46 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Dan Hasil Penelitian
1. Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Jatijajar
Desa Jatijajar Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen Provinsi Jawa Jengah memiliki goa yang memenjang 250 m dari pintu masuk ke pintu luar.
Lebar rata-rata 15 m, tinggi rata-rata 12 m memiliki stalagmite, langit-langit rata-rata 10 m, memiliki ketinggian dari permukaan laut 50 m yang mremiliki stalagmite atau tiang kapur. Kawasa Ayah sendiri memiliki tipologi utama berupa perbukitan karet di wilayah pesisir . Keberadaan hutan dan pegunungan karet menyimpan banyak cadangan air yang di manfaatkan debagai kawsan fungsi penyangga untuk wilayah lainya (Atmoko, 2008).
Kecamatan ayah merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Kebumen yang mempunyai wilayah laut, selain wilayah pegunungan. Sebelah Timur berbatasandengan Kecamatan Buayan, sebelah Utaraberbatasan dengan Kecamatan Rowokele, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Cilacap dan Banyumas, sedangkan batas sebelah Selatan adalah Samudera Indonesia.
Letak astronomis adalah letak suatu daerah berdasarkan garis lintang dan bujur.
Secara astronomis Objek Wisata Goa Jatijajar berada di garis 7⁰40‟13,57”LS dan109⁰25‟38,29”BT.
Kecamatan Ayah terdiri dari 18 desa yaitu Kedungweru, Demangsari, Bulurejo, Jatijajar, Mangunweni, Candirenggo, Tlogosari, Kalibangkang, Watukelir, Ayah, Argosari, Kalipoh, Argopeni, Karangduwur, Srati, Jintung,
47
Banjarharjo dan Pasir. Desa yang termasuk dataran rendah pantai yaitu desa Ayah, Kalipoh, Argopeni, Karangduwur, Srati, Jintung, Banjarharjo dan Pasir.
Desa lain yang termasuk dataran rendah tetapi terletak di bagian dalam adalah Kedungweru, Demangsari, Jatijajar, Bulurejo, Manguweni dan Candirenggo.
Terdapat empat desa yang hampir seluruh wilayahnya merupakan dataran tinggi (antara 100-500 mdpl) yaitu Tlogosari, Kalibangkang, Watukelir dan Argosari. Kecamatan Ayah merupakan satu-satunya wilayah di Kebumen bagian Selatan yang wilayahnya merupakan dataran tinggi dan rendah, sedangkan kecamatan lainnya di Kebumen Selatan merupakan dataran rendah.
Selama ini Kecamatan Ayah telah banyak dikenal masyarakat karena beberapa obyek wisatanya. Goa Jatijajar dan Goa Petruk merupakan dua obyek wisata yangterkenal. Goa Jatijajar terkenal dengan kisahKamandaka.
Objek Wisata Goa Jatijajar. Secara administratif objek wisata Goa Jatijajar terletak di Desa Jatijajar 21 Km ke arah selatan Kecamatan Ayah.
Secara geografis objek wisata Goa Jatijajar bagian utara berbatasan dengan Kecamatan Rowokele, bagian timur berbatasan dengan Kecamatan Buayan, bagian selatan berbatasan dengan Desa Watukelir, dan bagian barat berbatasan dengan Desa Tlogosari, Desa Wangunweni, serta Desa Demangsari.
2. Kondisi Masyarakat di Desa Jatijajar
Desa Jatijajar yang luasnya mencapai 538.907 Hektar dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu padat sebanyak 7.107 per tahun 2009 merupakan kawasan yang tidak terlalu padat. Masyarakat di desa Jatijajar di dominasi oleh kaum laki-laki, hal ini dapat dipaparkan melalui tabel 1 dibawah ini:
48
Tabel 1. Data Mayarakat Berdasarkan Jenis Kelamin N
o Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%)
1 Laki-laki 3.613 51
2 Perempuan 3.494 49
Jumlah 7.107
Sumber: Buku Daftar Isian Daftar Profil Desa/Kelurahan Desa Jatijajar, November 2017.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa masyarakat desa Jatijajar didominasi oleh laki-laki. Hal ini didasarkan pada data di lapangan diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki sebanyak 3.613 orang dengan prosentase (51%) sesuai grafik 1, yang lebih besar dari jumlah penduduk wanita yang sebanyak 3.494 orang dengan prosentase (49%), yang berarti bahwa jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin banyak yang berjenis kelamin wanita, sedangkan jumlah total masyarakat di desa Jatijajar keseluruhan berjumlah 7.107 orang dengan luas wilayah 538.907 Hektar termasuk dalam kategori tidak padat penduduk.
49
Selanjutnya jumlah masyarakat tersebut akan dianalisis lagi menurut umur yang dijelaskan pada tabel 2.
Tabel 2. Data Mayarakat Berdasarkan Golongan Umur Kelompok
Umur
Jumlah Penduduk Jumlah
Laki-laki Perempuan
0 – 4 140 147 287
5 – 14 426 381 807
15 -24 305 311 616
25 – 49 1.782 1.802 3.584
50 – 74 505 485 990
>75 82 108 190
Sumber: Buku Daftar Isian Daftar Profil Desa/Kelurahan Desa Jatijajar, November 2017
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa rata-rata penduduk desa Jatijajar yang terbanyak adalah pada rentang usia 25-49 tahun dengan jumlah penduduk 3.584 jiwa dengan prosentase (55%) sesuai grafik 2. Hal ini menandakan bahwa masyarakat desa Jatijajar rata-rata masih pada rentang usia produktif (usia 25-49 tahun) dalam artian usia tersebut masih mampu untuk menanggung beban hidup mereka sendiri. Pada tabel di atas dijelaskan pula bahwa masyarakat Jatijajar pada usia lanjut sebanyak 990 jiwa dengan rincian 505 laki-laki dan 485 perempuan. Sedangkan selebihnya pada usia remaja pada rentang 15-24 dengan prosentase (10%) dengan jumlah masyarakat 616 jiwa.
50
a. Profil kependidikan masyarakat menurut tingkat pendidikan
Pendidikan adalah sebuah investasi bagi sebuah bangsa dan negara, minimalnya sebagai bekal di masa depan untuk diri kita sendiri. Apabila sebagai warga masyarakat yang hidup di desa, tentulah pendidikan memiliki tempat di lingkungannya. Karena pada dasarnya pendidikan dapat merubah pola pikir yang pada akhirnya turut menentukan proses perubahan desa baik perubahan dalam bidang sosial, politik maupun bidang ekonomi. Semakin tinggi pendidikan mereka semakin kritis pula pola pikir yang dimiliki dalam menanggapi fenomena dalam masyarakat. Apalagi sebagai seorang warga masyarakat yang hidup di desa, tentulah pendidikan sangat memiliki tempat spesial di lingkungannya, karena dengan pendidikan itu dapat merubah pola pikir, sehingga turut menentukan proses perubahan desa, baik perubahan bidang sosial, politik maupun bidang ekonomi. Semakin tinggi pendidikan mereka, semakin kritis pula mereka dalam menanggapi fenomena yang ada di masyarakat. Berikut adalah kondisi masyarakat desa Jatijajar dilihat dari tingkat pendidikannya:
Tabel 3. Data Mayarakat Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah
Belum Sekolah 582
Tidak tamat SD 24
Kelompok Bermain/TK 140
Tamat SD 2.311
SLTP/Sederajat 1.178
SLTA/Sederajat 1.199
Diploma I/II 30
Diploma III 43
Diploma VI/Strata 1 109
Strata II 4
Strata III 6
Sumber: Buku Daftar Isian Daftar Profil Desa/Kelurahan Desa Jatijajar, November 2017
51
Berdasarkan tabel di atas rata-rata masyarakat Jatijajar mengenyam pendidikan hanya pada sampai tamat SLTA dengan jumlah penduduk 1.199 jiwa. Hal ini menandakan bahwa mayoritas penduduk di desa Jatijajar rata-rata sudah bebas aksara dalam artian masyarakatnya paling tidak bisa membaca dan menulis. Hal ini nantinya akan berdampak pada tingkat kesejahteraan dan tingkat keinginan untuk hidup lebih baik. Berdasarkan data di atas juga dapat diketahui jumlah masyarakat dengan lulusan strata 1 dengan jumlah 109 orang menandakan bahwa masyarakat Jatijajar juga sadar akan pentingnya pendidikan sebagai investasi dimasa yang akan datang.
b. Kondisi Masyarakat Desa Jatijajar Menurut Mata Pencaharian
Tingkat pertumbuhan masyarakat yang begitu cepat akan mempengaruhi ketenaga kerjaan, yaitu semakin sempit lapangan kerja. Dengan semakin terbatasnya lapangan kerja di daerah pedesaan, maka akan berpengaruh pada keadaan sosial di masyarakat dan timbul berbagai macam
52
persoalan. Masyarakat desa Jatijajar mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, buruh, pedagang dan pegawai.
