• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Institut Teknologi Kalimantan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Institut Teknologi Kalimantan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab II, akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka yang berkaitan dengan acuan penelitian yang akan dilakukan. Bab II meliputi beberapa aspek bahasan, diantaranya:

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan faktor yang paling penting dalam pencapaian sasaran tujuan proyek. Hasil yang maksimal dalam kinerja biaya, mutu, dan waktu. Ttiada artinya bila tingkat keselamatan kerja terabaikan. Indikatornya dapat berupa tingkat kecelakaan kerja yang tinggi, seperti banyak tenaga kerja yang meninggal, cacat permanen, serta instalasi proyek yang rusak, selain kerugian materi yang besar (Kareth et al, 2012).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan suatu istilah yang popular didunia kerja. Bahkan di Industri khususnya dalam hal pembangunan lebih dikenal dengan singkatan K3 yang dalam artiannya yaitu Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah kondisi kerja yang terbebas oleh ancaman bahaya yang bisa mengganggu proses aktivitas dan dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan seperti cedera, penyakit, kerusakan harta benda, serta gangguan lingkungan.

Menurut (Prabu dan Puspitasari, 2015) memberitahukan bahwa istilah keselamatan mencangkup dengan kedua istilah yaitu risiko keselamatan dan risiko kesehatan. Dalam sebuah kepegawaian, dengan kedua istilah tersebut dapat dibedakan, yaitu keselamatan kerja dapat menunjukan kondisi yang aman dari penderitaan dan kerusakan yang berada di tempat kerja. Risiko keselamatan merupakan aspek dari suatu lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan dan pendegaran. Dengan semua ini sering dihubungan dengan

(2)

perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencangkup tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.

Keselamatan kerja ialah kondisi keselamatan yang bebas dari sebuah risiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita berkerja mencangkup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja (Arumsari, 2017).

Pengertian sehat dapat diartikan sebagai suatu kondisi fisik, mental dan sosial seseorang yang tidak saja bebas dari sebuah penyakit atau gangguan kesehatan melainkan juga dapat menunjukan suatu kemampuan guna berinteraksi dengan lingkungan dan pekerjaannya (Fendy Budianto, 2014).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai suatu program yang didasari pendekatan ilmiah dalam suatu upaya yang dapat mencegah atau memperkecil terjadinya bahaya (hazard) dan risiko (risk) terjadinya penyakit dan kecelakaan, maupun kerugian lainnya yang mungkin terjadi. Dapat dikatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah suatu pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi dalam bahaya dan risiko kesehatan dan keselamatan yang mungkin bisa terjadi (Pratiwi, 2020).

Kerja ialah kecelakaan yang terjadi pada seseorang ketika melakukan sebuah perkerjaan. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang tidak direncanakan yang dapat disebabkan oleh suatu tindakan yang tidak hati-hati atau tidak aman atau keduanya (Tubert brohman et al, 2013).

Menurut (Top, 2012) kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dapat dikehendaki, dapat mengakibatkan kerugian jiwa serta kerusakan harta benda dan biasanya terjadi dengan akibat dari adanya kontak dengan sumber energi yang melebihi batas atau struktur.

2.2 Dasar Hukum

Peran Pemerintah di Indonesia guna melindungi hak-hak dalam setiap Warga Negara sehingga mendapatkan pekerjaan serta kehidupan yang layak harus dipondasikan dalam Amanat UU 45 (Lubis et al, 2019). Warga Negara Indonesia berhak mendapatkan suatu Jaminan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang telah

(3)

undang dan Peraturan K3L atau HSE yang wajib untuk diketahui ialah sebagai berikut:

UU RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

UU RI No.01 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

UU No.03 Tahun 1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO No.120 mengenai Hygiene dalam perniagaan dan kantor-kantor.

Permenaker 01/Men/1979 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes bagi Paramedis Perusahaan.

Permenaker 01/Men/1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes bagi Dokter Perusahaan.

SNI 19-7057-2004 tentang Kurikulum Pelatihan Hiperkes dan KK bagi Dokter Perusahaan.

