Terdapat pengaruh interaksi antara teknik pembelajaran dan kecerdasan linguistik terhadap keterampilan teks naratif siswa. Pada kelompok siswa dengan kecerdasan linguistik rendah, keterampilan menulis teks naratif lebih baik ketika belajar dengan menggunakan teknik pembelajaran (STAD) dibandingkan dengan menggunakan teknik pembelajaran (CIRC).
PENGGUNAAN METAFORA DALAM PUISI WILLIAM WORDSWORTH
Salah satu cara yang dapat digunakan penulis adalah dengan menggunakan perangkat bahasa berupa kata, frase atau kalimat. Karya sastra yang banyak di antaranya didasarkan pada pengalaman hidup pribadi pengarang atau orang-orang di sekitarnya sarat akan makna.
Puspa Sari
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan membahas masalah-masalah berikut: (1) Metafora apa saja yang terdapat dalam puisi layak kata William?; Metode ini akan digunakan untuk mendeskripsikan data penggunaan metafora dalam lima puisi William Worthword secara sistematis, faktual dan akurat.
England I
England II
Jiwamu seperti bintang dan hidup terpisah; Anda memiliki suara yang suaranya seperti laut, Murni seperti langit telanjang, agung, bebas, (Gambar abstrak metafora ke beton). Penyair - yang mewakili masyarakat - mencoba menggambarkan keinginan orang Inggris akan kekurangan buku dan laki-laki (secara harfiah: menginginkan buku dan laki-laki).
England IV
Berarti buku dan laki-laki di sini berarti orang yang memiliki kecerdasan dan dapat memimpin. Gambaran air bah yang dimaksud penyair di sini berkaitan dengan kebebasan, yaitu kebebasan yang lengkap bagi semua orang, tanpa perbedaan.
England V
Kata tidak berbakti dibentuk dari kata berbakti yang berarti penggunaannya berhubungan dengan anak laki-laki dan perempuan sebagai lawan dari ketakutan. Inggris diibaratkan sebagai benteng yang berarti orang dapat hidup terlindungi dan merasa aman di Inggris.
DISTORSI LEKSIKAL PADA TERJEMAHAN TEKS BAHASA INDONESIA KE DALAM BAHASA INGGRIS
Masalah pemilihan item leksikal semantik dan formatif merupakan masalah utama dalam penerjemahan. Perbedaan sistem bahasa, unsur budaya dan konsep antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dapat menimbulkan masalah kecocokan.
Ramli
Terdapat 2 dampak kesalahan distorsi leksikal dalam teks terjemahan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, yaitu: 1) kesalahan yang berdampak lokal dan 2) kesalahan yang berdampak global. Dampak kesalahan distorsi leksikal ada dua, yaitu: (1) kesalahan yang berdampak lokal dan (2) kesalahan yang berdampak global.
NILAI RELIGIUS PROFETIK DALAM NOVEL DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH KARYA HAMKA
Hal ini dapat dilihat dalam sastra klasik Indonesia yaitu puisi perahu, cerita Tajussalatin, cerita orang miskin dan cerita indra. Adapun sastra modern dapat dilihat pada puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair mulai dari Sutan Takdir Alisyahbana hingga penyair yang terkenal dengan nilai sufinya yaitu Abdul Hadi WM dan Jamal D Rahman.
Syarif Hidayatullah
Nahi Munkar
Selain pesan amar ma'ruf, Hamka juga mengirimkan pesan dari surga dengan larangan maksiat. Aliran ini menunjukkan bahwa adat telah mengatur bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bertemu. Berikut indeks gelak tawa Hamid, sehingga sangat jelas kita memahami pesan Tu'minu Billah.
Namun penggambaran ini tetap menjadi upaya penting untuk menyampaikan pesan tu'minu billah. Disini terlihat indeks kesalehan Hamid, jadi jelas juga pesan yang ingin disampaikan Hamka adalah tu'minu billah. Salah satu pesan tu'minu billah yang menjadi klimaks dalam novel ini adalah pesan ketika berhadapan dengan kematian.
Jika dikaitkan dengan pembelajaran bahasa Indonesia pada kurikulum 2013, maka pembelajaran bahasa Indonesia saat ini tidak hanya mengedepankan pendekatan saintifik, tetapi juga mengedepankan pesan-pesan berupa nilai-nilai yang harus ditanamkan dalam jiwa siswa. Penelitian ini berupaya menghadirkan peluang bagi guru untuk mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dapat dilihat dari segi keilmuan dan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Selain itu, siswa dapat memperoleh nilai-nilai religius profetik yang terkandung dalam novel Hamka Di Bawah Lindung Ka'bah.
