BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Kajian Pustaka
2.1 . Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi
Salah satu kajian di bidaang Teknik industry adalah perancangan sistem kerja yang baik atau lebih baik . Suatu sistem kerja dapat dikatkan baik jika sistem kerja tersebut memiliki efisiensi dan dan produktifitras yang tinggi . efisiensi dikatakan sebagai penghematan input sisteem kerja , sedangkan produktifitas ditujukan untuk perbandingan antara output yang dihasilakn dengan input yang dimasukan dalam sebuah sistem kerja .
Untuk mendpatkan hasil rancangan sistem kerja yang baik seorang perancang kerja harus mengetahui komponen - komponen pembentuk sistem kerja . setiap komponen dapat di analisis dan dicari penyebabnya untuk mencari solusi bagaimana cara perbaikannya .
Bagian Perancangan Sistem Kerja
Untuk mendapatkan sisitem kerja yang lebih baik dari system kerja yang telah ada atau memiliki satu sistem kerja dari beberapa sisitem kerja yang di ajukan merupakan salah satu hal yang ingin dicapai dengan
mempelajari teknik tata cara ini. Kemampuan untuk dapat membentuk atau menciptokon cara-cara kerja yang baik merupakankebutuhan utama dalam kegiatan diatas yaitu mencari satu system kerja yang baik dari yang lainnya,karena dari alternatif-alternatif cara-cara kerja yang baiklah diadakan pemilihan tersebut dan bukan dari cara-cara yang dibentuk dengan sembarangan.
Komponen sistem Kerja
Dalam setiap sistem kerja terdapat empat komponen yaitu bahan , manusia , mesin dan lingkungan kerja . Perbaikan dan perancangan terhadap sistem kerja Perbaikan dan perancangan terhadap suatu sistem kerja harus memiliki perhatian terhadap empat komponen tersebut.
Keempat komponen diatas dikaitkan dengan suatu perancangan sistem kerja dapat dijelaskan. Sebagai berikut :
A. Bahan
Bahan dalam hal ini adalah sesuatu yang akan diproses dalam suatu sistem kerja sehingga dapat berubah dan memiliki nilai yang lebih setelah dilakukan pemrosesan terhadap bahan tersebut. Bahan dapat dikatakan sebagai input yang masuk kedalam sistem kerja dan setelah dikerjakan oleh manusia baik oleh mesin maupun dengan bantuan peralatan maka akan menjadi output sistem kerja. Untuk itulah agar diperoleh output
yang baik maka harus ada kesesuaian antara bahan dengan manusia dan peralatan yang digunakan sebagai alat pemrosesannya. Penyesuaian yang dilakukan terhadap bahan meliputi ukuran dimensi, bentuk, warna dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi jalannya proses pada sistem kerja tersebut.
B. Manusia
Manusia dalam sistem kerja berperan sebagai perancang, pelaku (pelaksana) dan pengevaluasi. Dalam perannya sebagai perancang, manusia merupakan variabel hidup dalam berbagai sifat dan kemampuan yang dimilikinya memberikan pengaruh dan berakibat pada keberhasilan sistem kerja. Dalam perancangan sistem kerja perlu diketahui segala kelebihan dan keterbatasan manusia dalam melakukan pekerjaannya.
Informasi tentang kelebihan dan keterbatasan manusia digunakan sebagai input dalam perancangan sistem kerja, sehingga diharapkan akan tercipta suatu sistem kerja yang memiliki suatu kesatuan antara manusia dengan segala keterbatasannya dalam pekerjaannya. Untuk itu harus dicapai suatu kondisi yang memungkinkan manusia merasakan kenyamanan dan keamanan dalam bekerja agar manusia dapat bekerja secara efisien, dalam arti (fisik, mental dan sosial) yang
dikeluarkan sekecil mungkin akan mendorong tingkat produktivitas manusia dalam bekerja. Kesesuaian antara manusia dengan komponen sistem kerja lainnya sangat penting untuk diperhatikan, karena dalam melakukan pekerjaannya manusia tidak dapat lepas dari komponen sistem kerja lainnya
C. Mesin
Mesin dalam hal ini adalah segala sesuatu yang membantu manusia dalam memproses input dalam suatu sistem kerja.
