6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
GliserolGliserol atau 1,2,3-propanatriol merupakan senyawa alkohol yang memiliki 3 gugus hidroksil yang mempunyai kekentalan yang tinggi, tidak berbau, tidak berwarna, dan berasa manis (0,6 kali sukrosa). Sifatnya yang higroskopis membuat gliserol menyerap air di udara. Titik lelehnya 18,17°C dan mempunyai titik didih 290°C disertai dekomposisi (O’Neil dkk. 2006).
Gambar 2. 1 Struktur Gliserol (Suseno 2019)
Crude glycerol biasanya mengandung 65% -85% w/w kandungan gliserol, dengan konstituen lain termasuk metanol, garam, dan berbagai pengotor. Salah satu kelemahan utama dari transesterifikasi dengan katalis basa homogen adalah pemisahan gliserol tidak efisien dan memerlukan pemrosesan sekunder yang signifikan untuk mencapai tingkat kontaminasi yang rendah Gliserol merupakan salah satu produk industri kimia yang sangat dibutuhkan. Kegunaan gliserol antara lain:
1. Industri makanan dan minuman
a. Pelarut untuk pemberian rasa seperti vanilla dan pewarnaan makanan b. Pengisi dalam produk makanan rendah lemak
c. Pencegah kristalisasi gula pada permen dan es 2. Industri obat-obatan dan Kosmetik
a. Pelarut bahan obat-obatan dan multivitamin.
7 b. Pada obat obatan dan kedokteran gliserol adalah bahan dalam larutan alkohol dan produksi nitrogliserin untuk memperluas pembuluh darah c. Gliserol pada kanji digunakan dalam selai dan obat salep.
d. Sebagai agen antiinflamasi atau mengurangi peradangan pada kulit 3. Bahan pembungkus dan pengemas
Pembungkus daging, jenis khusus kertas, seperti glassine dan greasproof memerlukan bahan pelunak untuk memberi kelenturan dan kekerasan.
Gambar 2. 2 Gliserol Murni
2.1.1 Produksi Gliserol
Gliserol dapat diproduksi dengan menggunakan berbagai proses dan bahan baku. Misalnya, dapat diperoleh dengan menggunakan sintesis propilena melalui beberapa jalur, dengan menggunakan hidrolisis minyak atau dengan transesterifikasi dari asam lemak/minyak (Bagnato, 2017).
a. Gliserol dengan Sintesis Propilena
Allyl chloride diproduksi pada temperatur 510°C dengan adanya hypochlorous acid pada temperatur 38°C. Allyl chloride bereaksi menghasilkan glycerin dichlorohydrine. Setelah itu, glycerol dichlorohydrine dihidrolisis dengan caustic soda dalam larutan Na2CO3 6% pada temperatur 96°C atau secara langsung ke gliserin, melepas epichlorohydrine sebagai atas di stripping column. Lalu epichlorohydrine dihidrasi menjadi gliserin dengan caustic soda dan prosesnya memungkinkan hasil gliserol sebesar 90%. Berikut merupakan skema proses prolylene cholorination:
8 Gambar 2. 3 skema proses propylene cholorination
b. Hidrolisis minyak
Reaksi ini terjadi antara trigliserida dan alkali hidroksida (soda kaustik) memproduksi gliserol dan sabun. Berikut reaksi hidrolisis untuk produksi gliserol:
Gambar 2. 4 reaksi hidrolisis untuk produksi gliserol
c. Transesterifikasi
Beikut merupakan skema reaksi, dimana metil-ester dari trigliserida (minyak) dan metanol (alkohol) bereaksi menghasilkan gliserol dan ester lemak (atau biodiesel):
9 Gambar 2. 5 Reaksi transesterifikasi untuk produksi gliserol
2.1.2 Jenis Gliserol
Gliserol yang dihasilkan sebagai produk sampingan dari reaksi transesterifikasi dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok utama: tingkat teknis, tingkat USP dan tingkat FCC. Tingkat teknis dengan kemurnian >95% digunakan sebagai bahan kimia tetapi tidak digunakan dalam produksi makanan atau formulasi. Tingkat United State Pharmacopcia (USP) dan dengan kemurnian minimal 99,7% digunakan sebagai produksi makanan, kosmetik dan obat-obatan.
