• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Krisis Demokrasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Krisis Demokrasi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Krisis Demokrasi

Krisis demokrasi merupakan kondisi dimana terdapat situasi seperti; adanya tingkat ketidakpuasan yang tinggi dari warga terhadap pemerintah atau politik; kurangnya literasi politik; tingkat kepuasan dan kepercayaan yang rendah pada pemerintah dan politisi; penurunan keanggotaan politik; meningkatnya kekuasaan aktor tanpa akuntabilitas seperti pemilu, lembaga transnarional, bank sentral, atau badan pengatur;

ketidak efektifan representasi; dan menjamurnya pengaturan tata kelola yang kompleks serta menghindari akuntabilitas dan transparansi (Gagnon, 2014).

Dinamika yang terjadi di Myanmar, tindakan perebuatan kekuasaan yang dilakukan oleh militer Myanmar menunjukan adanya peningkatan kekuasaan aktor tanpa adanya akuntabilitas seperti pemilu, dan adanya tata kelola yang menghindari akuntabilitas serta transparansi. Protes yang dilakukan masyarakat sipil adalah bentuk tuntutan terhadap pembebasan penjaga demokrasi yaitu Aung San Suu kyi dan Win Myint serta tuntutan pengembalian kekuasaan pemerintahan kepada pemerintahan sipil menunjukkan bahwa adanya ketidak puasan masyarakat terhadap pemerintahan yang berkuasa dalam konsteks ini adalah junta militer yang tengah mengambil alih pemerintahan Myanmar saat ini, dan dengan adanya demo yang dipicu oleh tindakan- tindakan yang dilakukan militer Myanmar yang berujung menggunakan tindakan - tindakan represif ataupun pelanggaran HAM memicu peningkatan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pihak junta militer, penggunaan kekuatan yang dilakukan militer yang mengakibatkan setidaknya 38 orang meninggal merupakan bentuk pencederaan terhadap HAM dan juga demokrasi sehingga ini menunjukkan adanya krisis demokrasi yang terjadi di Myanmar.

2.2 Konsep Peran

Peranan bisa diartikan sebagai sebuah konsepsi atau orientasi dari bagian yang

“ia” mainkan oleh sebuah pihak atau seorang aktor di dalam suatu posisi sosial. Para pelaku peranan, baik individu ataupun organisasi akan bertindak sesuai dengan apa yang orang ataupun lingkungannya harapkan, dalam konteks ini peranan menjalankan sebuah

(2)

ii

tugas untuk melayani dalam tujuan menghubungkan harapan-harapan dari orang lain atau lingkungan yang telah terpola dengan hubungan dan pola yang kemudian menyusun struktur sosial (Yani, 2005, p. 29).

Peranan dapat juga diartikan sebagai tindakan atau perilaku yang diharapkan dari individu ataupun suatu struktur tertentu yang menduduki sebuah posisi di dalam suatu sistem, sebagaimana konsep ini ditegaskan bahwa peranan muncul akibat dari sebuah tuntutan atau harapan, jika melihat tuntutan dan harap tersebut bisa berasal dari dua sumber: Pertama, harapan yang muncul akibat orang lain terhadap aktor politik. Kedua, tuntutan atau harapan dapat muncul dari bagaimana pemegang peran menafsirkan perang yang dia pegang, tentang apa yang harus dan tidak harus dia lakukan, terkait dengan apa yang tida bisa dan bisa dilakukan oleh individua tau aktor tersebut (Yani, 2005, pp. 30- 31).

2.3 Konsep Perdamaian

Sebuah perdamaian bisa dicapai bila negara-negara di dalam dunia dapat diatur dengan sebuah sistem yang sama seperti salah satunya demokrasi. Demokrasi dengan ekonomi liberal dianggap menjadi solusi dalam menciptakan perdamaian dunia, karena dengan diimplementasikan demokrasi dan ekonomi liberal maka, kemungkinan perang yang terjadi akan sangat kecil. Demokrasi kemudian dipromosikan dan dikampanyekan untuk mengubah ideologi sistem pemerintahan lainyang dianggap tidak lebih baik dibandingkan dengan demokrasi itu sendiri, dan ekonomi liberal menjadi sebuah pola untuk membangun perdamaian yang tidak saja berfokus kepada gencatan senjata, tetapi juga damai yang berkelanjutan, intervensi atau bantuan kemanusiaan, peacekeeping operation (operasi pemeliharaan perdamaian), dan sebagainya (Indrawan, 2019, p. 69).

