• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

N/A
N/A
Rifka M

Academic year: 2023

Membagikan "BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB PEMBATAL-PEMBATAL WUDHU

Lafadz صقاونننلا merupakan jamak dari ضقانننلا, dan ضقنلا asalnya itu keadaan putusan yang telah pasti, kemudian digunakan di dalam pembatal wudhu terhadap yang telah disyariatkan oleh Allah sebagai pembatal yang majaz kemudian terjadi hakikat adanya kebiasaan. Dan pembatal wudhu ini merupakan pembatal untuk tayamum karena sesungguhnya tayamum adalah sebagai ganti dari wudhu

1/61 dari Anas bin Malik berkata: dia adalah sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada zamannya, mereka menunggu waktu isya sampai mengangguk-angguk kepala mereka, kemudian mereka salat dengan keadaan tidak berwudhu lagi Abu Daud telah meriwayatkannya dan daruquthni telah mensohihkannya dan asalnya itu pada muslim.

Dari Anas bin Malik berkata b adalah sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada masanya, lalu mereka menunggu waktu Isya sampai terang angguk-angguk kepalanya dari bab برننضي-برننض yang artinya adalah miring, Doyong atau Condong. Lafad (kepala kepala mereka) artinya adalah dari tidur ( kemudian mereka salat dengan keadaan tidak berwudhu. Abu Daud telah meriwayatkannya dan rukunnya telah mensuhihkannya dan asalnya pada muslim) dan at-tirmidzi telah meriwayatkannya di dalamnya itu (mereka membatalkan untuk salat), dan di dalamnya bola ( sampai aku itu tidak mendengar seorangpun dari mereka mendengkur) kemudian mereka bangun untuk mendirikan salat dan tidak berwudhu. Sekelompok ulama menamainya dengan istilah tidurnya orang yang duduk akan tetapi pentakkwilan ini ditolak karena berdasarkan riwayat Anas mereka meletakkan lambung mereka, yahya al-qathaan telah meriwayatkannya.

Ibnu Daqiq id menamainya dengan tidur ringan, dan ditolak juga pendapat itu karena semuanya tidak sesuai dengan penyebutan dan kurangnya itu, dan membangunkannya karena sesungguhnya keduanya itu tidak menjadikan batal kecuali tidur yang nyenyak.

Hadis-hadis ini maka sungguh telah diketahui bahwa itu mencakup kepala yang mengangguk-angguk, suara dengkuran dan membangunkan, meletakkan lambungnya, dan semuanya itu telah disifati bahwasanya mereka tidak berwudhu ketika bangun tidur itu, dan para ulama berbeda pendapat akan hal itu menjadi 8 pendapat

1. Bahwasanya membatalkan wudhu secara mutlak Atas segala keadaan apapun, dengan dalil kemutlakannya itu pada hadis shaafwan bin 'asal yang telah terdahulu pembahasannya pada bab membasuh dua khuf, dan didalamnya berupa pipis, bab dan tidur.

Mereka mengatakan : bahwa ia menjadikan tidur secara mutlak seperti buang air besar dan buang air kecil dan buang air besar dalam membatalkan wudhu, dan hadis anas dengan ungkapan apapun yang diriwayatkandiriwayatkan, tidak ada yang menjelaskan bahwasanya Rasulullah menetapkan atas hal itu, dan mereka mereka tidak berpendapat akan hal itu, yaitu perbuatan sahabat yang tidak diketahui bagaimana terjadinya, dan hujannya ituu hanya pada perbuatannya, perkataannya dan ketetapannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

(2)

2. Bahwa tidur tidak membatalkan wudhu secara mutlak pada sesuatu yang terdahulu dari hadis an-nas dan cerita tidurnya sahabat pada sifat-sifat itu, seandainya tidur itu membatalkan wudhu sungguh Allah tidak akan membiarkan hal itu Dan Allah mewahyukan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tentang hal tersebut sebagaimana diwahyukan pada rasul keadaan najis sendalnya, dan yang lebih utama adalah sahnya salat orang yang di belakangnya akan tetapi ia menolaknya pada hadis Sofwan bin Ashal.

3. Bahwa tidur itu membatalkan semuanya hanya tidur dimaafkan dengan dua kali anggukan meskipun berturut-turut dan anggukan secara terpisah-pisah itu adalah pendapatnya hadawiyah. Dan mengangguk adalah miringnya kepala karena ngantuk dan batasan satu anggukan yaitu hanya sekedar condongnya kepala hingga dagu sampai ke dada. Hal ini dikiaskan atas satu kali anggukan mereka memahami hadis anas atas kantuk yang tidak menghilangkan kesadaran pendapat ini Tidak diragukan kejauhannya.