SNI 19-7055-2004 tentang Kurikulum Pelatihan Hiperkes dan KK bagi Pengurus dan Anggota Panitia Pembina K3 (P2K3) Perusahaan.

SNI 19-7056-2004 tentang Kurikulum Pelatihan Hiperkes dan KK bagi Pengelola makanan tenaga kerja di tempat kerja.

SE.86/BW/1989 tentang Perusahaan catering yang mengelola makanan bagi tenaga kerja.

Jaminan sosial dan perlindungan lain tenaga kerja juga dapat dikenal dengan (UU RI Nomor 03 Tahun, 1992) yang dimana Perusahaan wajib untuk menjamin kepentingan hari tua serta perlindungan-perlindungan yang lain seperti JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja), JK (Jaminan Kematian), JHT (Jaminan Hari Tua), dan JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan). Terdapat juga beberapa Peraturan lain yang telah terbukti untuk mendukung yaitu:

PP No.14 Tahun 1993 tentang Jamsostek; dan

Kepres RI No.22 Tahun 1993 tentang penyakit yang dapat timbul akibat hubungan kerja serta bisa untuk mendapat kompensasi jamsostek.

(UU RI Nomor 1 Tahun, 1970) tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan pemerintah dimasa tersebut guna keselamatan dan kesehatan kerja. Undang-undang

(4)

pada masa itu Suharto selaku Presiden Republik Indonesia. Pada (UU RI Nomor 01 Tahun 1970, 1970) terdapat 11 BAB, 18 Pasal dan 47 Ayat. Yang berbunyi sebagai berikut:

 BAB I, tentang istilah yang terdiri dari pasal 1,7 ayat.

 BAB II, tentang suatu ruang lingkup yang terdiri dari pasal 2,3 ayat.

 BAB III, tentang syarat keselamatan kerja yang terdiri dari pasal 3,2 ayat dan pasal 4,3 ayat.

 BAB IV, tentang suatu pengawasan yang terdiri dari pasal 5,2 ayat; pasal 6,3 ayat; pasal 7,1 ayat; dan pasal 8,3 ayat.

 BAB V, tentang suatu pembinaan yang terdiri dari pasal 9,4 ayat.

 BAB VI, tentang panitia dalam pembina keselamatan dan kesehatan kerja yang terdiri dari pasal 10,2 ayat.

 BAB VII, tentang suatu kecelakaan yang terdiri dari pasal 11,2 ayat.

 BAB VIII, tentang suatu kewajiban dan suatu hak kerja yang terdiri dari pasal 12,1 ayat.

 BAB IX, tentang suatu kewajiban jika memasuki tempat kerja yang terdiri dari pasal 13,1 ayat.

 BAB X, tentang suatu kewajiban pengurus yang terdiri dari pasal 14,1 ayat.

 BAB XI, tentang ketentuan penutup yang terdiri dari pasal 15,3 ayat; pasal 16,1 ayat; pasal 17,1 ayat; dan pasal 18,1 ayat.

Pertimbangan (PP, 2012) Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja ialah untuk melaksanakan ketentuan Pasal 87 ayat (2) UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah terkait Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;

Dasar hukum PP 50 tahun 2012 Penerapan SMK3 ialah sebagai berikut:

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. UU Nomor 13 Tahun 2003 Ketenagakerjaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

(5)

3. UU Nomor 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918);

2.3 Bahaya dan Risiko

Potensi dari suatu Bahaya (Hazard) ialah kondisi atau keadaan pada saat proses, alat mesin, bahan atau dari cara kerja yang secara alamiah dapat menyebabkan luka, cedera bahkan kematian pada mahluk hidup dan dapat menimbulkan kerusakan pada alat serta lingkungan. Bahaya (danger) ialah kondisi hazard yang terekspos dilingkungan sekitar dan bisa memberikan peluang besar terhadap terjadinya kecelakaan atau suatu insiden (Susihono dan Rini, 2013).

