27 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan
DDL adalah salah satu faktor yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan atau pembangunan daerah, yang diamanatkan dalam UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 Mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup. Daya dukung dan daya tampung lingkungan juga menjadi faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan dan evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) (Wirosoedarmo dkk., 2011).Hal tersebut termaktub dalam Pasal 19, Pasal 22, Pasal 25. Dalam melakukan penyusunan berbagai RTRW maka dilihat dengan berbagai aspek dari daya dukung serta daya tampung pada lingkungan. Berdasarkan UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, daya tampung tersebut diartikan sebagai kemampuan dalam melakukan pendukungan terhadap semua aspek kehidupan dan menyeimbangkan makhluk hidup pada lingkungan yang kemampuan dalam lahan serta lingkungan merupakan kemampuan lingkungan fisik dalam melakukan penyerapan terhadap semua yang masuk pada lingkungan fisik. Berdasarkan pedoman penentuan daya tampung (DTL) dan daya dukung lingkungan (DDL) (2014), pertambahan penduduk berdampak pada kemajuan pembangunan dengan pemenuhan kebutuhan manusia, hal ini menyebabkan penurunan kualitas sumber daya bumi karena peningkatan hal-hal ini oleh manusia.
(Widiastuti dkk., 2016) menyebutkan hal yang senada, bahwa bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan kebutuhan akan lahan yang berfungsi sebagai tempat tinggal, hal ini menjadi salah satu penyebab berkurangnya terhadap DDL.
Selain itu, pedoman penentuan DDL dan DTL (2014) menyebutkan dengan tingginya angka penduduk, maka angka lahan juga akan semakin sedikit, yang dilakukan karena meningkatnya kebutuhan akan populasi. berbeda dengan ketersediaan sumberdaya lahan yang ada.
Dengan pandangan lain bahwa DDL terbatas dan tidak akan bertambah, sedangkan ketersediaan DDL akan berbanding lurus dengan jumlah penduduk, yaitu bila jumlah produk bertambah, lalu daya dukung semakin tersedia serta DTL akan semakin minim yang disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk(Imansyah dkk., 2020).
Untuk mengetahui DDL dan DTL, salah satu metode yang dapat digunakan adalah perhitungan kemampuan lahan. Dari perhitungan tersebut dapat dikembangkan suatu rencana penggunaan lahan sesuai dengan potensi dan kemampuannya (Sharififar dkk., 2013) dalam (Widiatmaka dkk., 2015). SKL merupakan kombinasi dari sembilan analisis kemampuan lahan. Kesembilan SKL ini akan digabungkan menggunakan metode overlay menggunakan alat yaitu GIS, dan membuat peta SKL, yang memiliki lima kelas atas kemampuan lahannya, yaitu kelas a yang berarti kemampuan lahan sangat rendah, dan kelas e atau potensi pengembangan besar di lahan tersebut. SKL yang sudah didapat. Setelah nya dipakai untuk memperoleh DDL dan DTL, untuk menentukan DDL dan DTL, prinsip dasarnya adalah menghitung menurut arahan rasio tutupan lahan atau permukaan untuk tetap terbuka atau mempertahankan dan dilestarikan (Mock, 1973) dalam (Ridha dkk., 2016) dan (Wirawan dkk., 2019).
2.2 Satuan Kemampuan Lahan
Menurut Arsyad, (2010) Kemampuan lahan didefinisikan sebagai penilaian terhadap suatu penggunaan lahan dengan metode tertentu yaitu dengan cara penilaian yang dilihat dari masing masing faktor yang akan menghambat atau faktor faktor yang mempengaruhi lahan tersebut sedangkan menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Dalam Penataan Ruang Wilayah adalah kemampuan lahan merupakan suatu karakteristik yang mencakup sifat-sifat dari lahan tersebut seperti klimatologi, morfologi, sifat tanah,drainase, berserta dengan keadaan lingkungan hidup yang memiliki fungsi dalam menyokong kehidupan ataupun aktivitas lahan. Jadi SKL merupakan satuan penilaian terhadap suatu lahan dengan cara melihat dan menilai dari faktor-faktor yang mempengaruhi ataupun menghambat seperti yang disebutkan tadi
yaitu seperti morfologi, topografi, klimatologi dan kondisi fisik lingkungan lainnya yang dapat mempengaruhi penunjang kemampuan kehidupan di atas lahan tersebut(Widiatmaka, 2011).