Tabel 4. Data Mata Pencaharian Masyarakat Desa Jatijajar
Mata Pencaharian Jumlah
Petani 593
Buruh Migran 22
PNS 67
Pengrajin 39
Pengusaha 303
Perternak 2
Montir 3
Kesehatan 4
TNI/POLRI 11
Pembantu 18
Guru Swasta 56
Karyawan 316
Wiraswasta 1.012
Tidak Mempunyai Pekerjaan Tetap
1.399
Belum Bekerja 904
Pelajar 1.375
Ibu Rumah Tangga 537
Purnawirawan/Pensiunan 39
Perangkat Desa 13
Swasta 37
Pemuka Agama 2
Sumber: Buku Daftar Isian Daftar Profil Desa/Kelurahan Desa Jatijajar, November 2017
Dari data yang diperoleh penulis di lapangan, diketahui bahwa mayoritas masyarakat Desa Jatijajar tidak mempunyai pekerjaan tetap sesuai tabel 4 sejumlah 1.399 orang dengan prosentase (30%) sesuai grafik 4, pelajar
53
sejumlah 1. 375 orang dengan prosentase (20%) , serta ada sebanyak 1.012 orang sebagai wiraswasta dengan prosentase (18%) sesuai grafik 4.
c. Kondisi Masyarakat Desa Jatijajar Menurut Agama
Masyarakat Desa Jatijajar sebagian besar adalah pemeluk agama Islam, kemudian sebagian yang lain adalah non-muslim. Berikut adalah klasifikasi masyarakat Desa Jatijajar menurut agamanya:
Tabel 5. Data Masyarakat berdasarkan Agama
Agama Jumlah
Islam 6994
Kristen 113
Katolik -
Budha -
Hindu -
Sumber: Buku Daftar Isian Daftar Profil Desa/Kelurahan Desa Jatijajar, November 2017
Agama merupakan salah satu dalam menjalani hidup dan bersosialisasi bagi suatu kelompok masyarakat, maka sebuah ajaran agama memegang peran penting penyampaiaan ajaran agama yang tepat dan sesuai,
54
maka seseorang dan suatu kelompok masyarakat akan dapat hidup rukun dan saling menghormati dengan warga yang memeluk agama lain. Dengan demikian, fungsi agama menciptakan kerukunan dan kedamaian akan terwujud.
Wilayah desa Jatijajar ada beberapa agama yang dianut, hampir semua masyarakat menganut agama Islam sebanyak 6.994 orang dengan prosentase (98%) sesuai grafik 5. Adapun masyarakat non muslim yang berkunjung ke tempat beribadatan selalu ramai untuk dikunjungi jamaah menganut agama Kristen sebanyak 113 orang dengan prosentase (2%) terutama hari besar keagamaan umat Kristen. Meskipun masyarakat desa Jatijajar ada warga yang berbeda agama lingkungan desa tetap terkendali, tidak pernah terjadi konfik, warga masyarakat menghormati dan toleransi satu sama lain.
3. Kebijakan Pemerintah dalam Pemberdayaan Obyek Wisata
Pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen melalui kebijakannya dengan melibatkan masyarakat lewat partisipasi masyarakat baik secara langsung dan secara tidak langsung. Dinas
55
Kabupaten Kebumen berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memberdayakan sumberdaya manusia yang ada di kawasan sekitar obyek wisata Goa Jatijajar. Obyek wisata Goa Jatijajar dikembangkan agar wisatawan yang berkunjung dapat menikmati mendapatkan suasana panorama alam, dan kenyamanan dalam berwisata.
a. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah mengalokasikan dana dalam pemberdayaan dengan membangun infrastrukur yang memadai dan mengadakan penyuluhan kepada masyarakat untuk pengembangan obyek wisata.
Berdasarkan wawancara dengan AP Kepala Sub. Perencanaan dan Keuangan pada tanggal 17 Oktober 2017 sebagai berikut :
“Pemerintah mengalokasikan dana untuk obyek wisata dengan membangun infrastruktur seperti membangun taman bermain, spot foto, memperluas tempat parkir obyek wisata dan membangun ruko di dalam kawasan obyek wisata. Pemerintah juga mengadakan penyuluhan kepada masyarakat sekitar. Pemerintah juga membentuk yang sasarannya adalah masyarakat seperti membentuk paguyuban- paguyuban pedagang, makanan, aksesoris atau cindera mata.”
Pemerintah melalui Dinas Pariwisata memberdayakan masyarakat dengan kebijakannya melalui tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dari perencanaan, pemerintah telah membuat kebijakan yang telah dibuat melalui program-programnya. Kemudian progam tersebut dilaksanakan seperti membangun infrastruktur dengan memperluas lahan parkir, membangun ruko, taman bermain dan meningkatkan pelayanan agar para wisatawan nyaman dalam berkunjung. Setelah itu Dinas Pariwisata mengevaluasi dengan cara menilai sejauh mana program pemberdayaan
56
masyarakat dalam pengembangan kawasan obyek wisata Goa Jatijajar itu bisa berjalan dengan optimal dan bisa menyejahterakan masyarakat sekitar.
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh SH selaku Kepala Sub.
Destinasi dan Daya Tarik Wisata wawancara pada tanggal 15 Oktober 2017 yang menjelaskan sebagai berikut:
“Dengan penyuluhan-penyuluhan tentang sadar wisata kepada masyarakat. Pertama, guna menumbuhkan kesadaran dan perannya sebagai tuan rumah untuk menerapkan dan mewujudkan Sapta pesona kepada masyarakat yang meliputi unsur-unsur: aman, tertib, bersih sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Kedua, Gerakan untuk menumbuhkan motivasi”.
Dinas Pariwisata telah memotivasi masyarakat dengan mengadakan bimbingan penyuluhan tentang sadar wisata kepada masyarakat sekitar kawasan obyek wisata guna menimbulkan kesadaran dan perannya sebagai tuan rumah. Dinas wisata memberikan penyuluhan dalam pertemuan paguyuban pedagang dengan memberikan workshop tentang beragam ketrampilan seperti pelatihan pembuatan kerajinan tangan, pelatihan pemandu wisata, serta workshop entrepreneur. Gerakan menumbuhkan motivasi dalam sadar wisata berupa pemberian dukungan pembangunan kios-kios dan sarana prasarana pendukung wisata.
Penyuluhan yang diberikan adalah supaya masyarakat bisa berpartisipasi dalam mengelola dan mengembangkan daerah wisata Goa Jatijajar, seperti yang disampaikan SH selaku Kepala Sub. Destinasi dan Daya Tarik Wisata wawancara pada tanggal 15 Oktober 2017 yang menjelaskan sebagai berikut:
57
“Dinas Pariwisata memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan daerah wisata objek Goa Jatijajar. Penyuluhan yang diberikan adalah supaya masyarakat bisa berpartisipasi dalam mengelola dan mengembangkan daerah wisata Goa Jatijajar.
Masyarakat diberikan penyuluhan tentang bagaimana menjaga kebersihan, keamanan, pelayanan kepada wisatawan, memberikan penyuluhan bagaimana mengelola kios-kios yang menjual makanan, aksesoris serta cindera mata”.
Masyarakat diberikan penyuluhan tentang bagaimana menjaga kebersihan, keamanan dan pelayanan kepada wisatawan bagaimana berdagang pengelolaan kios-kios agar masyarakat ada rasa memiliki.
Keikutsertaan masyarakat dalam partisipasi dan pengelolaan obyek wisata berdampak pada wisatawan yang berkunjung merasa senang, nyaman saat berkunjung.
b. Partisipasi Masyarakat
Partisipasi masyarakat dalam hal sosial yakni partisipasi masyarakat untuk menunjang obyek pariwisata Goa Jatijajar sangatlah diperlukan.
Partisipasi masyarakat yang dilakukan dengan terjalinnya kerjasama masyarakat dengan dinas pariwisata seperti yang disampaikan oleh SH selaku sub destinasi dan daya tarik wisata dalam wawancaranya pada tanggal 15 Oktober 2017 sebagai berikut:
“Ya, masyarakat ikut berpartisipasi dan bekerjasama dalam menunjang terwujudnya obyek wisata Goa JatiJajar yang ramah wisata, Partisipasi masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat mewujudkan sapta pesona. Unsur sapta pesona aman, tertib, sejuk, ramah tamah, indah, dan kenangan”.
Keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar sangat diterima oleh masyarakat dengan adanya program dinas Pariwisata melalui penyuluhan-penyuluhan yang melibatkan masyarakat
58
masyarakat sekitar agar terciptanya sapta pesona. Partisipasi masyarakat tersebut menciptakan suasana obyek wisata menjadi aman, tertib, sejuk, ramah tamah, indah dan kenangan yang mendukung visi misi dinas pariwisata kabupaten Kebumen.
Partisipasi masyarakat dalam lingkungan yaitu dalam memberdayakan obyek wisata, masyarakat dilibatkan berpartisipasi dan berdagang di kawasan obyek wisata. Melalui kesadaran memelihara sarana dan prasarana lewat menjaga keamanan obyek wisata seperti yang disampaikan dalam wawancara DN sebagai pengelola obyek wisata pada tanggal 3 Oktober 2017, sebagai berikut :
“Partisipasi masyarakat melalui pemberdayaan, masyarakat bisa meningkatkan penghasilan dengan kerajinan, keaneka ragaman jajanan dan cindera mata yang dapat mereka tawarkan di sekitar kawasan obyek wisata. Kesadaran masyarakat melalui partisipasi di bidang keamanan, pelayanan, kemudahan transportasi, pengelolaan dan penambahan sarana dan prasarana, kebersihan, serta adanya tambahan hiburan.”