Bahaya ialah potensi yang terdapat dari fisik maupun mental. Dalam istilahnya, bahaya sering dikaitkan dengan kondisi yang jika dibiarkan akan tidak terkontrol, dapat mengakibatkan cedera serta penyakit. Mengidentifikasi suatu bahaya dan menghilangkan atau mengendalikannya harus secara sedini mungkin yang nantinya akan membantu mencegah cedera serta penyakit (Michaud, 2018).

Menurut (Ramli, 2011) pada Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Perspektif K3 OHS Risk Management jenis-jenis bahaya ialah sebagai berikut:

 Bahaya Mekanis, bersumber dari peralatan mekanis atau bisa dengan benda yang bergerak secara gaya mekanika baik yang telah digerakkan secara manual maupun dengan bantuan penggerak. Contohnya bubut, press, potong, mesin gerinda, tempat pengaduk dan lain-lain. Berdasarkan kegiatan tersebut dapat menimbulkan cedera atau kerusakan seperti terjepit, terpotong, dan tersayat.

 Bahaya Listrik, bersumber dari energi sebuah listrik yang dapat mengakibatkan risiko seperti sengatan listrik, kebakaran, dan hubungan singkat. Dilingkungan kerja dimana saja dapat ditemukan bahaya listrik baik dari suatu jaringan listrik maupun dari peralatan kerja serta mesin yang telah menggunakan energi listrik.

 Bahaya Kimiawi, bersumber dari bahan kimia. Bahan kimia mengandung berbagai macam potensi bahaya yang memiliki sifat serta kandungannya

(6)

dapat bersifat racun (toxic), iritasi oleh bahan kimia yang dari asam kuat, ledakan, polusi, serta pencemaran lingkungan.

 Bahaya Fisik, bersumber dari faktor fisik contohnya bising, suhu panas atau dingin, cahaya atau penerangan, tekanan, dan getaran. Sumber energi yang kuat dapat membahayakan tubuh. Potensi bahaya bisa menimbulkan dampak jangka panjang pada kesehatan serta dapat menyebabkan sakit akibat kerja misalnya kehilangan pendengaran karena suara yang sangat berisik atau terjadinya masalah penglihatan yang disebabkan dari kurangnya penerangan yang kurang nyaman.

 Bahaya Biologis, bersumber dari unsur biologis contohnya ialah flora dan fauna yang terdapat di wilayah lingkungan kerja. Organisme yang hidup dapat menyebabkan penyakit Influenza, Hepatitis atau Tuberkulosis.

 Bahaya Ergonomi, yang dapat disebabkan dari desain kerja, penataan tempat kerja yang kurang nyaman. Sehingga dalam permasalahan tersebut dapat menimbulkan kelelahan.

 Bahaya Psikologis, yang dapat disebabkan oleh jam kerja, shift kerja, hubungan antara pekerja. Dalam hal ini dapat menimbulkan faktor stress terhadap para pekerja.

Risiko ialah sebagai kemungkinan terjadinya dampak atau konsekuensi.

Pengelolaan risiko (Risk Management) dapat dilakukan menggunakan metode: a) Identifikasi Risiko (Risk Identification), b) Analisis Risiko (Risk Assessment), c) Pengendalian Risiko (Risk Control). Pada khususnya dari program K3 akan dilakukan dapat digolongkan dengan dua bagian yaitu Sistem Manajemen K3 dan Program Teknis Operasional (Susihono dan Rini, 2013).

Risiko dapat didefinisikan sebagai suatu “kombinasi kemungkinan terjadinya suatu peristiwa yang nantinya dapat berhubungan dengan cedera parah, sakit akibat kerja, terpaparnya seseorang pada alat yang bisa menyebabkan suatu bahaya”. Jadi, bahaya ialah sifat dari proses yang merugikan suatu individu, dan risiko ialah kemungkinan bahwa akan terjadi bersamaan dengan seberapa parah akibat yang dapat diterima.

(7)

2.4

Hazard Identification, Risk Analysis, and Risk Control (HIRARC)

Dalam suatu penelitian tersebut merupakan penelitian dalam semi kuantitatif dengan cara menggunakan metode observasi. Peneliti menggunakan bentuk HIRARC yang diambil dari (DOSH, 2008) Formulir tersebut dapat digunakan guna dalam mengidentifikasi bahaya, mengevaluasi tingkat risiko, dan mengusulkan pengendalian risiko (jika diperlukan).