Tingkat Food Chemicals Codex (FCC) dengan kemurnian minimal 99,7%
digunakan sebagai produksi makanan (Ardi dkk.,2015). Berikut Karakterisasi dari crude glycerol dan gliserol yang dimurnikan ditunjukkan pada tabel 2.1 sebagai perbandingan karakterisasi dari gliserol komersial:
Tabel 2. 1 karakterisasi dari crude glycerol , gliserin komersial dan gliserol yang dimurnikan menurut standar SNI.
Parameter SNI 06-1564- 1995
Comercial glycerol (Fisher)
Gliserol technical grade*
Crude glycerol Kadar
Gliserol(%)
Min 80 99,98 95 67,8
Kadar air (%)
Maks 10 0,01 5 9,5048
MONG(%) Maks 2,5 0,0008 Maks 2,5 1,0578
pH - 6,97 - 5
Ash
content(%)
Maks 10 0,0002 Maks 10 4.2504
10
Warna - Clear - Coklat
kemerahan
*)Chemical Associates, 2013
2.2
Pemurnian GliserolCrude glycerol membutuhkan serangkaian langkah pemurnian sebelum diubah menjadi produk berharga yaitu dengan menghilangkan pengotor seperti katalis berlebih, asam lemak dan matter organic non-glycerol(MONG) (Ishak et.,2014). Pemurnian gliserol akan meningkatkan nilai ekonomis dan aplikasinya serta membuat produksi biodiesel lebih baik. Adapun dalam setiap proses pemurnian gliserol terdapat kekurangan dan kelebihan seperti pada tabel berikut;
Tabel 2. 2 Teknologi pemurnian Gliserol
Metode Kelebihan Kekurangan
Distilasi vakum
• Menghasilkan produk dengan kualitas yang tinggi
• Konsumsi energi yang tinggi
• Tidak memungkinkan untuk proses skala kecil &
menengah
• Membutuhkan penanganan untuk pencucian air
Ion Exchange • Kemurnian >95%
• Mudah dalam scale-up
• Harga resin relatif mahal, Resin diperoleh dari luar negeri
• menghasilkan air limbah yang cukup banyak karena harus meregenerasi resin untuk efektevitas.
• Tidak cocok untuk crude glycerol yang memiliki kadar garam tinggi
Filtrasi Membran
• operasi yang sederhana dan Ramah lingkungan
• membutuhkan energi yang kecil
• mudah dalam scale up dan pengontrolannya
• Harga membran relatif mahal
• Tidak optimal untuk skala industri
Adsorpsi
• Harga relatif lebih murah
• dapat mengurangi limbah
• konsumsi energi rendah
• Ketersedian adsorben yang luas
• Kemurnian yang diperoleh tidak begitu tinggi
• Sedikit mereduksi warna
*)Ardi dkk, 2015., Chol dkk, 2018., Ningsih, 2019
11
2.3
AdsorpsiAdsorpsi merupakan peristiwa penyerapan suatu substansi pada permukaan zat padat. Pada fenomena adsorpsi, terjadi gaya tarik-menarik antara substansi terserap dan penyerapnya. Dalam sistem adsorpsi, fasa teradsorpsi dalam solid disebut adsorbat sedangkan solid tersebut adalah adsorben. Pada proses adsorpsi, molekul adsorbat bergerak melalui bulk fasa gas menuju permukaan padatan dan berdifusi pada permukaan pori padatan adsorben. Proses adsorpsi hanya terjadi pada pemukaan, tidak masuk dalam fasa bulk/ruah(Ujile, 2014).
