Namun berdasarkan observasi di lapangan, banyak bangunan yang didirikan di lokasi yang berjarak < 20 meter dari rel kereta api. Berdasarkan hasil observasi lapangan, jumlah bangunan liar di wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.7 di bawah ini. Berdasarkan tabel di atas, jumlah bangunan yang dianggap bangunan ilegal adalah bangunan yang melanggar batas sungai dan batas rel kereta api.
Untuk gambaran lebih rinci mengenai Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di wilayah penelitian, lihat Gambar 4.5 di bawah ini. Berdasarkan observasi, bangunan di wilayah penelitian didominasi oleh bangunan yang tidak mempunyai ruang terbuka hijau privat. Untuk lebih jelasnya tapak bangunan di wilayah penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.6 dibawah ini.
Berdasarkan foto di atas terlihat tidak ada jarak antar bangunan di kawasan Blok 1, khususnya yang berada di sepanjang aliran Sungai Ciloseh. Ada beberapa bangunan yang mempunyai jarak antar bangunan antara 1,5-2,5 meter seperti pada Gambar 4.8 di bawah ini. Di kawasan Blok 2, bangunan dengan jarak antar bangunan terletak di sepanjang Jalan Ahmad Yani dan Letkol Komir Kartaman.
Analisis Vitalitas Ekonomi
- Letak Strategis Kawasan
- Jarak ke Tempat Mata Pencaharian
- Fungsi Kawasan Sekitar
- Status Kepemilikan Tanah
Berdasarkan hasil wawancara dengan RT di wilayah penelitian, pertumbuhan penduduk di wilayah penelitian secara keseluruhan dapat dikatakan rendah, namun melihat banyaknya bangunan liar di Blok 1, maka pertumbuhan penduduk di wilayah Blok 1 adalah sebesar . laju pertumbuhannya sangat tinggi dibandingkan blok 2 dan blok 3. Selain itu jika dilihat dari letak wilayah studi yang berada di kawasan pusat kota maka dapat disimpulkan bahwa pentingnya wilayah studi bagi kawasan kota sangat strategis. . Berdasarkan hasil wawancara dengan RT setempat dan masyarakat sekitar wilayah penelitian, mayoritas warga di wilayah penelitian sehari-harinya berprofesi sebagai buruh yang bekerja di sekitar rumahnya.
10 dengan kriteria fungsi kawasan sekitar, bahwa setiap fungsi kawasan harus mempunyai sarana ibadah yang berfungsi memudahkan penghuninya dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Kriteria fungsi kawasan yang dimaksud adalah fungsi kawasan sekitar yang terdapat pada setiap blok wilayah kajian. Berdasarkan hasil survei kelembagaan dan observasi lapangan, fungsi kawasan sekitar Blok 1 didominasi oleh kawasan komersial dan residensial kategori tinggi.
Fungsi kawasan sekitar blok 2 merupakan kawasan perumahan kategori tinggi, sedangkan fungsi kawasan sekitar blok 3 merupakan kawasan perumahan kategori menengah dan komersial. Kaitannya ayat ini dengan dominasi status tanah adalah bahwa tanah-tanah di wilayah penelitian mempunyai status kepemilikan dan pemanfaatan yang berbeda-beda sesuai dengan yang telah ditentukan. Berdasarkan hasil wawancara dengan RT di berbagai wilayah penelitian, masyarakat yang memiliki sertifikat kepemilikan tanah didominasi oleh masyarakat yang tinggal di wilayah termasuk Desa Lengkongsari, khususnya yang bermukim di sepanjang Jalan Letkol Komir Kartaman (Blok 1).
Selain itu, hak kepemilikan tanah juga dimiliki oleh masyarakat yang berdomisili di sepanjang Jalan Kalangsari dan Moch Hatta (Blok 2), dan sebagian kecil dimiliki oleh masyarakat yang berdomisili di sepanjang Jalan Dokter Soekardjo dan Jalan Cimulu. Sementara itu, masyarakat yang tinggal di pedalaman permukiman umumnya tidak memiliki sertifikat kepemilikan tanah, terutama yang berada di sepanjang jalur kereta api dan sempadan sungai. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada blok 1 didominasi oleh masyarakat yang belum memiliki sertifikat tanah, pada blok 2 dan 3 didominasi oleh masyarakat yang memiliki sertifikat tanah.