KESALAHAN MORFOLOGIS DALAM PENULISAN SKRIPSI BAHASA INGGRIS
Febriyantina Istiara
Misformation
70 The writer assumes what is meant by mastering English vocabulary that knowing the meaning of. 5 you don't need to change the verb you don't need to change the verb MA 1 6 The writer is looking for is from library research The writer is looking for library research MA 1.
MODEL PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KONTRASTIVE KULTURKUNDE
Dunia pendidikan tidak hanya dihadapkan pada perkembangan kemajuan teknologi dan informasi, tetapi juga dihadapkan pada realitas sosial dan budaya yang sangat beragam.
MELALUI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME
Tamaela Ida Costansa
Salah satu bahan ajar yang akan dikembangkan dalam pendidikan bahasa Jerman adalah bahan ajar Kontrastif. Untuk itu, model bahan ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar tentang persoalan lintas budaya sehari-hari dengan menggunakan pendekatan konstruktivis. Rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: Bagaimana pengembangan model bahan ajar Kulturkunde Kontrastif dengan pendekatan konstruktivisme yang sesuai dengan kebutuhan kajian pendidikan bahasa Jerman, FKIP Unpatti.
Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah dihasilkannya produk model bahan ajar Kulturkunde Kontrastif di Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman FKIP Universitas Pattimura. Setelah draf model 1 divalidasi, bahan ajar Kontrastif Kulturkunde melalui pendekatan konstruktivis diujicobakan pada kelompok kecil (8 responden). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar Budaya Kontrastif melalui pendekatan konstruktivis berjalan dengan baik.
Pengembangan model bahan ajar Kulturkunde Kontrastif melalui pendekatan konstruktivis merupakan pengembangan model bahan ajar yang memasukkan tema keseharian antar budaya. Keunggulan model bahan ajar ini (a) cocok untuk membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang dapat menerima perbedaan orang lain; (b) mampu memperoleh pengalaman kerjasama antar teman; (c) membantu peserta didik berpartisipasi dalam interaksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya; (d) membentuk pemikiran kreatif siswa; (e) membantu guru karena dibantu oleh pembimbing mengajar; Hasil uji keefektifan model bahan ajar Kontrastif Kulturkunde melalui pendekatan konstruktivis yang dilakukan dengan metode pre-test-post-test design with one group menunjukkan bahwa uji-t bahan ajar yang dikembangkan sangat signifikan.
KESANTUNAN BERBAHASA DALAM TUTURAN TOKOH KOMIK “KOBO-CHAN”
Anggita Stovia
Kesantunan Positif
Temuan seperti ini sejalan dengan konsep kesantunan positif, yaitu kesantunan untuk menjaga wajah positif lawan bicara. Hal ini sejalan dengan penandaan pada Strategi 1, yaitu “memperhatikan preferensi, keinginan, dan kebutuhan lawan bicara”. Dengan demikian, kesantunan dapat ditunjukkan dengan memperhatikan perubahan yang nyata dan tampak pada lawan bicara.
Misalnya, kesopanan dapat ditunjukkan dengan melebih-lebihkan minat, persetujuan, dan simpati kepada lawan bicara. Kesantunan dengan demikian dapat ditunjukkan dengan mengintensifkan perhatian pada lawan bicara untuk meningkatkan minat intrinsik lawan bicara pada pembicara. Hal ini sejalan dengan penandaan pada strategi 5, yaitu 'mencari kesepakatan dengan lawan bicara'.18 Pengulangan sebagian kata untuk mencapai kesepakatan dengan lawan bicara umum digunakan oleh orang Jepang.
Maksud berpura-pura setuju dengan apa yang dikatakan oleh lawan bicara sesuai dengan penanda pada strategi 6. Kesantunan dapat berupa pernyataan yang menenangkan, menghibur dan memberikan efek positif bagi lawan bicara. Dengan demikian, kesantunan dapat ditunjukkan dengan melibatkan lawan bicara dan penutur dalam suatu kegiatan tertentu.
Kesantunan Negatif
Kesopanan dalam memerintah atau bertanya dapat berupa penggunaan pernyataan yang dapat meminimalkan kewajiban kepada lawan bicara. Teman bicara akan berpikir dan dirinya sendiri, tanpa paksaan, dapat menuruti perintah dan permintaan pembicara. Menghormati seperti mengucapkan pidato yang menunjukkan bahwa apa yang diharapkan pembicara adalah apa yang diharapkan pembicara.