Pemerintahan Dinas Pariwisata memberdayakan masyarakat sekitar kawasan obyek wisata Goa Jatijajar supaya masyarakat bisa berpartisipasi dalam pemberdayakan obyek wisata tersebut. Masyarakat mengikuti himbauan seperti yang disampaikan di dalam penyuluhan yang diberikan oleh dinas pariwisata kabupaten Kebumen. Penyuluhan yang diberi pemerintah seperti dengan yang diutarakan oleh YM sebagai Sub.
Pengembangan dan Sumber Daya Pariwisata pada tanggal 3 November 2017 sebagai berikut :
“Dinas Pariwisata memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar kawasan daerah wisata objek Goa Jatijajar. Penyuluhan yang
59
diberikan adalah supaya masyarakat bisa berpartisipasi dalam mengelola dan mengembangkan daerah wisata Goa Jatijajar.
Masyarakat diberikan penyuluhan tentang bagaimana menjaga kebersihan, keamanan, pelayanan kepada wisatawan, memberikan penyuluhan bagaimana mengelola kios-kios yang menjual makanan, aksesoris serta cindera mata. Dinas Pariwisata juga bekerjasama dengan Dinas Perhubungan agar akses lokasi obyek wisata mempermudah wisatawan berkunjung”.
Partisipasi masyarakat dalam memberdayakan obyek wisata Goa Jatijajar dengan cara dengan melakukan kegiatan gotong royong membersihkan kawasan daerah wisata, menjaga, memelihara dan ikut serta promosikan obyek wisata, seperti yang didapatkan dalam penyuluhan yang diberikan oleh Dinas Pariwisata kepada masyarakat. Partisipasi masyarakat lewat kegiatan tersebut berupa pemeliharaan tempat wisata agar terjaga kebersihan serta memberikan kenyamanan bagi para pengunjung ataupun para wisatawan.
Partisipasi masyarakat dalam memelihara dan menjaga lingkungan serta kebersihan di kawasan obyek wisata Goa Jatijajar akan memberikan kenyamanan bagi para wisatawan, terlebih pengelola memberikan sarana dan prasarana pendukung seperti terdapatnya mushola, tempat rest area, kolam pemandian, pendopo, taman bermain kios-kios penjualan makanan, kios-kios penjualan aksesoris serta parkiran yang luas. Masyarakat juga diberikan pengetahuan tentang sejarah obyek wisata Goa Jatijajar agar bisa menjadi pemandu wisata yang bisa menjelaskan kepada wisatawan sejarah terjadinya Goa Jatijajar. Partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan daerah wisata juga yang dilakukan dengan dilakukan jaga keliling untuk mengawasi lingkungan daerah wisata Goa Jatijajar.
60 c. Dampak Obyek Wisata
Kawasan daerah wisata Goa Jatijajar memberikan dampak secara langsung terhadap masyarakat sekitar, baik dampak positif ataupun negatif.
Dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat adalah dampak ekonomi yaitu ketika suatu daerah terdapat daerah wisata maka perekonomian masyarakat akan meningkat karena banyaknya pengunjung yang datang di daerah wisata tersebut, otomatis membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat seperti masyarakat bisa berjualan makanan, minuman, aksesoris, cinderamata, serta berjualan tanaman hias. Dampak negatif yang muncul seperti banyaknya wisatawan yang masuk menambah besar kerusakan lingkungan terutama dari sampah. seperti yang disampaikan NH sebagai warga masyarakat pada tanggal 19 November 2017 sebagai berikut:
“Para wisatawan ataupun pengunjung obyek wisata yang tidak menjaga di obyek wisata akan memberikan dampak menambah kerusakan lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan mencorat coret lingkungan sekitar kawasan obyek wisata, kalau hal tersebut dibiarkan tanpa ada tindakan pengelola tempat wisata maka kerusakan akan semakin parah. Oleh karena itu mestinya semua menjaga lingkungan agar tetap bersih, asri dan nyaman. Di sini pengelola memberikan peringatan kepada pengunjung dan juga para pedagang untuk tetap menjaga kebersihan. Pengelola menyiapkan dengan memberikan kantong kantong sampah dan tulisan Jagalah kebersihan sekitar obyek wisata”.
Dalam bentuk pemberdayaan masyarakat mempunyai dampak sosial bagi masyarakat seperti halnya peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung di obyek wisata membawa masalah seperti membuang sampah sembarangan, pencemaran dan erosi jalan setapak. Semua ini membutuhkan waktu dan biaya untuk membersihkan, serta masalah keamanan pengunjung
61
di kawasan objek wisata. Dinas Pariwisata bekerjasama dengan kepolisian setempat dan melibatkan masyarakat dalam hal keamanan kawasan wisata Goa Jatijajar, seperti yang disampaikan NH sebagai warga masyarakat pada tanggal 19 November 2017 sebagai berikut:
“Secara umum meningkat dari segi perekonomian. Warga bisa berjualan di sekitar kawasan obyek wisata Goa Jatijajar. Kondisi sosial budaya (ekonomi, pendidikan, agama) desa Jatijajar kondisinya positif, dalam arti mayoritas masyarakat desa Goa Jatijajar bekerja sebagai buruh, jadi untuk segi pendapatan masyarakat desa Jatijajar sudah menggantungkan penghidupannya dengan penghasilan dari buruh tersebut, sedangkan dari pendidikan mayoritas masyarakat di desa Jatijajar sudah pernah merasakan sekolah dan mereka tidak begitu tertinggal dengan desa-desa yang lainnya, kalau tentang agama di desa Jatijajar juga sudah baik, mereka sudah melaksanakan ibadah sesuai dengan kepercayaan mereka masing-masing. Namun perlu peningkatan setiap saat, dalam arti setiap orang tidak selamanya akan berbuat baik, jadi perlu adanya penanganan apabila suatu saat nanti terjadi permasalahan di desa Jatijajar ini”.
Wisatawan yang berkunjung di suatu daerah obyek wisata selain menghibur diharapkan mendapatkan kenyaman keamanan. Dinas Wisata Kabupaten Kebumen sudah menjalin kerja dengan kepolisian setempat untuk menjaga keamanan bersama masyarakat setempat di kawasan obyek wisata Goa Jatijajar. Dinas Pariwisata juga meminta bantuan Satpol PP, Kapolsek dan Koramil untuk menjaga keamanan pada saat hari libur dan lebaran.
Pemberdayaan pariwisata mempunyai dampak positif dalam hal budaya. Wisatawan yang berkunjung sangat mempengaruhi terhadap budaya masyarakat sekitar obyek wisata. Kebudayan di desa Jatijajar juga masih kental dengan budaya tradisionalnya serta masih mempertahankannya sampai sekarang. Terlihat dengan sering diselenggarakan kesenian
62
tradisional di hari-hari tertentu. Seperti yang di utarakan oleh SN sebagai Kepala Desa Jatijajar wawancara pada tanggal 3 November 2017, sebagai berikut :
“Selain berdampak pada kehidupan ekonomi dan dalam kebudayaan masih mempertahankan budaya dan kesenian tradisional. Setiap satu tahun diadakan kesenian wayang kulit di kawasan obyek wisata.
Pertunjukan kesenian wayang kulit tersebut sering diadakan bila ada acara atau hari-hari besar.”
Dampak yang terjadi karena adanya objek wisata Goa Jatijajar tersebut semestinya menjadi perhatian yang lebih bagi Dinas Pariwisata untuk lebih memperhatikan agar di dalam pengelolaan kawasan obyek wisata lebih maksimal. Selain menjaga kelestarian budaya lokal juga dapat menjadi produk budaya tersendiri seperti pengembangan sedesa wisata masyarakat mengembangkan usaha pelatihan memproduksi makanan, kerajinan tangan bagi masyarakat desa Jatijajar dan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke obyek wisata Goa Jatijajar.
Wisatawan yang berkunjung di daerah wisata berdampak pada perubahan sosial masyarakat seperti yang disampaikan AR pada tanggal 19 November 2017, sebagai berikut:
“Dampaknya relatif baik dan tidak begitu berpengaruh negatif terhadap kehidupan sosial masyarakat Jatijajar. Keberadaan pengunjung ataupun para wisatawan yang datang pada obyek wisata Goa Jatijajar memberikan dampak terhadap sosio cultural masyarakat sekitar, seperti halnya sikap, perilaku dan gaya ataupun cara berpakaian warga masyarakat.”
Kehadiran para pengunjung wisatawan ke obyek wisata berdampak relatif cukup baik tidak begitu berpengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat desa Jatijajar. Dengan adanya obyek wisata membawa perilaku
63
masyarakat memiliki kesadaran dalam peningkatan potensi wisata yang ada.
Masyarakat melakukan usaha-usaha yang membangun kehidupan perekonomiannya. Dinas pariwisata juga menyediakan lahan ruko-ruko atau kios-kios untuk disewakan kepada masyarakat untuk menjalankan usaha- usaha berdagang.