Menurut Johan Galtung, perdamaian dibagi menadi dua pengertian, yaitu;

Positive Peace dan Negative Peace. Positive Peace didefinisikan sebagai Structural integration, optimistic, preventive, peace by peacefull mean”, tidak adanya kekerasan struktural (tidak adanya manusia yang kehilangan hak / diskriminasi / penindasan / kemiskinan) dan terciptanya keadilan sosial sehingga terbentuklah situasi yang disebut harmoni (Galtung, 1969, p. 183). Negative Peace didefinisikan sebagai “The Absence of violence, pessimistic, curative, peace not always by peaceful means”, ketiadaan konflik atau perang, gencatan senjata, sifatnya menghentikan sementara tetapi tidak mengatasi konflik (Galtung, 1969, p. 183).

(3)

iii

Dalam hal ini Galtung menyatakan bahwa kondisi damai haruslah terdapat hubungan yang baik dan adil dalam setiap aspek kehidupan, baik itu sosial, ekonomi, politik ataupun ekologi. Perdamaian yang perlu dicapai tidak hanya negative peace yaitu dengan ketidak hadiran perang, kekerasan seperti perang, penyiksaan dan bentuk-bentuk kekerasan fisik langsung tetapi juga positive peace. Dalam mencapai hal tersebut Galtung memberikan ada tiga tahap dalam menyelesaikan konflik untuk mencapai positive peace, tiga tahap tersebut adalah (Indrawan, 2019, p. 74)

1. Peacemaking, proses yang memiliki tujuan untuk merekonsiliasi atau mempertemukan sikap-sikap politik serta strategi dari pihak-pihak yang sedang bersengketa melalui negosiasi, mediasi, dan juga arbitrasi terutama pada level elit ataupun pimpinan.

2. Peacekeeping, proses mengurangi atau menghentikan kekerasan melalui intervensi militer yang melaksanakan peran sebagai aktor penjaga perdamaian yang dianggap netral.

3. Peacebuilding, merupakan proses implementasi dari rekonstruksi atau perubahan terhadap aspek politik, sosial, dan ekonomi dalam proses menciptakan perdamaian yang abadi.

Dalam penelitian ini konsep perdamaian dimaksudkan untuk menggambarkan proses ASEAN sebagai organisais internasional di kawasan yang menjaga stabilitas kawasan melalui peacemaking ini tergambar melalui Piagam ASEAN Article 22 & 23 terkait Jasa Baik, Konsiliasi, dan Mediasi ;

‘Member States shal endeavour to resolve peacefully and negotioation, ASEAN shal maintain and establish dispute settlement mechanism in all field of ASEAN cooperation’.1

‘Member States which are parties to a dispute may at any time agree to good offices, conciliation or mediation in order to resolve the dispute within an agree time limit’.2

1PIAGAM PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA. Bab 8 Pasal 22 No.1 & 2. Halaman 23 2PIAGAM PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA. Bab 8 Pasal 23 No1. Halaman. 23

(4)

iv

Paparan diatas menunjukkan ASEAN yang merupakan organisasi internasional yang melaksanakan peacemaking dalam pelaksanaan perdamaian di kawasan yaitu negara-negara anggota ASEAN memiliki kewajiban dalam mengupayakan penyelesaikan sengeketa secara damai dan dengan tepat waktu melalui upaya seperti konsultasi, dialog, serta negosiasi, ASEAN memiliki kewajiban dalam memelihara serta membentuk mekanisme-mekanisme penyelesaian permasalahan dalam segala aspek kerja sama ASEAN, serta sewaktu-waktu dapat menggunakan konsiliasi, jasa baik, ataupun mediasi dalam tujuan untuk menyelesaikan perselisihan atau pertikaian di dalam batas waktu yang telah disepakati.

