• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

Berdasarkan DEM wilayah rencana induk ITK pada Gambar 4.1 di atas, terlihat titik tertingginya berada pada ketinggian 51.077 m di atas permukaan laut. Tahap pertama dalam penyusunan peta kemiringan wilayah masterplan ITK adalah mengunduh data DEM melalui website DEMNAS yang bersifat open source. Berdasarkan Gambar 4.4 di atas terlihat kemiringan tertinggi pada kawasan master plan ITK sebesar 39,6%, sedangkan kemiringan terendah sebesar 0,063.

Pada penelitian ini kelas kemiringan dibagi menjadi 5 kelas berdasarkan kemiringan kawasan rencana kota ITK. Berdasarkan proses penyusunan peta kemiringan master plan ITK di ArcGIS, sudut kemiringan maksimum pada area master plan ITK sebesar 39,6%, dan kemiringan minimum sebesar 0,063.

Tabel 4.1 Penentuan Kelas dan Interval Elevasi
Tabel 4.1 Penentuan Kelas dan Interval Elevasi

Buffering Titik Penyelidikan Tanah

Lokasi Titik Pengujian SPT dan CPT Eksisting

58 Titik koordinat pada Tabel 4.5 jika diplot ke Google Earth dapat dilihat pada Gambar 4.8 sebagai berikut. Selain itu karena kampus ITK masih dalam tahap pengembangan sejak didirikan pada tahun 2014, sebagian besar lahan kampus ITK belum dibangun infrastruktur. Karena kurangnya bangunan yang terdaftar di ITK, sebagian besar lahan rencana induk ITK belum diambil sampel atau diuji.

Proses Analisis Buffering

Analisis Spasial Overlay

  • Metode Pembobotan

Hasil analisis ini bertujuan untuk memperoleh peta potensi lokasi penyelidikan lapangan di wilayah master plan ITK. Nilai parameter yang potensinya sangat tinggi untuk penyelidikan lahan baru diberi skor 5, begitu seterusnya hingga potensi terendah diberi skor 1. Penentuan skor setiap parameter seperti pada Tabel 4.8 di atas digunakan untuk menganalisis wilayah yang berpotensi untuk dilakukan penyelidikan lahan baru.

Dalam penelitian ini skor ditentukan berdasarkan kelas parameter mengacu pada Tabel 4.8, oleh karena itu setiap parameter yang akan dimasukkan harus memuat informasi yang memuat kelas parameter tersebut. Dalam penelitian ini, potensi kesesuaian elevasi atau parameter elevasi untuk penyelidikan tanah dinilai berdasarkan hubungannya terhadap pengaruh. Setiap kelas kemudian diberi skor untuk menentukan area yang cocok untuk penyelidikan tanah baru sesuai Tabel 4.8.

Proses penilaian parameter ketinggian di ArcGIS adalah dengan menggunakan open atribut table tool kemudian menambahkan kolom (add field) dengan skor seperti pada Gambar 4.13 di bawah ini. Dalam penelitian ini, potensi kesesuaian kondisi lereng di wilayah rencana induk ITK untuk penyelidikan tanah dinilai berdasarkan teori analisis kestabilan lereng, dimana semakin curam lereng maka semakin cocok untuk penyelidikan tanah. Setiap kelas kemudian diberikan skor untuk menentukan area yang berpotensi untuk penyelidikan tanah baru sesuai Tabel 4.8.

Sedangkan bobot 40% dipilih untuk jarak dari lokasi survei tanah sebelumnya karena parameter ini mempunyai pengaruh paling besar dalam analisis spasial.

Tabel 4.8 Skor setiap parameter
Tabel 4.8 Skor setiap parameter

Proses Analisis

65 di ArcGIS menggunakan tool Open Attribute Table kemudian dilakukan penambahan (add field) dengan kolom hasil seperti terlihat pada Gambar 4.15 dibawah ini. Metode pembobotan atau biasa disebut pembobotan merupakan metode analisis spasial yang digunakan apabila setiap parameter mempunyai peranan yang berbeda-beda. Metode pembobotan merupakan analisis spasial dengan menggunakan teknik overlay yang menggabungkan beberapa peta terkait faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian kesesuaian.

Setiap raster input diberi bobot yang direpresentasikan dalam persentase, tergantung kepentingannya, dimana total persentase bobot pengaruhnya harus 100 (Ukhti, 2021). Oleh karena itu, setiap parameter grid diberi bobot yang berbeda-beda pada penelitian ini, dengan total bobot 100%. Faktor ketinggian dan lereng diberi bobot sebesar 30% karena kedua faktor tersebut mempunyai peranan yang sama dalam analisis stabilitas lereng.

Analisa dengan metode pembobotan dilakukan dengan menggunakan alat Weighted Overlay pada Spatial Analyst Tools. Faktor ketinggian dan kemiringan masing-masing diberi bobot sebesar 30%, sedangkan faktor jarak dari titik survei tanah sebelumnya diberi bobot sebesar 40%. Proses pemberian bobot pada analisis ini dapat dilihat pada Gambar 4.16 dimana %total pengaruh (persentase pengaruh) harus sebesar 100%.