Seperti yang dijelaskan MY sebagai Pengembangan dan Sumber Daya Pariwisata pada wawancara 3 November 2017, sebagai berikut:
“Ya, dengan menjaga kelestarian, kebersihan dan keamanan”. “Dinas Pariwisata telah mnyediakan tempat untuk pelaku usaha yang ingin membuka usaha berdsgang di kawasan obyek wisata. Masyarakat mendapat keuntuan dengan berdagang di kawasan obyek wisata, dan mengurangi pengangguran dan menambah lapangan pekerjaan”.
Keterlibatan masyarakat sangat diharapkan ikut berpartisipasi menjaga ketertiban kawasan obyek wisata agar wisatawan yang berkunjung merasa nyaman dan aman dalam berwisata. Agar menciptakan kesadaran masyarakat sasa memiliki. Untuk menciptakan keamanan kenyamanan wisatawan berkunjung Dinas Pariwisata bekerjasama dengan masyarakat dan instasi instasi kepolisian kapolsek dan koramil.
B. Pembahasan
1. Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Obyek Wisata Goa Jatijajar
Kebijakan Pemerintahan Kabupaten Kebumen dalam pengembangan obyek wisata Goa Jatijajar, sesuai dengan pernyataan Spillane yang menyatakan bahwa Pemerintahan Daerah Kabupaten Kebumen menyediakan sarana dan prasarana guna pengembangan daerah wisata tersebut. Seperti
64
halnya dalam wawancara peneliti terhadap kepala sub bagian perencanaan dan keuangan yakni AP pada 15 Oktober 2017 bahwa pemerintahan daerah memberikan alokasi dana untuk membangun infrastruktur dengan merenovasi kembali kawasan parkir, pasar kios dan membangun taman permain di kawasan obyek wisata juga memberikan pembinaan dan penyuluhan terhadap masyarakat dalam pengembangan obyek wisata Goa Jatijajar.
Kebijakan pemerintah dalam kebijakan ekonomi menjadi tiga macam kebijakan menurut tingkat agregasinya (ruang lingkup atau bentuk serta luas sasaranya), yaitu: Pertama, kebijakan ekonomi makro yaitu kebijakan pemerintah yang ditujukan pada semua perusahaan tanpa melihat jenis kegiatan. Dinas Pariwisata kabupaten Kebumen dalam menggunakan kebijakan pemerintah dalam hal peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memberdayakan potensi wisata melalui pemberdayaan. Kedua, kebijakan ekonomi meso yaitu kebijakan publik yang bersifat mesoyang sifatnya menengah atau disebut dengan penjelas pelaksanaan.
Kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri, Surat Edaran Menteri, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, Peraturan Wali Kota, Keputusan bersama atau SKB antar menteri, Gubernur dan Bupati atau wali kota. Sesuai dengan perda rencana induk pembangunan pariwisata kabupaten Kebumen 2017-2025. Pembangunan kepariwisataan Kabupaten Kebumen meliputi destinasi pariwisata; pemasaran pariwisata; industri pariwisata; dan kelembagaan kepariwisataan. Kebijakan pemerintah yang ketiga, Kebijakan ekonomi mikro, yaitu Kebijakan publik yang bersifat mikro, mengatur jalannya implementasi dari kebijakan publik di atasnya. Bentuk kebijakan ini seperti peraturan yang dibuat oleh aparat-aparat publik yang kedudukannya di bawah Menteri, Gubernur, Bupati dan Wali
65
Kota. Dinas pariwisata dalam menggerakkan potensi serta partisipasi masyarakat untuk mendukung terlaksananya kegiatan wisata desa seperti halnya daerah wisata Goa Jatijajar.
Peran pemerintah senada dengan pernyataan Spillane dalam mengembangkan pariwisata dalam garis besarnya adalah menyediakan infrastruktur (tidak hanya dalam bentuk fisik), memperluas berbagai bentuk fasilitas, kegiatan koordinasi antara aparatur pemerintah dengan pihak swasta, pengaturan dan promosi umum. Pemerintah berupaya untuk menarik masyarakat untuk beroatisipasi. Antara lain: Pembinaan produk, pemasaran dan penyuluhan masyarakat pariwisata (Spillane 1987: 116).
Pembagian unsur pemasaran menurut Spillane (1987: 116) terbagi menjadi:
a) Panduan pengelolaan (Product Mix), konsumen atau pengunjung memerlukan jenis-jenis obyek wisata dan sarana wisata tertentu.
b) Panduan proses penyebaran (Distribution Mix), dalam proses ini merupakan operasi yang besar untuk membawa konsumen pada produknya.
c) Panduan komunikasi dan penerangan (Communication Mix), dalam proses ini digunakan beberapa jenis pendekatan, pendekatan tersebut antara lain:
pendekatan dengan cara Sales Protion, Pendekatan yang bersifat Image Promotion, pendekatan melalui pemberian jasa penerangan, panduan jasa pelayanan.
66
Dinas wisata Goa Jatijajar dalam upaya pengelolaan dan pemberdayaan obyek wisatanya melalui upaya cara pemasaran seperti halnya yang diutarakan oleh Spillane yang ada pada tabel sebagai berikut :
Tabel 6.
Pembagian panduan unsur pemasaran
No. Bentuk Penjelasan Sasaran/target
1. Pengelolaan (Product Mix)
Berbagai informasi wisata
Konsumen/Pengunjung lokal atau asing 2. Proses penyebaran
(Distribution Mix) Penyebaran brosur, leaflet, baliho, website, social media 3. Panduan komunikasi
dan penerangan (Communication Mix)
Komunikasi antara penyedia jasa pariwisata dengan konsumen lewat perantara
Dinas pariwisata Goa Jatijajar dalam kunjungan wisata selama Idul Fitri 1440 H kabupaten Kebumen, seperti halnya yang dilihat dari tabel 7 dan grafik 1 sebagai berikut:
67 Tabel 7.
Data Kunjungan obyek wisata selama Idul Fitri 1440 H Kabupaten Kebumen
No. Hari/ tanggal /tahun Jumlah kunjungan
1 5 Juni 2019 1354
2 6 Juni 2019 10289
3 7 Juni 2019 13140
4 8 Juni 2019 32010
5 9 Juni 2019 13679
6 10 Juni 2019 8846
7 11 Juni 2019 9617
8 12 Juni 2019 4998
Sumber Data : Website http://www.pariwisatakebumen.com/2019 Grafik 1
Data Kunjungan wisata Goa Jatijajar jelang idul fitri 1440H
Sumber: Data diolah
Grafik 1 menunjukkan bahwa selama Idul Fitri 14440 H di daerah wisata Goa Jatijajar kabupaten Kebumen bahwa kunjungan wisata mengalami peningkatan pada tanggal 8 Juni 2019 sebanyak 32010 kunjungan. Data tersebut menunjukkan peningkatan kunjungan meningkat karena adanya penyebaran informasi melalui upaya pemasaran yang dilakukan dinas pariwisata kabupaten Kebumen.
68
Kebijakan kabupaten Kebumen telah melakuan upaya pengelolaan dengan memberdayaan obyek wisata yaitu membangun sarana dan prasarana untuk kenyamanan para wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Goa Jatijajar. Pemerintahan daerah juga sudah menyediakan brosur dan pamlet terkait promosi daerah wisata di daerah Kebumen lewat berbagi di sosial media. Pemerintahan juga telah memberikan pelayanan melalui tour guide dan kerjasama dengan hotel dan agensi tour wisata serta masyarakat sekitar untuk memperkenalkan wisata di kabupaten Kebumen terkhusus di obyek wisata Goa Jatijajar.
Kebijakan Pemerintah Kebumen dalam memberdayakan dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen. Dinas Pariwisata bekerja sama dengan masyarakat secara bersama-sama melakukan peningkatan pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar. Pemberdayaan yang mereka lakukan adalah pembinaan Produk Pariwisata dan pemasaran, selain pada itu Dinas Pariwisata dengan masyarakat mengadakan promosi untuk memperkenalkan obyek wisata yang ada di Kabupaten Kebumen dengan menyebarkan pamflet kepada masyarakat secara luas.
Pembinaan produk wisata merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan mutu maupun pelayanan dari berbagai unsur produk wisata, misalnya jasa penginapan, jasa angkutan wisata, jasa hiburan, makanan, jasa tur dan sebagainya. Pembinaan tersebut dapat berupa pengarahan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan dan produk, sedangkan pemasaran merupakan kegiatan untuk penawaran produk , sehingga pembeli mendapat kepuasan dan
69
penjual mendapatkan keuntungan maksimal dengan resiko sekecil-kecilnya (Spillane,1987: 135).
Dinas Pariwisata meningkatkan produk wisata di obyek wisata Goa Jatijajar antara lain dengan melakukan pembinaan berupa pembentukan paguyuban-paguyuban kios pedagang dan penjual souvenir atau cindera mata, juga kelompok paguyuban baik dalam lingkungan maupun di luar lingkungan obyek wisata dan pada momen-momen tertentu ikut berpartisipasi dalam rangka peningkatan sadar wisata, pembinaan ini terutama diberikan pada petugas wisata, agar mereka dapat memberikan pelayanan yang baik pada tiap pengunjung, sedangkan pada masyarakat pembinaan biasanya diberikan dengan tujuan agar masyarakat lebih dapat menjaga keberadaan obyek wisata tersebut. Dengan adanya pembinaan sadar wisata tersebut sebuah wisata akan mengalami kemajuan, karena akan memberikan kepuasan pada wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Goa Jatijajar.
