Artinya, pejabat pajak yang bertugas mengelola Pajak Bumi dan Bangunan tidak menerbitkan jenis surat ketetapan pajak tersebut di atas. Petugas pajak melakukan pemeriksaan hanya terhadap Wajib Pajak yang dikenai Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan juga Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Kewenangan melakukan stempel hanya ditujukan kepada Wajib Pajak yang dipungut Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.
Pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan merupakan pembantu pejabat pajak yang mengangkatnya. Direktur Pajak sebagai pejabat pajak yang mengelola pajak negara berwenang menunjuk pejabat pelaksana peraturan perundang-undangan perpajakan di bidang perpajakan negara. Begitu pula gubernur, bupati/walikota sebagai pejabat pajak yang menyelenggarakan pajak daerah juga berwenang menunjuk pejabat pelaksana peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah.
Kewajiban
Hal lainnya adalah petugas pajak pengelola pajak daerah tidak wajib memberikan informasi terkait pengajuan keberatan wajib pajak karena hal tersebut tidak diatur dalam undang-undang PDRD. Hakikat yang terkandung di dalamnya bertujuan agar Wajib Pajak dapat memahami unsur-unsur keadilan atas keputusan korektif yang dikeluarkan oleh petugas pajak berdasarkan permintaan Wajib Pajak. Dalam praktiknya, petugas pajak terkadang menerbitkan ketetapan pajak, tagihan pajak, atau keputusan yang salah karena ketidakakuratan, sehingga membebani wajib pajak yang tidak bersalah dengan kewajiban.
Jangka waktu pembetulan hanya enam bulan terhitung sejak permohonan Wajib Pajak diterima oleh petugas pajak dan harus diterbitkan keputusan pembetulan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum kepada Wajib Pajak yang mengajukan permohonan koreksi. Koreksi keputusan juga dikenal dalam undang-undang PDRD yang dilakukan oleh pejabat pajak yang mengelola pajak daerah, baik atas permintaan wajib pajak maupun karena jabatannya.
Upaya hukum yang dilakukan aparat pajak pengelola pajak daerah dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum kepada wajib pajak sebelum timbul sengketa pajak. Padahal, perbuatan hukum aparat pajak pengelola pajak daerah harus didasarkan pada tuntutan wajib pajak yang mengalami kerugian dalam memenuhi hak dan kewajibannya. Dengan kata lain, Pegawai Pajak wajib mengeluarkan surat keputusan keberatan mengenai keberatan Wajib Pajak atau Pemotong atau Pemungut Pajak terhadap surat ketetapan pajak yang diterbitkan Pejabat Pajak.
Kewajiban menerbitkan surat keputusan keberatan merupakan tanggung jawab petugas pajak yang berwenang memeriksa dan memutus surat keberatan dari wajib pajak atau pemotongan atau pemungut pajak. Surat keputusan keberatan adalah keputusan atas keberatan terhadap surat ketetapan pajak atau pemotongan atau pemungutan oleh pemotong atau pemungut pajak yang diajukan oleh Wajib Pajak.
Larangan
Untuk kepentingan negara, Menteri Keuangan berwenang memberikan izin tertulis kepada pejabat dan ahli yang bersangkutan untuk memberikan keterangan dan menyampaikan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak kepada pihak yang ditunjuknya. Untuk kepentingan penyidikan di sidang perkara pidana atau perdata, Menteri Keuangan atas permintaan hakim sesuai hukum acara pidana dan hukum acara perdata dapat memberikan izin tertulis untuk meminta bukti tertulis kepada pejabat dan ahli. terlibat dan informasi pajak tersedia baginya. Pejabat pajak, termasuk pejabat pajak yang ditunjuk dan juru sita pajak, dilarang mengungkapkan rahasia perpajakan Wajib Pajak, termasuk pemotongan atau pemungutan pajak.