HIRARC menurut (Vidhya dan Ramesh, 2017) ialah suatu proses dari mendeskripsikan kemungkinan terjadinya bahaya-bahaya yang terdapat di dalamnya melalui frekuensi dan severity sehingga dapat melakukan evaluasi konsekuensi dari setiap potensi bahaya akibat dari kerugian dan cedera yang terjadi.

Sedangkan menurut (Zubair, 2017) HIRARC ialah fundamental dari praktik perencanaan, manajemen, dan penerapan dari manajemen risiko. Pengerjaan HIRARC adalah salah satu dari tahapan yang akan dilakukan dalam penerapan SMK3 berdasarkan (Occupational Health and Safety Management Systems, 2007).

Berdasarkan (Occupational Health and Safety Management Systems, 2007) penerapan dari HIRARC biasanya dilakukan dalam 3 tahapan yakni: Identifikasi bahaya (Hazard identification), Penilaian risiko (Risk assessment), dan Pengendalian risiko (Risk control) guna mengimplementasikan pelaksanaan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja yang pelakasanaannya bisa dilihat pada gambar 2.1

(8)

Gambar 2.1 Proses HIRARC Sumber:(DOSH, 2008)

Langkah-langkah dari suatu proses dapat didefinisikan penerapan keterampilan teknis, manajerial khusus untuk identifikasi, dan pengendalian bahaya yang diuji secara sistematis dan berwawasan ke depan sepanjang siklus hidup proyek, program, atau aktivitas. Tujuan utama dari metode OSHA ialah pencegahan kecelakaan. Mengidentifikasi bahaya salah satu program pencegahan kecelakaan atau biasanya dapat disebut dengan pengendalian risiko. Tanpa mengenal bahaya terlebih dahulu, maka risiko tidak dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan atau pengendalian tidak dapat dijalankan (Ramli, 2011). Setelah melakukan identifikasi bahaya selanjutnya menilai, serta menghilangkan atau mengendalikan bahaya terkait keselamatan secara proaktif, hingga tingkat yang juga dapat diterima bisa mencapai pencegahan kecelakaan. Berdasarkan (Ahmad et al, 2016) bahaya dapat didefinisikan dari segala hal (kondisi, situasi, pelaksanaan, serta tingkah laku) yang dapat berpotensi mengakibatkan bahaya didalamnya meliputi kecelakaan, penyakit, kematian, pencemaran lingkungan, dan kerusakan fasilitas. Menurut Departemen (Keselamatan dan Kesehatan Kerja Malaysia, 2008) pada tahap pertama dilakukan tujuan untuk mengetahui segala potensi bahaya baik bahaya yang berasal dari bahan, peralatan, serta sistem kerja. Adapun 5 (lima) kategori faktor sumber bahaya

(9)

Langkah-langkah proses Risk Management dari OSHA digambarkan secara grafis pada gambar berikut:

Gambar 2.2 Proses Risk Management Sumber: (Michaud, 2018)

Penilaian risiko tersebut akan selalu dibutuhkan dalam suatu instansi dan telah memiliki sistem yang mudah tetapi komprehensif, sangat sederhana, dan efektif. Pada Performance Health and Safety Ltd menggunakan 5 langkah dalam menilai risiko yang telah sesuai dengan instansi terkait dan mengidentifikasi elemen yang relevan.