4. Bahwa tidur tidak membatalkan wudhu dengan sendirinya akan tetapi hanya menjadi pembatal wudhu bukan pada yang lainnya maka apabila tidur Dalam posisi duduk dengan tenang maka tidak membatalkannya, dan jika tidak maka dapat membatalkannya, ini adalah pendapatnya Imam Syafi'i dan ia beristidlal atas hadis Ali alaihissalaml "mata adalah pengikat dubur maka barangsiapa yang tidur maka berwudulah" Imam At Tirmidzi telah menghasankannya, akan tetapi di dalamnya terdapat Rowi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu baqiyah bin Walid Iya meriwayatkan dengan ungkapan 'an, yang menjadikan hadits an-nas lagi tidur dengan Posisi tegak untuk menggabungkan antara hadis-hadis tersebut dan menguatkan hadis Sofwan Dengan hadis Ali Alaihissalam ini, dan ia berkata makna hadis Ali Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya tidur adalah penyebab keluarnya sesuatu tanpa dirasa Omah maka tidur itu membatalkan bukan dengan sendirinya.

5. Bahwasanya apabila tidur dalam keadaan salat rukuk atau sujud atau berdiri sesungguhnya itu tidak membatalkan wudhu baik itu ketika dalam salat ataupun di luar salat, maka jika tidur dalam keadaan berbaring atau atas tekuknya itu membatalkan wudhu, dan ia beristidlal Dengan hadis "apabila seorang hamba tidur dalam sujudnya maka Allah membanggakannya depan malaikat, Dia berkata hambaku rohnya itu ada di sisiku dan jasadnya orang yang bersujud diantara tanganku" Al Baihaqi dan yang lainnya telah meriwayatkannya, akan tetapi ada yang mendoakannya. Mereka berkata maka ia menamainya sujud sedangkan dia tidur, dan tidak sujud kecuali dengan suci. Dan dijawab bahwa ia menamainya sujud dilihat dengan anggapan awal perintahnya atau dilihat dengan kebiasaannya.

6. Bawah itu batal kecuali Tidurnya orang-orang yang rukuk dan orang-orang yang sujud pada hadis yang telah terdahulu dan jika terdapat kekhususan dengan sujud itu telah dikiaskan atasnya dengan ruko sebagaimana dikiaskan yang sebelum semua kebiasaan orang salat.

7. Tidur tidak membatalkan wudhu ketika salat dan atas keadaan apapun dan membatalkannya ketika di luar salat. Hujannya adalah hadis yang telah disebutkan maka sesungguhnya hujjah ini pada pendapat yang ketiga.

8. Tidur yang banyak itu membatalkan wudhu bagai setiap keadaan apapun dan tidak membatalkannya ketika sedikit tidur dan mereka itu berkata sesungguhnya

(3)

tidur itu tidak membatalkan wudhu dengan dirinya akan tetapi terdapat membatalkannya itu dan banyak penyebabnya dan mereka memaknai hadis an- nas dengan tidur yang sedikit akan tetapi mereka tidak menyebutkan ukuran sedikit banyaknya itu sampai diketahui perkataan mereka dengan hakikatnya, dan apakah termasuk dalam pendapat salah satu pendapat tersebut atau tidak?

Dan yang paling dekat adalah pendapat yang mengatakan bahwasanya tidur itu membatalkan wudhu pada hadis Sofwan dan telah diketahui bahwasanya Ibnu khuzaimah At Tirmidzi Al khattabi telah mensohihkannya akan tetapi lafadz tidur di hadisnya itu mutlak dan dalil yang menunjukkannya itu lemah maka tidak boleh dikatakan disamakan air kencing dan BAB dan keduanya itu membatalkan wudhu dalam keadaan apapun dan sesuatu yang itu mutlak datang pada hadis an-nas dengan tidurnya para sahabat mereka tidak berwudhu Meskipun mereka meletakkan lambung-lambung mereka dan mereka dibangunkan, dan itu menunjukkan panjangnya tidur mereka dan bahwasanya mereka tidak bodoh mengenai hal-hal yang membatalkan wudhu apalagi karena Anas telah menceritakannya dari para sahabat Sera mutlak dan diketahui bahwasanya mereka adalah ulama yang bijaksana terhadap perkara agama khususnya dalam perihal salat yang itu merupakan paling besar dari rukun-rukun Islam, dan apalagi orang-orang yang mereka menunggu waktu salat bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan mereka adalah para sahabat pilihan. Dan apabila mereka seperti itu maka menguatkan kemutlakan hadis Sofwan dengan tidurnya yang nyenyak yang tidak mendengarkan atau tidak mengetahui apapun itu. Dan awal yang telah disebutkan oleh Anas dari tidur yang mendengkur meletakkan lambung-lambung mereka dan mereka dibangunkan tanpa tidur nyenyak maka sungguh bagi orang yang baru saja tidur dan belum nyengat dan belum meletakkan lambungnya maka itu tidak di lazimkan dengan tidur nyenyak dan sungguh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meletakkan lambungnya setelah 2 rakaat salat fajar dan beliau tidak tidur maka sesungguhnya beliau bangun untuk salat fajar setelah meletakkan lambungnya.

