BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian mengenai Body Image ini dibahas secara deskriptif yaitu penelitian yang memberikan gambaran yang lebih detail mengenai suatu gejala atau atau fenomena. Penelitian deskriptif suatu penelitian kuantitatif dengan menggunakan pertanyaan terstruktur/sistematis yang sama kepada banyak orang, untuk kemudian seluruh jawaban yang diperoleh peneliti catat, diolah, dan dianalisis (Bambang dan Lina 2005:143).
Menurut Sugiyono (2005: 21) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas.
3.2 Variabel Penelitian
3.2.1 Identifikasi Variabel
Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Body Image pada wanita dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di kota Bandung.
3.2.2 Definisi Operasional Variabel
Dalam rangka pengukuran variabel penelitian maka perlu dilakukan penguraian definisi konseptual menjadi definisi operasional.
Penguraian ini dilakukan untuk memudahkan dalam pembuatan alat ukur variabel penelitian. Definisi operasional dari variabel yang akan diukur antara lain :
a. Definisi Operasional
Body image wanita dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial. Wanita yang melihat-lihat foto yang ada di media sosial seperti artis idola, teman sebaya, dan orang asing. Kemudian membandingkan tubuhnya dengan tubuh yang ada di media sosial tersebut sehingga memunculkan penilaian yang positif maupun yang negatif atas tubuhnya sendiri.
(a) Appearance Evaluation (Evaluasi penampilan), yaitu wanita yang mengevaluasi penampilannya apakah sudah menarik atau tidak menarik atau memuaskan atau tidak memuaskan dengan membandingkan tubuhnya lalu menanyakan pada temannya apakah tubuhnya sudah se-ideal seperti yang ada di media atau belum.Hasil yang tinggi pada aspek ini merupakan penilaian body image yang positif dan hasil yang rendah pada aspek ini merupakan penilaian body image yang negatif. Wanita yang memiliki body image positif akan menerima respon apapun dari orang yang dimintai pendapatnya. Namun bagi wanita yang memiliki body image negatif akan langsung mengecek ulang apakah tubuhnya benar-benar
(b) Appearance Orientation (Orientasi penampilan), yaitu wanita yang memperhatikan penampilannya serta berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya dengan cara melakukan diet,menggunakan obat-obatan, berolahraga, atau melakukan hal lainnya.Hasil yang tinggi pada aspek ini memiliki penilaian body image yang postif dan hasil yang rendah memiliki penilaian yang negatif pada aspek ini. Wanita dengan body image positif akan meningkakan penampilannya sesuai dengan kebutuhannya misalnya menurunkan berat badan karena untuk kesehatan bukan untuk penampilan yang menarik semata. Sedangkan wanita dengan body image yang negatif akan melakukan berbagai cara untuk membuat penampilan yang menarik tanpa mempertimbangakn kesehatan yang baik.
(c) Body Area Satisfaction (Kepuasan terhadap bagian tubuh), yaitu wanita yang mengukur bagian tubuh yang lebih spesifik seperti wajah, rambut, lengan, perut, payudara dan bagian tubuh lainnya yang dirasa kurang serta penampilan keseluruhannya.Hasil yang tinggi pada aspek ini memiliki penilaian yang sebaliknya yaitu body image yang rendah dan hasil yang rendah memiliki penilaian body image yang positif.
Wanita dengan body image positif akan memperbaiki bagian tubuhnya yang dirasa kurang karena adanya kebutuhan misalnya akibat kecelakaan dsb. Sedangkan wanita dengan body image negatif akan memperbaiki
penampilannya karena untuk memenuhi keinginannya agar tampil menarik seperti bagian tubuh yang dioperasi dsb.
(d) Overweight Preocupation (Kecemasan menjadi gemuk), yaitu kecemasan wanita akan berat badan yang semakin bertambah berat, kewaspadaan akan berat badan, dan usaha yang dilakukan untuk menjaga atau mengurangi berat badan seperti diet dll.Hasil yang tinggi pada aspek ini memiliki penilaian body image yang negatif dan hasil yang rendah memiliki penilaian body image yang positif. Wanita dengan body image positif akan menjaga berat badannya dengan olahraga yang teratur dan menjaga pola makan demi kesehatan. Namun pada wanita yang memiliki body image negatif akan lebih cenderung melakukan diet ketat atau olahraga ketat untuk menjaga penampilanya atau untuk menurunkan berat badannya.
