BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESI A. Kajian Pustaka
1. Kajian Tentang Stres Akademik a. Definisi Stres Akademik
Menurut Mumpuni & Wulandari (2010: 2), secara umum stres adalah situasi yang diakibatkan karena ketidakharmonisan antara keadaan yang diinginkan seseorang dengan keadaan psikologis, biologis, dan sistem sosial individu. Stres sering terjadi karena terdapat harapan yang tidak terpenuhi, tidak sesuai rencana, atau ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan. Stres adalah dampak dari reaksi psikologis pada tuntutan kehidupan yang berbanding terbalik dengan harapan sehingga dapat membuat seseorang terbebani kehidupannya.
Menurut Taufik., Ifdil., & Ardi (2013: 2), stres akademik merupakan stres yang sering dialami oleh peserta didik. Majrika (2018:
11) mengemukakan, stres akademik merupakan suatu kondisi yang muncul karena adanya tuntutan, dapat berasal dari orangtua, sekolah dan teman sebaya agar individu itu mencapai prestasi akademik yang tinggi.
Azhar (2015: 4) mengemukakan, stres akademik yaitu keadaan stres yang dirasakan oleh peserta didik disebabkan karena terdapat tuntutan akademik yang tinggi sehingga mengakibatkan perubahan fisik, psikologis, dan tingkah laku, serta dapat mempengaruhi prestasi belajar pada peserta didik (Azhar, 2015: 4).
Menurut Desmita (2012: 291), stres akademik adalah sebab dari perubahan emosi yang lahir dari hubungan kehidupan di sekolah atau perasaan peserta didik, kemudian mengakibatkan reaksi fisik, psikologi dan tingkah laku yang memiliki dampak khususnya pada prestasi akademik. Sejalan dengan itu, Nurmaliyah (2014: 3)
yang terkait dengan proses belajar di sekolah, berupa perubahan yang berasal dari proses belajar yang dialami peserta didik, sehingga berdampak pada pikiran peserta didik, serta berdampak pada fisik, emosi, dan tingkah laku.
Berdasarkan definisi tersebut, maka disimpulkan bahwa stres akademik merupakan situasi atau respon dimana peserta didik tidak dapat menghadapi tuntutan akademik yang mana jika tidak dapat mengatasinya maka akan menimbulkan gangguan baik fisik, emosional, dan tingkah laku, serta berdampak pada proses belajar maupun prestasi peserta didik tersebut.
b. Faktor Penyebab Stres Akademik
Faktor yang mempengaruhi stres atau stresor menurut Barseli, Ifdil, &
Nikmarijal (2017: 2) dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.Stres yang berhubungan dengan faktor internal sebagai berikut:
1. Pola pikir
Peserta didik yang tidak dapat mengendalikan tekanan selama proses belajar di sekolah maka akan mengalami stres akademik.
Semakin peserta didik mampu mengendalikan tekanan tersebut, semakin sedikit pula gejala stres yang dirasakan peserta didik.
2. Kepribadian
Peserta didik yang memiliki kepribadian optimis akan memiliki tingkat stres lebih rendah dibanding peserta didik yang memiliki kepribadian pesimis.
3. Keyakinan
Keyakinan pada diri peserta didik juga ikut menentukan tingkat stres yang dialami. Sesuatu yang dialami peserta didik dalam proses belajar di sekolah dapat mengubah pola pikir nya terhadap suatu hal yang mungkin dapat menyebabkan stres akademik.
Faktor eksternal yang mempengaruhi stres akademik meliputi:
1. Pelajaran lebih padat
Sistem pendidikan saat ini yang menerapkan program full day school dapat menyebabkan waktu belajar yang semakin banyak dan tekanan peserta didik semakin meningkat. Walaupun penerapan full day school diyakinkan dapat memberikan banyak manfaat baik bagi peserta didik, namun tidak menutup kemungkinan bahwa semakin padatnya kegiatan belajar peserta didik membuat mereka mengalami stres.
2. Tekanan berprestasi tinggi
Tuntutan untuk mendapatkan prestasi yang tinggi juga turut menyumbang pengaruh stres akademik pada peserta didik. Peserta didik mendapat tekanan tersebut baik dari diri mereka sendiri, guru, orang tua ataupun saudara.