Dan jika dikatakan bahwa itu merupakan kekhususan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwasanya tidur itu tidak membatalkan wudhunya tanpa meletakkan lambungnya telah diketahui dan dibangunkan kadang-kadang terjadi bagi orang yang dia itu baru saja tidur dan menegaskannya agar tidak tidur nyenyak

Dan dengan ini bahwasanya termasuk dari tidur orang yang pingsan gila mabuk dengan segala macam mabukan yang semua itu menyebabkan hilangnya akal atau kesadaran. Dan telah disebutkan di dalam Syarah bahwasanya mereka bersepakat bahwa perintah ini itu membatalkan maka sesungguhnya maka jika itu benar, maka itu adalah dalil ijma.

2/62 Dari Aisyah RA berkata : (Fatimah binti Abu Hubais telah datang kepada Nabi SAW lalu dia berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhya aku sedang mengalami istihadhah maka aku tidak dalam keadaan suci apakah aku harus meninggalkan shalat? Nabi SAW menjawab tidak, karena darah itu adalah darah penyakit bukan darah haid. Maka apabila telah memasuki masa haid maka jangan melakukan shalat, dan jika kamu telah memasuki masa suci maka cucilah darah istihadoh itu kemudian laksanakan shalat. Muttafaqun `Aalaih

(4)

Di dalam kitab Bukhari : kemudian berwudhulah Ketika hendak melaksanakan shalat.

Imam Muslim memberi isyarat bahwasanya hadis itu dibuang secara sengaja.

Lafaz شيبح dengan mendomahkan huruf H yang tidak bertitik dan mematahkan huruf ba yang bertitik satu dan mensukunkan huruf yang bertitik dua di bawah kemudian huruf Sin yang bertitik tiga. Fatimah quraisyi Al-asadiyah dia adalah istri abdullah bin jahsy. Istihadoh adalah darah yang mengalir dari kemaluan perempuan bukan pada waktunya. sesungguhnya darah haid itu keluar dari bagian dalam rahim perempuan, demikian itu adalah sebagai pemberitahuan tentang perbedaan tempat keluarnya. Ulama memiliki dua pendapat tentang perbedaan penentuan berhentinya darah istihadoh:

-Pendapat pertama itu mengatakan cara membedakan yaitu dengan kembali kepada kebiasaan sakit hal itu sesuai dengan hadis fatimah.

-Pendapat kedua mengatakan bahwasanya itu dikembalikan kepada sifat darah tersebut sebagaimana hadits yang datang dari aisyah tentang kisah fatimah binti abi hubaisy. Mazhab ah adawiyah dan Hanafiyh berpendapat bahwa seseorang yang mengalami istihadoh harus berwudhu ketika akan melaksanakan shalat.

Mazhab imam ali pun telah berpendapat bahwa dianjurkan bagi orang yang sedang mengalami itu disunnahkan untuk berwudhu dan tidak wajib kecuali ada hadas yang lain. Maka dengan adanya di sini itu tadi sebutkan bahwa darah istihadoh itu termasuk pembatal wudhu.

4\6 Dari Aisyah : Sesungguhya Nabi Muhammad SAW telah mencium kepada istri-istrinya, kemudia Nabi keluar untuk melaksanakan shalat dan Nabi tidak berwudhu.

Telah diriwayatkan oleh Abu Daud Tirmidzi Nasa'i dan Ibnu Majah.

Imam Tirmidzi berkata aku mendengar Muhammad bin Ismail telah mendhoifkan akan hadis ini dan Abu Daud telah meriwayatkan dari jalur Ibrahim at taimi dari Aisyah dan sedangkan dia itu tidak mendengar sesuatu pun dari Aisyah maka ini termasuk hadis mursal dan berkata Imam an-nasa'i tidaklah hadis Pada bab ini yang lebih baik darinya akan tetapi di situ Mursal, penulis berkata hadis ini telah diriwayatkan dari belasan jalur dari Aisyah dan Baihaqi telah menyebutkan dalam kitab khilafiyat dan telah mendhoifkannya.