(e) Self-Classified Weight (Pengkategorian ukuran tubuh), wanita mempersepsi dan menilai berat badannya, dari sangat kurus sampai sangat gemuk.Hasil yang tinggi pada aspek ini memiliki penilaian body image yang negatif dan hasil yang rendah dalam aspek ini memiliki penilaian body image yang positif. Wanita dengan body image positif akan mengklasifikasikan tubuhnya sesuai dengan kenyataannya. Namun pada wanita dengan body image yang negatif akan mengklasifikasikan dirinya dari yang gemuk hingga yang kurus.
3.3 Alat Ukur
3.3.1 Kisi – kisi Alat Ukur
Alat ukur Body Image yang digunakan adalah Multidimensional Body Self Relation Questionnaire-Appearance Scales (MBSRQ-AS) yang dikemukakan oleh Cash.Alat ukur ini terdiri dari 69 item dan terdiridari 5 subskala. Pengukuran gambaran tubuh dalam penelitian ini menggunakan dimensi-dimensi pada alat ukur yang dikemukakan oleh Cash (www.body-image.com/assessments/).
Cash (2004) mengemukakan pendapatnya dengan menyebutkan bahwa ada lima dimensi citra tubuh (body image) :
a. Appearance Evaluation (Evaluasi penampilan), yaitu mengukur evaluasi dari penampilan dan keseluruhan tubuh, apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan dan tidak memuaskan.
b. Appearance Orientation (Orientasi penampilan), yaitu perhatian individu terhadap penampilan dirinya dan usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya
c. Body Area Satisfaction (Kepuasan terhadap bagian tubuh), yaitu mengukur kepuasan individu terhadap bagian tubuh secara spesifik, seperti wajah, rambut, tubuh bagian bawah (pantat, paha, pinggul, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tubuh bagian atas (dada, bahu, lengan), dan penampilan secara keseluruhan.
d. Overweight Preocupation (Kecemasan menjadi gemuk), yaitu mengukur kecemasan terhadap kegemukan, kewaspadan individu terhadap
berat badan, kecenderungan melakukan diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan.
e. Self-Classified Weight (Pengkategorian ukuran tubuh), yaitu mengukur bagaimana individu mempersepsi dan menilai berat badannya, dari sangat kurus sampai sangat gemuk.
Multidimesional Body Self Relations Questionnaire-Appereance Scales (MBSRQ-AS) yang dikembangkan oleh Cash (2000). Alat ukur ini dipakai untuk mengukur citra tubuh remaja dan orang dewasa (usia 15 tahun keatas). Alat ini dapat mengukur sikap terhadap citra tubuh secara menyeluruh yang meliputi komponen kognitif, tingkah laku dan afeksi.
Table 3.3.1 Kisi-kisi Alat Ukur Body Image
No Aspek Indikator No Item Jumlah
1 Appereance Evaluation
Wanita dewasa awal yang mengevaluasi penampilannya.
1,3,5,6,7,8,11,12 ,13,14,18,21,25, 27,28,30,31,33,3 4,36,37,38,40,42 ,46,47,48,54,55
29
2 Appereance Orientation
Wanita dewasa awal yang melakukan suatu tindakan untuk memperbaiki penampilannya.
2,4,9,15,16,17, 19,22,23,24,26,2 9,32,35,39, 41,43,44,45,49, 50,51,
52,53,56
25
3 Body Area Satisfaction
Wanita dewasa awal memiliki kepuasan terhadap bagian tubuhnya yang spesifik
61,62,63,64,65,6 6,67,68,69
9
maupun tubuh secara keseluruhan 4 Overweight
Pre-
occupation
Wanita dewasa awal merasa cemas akan bertambahnya berat badan.
10,20,57,58 4
5 Self- Clasifield Weight
Wanita dewasa awal
mengkategorikan tubuhnya dari yang sangat kurus sampai sangat gemuk.
59,60 2
Untuk mengukur variabel body image, dalam penelitian ini akan digunakan alat pengumpulan data berbentuk Skala Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu fenomena. Dalam penelitian, fenomena ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian (Sugiyono, 2012:93).
Dengan Skala Likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. (Sugiyono, 2012:93).