2.4 Konsep Kudeta Militer

Coup d’etat merupakan sebuah usaha untuk memobilisasi sentimen untuk menggulingkan pemerintah yang dianggap oleh berbagai kelompok dan individu sebagai ancaman langsung terhadap institusi monarki (Pathmanand, 2008). Proses merobohkan legitimasi, membalikan kekuasaan, penggulingan kekuasaan sebuah pemerintah dengan cara menyerang legitimasi pemerintahan dengan tujuan mendapatkan kekuasaan dari pemerintah yang digulingkan3.

Kudeta dapat diartikan sebagai bentuk perubahan rezim yang sifatnya mendadak dan kata coup sendiri berasap dari Bahasa Perancis yang berarti pukulan yang merobohkan4. Samuel Hutington menyatakan ada tipe-tipe kudeta, dan berdasarkan ciri- ciri partisipan dalam kudeta serta tujuannya dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :

1. Guardian Coup

Guardian coup, memiliki tujuan untuk mengubah tata kelola pemerintahan yang dianggap tidak efektif, dan kudeta ini didasarkan kepada jendereal militer yang memiliki yang memiliki peran sebagai guardian dalam kudeta tersebut (Hutington, 1968, p. 221).

2. Break-through Coup

Break-through coup, memiliki tujuan untuk merobohkan hierarki militer dengan menggunakan kekuatan masyarakat sipil untuk menyatakan transisi kekuasaan yang dilkukan oleh para perwira (Hutington, 1968, p. 233).

3 Sehlmeyer, Markus. (2000). The Oxford Companion to Classical Civilization by Simon Hornblower;

Antony Spawforth. Historische Zeitschrift. 415-416.

4Kurnia, Sari Sri. 2019. Skripsi: Analisis Faktor Dan Dampak Kudeta Militer Di Turki 2016. Halaman. 15

(5)

v 3. Veto Coup

Veto coup, memiliki tujuan untuk mencegah pemerintahan sipil yang tidak setuju dan menentang kepentingan pihak militer (Hutington, 1968, p. 223).

Adapun kemungkinan-kemungkinan yang mendorong terjadinya kudeta dikategorikan menjadi 2 istilah, yaitu5 :

1. Kudeta Akut.

Ke-tidakpuasan militer (grievances) dalam artian militer menentang pemerintahan sipil. Krisis politik domestik juga memicu kesempatan untuk melancarkan kudeta, selain disebabkan oleh ke-tidakpuasan militer, kudeta ini bisa muncul dari sumber-sumber luar, seperti ancaman militer dari luar negeri yang menciptakan kesempatan kudeta muncul untuk merebut kekuasaan dan baisanya ada janji untuk memusnahkan ancaman eksternal.

2. Kudeta Kronik

Dalam kudeta Kronik ada beberapa faktor yang dapat memicu kudeta itu terjadi.

Dalam Kudeta Kronik ada beberapa faktor structural daninstitusional yang memiliki peran dalam terjadinya kdueta tersebut, pertama, karakter ekonomi negara dapat memicu kudeta, jika ekonomi ekspor negara hanya dikuasai oleh entitas tertentu maka kudeta dapat saja terjadi, adanya sentralisasi kekayaan, faktor historis atau adanya kudeta yang pernah terjadi sebelumnya dapat menimbulkan kemungkinan munculnya kudeta selanjutnya.

Dalam penelitian ini kudeta militer yang terjadi di Myanmar merupakan bentuk ketidakpuasaan militer terhadap hasil pemilu yang terjadi pada tahun 2020, yang kemudian pada Februari 2021 lalu menyatakan bahwa Partai NLD (National league for Democracy) melaukan kecurangan terhadap Pemilu 2020 tersebut.

5Ishayama, Jhon & Breuning, Marijke. 2013. Ilmu Politik dalam Paradigma Ke-21 dalam Kurnia, Sari Sri. 2019.

Skripsi: Analisis Faktor Dan Dampak Kudeta Militer Di Turki 2016. Halaman. 19

(6)

vi 2.5 Teori Organisasi Internasional

International Organisations atau Organisasi Internasional adalah salah satu instrumen atau aktor dalam studi Hubungan Internasional yang kemudian dikategorikan sebagai aktor bukan negara / non-state actor.