Dinas pariwisata tersebut tidak lepas tangan dengan adanya potensi pariwisata di wilayah tersebut. Dengan adanya upaya yang dilakukan dinas pariwisata tersebut diharapkan masyarakat bisa bekerja sama dalam meningkatkan potensi wisata yang sudah ada. Penuturan yang sama juga dijelaskan oleh SH sebagai kepala Sub. Destinasi dan Daya Tarik Wisata wawancara pada tanggal 15 Oktober 2017 bahwa Dinas Pariwisata dalam upaya pemberdayaan obyek pariwisata Goa Jatijajar setiap tahunnya telah mengeluarkan anggaran untuk pengembangan wisata Goa Jatijajar dengan fasilitas seperti membangun taman bermain, taman bunga, dan teater seni.
70
Fasilitas di obyek wisata Goa Jatijajar membangun tempat parkir yang lebih luas, taman dan ruko-ruko di kawasan wisata. Di samping juga melaksanakan studi banding ke daerah lain dalam rangka pengembangan obyek, seperti pameran pembangunan untuk menambah daya tarik wisatawan berkunjung ke obyek wisata Goa Jatijajar.
Usaha yang dilakukan Dinas Pariwisata dalam upaya pengembangan pariwisata Goa Jatijajar tersebut melalui banyak cara yaitu dengan menjalin kerjasama dengan pihak swasta. Usaha tersebut berupa partisipasi dalam pameran-pameran yang diadakan pihak swasta. Kesempatan tersebut digunakan untuk mensosialisasikan obyek wisata Goa Jatijajar secara lebih sempurna, hingga dapat dikenal masyarakat secara luas dan menarik daya tarik wisatawan, baik lokal, nasional, hingga wisatawan asing.
Dinas Pariwisata Kebumen telah melakukan pemberdayan wisata Goa Jatijajar dengan berbagi cara, seperti mengadakan pembinaan terhadap pihak yang bertanggung jawab terhadap obyek wisata, dalam hal ini adalah petugas petugas pariwisata sendiri sampai pada masyarakat sekitar obyek wisata, pembinaan akan sadar wisata bagi masyarakat, kerjasama dengan instansi lain, dan penambahan fasilitas tiap tahunnya.
Masalah kebijakan (policy problem) (Dunn, 2013: 107) adalah nilai kebutuhan, atau kesempatan yang belum terpenuhi, yang belum di identifikasi, dan untuk diperbaiki atau dicapai melalui tindakan publik.
Pengetahuan melalui masalah apa yang memerlukan pemecahan membutuhkan informasi mengenai kondisi yang mendahului permasalahan
71
(sebagai contoh, putus sekolah yang merupakan kondisi yang menyebabkan pengangguran), maupun informasi tentang nilai (sebagai contoh, sekolah yang lebih baik atau kesempatan kerja penuh) yang pencapaianya dapat mendorong pada penyelesaian permasalahan. Dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen juga melakukan upaya menyediakan lapangan pekerjaan di kawasan Goa Jatijajar.
Dalam penyediakan lapangan pekerjaan terkait pemberdayaan masyarakat di lingkungan obyek wisata Go Jatijajar seperti yang disampaikan oleh AP selaku kepala Sub. Perencanaan dan keuangan bahwa pemerintahan daerah memberikan pencerahan berupa informasi lapangan pekerjaan, dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar obyek wisata.
Pemerintah Dinas Pariwisata membangun ruko untuk disewakan agar masyarakat bisa berjualam di sekitar kawasan obyek wisata, masyarakat sekitar membuka lahan parkir di sekitar kawasan obyek wisata.
Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melestarikan kawasan Wisata Goa Jatijajar. Pemangku kebijakan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mengelola, menjaga kebersihan dan menjaga kebersihan obyek wisata agar membuat masyarakat mempunyai rasa memiliki. Dunn (2003: 129) mengatakan analisis kebijakan diharapkan untuk menghasilkan dan mentransformasikan tentang nilai-nilai, fakta-fakta, dan tindakan tindakan. Kebijakan seharusnya memberikan dampak positif bagi masyarakat sebagaimana yang diutarakan SH selaku Kepala Sub. Destinasi dan Daya Tarik Wisata menyatakan bahwa Dinas
72
pariwisata mengadakan penyuluhan Sapta Pesona dan Sadar wisata. Dinas Pariwisata menyampaikan nilai-nilai, fakta-fakta dan tindakan-tindakan yang berdampak positif bagi masyarakat. Dengan adanya penyuluhan maka masyarakat ada rasa memiliki dan menjaga serta merawat daerah obyek wisata Goa Jatijajar.
Kebijakan (Policy) dan perencanaan (Planning) adalah dua hal yang sering dikaitkan satu sama lain. Kebijakan dan perencanaan bagaimana suatu kebijakan ditetapkan sedangkan kebijakan juga sangat tergantung dari bagaimana perencanaan kegiatan pariwisata. Menurut Wilkinson (Junaidi 2016: 52) berpendapat bahwa perencanaan dapat dipahami sebagai rangkaian tindaakan (action), sedangkan kebijakan berarti implementasi dari rangkaian tindakan yang telah direncanakan. Hal senada juga di ungkapkan oleh MY wawancara pada tanggal 3 November 2017 yang menyatakan bahwa Dinas Pariwisata, membangun infrastruktur di dalam dan di luar kawasan obyek wisata. Agar para pengunjung datang merasa nyaman. Dinas pun mensosialisasikan kepada masyarakat Pentingan bimbingan dan penyuluhan kepada masayarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memberdayakan Obyek Wisata. Masyarakat ikut serta memberdayakan Obyek Wisata dan timbulnya rasa memiliki menjaga kebersihan dan keamanan di kawasan obyek wisata. Dengan realitanya, kebijakan banyak berkaitan dengan pemerintah diyakini sebagai penentu kebijakan (policy maker) terhadap hal hal yang berkaitan dengan kepariwisataan. Kebijakan
73
dalam konteks pariwisata ini juga dapat berarti apa yang harus dijalankan atau dilakukan dan apa yang tidak di lakukan berdasarkan suatu kebijakan.
Dari adanya berbagai upaya Dinas untuk mengadakan pemberdayaan terhadap obyek wisata Goa Jatijajar, maka upaya tersebut telah dilaksanakan dengan baik, terbukti dengan adanya berbagai perubahan yang terjadi di Obyek wisata Goa Jatijajar pada sekarang dibandingkan dengan obyek wisata Goa Jatijajar yang dulu. Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah daerah guna pemberdayaan objek pariwisata Goa Jatijajar merupakan sebuah konsep struktural dimana melibatkan seluruh elemen baik itu dari segi fisik dalam hal ini terwujud sarana prasarana. Sarana non fisik berupa penyuluhan- penuluhan sadar wisata kepada masarakat. Dimana isinya guna menumbuhkan kesadaran dan perannya sebagai tuan rumah untuk menerapkan wujud Sapta Pesona.
Sasaran konsep AGIL adalah pada pengunjung dan masyarakat.
Konsep adaptasi yaitu masyarakat beradaptasi dengan para wisatawan yang berkunjung di tempat obyek wisata seperti apa yang diharapkan dan dibutuhkan para wisatawan. Konsep pencapaian tujuan yaitu dinas pariwisata dalam pemberdayaan masyarakat mengutamakan kenyamanan wisatawan serta pelayanan agar pengunjung nyaman dan senang dan merasa terhibur.
Konsep integrasi yaitu pelibatan masyarakat dalam pengelolaan obyek wisata untuk mencapai tujuan wisata supaya wisatawan berkunjung dan menikmati obyek wisata. Konsep pemeliharaan yaitu di mana masyarakat sekitar obyek
74
pariwisata diberdayakan untuk tetap bisa menjaga dan memelihara obyek wisata agar terjaga dan memberikan kenyamanan pengunjung.
Konsep struktural demikian sama hal dengan konsep AGIL (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency) yang dikemukakan oleh Talcot Parson dalam (Ritzer, 2003: 121). Dengan penjelasan sebagai berikut:
(1) Adaptation (Adaptasi) sebuah sistem harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya; (2) Goal attainment (Pencapaian tujuan) sebuah sistem harus mendefisinikan dan mencapai tujuan utamanya; (3) Integration (Integrasi) sebuah sistem harus mengatur antar hubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistem harus juga mengelola antar hubungan ketiga fungsi pentingan lainnya (A, G, L);
(4) Latency (Latensi atau pemeliharaan pola) sebuah sistem harus memperlengkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Konsep AGIL tersebut juga sama dilakukan dalam kebijakan yang dilakukan pemerintahan daerah dalam hal ini dinas wisata seperti penjelasan yang dituturkan oleh MY sebagai Sub. Pengembangan dan Sumber Daya Pariwisata pada tanggal 3 November 2017 menjelaskan bahwa pemerintahan melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui bimbingan-bimbingan kepada masyarakat agar terwujud lewat partisipasi dari semua pihak termasuk di dalamnnya partisipasi masyarakat di sekitar obyek wisa Goa Jatijajar.