Alat ukur ini dikonstruksikan oleh peneliti berdasarkan definisi operasionalbody image itu sendiri dengan aspek-aspeknya yang diturunkan menjadi indikator-indikator. Skala ini disajikan dalam bentuk pernyataan dengan lima alternatif jawaban yang terdiri dari : “Sangat Tidak Setuju
(STS)”, “Tidak Setuju (TS)”, “Kurang Setuju (KS)”, “Setuju (S)” dan
“Sangat Setuju (SS)”. Subjek penelitian (wanita usia dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial) diminta kesesuaian dan ketidaksesuaian dirinya dengan pernyataan yang ada pada skala ini dengan memberikan nilai berupa angka dari 1 sampai 5 di setiap pernyataan yang sudah tersedia. Setiap aspek diuraikan ke dalam item-item pernyataan yang mengungkap body imagepada wanita usia dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di kota Bandung. Skala disajikan dalam bentuk favourable (respon positif) dan unfavourable (respon negatif). Ada beberapa aspek yang memiliki item favourable dan item unfavourable (aspek Appereance Evaluation, dan Appereance Orientation) namun ada juga aspek yang tidak memilikinya (aspek Body Area Satisfaction, Overweight Pre-occupation, dan Self-Clasifield Weight)
Nilai setiap pilihan bergerak dari 1 sampai 5, bobot penilaian untuk pernyataan favorable, yaitu STS = 1, TS = 2, KS = 3, S = 4, SS = 5.
Sedangkan untuk bobot pernyataan unfavorable, penilaiannya adalah STS
= 5, TS = 4, KS = 3, S = 2, SS = 1
Tabel 3.3.2 Alternatif Jawaban Skor Alat Ukur Body Image
Jawaban Skor Item
Favorable
Skor Item Unfavorable
Sangat Tidak Setuju (STS) 1 5
Tidak Setuju (ST) 2 4
Kurang Setuju (KS) 3 3
Setuju (S) 4 2
Sangat Setuju (SS) 5 1
3.4 Uji Alat Ukur 3.4.1 Uji Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan kesahihan suatu instrumen. Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, mampu mengungkap dari variabel yang diteliti secara tepat (Suharsimi Arikunto, 2010:211). Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut memiliki ketepatan dalam melakukan pengukuran, atau dengan kata lain apakah alat ukur tersebut dapat benar-benar mengukur apa yang hendak diukur (Arikunto, 2009).
Instrumen yang valid adalah instrumen yang benar-benar dapat mengukur dan terkait dengan ketetapan variabel yang akan diukur. Uji validitas ini menggambarkan uji validitas konstrak (construct validity).
Bila alat ukur telah memiliki validitas konstrak berarti semua item yang ada di dalam alat ukur itu mengukur konsep yang ingin diukur (Hasanuddin Noor, 2009:160).Langkah-langkah pengujian validitas alat ukur adalah sebagai berikut :
1. Mendefinisikan konsep secara operasional 2. Melakukan uji coba alat ukur kepada 50 subjek
3. Menghitung validitas dengan menggunakan program SPSS 20.0 for windows dengan langkah-langkah :
a. Memasukkan data skor subjek
b. Klik variable view kemudian memilih analyze, correlate, bivariate
c. Memindahkan semua data dari kolom kiri ke kolom yang kanan dengan memilih koefisien korelasi spearman karena data tes yang diperoleh dari pengukuran ini berupa skala ordinal (Hasanuddin Noor, 2009:188)
d. Melihat item dengan menyatakan validitas yang dilihat dari kriteria (Friendenberg dan Kaplan, 1995) :
Bila rs > 0,3 maka item tersebut dikatakan valid Bila rs ≤ 0,3 maka item tersebut dikatakan tidak valid Setelah dilakukan analisis item pada alat ukur body image, maka diketahui bahwa dari total 69 item, terdapat 10 item yang tidak valid dan terdapat 59 item pada alat ukur body image ini dinyatakan valid, yang menandakan item tersebut dapat digunakan untuk mengukur body image.Hasil validitas alat ukur body imageterdapat dalam lampiran (Terlampir).
3.4.2 Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan, yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten. Reliabilitas untuk mengetahui sejauh mana alat ukur yang digunakan tersebut memiliki taraf ketelitian, kepercayaan, kekonstanan ataupun kestabilan (Arikunto, 1998).
Dalam penelitian ini, setelah melakukan uji validitas alat ukur dan mendapatkan item-item yang valid, maka selanjutnya dilakukan uji reliabilitas alat ukur. Metode analisis reliabilitas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode single administration, untuk menentukan koefisien reliabilitas dengan menggunakan SPSS versi 20.0. Teknik statistik yang digunakan adalah teknik belah dua (split half). Metode ini dilaksanakan melalui satu kali pengukuran terhadap sekelompok subjek, selanjutnya data hasil pengukuran dibelah dua atau dibagi menjadi dua kelompok item, dengan cara random atau pengelompokan item bernomor ganjil dengan nomor genap. Kedua kelompok data berupa skor kemudian dihitung koefisien korelasinya (Hasanuddin, 2009: 142).
