• Tidak ada hasil yang ditemukan

73 bab v hasil penelitian dan pembahasan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "73 bab v hasil penelitian dan pembahasan"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

Menurut aturan, uang pembelian ini merupakan bayaran yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan sehubungan dengan pelaksanaan akad nikah. Rombongan pria terdiri dari pria dan wanita berpakaian adat dan dipimpin oleh seorang sesepuh. Selain itu, pihak laki-laki juga membawa barang berupa cincin dan dua sarung.

Cincin dan kain sarung dimaksudkan sebagai tanda ikatan yang dalam bahasa Bugis disebut passeo dari mempelai pria kepada mempelai wanita. Cemme passili dibawakan oleh kedua mempelai untuk masuk malam hari menuju acara mappacci Proses pementasannya dipimpin oleh indo'botting (penata rias pengantin) dengan menidurkan kedua mempelai di atas tikar. Suku Bugis diyakini memiliki makna simbolis tentang kebersihan dan kesucian baik bagi calon mempelai pria maupun wanita.

Orang yang mengiringi mempelai pria ke rumah mempelai wanita disebut pampawa botting (pengiring pengantin), yang terdiri dari pria dan wanita dengan pakaian adat. Mereka mengenakan pakaian adat dan membawa buah pinang (sekarang rokok) atau benda apa saja sebagai tanda bahwa mempelai pria dan rombongan sudah boleh masuk ke rumah mempelai wanita. Bahkan ada yang mewajibkan calon pengantin pria membawa dua ekor ayam (jantan dan betina), yang dalam bahasa Bugis disebut pattampa baja (undangan sore).

Sementara itu, di depan pintu rumah mempelai wanita, sejumlah pria dan wanita berbusana adat berbaris. Sambil memegang tangan pendeta, mempelai pria mengulangi sumpah wajib menurut ketentuan agama Islam, lalu menandatangani buku nikah. Mapparola adalah acara dimana mempelai wanita diantar ke rumah mempelai pria oleh keluarga dan kerabatnya.

Akad nikah dipindahkan dari rumah mempelai wanita ke rumah mempelai pria yang dihadiri oleh para tamu. Sebagai rasa terima kasih, keluarga mempelai pria mengembalikan mappaota (memberikan sesuatu) kepada mempelai wanita. Malam harinya, orang tua mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita, masita baiseng (pertemuan mertua).

Kemudian pada hari keempat, kedua mempelai kembali ke rumah mempelai pria untuk mabbenni tellumpenni (menginap tiga malam). Mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita, proses ijab kabul, serta membawa timbangan sompa, leko dan doi. Menyatukan kedua mempelai, mempelai pria menyentuh mempelai wanita untuk pertama kalinya.

Sesampainya di kamar, pengiring mempelai pria menginstruksikan mempelai pria untuk menyentuh bagian tertentu dari mempelai wanita.

Tabel 1.Tahapan Prosesi Lamaran Pada Perkawinan Adat Bugis Bone Sumber:Hasil Olahan DataPrimer,Tahun2017
Tabel 1.Tahapan Prosesi Lamaran Pada Perkawinan Adat Bugis Bone Sumber:Hasil Olahan DataPrimer,Tahun2017

PEMBAHASAN

Pada zaman dahulu, warna pakaian Bodo dibatasi oleh pemakainya, antara lain sebagai berikut: .. a) hijau hanya untuk putri raja.. b) merah cabe atau merah darah untuk gadis remaja c) merah tua untuk yang sudah menikah.. e ) hitam untuk wanita tua f ) putih untuk perawat. Selain itu, lipa' (sarung) bermotif lebar (cure'lebba') juga dikenal dalam masyarakat Bugis Bone. Inilah makna dari prosesi pernikahan adat Bugis Bone, simbol-simbol yang terkandung dalam prosesi pernikahan adat Bugis Bone, baik tersirat melalui tahapan pementasannya maupun melalui aksesorisnya, menggambarkan betapa tingginya nilai budaya yang diwariskan dari nenek moyang kita, yang tentunya harus dijaga tinggi dan untuk dilestarikan.