Berdasarkan hasil wawancara baik dengan masyarakat maupun ketua RT, status kepemilikan tanah warga di wilayah studi khususnya di Blok 2 dan Blok 3 adalah 60% disewakan kepada perorangan dan 40% dimiliki oleh warga swasta. . Bagi masyarakat pemilik tanah pribadi, atau pemilik yang menyewakan tanahnya, maka status tanah tersebut adalah tanah yang sudah lama dimiliki atau dikuasai oleh keluarganya.
Analisis Kondisi Prasarana
- Kondisi Jalan
- Kondisi Air Bersih
- Kondisi Air Limbah
- Kondisi Persampahan
Berdasarkan hasil observasi lapangan, jaringan jalan yang ada di wilayah penelitian terdiri dari jalan kolektor sekunder dan jalan lokal. Kondisi jalan lokal primer di kawasan Blok 2 mengalami kerusakan berupa kondisi berlubang dan terendam banjir. Selain gang di kawasan Blok 2, terdapat jalan lingkungan berupa jalan setapak yang lebar ± 2 meter dan belum beraspal.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, drainase di kawasan Blok 1 terletak di sepanjang Jalan Dokter Soekardjo, Jalan Cimulu, dan Jalan Stasiun. Di kawasan Blok 2 terdapat jaringan drainase di sepanjang Jalan Letkol Komir Kartaman, Jalan Ahmad Yani dan pada jalan akses lingkungan dalam kawasan perumahan Blok 2. Di kawasan Blok 3 terdapat jaringan drainase di sepanjang Jalan Moch Hatta, Jalan Kalangsari dan pada akses jalan lingkungan yang terletak di
Berdasarkan hasil observasi lapangan di kawasan Blok 1, sumber air bersih masyarakat masih didominasi sumber air bersih yang berasal dari sumur buatan. Selain itu, tidak semua masyarakat di kawasan Blok 1 memiliki sumur buatan sehingga masyarakat sering bergantian memanfaatkannya. Seperti halnya di blok 1, masyarakat di blok 2 memanfaatkan sumber air bersih berupa sumur buatan.
Namun di kawasan blok 2, penggunaan sumber air bersih lebih banyak berasal dari mata air alami. Dengan kondisi seperti gambar diatas maka dapat disimpulkan pelayanan air bersih di kawasan blok 2 hanya terpenuhi sekitar 25%. Sedangkan di kawasan blok 3, sumber air bersih banyak berasal dari sumur buatan, sama seperti di blok 1, dan sebagian masyarakat di sepanjang jalan utama sudah menggunakan PDAM.
Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di wilayah yang diteliti, penumpukan sampah, terutama di kawasan pemukiman, khususnya kawasan Blok 2, disebabkan kurangnya fasilitas pengelolaan sampah dan tidak bisa dijangkau oleh petugas sampah. Selain itu, kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa tingkat pelayanan sistem pengelolaan sampah di kawasan Blok 1 masih minim, dan di kawasan Blok 3, sebagian sistem pengelolaan sampah kota masih diterapkan secara tradisional, seperti di kawasan Blok 2.
Sedangkan bagi masyarakat di kawasan blok 3 sepanjang Jalan Cimulu, Dr Soekardjo, Moch Hatta dan Kalangsari, sistem pembuangan sampah dapat dilayani oleh petugas pemulung seperti pada Gambar 4.24 di bawah ini.
Analisis Komitmen Pemerintah
Indikasi Keinginan
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Maka jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman. kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (Soalan 4:59) Dalam ayat di atas, Allah SWT memerintahkan umat Islam supaya taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri (pemerintah).
Kaitannya ayat ini dengan kelembagaan adalah lembaga mempunyai kewenangan khusus dalam upaya penanggulangan permukiman kumuh dimana masyarakat yang berada di kawasan pemukiman harus turut serta mendukung semua program yang ditetapkan. 3 Tahun 2008 tentang urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Tasikmalaya, pengelolaan kawasan kumuh merupakan kewenangan Sektor Pekerjaan Umum dengan Subbidang Permukiman. Sedangkan berdasarkan hasil wawancara dengan RT dan RW di wilayah penelitian, belum terdapat lembaga masyarakat yang khusus menangani permukiman kumuh.
Dapat disimpulkan bahwa di wilayah studi terdapat keinginan pemerintah daerah untuk mengatasi permukiman kumuh dalam bentuk pembiayaan, namun belum ada lembaga yang khusus menangani hal tersebut.