Adsorpsi adalah proses pemisahan di mana molekul cenderung bergerak pada permukaan adsorben yang diakibatkan dari gaya Van der Waals yang terdapat pada molekul-molekul tersebut (Ujile, 2014). Dalam adsorpsi digunakan istilah adsorbat dan adsorben, dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorben merupakan suatu media penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon (Syauqiyah, 2011). Proses adsorpsi terjadi jika gaya tarik menarik antara zat terlarut dengan permukaan penyerap (Oscik, 1982). Jika gaya tarik menarik antara molekul adsorbat dengan sisi aktif permukaan adsorben lebih kuat dari pada gaya tarik antar molekul adsorbat, maka akan terjadi perpindahan massa adsorbat dari fase gerak (fluida pembawa adsorbat) ke permukaan adsorben (Bird, 1993). Adapun berdasarkan besarnya interaksi antara adsorben dan adsorbat, adsorpsi dibagi menjadi dua macam yaitu ;
a. Adsorpsi Fisika
Adsorpsi fisik bersifat reversibel dan cepat. Selain itu adsorpsi fisik disebabkan oleh gaya tarik Van der Waal’s atau gaya tarik yang lemah antar molekul. Molekul yang teradsorpsi bergerak bebas di sekitar permukaan adsorben dan tidak hanya menetap di satu titik. Apabila gaya tarik molekuler antara zat terlarut dengan adsorben itu lebih besar daripada gaya tarik antara zat terlarut dengan pelarut, maka zat terlarut akan teradsopsi di permukaan adsorben (Sawyer, 1994).
Ketika permukaan adsorben sudah tertutupi adsorbat, adsorbat tidak hanya terserap pada lapisan atas atau tunggal pada permukaan adsorben. hal ini dikarenakan ikatan fisika yang relatif lemah, sehingga jika terjadi peningkatan temperatur dan konsentrasi, adsorpsi adsorbat pada adsorben juga akan meningkat (Alberty,1990).
12 Menurut Eckenfelder (1981), interaksi secara fisik antara molekul-molekul adsorbat dengan permukaan adsorben yang terjadi antara lain:
1. Gaya Van der Waals, yang dihasilkan akibat adanya interaksi dipol-dipol pada jerak pendek.
2. Gaya elektrostatik, terjadi akibat adanya tarik-menarik elektrostatik antara ion- ion yang disebabkan oleh muatan elektrik permukaan.
3. Reaksi koordinasi, terjadi bila suatu ligan menyumbangkan pasangan elektron pada logam lain. Akibatnya terjadi ikatan koordinasi dan terbantuknya senyawa kompleks.
4. Ikatan hidrogen, terjadi akibat adanya interaksi dipol-dipol antara atom hidrogen dengan atom yang memiliki keelektronegatifan kuat seperti N,O, dan F.
b. Adsorpsi Kimia
Adsorpsi kimiawi merupakan hasil dari gaya yang lebih besar dibandingkan dengan pembentukan senyawa kimia. Secara normal bahan yang teradsorpsi membentuk lapisan di atas permukaan berupa molekul-molekul yang tidak bebas bergerak dari permukaan satu ke permukaan lainnya. Jika 7 permukaan tertutup oleh lapisan monomolekuler maka kapasitas adsorben telah habis. Selain itu, adsorpsi kimiawi bersifat irreversible. (Sawyer, 1994). Gaya ikat adsorpsi kimia bervariasi dan bergantung pada zat yang bereaksi. Ikatan kimia tersebut takni ikatan hidrogen, kovalen dan ionik. Akibat adanya ikatan kimia yang cukup kuat, maka ketika permukaan adsorben sudah tertutupi oleh adsorbat, adsorbat hanya teradsorpsi pada lapisan pertama saja meskipun dilakukan peningkatan temperatur dan konsentrasi (Alberty,1990). Secara umum adsorpsi kimia dan fisika dibedakan berdasarkan beberapa parameter yaitu sebagai berikut;