5 langkah tersebut ialah sebagai berikut:

1. Identifikasi bahaya yang ada (aktivitas, fasilitas, dan peralatan);

2. Pertimbangkan siapa yang akan berisiko (anak-anak, staf, masyarakat, penyandang cacat, kontraktor);

3. Mengevaluasi dan Menerapkan langkah-langkah pengendalian yang akan diterapkan. Nilai kemungkinan risiko dan tingkat keparahan hasil yang telah didapatkan. Skala 1-5 untuk masing-masing dan akan dikalikan;

4. Mencatat semua temuan dan isi dokumen. Bentuk tabel yang telah berfungsi dengan baik, termasuk judul, nama, tanggal, tajuk, dan tindakan; dan

5. Review penilaian risiko (jika diperlukan).

(10)

Setidaknya setiap tahun ketika hukum atau kondisi lapangan berubah seperti staf, lokasi, atau metode baru. Tidak semua orang dapat memahami prosedur yang akan terlibat dalam melaksanakan suatu penilaian risiko, tetapi matriks evaluasi membuatnya menjadi lebih mudah untuk dapat dipahami. Dari (Doidge, 1997) menemukan agar bahwa lebih mudah dengan menyusun suatu daftar risiko dan kemudian menerapkan elemen standar kesehatan serta keselamatan pada setiap aktivitas atau area tersebut.

Manajemen risiko menurut (AS/NZS 4360. Australian/New Zeland, 2004) merupakan salah satu sistem kebijakan manajemen, prosedur, serta praktik terhadap komunikasi tugas, penetapan konteks, identifikasi, analisis, evaluasi, pengendalian, monitoring dan peninjauan ulang risiko. (AS/NZS 4360. Australian/New Zeland, 2004) standar manajemen risiko yang berasal dari Australia dan Selandia Baru (New Zealand). AS/NZS 4360:2004 merupakan revisi dari standar AS/NZS 4360:1999. Untuk penilaian risiko dilakukan secara analisis semi kuantitatif yaitu skala kualitatif telah digambarkan dengan angka numerik yang bertujuan untuk memberikan skala tetapi tidak seperti analisis kuantitatif. Berikut ini akan dilampirkan tabel 2.1, 2.2, serta 2.3 standar manajemen risiko:

Tabel 2.1 Tingkat kemungkinan terjadinya risiko

Likelihood (L) Uraian Rating

Rare Hampir tidak pernah, sangat jarang terjadi 1

Unlikely Jarang 2

Possible Dapat terjadi sekali-kali 3

Likely Sering 4

Almost certain Dapat terjadi setiap saat 5 Sumber: (‘Risk management’, 2004)

(11)

Tabel 2.2 Tingkat keparahan bahaya kecelakaan

Sumber: (‘Risk management’, 2004) Tabel 2.3 Tingkatan Risiko

Likelihood Severity Negligible (1)

Minor (2)

Moderate (3)

Major (4)

Extreme (5)

Rare (1) Low

(1x1)

Low (1x2)

Low (1x3)

Low (1x4)

Medium (1x5) Unlikely (2) Low

(1x1)

Low (2x2)

Medium (2x3)

Medium (2x4)

High (2x5) Possible (3) Low

(3x1)

Medium (3x2)

Medium (3x3)

High (3x4)

High (3x5)

Likely (4) Low

(4x1)

Medium (4x2)

High (4x3)

High (4x4)

Very High (4x4) Almost Certain (5) Medium

(5x1)

High (5x2)

High (5x3)

Very High (5x4)

Very High (5x5) Sumber: (‘Risk management’, 2004)

Data dianalisis dengan berdasarkan formula risiko yang telah ditetapkan diatas;

Risiko (R) = Kemungkinan (L) x Keparahan (S) (2.1)

Risiko yang telah diidentifikasi dan dilakukan penilaian memerlukan langkah pengendalian guna menurunkan tingkat risiko bahaya tersebut untuk menuju ke titik yang lebih aman. Pengendalian Risiko menggunaka n cara eliminasi memiliki tingkat keefektifan, kehandalan, serta proteksi tertinggi diantara pengendalian lain. Dan pada urutan hierarki setelah eliminasi, tingkat

Severity(S) Uraian Rating

Negligible

Tanpa menyebabkan kecelakaan manusia serta kerugian

materi

1

Minor Bantuan kecelakaan awal, kerugian materi medium.

2 Moderate Seharusnya ada penanganan medis,

kerugian materi yang tinggi.

3 Major Kecelakaan berat, kehilangan

kemampuan, kerugian materi tinggi.