Sejarah Organisasi Internasional dapat dilihat dari tahun 1919, dimana pada Konferensi Perdamaian Versailes yang dianggap menjadi waktu berkumpulnya kukuatan- kekuatan dari negara-negara pemenang Perang Dunia I yang melakukan penandatanganan perjanjian damai dan pengaturan hukum perang, di dalam pertemuan tersebut terdapat juga agenda pembuatan organisasi dunia yang dapat mengatur serta menangani permasalahan perdamaian dalam tataran keamanan, ekonomi, dan sosial (Archer, International Organisations 3rd Edition, 2001, pp. 3-5).

Menurut Clive Archer Organisasi Internasional merupakan sebuah struktur formal yang berkelanjutan dan dibentuk atas dasar sebuah kesepakatan diantara anggota-anggota baik aktor negara atau non-state dari dua atau lebih negara berdaulat dalam tujuan untuk mengejar kepentingan bersama dari anggota-anggotanya (Archer, International Organisations, 2001, pp. 1-2).

Menurut J. Samuel Barkin Organisasi Internasional merupakan sebuah agen yang digunakan negara untuk mempromosikan kekautan globalisasi dan untuk melindungi diri dari kekautan globalisasi yang lebih luas. Organisasi Internasional merupakan aktor yang memiliki peran kuat dan penting tetapi Organisasi Internasional bukanlah pengganti negara, artinya negara tetapi memiliki supremasi tertinggi (Organisasi internasional tidak dapat memaksa Negara sebagai aktor yang memiliki kedaulatan tinggi) (Barkin, 2006, p.

2).

Clive Archer menjelaskan bahwa Organisasi Internasional secara umum memiliki tiga peran, Three Major Roles: Those of Instrument, Arena, and Actor.

Organisasi Internasional merupakan instrumen dengan tujuan mencapai kepentingan negara, sebagai arena dalam diplomasi, dan juga sebagai aktor yang merdeka / independen yang dapat mengatur. Three Major Roles tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Organisasi Internasional sebagai Instrumen

Organisasi Internasional merupakan instrumen bagi kebijakan masing-masing pemerintah negara yang digunakan dalam diplomasi negara dalam rangka mencapai

(7)

vii

sebuah kesepakatan bersama, menghindari, mengurangi intensitas terjadinya konflik.

Organisasi Internasional memiliki peran sebagai media atau instrumen untuk menyalurkan kepentingan nasional sebuah negara, tetapi Organisasi Internasional tidak didominasi oleh satu kekuatan karena Organisasi Internasional memiliki anggota yang memiliki kepentingan yang bervariasi (Archer, International Organisations 3rd Edition, 2001, pp. 68-70).

2. Organisasi Internasional sebagai Arena

Organisasi Internasional memiliki peran menjadi sebuah tempat dimana kegiatan-kegiatan seperti forum, perhimpunan, tempat konsultasi, serta tempat merumuskan dan memprakarsai pembentukan perjanjian-perjanjian internasional, Organisasi Internasional merupakan ruang yang menyediakan tempat yang lebih terbuka bagi anggota-anggotanya untuk mengemukakan pendapat, pandangan melalui sebuah forum umum (Archer, International Organisations 3rd Edition, 2001, pp. 74- 77).

3. Organisasi Internasional sebagai Aktor

Organisasi Internasional dianggap sebagai sebuah aktor yang independen yang dapat mengeluarkan tindakkan dengan sendirinya tanpa adanya pengaruh kekuatan dari luar;

”Can act on the world scene without being significantly affected by outside forces” (Archer, International Organisations 3rd Edition, 2001, p. 79).

Menurut Clive Archer, Organisasi Internasional bergantung pada keberadaan anggotanya, terlebih Organisasi Internasional Pemerintahan (IGO) seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan sebagai aktor menurut Clive Archer, Organisasi Internasional memiliki peran efektif dalam dunia internasional, contohnya adalah pelaksanaan UN Peacekeeping yang melakukan kegiatan Existence of Control dan Independent Decisions ; kemampuan dari institusi untuk mengambil keputusan (Archer, International Organisations 3rd Edition, 2001, pp. 79-87).

Dalam peran Organisasi Internasional sebagai, Instrumen, Arena, dan Aktor terdapat fungsi-fungsi yang kemudian membuat Organisasi Internasional menjadi

(8)

viii

sebuah Aktor yang dapat mempengaruhi sistem politik internasional, adapun fungsi Organisasi Internasional, yaitu :

1. Articulation and Aggregation

Sebagai alat untuk mengartikulasikan dan mengagregasikan kepentingan nasional, artikulasi dan agregasi ini dapat dilakukan melalui forum-forum diskusi juga negosiasi internasional.