Terkadang komponen mesin dapat juga berjalan dengan sendirinya, akan tetapi mesin tersebut akan selalu berhubungan dengan manusia. Untuk itu dalam suatu perancangan sistem kerja mesin harus disesuaikan dengan manusia dan bahan yang akan diproses. Manusia sebagai komponen dan mesin harus bisa mengontrol jalannya mesin. Mesin yang baik harus mudah digunakan oleh manusia dengan aman dan nyaman. Agar dapat diperoleh keadaan tersebut maka harus dirancang mesin dengan ukuran, bentuk serta faktor-faktor lain yang sesuai dengan kondisi pemakainya dan bahan yang akan diproses.
D. Lingkungan Kerja
Dalam melakukan pekerjaannya, manusia tidak bisa terlepas dari kondisi lingkungan kerjanya. Manusia bisa bekerja
dengan baik jika lingkungan tempat kerja dirasa nyaman untuk bekerja. Kondisi kerja yang baik tergantung dari beberapa faktor yang menentukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan kerja yaitu temperatur, kelembaban, penerangan, kebisingan, dan getaran. Walaupun kondisi tersebut bersifat fisik tetapi pengaruhnya tidak hanya pada beban kerja fisik saja, melainkan akan mempengaruhi mental pelaku sebagai suatu beban mental. Perancangan sistem kerja harus memperhatikan lingkungan fisik tempat kerja sehingga akan dihasilkan suatu rancangan yang nyaman dan aman untuk bekerja .
Ruang Lingkup
Ruang lingkup perancangan sistem kerja secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Pengaturan kerja
Pengaturan kerja berissi prinsip – prinsip yang mengatur komponen- komponen sistem kerja terbaik untuk mendapatkan alternatif-alternatif sistem kerja terbaik.
Komponen-komponen sistem kerja diatur sedemikian rupa sehingga secara bersama sama berada dalam suatu komposisi yang baik yaitu yang dapat memberikan efisiensi dan produktivitas yang tinggi.
Prinsip-prinsip pengaturan kerja pada dasarnya bertujuan untuk mengarahkan perancang untuk memusatkan perhatian kepada beberapa alternatif, sehingga pemilihan alternatif terbaik menjadi lebih mudah dan cepat. Pengetahuan yang diperlukan untuk melakukan pengaturan kerja yaitu studi gerakan, ekonomi gerakan dan ergonomi.
Kriteria yang digunakan untuk menilai suatu sistem kerja pada dasarnya terdiri empat kriteria, yaitu : waktu, tenaga, psikokologis dan sosiologis. Dengan kriteria-kriteria tersebut maka dapat dinilai alternatif sistem kerja mana yang memenuhi sebagian besar kriteria yang diinginkan yaitu penggunaan waktu yang lebih singkat, penggunaan tenaga yang lebih sedikit, dampak psikologis, dan sosiologis yang minimal dengan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi.
Pengukuran Kerja
Pengukuran kerja berisi teknik-teknik pengukuran waktu, tenaga dan akibat-akibat psikologis serta sosiologis. Teknik-teknik ini dikembangkan secara multidisiplin, artinya dengan menggunakan dan memadukan berbagai bidang disiplin ilmu, yaitu : ilmu statistik, fisiologis, psikologis dan sosiologis.
Pendekatan yang dilakukan teknik perancangan sistem kerja dalam merancang sistem kerja tidak terlepas dari lima langkah pemecahan masalah, yaitu:
1. Pendefisian masalah merupakan langkah pertama yang mana tujuan yang akan dicapainya dinyatakan secara umum, misalnya kriteria-kriterianya, hasil yang diinginkan, waktu yang tersedia dan lani-lainnya.