Kemudian atur warna hasil metode pembobotan pada property layer dengan warna yang seragam seperti pada analisis parameter pendukung sebelumnya.

Gambar 4.16 Memasukkan bobot dengan total 100%
Gambar 4.16 Memasukkan bobot dengan total 100%

Pembahasan

Metode Fuzzy Overlay Gamma

Analisis menggunakan metode ini dimulai dengan menyiapkan data vektor untuk parameter ketinggian, kemiringan lereng dan jarak dari survei lapangan yang ada dalam format shapefile yang diberi skor berdasarkan Tabel 4.8. Oleh karena itu, data vektor dari ketiga parameter tersebut harus diubah menjadi data raster menggunakan alat konversi di ArcMap. Analisis dilanjutkan dengan proses fuzzifikasi menggunakan alat keanggotaan fuzzy untuk menentukan keanggotaan parameter yang ditentukan.

Pada fase ini lapisan disesuaikan dengan skala yang seragam, yaitu dengan interval antara '0 (nol)' dan '1 (satu)', dimana 'satu menunjukkan wilayah yang sesuai, sedangkan 'nol' menunjukkan wilayah yang tidak sesuai (Rachmita dkk., 2021). Tipe keanggotaan fuzzy yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe 'linier', tipe ini mendefinisikan fungsi keanggotaan fuzzy dengan cara melakukan transformasi linier antara himpunan nilai minimum dengan keanggotaan 0 ke himpunan nilai maksimum dengan keanggotaan 1. Hasil dari proses keanggotaan fuzzy kemudian dianalisis menggunakan fuzzy overlay pada Spatial Analyst Tools.

Proses pemilihan tipe fuzzy overlay gamma dapat dilihat pada Gambar 4.19 dibawah ini dengan hasil seperti pada Gambar 4.20. Berdasarkan hasil fuzzy overlay gamma seperti pada gambar di atas, dilakukan klasifikasi/reklasifikasi dengan interval yang sama untuk setiap kelas dengan 5 kelas kesesuaian yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Oleh karena itu, konversikan file data raster yang berasal dari gamma overlay buram kembali ke poligon dalam format file .shapefile menggunakan alat konversi.

Tahap terakhir adalah penetapan warna pada 5 kelas kesesuaian potensial seperti pada analisis spasial sebelumnya dengan hasil seperti pada gambar 4.21.

Gambar 4.19 Memilih tipe fuzzy overlay gamma
Gambar 4.19 Memilih tipe fuzzy overlay gamma

Pembahasan

Metode Per-cell Statistic Maximum (PCSM)

Peta potensi penyelidikan tanah yang baru didasarkan pada metode maksimum statistik per sel (PCSM) yang mengambil nilai maksimum dari setiap sel parameter masukan. Sistem akan memilih nilai maksimum atau nilai terbesar dari setiap sel parameter overlay yaitu tinggi, kemiringan dan jarak dari lokasi survei tanah sebelumnya. Berdasarkan penilaian pada Tabel 4.8, suatu wilayah dengan skor 1 berarti mempunyai potensi penyelidikan tanah yang sangat rendah.

Berdasarkan Gambar 4.23, warna hijau tua mewakili wilayah dengan potensi penelitian tanah baru yang sangat tinggi (skor = 5). Sementara itu, warna kuning, jingga, dan merah masing-masing mewakili wilayah dengan potensi penelitian tanah baru sedang (skor = 3), rendah (skor = 2) dan sangat rendah (skor = 1). Di tengah sekitar bangunan asrama terdapat area kecil yang memiliki potensi sangat besar untuk penelitian tanah.

Daerah yang terletak 150 – 200 m dari lokasi survei tanah sebelumnya tergolong mempunyai potensi tinggi untuk survei tanah baru. Kawasan berpotensi rendah terdapat di tengah areal rencana komprehensif ITK yang berdekatan dengan bekas lokasi survei tanah gedung D dan E dengan luas 4.236 ha (1,35). Peta potensi survei tanah baru berdasarkan PCSM Metode ini memberikan perbedaan yang cukup besar jika dibandingkan dengan analisis spasial yang menggunakan metode lainnya.

Perbedaan ini disebabkan metode PCSM mengekstraksi nilai maksimum untuk setiap sel parameter masukan yaitu tinggi, kemiringan dan jarak dari lokasi survei tanah sebelumnya.

Gambar 4.22 Memilih tipe overlay statistic maksimum
Gambar 4.22 Memilih tipe overlay statistic maksimum

Uji Validasi

  • Proses Validasi
  • Pembahasan

Oleh karena itu, metode PCSM dinilai sangat cocok untuk menentukan lokasi berbagai survei tanah. Sebanyak 78 survei tanah baru berdasarkan rasio tinggi dan kemiringan pada rencana komprehensif ITK disajikan pada Gambar 4.25, sedangkan matriks inferensi penentuan korelasi medan dengan jarak dari survei tanah sebelumnya dapat dilihat pada Gambar 4.26. Berikut contoh data atribut yang diperoleh dari metode pembobotan intersep seperti pada Gambar 4.27 di bawah ini.