Tabel 2. 3 Perbedaan antara adsorpsi fisika dan adsorpsi kimia Parameter Adsorpsi Fisika Adsorpsi Kimia
Adsorben Semua jenis Terbatas
Adsorbat Semua gas Kecuali gas mulia
Jenis Ikatan Fisika (Van der Waals) Kimia(ikatan kovalen, hidrogen,ionik) Entalpi adsorpsi Entalpi adsorpsi kecil(Δhad
< 20,92 kJ mol-1)
Entalpi adsorpsi cukup besar (Δhad > 20,92 kJ mol-1)
13 Temperatur
operasi
Terjadi hanya pada temperatur di bawah titik didih adsorbat
Dapat terjadi pada temperatur tinggi Energi Aktivasi Kurang dari 1 kkal/gmol 10-60 kkal/gmol Reversibilitas Reaksi Reversible Reaksi irreversible
Tebal Lapisan Multilayer Monolayer
Kecepatan Adsorpsi
Besar Kecil
Jumlah zat teradsorpsi
Sebanding dengan kenaikan tekanan
Sebanding dengan banyaknya inti aktif adsorben yang dapat beraksi dengan adsorbat
*) Wahyuni, 2010
2.4.1 Mekanisme Adsorpsi
Mekanisme adsorpsi secara umum terjadi dalam tiga langkah. Langkah pertama terjadi difusi adsorbat pada permukaan adsorben oleh gaya antarmolekul antara adsorbat dan adsorben. Langkah kedua melibatkan migrasi adsorbat ke dalam pori-pori adsorben. Selama langkah terakhir, ketika partikel adsorbat didistribusikan di permukaan dan mengisi volume pori-pori, partikel-partikel adsorbat membangun monolayer molekul, ion dan atom yang bereaksi ke situs aktif adsorben (Musin, 2013). Mekanisme adsorpsi dapat dilihat pada gambar dibawah;
(a) (b) (c)
Gambar 2. 6 Tiga Langkah Mekanisme Adsorpsi (a)Difusi Adsorbat ke Permukaan (b) Migrasi ke Pori-Pori Adsorben (c) Penumpukan Monolayer
Adsorbat pada Adsorben (Musin, 2013)
14 2.4.2 Faktor- faktor yang mempengaruhi adsorpsi
Secara umum, faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi adalah sebagai berikut ;
a. Luas permukaan adsorben
Luas permukaan kimia terkait dengan gugus fungsi yang ditemukan pada adsorben. Gugus fungsional permukaan ini penting untuk proses adsorpsi karena dapat mempengaruhi sifat adsorpsi dan reaktivitas adsorben.
Semakin luas permukaan adsorben, maka adsorpsi yang terjadi semakin besar karena kemungkinan zat yang menempel pada permukaan adsorben akan bertambah (Widayatno dkk.,2017).
b. Ukuran pori adsorben
Kekuatan adsorpsi meningkat dengan menurunnya ukuran pori. Ketika ukuran pori berkurang, titik kontak antara adsorbat dan permukaan adsorben mengalami peningkatan, dan potensi adsorpsi antara dinding pori yang berseberangan mulai tumpang tindih (Kose, 2010).
c. Temperature
Peningkatan suhu adsorpsi dapat meningkatkan energi kinetik, yang memungkinkan adsorbat berdifusi lebih cepat ke pori-pori adsorben(Aziz dkk, 2018)
d. Waktu kontak
Waktu kontak optimum atau waktu kesetimbangan akan menghasilkan kapasitas adsorpsi yang maksimum (Syauqiah dkk., 2011). Akan tetapi, semakin lama waktu kontak kemungkinan akan terjadi proses desorpsi atau pelepasan kembali antara adsorben dan adsorbat. Hal ini disebabkan karena gugus fungsi dari adsorben telah jenuh untuk berinteraksi dengan senyawa pengotor (Aziz dkk, 2018).