Upaya Penanganan
Upaya Pemerintah Kota dalam menangani permukiman kumuh meliputi rencana pengelolaan, perbaikan fisik, dan pengelolaan kawasan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Desa Lengkongsari, pada tahun 2014, dalam rangka penanganan kawasan kumuh, Pemerintah Kota Tasikmalaya berupaya membuat rencana pemantauan dan pengawasan untuk meningkatkan kualitas permukiman kumuh di kawasan Desa Lengkongsari, Tawang- kabupaten untuk meningkatkan , kota Tasikmalaya. Upaya penanganan permukiman kumuh yang dilakukan Pemkot juga mencakup perbaikan fisik berupa perbaikan RLTH (Rumah Tidak Layak Huni) yang diprogramkan pada 10 rumah di 10 kecamatan di Kota Tasikmalaya dan dilaksanakan di Kecamatan Cipedes.
Selain itu, perbaikan fisik yang dilakukan antara lain pembangunan jalan inspeksi di kawasan sepanjang bantaran Sungai Ciloseh. Berdasarkan hal tersebut maka direncanakan upaya penanggulangan kawasan kumuh di blok 1 sehubungan dengan penyusunan rencana berupa laporan inventarisasi terkini dan analisis permukiman kumuh di kota Tasikmalaya yang pengertian wilayahnya adalah kabupaten Cipedes antara lain Kecamatan Panglayungan yang termasuk kawasan blok 1, telah dilakukan perbaikan fisik melalui program RLTH, sedangkan pengelolaan kawasan sedang dalam proses perawatan. Upaya penanggulangan permukiman kumuh di blok 2 sehubungan dengan penyusunan rencana penanganan permukiman kumuh sudah ada yaitu berupa rencana pemantauan dan pengawasan terhadap peningkatan kualitas permukiman kumuh di wilayah tersebut. Desa Lengkongsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, sehubungan dengan perbaikan fisik yang telah dilakukan yaitu dengan pembuatan jalan inspeksi sungai dan untuk perawatan kawasan Blok 2 sedang berlangsung.
Sedangkan upaya penanganan permukiman kumuh di Blok 3 mengenai penyusunan rencana pengelolaan permukiman kumuh telah dilakukan berupa pemutakhiran laporan inventarisasi dan analisis permukiman Kumuh Kota Tasikmalaya yang berbatasan dengan Kecamatan Cipedes termasuk Kecamatan Sukamanah terkait dengan dalam prosesnya perbaikan fisik yaitu melalui program RLTH dan Penanganan kawasan Blok 2 sedang berlangsung. Berdasarkan berbagai analisis kriteria kekumuhan, dilakukan pembobotan untuk menghasilkan tingkat kekumuhan setiap blok di wilayah studi. Berdasarkan hasil analisis mengenai bobot kriteria vitalitas non-ekonomi, vitalitas ekonomi, status lahan, kondisi infrastruktur dan komitmen pemerintah, disimpulkan bahwa upaya pengelolaan permukiman kumuh Blok 1 dilakukan dengan Pendekatan Pengembangan Properti selama manajemen. Upaya di kawasan kumuh Blok 2 dan Blok 3 dilakukan dengan pendekatan Guide Land Development (GLD).
Penanganan dengan Property Development
Penanganan dengan Guide Land Development (GDL)
Pembobotan Prioritas Penanganan
Analisis Kedekatan Kawasan dengan Pusat Pertumbuhan Kota Berdasarkan hasil observasi lapangan, kedekatan kawasan studi dengan
Berdasarkan hasil observasi lapangan, jarak blok 1 menuju kawasan pusat pertumbuhan kota adalah 1,15 km atau dengan waktu tempuh 7 menit 40 detik, jarak blok 2 menuju kawasan pusat pertumbuhan kota adalah 1,32 km atau. Dapat disimpulkan bahwa jarak tempuh wilayah studi yang meliputi blok 1, blok 2 dan blok 3 hingga kawasan pusat pertumbuhan kota adalah < 30 menit.
Analisais Kedekatan Kawasan dengan Kawasan Lain Bagian Kota Berdasarkan hasil observasi lapangan, kedekatan kawasan studi dengan
Berdasarkan Tabel 5.39 di atas, rata-rata kedekatan Blok 1 dengan kawasan strategis di Kota Tasikmalaya adalah 37 menit.
Analisis Kedekatan dengan Letak Kecamatan