Bahaya Konsumsi Tidak Halal Oleh: Abu Hasan Mubarok, Gr. S.SI. M.Pd
Ketua Umum MUI Penajam Paser Utara
Disampaikan pada khutbah juma’t, 22 Maret 2024/11 Ramadhan 1445 H
يذلللا املللسلا سودللقلا كلللملا هلللل دللمحلا ،هلللل دللمحلا عللفر ،امامتلا ىلعو لامكلا ىلع هقلخ ءيش لك ىطعأ تاللنج اللهيف ،اماللأنلل اهعللضو ضرلاو دللمع لب ءامللسلا
،اماللمكلا تاذ لللخنلاو تاللشورعم ريللغو تاللشورعم هللعاطأ نم ،اماللعطو بارللشو ساللبلو للظو لاللبجو هللللا لإ هلللإ ل نأ دهشأ ،هاسني ل هنع لفغ نمو ،هلوت اماللمإو ،ءالليبأنلاو لللسرلا متاخ اًدمحم اأنديس نأ دهشأو (ملسو هيلع هللا ىلص) اموصعملا ،ءايقتلاو نيدهاجملا :دعب امأ لاللثتماب هللللا وللقتب مكايإو ىسفأن ىصوأ ،هللا دابع ايف نم هللللا لللعجي هللللا قللتي نمو ،هيهاوأن هبانتجاو هرماوأ ىلاللعت هللللا لاللق .اللجرخم برللك لك نمو اجرف مه لك
ِتاَبّيَط نِم اوُلُك اوُنَمآ َنيِذّلا اَهّيَأ اَي ميركلا نآرقلا ىف ﴿
َنوُدللللُبْعَت ُهاّيِإ ْمُتنُك نِإ ِهّلِل او ُرُك للللشاَو ْمُكاللللَنْقَز َر اللللَم ْ :ةرقبلا] ﴾ 172
[
Jamaah sidang sholat jum’at yagn dimuliakan Allah swt.
Islam adalah agama yang mencintai kebersihan dan keindahan. Jelas disebutkan dalam firman Allah swt surat al Maidah ayat 6:
ُكَهوُجُو وُلِس َف ِةٰوَلّصل ىَلِإ ُت ُق اَذِإ ُنَماَء َنیِذّل اَهّیَأ َی
ۡم ۟ا ۡغٱ ٱ ۡم ۡم ۟ا ۤو ٱ ٰۤـ
Artinya: wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menunaikan sholat, maka basuhlah wajah kalian….
Ayat ini menjelaskan bahwa kesucian adalah pintu utama yagn harus dilalui bagi orang yang hendak masuk kedalam perintah Allah swt (dalam hal ini adalah sholat). Kesucian memang tidak dijelaskan di dalam lima rukun Islam. Namun, ketentuannya adalah menjadi syarat dalam menjalankan kesemua rukun islam tersebut.
Syahadat (persaksian) hanya akan diterima, apabila berasal dari hati yagn bersih, atas keinginan sendiri dalam memeluk Islam. Puasa, tidak akan diterima kecuali diikuti
dengan anggota badan yang suci, bersih dari ghibah, adu domba, fitnah, kedustaan.
Zakat tidak akan diterima, apabila dilahirkan dari harta yagn kotor, begitu pula dengan ibadah haji.
Rasulullah ملسو هيلع هللا ىلصbersabda:
ّنِإَو اًبّيَط ّلِإ ُلَبْقَي َل ٌبّيَط ىَلاَعَت َهّللا ّنِإ ُساّنلا اَهّي َأ اَهّيَأ اَي "َلاَقَف َنيِلَس ْرُمْلا ِهِب َرَمَأ اَمِب َنيِنِمْؤُمْلا َرَمَأ َهّللا امِب يّأنِإ ًاحِلاص اوُلَمْعاَو ِتابّيّطلا َنِم اوُلُك ُلُسّرلا
ْنِم اوُلُك اوُنَمآ َنيِذّلا اَهّي َأ اَي ":َلاَقَو "ٌميِلَع َنوُلَمْعَت
َثَع ْشَأ َرَفّسلا ُليِطُي َلُج ّرلا َرَكَذ ّمُث " ْمُكانْق َزَر اَم ِتابّيَط
ٌاما َرَح ُهُمَعْطَمَو ّب َر اَي ّب َر اَي ِءاَمّسلا ىَلِإ ِهْيَدَي ّدُمَي َرَبْغ َأ ىّأنَأَف ِاماَرَحْلاِب َيّذُغَو] ٌاماَرَح ُهُسَبْلَمَو [ ٌاماَرَح ُهُبَر ْشَمَو]
. َكِلَذِل ُباَجَتْسُي
Artinya: wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman, sebagaimana perintah-Nya kepada para nabi dan rasul, Dia berkata, “wahai para utusan, makanlah kalian dari hal-hal yagn baik dan kerjakanlah hal yagn sholeh, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang sedang kalian kerjakan”.