2.4
AdsorbenAdsorben adalah zat dengan sifat pengadsorpsi. Adapun sifat-sifat penting dari adsorben (Musin,2013) yaitu :
a. Memiliki kemampuan selektivitas
b. Memiliki permukaan besar sehingga kapasitas adsorpsinya tinggi c. Stabil terhadap panas dan bahan kimia
15 d. Tidak larut dalam zat yang akan diadsorpsi
e. Dapat diregenerasi kembali dengan mudah f. Mudah didapat dan harganya murah
2.5
Fly AshFly ash adalah material pozzolanic hasil samping dari pembakaran batubara. Fly ash terbentuk karena adanya mineral-mineral yang tidak mudah terbakar yang terkandung di dalam batubara, seperti silika (Si), Alumina (Al) dan besi (Fe). Kandungan mineral dalam fly ash bervariasi tergantung dari jenis batubara yang digunakan. Karena tingginya kandungan silika dan alumina didalamnya, fly ash dapat dimanfaatkan sebagai sumber silika dan alumina.
Berdasarkan struktur padatan yang berpori dan meiliki rongga-rongga serta stabilitas termal yang besar, material mirip zeolit ini dapat difungsikan sebagai pengemban logam katalis atau adsorben(Sutrisno,2014).
Fly ash (abu terbang) merupakan salah satu residu (limbah batubara) yang dihasilkan dari pembakaran batu bara. Fly ash hasil pembakaran batubara umumnya dilepaskan ke atmosfer tanpa adanya pengendalian, sehingga dapat menimbulkan pencemaran udara. Fly ash yang dikonversi menjadi adsorben merupakan contoh pemanfaatan efektif dari fly ash. Keuntungan adsorben berbahan fly ash adalah biayanya yang murah. Adsorben ini dapat digunakan untuk pengolahan limbah gas maupun cair. Adsorben ini juga dapat digunakan dalam penyisihan logam berat, limbah zat warna berbahaya, dan senyawa organik pada pengolahan limbah. Fly ash dapat dipakai secara langsung sebagai adsorben atau dapat juga melalui perlakuan kimia dan fisik tertentu sebelum menjadi adsorben (Surdjani, 2014).
Berikut merupakan hasil karakterisasi XRF:
Tabel 2. 4 Komposisi Fly Ash Compound Concentration Unit (%)
Al 5,6
Si 11,6
S 1,4
K 1,2
Ca 21,1
Ti 0,86
V 0,03
Cr 0,095
16 Compound Concentration Unit (%)
Fe 52,06
Ni 0,03
Cu 0,07
Zn 0,05
Rb 0,23
Sr 0,91
Mo 3,5
Ba 0,38
Eu 0,54
Yb 0,06
Re 0,1
Hg 0,46
Mn 0,7
*) XRF ITK
2.6
AktivasiProses aktivasi dilakukan untuk meningkatkan luas permukaan dan daya adsorpsi. Pada proses ini terjadi pelepasan hidrokarbon, tar, dan senyawa organik yang melekat pada karbon tersebut. Proses aktivasi terdapat 2 jenis yaitu:
2.6.1 Aktivasi dengan Fisika
Aktivasi dengan fisika melibatkan pemanasan coal fly ash sehingga dapat mengubah sifat fisik dan kimia coal fly ash dimana produk yang dihasilkan menjadi lebih stabil dan padat. Metode ini sangat efisien dalam menghancurkan dioksin, furan, dan senyawa organik beracun lainnya karena suhu tinggi yang digunakan (Hartuti dkk., 2018)
2.6.2 Aktivasi dengan Kimia
Pada aktivasi ini, adsorben dicampur dengan larutan kimia yang berperan sebagai activating agent. Larutan kimia yang dipakai biasanya adalah garam dari logam alkali dan alkali tanah serta zat asam. Activating agent ini berperan sebagai dehydrating agent yang akan mempengaruhi dekomposisi pirolisis, menghambat pembentukan tar, dan mengurangi pembentukan asam asetat, metanol, dan lain-lain (Shofa, 2012). Aktivasi secara kimia bertujuan untuk membersihkan permukaan pori, membuang senyawa pengotor dan mengatur kembali letak atom yang dapat dipertukarkan. Proses aktivasi dengan kimia dapat meningkatkan kristalinitas dan luas permukaan yang menyebabkan penyerapan semakin besar (Hesas dkk., 2013).