Permen PU Nomor 20/PRT/M.2007 tentang Pedoman Teknis Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi dan Sosial Budaya dalam Penyusunan Penataan Ruang, menyebutkan terhadap analisis yang dikerjakan dalam mendapatkan data seberapa besar lahan bisa mendukung dalam memanfaatkan pemakaian lahan. Luaran dari analisis tersebut adalah peta kelas yang menggambarkan tingkat kemampuan lahan dalam kawasan perencanaan. Peta tersebut terdiri dari zona pengembangan, zona penyangga, dan kawasan lindung. Melalui peta ini, dapat diketahui dengan jelas tingkat kapasitas lahan di setiap zona dan kawasan tersebut. Peta kelas ini memberikan informasi yang berguna bagi perencanaan pengembangan kawasan dan pengelolaan lahan yang lebih baik. Tujuan analisis kapasitas lahan adalah untuk mengevaluasi kemampuan lahan berdasarkan aspek fisik dasar dalam wilayah studi untuk mendukung perencanaan pembangunan kota. Didasari pada Permen PU No 20. Tahun 2007 tentang Pedoman Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang, menyebutkan terdapat beberapa SKL yaitu:
1. Satuan Kemampuan Lahan Morfologi
Analisis satuan ini digunakan dalam mendapatkan morfologi dan bentuk dari bentang alam itu sendiri seperti jika alam itu memiliki bentuk morfologi yang terdiri dari pegunungan atau bergelombang maka akan sulit untuk mengembangkan wilayahnya dan sebaliknya jika memiliki kawasan datar atau rendah maka akan mudah untuk dikembangkan dengan bahan shp dan bobot nilai seperti yang bisa dilihat pada tabel berikut yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
2. Satuan Kemampuan Lahan Kemudahan Dikerjakan
Analisis satuan ini digunakan dalam mendapatkan kemudahan pada sebuah kawasan untuk dilakukan penggalian serta dimudahkan dalam proyek pekerjaan
bahan shp dan bobot nilai seperti yang bisa dilihat pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
3. Satuan Kemampuan Lahan kestabilan lereng
Analisis satuan ini digunakan dalam mendapatkan kestabilan pada sebuah wilayah yang ditinjau dari bagaimana tingkat kemiringan pada lereng kawasan yang dioperasikan melalui penggabungan data dari peta topografi, kelerengan, dan morfologi, dengan bobot nilai agar dapat diklasifikasikan seperti yang bisa dilihat pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
4. Satuan Kemampuan Lahan kestabilan pondasi
Analisis satuan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan di Kecamatan Kemiling dalam mendukung sarana dan prasarana. Analisis ini memiliki kesamaan dengan analisis Satuan Kemampuan Lahan SKL kestabilan lereng dalam hal bobot nilai yang digunakan, dapat dilihat pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
5. Satuan Kemampuan Lahan Ketersediaan Air
Analisis satuan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan lahan dalam mendukung ketersediaan air, yang sangat penting sebagai sumber pasokan air bersih, terutama saat kemarau panjang dimana air permukaan terbatas. Analisis ini mengacu pada Permen PU No 20 Tahun 2007 yang memberikan bobot nilai untuk menilai kemampuan lahan terkait ketersediaan air.
6. Satuan Kemampuan Lahan Drainase
Analisis satuan ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan lahan dalam mengalirkan air hujan secara alami di Kecamatan Kemiling. Tujuan analisis ini adalah untuk menghindari genangan air baik secara lokal maupun luas. Untuk melakukan analisis ini, diperlukan data seperti peta topografi, peta kemiringan lereng, dan peta curah hujan sebagai masukan dalam mengidentifikasi kemampuan lahan terkait drainase, dengan bobot nilai yang dapat dilihat pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
7. Satuan Kemampuan Lahan Terhadap Erosi
Analisis satuan ini dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui tingkat keterkikisan tanah di suatu wilayah. Melalui analisis ini, dapat diketahui sejauh mana lahan tersebut tahan terhadap erosi, menetapkan batasan pada setiap tingkatan kemampuan terhadap erosi, mengidentifikasi daerah yang rentan terhadap erosi, serta memperkirakan tingkat pengendapan hasil erosi yang mungkin terjadi. Untuk menghasilkan SKL terhadap erosi, beberapa peta penting harus dimasukkan, seperti peta curah hujan, peta jenis tanah, peta morfologi, dan peta kemiringan. Keempat peta tersebut kemudian digabungkan dan diberi bobot nilai agar dapat diklasifikasikan secara lebih terperinci, seperti pada tabel yang ada pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
8. Satuan Kemampuan Lahan Pembuangan Limbah
Analisis satuan ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan daerah yang memiliki kemampuan untuk dijadikan lokasi penampungan akhir dan pengolahan limbah, baik limbah padat maupun limbah cair. Melalui analisis ini, kita dapat mengidentifikasi wilayah yang dapat menampung limbah dengan aman dan efektif. Untuk menghasilkan SKL terhadap pembuangan limbah, beberapa peta penting harus dimasukkan, seperti peta ketinggian, peta kemiringan, peta curah hujan, dan peta guna lahan. Keempat peta tersebut kemudian digabungkan dan diberi bobot nilai untuk mengklasifikasikan lahan berdasarkan kemampuannya dalam menangani limbah secara efisien dan berkelanjutan, seperti pada tabel yang mengacu pada Permen Pu No 20 Tahun 2007.