3. Dorongan status sosial
Tingkat pendidikan merupakan status sosial dalam masyarakat.
Pendidikan sering menjadi lambang status sosial. Seseorang dengan pendidikan tinggi misalnya dokter akan lebih disegani lingkungan daripada orang yang tingkat pendidikannya rendah.
4. Orang tua dan keluarga
Orang tua yang terdidik atau memiliki status sosial tinggi akan mengusahakan anaknya untuk memiliki kemampuan belajar yang baik tidak hanya dalam bidang pendidikan formal tetapi juga berlomba lomba untuk membuat anak mereka menjadi anak yang serba bisa, misalnya perkembangan pusat pendidikan informal yang semakin banyak seperti les balet, musik, dan seni.
Menurut Yumba (2008) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi stres akademik sebagai berikut:
1. Hubungan dengan Orang Lain
Faktor stres akademik yang dipengaruhi hubungan dengan orang lain contohnya adalah adanya konflik antara individu dengan teman di sekolah maupun di rumah, adanya masalah keluarga, maupun masalah dengan orang yang ada di kehidupannya.
2. Faktor Personal
Faktor personal meliputi hal−hal yang meliputi diri individu tersebut. Hal tersebut dapat berupa pola tidur, pola makan, kesulitan keuangan, masalah kesehatan, tanggung jawab yang harus dilakukan, dan tekanan hidup.
3. Faktor Akademis
Faktor akademis yang mempengaruhi stres misalnya beban tugas sekolah yang bertambah, nilai yang rendah, waktu belajar yang banyak, dan ketinggalan pelajaran.
4. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang bisa menyebabkan stres akademik contohnya seperti kurangnya liburan atau waktu istirahat, kondisi tempat tinggal yang kurang baik, perceraian orang tua, dan tidak nyaman dengan lingkungan.
Berdasarkan faktor yang telah diulas tersebut, terdapat beberapa hal yang dapat menngakibatkan gejala stres akademik pada peserta didik.
Faktor tersebut dibedakan menjadi 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup faktor personal seperti pola pikir individu, kepribadian, maupun keyakinannya. Sedangkan faktor eksternal mencakup faktor akademis, lingkungan, hubungan dengan orang lain, tekanan, dan dorongan status sosial.
c. Gejala Stres Akademik
Gejala stres akademik menurut Selye (Rahmawati, 2016: 2) menjelaskan beberapa reaksi dari gejala stres akademik sebagai berikut :
1. Gejala perilaku / tindakan
Bersikap agresif, suka mencari perhatian, suka menyendiri, suka membuat keramaian di kelas, cerewet, banyak mengeluh, tidur di kelas, sering melamun saat pelajaran, suka menggerutu
2. Gejala fisik
Sakit kepala atau sering pusing, mudah lelah, kecapekan, wajah terlihat murung, badan lesu tidak segar.
3. Gejala emosional
Cemas, mudah tersinggung, gelisah, takut, sulit konsentrasi, merasa tidak pernah puas, merasa diabaikan.
Gejala stres akademik menurut Hardjana (Anggraini, 2018: 32) dibagi menjadi empat yaitu:
1. Gejala fisik
Sakit kepala, tidak nafsu makan, mudah lelah, sering berkeringat, tidur tidak teratur, sakit perut.
2. Gejala emosional
Gelisah, pesimis, cemas, mood sering berubah, gugup, mudah panik, emosian.
3. Gejala intelektual
Sering kebingungan, sulit konsentrasi, pelupa, pikiran sering kacau, sering melamun.
4. Gejala interpersonal
Suka membuat ramai, hilang kepercayaan diri, suka jahil.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan gejala stres akademik meliputi gejala perilaku, fisik, emosional, intelektual, dan interpersonal.
d. Tahapan Stres Akademik
Gejala stres akademik pada peserta didik kerap tidak disadari sedari dini. Aryani (2016: 49) membagi beberapa tahap stres akademik sebagai berikut:
1. Stres tahap 1
Pada tahap ini, peserta didik belum merasakan gejala stres akademik. Pada tahap ini, peserta didik merasa sangat semangat dan antusias dalam belajar. Peserta didik masih semangat dalam mengerjakan tugas sekolah juga tanpa menyadari bahwa energi mereka semakin terkuras.