17
2.7
Aktivasi Fly AshAktivasi Fly ash dapat dilakukan dengan menambahkan senyawa-senyawa yang mampu menghasilkan suatu ikatan polimer yang kuat. Dalam penelitian yang dilakukan oleh farradina (2012) mengusulkah bahwa larutan alkali dapat digunakan untuk bereaksi dengan Si dan Al dalam sumber material geologi alam atau produk samping seperti abu layang untuk menghasilkan binder. Larutan alkali yang digunakan adalah larutan kalium. Davidovits (2004) merumuskan reaksi aktivasi fly ash yang sebagian besar tersusun atas oksida silika dan alumina dengan menggunakan NaOH atau KOH. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa tahapan aktivasi akan menghasilkan gugus ikatan hidroksida (-OH) yang lebih lanjut akan menghasilkan gugus ikatan alkalioksida (-Ona/-OK) bila dilakukan penambahan konsentrasi NaOH/KOH dengan jumlah berlebih. Berikut merupakan reaksi umum aktivasi fly ash dengan alkali hidroksida dan air.
Gambar 2.7 Reaksi aktivasi fly ash dengan alkali hidroksida dan air (Faradina, 2012)
Proses aktivasi dilakukan untuk meningkatkan luas permukaan dan daya adsorpsi. Adapun macam macam bahan kimia yang digunakan untuk aktivasi kimia sebagai berikut :
Tabel 2. 5 Macam macam bahan kimia untu proses aktivasi
Metode Kelebihan Kekurangan
KOH • Mampu bereaksi dengan Si dan Al dalam fly ash
• Mampu membentuk ikatan yang lebih padat, meskipun
n(OH)3 – Si – O – Al- - O – Si – (OH)3
(OH)2
KOH/NaOH
(Na,K)+ – (- Si – O – Al- - O – Si – O -) + 4 nH2O
O O
O
n(Si2O5,Al2O2) + 2nSiO2 + 4nH2O
KOH/NaOH
n(OH)3 – Si – O – Al- - O – Si – (OH)3
(OH)2
18 sehingga dapat
menghasilkan ikatan polimer yang kuat
• Proses kalsinasi membutuhkan
temperatur yang lebih randah dan waktu yang lebih singkat
dibandingkan lain
ikatan yang dihasilkan kurang kuat
H2SO4
• Memiliki jumlah ion H+
yang lebih banyak dari asam asam lainnya
• memiliki sifat
higroskopis yang dapat menyerap kandungan air yang terdapat pada fly ash
• Pengadukan dilakukan pada temperatur 110°C selama 2 hari
• Harus dikeringkan pada temp 110C selama 34 jam
• Harus dikalsinasi pada temp 600C selama 6 jam
NaOH
• Mampu membentuk ikatan yang lebih padat meskipun ikatan yang dihasilkan kurang kuat
• Memerlukan temperature 105C selama 12 jam
• Proses pengadukan dengan magnet dilakukan selama 5 jam pada temperature 85-90C
• Mampu membentuk ikatan yang lebih padat, meskipun ikatan yang dihasilkan kurang kuat
HCl • Mengurangi kandungan oksida alkali
• Membutuhkan waktu treatment selama 12 jam pada temperature 105C
*) Faradina 2012, Mardiana 2013
Aktivasi kimia dilakukan untuk menghilangkan pengotor anorganik, meningkatkan rasio Si/Al dan menguatkan struktur di dalam katalis (lestari,2010).
Selain itu proses aktivasi secara kimia dimaksudkan untuk menghilangkan zat pengotor yang ada pada fly ash. Penambahan larutan KOH yang bersifat basa kuat ini dapat mengubah komposisi fly ash dengan cara merusak lapisan luar fly ash.
Dengan rusaknya lapisan luar fly ash, maka gugus aktif yang ada di dalamnya seperti silika, alumina akan keluar ke permukaan fly ash. Bila proses aktivasi fly ash dilakukan pada konsentrasi OH- yang sangat tinggi, maka rantai glassy silika- alumina yang rapat akan cepat rusak dan menyebabkan gugus aktif yang ada di dalam fly ash akan cepat larut(Yan dkk.,2003 dan Goni dkk.,2003).
