BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Data 1. Data Tapak
Berada di Desa Gondang Lor, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan.
Gambar 3.1 Peta Lokasi Bendungan Sumber: Google Earth 2020
Akses menuju tapak yaitu dengan melalui Jl. Kedungpring - Mantup, dengan lebar jalan menuju lokasi tapak 6 m. Untuk View dan Sirkulasi sebagai berikut:
a. Utara merupakan jalan raya Kedungpring – Mantup.
b. Timur merupakan tanggul waduk sekaligus waduk.
c. Selatan merupakan ladang warga sekitar.
d. Timur merupakan permukiman dan ladang warga sekitar.
Kebisingan tertinggi hanya bersumber dari sebelah utara yaitu jalan raya, kemudian dari sebelah mur suara perahu nelayan dan dari sebelah barat maupun selatan kebisingan yang paling rendah.
2. Data Kawasan
Bendungngan Gondang lokasinya berada di Kecamatan Sugio, dengan luas wilayah 2 Kecamatan Sugio 94,43 Km , terbagi dalam wilayah administraf 21 desa, 87 Dusun, dan 354 RT. Dari luas tersebut sebagian besar untuk sawah, selebihnya berupa tegalan, hutan ja, pekarangan dan lain-lain.
Mayoritas 53.256 beragama Islam, 24 beragama Katolik, dan 2 orang beragama hindu.
Batas wilayah lokasi studi analisa keseimbangan air waduk Gondang untuk opmasi irigasi ini adalah:
a. Batas Utara : Desa Gondang Lor, kec. Sugio.
b. Batas Timur : Desa Deket Agung, Desa Lawangan Agung, kec.
Sugio Desa Sukobendu, kec. Mantup.
c. Batas Selatan : Desa Kalitengah, kec. Sugio Desa Wudi, Desa Sekidang, kec. Sambeng.
d. Batas Barat : Desa Sidorejo, kec. Sugio.
4.2 Model
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis survey.
Adapun alasan pemilihan survey didasarkan pada dua alasan yakni pertama, untuk kelengkapan data karena sifatnya hanya sebagai pelengkap data atau informasi.
Dengan adanya informasi atau tambahan data dari hasil survei, maka informasi yang terjadi menjadi lebih lengkap sehingga deskripsi hasil akhir bersifat komprehensif dan memberi kesimpulan yang meyakinkan. Kedua, untuk kebutuhan penelitian berupa data tyang erkumpul kemudian diolah peneliti.
Apabila merasa kurang puas dengan hasil penelitiannya, maka membutuhkan penelitian lanjutan agar lebih komprehensif.
Menurut cara mendapatkannya, data yang digunakan untuk studi perancangan ulang Bendungan Gondang ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Data primer yaitu data yang didapat dari hasil wawancara langsung dengan pihak yang berkepentingan dan data aktual lainnya yang berkaitan dengan kondisi saat ini. Selain itu, pengumpulan data primer berdasarkan pengamatan langsung di lapangan (kondisi eksisting).
2. Data sekunder yaitu data kearsipan yang diperoleh dari instansi terkait, serta data yang berpengaruh pada perencanaan. Dalam hal ini yang bersangkutan ialah data langsung dari pengurus Bendungan Gondang Kabupaten Lamongan.
4.3 Waktu
Dalam proses perancangan ulang Bendungan di Gondang Kabupaten Lamongan akan dilaksanakan selama 4 bulan pada bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2024 dengan rincian waktu pelaksanaan satu bulan untuk pendataan, dua bulan untuk pencarian data lapangan, dan satu bulan untuk pengumpulan data dan analisis data.
4.4 Lokasi
Perancangan ulang ini akan dilaksanakan pada bendungan Gondang Kabupaten Lamongan. Bendungan Gondang merupakan wisata alam yang terletak di Desa Gondang Lor Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan dibangun pada Tahun 1976 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Tahun 1987. Waduk Gondang memiliki luas sebesar 6,60 Ha dengan kedalaman kurang lebih 29 meter (Widyastuty & Muhammad, 2022).
Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan sudah mengeluarkan kebijakan peraturan Nomor 15 tahun 2011 tentang Rencana tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan tahun 2011 – 2031 tercantum dalam pasal 36 kabupaten lamongan pengembangan pariwisata berupa Kawasan wisata alam, Kawasan wisata budaya dan Kawasan wisata buatan, serta menetapkan Wisata Waduk Gondang sebagai wisata alam (Pemerintah Kabupaten Lamongan, 2011).
Di Tahun 2021, pemerintah kabupaten Lamongan melakukan revisi perda, dan mengeluarkan peraturan daerah no. 3 tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah kabupaten Lamongan tahun 2020 – 2039 yang menyatakan pengembangan Wisata alam, wisata budaya dan wisata batan sebagai wisata andalan dengan disertai pengembangan paket wisata (Pemerintah Kabupaten Lamongan, 2021). Kegiatan ini telah memberikan kontribusi berupa pendapatan daerah di sektor wisata selama 5 tahun terakhir dan meningkat sebesar 20%
pertahun dengan jumlah wisatawan 5 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar 0,4%.
4.5 Analisis
Analisis dalam perancangan ulang Bendungan Gondang Kabupaten Lampung menggunakan analisis kondisi eksisting dan analisis Analytical Hierarchi Prosses (AHP). Berikut penjelasannya:
Pertama, analisis kondisi eksiting. Analisis ini sering digunakan untuk menggambarkan bangunan, infrastruktur, atau fasilitas yang sudah ada dan memerlukan perawatan atau pemeliharaan agar tetap berfungsi dengan baik. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kerusakan pada eksisting bangunan, seperti bencana alam, kelembaban, iklim, atau faktor manusia seperti kesalahan perancangan atau kurangnya perawatan. Maka dari itu, perancangan ulang Bendungan Gondang Kabupaten Lamongan perlu penanganan kerusakan dan pemeliharaan eksisting secara teratur dan tepat waktu. Salah satu metode pemeliharaan agar eksisting bangunan tetap kuat dan tahan lama yaitu dengan melakukan Audit Struktur Bangunan secara berkala.
Metode pemeliharaan eksisting dapat bervariasi tergantung pada jenis fasilitas atau infrastruktur yang diperlukan pemeliharaannya. Beberapa metode pemeliharaan eksisting yang umum meliputi:
1. Inspeksi rutin: Pemeliharaan dengan melakukan pemeriksaan terhadap kondisi eksisting secara berkala. Inspeksi rutin ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua komponen dan sistem dalam kondisi baik dan aman.
2. Perawatan rutin: Pemeliharaan dengan melakukan perawatan terhadap komponen dan sistem yang sudah ada. Perawatan rutin dapat meliputi
pembersihan, pelumasan, penggantian komponen yang aus, atau perbaikan kecil yang diperlukan.
3. Pemeliharaan preventif: Pemeliharaan dengan melakukan tindakan preventif untuk mencegah kerusakan atau kegagalan komponen atau sistem.
Pemeliharaan preventif ini melibatkan pemantauan kondisi eksisting secara teratur, perencanaan perawatan rutin, dan penggantian komponen atau sistem yang sudah mendekati masa habis pakai.
4. Pemeliharaan korektif: Pemeliharaan dengan melakukan perbaikan atau penggantian komponen atau sistem yang sudah rusak atau mengalami kegagalan. Pemeliharaan korektif ini melibatkan pemantauan terhadap kondisi eksisting secara berkala untuk mendeteksi masalah sejak dini dan melakukan tindakan perbaikan secepat mungkin.
Kedua, analisis AHP. AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multi kriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks. Dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif. AHP sering digunakan sebagai metode penyelesaian masalah dibanding dengan metode yang lain karena alasan-alasan sebagai berikut:
1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuesi dari kriteria yang dipilih, sampai pada subkriteria yang paling dalam.
2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh pengambil keputusan.
3. Memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.