“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari hal-hal yagn baik yagn telah Kami rejekikan bagi kalian”. Kemudian beliau ملسو هيلع ا ىلص menyebutkan sosok yang telah melakukan perjalanan panjang, penuh peluh dan debu, kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya meronta “ya rabb, ya rabb”
sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, gizinya haram, bagaimana doa mau diterima. HR. Muslim
Hadits ini sangat jelas. Bahwa diterimanya amalan kita adalah harus dilandaskan kepada kesucian, baik pada bahan dasar (jiwa dengan asupannya), prosesnya, dan caranya. Hal yang utamanya adalah dari bahan dasarnya. Rasulullah saw sudah mengingatkan kepada kita semuanya dalam sabdanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, Rasullah ملسو هيلع ا ىلص bersabda:
ٍملسم ّلك ىلع ٌبجاو ِللحلا ُبلط
Artinya: mencari (yang) halal adalah wajib bagi setiap Muslim.
Hadits ini disebutkan oleh Imam al Mundziri dengan sanad yang hasan. Juga oleh Imam Thabrani dalam Mu’jam al Awsath, Imam ad Dailami.
Jamaah sidang sholat jum’at yagn dimuliakan Allah swt.
Di dalam al qur’an, setidaknya ada 72 kali, lafadz halal disebutkan. Hal ini menunjukan betapa pentingnya dalam hal mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahkan Rasulullah ملسسسو هسسيلع ا ىلسسص kemudian memberikan peringatan keras keapda umatnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Ka’ab bin ‘Ajuzah RA bahwa Rasulullah ىلص ملسو هيلع ا bersabda:
هب ىلوأ رانلاف امارح نم تبأن محل لك
Artinya: setiap daging yagn tumbuh dari barang haram, maka neraka adalah tempat yang layak baginya. HR al Baihaqi
Imam Zainuddin al ‘Iraqi dalam takhirj ihya mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan dihasankannya.
Diriwayatkan dari Aisyah اهنغ ا يضر menuturkan bagaimana sikap Abu Bakar, ayahnya Ketika mendapati suatu makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya dari barang yang haram. Di mana makanan itu berasal dari seorang pembantunya yang menyodorkan kepadanya. Suatu Ketika, Abu Bakar menanyakan asal muasal makanan tersebut, lalu pembantunya berkata, “itu makanan, dahulu kala saya memerankan sebagai seorang dukun, namun dalam pengoperasiannya, saya telah melakukan kedustaan”. Tiba-tiba Abu Bakar memasukan tangannya ke dalam mulutnya, dan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Syafi’i هنع ا يضر Ketika bermalam di rumah sahabatnya, Imam Ahmad bin Hanbal RA. Dilihat oleh anak Perempuan Ahmad bin Hanbal, bahwa tamu ayahnya ini adalah pemakan yang berat, sementara si tamu ini adalah sosok yang amat sangat dihormati oleh ayahnya sendiri. Hal ini menjadi suatu keheranan yagn sangat. Hal ini akhirnya ditanyakan kepada ayahnya, dan Ahmad bin Habal berkata, “coba kamu tanyakan kepadanya langsung”. Begitu anaknya bertanya, Imam Syafi’i RA pun berkata, “sungguh sekarang ini adalah tempat yagn paling aman dan selamat, dan makanan yagn dihidangkan di sini adalah makanan yang halal, karena saya menempati rumah orang yang paling ‘alim”.
Jamaah sidang sholat jum’at yagn dimuliakan Allah swt.
Suatu kesyukuran, kini negara kita telah memberikan perlindungan hukum dan ketetapannya akan perintah halal ini. Dengan terbitnya UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) menjadi pijakan konstitusional, bahwa makanan, minuman dan bahan-bahan konsumsi lainnya yang berbedar di Indonesia harus bersertifikat halal.
Sekrang tinggal, bagaimaan kita sebagai umat Islam terus memperjuangkan, mengkampanyekan, mensosialisasikan, akan pentingnya halal dalam kehidupan kita sehari-hari.