75
Dinas Pariwista mengadakan pemberdayaan terhadap obyek wisata Goa Jatijajar, maka upaya tersebut telah dilaksanakan dengan baik, terbukti dengan adanya berbagai perubahan yang terjadi di obyek wisata Goa Jatijajar misalnya dengan membangun kebun binatang yang disesuaikan dengan diorama alam di sekitar wisata Goa jatijajar. Usaha-usaha yang dilakukan untuk wisata Goa Jatijajar guna mencapai tujuan dari Sapta Pesona. Kedua hal tersebut di atas merupakan konsep integritas yang saling terkait yaitu guna tercapainya sebuah pemberdayaan yang baik.
Kebijakan pemerintahan kabupaten Kebumen dalam pengembangan pariwisata tidak lepas dari perkembangan sosial masyarakat. Kebijakan- kebijakan yang dibentuk oleh pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat di kawasan obyek wisata akan menjadikan masyarakat berpartisipasi untuk ikut serta dalam peningkatan potensi wisata dengan cara menjaga, memelihara dan melakukan kegiatan yang bisa meningkatkan potensi daerah wisata Goa Jatijajar. Keikutsertaan masyarakat dalam pemberdayaan dapat meningkatkan taraf kehidupan ekonomi masyarakat di kawasan obyek wisata.
Kebijakan yang diterapkan pemerintah kabupaten Kebumen berfungsi integrasi yaitu menyatukan berbagai macam kebudayaan yang ada di dalam masyarakat untuk disajikan menjadi sajian wisata. Sistem kultur budaya menjalankan fungsi, norma dan nilai-nilai yang memotivasi mereka untuk bertindak dan mengembangkan potensi masyarakat dalam pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar. Masyarakat dalam pemberdayaan potensi daerah wisata dituntut untuk menjaga, memelihara dan memperbarui motivasi
76
individu ataupun pola-pola budaya yang menciptakan kreasi budaya serta mempertahankan motivasi tersebut.
2. Partisipasi Masyarakat Dalam Pemberdayaan Obyek Wisata Goa Jatijajar
Pada hakikatnya pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Didasarkan bahwa masyarakat yang sama sekali tidak memiliki kemampuan. Setiap masyarakat pasti memiliki kemampuan, tetapi mereka tidak menyadari hal tersebut secara eksplisit. Maka pemberdayaan adalah upaya membangkitkan kesadaran, mendorong dan memotivasi potensi yang dimiliki untuk dikembangkan, pemberdayaan mengantar pada proses kemandirian masyarakat (Tri Winari, 1998:76).
Pemberdayaaan melalui partisipasi masyarakat merupakan kunci utama untuk perkembangan obyek wisata, karena keberhasilan pengembangan pariwisata sangat tergantung pada hal positif masyarakat dan sikap sadar akan keberadaantempat wisata. Ada beberapa macam partisipasi yang di kemukaakan oleh ahli. Menurut Sundariningrum (Sugiyah, 2010: 38) mengklasifikasikan partisipasi menjadi dua berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu:
a. Partisipasi secara langsung, partisipasi terjadi apabila individu menampilkan kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Partisipasi ini terjadi apabila setiap orang dapat mengajukan pandangan membahas pokok permasalahan, mengajukan keberatan terhadap keinginan orang lain atau terhadap
77
ucapannya. Partisipasi langsung yang dilakukan masyarakat adalah seperti yang disampaikan oleh AP selaku Sub perencanaan dan keuangan pada tanggal 12 Oktober 2018, sebagai berikut:
“Ya, masyarakat ikut berpartisipasi dan bekerjasama dalam menunjang terwujudnya obyek wisata Goa Jati Jajar yang ramah wisata, Partisipasi masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat mewujudkan sapta pesona. Unsur sapta pesona aman, tertib, sejuk, ramah tamah, indah, dan kenangan”.
Keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi faktor penunjang terwujudnya tujuan wisata yang ramah dan sadar wisata. Partisipasi langsung ini berupa keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban objek wisata supaya wisatawan nyaman dan aman dalam berkunjung.
b. Partisipasi secara tidak langsung, partisipasi yang terjadi apabila individu mendelegasikan hak partisipasinya pada orang lain. Partisipasi langsung yang dilakukan masyarakat adalah seperti yang disampaikan oleh AP selaku Sub perencanaan dan keuangan pada tanggal 12 Oktober 2018, sebagai berikut:
“Ya, masyarakat ikut berpartisipasi secara tidak langsung seperti ikut menunjang program dinas pariwisata dalam upaya sadar wisata melalui ikut mempromosikan obyek wisata Goa Jatijajar lewat promosi di media sosial ”.
Keterlibatan masyarakat secara tidak langsung dengan memberikan ide-ide pengembangan wisata dan promosi pariwisata lewat penyebaran brosur dan melalui media sosial.
78
Agar partisipasi dapat terjalin maka perlu adanya kerjasama, kerjasama tersebut dapat terjalin antara masyarakat dengan Dinas pariwisata, maka Dinas pariwisata telah melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan atau meningkatkan partisipasi masyarakat agar dapat diajak untuk kerjasama.
Bahwa upaya Dinas Pariwisata selama ini dalam hal kegiatan atau event-event pariwisata selalu koordinasi dan bekerjasama dengan Dinas/Instansi lain serta pihak swasta guna kemajuan dan pengembangan obyek wisata Goa Jatijajar, Dinas Pariwisata selama ini selalu kerjasama dengan mitranya seperti; Mayarakat, Paguyuban, Travel, Deperindak (Dinas Perdagangan dan Koperasi) mencakup masyarakat pedagang, pengrajin dan pembuat makanan Satpol PP, Aparat Kepolisian, dan Muspika (Camat, Polsek, dan Koramil) juga Dinas P dan K. Dengan adanya kerjasama tersebut maka dapat dilihat bahwa partisipasi masyarakat terhadap pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar sangat positif, terbukti program-program yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata. Peserta/masyarakat menyambut baik dalam kegiatan yang diantaranya adalah Penyuluhan bimbingan sadar wisata kepada masyarakat, Pendidikan kepariwisataan mulai tingkat sekolah dasar di Kabupaten Kebumen, disamping sadar wisata pemerintahan juga memberikan pendidikan untuk pembentukan karakter (Intan, 2016: 139-148) pendidikan karakter masyarakat meski ditanamkan mulai dari usia dini dan kemudian ketika anak di sekolah dasar sampai kuliah.
79
Masyarakat dalam berpatisipasi di kabupaten Kebumen dalam mengembangkan potensi pariwisata dengan ikut berpartisipasi secara langsung sesuai dengan prinsip partisipasi yang dikemukakan Monique Sumampouw (2004: 106-107) yaitu pertama semua masyarakat, organisasi atau komunitas ikut terlibat dalam pengembangan obyek wisata Goajatijajar baik sarana ataupun prasarana. Kedua, semua masyarakat berpotensi ikut serta berpartisipasi dalam menyumbangkan ide dan ketrampilannya menunjang pariwisata. Ketiga, Dinas Pariwisata dan masyarakat berdialog dan berkomunikasi secara terbuka dan transparan agar terciptalah komunikasi yang baik guna pengembangan obyek wisata Goa Jatijajar. Keempat, Keputusan-keputusan yang diambil dalam pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah mufakat dengan pengampu kebijakan dan organisasi, paguyuban yang terkait agar tercapainya kesejahteraan. Kelima, Dinas Pariwisata dan masyarakat mempunyai tanggungjawab yang sama terhadap keputusan yang sudah di sepakati bersama. Keenam, Berbagai pihak ikut terlibat dalam semua proses kegiatan. Masyarakat harus berperan aktif untuk mentupi kekurangan yang terjadi dalam pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar.
Upaya yang telah ditempuh Dinas Pariwisata Kebument, maka partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar telah terlaksana dengan baik terbukti dengan adanya kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Dinas dan masyarakat ikut berpartisipasi di dalam kegiatan tersebut. Tingkat partisipasi masyarakat yang tidak dideteksi oleh pemerintah,
80
seperti kebersihan alam, satwa-satwa yang masih banyak disekitar Goa Jatijajar dan lain-lain. Kesadaran masyarakat dalam ikut serta memberdayakan obyek wisata Goa Jatijajar, juga dapat dilihat melalui partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan sarana dan prasarana obyek wisata Goa Jatijajar. Bentuk partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan obyek wisata Goa Jatijajar sebagai berikut:
a. Keamanan
Keamanan merupakan hal terpenting dalam obyek wisata, terutama untuk keamanan wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata. Keamanan akan terwujud apabila sikap masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar obyek wisata mempunyai sikap yang positif terhadap pengunjung.