Oleh karena itu, lawan bicara akan secara sukarela mematuhi perintah dan permintaan pembicara. Dalam pidato, perintah atau permintaan, lawan bicara terkadang tidak disebutkan, biasanya karena lawan bicara lebih dari satu. Tujuannya agar lawan bicara dapat mempertimbangkan manfaat ketika melaksanakan perintah atau permintaan lawan bicara.
Kesopanan penutur untuk menyuruh atau menanyakan sesuatu kepada lawan bicara dapat dilakukan dengan tuturan yang menjanjikan sesuatu apabila lawan tutur dapat menuruti perintah penutur. Hal ini sesuai dengan penanda pada strategi 10 yaitu “katakan dengan jelas bahwa lawan bicara memberikan kebaikan atau tidak kepada lawan bicara”.57. Kesantunan positif dalam tuturan tokoh komik “Kobo-chan” berupa tuturan yang memperhatikan kesukaan, keinginan dan kebutuhan lawan bicara; melebih-lebihkan perasaan tertarik, persetujuan, dan simpati untuk lawan bicara;
EUFIMISME DALAM BAHASA INDONESIA
Penggunaan kata dan ungkapan setiap hari memercikkan kehidupan masyarakat baik media tulis maupun elektronik, sehingga dalam berinteraksi dengan masyarakat juga menirunya dengan ungkapan halus atau disebut eufemisme. Setiap hari bermunculan kata atau ungkapan baru yang bernuansa eufemisme seiring dengan topik pembicaraan yang hangat dan menjadi perbincangan masyarakat. Pelembutan kata pada awalnya dimaksudkan untuk menggantikan kata-kata yang dirasa kasar, tidak menyenangkan, atau tidak sesuai dengan norma dan kesopanan sosial.
Namun dalam perjalanannya setiap otoritas pemerintahan di Indonesia banyak ditemukan kata-kata halus yang tidak lagi digunakan untuk tujuan penyempurnaan, melainkan digunakan untuk mengganti kata-kata yang merupakan kesalahan atau pelanggaran norma dan aturan atau peraturan perundang-undangan. Eufemisme adalah bagian dari kebiasaan bahasa yang terdapat di semua budaya dan merupakan bagian dari tata bahasa atau tata krama bahasa dalam interaksi antar pribadi atau kelompok (terutama dalam hubungan yang erat).
Iriany Kesuma Wijaya
Makna dan Fungsi Eufemisme
Fungsi eufemisme dapat disimpulkan dari maknanya, yaitu sebagai penghalusan, terdapat fungsi eufemisme sebagai berikut: (1) untuk menunjukkan sopan santun kepada lawan bicara, (2) untuk menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi, (3) untuk melindungi muka atau tidak kehilangan muka, dan (4) sebagai fungsi bersosialisasi. Penyempurnaan kata atau frasa yang berfungsi untuk menghindari kesalahpahaman terdapat pada kata "ditangani" bukan "diselesaikan", frasa "pemerintah akan berdiri di belakang bank-bank umum Indonesia" menggantikan "pemerintah menjamin uang rakyat disimpan di bank-bank negara" . Eufemisme yang berfungsi melindungi muka atau tidak kehilangan muka terdapat pada kata “one man show”.
Ungkapan "ada pasar gelap" merupakan pengganti ungkapan "ada tawar-menawar hukum" ketika berbicara tentang Artalita Suryana, yang memiliki istana di penjara. Penyempurnaan kata saat dia ramah juga bisa dilakukan dengan ungkapan “silahkan datang ke pondok kami” sebagai gantinya. Dari kajian sosiolinguistik, perbaikan kata akan memberikan pembahasan tentang variasi bahasa dan bagaimana bahasa yang berbeda digunakan di tempat yang berbeda.
Dengan menggunakan sinonim yang tepat dan pemilihan kata yang tepat, eufemisme akan menimbulkan kesan yang mendalam dan santun bagi penuturnya. Memperbaiki kata dan kalimat dapat menghindari kesalahpahaman dan mencegah Anda kehilangan muka dalam komunikasi. Hal-hal yang dapat merusak hubungan baik dalam masyarakat karena kata-kata tabu dapat dihindari dengan menggantinya dengan eufemisme.
JURNAL BAHTERA