19
2.8
Kromatografi Gas (Gas Chromatography)IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry) mendefinisikan kromatografi gas (Gas Chromatography) sebagai metode yang menggambarkan teknik yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dari suatu sampel yang terdistribusi di antara dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Adapun prinsip kerja dari kromatografi gas yakni fase gerak yang merupakan materal gas carrier berupa Helium, Nitrogen, Argo, atau Hidrogen akan dialirkan menuju sebuah kolom. selanjutnya proses menginjeksi sampel dilakukani secara manual sebanyak 1 µm dengan waktu yang dibutuhkan untuk analisis satu sampel berbeda-beda tergantung sampel dan banyaknya senyawa pada suatu sampel yang akan dianalisa umumnya kisaran waktu 10-25 menit. Selanjutnya kolom oven yang merupakan fase diam pada gas kromatografi dikendalikan temperaturnya sesuai dengan kebutuhan hingga membuat material sampel menguap dan terbawa oleh gas carrier. Ketika senyawa telah menguap, maka detektor akan menangkap sebagai signal-signal data berupa kromatogram dan hasil peak yang diinterprestasikan dalam bentuk area dan konsentrasi dalam waktu bersamaan. Waktu retensi sendiri merupakan akumulasi waktu yang dihabiskan oleh suatu senyawa pada kolom setelah di injeksikan, misalnya suatu sampel yang mengandung beberapa senyawa, maka setiap senyawa dalam sampel tersebut akan menghabiskan waktu yang berbeda pada kolom sesuai dengan komposisi kimianya. Waktu retensi biasanya dalam satuan menit atau detik. Gas kromatografi varian 450 ini menggunakan carrier gas UHP ( Ultra High Purity 99,999%) (Widada 2000).
Kromatografi juga memiliki kelebihan dalam penggunaannya yaitu waktu yang singkat dan terutama mempunyai kepekaan yang tinggi. Kromatografi gas merupakan salah satu alat yang dipergunakan baik untuk analisa kualitatif maupun analisan kuantitatif. Analisa kualitatif berarti penentuan sifat-sifat dari suatu komponen atau campuran dari komponen dengan cara membandingkan waktu retensinya. Sedangkan analisa kuantitatif penentuan jumlah dari suatu komponen dalam suatu campuran dengan cara perhitungan luas puncak (Taha,2018). Adapun faktor faktor yang mempengaruhi hasil analisa gas kromatografi yakni :
1. Injeksi sampel
20 Agar efisiensi dapat optimum, maka jumlah sampel yang diinjeksikan harus sedikit dalam waktu yang singkat. Karna hal ini akan mempengaruhi sampel menjadi lebih banyak dan akan terjadinya pelebaran peak.
2. Konsentrasi sampel
Apabila konsentrasi sampel yang digunakan terlalu tinggi akan menyababkan overload peak. Oleh karena itu sampel harus diencerkan lebih dulu sebelum dilakukan analisis
3. Waktu retensi
Dalam analisis kualitatif, pengamatan mengenai retensi waktu diperlukan untuk mengetaui waktu yang diperlukan oleh komponen dari saat injeksi sampel sampai dengan tampak di detektor. Adapun retensi waktu sering ditentukan dengan mengambil relatif dari zat standar.
4. Temperatur Kolom
Temperatur kolom akan mempengaruhi lamanya proses pemurnian. Apabila temperatur kolom yang digunakan tinggi maka proses pemisahan akan semakin cepat.
5. Kecepatan aliran gas melalui kolom
Hal ini berkaitan dengan flow rate gas, dimana peningkatan flow rate gas akan menambah kecepatan semua senyawa.
6. Volatilitas senyawa
Senyawa dengan titik didih rendah akan lewat lebih cepat daripada senyawa yang titik didihnya tinggi.
Gambar 2. 8 Kromatografi Gas Varian 450