Adapun kriteria dalam menetapkan derajat reliabilitas dapat digunakan berdasarkan kriteria hasil penelitian Guilford (Sugiyono, 2007), yaitu:
Tabel 3.4.2
Kriteria Reliabilitas Guilford
Angka Koefisien Derajat Korelasi
<0,20 Derajat reliabilitas hampir tidak ada
0,21 -0,40 Derajat reliabilitas rendah 0,41 - 0,70 Derajat reliabilitas sedang 0,71 - 0,90 Derajat reliabilitas tinggi 0,91 – 1,00 Derajat reliabilitas tinggi
sekali
Tabel 3.4.3 Hasil Perhitungan Reliabilitas Body Image
Cronbach's Alpha
Part 1 Value ,937
N of Items 30a
Part 2 Value ,939
N of Items 29b
Total N of Items 59
Correlation Between Forms ,990
Spearman-Brown Coefficient Equal Length ,995
Unequal Length ,995
Guttman Split-Half Coefficient ,995
Berdasarkan hasil pengujian alat ukur body image diperoleh nilai reliabilitas alat ukur body image sebesar 0.995 yang berarti alat ukur ini memiliki derajat reliabilitas tinggi sekali. Setelah diketahui bahwa alat ukur body image dikatakan reliable maka seluruh data yang valid pada alat ukur dapat digunakan dalam analisis selanjutnya dalam penelitian ini.
3.5 Populasi dan Sampel
Penelitian mengenai studi deskriptif mengenai body image pada wanita dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di Bandung ini dengan menggunakan teknik NonProbability sampling, yaitu teknik yang tidak memberikan peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Lebih tepatnya teknik yang digunakan adalahTeknik purposive sampling yaitu merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan memilih satuan sampel berdasaran ciri-ciri yang telah ditetapkan.
Dalam penelitian ini peneliti hanya memiliki waktu yang singkat untuk pengambilan data sehingga hanya dapat mendapatkan 50 sampel yang memiliki kriteria sampel yaitu wanita berusia dewasa awal yang memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Wanita dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial setiap harinya (aktif melihat atau melakukan interaksi di media sosial khususnya melihat foto orang-orang disekitarnya di twitter, facebook, instagram atau situs fashion online yang memiliki model dengan tubuh yang langsing, atau membaca tulisan mengenai tubuh yang ideal di situs pertemanan.
b. Wanita dewasa awal yang berusia 20-40 tahun
c. Wanita dewasa awal yang berada di kota Bandung.
Pada penelitian ini, peneliti mengkonstruksikan alat ukur berdasarkan teori Body Image menurut Thomas F Cash yang disesuaikan dengan body image pada wanita usia dewasa awal yang aktif dalam menggunakan media social di kota Bandung.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam mengolah data disini adalah untuk memperoleh gambaran body image pada wanita berusia dewasa awal yang aktif menggunakan media sosial di kota Bandung. Adapun cara menganalisis data yang diperoleh dengan menyajikan hasil sesuai dengan jumlahnya dan dilihat aspek mana yang memiliki body image positif atau negatif. Teknik analisis data digunakan dengan menggunakan prosedur
1. Tahap Persiapan
a. Memilih topik penelitian yang akan diteliti b. Menentukan variabel yang akan diteliti
c. Melakukan studi kepustakaan untuk mendapatkan gambaran dan landasan teoritis mengenai variabel yang akan diteliti.
d. Menentukan sampel dan populasi penelitian
e. Menyusun rancangan penelitian sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti.
f. Menentukan teknik pengambilan data
g. Menentukan alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian 2. Tahap Pengumpulan Data
a. Mencari data sampel penelitian sesuai dengan kriteria yang ditentukan
b. Mendatangi subjek penelitian untuk menjelaskan maksud penelitian dan meminta kesediaan untuk kerjasama dalam penelitian
c. Melakukan pengambilan data kepada subjek untuk mengisi alat ukur mengenai body image yaitu MBSRQ – AS.
3. Tahap Pengolahan Data
a. Mengumpulkan alat ukur yang telah diisi secara lengkap oleh subjek penelitian.
b. Melakukan skoring dari alat ukur MBSRQ-AS yang telah diisi oleh subjek.
c. Melakukan tabulasi dasa d. Mengolah data
4. Tahap Pembahasan
a. Mendeskripsikan hasil tes body image yang dimiliki subjek.
b. Menarik simpulan berdasarkan hasil analisis dan pembahasan
c. Melakukan analisis dan pembahasan hasil perhitungan statistik berdasarkan teori dan kerangka pikir yang melandasi penelitian ini.
5. Tahap Akhir
a. Menyususn laporan penelitian
b. Memperbaiki dan menyempurnakan laporan penelitian secara menyeluruh.