4

Extreme

Bahaya radiasi melalui efek penyebaran yang luas, kerugian yang sangat besar.

5

(12)

Tabel 2.4 Kriteria parameter pengukuran Likelihood Kategori Keseringan Keterangan

Rare (1) Terjadi 1x dalam masa lebih dari 1 tahun Unlikely (2) Bisa terjadi 1x dalam setahun

Possible (3) Bisa terjadi 1x dalam sebulan Likely (4) Bisa terjadi 1x dalam seminggu Almost Certain (5) Terjadi hampir setiap hari

Sumber: (Pujiono et al, 2013) Tabel 2.5 Kriteria parameter pengukuran Severity

Kategori Keseringan Keterangan

Negligible (1) Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali

Minor (2) Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali

Moderate (3) Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam

Major (4) Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam

Extreme (5) Cacat Permanen, Kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

Sumber: (Pujiono et al, 2013)

(13)

Gambar 2.3 Hirarki Pengendalian Risiko Sumber: (NIOSH, 2016)

Pengendalian risiko merupakan suatu hierarki berurutan terkait tingkat risiko berkurang menuju titik aman. Hierarki pengendalian tersebut terdiri dari eliminasi, substitusi, engineering, administrasif, dan Alat Pelindung Diri (APD). Cara pengendalian risiko ialah sebagai berikut:

1. Eliminasi: Pengendalian dilakukan dengan menghilangkan sumber dari bahaya (hazard).

2. Substitusi: Mengurangi risiko bahaya dengan mengganti proses, mengganti input yang lebih rendah risiko.

3. Engineering: Mengurangi risiko bahaya dengan cara metode rekayasa teknik pada suatu alat, mesin, infrastruktur, lingkungan, serta bangunan.

4. Administratif: Mengurangi risiko bahaya dengan melakukan pembuatan prosedur, aturan, pemasangan rambu (safety sign), tanda peringatan, training dan seleksi terhadap kontraktor, material serta mesin, cara pengatasan, penyimpanan serta pelabelan.

5. Alat Pelindung Diri: Mengurangi risiko bahaya dengan menggunakan alat perlindungan diri contohnya safety helmet, masker, sepatu safety, coverall, kacamata keselamatan, dan alat pelindung diri lain yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan.

(14)

2.5 Populasi dan Sampel

Dalam penelitian ini populasi yang dimaksud ialah populasi seluruh manusia di Kampus Institut Teknologi Kalimantan (ITK) baik dari ketenagakerjaan serta mahasiswa(i). Sedangkan dalam sampel yang ditentukan dikelompokkan dengan masing-masing jenis pekerjaan yang berada di Gedung A, B, dan E Kampus ITK.

Dalam menentukan sampel peneliti menentukan cluster disetiap pekerjaan yang terdapat di Kampus ITK. Peneliti menggunakan rumus dalam penentuan jumlah sampel yang dirumuskan oleh Slovin dalam (Sugiyono, 2017) sebagai berikut:

n = N

(1+N x e2)= ⋯ (2.2) Keterangan:

n : Number of samples (jumlah sampel)

N : Total population (jumlah seluruh anggota populasi)

e : Error tolerance (toleransi terjadinya kesalahan; taraf signifikansi; untuk sosial dan pendidikan lazimnya nilai sebesar 0,05)

Langkah dalam menghitung jumlah masing- masing sampel di tiap responden peneliti menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Menurut (Sugiyono, 2017) proportionate stratified random sampling ialah teknik yang digunakan bila populasi mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Di dalam penelitian ini anggota cluster yang dimaksud ialah kelima responden yang dimana terdapat Pegawai (Kepala Pimpinan, Dosen, Tendik, dan Laboran), Sarana dan Prasarana, Security, Cleaning Service, dan Mahasiswa(i).

ni = Ni

N x N = … (2.3)

Keterangan:

ni : Jumlah sampel tiap responden

N : Total populasi keseluruhan responden

(15)

2.6 Alat Bantu Statistik

Dalam alat bantunya dapat berbentuk program komputer yang digunakan guna memudahkan penggunanya dalam mengolah suatu data secara cepat serta efisien. (Priyatno, 2016) menjelaskan bahwasannya tool dan teknik untuk pengolahan data statistik. Beberapa pengujian yang terdapat pada buku tersebut sering digunakan untuk melakukan pengujian statistik dalam mengolah data kuisioner yaitu menggunakan pengujian validitas dan reliabilitas.