2. Penganalisaan masalah, berdasarkan fakta-fakta yang ada, dibuat sfesifiksi dan batasannya, menyajikan fakta-fakta secara sistematis, melakukan pengujian kambali atas peroalan dan kriterianya
3. Pencarian alternatif-alternatif, berdasarkan kriteria dan batasan yang telah ditentukan, disusun berbagai alternatif pemecahan persoalan yang masih harus dipilih.
4. Pengevaluasian alternatif-alternatif yang diusulkan, alternatif yang diperoleh pada langkah sebelumnya dipilih yang paling baik dengan menggunakan prinsip dan teknik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
5. Pengambilan keputusan, satu alternatif yang terpilih dari berbagai alternatif yang ada, merupakan keputusan yang harus dilaksanakan. Agar tidak terjadi salah pengertian, maka diperlukan cara0cara komunikasi yang sistematis dan jelas.
2.2 . Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata Yunani ergon (kerja) dan nomos (aturan), secara keseluruhan ergonomi berarti aturan yang berkaitan dengan kerja. Banyak definisi tentang ergonomi yang dikeluarkan oleh para pakar dibidangnya antara lain: Ergonomi adalah ”Ilmu” atau pendekatan multidisipliner yang bertujuan mengoptimalkan sistem manusia-pekerjaannya, sehingga tercapai alat, cara dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman, dan efisien. Ergonomi adalah ilmu, seni, dan penerapan teknologi untuk menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktifitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental sehingga kualitas
hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik Ergonomi adalah ilmu tentang manusia dalam usaha untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerja Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktifitas dan efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal-optimalnya Ergonomi adalah praktek dalam mendesain peralatan dan rincian pekerjaan sesuai dengan kapabilitas pekerja dengan tujuan untuk mencegah cidera pada pekerja. Dari berbagai pengertian di atas, dapat diintepretasikan bahwa pusat dari ergonomi adalah manusia. Konsep ergonomi adalah berdasarkan kesadaran, keterbatasan kemampuan, dan kapabilitas manusia. Sehingga dalam usaha untuk mencegah cidera, meningkatkan produktivitas, efisiensi dan kenyamanan dibutuhkan penyerasian antara lingkungan kerja, pekerjaan dan manusia yang terlibat dengan pekerjaan tersebut.
Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk “fitting the JOB to the worker”, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya.
Bidang Kajian Ergonomi
Pengelompokan bidang kajian ergonomi yang secara lengkap mancakup seluruh perilaku manusia dalam bekerja adalah kajian ergonomi yang dikelompokan sebagai berikut (Sutalaksana dkk, 1979) :
1. Faal Kerja
Faal kerja yaitu bidang kajiaan ergonomic yang meneliti energi manusia yang dikeluarkan dalam suatu pekerjaan . Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang meminimasi konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja
2. Antropometri,
Antropometri yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia untuk digunakan dalam perancangan peralatan dan fasilitas sehingga sesuai dengan pemakainya
3. Biomekanika
Biomekanika yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan mekanisme tubuh dalam melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot manusia dalam bekerja dan sebagainya.
4. Penginderaan
Penginderaayaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya dengan masalah penginderaan manusia, baik indera penglihatan, penciuman, perasa dan sebagainya
B . Kerangka Berpikir
Permasalahan
Belum diketahui hasil perhitungan dan hasil uji pada masing-masing data, dan belum diketahui hasil resume pada masing-masing data
Data
Pengumpulan data pada modul ini dilakukan dengan pengumpulan data pria dan Wanita menggunakan data antropemetri dengan menggunakan metode biomekanika Pengolah Data
1 . Data pria dan Wanita menggunakan antropometri
2 . data pengujian warna dengan Display dan penginderaan
3 . Data uji Tarik pria dan data uji cakram Wanita menggunakan metode biomekanika
Analisis
Menganalisa hasil perhitungan data pria dan Wanita menggunakan antropometri,
menganalisa pengujian warna dengan display penginderaan dan menganalisa hasil uji Tarik pria dan uji cakram Wanita mengunakan metode biomekanika .