Masyarakat di sekitar obyek wisata juga turut serta dalam menjaga keamanan di obyek wisata, seperti yang diutarakan oleh SH sebagai Sub Destinasi dan Daya Tarik Wisata wawancara pada tanggal 15 Oktober 2017 yang menjelaskan mengenai masyarakat ikut menjaga keamanam di obyek wisata, apalagi obyek wisata di sini juga termasuk di desa kami, jadi seperti kalau ada hiburan di obyek wisata warga juga ikut berjaga-jaga, kalau-kalau ada perkelahian bisa melerainya, kalau malam juga ada ronda keliling sekalian jaga desa, kalau-kalau ada pencuri. Selain itu kalau ada pengunjung juga di jamin aman warga di sini orangnya baik-baik, dijamin tidak akan ada barang yang hilang milik pengunjung, kalau dalam menjaga keamanan benda-benda, seperti bangunan yang ada di obyek wisata, saya kira warga di sini tidak berani mengambil, merusak apalagi sampai membawa pulang barang yang
81
ada di obyek wisata, kalau berani pastilah ketahuan petugas, atau ketahuan warga, karena soal keamanannya warga kami sangat waspada supaya tidak terjadi hal-hal yang tidaak diinginkan.
Selanjutnya DN sebagai pengelola obyek wisata juga menyampaikan pada tanggal 3 November 2017, bahwa, kesadaran masyarakat dalam memberdayakan obyek wisata cukup positif, terutama dalam hal keamanan, masyarakat yang bertempat tinggal disekitar obyek wisata, mereka selalu bersikap positif terhadap wisatawan yang datang, maksudnya mereka tidak mau mengganggu kenyamanan wisatawan. Penjagaan di obyek wisata juga sudah bagus, misalnya tempat parkir, di obyek wisata Goa Jatijajar telah terdapat tempat parkir yang aman karena telah di jaga dan dikelola oleh petugas pariwisata, sehingga pengunjung yang datang ke obyek wisata akan merasa aman bila kendaraanyan dititipkan di tempat parkir, selain itu di obyek wisata Goa Jatijajar juga terdapat pos keamanan, selain untuk penjualan tiket, di tempat tersebut juga ditempati oleh petugas yang tugasnya menjaga keamanan di obyek wisata Goa Jatijajar. Keamanan obyek wisata Goa Jatijajar tergolong sudah aman, dan dengan pelayanan keamanan tersebut wisatawan dapat menikmati liburannya di obyek wisata Goa Jatijajar dengan tenang.
b. Pelayanan
Dalam menyambut wisatawan yang datang ke obyek wisata Goa Jatijajar, masyarakat ikut serta memberikan pelayanan yang sangat baik, terutama bagi warga yang berjualan di obyek wisata tersebut, mereka
82
memberikan layanan yang baik kepada pembeli, pelayanan tersebut juga dapat dilihat pada saat libur banyak anak sekolah yang mengisi liburannya dengan berjualan minuman sambil menawarkan tikar untuk dipinjamkan pada pengunjung, dengan upah yang menurut mereka bisa dijadikan tambahan uang jajan.
Pada saat liburan, seperti lebaran tentunya jumlah wisatawan yang berkunjung akan bertambah banyak, hal seperti ini juga dimanfaatkan oleh warga untuk memberikan jasa sekaligus mendapatkan upah yang menurut mereka lumayan. Pelayanan tersebut seperti membiarkan rumahnya untuk dijadikan tempat parkir, karena tempat parkir yang ada di obyek wisata sudah tidak memadai lagi, selain itu pelayanan juga bisa diwujudkan seperti penyewaan teropong pada wisatawan untuk melihat pemandangan.
Masyarakat setempat juga menyediakan fasilitaas yang sekiranya di obyek wisata belum ada, seperti adanya wartel dan tempat untuk istirahat.
Petugas wisata yaitu DN sebagai Pengelola obyek wisata menuturkan penjelasanya pada tanggal 3 November 2017 bahwa pelayanan terhadap pengunjung dan masyarakat pengunjung obyek wisata sangatlah diprioritaskan. Dinas pariwisata selalu berpedoman pada norma pelayanan ataupun servis secara umum dengan tidak bertentanggan dengan aturan- aturan yang ada di Kabupaten Kebumen seperti Perda Kabupaten Kebumen, Peraturan Daerah Bupati dan peraturan lainnya. Kini dari dinas sudah merenofasi tempat pembelian tiket, pintu masuk obyek wisata dan ruang tunggu agar wisata lebih nyaman berada di obyek wisata. Menurut data yang
83
peneliti dapat di lapangan, pelayanan yang diberikan oleh masyarakat sudah bagus, masyarakat juga ikut berpartisipasi memberdayakan obyek wisata Goa Jatijajar yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dengan memberikan pelayanannya kepada pengunjung obyek wisata.
c. Kemudahan transportasi
Fasilitas-fasilitas dan pelayanan-pelayanan angkutan yang mencukupi penting untuk berhasilnya pengembangan pariwisata. Fasilitas angkutan sangat mendukung dalam pencapaian tujuan untuk menentukan jarak dan waktu menuju obyek wisata. Penjelasan yang di tuturkan oleh MY sebagai kepala sub Pengembangan dan Sumber Daya Pariwisata pada wawancara tanggal 3 November 2017 menjelaskan bahwa dalam kemudahan transportasi Dinas Pariwisata sudah bekerjasama dengan Dinas Tranportasi dan berkerjasama dengan Paguyuban bus atau Angkot dan masyarakat bekerjasama untuk mempermudah wisatawan berkunjung, seperti petunjuk arah, poster atau papan iklan di sepanjang jalan menuju obyek wisata.
Fasilitas angkutan jalan raya, hal ini tentu harus memperhatikan beberapa hal, hal-hal tersebut antara lain:
1) Ciri khas jalan-jalan yang ada, termasuk lokasi yang berhubungan dengan tempat akomodasi wisatawan, kapasitas lalu lintas, kecepatan yang dapat ditempuh pada jalan, konstruksi jalan, dan pemeliharaannya.
2) Volume lalu lintas dan peraturan-peraturan lalu lintas serta keamanan.
3) Kualitas pelayanan perusahaan angkutan pemerintah, swasta, termasuk bis, taksi, persewaaan-persewaan mobil.
84
4) Untuk angkutan dalam kota harus disurvei ciri-ciri khas sistem angkutan kota, misalna, bis, jalan-jalan yang melalui kota, taksi, tempat parkir dan sebagainya (Spillane, 1985: 120-121)
Untuk menuju obyek wisata Goa Jatijajar sekarang ini sudah tidak mengalami kesulitan lagi, karena sarana trasportasi sudah banyak tersedia, selain itu jalan untuk menuju obyek wisata sudah diaspal semua, sehingga memudahkan wisatawan dari berbagai daerah untuk mengunjungi obyek wisata Goa Jatijajar. Berdasarkan penjelasan yang dituturkan oleh MY sebagai Kepala Pengembangan dan Sumber Daya Pariwisata pada tanggal 3 November 2017 menjelaskan bahwa sarana transportasi yang ada difasilitasi oleh Dinas Perhubungan dan swasta, namun pada event tertentu seperti pelaksanaan Wisata Pendidikan (WISDIK) dan lain-lain diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata secara khusus dan swasta yang juga ikut mensupport.
d. Pengelolaan dan penambahan sarana dan prasarana
Kesediaan sarana dan prasarana yang dituturkan SH sebagai Kepala Destinasi dan Daya Tarik Wisata pada tanggal 15 Okober 2017 bahwa dalam pengelolaan sarana dan prasarana obyek wisata Goa Jatijajar, kini dengan penambahan fasilitas obyek seperti yang sudah berjalan membangun ruko tempat berjualan di dalam maupun di luar kawasan wisata, memperluas tempat parkir yang disediakan oleh dinas pariwisata yang langsung melibatkan masyarakat dalam pelaksanaannya adalah salah satu wujud dari penambahan fasilitas yang Dinas laksanakan tiap tahunnya.
85
Penjelasan yang disampaikan oleh SH sebagai Kepala Destinasi dan Daya Tarik Wisata wawancara pada tanggal 15 Oktober 2017 bahwa sarana dan prasarana yang ada pada obyek wisata Goa Jatijajar cukup lengkap dengan adanya hotel, rumah makan, dan kios-kios aksesoris dan lain-lain yang dikelola oleh masyarakat. Terpenuhinya fasilitas bagi para wisatawan sudah lumayan, akan tetapi perlu adanya pengembangan untuk masa yang akan datang. Dengan adanya partisipasi masyarakat dalam ikut mengadakan penambahan-penambahan fasilitas yang belum ada dalam obyek wisata Goa Jatijajar akan menambah wisatawan yang berkunjung merasa kebutuhan mereka terpenuhi.
e. Kebersihan
Kebersihan suatu obyek wisata adalah suatu hal yang harus diperhatikan dan selalu dilaksanakan, karena dengan terciptanya kebersihan maka akan semakin betah membuat wisatawan merasa naman di obyek wisata tersebut. Seperti yang telah disampaikan oleh DR sebagai Pengelola obyek wisata, pada tanggal 3 November 2017 bahwa pengelola menciptakan suasana aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan. Upaya menjaga kebersihan lingkungan obyek wisata, Dinas Pariwisata selalu menjalin kerjasama dengan masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat dalam memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan obyek wisata Goa Jatijajar cukup positif, mereka mau membantu untuk tetap menjaga kebersihan seperti dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, dan bagi pedagang yang berjualan di obyek pariwisata selalu menyediakan tempat
86
sampah di depan warungnya, walaupun dari pihak Dinas Pariwisata telah menyediakan tempat sampah umum.