Ibnu Hazmi tidak ada yang shahih sesuatu pun Pada bab ini sekalipun ada yang shahih maka dia itu berlaku atas perintah sebelum turunnya untuk berwudhu karena menyentuh. Apabila kamu mengetahui tentang hal ini maka hadis ini menunjukkan atas menyentuh perempuan dan menciumnya itu tidak membatalkan wudhu dan ini itu merupakan sumber dan hadis ini yang telah ditetapkan sebagai sumber dan hal ini pun dijadikan pegangan oleh keluarga Rasul semuanya dan termasuk dari sahabat yaitu Ali.

Madzhab Syafi'i berpendapat bahwasanya menyentuh yang bukan mahram itu membatalkan wudhu dalil ini diambil dari firman Allah ta'ala dalam QS Al-Maidah ayat 6 maka diwajibkanlah berwudhu dari sebab perempuan, berkatalah mereka menyentuh di sini hakikatnya itu dengan menggunakan tangan dan dikuatkanlah

(5)

ketetapan ini kepada makna bacaan “Alastumun Nisaa” maka sesungguhnya ayat ini itu jelas semata-mata menyentuhnya seorang laki-laki sekalipun perempuannya tidak menyentuh duluan dan ini itu menguatkan ketetapan lafaz kepada maknanya yang Hakiki maka bacaan demikianlah sebab asal kesepakatan itu telah disepakati maknanya akan dua bacaan tersebut.

Dan dijawab dari pendapat tersebut itu dengan dipalingkan pada bukan makna yang sebenarnya atau Haqiqi itu untuk indikasi maka dilakukanlah dia itu maknanya majaz jadi makna sentuan disini adalah jima` dan menyentuh seperti itulah sesuai hadis Aisyah yang tadi disebutkan dan meskipun hadis tersebut tercela sebagaimana yang telah kita dengar tadi maka jalur itu saling menguatkan satu sama lain.

Hadits aisyah dalam kitab Bukhari bahwasanya di dalam hadis tersebut Nabi menggeserkan kaki Aisyah yang yang menghalagi Rasul saat hendak sujud.

Maka hadis tersebut telah menguatakan hadis dalam kitab yang tadi disebutkan dan menguatkan tetapnya sumber dan menunjukkan bahwasanya sentuhan itu tidak membatalkan dan Adapun alasan penulis pada kitab Fathul Bari dari hadis Aisyah ini bahwasanya kemungkinan menyentuhnya itu adanya penghalang atau khusus untuk Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam maka sesungguhnya telah jauh lah menyelisihi kepada zahirnya.

Dan sungguh Ali telah menjelaskan menyentuhnya yang dimaksud itu adalah dengan Jima dan dan dia itu sebab baginya bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengajarkannya akan penakwilan maka diriwayatkan darinya Abdullah bin humaid bahwasanya penyentuhan ditafsirkan setelah diletakkannya jarinya pada telinganya ketahuilah dia itu berhubungan badan dan meriwayatkan darinya ath- thosti dan telah bertanya nafi`bin azroq tentang penyemtuhan maka menjelaskanlah dia karena Jima bersama susunan ayat yang mulia dan ushlubnya yang ditetapkan bahwasanya yang dimaksud itu adalah penyentuhan karena Jima maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyebutkan dari ketetapan-ketetapan tayamum yang didatangkan karena adanya buang air besar ini sebagai perhatian atas hadas kecil dan menyebutkan menyentuh itu adalah perhatian hadas yang besar. Dan dia itu berdampingan sebagaimana firman Allah ta'ala pada perintah untuk mencuci dengan air. Dan sekiranya membawa penyentuhan itu kepada hal yang membatalkan wudhu untuk menghilangkannya dengan debu untuk menggantikan air karena dengannya itu bisa mengangkat kepada hadas besar dan berbedalah sumber ayat menurut ulama Hanafi yang telah diperinci itu tidak terdapat dalilnya.

6/66 Dari Thalaq bin Ali RA. Dia berkata : Seorang laki-laki berkata bahwa dia telah menyentuh kemaluannya, atau berkatalah : ada seorang laki-laki telah menyentuh kemaluannya, apakah dia diharuskan untuk berwudhu? Nabi menjawab : Tidak, karena kemaluan termasuk bagian anggota tubuhmu.

Telah diriwayatkan oleh 5 imam dan Ibnu Hibban telah menshahihkannya.