9. Satuan Kemampuan Lahan Bencana Alam
Analisis satuan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi kemampuan suatu lahan dalam menghadapi bencana alam. Hal ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan lahan terhadap bencana alam, terutama dari sudut pandang geologi, dan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan serta melindungi korban bencana. Dalam analisis SKL terhadap bencana alam, beberapa peta penting yang harus dimasukkan adalah peta gempa bumi dan peta pergerakan tanah. Data-data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi area-area yang rentan terhadap bencana alam dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang sesuai.
Setelah di buat seluruh 9 SKL diatas maka untuk selanjutnya akan dikalikan terhadap nilai yang didapatkan pada dengan bobot yang terdapat dalam SKL, hasil total skor akan dipakai dalam penentuan kemampuan kelas lahan, bersamaan dengan klasifikasi mengembangkannya. Penentuan kelas dalam kemampuan lahan maupun pengembangan klasifikasinya.
2.3 Bencana Longsor
Didasari pada Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007, istilah bencana dimaknai sebagai peristiwa yang didalamnya memiliki aspek ancaman yang mengganggu kehidupan yang ada pada masyarakat dan diakibatkan oleh aspek alam maupun non alam, serta faktor manusia yang menyebabkan lahirnya korban jiwa manusia, rusaknya lingkungan, ruginya harta benda, serta dampak yang bersifat psikologis. Dalam konteks bencana, dapat dibedakan antara dua jenis bencana, yaitu bencana alam yang terjadi secara alami dan bencana buatan manusia yang disebabkan oleh tindakan manusia.
Ketika terjadi bencana, komunitas masyarakat yang terkena atau terpengaruh harus mengambil tindakan yang di luar kebiasaan untuk merespons kejadian tersebut (Carter, 2008). Penyebab bencana yang disebabkan oleh alam akan menghasilkan berbagai bencana seperti banjir maupun tsunami dan lainnya, sedangkan bencana yang disebabkan oleh aspek manusia misalnya gagalnya teknologi, bencana biologis dan lain sebagainya. Potensi dari bencana yang terjadi dapat disebabkan oleh faktor alam maupun ulah dari manusia itu sendiri yang menyebabkan bencana itu terjadi (Badan Nasional Penanggulangan Bencana.), namun kejadian bencana sendiri tidak bisa diprediksi kapan waktu bencana akan terjadi manusia hanya bisa melakukan penanggulan dari bencana yang akan terjadi.
Bencana yang sering terjadi di Indonesia adalah seperti bencana tanah longsor, tanah longsor menjadi bencana yang dilihat dari jenis gerakan pada massa tanah maupun bebatuan dari bebatuan serta massa tanah yang keluar dari lereng disebabkan dari adanya kestabilan tanah yang terganggu atau batuan batuan yang menyusun lereng
(Badan Nasional Penanggulangan Bencana,2020.). Secara umum, tanah longsor adalah fenomena di mana material yang membentuk lereng, seperti batuan, tanah, bahan rombakan, atau material lainnya, bergerak ke arah bawah atau keluar dari lereng. Hal ini dapat mengakibatkan jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah dari bagian atas menuju tanah yang lebih rendah, yang dapat menimbulkan bahaya atau risiko (Nandi, 2007).
