagi pihak manajemen dan publik untuk saling mempengaruhi dan menyesuaikan sikap dan perilaku mereka. Komunikasi dalam tipe ini adalah sepenuhnya komunikasi timbal balik dan kekuatan hubungan dalam komunikasi ini juga diseimbangkan.
Istilah ‘sender’ dan ‘receiver’ tidak bisa dalam proses komunikasi model ini, karena tujuan dari model komunikasi simetris adalah pemahaman yang sama (mutual understanding). (Windahl, Benno, Jean, 1992 : 8)
Dalam model komunikasi dua arah, praktisi PR bisa bertindak sebagai seorang negosiator antara kepentingan organisasi dan kepentingan publik yang Grunig menyebutnya sebagai ‘boundary-spanning’. Grunig dan teori- teorinya yang lain menganjurkan bahwa model komunikasi ini adalah paling etis, karena model komunikasi (two-ways symmetric) menciptakan sebuah persamaan pertukaran (an quality of exchange). (Theaker, 2004 : 16)
33
2.4 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan konteks konseptual yang telah dipaparkan, maka dapat ditulis kerangka pemikiran dalam bentuk bagan sebagai berikut:
Bagan 2.1 Kerangka Pemikirian
Sumber : Hasil peneliti
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka peneliti ingin mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana peran Humas Puskim dalam implementasi RISHA pasca bencana di Lombok. Penelitian ini menggunakan studi kasus yang membahas mengenai kasus yang dilakukan oleh Humas Puskim untuk mengetahui peran Humas dalam merencanakan informasi tentang RISHA, mengetahui media
Peran Humas Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Balitbang Kementerian PUPR Dalam Sosisalisasi RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) Pasca Bencana Di Lombok
Studi Kasus
Humas merencanakan informasi tentang
RISHA
Humas mengukur keberhasilan informasi tentang
RISHA
Two-way Symmetric Media yang digunakan Humas
dalam mensosialisasikan
program RISHA
Contingency of Accomodation in Public Relations Theory (CA)
34
yang digunakan Humas dalam mensosialisasikan program RISHA dan mengetahui Humas mengukur keberhasilan informasi tentang RISHA. Mengingat objek penelitian memiliki keunikan yang menarik untuk diteliti di dalam penelitian ini.
Teori yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan teori contingency of accomodation in public relations dengan menggunakan model two-way symmetric. Kerangka pemikiran diatas menunjukan bahwa adanya peran Humas dalam merencanakan informasi tentang RISHA, media yang digunakan Humas dalam mensosialisasikan program RISHA dan mengetahui Humas mengukur keberhasilan informasi tentang RISHA pasca bencana di Lombok. Teori contingency of accomodation in public relations dan model two-ways symmetric digunakan sebagai faktor pendukung penelitian yang bertujuan untuk penelitian lebih terarah dan fokus pada masalah yang akan diteliti. Secara garis besar alur penelitian ini yaitu berawal dari peran Humas dalam mensosialisasikan program RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) yang dilakukan oleh Humas Puskim kepada masyarakat pasca bencana di Lombok.