2. Stres tahap 2
Peserta didik pada tahap ini yang semula sangat antusias dan bersemangat perlahan mulai mengeluh. Peserta didik merasa mudah lelah dan letih bahkan mulai bosan belajar maupun mengerjakan tugas sekolah.
3. Stres tahap 3
Pada tahap ini, peserta didik tidak menghiraukan keluhan – keluhan seperti kelelahan fisik tersebut. Mereka memaksakan dirinya untuk menghadapi tuntutan akademik tersebut yang secara tidak langsung menimbulkan respon atau gangguan dari diri mereka. Gangguan tersebut seperti sulit konsentrasi, sulit tidur, cemas, dan gelisah.
4. Stres tahap 4
Peserta didik yang mulai mengalami gangguan stres akademik tahap 3 akan semakin merasa bosan. Hal yang semula terasa menyenangkan kemudian menjadi hal yang membosankan.
Bahkan peserta didik mulai memberontak untuk tidak
melaksanakan aktifitas yang menurut mereka membosankan seperti tidak mengerjakan tugas sekolah.
5. Stres tahap 5
Pada tahap ini, mulai muncul gejala kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam. Kelelahan fisik yang lebih berat mulai muncul seperti sering sakit kepala dan mulal bahkan pingsan.
Kelelahan mental yang juga semakin mendalam seperti perasaan cemas dan gelisah yang berlebihan sehingga menimbulkan kepanikan dan keringat dingin.
6. Stres tahap 6
Tahap terakhir dari stres akademik adalah dampak dari kelelahan fisik, mental, dan psikologis yang semakin parah. Ditandai dengan rasa panik yang hebat, detak jantung yang berdetak dengan cepat, perasaan takut yang berlebihan, gemetar, keringat dingin bercucuran bahkan sering pingsan.
Menurut Stuard dan Sundeen (Muhaimin, 2018: 8) membagi tahapan stres akademik menjadi tiga tahap yaitu:
1. Stres Akademik Ringan
Stres yang biasa terjadi dan manusiawi. Sering dialami peserta didik seperti lelah, bosan, jenuh, capek. Dapat diatasi dalam waktu singkat dan tidak menimbulkan efek yang buruk. Dapat dicegah atau dihilangkan dengan istirahat atau melakukan sesuatu yang disukai untuk menghilangkan penat.
2. Stres Akademik Sedang
Stres akademik kategori sedang dialami cukup lama oleh peserta didik. Dapat dialami beberapa jam bahkan hingga berhari hari serta menimbulkan pikiran. Contoh stres sedang yang dialami peserta didik yaitu khawatir ketika mendapat nilai buruk, memiliki
masalah dengan teman, keluarga atau guru, tidak paham dengan mata pelajaran tertentu, memiliki beban tugas yang berlebihan.
3. Stres Akademik Berat
Stres akademik berat adalah stres yang sudah kronis. Stres tersebut dapat dialami dalam waktu yang cukup lama dan dapat mempengaruhi kesehatan. Contoh stres akademik berat seperti tidak kuat dengan tekanan berprestasi yang tinggi dari keluarga, memiliki masalah yang serius dengan teman atau guru, bolos sekolah, berperilaku tidak baik seperti tawuran, narkoba, pegaulan bebas
Pada penelitian kali ini, peneliti akan melakukan penelitian pada peserta didik yang mengalami semua kategori dalam stres akademik atau stres akademik hingga tahap 6.
e. Upaya dalam Menanggulangi Stres Akademik
Stres merupakan fenomena umum yang dirasakan oleh masyarakat terlebih peserta didik. Stres akademik pada peserta didik perlu ditangani dan ditanggulangi agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi diri maupun prestasinya. Berikut beberapa upaya dalam menanggulangi stres akademik menurut Desmita (2011: 301):
1. Membangun Iklim Sekolah yang Kondusif
Iklim sekolah adalah keadaan yang timbul karena interaksi hubungan warga sekolah tersebut seperti kepala sekolah dengan guru mata pelajaran, guru mata pelajaran dengan guru BK, kepala sekolah dengan wali murid, guru dengan peserta didik, dan interaksi sesama peserta didik sendiri. Iklim sekolah yang sehat dapat meningkatkan motivasi belajar sehingga menimbulkan kenyamanan dan semangat lebih bagi peserta didik maupun warga sekolah.