Larangan mengungkapkan rahasia Wajib Pajak kepada pihak lain dikecualikan apabila Pejabat Pajak, Pejabat yang ditunjuk, dan Pejabat Pajak bertindak sebagai saksi atau ahli di pengadilan. Begitu pula dengan informasi yang diberikan kepada pihak lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan hanya terfokus pada identitas wajib pajak dan informasi umum tentang perpajakan, antara lain kepada lembaga negara atau lembaga pemerintah yang mempunyai kewenangan melakukan pemeriksaan lapangan. keuangan negara. Lain halnya jika untuk kepentingan negara, misalnya dalam rangka penyidikan, penuntutan, atau dalam rangka kerja sama dengan instansi pemerintah lainnya, keterangan atau bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak boleh diberikan atau diperlihatkan kepada pihak tertentu. . ditunjuk oleh Menteri Keuangan.
Izin yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan harus mencantumkan nama Wajib Pajak, nama pihak yang dicalonkan, dan nama petugas pajak, pejabat yang ditunjuk, atau petugas pajak yang diperbolehkan memberikan keterangan atau menunjukkan bukti tertulis dari atau tentang Wajib Pajak. . Pemberian izin dilakukan secara terbatas dalam hal dianggap perlu oleh Menteri Keuangan. Dalam hal dilakukan pemeriksaan di pengadilan, baik dalam perkara pidana maupun perdata yang berkaitan dengan perpajakan, Menteri Keuangan menerbitkan izin pembebasan atau kerahasiaan kewajiban kepada petugas pajak, pejabat yang ditunjuk, atau petugas pajak atau jurusita pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. untuk meminta. dari ketua pengadilan dalam sidang.
Padahal, ketua sidang wajib berinisiatif meminta izin kepada Menteri Keuangan untuk mengungkapkan rahasia perpajakan yang diketahui oleh pejabat pajak, pejabat yang ditunjuk, atau pejabat pajak atau jurusita pajak yang bersangkutan. Permintaan Presiden kepada Menteri Keuangan harus mencantumkan secara jelas nama tersangka atau terdakwa, termasuk keterangan yang diminta mengenai perbuatan hukum di bidang perpajakan (Saidi.
Susunan Organisasi
Instansi Vertikal Departemen Keuangan
Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak
- Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak
- Kantor Pelayanan Pajak
- Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan
- Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak
- Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan
Dalam satu atau beberapa provinsi dapat didirikan 1 (satu) atau lebih dan 1 (satu) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan beban kerjanya. Kantor Pelayanan Pajak merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Kantor Pelayanan Pajak mempunyai tugas melakukan pelayanan, pengawasan administratif, dan pengendalian sederhana terhadap Wajib Pajak di bidang Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan Barang Mewah, dan Pajak Tidak Langsung lainnya dalam lingkup kewenangannya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. undang undang Undang.
Tergantung pada beban kerjanya, dapat didirikan 1 (satu) atau lebih dari 1 (satu) Kantor Pelayanan Pajak dalam satu kabupaten/kota atau beberapa kabupaten/kota. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan merupakan instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak. Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan mempunyai tugas memberikan pelayanan di bidang pajak bumi dan bangunan.
Dalam satu kabupaten/kota atau beberapa kabupaten/kota dapat didirikan 1 (satu) atau lebih dari 1 (satu) Kantor Pajak Bumi dan Bangunan, tergantung pada beban kerjanya. Kantor Pajak Bumi dan Bangunan terdiri atas 1 (satu) Subbagian dan paling banyak 6 (enam) seksi (Rushdi. Kantor Perluasan dan Pengamatan Potensi Pajak. Kantor Perluasan dan Pengamatan Potensi Pajak. Kantor Perluasan dan Pengamatan Potensi Pajak. Perluasan dan Pengamatan Potensi Pajak merupakan instansi vertikal yang berada di bawah Direktorat Jenderal Pajak yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala kantor pajak.
Kantor Penyuluhan dan Pengawasan Pajak mempunyai tugas menangani kasus-kasus sosialisasi, memberikan nasihat perpajakan kepada masyarakat, mengamati potensi pajak daerah, menyusun monografi pajak, dan membantu Kantor Pajak dan Kantor Pajak Bumi dan Bangunan dalam memberikan pelayanan. kepada komunitas. Pemberian pelayanan kepada masyarakat di bidang perpajakan dalam rangka membantu Kantor Pajak dan Kantor Pajak Bumi dan Bangunan, d.
