• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

Film ini menampilkan banyak karakter yang memiliki hubungan dengan korban kekerasan terhadap jurnalis. Film Kubur Kabar Kabur menggunakan teknik pengambilan gambar yang berbeda-beda tergantung situasi dan kondisi yang ingin digambarkan dalam film tersebut. Dalam film Kubur Kabar Kabur, tokoh Didik Herwanto yang mengalami kekerasan fisik yang dilakukan pejabat negara, mendalami kasus yang dialaminya sendiri.

Tokoh utama dalam film Kubur Kabar Kabur adalah para korban kekerasan, Direktur LBH Pers, istri almarhum Udin, Ketua AJI Yogyakarta, Jurnalis Hariana Bernas, dan Wakapolri. Dalam film ini, Nawahwi dan tim memberikan bantuan hukum kepada jurnalis yang menjadi korban kekerasan baik yang dilakukan pejabat negara maupun masyarakat. Dalam film ini istri Udin menceritakan tentang kepribadian Udin dan kehidupannya setelah kematian Udin.

Dalam film ini, Hendrawan berkisah tentang kematian Udin yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Dalam film ini, Oegroseno menjelaskan status kasus pembunuhan yang dialami jurnalis Harian Berna, Udin.

Temuan Data

Kode Realitas dan Kode Representasi

Pada foto pertama digunakan ukuran sedang untuk menampilkan penampakan seseorang, sehingga pada foto pertama terlihat ekspresi Didik Herwanto. Pada gambar di atas, ukuran gambar menggunakan rata-rata ukuran foto yang dimaksudkan untuk memperlihatkan ekspresi subjek, sehingga terlihat ekspresi seperti apa. Kamera : pada foto pertama, kedua dan ketiga teknik fotografi menggunakan ukuran knee shot, pada foto keempat teknik fotografi menggunakan ukuran foto penuh.

Pada foto pilihan peneliti di atas, terlihat rekreasi adegan yang dilakukan anggota TNI AU di hadapan hakim Pengadilan Tinggi Militer Medan I. Kamera: pada gambar pertama dan kedua, teknik perekamannya menggunakan ukuran medium close-up. Pada gambar pilihan peneliti di atas terlihat ekspresi tersangka kekerasan terhadap Didik Herwanto yang merupakan jurnalis foto Riau Pos.

Kamera: pada gambar pertama, kedua, dan ketiga, teknik pengambilan gambarnya menggunakan full shot size. Pada gambar di atas yang dipilih peneliti, terlihat aksi teatrikal para pengunjuk rasa yang menuntut kebebasan pers. Analisis semiotika kode televisi John Fiske pada gambar di atas dapat dilihat pada tabel berikut.

Kamera: pada gambar pertama dan kedua, teknik pengambilan gambar menggunakan ukuran medium shot. Ekspresi: pada adegan yang dipilih peneliti, pada gambar terlihat empat ekspresi sedih orang-orang terdekatnya. Gambar pertama dan kedua menggunakan ukuran medium shot yang bertujuan untuk memperlihatkan penampakan seseorang, sehingga terlihat jelas wajah kedua objek pada kedua gambar tersebut.

Pada gambar pilihan peneliti di atas, Anda melihat seorang presenter berita di RCTI memberitakan pembunuhan jurnalis Ersa Siregar di zona konflik. Pada foto pilihan peneliti di atas, terlihat bagaimana seorang jurnalis mengalami kekerasan hingga keningnya terluka dan berdarah. Dan pada gambar kedua digunakan gambar lutut yang bertujuan untuk menggambarkan penampakan seseorang.

Pada gambar pilihan peneliti di atas, Anda melihat seorang presenter RCTI sedang membaca berita tentang pembunuhan jurnalis di Tual, Maluku Tenggara. Pada foto pilihan peneliti di atas, terlihat kronologis kekerasan hingga tewasnya seorang jurnalis, yakni Ridwan Salamun.

Kode Ideologi

1 Kode Ideologi Idealisme: Pada adegan yang dipilih peneliti terlihat bagaimana Ersa Siregar masih memberitakan kondisi konflik. Pada foto pilihan peneliti di atas, terlihat idealisme seorang jurnalis yang ditunjukkan oleh Ersa Siregar. Foto pertama, kedua, dan ketiga memperlihatkan Ersa Siregar melaporkan situasi terkini di lokasi konflik terjadi.