Sejalan dengan persepsi Clifford Geertz dalam (Sobur, yaitu budaya adalah suatu sistem konsep yang diwariskan dan diekspresikan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana orang berkomunikasi, prosesi simbol, bentuk simbolik, makna gaun pengantin, artefak dan visualisasi sebagai nilai estetika. ​dan juga menunjukkan lapisan kepada kedua mempelai Memakainya Warna Hijau Hanya untuk putri bangsawan Lombok merah Untuk gadis remaja Merah tua Untuk wanita yang sudah menikah Ungu Untuk wanita yang sudah janda Hitam Untuk wanita tua Putih Untuk pengasuh untuk menjaga dan mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan sikap terhadap kehidupan ini Sebagai makhluk sosial dan juga sebagai makhluk komunikasi, manusia menggunakan berbagai macam simbol, baik yang diciptakan oleh manusia itu sendiri maupun yang bersifat alamiah. Budaya Bugis banyak hal yang diekspresikan melalui simbol-simbol yang memiliki makna tertentu yang hanya dapat dipahami oleh masyarakat Bugis sendiri. Simbol dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu simbol verbal dan nonverbal. Simbol verbal dalam penggunaan bahasanya dapat diartikan sebagai rangkaian kata yang telah disusun sedemikian rupa sehingga menjadi rangkaian kalimat yang mengandung makna. seluruh rangkaian prosesi pernikahan adat Bugis Bone menggunakan simbol verbal yaitu bahasa mulai dari tahap lamaran, sebelum akad nikah. Tionghoa merupakan simbol nonverbal yang ditampilkan melalui gerak tubuh, sedangkan pada prosesi pernikahan Bugis Bone, makna simbol ini terdapat pada prosesi Mappacci, sedangkan gestur Tionghoa termasuk dalam menampilkan afek.

Sentuhan adalah simbol yang dilambangkan dengan menyentuh tubuh, menurut bentuknya, sentuhan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: kinestetik, sosiofugal dan termal. Dalam prosesi pernikahan Bugis Bone, makna simbol ini terdapat pada prosesi akad nikah, mappasikarawa dan resepsi. Paralanguage adalah simbol yang muncul dari tekanan atau ritme suara sehingga penerima dapat memahami sesuatu di balik apa yang dikatakan. Adapun dalam prosesi pernikahan Bugis Bone, makna simbol ini terdapat dalam prosesi maptu ada, mappacci dan ijab.

Max Picard berpendapat di Cangara bahwa diam tidak hanya menandakan sikap negatif, tetapi juga bisa melambangkan sikap positif. Dalam prosesi pernikahan Bugis Bone, makna simbolis hening juga dapat ditemukan dalam prosesi Mappacci. Kedekatan dan kelapangan merupakan simbol nonverbal yang menunjukkan kedekatan dua objek yang bermakna.

Kedekatan dapat dibedakan menjadi wilayah dan zona, selain kedekatan dari segi wilayah, ada juga sebagian ahli yang melihatnya dari sudut ruang dan kedudukan. segi wilayah dalam bidang sosial, dalam prosesi mapttu ada, dalam hal wilayah intim pada prosesi mappasikarawa dan dalam hal wilayah umum di resepsi. Dalam prosesi pernikahan adat Bugis Bone, makna simbolik artefak dan visualisasinya terdapat pada prosesi mapttu ada, mappacci, mappaenre botting, sompa and lise' sompa, mapparola, dan busana pengantin juga sarat akan makna. Hal ini terlihat pada upacara ritual lainnya yang sering disimbolkan dengan warna, diantaranya pada adat pernikahan Bugis Bone, warna baju bodo atau pakaian yang dikenakan oleh kedua mempelai memiliki makna simbolis yaitu untuk mewakili sosial untuk menunjukkan strata sosial. pembawa.

Gambar

Tabel 1.Tahapan Prosesi Lamaran Pada Perkawinan Adat Bugis Bone Sumber:Hasil Olahan DataPrimer,Tahun2017
Tabel 1.Tahapan Prosesi sebelum akad nikah Pada Perkawinan Adat Bugis Bone
Tabel 1.Tahapan Prosesi akad nikah Pada Perkawinan Adat Bugis Bone Sumber:Hasil Olahan DataPrimer,Tahun2017
Tabel 1.Tahapan Prosesi setelah akad nikah Pada Perkawinan Adat Bugis Bone

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sifat kimia pada kopi beras dan kopi bubuk yang dihasilkan dari berbagai jenis mutu biji kopi beras petik merah dan, petik asalan (mutu