2. Melaksanakan Program Pelatihan Penanggulangan Stres Akademik
Guru wali kelas serta guru mata pelajaran bisa berkolaborasi dengan guru BK untuk melakukan pelatihan penanggulangan stres akademik.
Pelatihan tersebut dapat berupa pemberian layanan BK di kelas dengan tema stres akademik atau bimbingan kelompok bagi peserta didik yang terindetifikasi gejala stres akademik.
3. Mengembangkan Resiliensi Peserta Didik
Resiliensi adalah kekuatan yang dipunyai individu, kelompok, atau masyarakat yang diyakini dapat mengatasi, mencegah, menanggulangi atau melawan akibat negatif dari keadaan yang kurang menyenangkan atau mememperbaiki kondisi yang kurang menyenangkan menjadi sesuatu yang mudah untuk ditangani.
Menurut Sukadiyanto (2010: 9) beberapa cara untuk mengurangi stres yaitu: (1) menjaga pola makan teratur serta makan makanan yang sehat dan bergizi, (2) meluangkan waktu untuk istirahat yang cukup, (3) olahraga untuk menjaga kebugaran jasmani, (4) melakukan aktivitas yang menyenangkan, (5) menyempatkan waktu untuk berlibur atau rekreasi, dan (6) memiliki inetraksi yang baik dengan teman dan keluarga.
Berdasarkan dua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan beberapa upaya untuk mengatasi stres akademik yaitu: (1) sekolah dapat menciptakan iklim sekolah yang kondusif, (2) pihak sekolah dapat membuat program pelatihan penanggulangan stres, (3) peserta didik dapat mengembangkan bakat atau hobi, (4) menjaga pola makan, (5) olahraga dan istirahat yang cukup, (6) serta menyempatkan diri untuk melakukan aktifitas yang menyenangkan seperti berlibur dengan keluarga atau teman.
2. Restrukturisasi Kognitif
a. Pengertian Restrukturisasi Kognitif
Ellis (Woodward & Jones, 1980) menyebutkan bahwa restrukturisasi kognitif didasarkan pada terapi rasional emotif. Corey (2013)
(Activating event, Belief, Consequence, Dispute) dengan memperluas model dengan tambahan EF (Effects, Feeling). Cormier & Hackney (2012:200) menyebutkan restrukturisasi Kognitif memberi bantuan pada upaya menentukan atau mengubah pikiran, keyakinan dan pernyataan diri negatif klien yang irrasional. Restrukturisasi kognitif menduga bahwa balasan kondisi emosional dan tingkah laku yang tidak fleksibel diakibatkan oleh pikiran, sikap, dan keyakinan klien.
Sejalan dengan itu, Damayanti & Nurjannah (2016: 5) mengatakan bahwa Teknik restrukturisasi kognitif yaitu konseling yang mengarah pada pemulihan cara berfikir dan beraksi dengan memusatkan otak sebagai pusat penentuan keputusan, menganalisa sesuatu, bertanya,bergerak dan memutuskan sesuatu. Restrukturisasi kognitif mendasarkan pada minat dalam upaya menganalisa dan mengganti pikiran, pernyataan, dan keyakinan diri negatif yang irrasioanal.
Untuk mendukung pernyataan tersebut, Marck & Sibilia (2010: 39) mengungkapkan, restrukturisasi kognitif adalah teknik yang berguna untuk memahami perasaan dan suasana hati yang tidak bahagia dan untuk menantang yang terkadang salah “keyakinan otomatis” yang ada dalam diri mereka. Restrukturisasi kognitif membantu seseorang untuk mengubah pemikiran negatif atau menyimpang yang sering ada di balik suasana hati.