Pada umumnya bahwa tanah longsor terjadi pada daerah yang terjal serta tidak stabil. Aspek yang berimplikasi pada bencana longsor yakni seperti kegundulan lereng, gerakan tanah, keadaan tanah serta bebatuan yang kondisinya rapuh, dan air hujan menjadi pemicu utama dalam bencana tanah longsor (Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Menara Ilmu Teknik Geodesi, 2019). Ulah manusia juga bisa menyebabkan tanah longsor misalnya penambangan tanah maupun batu menjadi tidak terkendali. Parameter yang dilihat dalam melakukan penghitungan indeks bahaya terhadap tanah longsor yakni diatas 15% untuk kemiringan lereng, arah lereng, maupun panjang lereng, dan berbagai aspek alam lainnya di wilayah lereng (BPBD Kota Bandar Lampung, 2016).
2.4 Kerentanan
Berdasarkan BNPB Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana menyebutkan kerentanan sebagai keadaan dari komunitas yang arahnya mengakibatkan tingkat ketidakmampuan untuk menghadapi berbagai ancaman serta menjadi aset yang ada serta terlihat pada kehidupan manusia. Dalam kerentanan terbagi atas empat yakni kerentanan sosial, fisik, ekonomi, serta ekologi serta ada indikator masing-masing pada setiap kerentanannya yang variatif ditinjau dari bencana yang terjadi pada wilayah tersebut.
Dalam (BPBD Kota Bandar Lampung, 2016), kerentanan dimaknai sebagai keadaan pada komunitas yang menyebabkan adanya ketidakmampuan untuk bersiap pada ancaman dari suatu bencana di wilayah hidup mereka. Kerentanan sendiri disusun
dengan menggunakan beberapa indeks yaitu indeks penduduk terpapar dan indeks kerugian. Indeks penduduk terpapar adalah indeks yang didapat melalui komponen sosial dan karakteristik masyarakat, sedangkan indeks kerugian adalah indeks yang didapatkan dari komponen ekonomi, fisik dan lingkungan sehingga kerentanan sendiri dibagi menjadi 4 kerentanan yaitu kerentanan sosial, fisik, ekonomi dan kerentanan lingkungan.
1. Kerentanan Fisik
Kerentanan fisik merujuk pada karakteristik fisik suatu wilayah atau sistem yang membuatnya lebih rentan terhadap dampak bencana. Analisis kerentanan fisik terhadap bencana dilakukan dengan menggunakan data jumlah bangunan rumah, fasilitas kritis, dan fasilitas umum seperti sekolah SD hingga SMA, sarana ekonomi seperti pasar, minimarket, dan toko. Fasilitas kritis mencakup puskesmas dan pusat kesehatan desa. Data-data ini dikumpulkan dan kemudian dilakukan proses skoring untuk menentukan tingkat kerentanan fisik terhadap bencana sesuai dengan Perka BNPB Nomor 02 Tahun 2012 untuk memperoleh atau mendapatkan nilai skor kerentanan fisik.
2. Kerentanan Sosial
Kerentanan sosial merujuk pada tingkat ketidakmampuan atau ketidaksiapan suatu komunitas atau masyarakat dalam menghadapi atau merespons dampak bencana. Analisis kerentanan sosial melibatkan penggunaan data kepadatan penduduk dan indeks penduduk terpapar. Indeks tersebut mencakup data rasio jenis kelamin, rasio penduduk keluarga miskin, rasio penduduk penyandang cacat, dan rasio kelompok umur rentan. Data yang diperlukan dikumpulkan dan kemudian diberikan skor sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 02 Tahun 2012 untuk mendapatkan nilai skor kerentanan sosial.
3. Kerentanan Ekonomi
Kerentanan ekonomi mencerminkan tingkat ketidakmampuan atau ketidaksiapan suatu wilayah atau masyarakat dalam menghadapi atau merespons dampak bencana secara ekonomi. Analisis kerentanan ekonomi melibatkan penggunaan
data lahan produktif dan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kelurahan.
Lahan produktif merujuk pada lahan yang digunakan untuk berbagai kegiatan ekonomi, seperti sawah, hutan, kebun, pertambangan, dan sebagainya. Data-data yang diperlukan dikumpulkan menjadi satu dan kemudian dilakukan proses sesuai dengan Perka BNPB Nomor 02 Tahun 2012 untuk memperoleh atau mendapatkan nilai skor kerentanan ekonomi. Lalu untuk perhitungan PDRB dan Nilai Lahan produktif yang menggunakan ruang lingkup yang kecil seperti kelurahan juga sudah di beri caranya oleh BNPB melalui website resmi mereka.