Obyek wisata Goa Jatijajar memang salah satu obyek wisata yang terkenal akan kesejukan dan kesegaran udaranya, hal ini berkat kerja keras petugas dinas dan masyarakat dalam menjaga kebersihan obyek wisata tersebut. Sehingga, kesejukan dan kesegaran udaranya tetap terjaga. Pada wawancara selanjutnya DR sebagai Pengelola Obyek Wisata, menambahkan pada 3 November 2017 bahwa walaupun sudah ada petugas pariwisata yang bertugas membersihkan lingkungan obyek wisata, tetapi pada saat-saat tertentu kerjasama antara dinas dengan masyarakat juga sering terjalin, khusus obyek wisata Goa Jatijajar Dinas Pariwisata dengan para pedagang di obyek wisata Goa Jatijajar melakukan kerja bakti bersama untuk menghadapi kegiatan pesta lebaran. Kebersihan obyek wisata Goa Jatijajar selalu dijaga kebersihannya, ada petugas yang selalu membersihkan menjaga kebersihan.
Dinas Kabupaten juga menghimbau masayarakat untuk menjaga kebersihan kawasan obyek wisata, setiap minggunya masyarakat bergotong royong kerja bakti untuk membersihan sampah.
f. Adanya tambahan hiburan
Dari hasil penelitian yang dilakukan, bahwa pada saat-saat tertentu di obyek wisata Goa Jatijajar telah menyajikan hiburan untuk wisatawan yang berkunjung, seperti saat kunjungan wisatawan asing, masyaraakat menyambut wisatawan dengan hiburan-hiburan tradisional, mereka menyajikan hiburan seperti kuda lumping, rebana dan tarian tradisional
87
lainnya. Secara garis besar keberadaan Goa Jatijajar di tengah-tengah masyarakat memberikan dampak yang bersifat positif maupun negatif, misalnya warga sekitar obyek wisatamembuka usaha kios, souvenir, dan oleh-oleh serta jasa foto di kawasan obyek wisata.
Keberadaan obyek wisata tersebut juga telah menciptakan suatu sistem yang menyokong eksistensinya. Sistem yang terbentuk memiliki bagian yang terdiri dari pemerintah daerah dan masyarakat sekitar yang meliputi pedagang menyediakan menjual makanan, minuman, cindera mata dan usaha pemotretan dan lain-lain di kawasan wisata goa Jatijajar.
Keikutsertaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan di kawasan obyek wisata. Para petugas menjadi petugas kebersihan, juru parkir, dan pemandu wisata. Masing-masing komponen dalam sistem tersebut memiliki peran tersendiri. Pemerintah memiliki peran untuk melaksanakan pembangunan dan melakukan pengembangan sarana prasarana obyek wisata dengan penambahan fasilitas. Melakukan kerjasama dengan istansi-instansi lain yang bergerak di bidang pariwisata seperti PHRI dan PAKI. Kerjasama dengan pihak swasta seperti mengadakan penambahan fasilitas obyek wisata dengan menyempurnakan fasilitas. Dinas pariwisata juga mengadakan pembinaan kepada masyarakat agar sadar wisata terhadap kawasan obyek wisata.
Dinas pariwisata bersama masyarakat melakukan program wisata pendidikan mulai dari pendidikan dasar anak sekolah dasar sampai mahasiswa di kampus Kabupaten Kebumen, serta diselenggarakan kegiatan
88
penyelenggaraan Pekan Seni Promosi Pembangunan (PSPP). Kebersihan lingkungan dan keamanan menjadi tanggungjawab masyarakat sekitar obyek wisata Goa Jatijajar. Peran yang melekat pada masing-masing komponen sangat mempengaruhi keberlangsungan suatu sistem. Misalnya, jika pemerintah telah melaksanakan peranya dengan memberikan sarana dan prasarana namun tidak diikuti dengan partisipasi masyarakat untuk menjaga, mengelola dan merawatnya, maka semua akan berakhir sia-sia. Pemerintah dan masyarakat memiliki hubungan timbal balik yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Apabila salah satu dari bagian sistem tidak menjalankan perannya dengan baik, maka akan mempengaruhi keberlangsungan sistem itu sendiri. Kondisi ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Herbert Spencer yang mengemukakan bahwa tiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu yaitu mereka tumbuh menjadi organ yang berbeda dengan tugas yang berbeda pula. Peran pemerintah dan masyarakat sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan keberadaanya.
Dinas pariwisaata beserta masyarakat mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa serta mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa untuk terlibat dalam setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing pihak. Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog. Berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan harus dapat menyeimbangkan distribusi
89
kewenangan dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi. Masing- masing memiliki tanggungjawab dan kewenangan dalam bekerja.
Kewenangan dalam mengambil keputusan lewat proses keputusan. Dalam pengambilan keputusan tentunya ada langkah-langkah yang melibatkan beberapa pihak dan semua terlibat secara aktif dalam kegiatan. Terjadi proses memberdayakan dan saling mempelajari dan belajar. Perlu kerjasama antara berbagai pihak antara pengampu kebijakan, organisasi dan masuyarakat yang terlibat untuk saling berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia.
3. Dampak Obyek Wisata Goa Jatijajar terhadap Kehidupan Masyarakat Peran obyek wisata mempunyai pengaruh penting pada banyak sektor kehidupan masyarakat khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata, baik pada segi sosio-ekonomi, lingkungan hidup, dan terjaganya kebudayaan setempat. Pengaruh-pengaruh ini sangat menguntungkan sehingga untuk jangka panjang perlu dilipatgandakan, sedangkan hal-hal yang sekiranya merugikan terhadap masyarakat sekitar dapat dihindari atau dibatasi semaksimal mungkin.
Mengenai kondisi sosial budaya di desa Jatijajar seperti yang di jelaskan oleh NH sebagai warga masyarakat, pada tanggal 19 November 2017 bahwa dampak pariwisata terhadap kehidupan kebudayaan ada dua macam yaitu dampak negatif dan dampak positif, dampak positifnya: warga bisa mengenal perilaku serta kebiasaan baik dari para wisatawan yang berkunjung.
90
Sedangkan dampak negatifnya: warga sekitar obyek wisata yang masih anak- anak dapat terpengaruhi oleh perilaku wisata yang kurang pantas, contohnya pacaran di area obyek wisata dimana ini bisa mempengaruhi anak-anak yang melihat untuk menirunya. Tapi dengan adanya obyek wisata Goa Jatijajar ini warga juga bisa menyuguhkan seni budaya yang ada di desanya, misalnya:
kuda lumping, orgen tunggal, rebana, tari-tarian, jadi masyarakat juga bisa mengembangkan keseniannya dengan mempertunjukkan seni budaya tersebut untuk wisatawan yang datang ke obyek wisata Goa Jatijajar.
Pariwisata memberikan dampak bagi masyarakat seperti yang dikemukakan Spillane (1987: 138-141) yaitu akan mendatangkan keuntungan maupuna akan mendatangkan kerugian, keuntungan dan kerugian tersebut antara lain: Suatu perjalanan dianggap sebagai perjalanan wisata bila memenuhi tiga persyaratan yang diperlukan yaitu (a) harus bersifat sementara;
(b) harus bersifat sukarela (voluntary) dalam arti tidak terjadi karena dipaksa;
dan (c) tidak bekerja yang sifatnya menghasilkan upah ataupun bayaran (Spillane, 1987 : 22).
Dampak pariwisata terhadap kehidupan masyarakat memberikan dampak yang pertama adalah keuntungan yaitu, sebagai berikut: (a) Membuka kesempatan kerja. Industri pariwisata merupakan mata rantai yang sangat panjang, sehingga banyak membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitarnya. Misalnya, masyarakat membuka kios brejualan di kawasan pariwisata, membuka tempat parkir, jasa tour guide, pemotretan kawasan pariwisarta; (b) Menambah pemasukan/pendapatan masyarakat daerah. Di
91
daerah pariwisata tersebut masyarakat dapat menambah pendapatan dengan menjual barang dan jasa, misalnya: restoran, hotel, biro perjalanan, pramuwisata, barang-barang souvenir; (c) Menambah devisa Negara. Dengan makin banyaknya wisatawan asing yang datang ke Indonesia maka akan semakin banyak devisa yang diterima; (d) Merangsang pertumbuhan kebudayaan asli Indonesia. Kebudayaan yang sudah ada di Indonesia dapat tumbuh karena adanya pariwisata. Wisatawan asing banyak yang ingin melihat kebudayaan asli Indonesia yang tak ada duanya, sehingga kebudayaan kuda lumping, orgen tunggal, rebana, tari-tarian tradisional dipertahankan kelestariannya; dan (e) Menunjang gerak pembangunan di daerah. Di daerah pariwisata banyak timbul pembangunan jalan, hotel, restoran dan lain-lain, sehingga pembangunan di daerah itu lebih maju.
Dampak kedua adalah kerugian yaitu sebagai berikut: (a) Pariwisata merusak lingkungan. Agar dapat memberikan kebutuhan infrastruktur, turis kadang-kadang menjadi destruktif. Misalnya, para wisatawan yang berkunjung dan masyarakat kurangnya menjaga kebersihan masih membuang sampah sembarangan menjadi pencemaran air di kawasn wisata menjadi kotor dan masyarakat masih membuang sam