Ningrum (2018: 17) menjelaskan bahwa teknik restrukturisasi kognitif adalah salah satu teknik dalam terapi kognitif perilaku dan merupakan suatu strategi intervensi kolaboratif yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi pola pikir, asumsi, serta keyakinan baru yang lebih bermanfaat, adaptif, positif, dan fungsional.
Dari beberapa pendapat tersebut, ditarik suatu kesimpulan bahwa teknik restrukturisasi kognitif adalah salah satu teknik yang berfokus
untuk mengidentifikasi dan mengubah pikiran negatif dan tidak rasional menjadi pikiran dan keyakinan yang positif.
b. Tujuan Teknik Restrukturisasi Kognitif
Tujuan teknik restrukturisasi kognitif dari beberapa sumber sebagai berikut:
1. Teknik restrukturisasi kognitif memiliki tujuan untuk mengakhiri pikiran negatif klien menggantikannya dengan pikiran positif, serta menolong klien untuk memperbaiki dan membuatnya berusaha untuk mengubah pikiran negatif (Ahla, 2014: 35)
2. Teknik Restrukturisasi kognitif menolong klien agar berlatih belajar secara berbeda, untuk mengganti pikiran yang irrasional, dan menggantikannya dengan pikiran yang lebih realistis, positif, dan rasional. Pikiran diri yang merugikan menunjukkan adanya pandangan atau keyakinan yang tidak rasional (Damayanti &
Nurjannah, 2016: 5)
3. Teknik restrukturisasi kognitif menolong klien untuk berlatih berpikir secara bertentangan, untuk mengganti pemikiran yang salah agar diubah menjadi pemikiran yang lebih positif dan realistis (Apriyanti, 2014: 20)
4. Teknik Restrukturisasi Kognitif membantu klien untuk mengubah pola pikir dan pandangan seseorang yang negatif untuk menggantinnya dengan pandangan yang lebih baik (Andini, 2017: 45) 5. Menurut Dombeck & Wells-Moran dalam (Erford, 2016: 255)
mengatakan, Teknik Restrukturisasi Kognitif membantu konseli untuk menggapai respon emosional yang lebih baik dengan mengganti kebiasaan yang negatif agar tidak terbiasa.
Dari beberapa tujuan tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa tujuan dari
untuk mengubah pandangan atau pikiran negatif menjadi pandangan atau pikiran yang positif yang rasional.
c. Langkah-langkah Teknik Restrukturisasi Kognitif
Doyle (Erford, 2015: 255) mendeskripsikan tujuh langkah spesifik untuk menggunakan teknik restrukturisasi kognitif dengan klien sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data informasi latar belakang klien untuk mengetahui bagaimana cara klien mengatasi masalah di masa lalu ataupun sekarang. Konselor dapat menanyakan masalah yang berkaitan dengan pikiran dan perasaan yang dialami.
2. Membantu klien untuk menyadarkan proses pikirannya yang irrasional.
3. Membantu klien untuk menunjukkan pikiran yang rasional dan bagaimana pikiran rasional tersebut dapat memberikan manfaat yang baik bagi klien. Konselor dapat menonjolkan pikiran irrasional guna melakukan perbandingan.
4. Memberikan bantuan kepada klien untuk mengevaluasi pikiran irrasional tersebut.
5. Memberikan bantuan kepada klien agar dapat dapat mengubah pikiran irrasional tersebut
6. Mengulangi klien untuk menunjukkan pikiran dan keyakinan rasional yang kali ini dengan menggunakan contoh penerapan pikiran rasional tersebut di kehidupan nyata. Membantu menyadarkan klien untuk membentuk tujuan yang masuk akal dari pikiran rasional tersebut.
7. Memberikan pekerjaan rumah untuk klien hingga pola berpikir logis dan irrasional terbentuk.
Aryani (2016: 99) menyebutkan 8 tahapan teknik restrukturisasi kognitif sebagai berikut:
1. Menyediakan pelatihan berpikir rasional
Pada tahap ini, konselor menjelaskan bahwa stres akademik yang dialami peserta didik merupakan pikiran negatif dalam menyikapi proses belajar. Peserta didik kemudian diminta untuk melakukan imagery selama 15 menit tentang strategi belajar atau pikiran negatif yang membuat mereka mengalami stres akademik.