Tempat Pelayanan Terpadu
Sistem Aplikasi dan Informasi Perpajakan
Sistem informasi dan aplikasi perpajakan Direktorat Jenderal Pajak terdiri dari sistem informasi perpajakan (SIP) dan sistem administrasi perpajakan yang terintegrasi. Sistem Informasi Perpajakan (SIP) merupakan sistem informasi di lingkungan administrasi perpajakan Direktorat Jenderal Pajak, kecuali Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar (Kanwil WP Besar) dan Kantor Pajak. Pelayanan kepada Wajib Pajak Besar (KPP WP Besar), menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak yang dihubungkan dengan satu jaringan kerja. Sistem Administrasi Perpajakan Terpadu (SAPT) merupakan sistem informasi administrasi perpajakan yang dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar (KPP WP Besar), Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar (Kanwil WP Besar) dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Wajib Pajak Besar (Kanwil WP Besar). Kepala Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak yang terhubung dalam satu jaringan kerja (Rusjdi.
Laporan adalah dokumen perpajakan yang disampaikan oleh Wajib Pajak sehubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakannya dan dapat berupa SPT, surat perpajakan, dan laporan lainnya yang diatur sesuai dengan ketentuan hukum (Rusia. Surat dan/atau laporan pajak). , diterima melalui TPT dan diproses sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Surat/dokumen dan/atau laporan perpajakan yang diterima oleh Sekretaris Utama KPP dipisahkan dan dikirimkan ke TPT untuk diolah menjadi surat/dokumen atau laporan pajak (Rusjdi.
Kegiatan Petugas Tempat Pelayanan Terpadu Petugas TPT melaksanakan kegiatan sebagai berikut
Bukti Penerimaan Surat (BPS) adalah bukti penerimaan surat atau laporan yang diterbitkan dengan menggunakan aplikasi SIP atau SPT pada TPT. Lembar Pemantauan Alur Dokumen (LPAD) adalah suatu formulir yang digunakan untuk memantau tata cara penyelesaian tugas, yang diterbitkan bersamaan dengan penerbitan BPS dengan menggunakan aplikasi SIP pada TPT dan dilampirkan pada surat atau laporan yang bersangkutan. Menerima surat dan/atau laporan (baik dalam bentuk kertas maupun digital) yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Cetak LPAD/BPS apabila KPP menggunakan aplikasi SIP atau BPS apabila KPP menggunakan aplikasi SAPT;. Terbitan BPS dan atau LPAD seperti yang dinyatakan dalam huruf c secara manual apabila permohonan SIP/SAPT tidak berfungsi;. Menyelaraskan LPAD dengan surat atau laporan sebagai alat pemantauan proses penyempurnaan tugas susulan surat atau laporan KPP selain KPP WP Besar;.
menggabungkan salinan BPS dengan surat atau laporan sebagai identitas surat atau laporan kepada Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak besar; Daftar harian merupakan daftar setiap jenis surat atau laporan yang diterima di TPT melalui aplikasi SIP setiap hari kerja, yang berfungsi sebagai pengantar surat atau laporan kepada bagian terkait. Menyiapkan berita acara untuk ditandatangani oleh penanggung jawab pelaksanaan TPT dalam hal terdapat perbedaan antara surat dan/atau laporan dengan catatan harian penerimaan surat atau laporan yang bersangkutan;
Menyampaikan surat dan/atau laporan yang diterima kepada Koordinator Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu pada KPP di luar KPP bagi Wajib Pajak Besar atau kepada Kepala Pelayanan di KPP bagi Wajib Pajak Besar; Memberikan informasi perpajakan kepada masyarakat dan/atau Wajib Pajak yang memerlukan layanan informasi mengenai ketentuan perpajakan di TPT.
Penanggung jawab
Mencetak daftar harian penerimaan surat dan laporan dalam rangkap dua pada setiap akhir hari kerja;