Hasil Yang Diharapkan
Mengetahui hasil perhitungan dan hasil uji pada masing-masing data dan hasil resume pada masing-masing data
C . Penelitian Yang relevan
1. Yuri Delano Regent Montororing dan Samuel Sihombing . Perancangan Alat Bantu Kerja Dengan Prinsip Ergonomi Pada Bagian Penimbangan Di PT.BPI . Jurnal Inkofar . Volume 1 No. 2 Desember 2020 . ISSN: 2615- 3645 (Print) / 2581-2920 . PT. BPI merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur yang memproduksi produk-produk plastik.
Didalam proses produksinya diperlukan penanganan material secara manual yaitu penimbangan biji-biji plastik untuk kemudian dimasukan ke dalam mesin injeksi. Proses ini menimbulkan keluhan kerja oleh pegawai yaitu kelehan dan sakit di area badan tertentu. Agar dapat mengurangi kelelahan kerja diusulkan perancangan alat bantu kerja pegawai bagian penimbangan yang ergonomis menggunakan prinsip ergonomi dengan antropometri. Kondisi sebelumnya proses penimbangan bahan baku yang dilakukan pegawai bagian penimbangan dilakukan diatas panggung dengan tinggi 0,5 meter dengan dimensi 4m x 2,5m. Usulan rancangan alat bantu kerja pegawai bagian penimbangan PT. BPI adalah dengan menambahkan alat bantu kerja yaitu Lift Table dengan panjang 155 cm, lebar 74 cm, dan tinggi 84 cm.
2. Alvin Agustinus , Ayrein Camila dan Bonifasius Yoga . Perancangan Fasilitas Kerja Pada Industri Kecil Menengah Pak Saryoto . Simposium Nasional RAPI XIII - 2014 FT UMS . ISSN 1412-9612 . Yogyakarta merupakan daerah yang terkenal dengan budayanya, banyak karya seni besar yang dihasilkan oleh seniman-seniman Yogyakarta. Karya seni handmade berbahan dasar batik di Yogyakarta pada umumnya merupakan hasil produksi dari Industri Kecil Menengah (IKM), dimana sistem dan lingkungan kerjanya belum tertata dengan baik.IKM Pak Saryoto terletak di gang Jangkang 1 Tempel Nitikan UH VI / 212 RT.38 RW.10, Yogyakarta. IKM ini memproduksi kipas batik dari kain perca.
Permasalahan di IKM Pak Saryoto yaitu ketidaknyamanan pekerja dalam bekerja yang disebabkan oleh posisi pekerja yang duduk di lantai tanpa menggunakan alas duduk saat melakukan proses perakitan.Operator bekerja tidak menggunakan meja tetapi hanya menggunakan kardus yang dipangku diatas paha apalagi kondisi kardus yang sering berubah-ubah permukaannya mengakibatkan operator kesulitan dalam mengerjakan kipas. Dari hasil analisis RULA didapatkan nilai atau score akhir sebesar 7 sehingga diperlukan adanya evaluasi untuk meminimumkan score akhir.
Tahap pertama dalam perancangan fasilitas kerja di IKM Pak Saryoto adalah pengumpulan data beberapa variabel anthropometri kemudian dilakukan pengolahan data dengan pengujian statistik seperti uji keseragaman dan uji kecukupan. Tahap selanjutnya adalah menentukan nilai persentil sebagai dasar penentuan dimensi produk sesuai dengan
prinsip perancangan yang dilakukan. Selanjutnya, melakukan analisis bahan untuk menentukan bahan yang akan digunakan dalam merancang fasilitas pembuatan kipas. Perancangan selanjutnya memasuki tahap pemodelan produk.Pada pemodelan produk dilakukan dengan bantuan software Catia, setelah pemodelan produk, dilakukan analisis RULA menghasilkan score4.