2. Mengidentifikasi pernyataan yang melemahkan diri (self-defeating statemants) dan pernyataan yang memotivasi diri (selfenhancing statements)
Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan pikiran negatif dan pikiran positif yang terkait dengan proses belajar sebanyak banyaknya secara langsung atau lisan. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengidentifikasi mana pernyataan yang melemahkan dan mana pernyataan yang dapat memotivasi diri.
3. Mengatasi pernyataan yang mengalahkan diri
Peserta didik diminta untuk berpasangan kemudian saling berdiskusi tentang pikiran negatif dan positif yang telah disebutkan.
4. Mengubah pernyataan negatif diri dengan pernyataan yang memotivasi diri (self talk)
Pada tahap ini peserta didik diharap untuk mengganti pernyataan negatif menjadi pernyataan positif yang bisa memotivasi diri.
Misalnya, pernyataan “Saya sulit memahami mata pelajaran matematika”. Pernyataan ini diubah menjadi, “Saya mampu memahami mata pelajaran matematika dengan baik karena saya telah berlatih dan mempelajarinya”.
5. Memberi contoh (model) cara untuk menumbuhkan motivasi diri Pada tahap ini, konselor memberikan gambaran cara memotivasi diri dengan cara self talk.
6. Mengulang dan melatih terus menerus pernyataan yang memotivasi diri
Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk mengulangi pernyataan positif hingga dapat memotivasi dirinya sendiri.
7. Memberi feed back pada kelompok
Pada tahap ini, konselor kembali berdiskusi dengan peserta didik. Jika peserta didik ada yang belum mengerti dan belum paham maka konselor akan menjelaskannya hingga peserta didik mengerti.
8. Melakukan penajaman keterampilan baru
Pada tahap ini, peserta didik diminta untuk dapat menerapkan teknik ini di rumah. Hal ini bertujuan agar siswa dapat menangani situasi sulit terkait dalam proses belajar serta dapat mencegah terjadinya stres akademik dengan memotivasi dirinya sendiri dengan baik.
Pada penelitian kali ini, peneliti akan menggunakan 8 langkah yang telah disebutkan Aryani.
d. Teknik Restrukturisasi Kognitif untuk Mereduksi Stres Akademik Suyono, Triyono, & Handarini, (2016: 2) mengemukakan, di sekolah, peserta didik memiliki kewajiban mengikuti semua kegiatan belajar seperti menyimak dan mendengarkan guru ketika mengajar, menyelesaikan pekerjaan rumah, menjalankan ujian atau tes, sosialisasi di sekolah, menaati aturan sekolah, dan sebagainya. Semua kewajiban tersebut dapat terwujud apabila didukung hak siswa dalam proses akademik yang terpenuhi seperti keadaan emosional yang baik, situasi sosial, lingkungan yang mendukung, serta fasilitas belajar yang terpenuhi.
Kewajiban tersebut dapat menjadi sumber atau stressor penyebab stres akademik.
Nurwahyuni, Nansar & Munir (2016: 2) kemudian menyebutkan peserta didik yang mengalami stres akademik memperlihatkan gejala
seperti cemas menghadapi ujian, takut dengan guru tertentu, bosan di sekolah, sulit konsentrasi belajar, tidak suka dengan suasana sekolah, cemas pada mata pelajaran yang susah, jenuh dengan tambahan pelajaran, cemas terhadap materi yang suli, panik dan kebingungan menghadapi tugas yang semakin banyak.
Dari perilaku tersebut menunjukkan bahwa peserta didik memiliki pikiran atau keyakinan yang negatif dan tidak irrasional. Pola pikiran yang negatif tersebut dapat mengakibatkan hasil belajar dan prestasi yang kurang maksimal. Oleh karena itu, pola pikir negatif tersebut diharap dapat diubah agar peserta didik dapat mencapai keberhasilan yang maksimal dalam proses belajar.
Restrukturisasi kognitif merupakan teknik dari pendekatan konseling kognitif perilaku. Stres akademik merupakan pemikiran atau keyakinan negatif mengenai pola pikirnya. Oleh karena itu, digunakan teknik restrukturisasi kognitif guna mengidentifikasi pemikiran irasional dan mengubahnya menjadi pemikiran rasional.
