REVIEW JURNAL
Nama : Baladan Hadza Firosya
NIM : E1111201015
Mata Kuliah : Hukum Laut Internasional
Judul IMPLIKASI HUKUM ATAS PUTUSAN PERMANENT COURT OF ARBITRATION TERKAIT SENGKETA LAUT CHINA SELATAN TERHADAP NEGARA DI SEKITAR KAWASAN TERSEBUT
Jurnal Jurnal Bina Mulia Hukum Volume & Nomor Vol. 2, No. 1
Tahun 1 September 2017
Penulis Muhammad Rafi Darajati, Huala Adolf, Idris
Summary Penelitian ini membahas mengenai Permanent Court of Arbitration yang merupakan badan abritase internasional yang telah lama digunakan untuk menyelesaikan sengketa di bidang laut internasional dan termasuk salah satu pilihan yang tersedia dalam penyelesaian sengketa antara negara pihak Konvensi Hukum Laut 1982, yang dapat dilakukan melalui mekanisme PCA sebagai penyelesaian sengketa interpretasi atau penerapan Konvensi tersebut.
Pada penelitian ini, putusan PCA terkait sengketa Laut China Selatan (LCS) terhadap negara di sekitar kawasan bersengketa, PCA sendiri memiliki yurisdiksi untuk memutuskan sengketa LCS yang diajukan oleh Filipina berdasarkan instrumen hukum yaitu Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982.
Yang dimana dasar dari arbitrase ini adalah Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS), dengan intinya yaitu tidak ada upaya hukum lain terhadap putusan arbitrase yang telah diputuskan oleh lembaga arbitrase.
Kemudian, terkait putusan PCA terkait sengketa LCS ini setidaknya terdapat dua isu utama dalam dinamika yang terjadi di LCS, yaitu sengketa kepemilikan pulau dan delimitasi batas maritim. Putusan PCA mengenai sengketa LCS termasuk keputusan yang final dan mengikat, dan dapat digunakan oleh negara-negara di sekitar kawasan
LCS untuk memperkuat posisi mereka dan melindungi kedaulatan mereka.
Analisis Putusan PCA terkait sengketa LCS menyatakan bahwa klaim Tiongkok terhadap nine dash line tidak memiliki dasar hukum yang kuat dan bahwa hanya negara-negara di sekitar kawasan LCS yang memiliki batas maritim di kawasan tersebut.
putusan PCA tersebut merupakan keputusan yang penting dan signifikan dalam menyelesaikan perselisihan terkait klaim wilayah Laut China Selatan. Putusan PCA ini mengindikasikan bahwa hukum internasional harus dihormati oleh semua negara dan bahwa tindakan unilateral dalam mengklaim wilayah tidak bisa diterima.
Selain itu, putusan tersebut menegaskan bahwa kedua negara, yaitu Filipina dan Tiongkok, harus menyelesaikan sengketa secara damai dan mematuhi Konvensi Hukum Laut 1982 dan putusan dari PCA dengan itikad baik. Putusan tersebut bersifat final dan mengikat, sehingga seharusnya efektif dalam menyelesaikan sengketa. Namun, Tiongkok menolak untuk mematuhi keputusan tersebut dan mendorong Filipina untuk mengadakan perundingan bilateral, yang mengurangi efektivitas PCA.
Sikap Tiongkok yang menolak untuk mematuhi putusan dari PCA terkait sengketa Laut China Selatan menunjukkan bahwa Tiongkok dianggap mengabaikan kedaulatan hukum internasional. Aksi ini berpotensi menciptakan ketidakpastian di kawasan LCS dan menimbulkan ketegangan di antara negara-negara yang memiliki klaim di wilayah ini.
Kemudian, PCA sendiri sudah sangat berperan terkait putusan sengketa LCS antara Tiongkok dan negara sekitar, mengingat putusan tersebut berdasarkan interpretasi Konvensi Hukum Laut 1982 dan hukum internasional yang berlaku. Namun, Tiongkok yang menentang putusan tersebut dan menolak untuk mematuhinya menjadikan situasinya lebih kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dari semua pihak untuk menegakkan hukum internasional dan mencari solusi damai dalam menyelesaikan perselisihan di kawasan LCS.
Sehingga terdapat identifikasi masalah yang muncul saat Tiongkok menolak untuk mematuhi putusan PCA dan mendorong negosiasi bilateral sebagai pengganti solusi yang diberikan sesuai hukum internasional antara lain:
1. Pelanggaran hukum internasional. Dengan menolak untuk mematuhi putusan PCA, Tiongkok dianggap melanggar hukum internasional yang mengikat negara-negara di seluruh dunia, termasuk Konvensi Hukum Laut 1982.
2. Ketidakpastian. Tindakan Tiongkok tersebut menciptakan ketidakpastian di kawasan Laut China Selatan dan menimbulkan ketegangan di antara negara-negara yang memiliki klaim di kawasan ini. Hal ini dapat menghambat upaya-upaya untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
3. Kekuasaan - Negara-negara yang memiliki klaim di kawasan LCS merasa kekuasaan Tiongkok semakin dominan di kawasan ini dan dapat mengintimidasi negara-negara kecil untuk mengejar tujuan politik dan ekonomi yang diinginkan Tiongkok.
4. Potensi konflik - Penolakan Tiongkok untuk mematuhi putusan PCA dan mendorong negosiasi bilateral sebagai pengganti solusi yang diberikan sesuai hukum internasional dapat mengarah pada potensi konflik di kawasan LCS di masa depan.
Kesimpulan Untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan Laut China Selatan, penting bagi seluruh negara di wilayah LCS untuk menegakkan dan menghormati hukum internasional, termasuk putusan dari PCA yang mengikat semua pihak yang terlibat dalam sengketa. Oleh karena itu, saran yang dapat diambil adalah:
1. Meningkatkan kerja sama regional antara negara-negara di LCS untuk mencapai kesepakatan bersama dan memperkuat penegakan hukum internasional dalam menyelesaikan perselisihan.
2. Menghindari tindakan provokatif atau unilateral yang dapat
memperkeruh situasi dan mengaktifkan kembali tensi di kawasan LCS.
3. Mendorong Cina untuk secara konstruktif terlibat dalam dialog multilateral dan menyelesaikan sengketa dengan cara yang damai dan sesuai dengan hukum internasional.
4. Mendorong semua pihak di kawasan LCS untuk menerapkan kode etik yang baku dalam mengelola perselisihan maritim dan mematuhi putusan yang telah diambil oleh pengadilan internasional.
5. Mengevaluasi dan meningkatkan mekanisme penyelesaian sengketa multilateral yang ada di wilayah LCS, termasuk PCA, sehingga dapat menjadi alternatif efektif dalam menghindari konflik potensial di kawasan LCS.