2.6.1. Uji Validitas

Uji validitas kuisioner yang dimaksud ialah validitas item, untuk mengukur ketepatan suatu item dalam suatu kuisioner apakah sudah tepat ketika mengukur apa yang ingin diukur. Item yang valid dapat ditunjukkan dengan adanya korelasi yang signifikan dari koefisien korelasi taraf signifikansi 0,05, artinya suatu item dianggap valid jika berkorelasi signifikan terhadap skor total item. Atau bisa melakukan penilaian secara langsung terhadap koefisien korelasi dengan menggunakan batas nilai korelasi 0,30.

Dalam metode tersebut yang biasa digunakan dengan metode korelasi Pearson atau metode Corrected Item-Total Correlation. Metode uji validitas ini mengorelasikan masing-masing skor item dengan skor total item. Skor total item adalah penjumlahan dari keseluruhan item. Jika nilai korelasi (r hitung) lebih besar dari r tabel maka item kuisioner tersebut dinyatakan valid, sebaliknya jika r hitung lebih kecil dari r tabel atau nilai korelasi negatif maka item tidak valid. Rumus dari uji Validitas ialah sebagai berikut:

r𝑥𝑦 = N ∑ XY ∑ X ∑ Y

{∑ X2−(∑ X)2}{N ∑ Y2−(∑ Y)2} (2.4) Keterangan:

r𝑥𝑦 = Koefisien validitas N = Banyaknya subjek X = Nilai pembanding

Y = Nilai dari instrumen yang akan dicari validitasnya

(16)

2.6.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan guna mengetahui konsistensi alat ukur, apakah alat pengukur yang digunakan bisa diandalkan serta tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Metode uji reliabilitas yang sering digunakan ialah Cronbach’s Alpha. Metode ini sangat cocok digunakan pada skor berbentuk skala (contoh 1-4, 1-5) atau skor rentangan (misal 0-10, 0-30). Penentuan apakah instrumen reliabel atau tidak, bisa digunakan batasan tertentu seperti 0,6. Reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima dan di atas 0,8 adalah baik.

Rumus dari uji reliabiltas adalah sebagai berikut:

𝑟11= 𝑘

𝑘−1= 1 − ∑ 𝑆𝑖2

𝑆𝑡2 (2.5)

Keterangan

𝑟11 = Koefisien reliabilitas k = Jumlah butir pertanyaan

∑ 𝑆𝑖2 = Jumlah varian butir 𝑆𝑡2 = Jumlah varian total

2.7 Penelitian Terdahulu

Berikut adalah rangkuman hasil penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penelitian yang telah dilakukan:

Tabel 2.6 Penelitian Terdahulu

Nama Judul Hasil Penelitian

(Amriani, 2012)

Analisa Risiko Teknologi Informasi

Berbasis ISO

31000/31010 Studi Kasus: Lembaga Penelitian Perguruan Tinggi

Penelitian ini menggunakan standar internasional yaitu ISO 31000 dan ISO 31010 sebagai kerangka kerja guna mengidentifikasi serta menganalisis risiko bahaya yang ada di perguruan tinggi. Hasil dari penelitian ini ialah kerusakan infrastruktur teknologi informasi yang telah dibagi dalam 3 hal yaitu tindakan alam seperti gempa bumi dan banjir, gangguan listrik seperti fluktuasi listrik, serta kerusakan

(17)

telekomunikasi contohnya kerusakan teknis.

(Arumsari, 2017)

Pengembangan Checlist Penilaian Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dan Kesiapan Mitigasi Bahaya Pada Perguruan Tinggi

Penelitian yang dilakukan menggunakan Tabel Implementasi K3 Kecelakaan (Tabel TIK) dibeberapa gedung di ITS, yang terdiri dari 4 level, yaitu aman, waspada, rawan, dan bahaya.