2. Norms

Organisasi Internasional memiliki peran untuk membantu menciptakan norma-norma baru dalam hubungan internasional

3. Recruitment

Organisasi Internasional memiliki fungsi dalam merekrut anggota dan berpartisipasi dalam sistem politik internasional

4. Socialization

Organisasi berkontribusi dengan mendorong anggota untuk bertindak dengan cara yang kooperatif, tidak merusak norma-norma yang mereka bagikan dengan anggota lain.

5. Rule Making

Karena sistem internasional tidak memiliki lembaga pembuat aturan yang formal seperti pemerintahan, oleh karena itu peraturan dibuat sendiri dan dapat berupa kebiasaan lama yang telah diterima, perjanjian hukum bilateral antar negara yang mungkin juga berasal dari Organisasi Internasional

6. Rule Application

Organisasi Internasional melakukan pengamanan atas pelaksanaan peraturan oleh negara berhubungan dengan peraturan yang telah dibuat dan akan diserahkan serta dilaksanakan oleh negara.

7. Rule Adjudication

Organisasi Internasional mempunyai fungsi dalam mengesahkan peratuan di dalam sistem internasional.

8. Information

Organisasi Internasional memiliki fungsi sebagai ruang pengumpulan informasi, penyebaran informasi, dan penyediaan informasi.

9. Operations

(9)

ix

Organisasi Internasional menjalankan fungsi operasional seperti menyediakan bantuan, layanan teknis, dan sebagainya.

Dalam penelitian ini teori organisasi internasional merujuk kepada ASEAN yang merupakan sebuah organisasi regional yang juga sebagai ruang dalam rangka mencapai sebuah kesepakatan bersama, menghindari, mengurangi intensitas terjadinya konflik, merumuskan dan memprakarsai pembentukan perjanjian-perjanjian internasional, serta aktor yang independen yang dapat bertindak dengan sendirinya tanpa adanya pengaruh kekuatan dari luar.

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan salah satu bagian yang penting dalam menunjang sebuah penulisan dalam penelitian. Metode ini dimaksudkan untuk menghasilkan dan memperlihatkan penelitian-penelitian yang penulis jadikan acuan untuk menjabarkan setiap karakteristik yang ada mengenai hasil penelitian guna memperoleh Batasan-batasan penelitian dalam pengacuan pada penulisan ini, dalam hal ini penulis menyajikan sejumlah hasil penelitian terdahulu yang dapat dijadikan dasar acuan penelitian selanjutnya yang akan dikaji dalam penulisan ini.

No. Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian 1. Jurnal Risalatu

Mirajiah

Jurusan Hubungan Internasional,

Internastional

Women University (IWU)

Faktor Internal dan Faktor Eksternal Yang

Mempengaruhi Terjadinya

Demokratisasi di Myanmar

Ada sejarah panjang yang berupa konflik sosial di dalam menjalankan proses demokratisasi, pertarungan di antara dua kelompok yaitu kelompok militer dan kelompok sipil atau masyarakat itu sendiri, junta militer merasa mempunyai pengaruh yang besar, dimana militer telah mendapatkan pengakuan atas kemerdekaan Myanmar sejak tahun 1948.

2. Jurnal Sefriani Jurusan Hukum, Universitas Islam Indonesia (UII)

ASEAN Way

Dalam Perspektif Hukum

Internasional

ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan sebuah organisasi dari kawasan Asia Tenggara yang memiliki prinsip-prinsip dalam menghormati kebebasan dasar, pemajuan juga perlindungan terhadap Hak Asasi manusia, serta mempromosikan keadilan sosial.

3 The Asia-Pacific Journal, Donald M.

The February 1, 2021 Coup d’Etat

Menurut laporan dari majalah The Irrawaddy tanggal 3 Maret 2021, tentara

(10)

x

Seekins in Burma: Some

Reasons Why

dan polisi huru hara yang memihak kepada rezim militer negara itu membunuh sedikitnya 28 warga sipil tak bersenjata di tengan tindakan keras mereka terhadap pengunjuk rasa anti-junta.