Dan pada gambar keempat terlihat bagaimana prajurit TNI melakukan kontak senjata dengan militan GAM. 1 Kode Ideologi Idealisme: Pada adegan yang dipilih peneliti, terlihat bagaimana mantan editor Udin, Heru Prasetya, berbicara tentang Udin semasa hidupnya. Pada foto pilihan peneliti di atas, terlihat Heru Prasetya yang merupakan mantan editor di Udin.

Sedangkan pada gambar kedua, Heru Prasetya sedang memegang buku berjudul Upaya Udini Menegakkan Kebenaran. Pada gambar di atas yang dipilih peneliti, terlihat bagaimana pemberitaan kasus Udin ditulis. Demonstrasi mengenang kasus Udini yang belum terselesaikan Pada foto di atas terlihat demonstrasi menuntut penjelasan hukum terkait pembunuhan Udini.

Pengunjuk rasa: “Kami hanya mengingatkan masyarakat, hanya mengingatkan polisi bahwa kasus Udin tidak pernah selesai selama 17 tahun. Pada foto di atas terlihat poster Udin yang bertuliskan Udin dibunuh karena pemberitaan tersebut. 1 Kode Ideologi Idealisme: pada adegan yang dipilih peneliti terlihat poster yang bertuliskan “Udin dibunuh karena pemberitaan”.

Pada gambar di atas yang dipilih peneliti, terlihat Hendrawan Setiawan, Ketua AJI Yogyakarta, menjelaskan kelanjutan kasus Udin. Dia menjelaskan, advokasi kasus Udin tidak hanya melalui jalur hukum, tetapi juga melalui jalur lain. Mengingat kembali ingatan masyarakat tentang kasus ini agar masyarakat yang mengingatnya ikut mendorong mengungkap kasus Udin.

Pembahasan

Dengan demikian, dialog yang diucapkan Didik Herwanto dalam film Kubur Kabar Kabur mencerminkan kekerasan. Dari hasil temuan peneliti film Kubur Kabar Kabur dalam konteks ekspresi yang mencerminkan kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia dapat ditemukan pada beberapa ekspresi. Kasus Didik Herwant dan anggota TNI AU menjadi salah satu kasus yang dibahas dalam film Kubur Kabar Kabur.

Dengan demikian, gerakan-gerakan yang merepresentasikan kekerasan banyak ditemukan dalam film Kubur Kabar Kabur, khususnya pada pembahasan kasus kekerasan yang dialami Didik Herwanto. Tayangan lain yang menampilkan gestur yang mewakili kekerasan dalam film Kubur Kabar Kabur adalah saat petugas polisi memukuli seorang jurnalis. Jadi kesimpulan dari realitas film Kubur Kabar Kabur adalah mencerminkan kekerasan berupa pemukulan dan pembunuhan.

Kode televisi pada tataran representasi ini terkait dengan potret kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia dalam film Kubur Kabar Kabur. Dengan demikian, penggunaan teknik medium close-up dalam film Kubur Kabar Kabur mempunyai makna untuk menampilkan ekspresi objek secara lebih jelas. Dengan demikian, penggunaan teknik extreme close-up dalam film Kubur Kabar Kabur mempunyai makna menampilkan sesuatu secara detail.

Kode televisi ini dalam tataran ideologis terkait dengan potret kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia dalam film Kubur Kabar Kabur. Jika dicermati, penyebab terjadinya kekerasan terhadap jurnalis dalam film Kubur Kabar Kabur adalah idealisme jurnalis. Contoh idealisme jurnalistik yang menimbulkan kekerasan di Kubur Kabar Kabur adalah Didik Herwanto, Udin, Ersa Siregar, dan Ridwan Salamun.

Dari dialog Didik Herwanto di film Kubur Kabar Kabur berbunyi: “Kamu orang mati, maka ambillah fotonya”. Dalam film tersebut, Kubur Kabar Kabur menampilkan Ersa Siregar yang memberitakan konflik GAM dan TNI. Kekerasan yang berujung pada terbunuhnya Ersa Siregar dengan demikian mencerminkan kode ideologi idealisme profesional.

Dan kasus terakhir dalam film Kubur Kabar Kabur yang merepresentasikan idealisme jurnalis yang berakhir dengan kekerasan adalah yang dialami jurnalis Sun Tv, Ridwan Salamun. Dengan demikian, dalam kasus kekerasan yang berujung pada terbunuhnya Ridwan Salamun, mencerminkan kode ideologi yaitu idealisme profesional.

Referensi

Dokumen terkait

Anida Fadhilah Jati, Endang Fauziati, Agus Wijayanto 135 IJoLTe Learning Difficulties... Anida Fadhilah Jati, Endang Fauziati, Agus Wijayanto 136 IJoLTe 3.3 Attention

Mental Translation