4. Kerentanan Lingkungan
Kerentanan lingkungan mengacu pada tingkat ketidakmampuan atau ketidaksiapan suatu wilayah atau sistem dalam menghadapi atau merespons dampak bencana terkait lingkungan. Analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat dari kerentanan lingkungan yang ada di suatu daerah dengan memakai beberapa data seperti data tutupan lahan, yaitu data luas hutan lindung, data luas hutan alam, hutan bakau atau mangrove luas rawa dan yang terakhir luas semak belukar, data-data tersebut dikumpulkan menjadi satu lalu dilakukannya skoring sesuai dengan Perka BNPB Nomor 02 Tahun 2012 untuk memperoleh atau mendapatkan nilai skor kerentanan ekonomi.
2.5 Sintesa Variabel
TABEL II. 1 TABEL SINTESA VARIABEL
No Sasaran Variabel Data Justifikasi Sumber
1
Kemampuan Lahan
SKL Morfologi
1) SHP Morfologi 2) Peta/SHP Kemiringan Lereng
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) morfologi
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Kemudahan Dikerjakan
1) SHP Topografi 2) SHP Morfologi
3) SHP Kemiringan Lereng 4) SHP Jenis Tanah 5) Peta/SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) kemudahan dikerjakan
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Kestabilan Lereng
1) SHP Morfologi
2) SHP Kemiringan Lereng 3) SHP Topografi
4) SHP Jenis Tanah 5) SHP Air Tanah Dangkal 6) SHP Curah Hujan 7) SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan lereng
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Kestabilan Pondasi
1) SHP SKL Kestabilan Lereng
2) SHP Jenis Tanah 3) SHP Air Tanah Dangkal 4) SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) kestabilan pondasi
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL
Ketersediaan Air
1) SHP Morfologi
2) SHP Kemiringan Lereng 3) SHP Jenis Tanah 4) SHP Curah Hujan 5) SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) ketersediaan air
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Untuk Drainase
1) SHP Morfologi
2) SHP Kemiringan Lereng 3) SHP Topografi
4) SHP Jenis Tanah 5) SHP Curah Hujan SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) drainase
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
No Sasaran Variabel Data Justifikasi Sumber
SKL Terhadap Erosi
1) SHP Morfologi
2) SHP Kemiringan Lereng 3) SHP Curah Hujan 4) SHP Jenis Tanah SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) erosi
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Pembuangan Limbah
1) SHP Morfologi
2) SHP Kemiringan Lereng 3) SHP Topografi
4) SHP Jenis Tanah 5) SHP Curah Hujan 6) SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) pembuangan limbah
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
SKL Terhadap Bencana Alam
1) SHP Morfologi 2) Peta/SHP Kemiringan Lereng
3) SHP Topografi 4) SHP Jenis Tanah 5) SHP Curah Hujan 6) SHP Penggunaan Lahan
Data akan digunakan untuk membuat kemampuan lahan yaitu satuan kemampuan lahan (SKL) terhadap bencana alam
1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007
2 Kerentanan tanah longsor
Kerentanan Sosial
1) Kepadatan Penduduk (60%)
2) Rasio Jenis Kelamin (10%) 3) Rasio Kemiskinan (10%) 4) Rasio Orang Cacat (10%) 7) Kelompok Umur (10%)
Data data ini akan dipakai untuk membuat tingkat dari kerentanan sosial dan menjadi data yang akan menunjukan tingkat kerentanan tanah longsor di Kecamatan Kemiling
1) Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
Kerentanan Ekonomi
1) Lahan Produktif (60%) 2) PDRB (40%)
Data data ini akan dipakai untuk membuat tingkat dari kerentanan ekonomi dan menjadi data yang akan menunjukan tingkat kerentanan tanah longsor di Kecamatan Kemiling
1) Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
Kerentanan Fisik
1) Rumah (40%)
2) Fasilitas Umum (30%) 3) Fasilitas Kritis (30%)
Data data ini akan dipakai untuk membuat tingkat dari kerentanan fisik dan menjadi data yang akan menunjukan tingkat kerentanan tanah longsor di Kecamatan Kemiling
1) Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
No Sasaran Variabel Data Justifikasi Sumber
Kerentanan Lingkungan
1) Hutan Lindung (30%) 2) Hutan Alam (30%) 3) Hutan Bakau/Mangrove (10%) Semak Belukar (10%) 3) Rawa (20%)
Data data ini akan dipakai untuk membuat tingkat dari kerentanan lingkungan dan menjadi data yang akan menunjukan tingkat kerentanan tanah longsor
1) Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana
Sumber: Analisis Peneliti, 2022