4 Skripsi Ikrimah Jurusan Hubungan Internasional,

Universitas Islam negeri Syarif Hidayatullah

Pernaan ASEAN Mendorong

Pemerintahan Militer Dalam Menegakkan

Demokrasi Di Myanmar

Terbentuknya Piagam ASEAN yang telah disepakati bersama, tidak memiliki pasar yang mengatur adanya wewenang organisasi untuk mengeluarkan anggota, dalam hal ini meskipun Myanmar dianggap menjadi negara yang mempermalukan ASEAN, tetap saja ASEAN tidak dapat mengeluarkan Myanmar dari keanggotaanya.

5 Jurnal Firdaus M.

Iqbal & Indah D.

Prodi Ilmu Hukum FISIP, Universitas Jenderal Achmad Yani

Kudeta Militer Myanmar

DalamPerspektif Hukum

Internasional.

Fase kedua terjadinya gerakan kudeta Myanmar yaitu pada tahun 1988 biasa dikenal sebagai Pemberontakan 8888 (The 8888 Uprising yang berakar dari tahun 1985 dimana latar belakang ekonomi menjadi sebab munculnya demonstrasi besar-besaran

2.7 Kerangka Pikir

Tuduhan Kecurangan Pemilu 2020 National League for

Democracy (NLD)

Hegemoni Militer mendorong Kudeta

Dinamika Politik Myanmar tidak Stabil

Konsep Krisis Demokrasi Kudeta Militer

(11)

xi

Penelitian yang membahas mengenai “Peran ASEAN Dalam Pelaksanaan Perdamaian Terkait Dengan Kudeta Militer Di Myanmar Tahun 2021” dalam bagian pembahasan hingga pengambilan kesimpulan, struktur pembahasan yang akan dipaparkan meliputi, bagian penjelasan mula-mula atau hipotesa mengenai awal terjadinya permasalahan kudeta militer di Myanmar pada Februari 2021 lalu yang disebabkan oleh tuduhan kecurangan Pemilu yang dilakukan oleh kelompok militer terhadap partai NLD, kemudian penjabaran berikutnya adalah penyajian data secara kronologis terkait dengan kudeta militer itu juga dampaknya. Penjelasan berikutnya kemudian memaparkan penjelasan mengenai bagaimana ASEAN sebagai organisasi di kawasan yang memiliki peran dan prinsip untuk menjaga stabilitas perdamaian di kawasan terkait dengan kudeta militer yang terjadi di Myanmar. Paparan tersebut kemudian akan dikomparasikan dengan Teori Oraganisasi Internasional dengan tujuan untuk mendapatkan analisa mengenai peran ASEAN terkait dengan permaslahan kudeta Myanmar Februari 2021 lalu.

Krisis Demokrasi di Myanmar

Konflik di Myanmar dan In-stabilitas

Kawasan

Peran ASEAN Teori Organisasi

Internasional

(12)

Referensi

Dokumen terkait

Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, demos yang berarti rakyat dan kratosatau kratein yang berarti kekuasaan atau pemerintahan. Sehingga sesuai asalkatanya muncullah

yang berjudul “Pengaruh Kompetensi Terhadap Kesiapan Mahasiswa Jurusan Akuntansi dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN” bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari

“segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu degan tidak ada kecualinya“ Dengan demikian, dimaksudkan

Pemerintahan demokrasi merupakan hubungan antara pemerintah dan masyarakat yang dapat digambarkan sebagai suatu hubungan keagenan, dalam hal ini pemerintah berfungsi sebagai

Program ini bertujuan untuk mengembangkan kelembagaan, menata sistem hukum, perangkat hukum dan kebijakan, serta menegakkan hukum untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam

presiden untuk membentuk pemerintahan demokratis” (Soedarsono, 2005:1). Penjelasan di atas menyebutkan bahwa pemilihan umum merupakan syarat minimal adanya demokrasi

Dan menurut Sarwono, S.W 2000 motivasi menunjuk pada proses gerakan termasuk situasi yang mendorong yang timbul dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut

Ditinjau dari proses pembelajaran sebagai kegiatan interaksi antar siswa dan lingkungannya, fungsi dari media adalah diketahuinya adanya kelebihan media tersebut dan hambatan komunikasi