قلط Dengan memfathahkan huruf tho dan nun mensukun kan huruf lam. يلع نب yaitu Al-yamami Al-Hanafi. Berkata Ibnu `abdil bar bahwasanya ada penduduk Yamamah tidak berwudhu setelah menyentuh kemaluan. ةعنننضب Dengan

(6)

memfathahkan huruf yang tidak bertitik dan mensukun kan huruf dho yang bertitik satu arti dari lafazh itu adalah tangan dan kaki dan semisal dengannya dan sungguh telah mengetahui lah bahwasanya tidak ada wudhu karena menyentuh bagian dari kemaluan. ينيدملا Dengan memfatahkan mim dan Dal yang tidak bertitik dan huruf yang bertitik dua yang berharakat di bawahnya kemudian Nun yang dinisbatkan kepada nama kakeknya dan dia itu tidak lain bernama Ali bin Abdullah Al Madani. Adz-dzahabi berkata bahwa dia itu adalah seorang Hafiz pada masanya dan dia adalah tauladan atau ahli dalam urusan itu, Abu Hasan Ali bin Abdullah pemilik karangan- karangan dia dilahirkan tahun 61 Masehi dia adalah muridnya Imam Bukhari dan Abu Daud dan Ibnu Mahdi berkata Ali bin Madani ini telah mengajarkan kepada manusia tentang hadis rasulullah Imam an-nasa'i berkata bahwa Ali bin Madinah telah ahli dalam urusan ini.

ةرسب Dengan mendomahkan huruf yang bertitik satu dan mensukunkan huruf Sin yang tidak bertitik kemudian huruf Ra dan telah datanglah hadis yang berdekatan hadis ini adalah riwayat Ahmad dan Daru qutni. Dan thohawi berkata sanadnya itu shahih tidak pasti dan Imam Tabrani telah menshahihkannya begitupun ibu hazzam, sedangkan Imam Syafi'i telah mendhaifkannya begitupun Abu Hatim Abu zara'ah Abul Baros daruquthni Baihaqi dan ibu jauzi. Dan hadis ini menunjukkan kepada asal dari menyentuh kemaluan itu bukan pembatal wudhu dan itu hadis yang diriwayatkan oleh Marwi dari Ali dan dari hadawiyah dan dari Hanafiah. Menurut kelompok dari sahabat, tabiin dan imam Madzhab yaitu Imam Ahmad Syafi'i telah mengambil dalil dari hadis yang ketujuh di bawah ini.

7/67

Dari Bushrah binti Shafwan bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : Siapa saja orang yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah dia berwudhu.

Telah diriwayatkan oleh 5 imam dan imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban telah menshahihkannya.

Imam Bukhari berkata : hadis ini adalah hadis yang pling shahih pada bab ini.

ةرسب Telah terdahulu lah lafazh yang dhabit dan dia itu adalah anaknya Sofwan bin Naufal Al Quraisy Alasadiyah dia adalah orang yang berbaiat kepada Nabi, Abdullah bin Umar dan selainnya telah meriwayatkan tentangnya.

Dan Imam Syafi'i Imam Ahmad Ibnu khuzaimah Hakim dan Ibnu jarwadi telah meriwayatkannya juga. Daruquthni telah berkata bahwa di situ adalah sahih yang telah ditetapkan dan Yahya Bin muayyan pun telah mensohihkannya begitu pula dengan Baihaqi dan hajimi. Dan terdapat celaan pada hadis tersebut Bahwasanya Allah dari Marwan telah meriwayatkannya atau yaitu dari perawi yang tidak diketahui yang dia itu tidak Shahih. Bahwasanya urwah telah mendengarnya dari busroh dari selain pertengahan sebagaimana telah ditetapkan oleh Ibnu khuzaimah dan imam-imam hadis lainnya.

Dan demikianlah celaan pada hadis itu bahwasanya Hisyam bin urwah itu seorang Rawi yang dia itu tidak mendengar akan hadis tersebut dari bapaknya maka itu tidak dianggap sahih karena maka telah menetapkanlah bahwasanya

(7)

dia itu telah mendengar dari bapaknya maka tertolaklah pendapat yg mengatakan bahwa itu tercela dan Shaihlah hadisnya.

Dan dengan lafal yang sama juga telah mengambil dari lah orang yang telah mendengar dari para sahabat tabiin dan Imam Ahmad dan Syafi'i kepada batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan dan yang dimaksud dengan menyentuh itu tanpa penghalang saat menyentuhnya karena sesungguhnya Ibu Hiban telah meriwayatkan bahwa ini itu Shahih dari hadis Abu Hurairah dan dari Ibnu Abdil bar. Ibnu Sakan berkata hadis itu paling baik dari apa-apa yang telah diriwayatkan Pada bab ini.

Imam Syafi'i pun menduga bahwasanya batalnya wudhu itu bila menyentuhnya dengan tangan kosong dan bahwasanya tidak membatalkan wudulah apabila menyentuh kemaluannya itu dengan memakai penghalang. Dan telah menolak lah atas atas pendapat yang di atas itu bahwasanya لوصو itu secara bahasa adalah mencapai yang maknanya itu lebih umum jadi boleh dengan tanah kosong atau dengan adanya penghalang. Ibnu hazmin berkata tidak ada dalil atas pendapat itu baik dalam Alquran, sunnah, ijma, perkataan sahabat, qiyas dan tidak ada pendapat yang shahih. Dan hadis-hadis yang lain telah menguatkan akan hadis busyrah ada 17 sahabat yang meriwayatkan pada kitab hadisnya dan di antara mereka itu ada tolqin bin Ali yang telah meriwayatkan tentang hadis bahwa menyentuh kemaluan itu tidak membatalkan wudhu. Dan telah meriwayatkan tentang bahwa menyentuh kemaluan itu membatalkan wudhu dan telah mentakwilkan lah orang yang telah menyebutkan hadisnya tentang tidak batalnya wudhu bahwasanya perintah hadisnya itu yang pertama kali turun pada awal hijrah sebelum Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membangun masjid maka hadis tersebut itu di nasakh dengan hadis busyrah yang telah disebutkan di atas bahwasanya hadis busroh ini datang terakhir pada masa Islam pada zaman Rasulullah.

Dan telah memperbaiki lah orang yang berkata dengan nasakh perkataan dengan pentarjihannya maka bahwasanya hadis Busroh itu lebih kuat karena banyaknya para imam yang telah mensohihkan hadis tersebut dan banyak saksinya juga dan bahwasanya Busyro telah membicarakan tentang hadis tersebut di di tempat orang-orang Muhajirin dan Anshor dan mereka itu termasuk orang-orang yang baik dan tidak ada yang menolak tentang hadis itu seorang pun. Dan ada ibnu Umar telah membicarakan terhadap hadis tersebut dan dan tidak ditetapkanlah. Hal ini itu untuk perintah berwudhu dari menyentuhnya kemaluan kepada keadaan wafatnya seseorang.

Imam Baihaqi berkata bahwa hadis busyrah itu telah dilakukan penterjaihan kepada hadis tholqin bin Ali bahwasanya sahabat yang shahih tidak meriwayatkannya dan tidak menjadikan dia itu hujjah dari segi riwayat satupun dan telah berhujjahlah Kebanyakan orang dengan riwayat Hadits dari Busroh kemudian bahwasanya hadis hadis itu telah dimutlakkan dari riwayat Qais Bin tholqin.

Imam Syafi'i telah berkata Sungguh kami telah bertanya tentang Qais bintorotin maka kami tidak menemukan orang yang mengenalnya maka tidaklah diterima hadis tersebut.

Abu Hatim dan Abu Dzar berkata Qais bin tolqin bukanlah orang yang bisa dijadikan hujjah dan mereka berdua telah melemahkannya. Disarming hal tu

(8)

tatkala bertentangan dua hadis itu bertentangan di sisinya berkatalah Imam Malik tentang harusnya berwudhu seseorang yang telah menyentuh kemaluannya itu adalah anjuran bukan sebuah kewajiban.

10/70 Dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW telah bersabda : (Siapa saja yang memandikan jenazah maka hendaklah dia mandi dan siapa saja yang menyentuh jenazah maka hendaklah dia berwudhu.

Telah diriwayatka oleh imam Ahmad, Nasa`I dan Tirmidzi telah menshahihkanya juga. Imam Ahmad juga berkata : Tidak ada hadis yang shahih pada bab ini.

Dan demikianlah bahwasanya hadits itu telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur yang di dalamnya Dhaif akan tetapi Tirmidzi telah menghasankannya dan Ibnu Hibban telah mensahihkannya karena datangnya jalur yang Dhaif itu dan Mawardi telah menyebutkan bahwasanya sebagian hadis itu diriwayatkan dari 120 jalur.

Dan Imam Ahmad berkata bahwasanya hadis itu di mansukh berdasarkan hadis yang telah diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda (tidaklah bagi orang yang memandikan mayat harus berwudhu karena sesungguhnya mayit itu wafat dalam kedaan suci dan bukanlah mayit itu najis maka cukuplah dengan mencuci tangan) dan akan tetapi imam baihaqi mendhaifkannya begitu pula dengan penulis karena sesungguhnya alasan mengatakan hadis ini Dhaif itu karena adanya perawi yang bernama Abu saibah. Penulis berkata abu sayyibah memiliki nama lengkap Ibrahim bin Abi Bakar Bin saibah yang mana Imam an-nasa'i berhujjah dengannya dan seseorang telah mensiqohkannya dan perawi perawi yang ada di atas sanadnya juga jadikan hujan oleh Imam Bukhari dan imam Bukhari mengatakan bahwa hadis ini itu Hasan. Kemudian Imam Bukhari telah berkata dalam mengkompromikan antara hadis tersebut dan menjelaskan bahwa perintah pada hadis Abu Hurairah itu menunjukkan kepada sunnah. Penulis berkata qorinah hadis Ibnu Abbas ini dan hadis Ibnu Umar di sisi Abdullah bin Ahmad itu terdapat lafazh (لستغي ل نم انمو لستغي نم نمف تيملا لسغن انك)

Penulis juga berkata bahwa sanadnya Shahih dan hadis Ibnu Umar itu hadis yang paling baik dari hadis yang dikompromikan diantara hadis-hadis yang membahas tentang ini.

Dan Adapun perkataannya أضوتيلف هننلمح نمو maka Iya tidak mengetahui akan perkataan hadis tersebut yang di mana dia mengatakan bahwasanya wudhu itu wajib karena menyentuh mayit tidaklah sunnah.

Aku (penulis) berkata akan tetapi adanya hadis itu tidak masalah jika ingin mengamalkannya dan dijelaskan bahwa wudhu di sini itu dengan cara mencuci kedua tangan sebagaimana yang terkandung di dalam hadis Ibnu Abbas yang adalah perintah itu menunjukkan kepada sunnah sebagaimana yang disebutkan sebabnya dengan suatu perkataan ارهانننط تمي مكتيم نإ maka bahwasanya menyentuh yang suci itu tidak wajib untuk mencuci kedua tangan maka makna itu dibawa bila menyentuh seorang mayit diperintahkan untuk mencuci tangan itu adalah sunnah ta'abudi. Sebab yang dimaksud itu apabila menyentuhnya secara langsung kepada badan mayit tersebut sebagaimana telah disebutkan

(9)

lafaznya sebelumnya maka hal tersebut hanya untuk orang yang menyentuh badan mayit secara langsung tanpa adanya penghalang.

11/71 Dari Abdullah bin Abu Bakar : (Bahwasanya Nabi SAW telah menuliskan surat untuk Amr bin Hazm, yaitu : Hendaklah seseorang tidak menyentuh Al-Quran kecuali orang yang suci).

Imam Malik telah meriwayatkan hadis ini secara mursal, imam Nasai dan ibnu hibban telah menyampaikan bahwa hadis ini adalah hadis ma`lul.

Dia adalah anak dari Abu Bakar As Siddiq ibunya sama dengan asma dia telah masuk Islam sejak dahulu dan telah ikut bersama Rasulullah dalam perang Thaif saat perang itu dia terkena panah dan setelah beberapa tahun penyakitnya itu kambuh lalu dia wafat karena penyakit tersebut pada bulan Syawal tahun 11 Hijriyah dan Abu Bakar telah menshalatkannya. Amr bin hajm adalah Amar bin hazm bin Zaid Al hujuroji an-najari Dia memiliki nama panggilan Abu dhahak. Dia adalah orang yang pertama menyaksikan Perang Khandaq dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menugaskan kepada dia untuk pergi ke najran dia itu adalah seorang yang berumur 17 tahun dia diperintahkan oleh Nabi untuk mengajarkan ilmu agama kepada orang-orang najran dan mengajarkan mereka Alquran dan mengambil terhadap sedekah mereka dan rasul menuliskan baginya itu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat Tentang pembahasan faraid faroid, sunah-sunah, shadaqoh shodaqoh, dan diyat-diyat. Amr Bin Hasan wafat pada masa kekhalifahan Umar di Madinah Ibnu Abadi lebar telah menyebutkan akan hal ini dalam kitabnya باعيتإسلا.

Hakikat hadis ma`lul itu adalah hadis yang diketahui atasnya itu ada kesamaran dan telah dihimpun atau dikumpulkan beberapa jalur maka dikatakanlah bahwa hadis itu mu'allal dan ma'lul. Dan sebutan yang paling baik itu adalah hadis mu`allu dari kata هلعأ. Ilat adalah ungkapan dari sebab-sebab yang tersembunyi lagi Samar yang telah muncul dalam suatu hadis maka dengan adanya hal tersebut maka terpengaruhilah hadis tersebut dan tercelalah atau rusak lah hadis tersebut. Dan hadis ma`lul itu termasuk hadis yang paling samar dan yang paling rumit dan tidak akan bisa mengetahui terhadap hal itu kecuali atas rizki yang telah Allah SWT berikan dengan melalui pemahaman yang kuat, cerdas, hafalan yang luas dan pengetahuan yang sempurna tentang tingkatan perawi dan memiliki kemampuan yang kuat juga terhadap sanad dan Matan suatu hadis.