Nurjannah & Damayanti (2016: 2) mengemukakan bahwa proses konseling dengan teknik restrukturisasi kognitif diharapkan dapat memberi pengertian pada klien atas pikiran dan perilaku. Harapan dari restrukturisasi kognitif yaitu pemikiran yang irrasional atau menyimpang dapat mendukung perubahan emosi dan perilaku ke arah positif.
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik benang merah bahwa teknik restrukturisasi kognitif dapat mereduksi stres akademik pada peserta didik.
B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan teori yang sudah disampaikan, maka dapat disusun kerangka berpikir untuk mendapatkan jawaban sementara dari permasalahan yang sudah dikemukakan tersebut. Stres akademik merupakan situasi atau
mana jika tidak dapat mengatasinya maka akan menimbulkan gangguan baik fisik, emosional, dan tingkah laku. Gejala stres akademik pada peserta didik yang menimbulkan pikiran irrasional seperti merasa cemas, sulit konsentrasi, mudah bosan, mudah lelah, panik jika mendapat banyak tugas, kurang dapat mengelola waktu belajar, dll. Untuk dapat mereduksi stres akademik tersebut maka digunakan teknik restrukturisasi kognitif. Proses treatment menggunakan teknik restrukturisasi kognitif ini menggunakan konseling kelompok.
Ellis (Woodward & Jones, 1980) menyebutkan bahwa restrukturisasi kognitif didasarkan pada terapi rasional emotif. Corey (2013) menyebutkan salah satu konsep REBT Ellis adalah model ABCD (Activating event, Belief, Consequence, Dispute) dengan memperluas model dengan tambahan EF (Effects, Feeling). Teknik restrukturisasi kognitif adalah teknik yang berfokus untuk mengidentifikasi dan mengubah pikiran irasional menjadi pikiran rasional. Setelah diberikan treatment, diharapkan peserta didik dapat mengubah keyakinan irrasional tersebut menjadi keyakinan rasional seperti dapat mengelola rasa cemas, dapat fokus konsentrasi, dapat semangat mengikuti kegiatan belajar di sekolah, tidak mudah merasa bosan, dll.
Kerangka berpikir digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
Gejala Stres Akademik
Gejala stres akademik menyebabkan peserta didik berpikir atau memiliki keyakinan irrasional. Menurut Selye (Rahmawati, 2016) gejala stres akademik meliputi: (1) emosional seperti cemas dan sulit konsentrasi, (2) fisik seperti kelelahan fisik dan sering
pusing, (3) perilaku seperti suka melamun di kelas dan berperilaku agresif
Teknik Restukturisasi Kognitif Ellis (dalam Woodward & Jones, 1980) menyebutkan bahwa teknik restrukturisasi kognitif adalah proses mengidentifikasi dan mengubah pikiran irrasional menjadi pikiran rasional dengan teknik restrukturisasi kognitif menggunakan konseling kelompok
Hasil (Output) Harapan dari restrukturisasi kognitif yaitu pemikiran yang irrasional atau menyimpang dapat mendukung perubahan emosi dan perilaku ke arah
positif.
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berpikir
C. Hipotesis
Berdasarkan kajian dan kerangka teoritik tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
“Teknik restrukturisasi kognitif efektif untuk mereduksi stres akademik pada peserta didik kelas X SMAN 7 Surakarta”
Stres Akademik
Stres akademik merupakan situasi dimana peserta didik tidak dapat menghadapi tuntutan akademik yang mana jika tidak dapat mengatasinya maka akan menimbulkan gangguan fisik, emosional, maupun tingkah laku, serta berdampak pada proses belajar.
Proses Treatment
Treatment dalam teknik restrukturisasi kognitif ini menggunakan tahapan langkah yang disebutkan Aryani (2016) sebagai berikut: (1) Menyediakan pelatihan berpikir rasional, (2) mengidentifikasi dan menunjukkan pernyataan
irrasional menjadi rasional, (3) mengubah pernyataan irrasional menjadi rasional, (4) konselor memberikan model, (5) Mengulang dan melatih
pernyataan rasional, (6) Memberikan feedback pada kelompok.