Gedung yang telah peneliti gunakan sebagai subjek yaitu gedung rektorat ITS, gedung perpustakaan ITS, gedung KPA ITS, gedung departemen teknik industri ITS.

Hasil penelitian pada gedung Perpustakaan, KPA dan Departemen Kimia termasuk level waspada, dengan skor tingkat 2. Rekomendasi yang diberikan berupa perencanaan dari tindakan mitigasi risiko di ITS Surabaya.

(Abidin dan Ramadhan, 2019)

Penerapan JSA, Pengetahuan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Kejadian Kecelakaan Kerja di Laboratorium Perguruan Tinggi

Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Job Safety Analysis (JSA) serta meningkatkan suatu pengetahuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Data hasil penelitian ini mahasiswa yang akan melakukan praktikum di laboratorium diwajibkan untuk mengisi form JSA yang telah disediakan oleh pengelola lab, namun masih banyak mahasiswa yang tidak disiplin dalam pelaksanaannya seperti halnya hanya menerapkan dan mengisi JSA hanya untuk melaksanakan administratif saja, tidak dengan sungguh-sungguh sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja.

(Rifani et al, 2019)

Penerapan K3

Konstruksi dengan Menggunakan Metode

HIRARC pada

Pekerjaan Akses Jalan Masuk (Studi Kasus: Jl.

Prof. DR. H. Hadari Nawawi

Dalam penelitian dikaji tentang implementasi K3 pada bidang konstruksi proyek dengan

menggunakan Hazard

Identification, Risk Assessment &

Risk Control. Risiko tertinggi bagi pekerja dengan nilai 15,10.

Sedangkan risiko tertinggi bagi non

(18)

11,18. Berdasarkan analisis, alternatif pengendalian risikonya dibuat sebagai berikut:

mempersiapkan petugas keamanan, penghalang keselamatan, penghalang jalan, kerucut lalu lintas, rambu pemasangan, pemberian APD (Alat Pelindung Diri) bagi pekerja, memberikan penyuluhan kepada para pekerja agar selalu waspada, menyediakan penerangan yang cukup, menyediakan fasilitas khusus lokasi parkir kendaraan berat, menyediakan petugas/pengawas keamanan, serta membersihkan material yang masuk ke area jalan secara berkala.

(Putri dan Trifiananto, 2019)

Analisa Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC) pada Perguruan Tinggi yang Berlokasi di Pabrik

Penelitian ini menggunakan identifikasi potensi bahaya, serta penilaian risiko bahaya hingga memberikan masukan pengendalian bahaya yang tepat. Hasil risk assessment menyatakan 2% low risk, 87% medium risk, dan 11%

high risk dengan potensi yang akan terjadi berupa 23% iritasi mata, 20%

gangguan pernafasan dan 20%

memar pada anggota tubuh. Oleh karenanya risk control yang diberikan ialah dengan melakukan engineering control pada mesin dan proses manufaktur semen hingga memberlakukan sanksi pada pekerja atau Mahasiswa(i) yang tidak menggunakan APD lengkap untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

(Triswandana dan Armaeni, 2020)

Penilaian Risiko K3 Kontruksi dengan Metode HIRARC

Dalam Penelitian ini menggunakan risk assessment K3 metode HIRARC yang bertujuan untuk mengetahui potensi nilai bahaya pekerjaan konstruksi. Hasil analisis menerangkan besarnya peringkat pekerjaan risiko tinggi dari masing

(19)

pekerjaan struktur sebesar 30%, pekerjaan atap sebesar 31%, pekerjaan finishing sebesar 25%, pekerjaan elektrical dan plumbing sebesar 12%. Sedangkan dari total 65 risiko yang teridentifikasi, diketahui bahwa sebesar 25% risiko memiliki peringkat tinggi, 43%

memiliki peringkat sedang, dan 32%

memiliki peringkat rendah.

Referensi

Dokumen terkait

Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara

Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1951 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1951 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 224, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 224, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 224, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Kestuan Republik Indonesia; Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia