• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab umur relativ 1,2,3,5 rafika

N/A
N/A
Alexandra Aurel

Academic year: 2024

Membagikan "Bab umur relativ 1,2,3,5 rafika"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS TADULAKO FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK GEOLOGI

PRAKTIKUM MIKROPALEONTOLOGI ACARA 10 : PENENTUAN UMUR RELATIV

LAPORAN

OLEH : RAFIKA F121 19 017 KELOMPOK 10

(2)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mikropaleontologi merupakan cabang dari ilmu paleontologi yang mempelajari sisa-sisa organisme yang telah terawetkan di alam berupa fosil yang berukuran mikro. Salah satu pengetahuan yang terdapat pada ilmu mikropaleontologi adalah planktonic foraminifera (fosil plankton). Fosil ini sangat banyak ditemukan di berbagai tempat, terutama pada batuan di dalam tanah, ataupun batuan yang terdapat di dalam laut. Tidak banyak orang yang mengetahui spesies apa saja yang ditemukan tersebut. Untuk mengetahui identitas dari fosil tersebut harus dilihat bentuk dan sifat-sifat fisiknya melalui mikroskop, kemudian bertanya kepada ahlinya ataupun membaca dari buku referensi.

Pada ilmu mikropaleontologi ini dikenal dengan adanya analisis biostatigrafi Dimana biostatigrafi tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dalam penentuan umur relative dan lingkungan pengendapan dari suatu batuan.Berdasarkan kandungannya fosil yang terkandung dalam batuan tersebut,oleh karena itu diadakan praktikum mikropaleontologi dengan acara ini dalam membuat analisis mahasiswa dilakukan untuk memudahkan masalah.Biostatigrafi mikroskopil menurut jones (1936) setiap fosil biasanya kecol untuk emempelajari sifat-sifat dan struktur dilakukan dibawah mikroskop Umumnya fosil ukuranya lebih dari 5 mm namun ada yang berukuran sampai 19 mm seperti genus yang memiliki cangkang-cangkang yang dimiliki organisme, embrio dari fosil-fosil makro yang mengamatinya menggunakan mikroskop serta

(3)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Dasar Teori

Umur relatif adalah penempatan suatu stratigrafi relatif terhap zaman- zaman geologi yang didasarkan pada fosil-fosil tertentu tanpa ditentukan batas- batasnya secara geokronologi yang dinyatakan dalam skala waktu/satuan waktu dalam tahun. mur geologi terbagi menjadi 2, yaitu umur relatif dan umur absolut.

Umur relatif ialah umur yang ditentukan berdasarkan posisi batuan atau fosil relatif terhadap posisi batuan atau fosil di sekitarnya. Dengan kata lain, umur relatif tidak menunjukkan angka, tetapi pernyataan bahwa tentang mana yang lebih tua dan mana yang lebih muda berdasarkan proses pembentukannya. Umur absolut ialah umur yang ditunjukkan dengan suatu angka yang diperoleh dari pengukuran radioaktif. Jadi, umur absolut ini langsung menunjukkan angka umurnya sehingga dapat diketahui pada jaman apa batuan tersebut terbentuk. Material yang dapat diukur antara lain ialah sedimen, fosil, batuan beku, benda arkeologi dan tumbuhan seperti yang terdapat pada gambar berikut:

Tiap material tersebut dapat diukur umur relatif maupun umur absolutnya, tergantung pada keperluan penelitian yang dilakukan. Untuk mengetahui urutan proses pembentukannya, lebih efisien menggunakan umur relatif. Tetapi, jika ingin mengetahui kapan material tersebut terbentuk, lebih efektif menggunakan umur absolut.

Disamping jumlah genus sedikit, plankton sangat peka terhadap perubahan kadar garam, hal ini menyebabkan hidup suatu spesies mempunyai kisaran umur yang pendek, sehingga baik untuk penciri umur suatu lapisan batuan. Biozonasi foraminifera planktonik yang popular dan sering digunakan di Indonesia adalah Zonasi Blow. Biozonasi foraminifera planktonik dapat dilihat pada tabel 1 (Blow, 1969). sayatan tipis dari fosil-fosil mikro dari golongan foraminifera mempunyai fungsi /berguna untuk mempelajarinya.

(4)

1.2 Rumusan Masalah

1. Mahasiswa dapat mengetahui apa definisi dari penentuan umur relatif dan biostatigrafi?

2. Mahasiswa dapat menentukan penentuan umur relatif dan biostatigrafi?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui definisi dari penentuan umur relatif dan biostatigrafi 2. Mengetahui menentukan penentuan umur relative dan biostatigrafi?

(5)

Tabel 1 Biozonasi Foraminifera Planktonik

Berdasarkan biozonasi foraminifera planktonik menurut Blow tersebut, setiap fosil plankton di input-kan kedalam tabel, dan rentang umur setiap fosil sudah terdeskripsikan barada pada umur ke-berapa. Setelah semua fosil plankton yang terdapat pada batuan telah terdeskripsi, maka umur relatif dari sebuah batuan dapat diketahui dengan menghitung berapa banyak rentang umur yang sama, apabila dibandingkan pada setiap fosil plankton. Rentang umur yang terbanyak merupakan umur relatif dari sebuah batuan.

Gambar 1. Gambaran proses irisan umur relatif

(6)

Gambar 1 merupakan irisan dari himpunan A,himpunan B, dan himpunan C, sedangkan X adalah hasil dari An BC. Sehingga X dapat dimaksudkan sebagai range dari umur relatif yang ingin ditampilkan kepada user. Untuk contoh implementasi untuk proses irisan umur relatif dapat dilihat pada tabel 2. Contoh implementasi untuk proses irisan umur relatif pada tabel hanya mengambil 3 contoh planktonic yaitu, plankton A, plankton B, dan plankton C. Dimana plankton A memiliki range umur antara N 9-N 23, plankton B memiliki range umur antara N 14-N 23, dan plankton C memiliki range umur antara N 12-N 18. Maka umur relatif dari ketiga jenis planktonic tersebut berada pada kisaran umur N 14-N 18.

Gambar 2. Contoh Implementasi Proses Irisan Umur Relatif

Penentuan umur relatif dapat ditentukan melalui prinsip superposisi, fosil suksesi, potong memotong, dan prinsip kesebandingan. Prinsip superposisi menjelaskan bahwa lapisan batuan yang berada di bawah, dalam kondisi normal (tidak terdeformasi) lebih tua daripada lapisan di atasnya. Fosil suksesi merupakan

(7)

analisa kesejajaran fosil atau disebut juga biostratigrafi. Berdasarkan prinsip ini, lapisan yang mengandung fosil yang sejenis, memiliki rentang umur yang sama.

Dalam Prinsip potong memotong, lapisan yang memotong lebih tua daripada lapisan yang dipotongnya. Lalu, prinsip kesebandingan ialah membandingkan bentuk, misalnya fosil yang memiliki sutura sederhana lebih tua daripada fosil yang suturanya lebih kompleks.

Untuk menentukan umur absolut, terdapat dua metode, yaitu:

1. Metode menghitung, contohnya ialah menghitung lingkaran tahunan, jumlah endapan atau sutura fosil, dan sclerochronology (menghitung lapisan dari pertumbuhan organisme seperti koral, kerang-kerangan, atau kayu yang membatu).

2. Metode isotop, misalnya ialah radiokarbon atau C-14, kosmogenik (Cl-36, Be-10, He-3, Al-26), atau Uranium series disequilibrium. Khusus untuk daun, metode yang cocok ialah radiokarbon karena metode yang lain kesalahannya terlalu besar untuk penentuan umur absolut daun.

2.2 Biostatigrafi

Biostratigrafi merupakan pembagian dari stratigrafi dimana pengelompokanstrata kedalam satuan didasarkan atas kandungan fosil-fosilnya.

Merurut Sandi Stratigrafi Indonesia (1996), satuan biostratigrafi adalah tubuh lapisan batuan yang dipersatukan berdasarkan kandungan fosil atau ciri-ciri paleontology sebagai sendi pembeda terhadap tubuh batuan sekitarnya. Sedangkan penyusunan biostratigrafi dapat dimaksudkan untuk menggolongkan lapisan- lapisan batuan dibumi secara bersistem menjadi satuan-satuan yang bernama berdasarkan kandungan dan penyebaran fosil. Biostratigrafi terdiri atas satuan dasar yang berupa zona atau yang biasa disebut sebagai zona biostratigrafi (biozona).

Biozona merupakan suatu lapisan batuan atau tubuh batuan yang dicirikan oleh satu taxon fosil atau lebih, yang dapat dibagi lagi menjadi Sub- Zona. Sub-Zona merupakan bagian dari biozona yang berguna untuk menunjukkan.

biostratigrafi yang lebih detil. Sub-Zona dapat dibagi lagi menjadi satuan yang lebih kecil yaitu Zonula, secara umum Zonula dapat digunakan untuk

(8)

subdivisi dari biozona atau sub-biozona. Beberapa zona yang mempunyai kesamaan biostratigrafi dapat dikelompokan menjadi Super-Zona. Sehingga urutan-urutan satuan biostratigrafi dari tingkat yang besar sampai yang kecl adalah:

Super- Zona, Zona, Sub-Zona, dan Zonula (Sandi Stratigrafi Indonesi, 1996).

Sedangkan biostratigrafi Hoizon (Biohorizon) merupakan batasan stratigrafi dimana terdapat perbedaan yang signifikan dalam karakter biostratigrafi (International Stratigraphic Guide, 1994). Beberapa macam biozona berbeda mempunyai kegunaan masing-masing hingga dapat dipisahkan dan menjadi ciri khas untuk dikenali biozona mana yang harus digunakan. Berdasarkan ciri satuan paleontologi yang dijadikan sandi satuan biostratigrafi dalam International Stratigraphic Guide (1994), dapat dibedakan menjadi: Zona Kumpulan, Zona Kisaran, Zona Puncak, Zona Selang, Zona Rombakan dan Zona padat.

1. Zona Kumpulan (Assamblage Zone): Zona kumpulan adalah suatu lapisan atau kesatuan sejumlah lapisan yang terdiri oleh kumpulan alamiah fosil yang khas atau kumpulan suatu jenis fosil. Kegunaan zona kumpulan sebagai penunjuk lingkungan kehidupan purba, dapat dipakai sebagi penciri waktu. Batas dan kelanjutan zona kumpulan ditentukan oleh batas terdapatnya kebersamaan umur-umur utama dalam kesinambungan yang wajar. Nama Zona Kumpulan harus diambil dari satu unsur fosil atau lebih yang menjadi penciri utama kumpulannya.

2. Zona Kisaran (Range Zone): Zona Kisaran adalah tubuh lapisan batuan yang mencangkup kisaran stratigrafi unsur terpilih dari kumpulan seluruh fosil yang ada.

Kegunaan Zona Kisaran terutama adalah untuk kolerasi tubuh- tubuh lapisan batuan dan sebagai dasar untuk penempatan batuan-batuan dalam skala waktu geologi.

3. Zona Puncak (Abundant Zone): Lapisan batuan yang dicirikan oleh adanya perkembangan maksimum suatu takson tertentu. Kegunaan zona ini untuk menunjukkan kedudukan kronostratigrafi tubuh lapisan batuan dan dapat dipakai sebagai petunjuk lingkungan pengendapan purba, iklim purba. 4. Zona Selang:

Zona Selang adalah selang stratigrafi antara pemunculan awal/akhir dari dua takson penciri. Kegunaan Zona Selang paaada umumnya adalah untuk kolerasi tubuh- tubuh lapisan batuan. Batas atas atau bawah suatu Zona Selang ditentukan oleh

(9)

pemunculan awal atau akhir dari takson- takson penciri. Nama Zona Selang diambil dari nama-nama takson penciri yang merupakan batas atas dan bawah Zona tersbut.

5. Interval Zone Zona interval adalah Selang stratigrafi antar dua horizon biostratigrafi yang berupa kemunculan awal atau kemunculan akhir dari suatu takson-takson (spesies) penciri.

Dalam mempelajari biostratigrafi ada beberapa hal yang harus dipahami, seperti biocoenose dan thanatocoenose, serta displaced fossils.

a. Biocoenose dan Thanatocoenose

Biocoenose adalah kumpulan organisme yang hidup, tumbuh, dan berkembang biak pada suatu tempat atau lingkungan yang sama. Sedangkan thanatocoeneose adalah organisme yang mati yang dapat berasal dari satu atau beberapa biotope dan setelah mati

terangkut ke dalam suatu lingkungan pengendapan dan di situ sisa-sisa organisme tersebut secara keseluruhan atau sebagian merupakan pembentuk sedimen yang bersangkutan.

b. Displaced Fossils

- Fosil Rombakan (reworked fossils) yaitu fosil-fosil pada suatu batuan yang terkikis,

terangkat, dan terendapkan kembali dalam suatu endapan batuan yang lebih muda.

- Introduced atau Infiltrated Fossils yaitu pada beberapa kondisi suatu batuan Yang memiliki fosil-fosil yang berumur lebih muda daripada satuan batuannya.

Pada penelitian ini lebih difokuskan pada fosil foraminifera. Foraminifera diklasifikasikan ke dalam Kerajaan Protista, yaitu kerajaan organisme bersel tunggal dan termasuk kedalam Filum Protozoa ynag hidup secara akuatik (terutama hidup di laut), memiliki satu atau lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembus oleh banyak lubang halus atau foramen

(10)

(Pringgoprawiro dan Kapid, 2000). Foraminifera biasanya terdapat pada batuan sedimen dan jumlahnya sangat melimpah dan memiliki peranan penting dalam analisis mikropaleontologi dan paleokologi. Foraminifera memiliki perkembangbiakan secara seksual maupun aseksual, hal ini dilihat dengan adanya dua bentuk yang berbeda dalam satu spesies foraminifera dimorfisme) antara lain megalosferik dan mikrosferik. Berdasarkan ukurannya foraminifera dibagi dua kelompok, yaitu kelompok foraminifera besar dan kelompok foraminifera kecil.

Namun berdsarkan cara hidupnya foraminifera dibagi menjadi dua bagian, yaitu foraminifera planktonik dan foraminifera bentonik. Kelompok foraminifera besar pada umumnya termasuk dalam foraminifera bentonik. Dalam analisis mikrofosil, cangkang foraminifera merupakan bagian yang terpenting. Determinasi foraminifera dilakukan berdasarkan kenampakan fisik atau morfologi cangkang serta struktur dalam cangkang. Cangkang foraminifera memiliki karakteristik tertentu yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam identifikasi dan analisis foraminifera itu sendiri. Cangkang foraminifera bisa terdiri dari sebuah kamar atau beberapa kamar. Batas antar kamar disebut sutura dan biasanya mempunyai satu atau lebih lubang bukaan yang disebut apertur.

2.3 Foraminifera

a. Foraminifera Planktonik

Organisme yang hidup melayang-layang dalam kolom air disebut plankton.

Penyebaran plankton bahari juga dikontrol oleh parameter-parameter lingkungan seperti salintas, pasokan oksigen, temperatur, dan ketersediaan bahan makanan.

Fitoplankton (phytoplankton) dikontrol oleh intensitas cahaya, yang nilainya akan menurun dengan bertambahnya kedalaman atau dengan makin keruhnya air.

Keberadaan suatu plankton juga dipengaruhi oleh tingkat toleransi yang dimilikinya terhadap parameter-parameter lingkungan tersebut di atas. Sebagai contoh, radiolaria dan foraminifera planktonik jarang ditemukan di paparan. Dalam analisa foraminifera planktonik morfologi cangkangnya sangat bervariasi. Selain cangkang, aperture juga merupakan bagian penting dalam identifikasi foraminifera, berikut jenis-jenis cangkang dan aperture secara umum.

(11)

b. Foraminifera Bentonik

Foraminifera bentonik terdistribusi pada hampir semua lingkungan laut dan transisi. Foraminifera bentonik merupakan indikator penting suatu lingkungan.

Fosil dari foraminifera bentonik dapat kita gunakan untuk interpretasi lingkungan pengendapan purba dan paleobatimetri. Dalam penentuan paleobatimetri digunakan hubungan seperti pola fauna dalam keragaman dan kelimpahan spesies, kehadiran spesies porselen, aglutinan, serta hyalin, rasio planktonik- bentonik, kemudian kisaran kedalaman biofasies dan batas atas kedalaman dari spesies pada kedalaman yang sama (isobathyal). Penentuan paleobathimetri ini merupakan deskriptor penting dalam rekonstruksi lingkungan pengendapan bagi seorang ahli geologi.

Beberapa spesies dari foraminifera bentonik dapat kita gunakan untuk menentukan umur relatif suatu tubuh batuan karena tidak semua batuan sedimen mengandung foraminifera planktonik seperti pada bauan sedimen yang diendapkan di tepi pantai atau di daerah litoral. Sedangkan pada daerah darat hingga transisi kita dapat menggunakan data fosil lainnya seperti polen dan mikromoluska.

(12)

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu : 1. Pensil

2. Bolpoin 3. Penghapus 4. Penggaris 5. Lampu Senter

6. Mikroskop monokuler

Adapun bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu:

1. Lembar deskripsi

2. Buku penuntun praktikum paleontologi.

3. Sampel fosil

3.2 Langkah Kerja

Pada praktikum kali ini terdapat beberapa langkah kerja yang harus dilakukan yaitu:

1. Menyiapkan alat dan bahan 2. Melakukan pengamatan di lab

3. Mengamati, mengsketsa dan mendeskripsi informasi Fosil 4. Melengkapi laporan sementara

5. Asistenkan laporan sementara ke asisten dosen masing-masing 6. Laporan diketik

(13)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 1.1 Kesimpulan

1. Umur relatif adalah penempatan suatu stratigrafi relatif terhap zaman-zaman geologi yang didasarkan pada fosil-fosil tertentu tanpa ditentukan batas-batasnya secara geokronologi yang dinyatakan dalam skala waktu/satuan waktu dalam tahun. mur geologi terbagi menjadi 2, yaitu umur relatif dan umur absolut. Umur relatif ialah umur yang ditentukan berdasarkan posisi batuan atau fosil relatif terhadap posisi batuan atau fosil di sekitarnya. Biostratigrafi merupakan pembagian dari stratigrafi dimana pengelompokanstrata kedalam satuan didasarkan atas kandungan fosil-fosilnya. Merurut Sandi Stratigrafi Indonesia (1996), satuan biostratigrafi adalah tubuh lapisan batuan yang dipersatukan berdasarkan kandungan fosil atau ciri-ciri paleontology sebagai sendi pembeda terhadap tubuh batuan sekitarnya.

2. Pada hasil pekerjan yang saya amati pada lintasan 1 dimulai dari batuan termuda ke tertua pada urutan pertama yaitu batu lanau ke dua yaitu batu lempung karbonat,batu yang ke tiga yaitu batu napal ,batu yang ke empat yaitu batu gamping fragmental, batu yang ke lima yaitu batu lempung dan yang terakhir yaitu batu seksi muscovite.Pada lintasan 2 saya dapatkan urutan nya yaitu yang pertama yaitu batu lanau, yang kedua yaitu batu lempung karbonat , yang ke empat yaitu batu gamping fragmetal, yang ke empat yaitu batu napal, yang selanjutnya yitu batu lempung dan yang terakhir yaitu batu sekis muscovite.

5.2 Saran

Praktikan sebaiknya lebih aktif lagi dalam praktikum ini dan rajin untuk mencari referensi dari berbagai sumber agar dapat mengerjakan laporan dengan baik.

Saran untuk asisten agar supaya lebih baik lagi pada saat menjelaskan fosil di bentonik di karenakan praktikum secara online praktikan sangat sulit memahami materi yang telah dijelaskan.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Mengdin, R.A (1950-2017). Foraminifera. Micropaleontology Press, American Loeblich, A. R.; Tappan, H. (1987). Foraminiferal Genera and their Classification.

Van Nostrand Reinhold Company, New York

Museum of Natural History, New York.original description Bolli, H. M. (1957).

The genera Globigerina and Globorotalia in the Paleocene-lower Eocene Lizard Springs formation at Trinidad, B.W.I. Bulletin United States National Museum. 215: 61-82.

Bolli, H. M. & Bermudez, P. J. (1965). Zonation based on planktonic foraminifera of middle Miocene to Pliocene warm-water sediments. Bol. Informativo, Asoc.

Venez. Geol., Min. Petrol. 8(5): 121-149

Referensi

Dokumen terkait

Zat yang dibawa oleh darah untuk dikeluarkan dari tubuh adalah ..... Protein dalam plasma yang berfungsi mengentalkan darah

Berikut ini adalah rancangan halaman masukan (input) data yang penulis gunakan dalam pembuatan website Sistem Informasi Promosi Sekolah Berbasis Web Pada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur panen yang tepat dan kandungan neutral detergent fibre (NDF), acid detergent fibre (ADF), acid detergent lignin (ADL), hemiselulosa

Dalam menentukan kelas massa batuan, nilai faktor keamanan dan stand up time penyangga menggunakan metode Rock Mass Rating (RMR) Bieniawski 1989 dengan data- data yang

- boleh gunakan ilmu tersebut dlm bidang perniagaan - jenis latihan: pengurusan aliran tunai, kewangan,. stok dan inventori, sumber manusia dan jenamaan -

Penelitian sebelumnya Jasril et al., (2020) telah berhasil melakukan sintesis senyawa pirazolin yang mengandung gugus halogen fluoro dan cincin naftalen yaitu senyawa

Propagasi dari gelombang radio adalah LOS, yaitu suatu hubungan komunikasi dimana antena pemancar dan antena penerima terlatak dalam satu garis lurus dan perambatan

Abstrak yang baik harus mengandung 4 unsur: • argumentasi logis perlunya dilakukan observasi atau penelitian untuk memecahkan masalah, • pendekatan yang digunakan untuk memecahkan