Langkah pertama adalah menetapkan klasifikasi potensi kesesuaian lahan untuk penyelidikan tanah berdasarkan hubungan antara ketinggian dan kemiringan. Langkah kedua adalah menentukan potensi kesesuaian daerah penyelidikan tanah berdasarkan hubungan lokasi dan jarak dengan lokasi penyelidikan tanah sebelumnya. Berdasarkan data ciri pada Gambar 4.27 baris 1 kolom 9 menunjukkan bahwa klasifikasi jarak pada data vektor termasuk potensi sangat tinggi (>200 m).

Berdasarkan matriks inferensi pada Gambar 4.26 menunjukkan bahwa hasil korelasi antara potensi kesesuaian lahan sedang dan jarak dengan potensi sangat tinggi memberikan potensi yang tinggi pada lokasi survei tanah. Dalam penelitian ini, peta potensi lokasi survei tanah baru di wilayah rencana induk ITK disusun dengan menggunakan 3 metode analisis spasial, yaitu Weighted Overlay, Fuzzy Overlay Gamma, dan Per Cell Statistic Maximum (PCSM). Berdasarkan uraian tersebut membuktikan bahwa penggunaan metode pembobotan dengan teknik overlay terbobot merupakan metode yang paling tepat digunakan untuk melihat potensi kesesuaian lokasi survei tanah di wilayah rencana induk ITK.

Oleh karena itu, banyak wilayah yang memiliki potensi kesesuaian yang tinggi untuk penyelidikan lahan dalam rencana induk ITC.

Gambar 4.25 Matriks Inferensi hubungan elevasi dan kemiringan
Gambar 4.25 Matriks Inferensi hubungan elevasi dan kemiringan

Aplikasi Pemetaan Terhadap Pembangunan di ITK

85 Hasil uji validasi dengan mengacu pada matriks inferensi menunjukkan bahwa metode pembobotan merupakan metode yang paling direkomendasikan dalam penyusunan peta potensi survei tanah baru di wilayah rencana induk ITK. Sejalan dengan manfaat penelitian yang disajikan pada subbab 1.5, penerapan peta potensi lokasi survei lahan baru di kawasan masterplan ITK yang mengacu pada peta masterplan ITK pada Gambar 4.28 menunjukkan bahwa kawasan klaster perkuliahan 1 (P1) ) termasuk bangunan A, B, C, D, E, F dan G termasuk dalam wilayah yang masing-masing mempunyai potensi sangat rendah dan rendah untuk penyelidikan tanah baru. Hal ini dikarenakan wilayah P1 merupakan wilayah konstruksi eksisting sehingga potensi survei tanah baru termasuk dalam kategori rendah, karena data tanah yang ada pada wilayah tersebut dianggap mewakili kondisi sekitar sehingga tidak diperlukan. untuk melakukan survei tanah berulang kali. .

Di kawasan klaster perguruan tinggi 2 (P2): Laboratorium terpadu termasuk dalam kawasan dengan potensi penelitian tanah rendah hingga sedang karena lokasi ini berjarak kurang lebih 150 m dari titik penelitian tanah gedung E. Kawasan klaster perguruan tinggi 3 ( P3) didominasi oleh daerah yang mempunyai potensi sedang untuk penelitian tanah baru karena daerah ini mempunyai ketinggian rata-rata dengan kemiringan rata-rata 8-16%. Kawasan perkantoran (P5) dan Masjid Raya ITK (P6) didominasi oleh lahan dengan potensi eksplorasi tanah sedang, karena kawasan ini merupakan dataran rendah dengan kemiringan datar dan landai.

Kawasan cluster asrama mahasiswa (P7) dan lapangan olah raga (P8) termasuk dalam potensi rendah hingga sedang untuk penelitian tanah baru, karena berdekatan dengan asrama eksisting. Area sebelah utara gedung asrama yang meliputi GOR Juang (P16) juga memiliki potensi rendah hingga sedang untuk penyelidikan tanah baru. Gedung rektorat ITK di bagian tenggara mempunyai potensi besar untuk penelitian lahan baru.

Kawasan di sebelah timur bangunan kolej yang merangkumi perpustakaan (P14) dan pusat UKM (P15) merupakan sebahagian daripada wilayah yang berpotensi sederhana untuk penyelidikan tanah baharu.

Gambar

Gambar 4.1 DEM Masterplan ITK  B. Penentuan Kelas (Klasifikasi) Ketinggian
Tabel 4.1 Penentuan Kelas dan Interval Elevasi
Tabel 4.2 Reklasifikasi Ketinggian/Elevasi  Kelas  Elevasi (m)  Potensi untuk
Tabel 4.3 Penentuan Kelas dan Interval Kemiringan Lereng
+7

Referensi

Dokumen terkait

Moreover, the teachers in the country as well still adhere to traditional teaching method such as providing grammar-based and teacher-centered classroom education;