Penulis berkata bahwasanya hadis ini adalah hadis ma`lul karena karena hadis tersebut itu dari riwayat Sulaiman bin Daud dia itu termasuk perawi yang telah disepakati untuk ditinggalkan hadisnya sebagaimana Ibnu hazm telah berkata dan telah meragukan pada yang demikian itu. Ibnu hazm menduga bahwasanya perawi itu adalah Sulaiman bin Daud Al Yamani bukan Sulaiman bin Daud Al khaulani, kalau Sulaiman bin Daud Al haulani itu adalah perawi yg tsiqoh Abu ziarah Abu Hatim Utsman bin Said dan sekelompok dari ahli hufaz telah memuji kepadanya sedangkan Sulaiman bin Daud Ali Yamani itu telah disepakati bahwa dia itu perawi yang dhaif. Dan di dalam Kitab Amr Bin Hasan itu telah disepakati untuk menerima hadis tersebut. Ibnu Abdil bar berkata bahwasanya hadis itu hampir mencapai Hadis Mutawatir karena telah diterima oleh khalayak manusia.

Imam Yakub bin Sufyan berkata aku tidak mengetahui akan suatu kitab yang

(10)

lebih Shahih dari kitab ini maka bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan tabiin itu merujuk kepada kitab tersebut dan meninggalkanlah mereka akan pendapat mereka.

Imam Hakim berkata bahwasanya dia dan Imam yang ada pada masanya itu telah menyaksikan terhadap keshahihannya karena terdapat di dalam kitab ini.

Di dalam Bab dari hadis hakim bin hazm ارهاط لإ نأرقلا سمي لdan hadits itupun telah disebutkan oleh haitsami dalam kitab mujma jawaid dari hadis Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda نأرقلا سمي ل ارهاط لإ . Berkatalah Haitsami bahwasanya perawinya itu tsiqoh dan dia telah menyebutkan ada banyak yang menyaksikan hadis tersebut akan tetapi Baihaqi berpandangan yang dimaksud dengan رهاننطلا adalah bahwasanya lafal itu memiliki banyak makna yang diartikan dia itu termasuk hadas yang besar dan juga termasuk hadas yang kecil dan diartikan pula bahwa dia itu adalah orang mukmin dan maknanya itu bukan kepada najis badannya dan pasti maknanya itu dibawa kepada makna tertentu yang mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah berfirman (نورننهطملا لإ هننسمي ل) maka dari ayat tersebut telah jelaslah bahwa dhomir yang disebutkan di dalam Alquran Surat Al Waqiah ayat 79 itu memiliki dhamir yang tersembunyi yang maknanya itu menunjukkan bahwa رهاطلا itu adalah malaikat.

Referensi

Dokumen terkait

al-Kafirun (109), Q.S al-Bayyinah (98) tentang toleransi dan membangun kehidupan umat beragama dan hadis riwayat Ahmad, At-Tirmzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Baihaqi dari Ibnu

Sedangkan 10 menurut Hadis yang dirawikan An Nasa’i dan lainnya, dari Ibnu Abbas dan Said bin Jubair RA, mengatakan bahwa ayat yang Al-qaur’an yang terkhir turunnya yang berbunyi :

Di antara yang menyatakan sebagai sahih adalah at-Tirmidzi yang menyatakan sebagai hasan sahih, al- Bukhari yang menyatakan ini adalah hadis yang paling sahih dalam bab ini,

Sanad hadis dari jalur ini ada kelemahan, di sanadnya ada perawi bernama Abbād bin Yusuf al-Kindi, Ibnu Hajar al-‘Asqalāni mengatakan, “Maqbūl.“ [11] Derajat

Persamaan pendapat antara Imam al-Rāfi’ī dan Ibnu Qudāmah adalah dalam hal hukum jual belinya, keduanya sama-sama berpendapat bahwa jual beli najasy haram berdasarkan hadis

Al-Hafizh Al-‘Iraqi mengatakan dalam Syarh At- Tirmidzi: “Ini adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah), dan dia termasuk hadits- hadits mursal yang diriwayatkan dari Al-Hasan

Pendapat yang penulis kemukakan diatas berdasarkan pada pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziah (murid Imam Ahmad ibn Hanbal) yang mengatakan bahwa seorang istri biar pun masih melekat

Dari ketiga pendapat di atas, maka pendapat Imam al-Syafi’i adalah pendapat yang banyak diikuti oleh ulama ahli hadis sampai saat ini.. Berdasarkan pendapat tersebut,